๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kamu baik-baik aja, Rory?," tanya Wanita berambut berombak hitam legam itu. Sambil mengawasi sekitarnya seperti biasa.
Ia menelisik ke dapur dan menemukan nggak ada apa-apa selain piring-piring yang tesusun rapi dan bersih di tempatnya.
“Kamu udah makan?," tanya dia, menoleh ke Rory sebentar sebelum matanya tertuju pada pintu kamar yang tertutup. Dia harus selalu memastikan hal ini. Nggak ada perempuan di kamar Rory, walau Rory nggak pernah membawa seorang cewek ke rumah, namun ia nggak bisa menyerahkan Rory begitu saja pada pergaulan anak muda jaman sekarang.
“Udah, Ma," jawabnya tegang sambil menghampiri sang Mama. "Oh ya, semalam aku ketemu sama Chris, dia jalan sama cewek”
Sang Mama segera berbalik, perhatiannya teralihkan sejenak. "Oh ya?," dia menyipitkan mata. “Chris sama cewek?”
“Yaah, aku sih nggak tahu kalau itu pacarnya atau bukan…," jelas Rory.
Sorry, Chris…, ucap Rory dalam hati di saat ia perlu membicarakan ini agar Mama-nya menjauh dari pintu kamar. Rory ingat, ada koper Natha di sudut kamar dan juga barang-barangnya yang lain. Dia nggak ingin Mama-nya menemukan semua itu.
“Gimana orangnya?," tanya sang Mama, antusias, benar-benar teralihkan. “Cantik?”
Nggak bisa juga dibilang begitu, Uki hanya sekedar menarik. Dia berkepribadian lurus, menyenangkan, periang dan ramah. Tapi, bagi Mama ini belum cukup. Dia harus berasal dari keluarga yang setara dengan mereka juga. Soalnya dulu Chris pernah pacaran dengan cewek ‘slengek- an’ yang pada akhirnya bikin Chris sempat mengalami kemunduran mental.
“Mama langsung tanya sama Chris aja," Rory terjebak pada kata-katanya sendiri.
Chris akan mendapat interogasi panjang dari Mama setelah ini, pasti!
“Tapi…kayaknya Chris aneh belakangan," katanya bercerita. "Jarang di rumah, tiap ditanya cemberut terus. Kira-kira dia kenapa?”
Rory angkat bahu, ia tersenyum, lalu menunjuk jam tangannya. "Aku harus ke kampus, Ma," katanya.
---
“Aduh!," Rory menjerit kaget, bukan kesakitan, saat Natha menyeruak dari dalam lemari, terlihat marah dan lebih marah dari yang pernah dilihatnya.
Natha baru menamparnya dengan keras. “Kenapa harus lemari?!," geramnya.
“Aku pikir Mama masuk ke sini dan memastikan aku nggak jorok!," jawab Rory cepat dan masuk akal. “Kenapa main pukul sih?”
“Aku mau jadi orang kedua yang mukul kamu! Kenapa memangnya?!," Natha maju selangkah dan Rory mundur selangkah.
“Aku baru tahu kalau kamu kasar...," gerutu Rory, memandangnya dengan dahi berkerut.
“Ya, tapi kamu lebih buruk dari itu!," cerca Natha lagi, melampiaskan sisa kekesalannya.
Rory tergagap, melihatnya marah, setelah kemarin dia membuat suasana hatinya menjadi hangat, sekarang dia mendinginkannya dalam sekejap!
“Aku? Aku memangnya ngapain?!," protes Rory, nggak ada kesalahan lain selain berusaha membuatnya pandai berterima kasih dan menghargai orang.
Natha kembali beraksi dengan tangannya, memukul sekujur badan Rory dengan tangannya yang lemah. "Kamu jahat!," teriaknya jengkel saat Rory berusaha menghindarinya. Natha mengejar sampai dapat, memukulnya lagi.
“Jahat kenapa?!," Rory masih protes, menghindarinya supaya nggak ada kontak fisik yang berlebihan. Pukulan itu lumayan sakit, di punggung, pinggang, bahu dan lengannya. Gadis ini mengamuk seperti kemarin saat di apartemen mantan pacarnya! “Aku nggak pernah mencium kamu! Nggak pernah melakukan yang nggak pantas sama kamu!”
Natha makin mengamuk, karena ucapannya.
“Hari ini kamu suruh aku sembunyi di lemari kayak pelacur, besok apa lagi?!," ia merajuk ternyata.
“Oh ya?! Aku nggak keberatan jadi pejahat yang sengaja mecuri kunci rumah orang lain, memakai topeng monyet untuk kamu seorang! Supaya kamu bisa ketawa!” teriak Rory menghindari serangannya yang brutal dan ia diperlakukan seperti baru saja ketahuan mengintipnya sedang mandi. “Kamu pikir gampang?!”
“Aku nggak minta kamu lakuin itu, bodoh!," teriak Natha lagi, tertunduk, berhenti memukul karena lelah, lalu menangis. "Aku nggak pernah minta…”
Rory heran padanya, sikapnya berubah terlalu mendadak, seperti berkepribadian ganda dan dia konyol jika menangis seperti ini. “Aku memang berkelakuan nggak wajar, tapi nggak pernah di depan kamu. Di saat mabuk, aku berusaha untuk tenangdi saat kamu kelihatan…," keraguan tampak di bibirnya yang bicara terus terang tentang semalam. Dan ini cara yang keliru untuk berterus terang pada seorang ‘Natha’.
“Kelihatan apa?!," celetuk Natha kembali terlihat gusar.
Gadis ini sangat melelahkan, gerutu Rory yang memutar matanya dengan tarikan nafas panjang. "Kelihatan mengajak melakukan ‘sesuatu’! Kamu mana ingat!," jawabnya lantang.
“Apa?!," sembur Natha kembali meringankan tangannya terhadap Rory.
Rory bersedekap, bertahan dari pukulan itu hingga akhirnya dia memegangi kedua tangan yang berusaha menyakiti fisiknya. “Aku mabuk! Kamu lebih parah! Kita sama-sama hilang akal! Ajaibnya nggak terjadi sesuatu di saat yang paling mungkin untuk…,"
Natha nggak tahan membayangkan apa yang nggak bisa ia ingat dengan baik. Dia sudah berusaha memblokir bayangan itu. Rory yang mabuk sambil menggendongnya, mereka masuk kamar hotel menertawakan sesuatu. Natha bahkan juga ingat, Rory tersandung dan mereka sama-sama menghempas lantai beralas karpet, sebelum naik ranjang.
“Stop!!," jeritnya, hingga Rory terdiam, tercekik oleh suaranya yang melengking. Natha nggak mau dengar lagi, sekalipun hatinya nggak bisa meragukan cowok itu benar. Dia hanya malu, pada dirinya, juga Rory yang entah mengapa terkesan berbeda dari biasanya.
Rory melepaskan kedua tangannya, setelah mereka saling diam beberapa saat. “Kamu nggak tahu aku jadi meragukan kenormalan aku sendiri sebagai cowok yang nggak terpancing di saat seperti itu, dan kamu masih aja mengumpat," katanya tenang. "Dan harusnya kamu tahu itu nggak gampang!”
Kata-katanya terasa menusuk.
Rory terdengar menghela nafas lagi, sebelum meninggalkan kamar. "Kamu bebas sekarang!," katanya membelakangi Natha sambil memijit kepalanya. Ia terkejut saat Natha menghampirinya dan mendekat.
‘Plak!’, satu tamparan keras lagi Rory terima darinya,.
“Aku nggak akan pergi ke manapun!," teriaknya ke telinga Rory, bergema ke setiap sudut ruangan. “Kamu harus bayar semua yang kamu lakuin ke aku, brengsek!”
Komentar
0 comments