[Hal.12][Ch.3] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Di dapur nggak ada apa-apa, kamu mau aku kelaparan sepanjang hari menunggu kamu pulang?!," Natha menjelaskan, suaranya ketus.
“Jadi kamu mulai berusaha untuk hidup normal sekarang?," Rory yang berdiri di belakangnya, mengikuti dengan misterius saat Natha memasukan sebungkus roti gandum ukuran besar ke dalam ke ranjang.
“Usaha bertahan hidup," Natha menegaskan.
Rory kembali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang dalam, yang seharusnya membuat mental cewekmanapun yang melihatnya menjadi goyah, seperti kerupuk disiram air. Tapi, Natha nggak menunjukan reaksi itu sama sekali. Ia justru membuang pandang, dan melihat-lihat apa lagi yang bisa ia kantongi dari supermarket. Seperti mentega, susu dan seharusnya ia mengambil seikat salada juga tapi di rumah itu juga nggak ada kulkas untuk menyimpannya. Dan Natha benci meses dan coklat. Tapi ia melihat pilihan lain, selai buah nanas dan strawberry.
“Ini apa?," tanpa sadar Natha bertanya menemukan selai berwarna hijau di antara pilihan yang terlalu banyak dan membuatnya bingung di depannya.
“Selai sarikaya," jawab Rory, melihatnya sebentar dan ia baru sadar di Jerman selai sarikaya nggak ada.
“Sarikaya?," Natha bahkan nggak tahu sarikaya itu jenis buah apa.
Rory juga nggak tahu, tapi ‘sarikaya’ tertulis di labelnya. Lalu mengangkat bahu. "Rasa tradisional mungkin," katanya. "Kalau nggak salah itu hanya ada di Indonesia”
Natha mengangguk sedikit dan masih ragu untuk mencobanya atau nggak, tapi Rory mengambilnya dan memasukannya ke keranjang.
“Nggak ada salahnya dicoba," katanya sambil menarik Natha pergi dari rak khusus selai, untuk melihat yang lain.
Rory menuju rak yang dari ujung ke ujung adalah tempat khusus untuk mie instan. Makanan paling praktis bagi bujangan yang tinggal sendiri dan nggak bisa masak, apalagi saat hujan dan dingin yang nggak memungkinkan untuk mencari makanan lain di luar. Tinggal siram air panas, tunggu tiga menit, dan jadi. Di  rumah Rory nggak punya peralatan masak, hanya beberapa piring dan gelas kaca dalam sebuah keranjang kecil dan jarang dicuci jika dia nggak pulang. Dalam sehari Rory bisa makan enam bungkus mie instan, tiga kali sehari, dua sekali makan. Seperti minum obat.
“Soto ayam, kari ayam, ayam bawang,," Rory menyebutkan satu persatu sambil memasukan yang dimaksudnya ke dalam keranjang yang dibawa Natha.
“Hah?," Natha mengernyit saat jumlahnya melebihi dari besarnya keranjang dan pastinya ini makin berat, serius si gila ini mau makan mie tiap hari?
Natha diam-diam menaruhnya kembali di rak, selagi Rory sibuk mencari-cari pilihan rasa yang lain. Dan si berandal nggak menyadari itu.
“Cukup!," kata Rory telah sangat yakin bahwa dia nggak akan kehabisan stok selama seminggu. Tapi, dia terkejut melihat nggak ada satu pun mie instan ada di dalam keranjang Natha. "Kok?”
“Aku nggak suka mie instan," katanya dengan ekspresi menjengkelkan itu lagi.
“Aku nggak bilang itu untuk kamu," Rory kesal dan mengambil yang lainnya dan memasukannya kembali ke keranjang, nggak peduli lagi itu rasa favoritnya atau bukan. Matanya menatap mata Natha sekali lagi. Sementara tangannya memindahkan bungkusan-bungkusan itu ke keranjang.
“Harusnya kamu ambil keranjang sendiri," balas Natha, mengeluarkan kembali mie instannya dan mereka tampak mengobrak-abrik tempat itu hingga memancing perhatian penjaga supermarket yang nggak senang dengan kelakuan mereka. Mendengar suara gemerisik bungkus mie yang terjatuh ke lantai, memperhatikan mereka keduanya dengan dahi mengerut. Pekerjaan mereka jadi tambah repot.
Rory terpaksa memunguti kembali beberapa bungkus yang terjatuh ke lantai dan menaruhnya di tempat semula. Ia jadi kehilangan selera untuk makan mie instan dan terpaksa mengikuti Natha dan keranjangnya pergi ke konter buah-buahan.
---
“Itu kebanyakan," keluh Rory yang melihat Natha kerepotan dengan barang belanjaannya saat naik ke atas motor.
Selain berat, juga bagaimana cara membawa dua kantong belanjaan atas motor dengan cara duduk yang feminin?
Natha baru sadar kebodohannyamemikirkan belanjaan yang ia bawa dengan susah payah serta nggak menghiraukan bantuan Rory untuk membawa keduanya.
Rory ikut berpikir keras, saat mereka di parkiran dan harus segera pulang karena ini sudah lewat dari jam delapan malam. Dan ia sedang memikirkan cara paling mudah supaya bisa membawa pulang barang seberat ini, ketika Uki terlihat sedang melintas di tempat parkir khusus mobil.
Natha nggak bicara, dia cukup pintar untuk bisa menyatukannya menjadi satu kantong, dan dia bisa menaruhnya di tengah saat di atas motor.
Tapi, Rory sudah nggak ada saat dia selesai merapikan belanjaannya.  Tahu-tahu, cowok itu sudah berada di seberang, berjalan di antara mobil-mobil yang berjejer menghampiri dua orang yang sama sekali nggak ia kenal.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: