[Hal. 4][Ch.1] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Rory melirik jam tangan-nya, jam sembilan masih satu jam lagi. Dia bisa minum sebentar sebelum mengebut dengan motor ke supermarket tempat kerja Uki tiga bulan belakangan. Ia pun memanggil seorang pelayan untuk memberinya sesuatu agar sedikit mabuk untuk meredakan perasaan gelisah, yang dia nggak tahu alasannya.
Memandang keramaian, ia nggak menemukan hiburan lain selain melihat cewek-cewek mempermalukan diri mereka.
Semua yang pernah  datang ke sini sama, membawa keluh kesah atau kebahagiaan menggebu-gebu. Cowok-cowok nggak bisa mengendalikan mata dan tangan mereka, sedangkan cewek-cewek terlalu sengaja memamerkan tubuh mereka sejelek apapun itu. Mereka yang di bawah sana sudah gila, mereka yang ada di setiap sudut juga nggak punya malu. Pemandangan biasa, di bawah kerlap kerlip cahaya lampu warna warni berkilauan menari-nari di dalam keremangan, antara minuman dan tarian. Jual tawa dan kesedihan, bagi orang-orang merasa hidup hanya untuk malam di tempat ini saja.
Well, seseorang pasti kaya raya malam ini”, seseorang mengajaknya bicara. Suara lemah lembut dari seorang cewek yang duduk dengan jarak satu meter darinya.
Tempat ini masih sama seperti yang kemarin, ramai berisik dan tumpah ruah di Jumat malam. Ada minuman dan cewek gratisan; dan semua bisa berpesta sampai pagi nggak ada aturan.
Cewek itu membuat pandangan Rory pada  malam ini jadi berbeda. Ada seorang bidadari yang tersesat di perkumpulan iblis. Ini bukan tempatnya tapi ternyata ia sudah memperhatikan banyak hal di sekitarnya, termasuk pertemuan Rory dengan wanita tadi. 
Rory dapat kejutan malam ini. Dia nggak disapa cewek, -yang melirik padanya sambil bercanda sama temannya, memelintir rambuttersenyum dengan bibir yang dilumuri lipstik mengkilat, menggoda tapi nggak menggoyahkan ‘iman’ sedikitpun-. 
Hanya  seorang cewek yang justru malah bikin Rory teringat soal hari ini di bandara, saat pertama kali melihatnya. Cewek yang memakai gaun putih.
Dia duduk sendirian, nggak ada minuman di mejanya, selagi ia malah jadi pemandangan segar buat kucing-kucing liar di sekitarnya. Dia selalu kelihatan menunggu seseorang yang nggak kunjung datang. Dan masih mengenakan kostum yang sama. Seperti penampakan hantu perempuan cantik yang ada di film-film. Baju putih dan rambut panjang yang sedikit membuat Rory merinding.
Apa dia manusia? Kenapa dia bisa ada di mana-mana? Di hari yang sama, di tempat yang berbeda.
Pikiran cewek itu tertebak saat ia menatap Rory dengan ekspresi melecehkan.
Tapi, Rory masih bisa tertawa. Ia memandang cewek itu dengan santai. “Mau ditraktir?”, ia menawarkan. “Buat ngerayain kebetulan ini?”
Si cewek beringsut dari kursinya, “Aku nggak minum air kencing kuda”, jawabnya ketus, dan berlalu bersama langkahnya yang teratur, mengabaikan sekitar dan menghilang di antara pengunjung lain.
---
Parkiran sepi saat Rory keluar dari lift. Ia hanya menemukan kendaraan yang terparkir rapi dan melangkah dengan sedikit terhuyung. Padahal hanya minum sedikit.
Kalau Uki lihat dia seperti ini, Uki pasti nggak akan mau pulang dengannya. Tapi, nggak juga, dalam keadaan normal pun, Uki juga suka menolak. Padahal mereka dekat, tapi cewek itu seolah nggak bisa merasakan apapun terhadapnya. Nggak pernah tergoyahkan oleh pesona lesung pipinya sama sekali, sementara banyak cewek yang meleleh melihatnya tersenyum. Uki, seorang cewek yang benar-benar sangat ajaib, entah diragukan kalau Uki masih suka cowok.
Rory menggeleng-geleng, memukul kepalanya beberapa kali. Begok…, gumamnya, sambil mencari-cari parkiran motor. Kepalanya pusing, ia tahu Uki pasti marah bila melihatnya seperti ini.
Tapi,…
“Hubungan kita udah selesai, aku nggak tahan lagi sama kamu, Natha!”, seorang laki-laki terdengar memaki disertai suara tangis seorang perempuan yang kedengaran terluka. “Kamu cuma buang-buang waktu cari aku ke sini!”
Rory mengangkat kepala. Matanya menelisik setiap sudut. Telinganya mendengar lebih seksama. Karena ia sadar itu bukan halusinasi dari teller di kepalanya yang sedikit berputar-putar.
“Apa yang harus aku lakuin supaya kamu berubah pikiran?”, suara si cewek terdengar memohon.
Rory mencari-cari asal suara itu, karena terdengar menjengkelkan. Di antara mobil yang terparkir rapi di basement. Tapi, nggak terlihat seorang pun di antara mobil dan tiang-tiang besar di sekitarnya.
Kosong.
Rory hanya punya setengah jam sebelum Uki naik bus kota dan pulang tanpanya, lagi. Tapi, ia nggak suka kebetulan yang satu ini, ketika melihat si gaun putih lagi. 
Gadis itu bertengkar dengan seorang lelaki di balik mobil sport hitam yang parkir nggak jauh dari parkiran motor.
 “Nggak ada! aku nggak butuh!”, seorang cowok berstelan rapi memakinya, “Aku nggak bakal pernah kembali apapun yang mau kamu lakuin”
“Aku mohon, Vin, aku janji akan perbaiki semua kesalahan aku! Aku jauh-jauh datang ke sini karena aku pikir kamu masih sayang sama aku!”, cewek itu masih memohon, memegangi tangan laki-laki itu, “Kasih aku waktu...”
“Nggak akan ada seorang pun yang bisa bikin kamu berubah, Natha!”, lelaki itu bersuara lebih keras sambil mendorong gadis itu dari hadapannya. Dan ia menemukan kemarahan yang luar biasa dari seseorang yang nggak dikenalnya begitu ingin masuk mobil.
Berikutnya ia terpental, cukup jauh. Shock, ia baru menyadari luka di sudut bibirnya setelah rasa sakit merambat sangat cepat di wajah. Sadar, orang lain ikut campur urusannya, ia melihat seorang berandal berdiri di depannya dengan tangan mengepal kuat.
Orang itu menyembunyikan Natha di belakang punggungnya.  “Gue paling nggak suka sama laki-laki yang kasar sama perempuan, banci!”, teriaknya.
Lo siapa?!”, ada kemarahan dalam suaranya. Tinjunya mengepal, ia maju secepat yang dia bisa untuk membalaskan pukulan yang ia terima tadi.
Rory menghindar, dengan lebih cepat ia meraih bahu cowok kasar itu. Lutut Rory menghantam perut cowok itu lagi sampai tersungkur di kaki dan Rory mundur beberapa langkah setelah memastikan orang itu nggak bisa bangkit lagi untuk membalasnya. Rory mengatur nafas saat ia kembali menghampiri cewek malang itu.
“Masih mau balik sama orang yang seperti ini?”, ia bertanya.
Si cewek malah menangis menjadi-jadi, kebingungan. Ia menatap Rory dengan wajahnya yang kusut. Matanya yang basah seketika menegang melihat sebuah tinju melayang di saat Rory nggak menyadari cowok mengesalkan itu bangkit kembali untuk membalas.
 “Jangan sok jadi pahlawan!”, teriaknya sat Rory berusaha bertahan sebelum amarahnya mengambil alih dirinya.
Rory menyeka sudut bibirnya yang berdarah, lalu tersenyum. Orang itu sudah pasti nggak tahu kalau Rory sangat menyukai kesempatan di mana ia merasa harus memukul di saat yang paling dia inginkan.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments