[Hal.3] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Kepalaku agak pusing. Aku bersumpah serapah sejak turun dari panggung. Selama aku menyanyi, dia tidak pernah berhenti memandang ke arahku. Aku rasa dia pasti mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu benar-benar gadis yang dulu pernah dia abaikan. Tatapannya itu membuatku tidak nyaman. Aku tahu harusnya aku tidak datang ke sini atas dasar apapun.

Mereka tampak mengangumi suaraku. Dengan kata lain, aku telah menipu mata- mata yang tengah mengintaiku dari kejauhan, seakan mereka ingin membawaku pulang lalu dibuang di depan pintu keesokan pagi. Tidak, aku seorang penyanyi, bukan pelacur.

Tapi, dihampiri Errence pada saat pesta hampir selesai, di luar rencanaku.

"Kau...sangat berbeda...", dia tampak takjub saat bicara sementara langkahya bergerak pelan ke arahku, "Aku tidak percaya itu kau, Kei..."

Aku memberinya isyarat untuk diam, dengan tanganku yang memegang sepuntung rokok menyala di sela kedua jariku, "Bisakah kau tidak memanggilku dengan nama itu?", balasku menatapnya serius, lalu menghisap rokok itu sekali sebelum membuangnya ke bawah, "Itu membuatku merinding...", sambungku sambil memeluk diriku karena malam semakin dingin dan aku meninggalkan jaketku di dalam mobil Pan.

"Sejak kapan...", tanya dia, masih belum melepaskan pandangan itu dariku. Dan aku berusaha untuk tenang dan tersenyum.

"Sejak aku pergi...", jawabku singkat lalu tertawa sendiri dan menerawang. Sebelum menoleh ke arahnya sekali dan aku juga baru menyadari bahwa yang berubah itu bukan hanya diriku tapi juga dirinya. Bedanya Errence sepertinya berubah menjadi lebih baik meskipun aku tidak tahu apakah dia sudah berhenti menjadi don juan dan menyakiti gadis yang mencintainya, “Kau tidak tahu apa yang pernah kulalui untuk bertahan hidup, bukan?”

Bayangkan saja seorang wanita berambut panjang dan berpakaian ketat dan dandanan yang mencolok. Lengkap dengan sepuntung rokok menyala di antara jarinya yang lentik dan dicat dengan rapi sekali. Tapi, selama ini aku merasa bahwa dibandingkan dengan tahun-tahun yang kujalani penuh siksaan demi melupakan dirinya, sekarang aku merasa jauh lebih baik.

“Setahuku kau sengaja menghilang”, katanya, “Kau meninggalkanku”

Aku tertawa satu kali, “Kau mengabaikanku” balasku, sekedar mengingatkan.

“Dan bukan berarti aku tidak mencintaimu bukan?”, tanya dia, dan aku tertegun beberapa detik sebelum mengangguk-angguk mengerti.

“Itulah alasan kenapa kau mengundangku lewat sebuah pekerjaan?”, tebakku.

“Kau tidak melupakan bagaimana aku berusaha mencarimu untuk memperbaiki semuanya?”, katanya lagi, terdengar seperti memojokanku, “Aku mencoba menghubungimu, memohon agar kau mengangkat teleponnya untuk menjelaskan bahwa semuanya tidak seperti yang kau lihat dan dengar”

“Saat itu hanya sudah terlalu terlambat”, kataku menegaskan, “Tapi, sebenarnya seperti apa jika yang aku tahu tidak pernah benar”

“Tidak pernah ada balas dendam, bukannya itu terlalu konyol? Aku bersamamu”, jelasnya, dan aku hanya tersenyum membenarkan semua itu, “Kau mempercayai ucapan orang lain tanpa memastikannya denganku. Hanya karena melihat semua itu kau berpikir bahwa aku yang memulainya. Aku akui itu memang salahku tapi aku tidak pernah memberi kesempatan kepada siapapun untuk mendekatiku. Aku tidak bisa membawamu selalu bersamaku karena aku tahu kau tidak nyaman dengan duniaku”

“Dan seharusnya kau bersamaku”, tandasku, “Tapi, kau membuatnya seolah aku tidak berhak atas apapun tentang dirimu”

“Aku ingin berhenti dan aku sudah akan mengatakannya!”, suaranya meninggi, “Kau tidak memberiku kesempatan meluruskannya. Aku tidak mengundangmu ke pesta untuk melihat semua itu. Aku ingin mengatakan pada semua orang tentangmu tapi semuanya di luar rencanaku!”

Aku diam. Tertawa lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan. Setelah mengetahui semuanya dan aku mulai mengerti.

“Aku mencarimu”, kata dia, dan membuatku sedikit terenyuh saat menatap ke dalam matanya yang tampak memohon. Andai dulu dia pernah menatapku dengan cara seperti itu saat aku memohon padanya agar tidak mematahkan hatiku…

“Dan setelah menemukanku apa yang ingin kau lakukan?”

Errence mendekat selangkah lagi, “Melakukan apa yang seharusnya dulu kulakukan”, jawabnya, “Aku sudah menunggumu terlalu lama karena aku yakin kau belum melupakanku”

Aku tersenyum senang, “Itu membuatku terharu. Aku memang tidak pernah melupakanmu”, kataku, memutar mataku lalu menatapnya sekali lagi, memastikan bahwa apa yang dulu kurindukan sekarang telah menjadi milikku, “Kau tahu, aku tidak pernah menyangka hari seperti ini akan datang. Dan andai saja, aku bisa sedikit lebih bersabar denganmu kita mungkin akan menemukan akhir yang bahagia”

“Apa maksudmu?”, tanya dia, heran.

Aku menatapnya serius kali ini, “Apa kau benar-benar mengerti cinta, Errence?”, tanyaku, “Maksudku…cinta tanpa memandang dunia dan serba-serbi dirimu yang begitu penting sampai kau tidak mempedulikan orang yang mencintaimu?”

“Maafkan aku…”, ucapnya, “Banyak hal yang terjadi setelah kau meninggalkanku. Begitu ayahku sakit dan aku harus mengurus semuanya sendirian. Aku tidak punya banyak waktu dan mereka mulai menjauhiku. Percayalah, aku menjalani hari yang berat…”

“Aku mengerti”, kataku, “Seperti itu juga aku…”

“Apa kau tidak memberiku kesempatan? Sama sekali?’, Errence mulai kedengaran memohon.

“Aku tidak berharap aku bisa”, jawabku cepat, dan mengambil beberapa langkah mundur, “Apa yang kita alami selama sembilan tahun ini sudah membuktikan bahwa kita tidak punya kesempatan”

“Kenapa?”

Aku menunjukan sesuatu di jari manis tanganku, “Aku menikah”, jawabku menggeleng-geleng dengan pasti, “Dan aku bahagia tanpamu”

***

Malam sudah berlalu dan aku merasa sangat penat.

Tuhan…, aku sedikit mengeluh karena seluruh tubuhku sakit sekali setelah pekerjaan semalam yang melelahkan. Aku menoleh ke sampingku dan sedikit kecewa, Shane bangun lebih awal dariku dan aku masih menggeliat seperti pemalas di atas tempat tidur. Aku benar-benar istri yang buruk.

“Pagi, Sayang…”, Shane menyapaku saat aku baru keluar dari kamar sambil menguap, masih mengenakan gaun pesta merah semalam.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?”,aku mengeluh sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol mineral untuk tenggorokanku yang kering.

“Aku mencobanya”, katanya tenang, dari kursi rodanya dan dia terlihat bugar. Ia hanya menoleh sekali ke arahku sebelum menatap ke luar jendela dan daun-daun tengah berguguran.

“Seseorang mencoba meneleponmu tadi”, katanya terlihat murung, “Seseorang yang mengundangmu ke pesta”

“Apa yang dia katakan?”, tanyaku mulai berfirasat buruk.

Shane mengangkat bahu, “Dia hanya bertanya ini siapa dan setelah aku menjawabnya, dia mematikan telepon”, jelasnnya, jelas kelihatan murung, dan setelah itu hening.

Aku merasa kian bersalah. Setelah pekerjaan yang sering membuatnya harus tinggal seharian di rumah, aku membuatnya sedih. Seharusnya aku memang tidak datang ke pesta itu, tapi aku harus menyelesaikan masalah yang selama ini tertunda dan terkadang menggangguku. Aku pun menghampiri Shane, memeluk pundaknya yang hanya bisa tersandar lemah.

“Aku harus mengatakan apa yang harus kukatakan sejak lama…”, bisikku padanya, “Ada banyak hal yang tidak bisa kuselesaikan saat itu…”

“Lalu apa semuanya sudah selesai?”, tanyanya lagi.

Aku mengangguk, mengencangkan pelukanku ke pundaknya yang tenang sambil memejamkan mataku. Mengingat hal terakhir yang kukatakan...dan kuberikan padanya.

***

Aku mengambil kado ulang tahun di atas mobil dan menyerahkannya dengan hati-hati, “Seharusnya aku memberikannya sembilan tahun lalu”, jelasku dan ia tersenyum dengan berat hati, karena itu kado pertama sekaligus terakhir, “Atau mungkin seharusnya membuangnya…tapi…aku tidak pernah sanggup melakukannya”

Errence hanya memandangi pemberianku yang dibungkus kertas kado biru yang masih terpasang rapi. Kami telah bercerita banyak hal dan sekarang saatnya untuk pergi.

“Itu milikmu”, kataku, sambil membuka pintu mobil dan aku sudah mengenakan jaketku. Aku ingin segera pulang, karena sudah lewat dari jam dua belas malam dan aku tidak ingin Shane tidak tidur hanya untuk menungguku pulang.

“Jadi ini akhirnya?”, tanyanya lagi, tampak tidak merelakanku pergi.

Aku mengangguk, merasa bersalah harus membuatnya bersedih di hari ulang tahunnya. “Hei”, tegurku tiba-tiba dan ia seketika menoleh seolah mengharapkan bahwa aku akan tinggal, “Kau ingat aku pernah mengatakan sesuatu padamu sebelum aku benar-benar menghilang?”

Errence menggeleng.

“Aku tidak pernah membencimu”, jelasku, “Aku hanya berharap siapapun setelah aku tidak akan mengalami hal yang sama denganku. Aku ingin kau belajar mencintai seseorang dengan cara mereka mencintaimu, dan begitulah kau akan dicintai. Kebahagiaan itu sederhana, Errence. Gunakanlah benda, bukan orang dan cintailah orang, bukan benda…”

“Aku tahu”, dia tertunduk, “Aku memang tidak pernah mengatakannya tapi bukan berarti aku tidak mengerti…”

Aku menunggu cukup lama untuk sebuah pengakuan.

“Aku mencintaimu, tidak seperti aku mencintai teman-temanku atau hal-hal yang membuatku senang”, jelasnya lagi, “Tidak pernah ada gadis yang menungguku selama berjam-jam dengan sabar atau tidak marah padaku bahkan di saat aku tidak datang untuk kencan. Aku sadar bahwa kau berarti lebih dari itu…”

Aku mengangguk, “Aku mengerti”, ucapku, sambil masuk ke mobil dan Errence menutup pintunya untukku.

“Kita hanya salah paham”, kata dia menahan kaca saat aku ingin menutupnya, seolah masih punya kata-kata terakhir, “Aku akan membantumu. Aku pastikan dia akan mendapatkan perawatan di rumah sakit agar bisa berjalan lagi dan kau bisa berhenti dari pekerjaanmu yang sekarang”

Aku menggeleng, “Tidak, Errence…”, ucapku lagi, “Aku mencintainya, dan aku tidak akan menukarnya dengan apapun…”

Errence terdiam sangat lama selagi aku menyalakan mesin dan aku harus segera menutup kacanya, “Selamat ulang tahun, Errence…”, kata-kata terakhirku.

***

Aku tahu itu bukan salam perpisahan. Tapi sebuah penolakan dan aku lega telah mengatakannnya. Dia memacariku hanya demi balas dendam saat pemilihan Student Committee dan rasanya aku telah begitu konyol memberinya kado sebuah sarung tangan rajutan di saat dunianya menghadiahkannya sebuah mobil mewah.

Tapi, aku tidak lagi memikirkannya saat Shane menggenggam tanganku di dadanya dan aku sudah membuang jauh kenangan di bawah kembang api itu. Aku hanya mengingat hal-hal yang mempertemukanku dengan Shane. Klub malam, geng automotif, minuman, mobil modifikasi, kecepatan dan balapan liar, lalu polisi hingga kecelakaan beruntun yang merenggut kedua kakinya. Aku bersyukur tidak kehilangannya pada saat itu dan aku bersumpah kami akan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah episode dunia malam tamat. Namun begitu, hari-hariku masih berat, tapi aku tidak sendirian…

“Kau adalah kebahagiaanku…”, ucapku di telinganya, “Kita akan menghadapi apapun bersama…”*Under the Fireworks -end

Baca juga She Knows
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments