๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Remove Dividing Line hari pertama agak alot. Sebagian besar mengeluh tentang kenapa mereka harus duduk membuat lingkaran –mirip seperti pertemuan kelompok orang-orang sakit yang butuh dukungan psikologis. Mrs. Dawson berdiri di tengah-tengah membuka kegiatan.
“Dari mana kita akan memulainya?”, tanya dia memandang ke sekeliling –ke wajah-wajah lesu yang berharap ini segera berakhir, “Ada sukarelawan?”
Aku duduk diam, karena tidak nyaman. Errence berada di seberang sana, menatap ke arahku dan ia masih punya ekspresi kesal itu untukku. Oh God, Aku benar-benar dalam masalah.
Tiba-tiba Errence mengacungkan tangannya, “Mrs. Dawson”, panggilnya sambil berdiri.
“Ya, Lee. Silakan katakan apa yang kau rasakan”, Mrs. Dawson menyambutnya dengan baik.
“Aku tidak tahu bagaimana ini bisa membantu”, kata dia, dan dari tempatnya itu dia memandang ke arahku, “Kurasa seseorang yang punya ide tentang kegiatan ini bisa menjelaskan bagaimana kita memulainya”
Mrs. Dawson membalikan badan, memandangku dengan sedikit bingung dan tidak enak –mungkin menyadari bahwa Errence sedang mencecarku, “Baik…”, ucapnya ragu-ragu sambil tetap memandangku, “Apa kau bisa membantu, Ferland?”
Ini belum apa-apa, pikirku, sambil berdiri tegap, menatap Errence sebentar lalu teman-temanku yang lain, “Kita tentu pernah berbohong”, aku memulai, “Baik terhadap orang lain atau diri sendiri. Tapi, kita tidak pernah sadar betapa buruknya akibat kebohongan itu. Terkadang kita merasa bersalah terhadap orang lain karena berbohong dan kita di sini untuk mengakui semua itu”
Semua tampak mendengarkan kecuali Errence yang tampak mencemooh bersama teman di sebelahnya.
Aku menarik nafas, hampir gentar dengan semua yang ada di kepalaku dan ingin kukatakan, “Hampir setiap hari di sekolah aku melihat teman-temanku ditindas, entah itu dengan kata-kata hinaan soal model rambut atau penampilan mereka, atau hanya karena mereka menyukai apa yang tidak lazim disukai, kita menganggap mereka asing. Tapi, sebenarnya itu sangat tidak adil, aku tahu itu, tapi aku tidak melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Aku mengabaikannya karena tidak ingin dijadikan target selanjutnya. Dan itu sudah terjadi selama dua tahun ini…aku merasa sangat bersalah…”, jelasku, “Aku pernah melihat salah seorang temanku dikurung di toilet dan aku tidak mengeluarkannya dari sana. Aku pernah melihat temanku diintimidasi saat ujian tapi aku tidak melaporkannya. Aku juga pernah melihat salah seorang dilecehkan namun aku pergi saat ia menjerit minta tolong…itu adalah hal yang paling jahat yang pernah kulakukan. Aku hanya tidak ingin mendapat masalah yang sama, tapi ternyata itu membuatku menjadi orang yang lebih jahat lagi…Maafkan aku…”
Mrs. Dawson tercengang. Semua ekspresi wajah nyaris terlihat sama. Aku menyimak baik-baik wajah-wajah teman yang aku maksud.
“Baiklah, Ferland. Kita di sini tidak untuk saling menghakimi, tapi menerima dan memaafkan”, ujar Mrs. Dawson, “Kau sudah melakukan hal yang benar dengan berterus terang dan meminta maaf”
Seseorang tiba-tiba mengacungkan tangannya. Jamie, teman sekelasku. Dia langsung berdiri dengan tegap, tampak siap dengan pengakuannya, “Aku tidak pernah bicara dengan siapapun tentang apa yang aku alami”, katanya, lalu menatapku, “Dan untuk itu aku sangat membenci Kei karena dia membiarkanku disakiti. Aku berteriak dan memohon padanya untuk menarikku dari mereka, tapi dia meninggalkanku di sana, bahkan dia tidak pernah bicara lagi padaku. Itu sangat tidak adil…aku sangat marah padanya…tapi…sekarang, aku merasa bahwa begitu aku katakan pada semua orang bahwa aku pernah diperlakukan tidak senonoh, itu akan membuka mata semua orang bahwa itu tidak boleh disembunyikan…”, kata dia, hampir menangis, “Tapi, untuk Kei…aku tidak tahu apa aku akan memaafkanmu tapi… terima kasih untuk membuatku bisa berterus terang hari ini…”
Ucapannya juga hampir membuatku menangis, saat yang lain kembali tercengang dan suasana menjadi kian serius. Satu persatu mulai berterus terang dan tidak sedikit yang mengakui bahwa mereka pernah diperlakukan sangat buruk. Hingga akhirnya di pertemuan-pertemuan selanjutnya, Errence menjadi orang terakhir yang belum pernah mengaku. Banyak orang yang memaksanya hingga akhirnya ia berdiri dan berterus terang.
“Kalian mengenalku sebagai orang yang tidak pernah punya masalah selain dari kekalahanku di pemilihan”, kata dia memulai, “Tapi, aku tidak akan membahasnya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya aku sangat kecewa karena berbagai hal. Pertama, sudah pasti karena kekalahan disebabkan program ‘pengakuan’ ini dan kedua, seseorang yang kupikir mendukungku bahkan sampai menuliskan pidato untukku ternyata adalah tangan kanan dari rivalku sendiri”
Kekanakan! Pikirku kesal, dan aku jadi tidak sabar hingga kegiatan selesai.
“Lee!”, panggilku saat Errence melenggang santai bersama gengnya meninggalkan hall.
Dia berbalik dan langsung cekikikan melihatku menghampirinya dengan marah, “Ada apa? Apa program pengakuannya ternyata tidak menyenangkan?”, ejeknya sambil merangkul teman lelaki di sebelahnya yang ikut cekikikan.
“Apa maksudnya?”, tandasku, “Kau tahu itu tidak ada hubungannya!”
“Wow…”, dia berdecak semakin mengejekku. Disambung tawa keempat temannya yang melecehkan.
“Mereka yang memaksaku untuk menuliskan pidato itu!”, kataku , “Lalu apa masalahnya sekarang? Kau bahkan tidak memakainya saat kampanyemu dan mungkin saja kau tidak pernah membacanya!”
“Aku membacanya!”, teriak dia, tiba-tiba, “Aku membacanya tapi aku tidak ingin menyampaikan isi kepala orang lain dan karena itulah aku membuatnya sendiri!”
“Lalu kenapa kau menyalahkanku?!”, balasku, “Penyebab kekalahanmu bukan pidatoku! Tapi, apa yang kau katakan sesuka hatimu yang kau pikir akan tetap disukai sekalipun kau menghina! Ya ampun, inilah alasan aku tidak memilihmu, kau tahu? Aku tidak bisa membayangkan sepanjang tahun kau hanya membanggakan apa yang kau punya!”
“Kau bilang apa?”, bibirnya mulai gemeretak.
“Kapan terakhir kali kau tidak melihat dan memikirkan dirimu sendiri?”, kataku, sebelum pergi dengan amat kesal.
***
Kembang api terindah yang pertama kulihat adalah di malam pergantian tahun baru. Sehari sebelum itu kami menyiapkan sebuah pesta sekolah dan semua orang diundang. Hari itu sama dengan malam ini, ketika aku berdiri seorang diri dan sengaja pergi menjauhi keramaian karena terkadang aku jadi tidak bisa menikmati kesenanganku akan perayaan yang kudatangi. Hari itu, hanya ada sekaleng bir yang kudapatkan di atas meja. Itu juga bir pertama yang kutenggak dengan ekspresi paling jelek. Dan itu adalah saat pertama kalinya lagi dia mengajakku bicara setelah perang dingin selama beberapa bulan sejak pemilihan.
Seperti kunang-kunang yang mulai kehilangan cahaya, ia meredup dan terbang dengan tertatih-tatih. Kulihat ia tampak tidak menikmati pesta seperti teman-temannya yang lain. Dan kebetulan kami bertemu lalu duduk di atas rumput sambil menyaksikan kembang api.
“Aku minta maaf”, katanya tiba-tiba dan aku heran –aku hampir lupa dengan kejadian di hari pertama Remove Dividing Line, “Aku memang kekanakan…pidato dan suaramu tidak ada hubungannya dengan kekalahanku. Tapi, aku hanya kesal pada diriku sendiri kenapa mengatakan hal-hal bodoh saat kampanye”
Aku hanya menatapnya tidak percaya –bahkan itu dari dekat dan aku sempat merasa aneh. Aku baru menyadari bahwa dia punya sepasang mata abu-abu yang indah dan struktur tulang rahang yang sempurna yang membentuk parasnya menjadi gagah. Serta kulit kecoklatan yang mengkilat. Pantas saja, banyak gadis rela mati untuknya jika diperlukan.
“Aku tidak mungkin membuat pengakuan seperti itu di depan seisi kelas…”, kata dia menghela nafas, “Itu sangat memalukan…aku tidak ingin harga diriku semakin jatuh setelah kata-kata…yang benar-benar membuatku memikirkannya sekali lagi. Tapi, aku harus mengakui bahwa kau benar…dan alasanmu tidak memberiku suara memang tepat…”
“Apa maksudmu mengatakan ini?”, kataku, tidak langsung percaya. Aku tahu siapa dia.
“Kau tidak pernah lagi bicara denganku, itu sedikit…menjengahkan…”, akunya.
Aku tertawa satu kali, “Sebelumnya kita memang tidak pernah bicara. Kenapa kau terganggu sekali?”, balasku.
Dia mengernyit lagi. sepertinya tidak mengerti.
“Dua setengah tahun kita sekelas”, aku mengingatkan, “Apa seingatmu kau pernah bicara dengan Kei Ferland bahkan hanya sekedar menyapa? Atau apakah kau tahu bahwa dia adalah teman sekelasmu?”
Dia tertawa, lalu mengangguk malu, “Maafkan aku…”, ucap dia.
“Kau tidak perlu minta maaf”, ujarku, lalu meneguk bir kalengan di tanganku, “Bukan salahmu… Kita hanya tidak punya kepentingan yang sama…maksudku…kau dan aku itu sangat berbeda…”
“Kenapa berbeda?”
Aku menarik naafas dan menerawang, “Aku harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan pujian orang-orang karena aku hanya angka sepuluh tanpa angka satu”, jelasku lalu cekikikan sendiri, “Sedangkan kau…kau tidak perlu melakukan semua itu, karena kau terlahir lengkap dengan satu set ketenaran, kekayaan, ketampanan, dan segala hal yang aku harus hidup tanpa itu semua. Aku berusaha untuk menjadi sama karena…kupikir pujian orang-orang adalah kekuatan…tapi pada saat bersamaan aku salah besar”
“Bagaimana mungkin kau bisa langsung menyadarinya?”
“Ujian”, jawabku singkat, “Ibuku meninggal dunia dua tahun yang lalu karena kanker. Aku mengabaikan banyak hal di sekolah saat menjaganya di rumah sakit. Di sana aku sadar bahwa bersama ibuku di saat-saat terakhirnya bukan hal yang bisa kudapatkan hanya dengan bekerja keras, melainkan menghargai apa yang kumiliki sebelum semuanya hilang. Aku memeluknya di saat-saat terakhirnya dan aku mendengar suaranya samar-samar bahwa dia sangat mencintaiku. Itu sangat menyedihkan”
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan ayahmu? Kau sangat dekat dengannya setelah ibumu meninggal?”
Aku mengangguk, “Dia mengurus banyak hal sampai bahkan tidak sempat mengurus dirinya sendiri”, jelasku, “Tapi, dia adalah ayah yang hebat. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jika suatu hari dia meninggalkanku. Aku akan sangat kesepian…dan kehilangan arah…”
“Kau punya pengalaman yang sangat menakjubkan”, kata dia tiba-tiba, “Kau memiliki apa yang tidak kumiliki. Bagaimana bisa kau merasa bahwa kita berbeda. Setidaknya kau bisa berpikir bahwa kita setara…”
Aku tertawa lagi, “Itu konyol, Lee!”, seruku, “Kau punya banyak teman dan para gadis yang memujamu…”
Tiba-tiba dia kelihatan sedih, “Aku punya seorang ayah yang sibuk tanpa seorang ibu yang memperhatikanku”, kata dia, “Aku punya banyak teman tapi mereka tidak bisa melengkapi kekurangan di dalam diriku. Entah kenapa, kadang aku merasa bosan berada di tengah-tengah mereka. Mungkin saja karena mereka hadir di saat bahagiaku, tapi ketika aku sendirian mereka tidak ada karena aku bahkan tidak pernah ingin memperlihatkan kelemahanku…”
“Kompleks…”, komentarku sambil kembali menatap langit dan aku tidak sadar bahwa dia terus memandangku. Hingga pada saat aku menoleh ke samping, mataku bertemu dengan matanya dalam jarak yang sangat dekat. Lalu kudengar dia mengatakan sesuatu.
“Ini pertama kalinya aku memandang orang selain diriku sendiri…”, katanya, semakin mendekat, “Aku melihatmu…”
Dan semua terjadi begitu saja. Aku jatuh cinta padanya dan dia adalah cinta pertamaku. Saat aku ingin menarik mundur diriku darinya karena takut pada auranya itu, aku menjauh dengan tawa bodoh yang kedengaran konyol. Tapi, dia menarik tanganku untuk tetap di dekatnya, sebelum ia menyentuhku dengan bibirnya.
Panas dengan cepat merambat, merusak system kerja otakku yang harusnya menarik diri. Tapi, tuas-tuas anggota gerakku seperti macet dan aku tidak menghindar. Aku malah terhanyut dengan rasa ciuman pertamaku yang manis. Aku mengabaikan orang-orang yang lewat, kembang api yang meledak-ledak dan musik yang bergema keras. Dia melepaskan bibirku beberapa saat tapi kedua lengannya memelukku dan dia berbisik agar aku memanggil namanya.
Aku tidak membutuhkan kata cinta darinya untuk semua sentuhan-sentuhan itu. Aku tidak membutuhkan alasan untuk menolak ajakannya meninggalkan pesta lebih awal. Dia menyetir mobil dalam keadaan setengah mabuk menuju ke suatu tempat. Dan aku tidak tahu dia membawaku ke mana. Sepanjang jalan aku hanya tertawa menerima setiap sentuhannya tanpa ragu dan membalas sebisaku hanya untuk membuatnya senang.
Aku hilang. Selama ini pakaianku yang biasa menjadikanku sesuatu yang kuinginkan dilihat orang lain. Ketika dia melepaskannya satu persatu, aku mulai kehilangan diriku. Dia tidak memberiku waktu sedikitpun bagiku untuk berpikir, atau untuk merasa bahwa ini terlalu cepat bagiku. Aku tidak pernah disentuh sebelumnya. Aku tidak mengerti kenapa terasa menakutkan saat pertama dia memaksa masuk ke dalam diriku dan aku tidak menghentikannya walaupun itu sakit.
Sakit sekali. tapi, bahkan sekali pun aku tidak mendengar sepatah kata cinta –entah karena tanpa cinta pun orang bisa saja melakukannya. Tapi, aku jatuh terlalu dalam. Sekalipun keesokan paginya dia pergi meninggalkanku –bahkan di saat aku masih tertidur lelap.
Aku merasa lain saat kembali lagi ke sekolah dan aku berharap keakraban yang sama terjadi lagi seperti malam itu. Tapi, aku keliru. Dia tetap saja masih di kelilingi teman-temannya yang biasa dan kelihatan menikmati berada di antara mereka. Apa aku salah?. Aku menunggunya menghampiriku dan itu rasanya sangat memalukan karena semua orang memandangiku.
“Hai”, sapa dia, santai dan akrab.
Syukurlah, pikirku sedikit lega.
“Kau ingin bergabung?”, tanya dia menunjuk teman-temannya yang sempat melambaikan tangan mengajakku tapi aku menggeleng dan ia kembali kepada mereka tanpa pernah menghiraukanku selama di sekolah.
Sudah terlalu terlambat untuk menarik diri dan menyerah. Kupikir ada sesuatu di hatinya tentang diriku –setidaknya sebagian kecil saja, setelah malam itu. Meski sepertinya tidak mungkin. Karena aku tahu dia adalah masalah sejak pertama kali membiarkannya masuk. Aku pikir dia memang tidak peduli, aku bisa menerima itu sekalipun di saat aku terjatuh dia tetap melangkah ke depan, tanpaku.
Aku menerima sebuah telepon yang pada akhirnya mengubah semua keputusanku tentang hidupku. Aku tidak sadar bahwa Errence membuatku lupa akan apa yang sebenarnya lebih penting bagiku. Yaitu tentang apa yang aku bisa miliki tanpanya.
Ayahku meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan dalam sesaat duniaku berhenti berputar. Jalan yang akan kulewati selanjutnya, harus kutempuh sendirian. Dongeng Cinderella dalam dunia nyata tidak pernah berakhir bahagia. Aku tidak tahu seperti apa Errence melihatku setelah kematian ayahku. Yang aku lihat di matanya hanyalah rasa iba dan aku tidak membutuhkan apa-apa lagi darinya. Pada saat itu aku selalu berpikir ke belakang, mengurutkan dari mana perasaan sakit ini mulai menjangkiti hatiku yang tercabik setiap melihat Errence di depanku. Dia bukan milikku, barangkali, hanya aku saja yang merasakan cinta ini.
Aku tidak merasakan kebahagiaan berlebih ketika lulus SMA. Tidak seperti Errence yang merayakannya dengan pesta besar-besaran, meskipun dia mengajakku tapi dia tidak berada di sampingku selama itu. Dia selalu membiarkanku terasing di dunianya –sama seperti saat aku menunggunya terlalu lama untuk pergi kencan dan pada kencan itu dia lebih memilih bercanda dengan mereka lewat pesan singkat. Dia tertawa, tapi tidak padaku. Dia tersenyum, tapi tidak pernah untukku. Dia tidak pernah menganggapku ada untuk melihat dan merasakan perlakuan itu.
Dia mungkin tidak pernah mengetahui ini. Pada saat dia tidur di sampingku beberapa jam saja, aku tidak pernah melewatkannya dengan ikut tertidur. Aku lebih memilih memandangi wajahnya selama yang aku bisa karena begitu kedua matanya terbuka, ia akan mengingat semua teman-temannya dan hal apa yang akan mereka lakukan nanti. Rasanya begitu bertolak belakang dengan apa yang pernah ia katakan di pesta kembang api. Mereka selalu bersama dalam keadaan apapun. Jadi aku berusaha mengingatnya dengan baik di kepalakku, bahwa suatu hari nanti, aku merindukannya sampai aku ingin menangis.
“Aku mencintaimu…”, bisikku pelan, berharap dia tidak akan bangun.
Karena aku sudah tidak bisa terus ada di sisinya dengan perasaan yang tanpa jawaban. Jadi, tepat sebelum dia terbangun, aku sudah pergi lebih dulu. Memberinya waktu sebanyak yang dia inginkan sedangkan aku akan menunggunya sampai lelah di luar sana. Tapi, aku menunggu lebih lama dari yang kuperkirakan.
Aku hanya kembali pada saat dia membutuhkanku.
“Kau bisa datang malam ini, Kei?”, dia terdengar memohon di telpon.
“Kau punya pesta lagi?”, balasku, datar dan aku tidak begitu tertarik karena aku selalu tidak masuk hitungan.
“Ayolah, kau tidak mungkin melewatkannya begitu saja. Ini ulang tahunku”, jelas dia, “Jangan bilang kau melupakan tanggalnya”
“Aku tidak pernah lupa…sungguh…”, kataku, sedikit sedih, “Aku pikir kita akan merayakannya berdua”
“Setelah itu, oke?”, ujarnya terdengar buru-buru sebelum menutup telpon.
Aku sedikit tercenung. Itu bukan cata mengundang kekasih dengan cara seorang kekasih. Tapi, aku langsung bersiap-siap tanpa minta dijemput.
Sebenarnya aku sudah menyiapkan kadonya. Kupikir akan hanya ada kami berdua. Dengan suasana yang romantis walaupun handphone-nya akan berbunyi tiap satu jam. Tapi, dengan terpaksa aku datang juga. Sedikit melelahkan memang. Hampir larut malam di musim gugur, cuaca benar-benar dingin. Aku mengenakan sweater dan jeans masuk ke pestanya yang eksklusif, dan penjaga di depan hampir tidak mengizinkanku masuk karena kostum yang tidak sesuai.
Seperti biasa, malam bagi Errence penuh dengan pesta pora dan aku mulai mempertanyakan kapan waktu setelah pesta untuk bisa berdua saja. Tempat ini terlalu ramai dan penuh. Hingga aku tidak bisa menemukannya di mana pun. Aku menyimpan kadoku karena kupikir akan memberikannya nanti. Tapi, sepertinya memang tidak mungkin. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, hanya saja dia tidak pernah mengangkat telponku. Sungguh, aku sama sekali tidak punya firasat tentang ini dan sudah terlalu terlambat untuk mengetahui semuanya.
Aku mendengar teman-temannya sedang berbicara di balik pintu khusus di mana biasanya mereka menyepi dari keramaian untuk merokok dengan tenang.
“Errence mengundangnya?”
Aku tertegun di balik pintu, terpikir untuk bertanya tapi urung. Aku jadi ingin tahu siapa yang mereka bicarakan. Siapa yang Errence undang dan sepertinya begitu mengagetkan?
Errence tidak terlihat, aku yakin dia tidak ada di dalam.
“Aku pikir balas dendamnya sudah selesai”, kata salah seorang dari mereka.
“Mungkin terlalu menyenangkan. Ferland benar-benar bodoh”, komentar yang lainnya, “Dia tidak pernah sadar seisi sekolah menertawainya karena Errence menidurinya dia bisa memilikinya”
Aku menelan ludah dan segera membalikan badanku. Aku harus menemukan Errence untuk memastikan bahwa mereka tidak benar. Paling tidak Errence akan menegaskan padaku bahwa ketika kami berdua, sebuah hubungan adalah hal yang masuk akal. Tapi, dia tidak pernah mengatakan yang ingin kudengar karena apa yang dia lakukan malam itu sudah menyimpulkan semuanya.
Aku terdiam di tempatku setelah langkahku mendadak terhenti di satu sudut dan akhirnya aku melihatnya. Tidak ada perasaan lega sama sekali karena aku harus melihatnya mencium seorang gadis yang bukan diriku. Kerasnya musik dan ramainya sekitar kami tidak berpengaruh apa-apa, saat aku menghampiri dan dia kelihatan terkejut.
“Kei…”, entah mengapa dia harus terlihat cemas.
Dia selalu tahu bahwa aku tidak pernah marah padanya atas kesalahan apapun.
“Kau…pembohong…”, hanya itu yang keluar dari bibirku sebelum aku meninggalkannya, berlari menerobos pesta dan keluar dari tempat itu.
Aku tidak menyangka dia akan mengikutiku.
“Hei!”, panggilnya benar-benar terlihat cemas, “Tunggu…”
Aku berbalik, masih berusaha menahan emosiku untuk tidak menampar, memaki atau berteriak, aku tidak ingin terlihat lebih buruk dari ini, “Aku benar-benar menyukaimu…kau tahu…”, kataku gemetaran, dan air mataku sudah menetes, “Sungguh…”
“Dengarkan aku…”, pintanya mencoba meraih tanganku.
“Cukup!”, desisku menghindar selangkah sebelum dia mendapatkanku. Aku tidak benar-benar yakin dia peduli akan apa yang aku lihat, “Jangan menyentuhku! Aku selesai!”
“Hei, itu tidak seperti yang kau lihat…”, dia mencoba menjelaskan, dan aku berbalik, ingin pergi.
“Oh, benarkah?”, balasku, acuh. Menahan air mataku. Tidak memberinya kesempatan untuk bicara apalagi mendengar sepatah kata pun.
“Ya!”, serunya dan dia berhenti mengejar karena aku sudah jauh, “Ayolah! Kita harus membicarakan ini!”
Aku tidak menjawab dan menghilang. Karena sudah saatnya untuk berhenti dan menyerah. Maka setelah itu aku mengepak barang-barangku, pergi sejauh ribuan mil darinya hanya untuk tidak mendengar kabar tentangnya lagi. Aku meninggalkan kuliahku seperti aku menanggalkan semua kesan yang selama ini melekat padaku –mahasiswa teladan dan berprestasi. Aku tidak pernah mengakui Kei Ferland yang bodoh sejak itu.
***
Komentar
0 comments