[Hal.7] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Selamat malam, Tuan”, sapa Mario saat aku terlihat memasuki dapur dan ia sedang membereskan sesuatu dari atas meja, “Nn. Grayson baru saja naik ke kamarnya”

Aku hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi yang baru saja Kei tinggalkan sambil melonggarkan dasiku.

“Apa kau ingin dibuatkan sesuatu untuk makan malam?”, tanya pria Italia berusia hampir separuh abad itu padaku sambil mengangkat sebuah piring dari atas meja.

“Kau memasak Chicken Burrito?”, tanyaku, memandangi piring dengan banyak sekali sisa makanan kesukaan Kei –mungkin sekarang tidak lagi.

“Ya, aku masih ingat dulu dia sangat menyukainya. Dia belum makan apa-apa sejak siang. Jadi kupikir, jika itu Chicken Burrito dia akan memakannya ” jelas Mario sambil tersenyum, “Tapi, sekarang semuanya tidak berjalan dengan baik ya…”

Aku menarik nafas, menyandarkan punggungku yang lelah. Lalu tersenyum hampa, “Dia tidak mengingatnya”, kataku, sebelum berdiri kembali karena aku juga ingin pergi ke kamar untuk istirahat.

“Aku mengingatnya, Tuan”, kata Mario tiba-tiba dan aku menoleh ke belakang lalu tersenyum, “Kalian masih sangat muda. Aku kehilangan kalian saat aku pergi beberapa saat dari dapur dan kalian hanya menyisakan piring kosong di atas meja”

Aku tertawa pelan. Ya, aku membawanya ke kamar diam-diam supaya semua orang berpikir bahwa aku sudah mengantarnya pulang. Sekarang, semuanya bertolak belakang. Aku melangkah dengan gontai sendirian ke kamarku yang juga berada di lantai dua.

“Tuan”, sapa Simon yang kebetulan melihatku sebelum kakiku melangkah menaiki tangga, “Apa anda baik-baik saja?”, tanyanya terlihat khawatir.

Aku mengangguk, “Aku ingin istirahat”, jawabku, “Ada apa, Simon?”

“Apakah anda tidak ingin bertemu dengan Mr. Lee?”, Simon bertanya lagi.

Aku tidak menjawabnya dan melanjutkan langkahku. Simon segera beranjak sebelum aku sempat menoleh ke belakang untuk menunjukan bahwa hari ini aku sangat lelah. Bicara dengan ayahku tidak akan terasa melegakan. Karena dia tidak akan bisa membebaskanku dari semua keharusan ini. Aku memandang jauh sampai ke ujung lorong melewati pintu-pintu tertutup dengan perasaan yang ingin sekali ke sana. Karena kamar Kei berada di balik pintu yang terakhir di ujung sana. Jaraknya seperti ribuan mil, dan aku terlalu lelah.

Tidak, aku hanya tidak ingin dia menjadi tidak betah dan pergi.

Aku pun menarik gagang pintu kamarku dan masuk. Tapi, seketika sebuah tangan menarikku dan menghempaskan tubuhku ke pintu yang tertutup. Bibirku terkatup rapat oleh sentuhan tawa yang terdengar jelas di telingaku. Kei memelukku dengan sangat erat dan aku bisa merasakan desahan nafasnya saat mengecup lehernya yang menegang ketika kuangkat tubuhnya. Lalu menghempaskannya di atas tempat tidur.

“Aku mencintaimu…”, suara Kei terdengar samar-samar di telingaku dan membuatku terbangun. Aku membalikan badanku karena kurasakan dia bersandar di punggungku –seperti biasanya. Tapi, tidak.

Tubuh kurusnya tertidur dengan posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur dan tangannya di atas kepalaku seperti sedang membelai. Dia pasti baru saja tertidur dan pantas saja aku merasa seperti diawasi –tepatnya seperti dipandangi. Bisikan itu sepertinya juga bukan mimpi, pikirku sambil menariknya ke dekatku. Memeluknya rapat dengan dadaku dan selanjutnya aku mencoba tertidur.

Terlintas dalam pikiranku, pasangan yang bertengkar di depan bioskop dan ekspresi Kei saat memandang mereka. Aku mengerti, bahwa seharusnya itulah yang Kei lakukan padaku –menamparku dan marah-marah karena terlambat kencan karena itu bukan pertama kalinya aku tidak menepati janji. Tapi, dia tidak melakukannya. Dia tidak pernah marah, dia tidak pernah berteriak. Dan dia selalu memandangku dengan tatapan mencintai yang terkadang membuatku merasa bersalah setiap aku harus menyakitinya disengaja atau tidak. Aku mempererat pelukanku dan malam itu berjanji, akan memperbaiki semua kesalahanku.

Tapi…keesokan pagi dia menghilang. Dia tidak lagi ada di sampingku. Seperti pagi ini, saat aku terbangun sendiri dengan penyesalan yang kadang membuatku sesak. Terlebih sejak, aku tahu bahwa dia hanya berada dalam jarak kurang lebih 50 meter dari sisiku. Tapi, kami tidak pernah bertemu atau berpapasan.

Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kantor dan Kei belum keluar dari kamarnya. Seakan sengaja menungguku pergi lalu ia baru turun setelah memastikan aku benar-benar tidak ada. Semua itu jelas bagi siapapun di rumah ini dan Simon terlalu mencemaskan jika keadaan ini berlangsung lebih lama lagi.

***

“Hei”, Kei menyapaku dan aku tidak menyangka bahwa akhirnya dia tidak keberatan harus melihatku, “Kau berangkat pagi sekali sampai aku harus bangun lebih awal untuk bertemu denganmu”

Aku tersenyum, “Kau sengaja jarang keluar agar tidak melihatku”, kataku, setidaknya bahagia dia tidak seperti yang dikatakan oleh Simon dan Mario –bahwa Kei tidak betah tidak bisa ke mana-mana selama berada di rumah ini. “Aku memang selalu berangkat lebih pagi. Kau tahu, aku sangat sibuk”

“Aku tahu kau”, dia tersenyum lebar dengan tubuh terbungkus kaos krem longgar dan hampir menutupi celana pendeknya. Rambut coklat gelapnyanya sedikit acak-acakan dan sudah pasti ia belum mandi dan melakukan sesuatu dengan wajahnya yang kusut itu. Rasanya aku pernah melihat dia yang seperti itu, “Kau memang selalu sibuk”

“Ada apa memanggilku sepagi ini?”, tanyaku, sebelum dia kembali menyindirku, “Seharusnya kau menelponku saja tanpa perlu harus mengejarku di pagi buta seperti ini”

Kei tertawa, “Aku harus mengatakannya langsung”, katanya, “Aku merasa tidak enak bicara di telpon lebih-lebih aku tidak punya nomor telponmu”

“Seharusnya kau punya”, kataku, berusaha tenang.

Kei menggeleng, “Aku tidak mau menyusahkanmu lebih dari ini”, jelasnya, rautnya mulai berubah murung, “Dan…kau pasti tahu, bahwa aku tidak mungkin tinggal lebih lama di sini…”,

“Kau akan pergi?”

Kei mengangguk pelan dan canggung, “Aku akan pindah ke Boston”, jawabnya, “Kupikir akan lebih aman di sana…”

“Kau yakin?”

Kei mengangguk pasti, “Kau ingat Gemma?”, tanya dia.

Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Dia wanita yang harus kubayar mahal untuk memaksa Kei menyanyi di pestaku agar aku bisa bertemu dengannya.

“Dia mengajakku ke sana”, jelas Kei.

“Kau mengatakan kau berada di mana?”

Kei menggeleng, “Itu akan sangat merugikanmu”, katanya.

“Baiklah”, kataku, mulai melangkah menuruni tangga, “Kau boleh pergi jika kau sudah yakin kau akan baik-baik saja nanti”

“Terima kasih!”, ucapnya saat aku tengah menuruni tangga dan aku menoleh. Bisa jadi itu terakhir kali aku bisa melihatnya tersenyum seperti itu –padaku.

***

“Ya Tuhan, Errence! Apa yang kau lakukan?!”, Ingrid memekik dan aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia sudah ada di hadapanku, “Apa kau sudah gila?!”

Aku terduduk di lantai di hadapan semua benda yang kulemparkan dan aku tidak tahu kenapa aku begitu marah. Aku tidak punya pelampiasan lain selain dari tumpukan kertas dan komputerku. Aku merasa begitu muak.

Untunglah, Ingrid ada di sana untuk menenangkanku dan aku tidak tahu harus bagaimana membalas semua jasanya padaku.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”, tanya dia, setelah kuceritakan semua hal yang menyiksaku sejak Kei berada di rumahku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya pergi sekarang.

“Aku pikir aku akan baik-baik saja…”, kataku tertunduk, dan kedua tanganku masih gemetaran. Persis seperti pecandu narkotik yang tidak punya penawar.

Ingrid mendekat, “Ya…”, katanya pelan dan lembut, sebelum kedua tangannya meraihku dan aku bersandar kepadanya beberapa saat, “Kau…akan baik-baik saja…”

Seharusnya aku mengatakan ini padanya. Karena kenyataannya dia sama sekali tidak berkomentar dan aku merasa sedikit tenang. Tapi, saat kembali ke rumah, aku merasa kembali bersedih.

Kei sudah pergi. Dia menyisakan barang-barang yang kusiapkan untuknya dalam keadaan semula. Baju dan  sepatu mahal dalam kloset yang seolah tak pernah tersentuh, sekalipun ia tidak membawa sehelai pakaianpun saat pertama datang ke sini. Kenapa dia begitu keras kepala?

Kamar itu seperti tidak pernah ditinggali sebelumnya. Tidak tersisa sedikitpun hawa dari seorang gadis bersahaja yang selalu tersenyum tenang dan penyabar. Aku hanya bisa merasakan amarah yang tertuang pada setiap lembar halaman buku yang mungkin tidak sengaja tertinggal. Chantal –salah seorang pelayan wanita, menemukannya di dalam laci paling bawah saat dia membereskannya lalu memberikannya padaku

Aku jadi ingat. Kei suka sekali menulis. Mulai dari menulis makalah, karangan bebas, cerita hingga naskah pidato

Dalam buku yang ia tulis ini namaku tidak lagi menjadi segala hal yang ia tulis dengan penuh perasaan. Aku seperti membaca buku harian milik orang lain yang bukan Kei –di lembar pertama tertulis sebuah nama, Faia Grayson. 

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments