[Hal.5] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Maaf, aku merepotkanmu”, ucap Kei tenang dan dia tersenyum seolah semalam kami hanya pulang bersama dan aku menumpangkannya tidur di ranjangku. Hanya itu saja.

Aku mengangguk dan menunggu agar ia segera turun dari mobil. Tidak membuatku merasa lebih buruk dari semalam. Bayangkan aku tidak tidur semalaman dengan sakit kepala sambil memandanginya tertidur dengan damai sampai pagi.

“Terima kasih”, ucapnya mulai canggung dan segera turun dari mobil tanpa basa-basi. Hei, apa yang aku harapkan sekarang? Perempuan ini benar-benar sudah tidak punya kenangan tentangku di kepalanya –itu sangat menyesakkan.

Aku tertegun beberapa saat setelah ia benar-benar pergi. Ingrid benar, aku harus melepaskannya karena tidak mungkin mencintai orang yang tidak mencintaiku. Betapa bodohnya aku…

Tiba-tiba dia kembali! Terdengar suaranya memanggil namaku sambil mengetuk-ngetuk kaca mobilku.

“Buka!”, gerak bibirnya tampak cemas meminta untuk kembali ke mobil. Begitu aku membukanya dia langsung naik, “Jalan!”

Aku bingung, kenapa dia terlihat begitu ketakutan.

“Cepat pergi, Errence!”, desaknya setengah berteriak padaku sambil melihat ke luar kaca. Sekelompok orang tengah mendekat kemari.

Aku segera menyalakan mesin dan melaju.

“Ada apa ini?”, aku bertanya selagi Kei sibuk menoleh ke belakang dan aku melihat lewat spion sekelompok orang itu juga naik mobil dan pastinya mengejar mobilku. “Kenapa mereka mengejarmu?!”

“Lebih cepat!”, ia malah berteriak padaku. Dan aku menginjak gas lebih lama.

Kei tampak menarik nafas setelah memastikan mobil sedan itu jauh tertinggal di belakang. Ia menyandar sambil merapikan rambutnya yang kembali berantakan.

“Terima kasih, …”, gumamnya, lalu menoleh padaku, “Terima kasih karena ini kau dan mobil mewahmu. Aku tidak tahu ini akhirnya ini benar-benar sangat membantuku”

Aku mengernyit, “Apa maksudmu?”. Bagiku itu terdengar seperti sindiran lainnya tentang hidup dan duniaku.

Kei menghela nafas, “Lupakan saja”, katanya, memalingkan wajah. Terlihat, tidak ingin bicara denganku –lagi.

“Sekarang katakan kenapa pria-pria itu mengejarmu”, tanyaku. Aku sudah sangat mau tahu sejak ia terlihat seperti pencuri kecil memaksa masuk ke mobilku dan kata-katanya yang mendesakku seperti todongan pistol di kepalaku, “Kau tidak melarikan diri dari anak buah seseorang yang mencoba menjualmu, kan?”

Kei menatapku tajam. Terlihat kesal seolah itu memang tidak benar. Dia menggeleng sekali hanya untuk tidak melihat wajahku yang tampak menjatuhkan harga dirinya. “Kau tidak akan mengerti”, hanya itu jawaban yang kudengar sebelum dia menoleh cukup lama ke belakang dan tiba-tiba memukul-mukul dashboard-ku, “Berhenti!”

Aku mengerem dengan cepat setelah menepikan mobil seperti perintahnya. Ini akan terlihat seperti akulah yang akan diterlantarkan di jalanan walaupun Kei adalah satu-satunya yang turun dari mobil dalam keadaan kesal setengah mati.

“Hei! Hei!”, panggilku saat ia membanting pintuku di luar dan kaki panjangnya yang kurus mulai menjauh. Aku ikut turun dari mobil dan dia sudah berjalan ke arah sebaliknya. “Kau belum menjelaskan apa-apa padaku”

“Dan kenapa aku harus menjelaskannya padamu, Tuan?’, balasnya, tetap melangkah bahkan tak menengok sedikitpun.

“Kau melibatkanku dalam masalah yang tidak kuketahui”, kataku.

Akhirnya Kei berhenti dan menoleh, “Kalau begitu maafkan aku, Lee”, ucapnya, tapi tampak tidak sungguh-sungguh, melainkan terpaksa. Dia tampak benar-benar tidak ingin berurusan denganku lagi.

“Kenapa kau begitu membenciku?”, aku bertanya, tidak tahan lagi dengan sikap dan ekspresi itu. Apakah semua yang kulakukan dulu masih berbekas dan sisa-sisa cintanya padaku malah berubah menjadi benci?

Kei menarik nafas, mengerling, memandang ke segala arah kecuali wajahku yang kembali tampak memohon. “Dengar, aku tidak membencimu”, katanya, “Sungguh, aku tidak membencimu. Hanya…”, dia terlihat ragu melanjutkannya, “Hanya kita tidak bisa terus bertemu. Kuharap kau mengerti bahwa aku tidak ingin berurusan denganmu…”

“Maafkan aku, oke…”, kataku, masih terdengar memohon dan tiba-tiba Kei tertawa.

“Ayolah, Errence…”, katanya, sudah tidak marah lagi, “Ini bukan kau. Aku tahu ini bukan kau…”

Aku tertunduk. Ingrid memang benar. Dia tidak akan menarik kata-katanya, aku tahu.

“Kau akan pergi ke mana?”, tanyaku, keluar dari perdebatan tentang masa lalu yang hanya membuatnya terus mengatakan hal yang menyakitkan padaku, “Aku yakin, ini bukan pertama kalinya mereka mencarimu sampai seperti itu”

“Entahlah…”, jawabnya murung dan tertunduk, “Aku pikir aku akan pindah, tapi…”

“Katakan siapa mereka”, desakku, “Apa yang membuat mereka mengincarmu?”

Kei menatapku lagi, “Yeah…ini selalu soal uang, kau tahu?”, dia mencoba santai, “Aku berhutang satu mobil balap dengan bos mereka”

“Bukan kau”, potongku, “Suamimu?”

Kei hanya tertunduk, “Mereka awalnya hanya sponsor, tapi kecelakaan itu benar-benar merusak segalanya”, jelas dia, mulai terlihat sedih, “Kupikir mereka tidak akan menuntut karena Shane kehilangan kedua kakinya dan cacat. Tapi, mafia tetap saja mafia. Mereka kehilangan banyak dalam taruhan dan kami harus menggantinya.”

Aku terdiam, menyimak ekspresi sedihnya dan dapat merasakan bahwa dia sangat menderita.

“Kau benar”, Kei menatapku sekali lagi, kali ini hampa, “Mereka mencoba menjualku jika berhasil mendapatkanku”

Aku masih diam dan Kei memutar arah. Ingin segera pergi.

“Hei!”, panggilku, mengejarnya beberapa langkah, dan ia menoleh dengan wajah yang sedih. Aku tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja –setidaknya sebagai manusia, bukan lelaki yang mencintainya, “Ikutlah denganku”

Dia hanya menatapku heran.

“Jika kau tidak bisa menerimaku, baiklah”, kataku, mencoba terlihat lebih bersahabat daripada memaksa, “Setidaknya perlakukan aku seperti temanmu. Itu saja sudah cukup”

“Teman?”, dia terkekeh, tampak meragukan bahwa aku sungguh-sungguh mengalah.

“Kau mau aku berjanji tidak akan memaksamu lagi?”, tanyaku.

Kei masih tertawa, makin keras, “Sudahlah, Errence”, katanya, “Aku tidak pernah menjadikan mantan pacarku sebagai teman. Percayalah, itu tetap menyakitkan sekalipun semuanya sudah berakhir”

“Buatlah perbedaan untuk kali ini. Aku pastikan kau tidak akan menyesal”, ujarku, “Aku hanya ingin membantumu…sebagai teman atau… teman lama di SMA …atau apapun yang yang kau inginkan tapi jangan menolak niat baikku…”

Kei akhirnya tersenyum. Senyum itu tampak mengerti dan menerima bahwa dia tidak punya pilihan lain.

***

“Kau masih ingat Simon?”, tanyaku sambil melangkah ke dalam rumah dan Kei mengikutiku di belakang. Dia terlihat tenang saja dan di mataku kembali menjadi sosok Kei yang santai –Kei yang pernah kukenal diluar gaun mini mengkilat yang dia kenakan sekarang. “Dia akan mengurus semua yang kau butuhkan. Katakan saja apa yang kau inginkan dan dia akan menyuruh pelayan lain untuk menyiapkannya.”

Aku melangkah lebih cepat dan Simon akhirnya terlihat di ambang pintu ruang tengah untuk menyambutku.

“Selamat siang, Tuan”, sapanya dengan suara berat dan tenang.

“Simon”, aku segera menghampirinya dengan tidak sabar, “Mulai hari ini Kei akan tinggal di sini sementara. Aku ingin kau mengurusnya dan memastikan tidak ada yang kurang. Tambah beberapa pelayan perempuan lagi untuk mengurus Kei dan pastikan mereka benar-benar bisa diandalkan”

“Cukup, Errence!”, kata Kei tiba-tiba, ia terlihat gusar lagi, “Kau sudah mengatakan banyak sejak tadi dan satupun tidak kumengerti. Aku bukan anak kecil yang harus dijagai banyak orang atau…seorang putri yang harus punya banyak dayang-dayang”

Aku berbalik dan menghampirinya, “Aku hanya ingin kau nyaman tinggal di sini”

Kei tersenyum, “Apa yang mungkin akan membuatku tidak nyaman di sini selain kau?”, katanya menatapi sekitarnya lalu bersiul pelan, “Tinggal di istana seperti ini saja membuatku lebih dari sekedar beruntung”

“Ada lagi, Tuan?”, Simon menyela saat aku terdiam.

“Aku hanya menumpang tinggal bukan menjadi nyonya rumah”, katanya menegaskan sambil melewatiku, “Kau harus ingat itu”

Kata-kata ‘menumpang’ itu menamparku dengan keras. Aku hanya bisa menyaksikan ia melangkah pergi mengikuti Simon pergi ke kamarnya. Ia tidak pernah keluar lagi dari sana seolah sengaja mengurung diri atau memang tidak ingin melihatku.

Aku harus membuatnya merasa bahwa aku memintanya tinggal di sini bukan untuk membuatnya jatuh cinta lagi padaku. Walaupun sebenarnya, aku sedikit berharap, bahwa kesendiriannya mungkin akan membuatnya berubah pikiran. Tapi...dengan mengingat semua kata-katanya itu, aku sadar aku sama sekali tidak punya kesempatan. Aku tahu, dalam hatinya saat ini hanyalah pria yang sudah mati itu.

Aku pernah berpikir untuk melakukan apa saja. Bahkan ide gila Ingrid sempat terlintas di pikiranku –mempercepat kematian Shane Grayson lalu membuat Kei kembali jatuh cinta padaku. Untungnya itu tidak pernah kulakukan karena nyatanya walaupun lelaki itu meninggal dunia, Kei sudah menutup hatinya untuk siapapun. Aku hanya seseorang yang tidak lebih dari orang asing yang menolong karena ia sudah berusaha semampunya dan iba padanya. Seorang kesatria yang gagal, sekalipun ia telah menyebrangi lautan, mendaki gunung yang bersalju dan melawan naga di menara tertinggi yang menawan sang putri demi menyelamatkannya. Karena tidak ada yang bisa dilakukan seorang kesatria hebat manapun jika…hati sang putri-lah yang tertutup.

***

“Kau baik-baik saja?”, tanya Ingrid, menaruh secangkir kopi di atas meja dan aku masih menerawang keluar jendela.

Aku baru menyadari kehadirannya mendengar suara gesekan sendok di atas tadah cangkir kopi yang ia bawakan untukku. Aku memutar kursi dan melihatnya tersenyum, “Oh, terima kasih”, ucapku, mencoba terlihat tidak merana. Aku belum memberitahunya bahwa Kei tinggal di rumahku, dan begitu berat bagiku untuk membicarakannya. Aku tidak ingin Ingrid mengomentari penyiksaan yang tengah kulakukan pada diriku sendiri.

“Bagaimana kabar ayahmu?”, dia bertanya, terdengar perhatian, “Apakah kau bicara dengannya?”

Aku diam dan berpikir, “Aku belum menemuinya”, jawabku.

“Kenapa kau belum menemuinya?”

“Aku hanya…”, terlalu sulit mengatakan bahwa aku sempat lupa bahwa aku mempunyai seorang ayah.

Ingrid segera meninggalkan ruanganku saat aku hanya lebih banyak diam seperti biasanya. Begitu pintunya tertutup, aku menyingkirkan semua berkas-berkas di atas meja yang membuatku begitu tertekan. Lalu menjatuhkan punggungku di atas sandaran kursi dan mencoba memejamkan mata. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kalinya aku tertawa lepas bersama seseorang yang sangat kurindukan.

Rasanya sudah lama sekali. Tapi, bisa kurasakan satu persatu yang kukenakan sekarang –setelan jas mahal dan dasi ini, terlepas dari tubuhku dan aku mengenakan jeans dan jersey kebanggaanku, lalu mengendarai mobilku ke suatu tempat yang ingin sekali kutuju. Aku adalah Errence Lee yang berusia sembilan belas tahun yang baru saja lulus dari SMA. Di sebuah pinggiran jalan tepat di depan sebuah bioskop, seseorang tampak menunggu.

Aku memarkirkan mobil dengan buru-buru lalu menghampiri gadis yang mengenakan jeans dan sweater itu. “Maafkan aku”, ucapku, sambil memeluknya sejenak, lalu menarik tangannya masuk ke bioskop karena film yang akan kami tonton sudah dimulai.

“Film-nya sudah selesai. Kita tidak mungkin lagi ke dalam”, katanya, tetap berdiri di tempatnya.

Aku memukul dahiku, “Sial…”, keluhku kesal dan aku hanya menatapnya dengan sedikit merasa bersalah.

 “Sialan kau!”, seseorang terdengar memaki tidak jauh dari tempat kami. Tepatnya seorang gadis yang baru saja memukul seorang lelaki dengan satu buket bunga yang seketika menjadi sampah di jalanan kering. Suaranya keras sekali sehingga ia membuat hampir semua perhatian orang yang lewat tertuju kepadanya, “Kau benar-benar membuatku jengkel!”

“Aku minta maaf!”, kata kekasihnya itu dan terlihat cukup menyesal, “Mobilnya mogok dan aku harus mengurusnya. Kumohon, jangan marah padaku…”

“Aku benci kau!”, kata gadis itu sambil berlalu dan kami berdua terdiam sampai mereka benar-benar tidak terlihat lagi. Seharusnya dia mencoba mengerti karena mobil mogok juga bukan kesalahan pacarnya, tapi malah pergi dengan cara seperti itu. Terkadang perempuan memang sangat egois.

Aku melirik Kei yang ikut diam dan menunggu ke mana kami akan pergi setelah ini. Untungnya dia bukan gadis yang seperti itu.

“Aku lapar”, katanya padaku.

Aku mengangguk, “Kita akan pergi ke Al’s”, usulku cepat karena biasanya kami selalu pergi kesana untuk Chicken Burito rumahan Al yang enak. Aku rasa Kei tidak akan keberatan jika kami harus pergi ke tempat di mana lelaki lebih mendominasi.

Aku mengendarai Cadillac-ku kurang lebih selama sepuluh menit sebelum aku kembali memarkirkannya dengan buru-buru di sisi jalan tepat di samping Al’s. Tapi, melihat teman-temanku Jack, Robby, dan yang lain sudah lebih dulu masuk membuatku kembali ke dalam mobil saat Kei juga akan turun.

“Ada apa?”, tanya dia saat aku kembali ke belakang setir.

“Kita cari tempat lain saja”, kataku, menyalakan mesin lagi dan Kei kembali menutup pintu.

“Kau tidak suka terlihat bersamaku di depan mereka?”, tanya dia dan sial, Kei juga melihat mereka masuk ke Al’s.

“Tidak. Bukan begitu”, ujarku dan mulai sibuk memikirkan ke mana kami akan pergi. Aku tidak menjelaskan bahwa sebenarnya aku tidak ingin bertemu mereka karena mereka akan membuatku sibuk. Aku tidak ingin membuat kencan ini menjadi semakin tragis setelah aku terlambat hampir tiga jam dan Kei menungguku selama itu –ia bahkan juga tidak bisa makan Chicken Burrito. Belum lagi tiba-tiba teleponku berbunyi. Aku benar-benar dilanda bencana ‘sial’ yang membuatku tidak bisa fokus ke jalanan.

Paige. Sepertinya dia masih tidak terima dengan berakhirnya hubungan kami begitu aku jatuh cinta pada Kei. Salahku meninggalkannya begitu saja.

Sebuah pesan singkat yang membuatku agak khawatir. ‘KAU MAU KE MANA?’, dan aku segera menoleh ke belakang. Sedan sport pink cerah milik Paige berada tepat di belakang. Ini bukan pertama kalinya dia menguntit dan sengaja menggangguku. Ini benar-benar membuatku kesal, sehingga aku harus menghentikan mobil di pinggir jalan.

“Tunggu sebentar”, kataku sambil turun dengan cepat dan Kei mengangguk setelah ia ikut menoleh ke belakang. Tampaknya mengerti bahwa aku harus menyelesaikan ini.

Paige turun dari mobilnya dan ia tersenyum saat aku menghampiri, “Hai, apa kabar? Kau tidak senang melihatku lagi?”

“Berhentilah menguntitku seperti perempuan jalang”, kataku.

“Aku tidak menguntitmu”, katanya, lemah lembut dan santai. Mata cantik percaya dirinya yang garang tiba-tiba melunak menatap ke satu arah –di mana Kei ikut turun untuk melihatnya langsung, “Lihat, siapa yang ingin tahu ini…”

“Masuk ke mobil, Kei!”, kataku memerintah dan mulai kesal.

“Kenapa?”, tantang Paige yang tengah memelintir rambut pirang panjangnya dengan manja, “Kau takut mengatakan padanya bahwa kita belum selesai?”

“Apa yang kau katakan?”, tandasku, tertawa sinis, “Semua itu jelas berakhir bagi siapapun terkecuali dirimu. Berhentilah mengejarku seperti pelacur yang butuh tanggungjawab”

Aku segera pergi, kembali ke mobilku dan Kei juga langsung naik tanpa mengatakan apa-apa padaku. Begitu duduk di belakang setir lagi, aku melihatnya menarik nafas panjang dan lelah. Kurasa  ia mencoba menenangkan dirinya dari apa yang ia lihat untuk bisa tersenyum padaku. “Jadi…ke mana kita akan pergi?”, tanya dia.

Aku mengangkat bahuku dan balas tersenyum, “Entahlah”, jawabku, “Sepertinya hari ini tidak berpihak pada kita…”

Aku mendengarnya tertawa pelan. Tampak menganggap bahwa teman-temanku dan Paige bukan gangguan. Lalu kembali mengendarai mobil tanpa tujuan tapi rasanya itu lebih menyenangkan walaupun teleponku berbunyi lagi. Tampaknya teman-temanku tengah menungguku di Al’s dan aku hanya mengatakan sedang sibuk lalu melempar ponselku ke jok belakang karena aku sedang berciuman dengan kekasihku.

Kami melupakan semua kejadian tidak menyenangkan hari ini karena salahku dengan bermesraan seperti biasa yang kulakukan dengannya saat kata-kata maafku sudah terlalu banyak dan itu menjadi sudah tidak berarti lagi. Pastinya Kei juga sudah bosan dengan itu. Walaupun aku terkenal di kalangan gadis-gadis, tapi aku bukan seorang perayu ulung yang pandai bermain kata-kata. Aku hanya menerima apa yang diberikan padaku. Tapi, dengan Kei, aku berusaha untuk tidak mengecewakan walaupun aku selalu gagal .

Tiba-tiba aku mendengar suara seperti jeritan yang membuatku terhenyak seketika. Aku tertawa karena itu suara perutnya yang kelaparan. Kei terlihat sangat malu ketika aku harus melepaskannya.

“Kita akan pergi ke tempat di mana kau bisa makan sepuasnya”, kataku, memutar kunci dan deruman mesin mobil terdengar sebelum aku menginjak gas. Kami menuju rumahku dengan tidak sabar karena di sana kami punya seorang chef yang bisa memasak makanan yang lezat.

Saat itu, kami bahagia. Tertawa sepanjang jalan hingga tiba di dapur rumah saat Mario –chef di rumahku, memasakan Chicken Burrito kesukaannya.

Entah bagaimana, sekarang Kei melupakan semua itu dan menganggap bahwa dia…tidak pernah bahagia saat bersamaku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments