[Hal.6] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Aku pikir kau akan mengambil libur tahun baru yang sangat lama”, Ingrid berkomentar sembari menaruh laporan di atas mejaku.

Aku menggeleng. Aku sudah pergi ke tanah impian di mana pun di penjuru dunia tapi liburan bukan sesuatu yang bisa membuatku senang –paling tidak begitu aku berhadapan dengan pekerjaan lagi, liburan dan bersenang-senang itu hanyalah mimpi semalam yang tidak nyata. Ya Tuhan, semembosankan itulah hidupku sekarang.

Ingrid duduk di kursi menungguku menyentuh laporannya dan segera sadar bahwa aku belum akan membolak balik halamannya. Dia kembali menatapiku dengan tatapan itu –tatapan skeptis dan dengusan yang membuatku membalas tatapan itu dengan gusar.

“Kenapa kau tidak bunuh diri saja?’, sindirnya. Kalau dia bukan tangan kanan yang handal dan pandai menjaga rahasia, aku sudah pasti memecatnya.

Aku diam. Kembali ke layar komputerku karena ada yang harus kuselesaikan di sana.

Ingrid ikut diam. Harusnya dia sudah pergi dari ruanganku karena aku jelas-jelas tampak tidak ingin bicara. Tapi, sebagai seorang laki-laki tidak pantas mengusir seorang wanita walaupun tatapannya itu tampak ingin mencabikku. Aku ingat bahwa berulang kali Ingrid meyakinkanku agar mencari wanita lain daripada terus terperangkap rasa bersalah. Harusnya pesta itu menutup jalanku untuk mendapatkannya kembali.

Kei sudah menikah dan aku harus menerima kenyataan itu. Tapi, sampai detik ini, aku masih berharap keajaiban akan terjadi. Sekali saja.

“Kapan kau akan mengerti?”, Ingrid tampak ingin mendebatku lagi, “Dia sudah membuangmu sama seperti kau membuangnya dulu”

“Aku tidak membuangnya!”, teriakku seketika terpancing dengan kata ‘membuang’ yang Ingrid tahu betul pasti akan membuatku marah.

“Lalu apa?!”, dia membalasku lebih keras lagi, “Kalau dia masih mencintaimu dia tidak akan menikah dengan orang lain. Dia sudah menolakmu dengan tegas! Kenapa itu juga tidak jelas bagimu?”

“Kau tidak mengerti!”, teriakku lagi, berdiri dari kursiku. Mungkin aku tampak seperti perempuan terluka yang memekik dan itu agak menggelikan sehingga aku kembali duduk dan mencoba tenang.

“Baik”, Ingrid berdiri dari kursinya dan tampak akan meninggalkanku. Itulah yang kubutuhkan sekarang. “Kenapa kau tidak menyuruh orang untuk menghabisi suaminya lalu menjebak wanita itu agar kembali padamu? Itu lebih masuk akal daripada kau terus menyesalinya dan berharap dia akan memungutmu lagi?”

“Keluar, Ingrid!”, bentakku, kali ini benar-benar marah dan kesal.

“Kau tidak perlu mengusirku”, katanya ketus, lalu melangkah dengan cepat menuju pintu yang tertutup. Aku masih tidak sabar menunggunya enyah. Tapi, dia membuat itu seakan lebih lama lagi dengan berdiri di depan pintu tanpa membukanya lebih dulu. “Kau tahu, aku tidak bermaksud untuk membuatmu terganggu…”

Aku hanya memalingkan wajahku darinya dan emosi belum hilang dari wajahku yang terbakar oleh rasa marah yang sangat.

Ingrid terdengar menghela nafas, “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa… Shane Grayson meninggal dunia dalam operasi terakhirnya…”, kata dia sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandanganku.

***

Tak ada yang berubah dari saat aku melihat Kei lagi beberapa bulan setelah kematian yang kembali menjadikannya sendirian. Dia tetap ke klub untuk menyanyi, memakai pakaian ketat dan merokok –dan membuatku merindukan dirinya yang dulu. Keseluruhan, ia terlihat baik-baik saja saat aku sengaja datang ke klub tempat dia biasa melewatkan malam. Sedangkan aku belum melakukan sesuatu jika memang ini adalah kesempatan untuk mendapatkannya lagi. Setiap aku mendekat, aku merasa takut, anehnya penolakan malam itu kembali menghantuiku. Yang aku tahu… dia mencintai seseorang yang sudah bukan diriku. Meskipun orang itu sudah tidak ada, tidak terlihat tanda Kei akan membuka pintu hatinya untuk seseorang yang baru –apalagi aku.

Dia begitu menikmati menari dengan pria asing yang menyentuh tubuhnya dan itu membuatku terbakar. Begitu melihatku, ia tersenyum bodoh seolah menganggap aku tidak terganggu –ya, tentu saja, dia tidak menganggapku ada.

“Hai, aku pikir kau sibuk”, dia menyapaku sambil duduk di kursi kosong di sampingku dan menyampingkan semua rambut coklatnya yang panjang karena ia terlihat sangat berkeringat dan…panas. Ia tidak menatapku beberapa saat ketika memesan  minuman sementara tenggorokanku naik turun dan terpaksa aku menelan ludah untuk menyembunyikan bahwa wajahku juga terasa sangat panas.

Aku mengusir beberapa hal yang mungkin kulakukan jika aku merasa benar-benar perlu untuk… menariknya ke sampingku dan membawanya pergi dari sini. Tapi... aku tidak menyukai dia yang seperti ini. Sehingga aku pun benar-benar memalingkan wajahku darinya.

“Kau sendirian?”, dia bertanya dan aku mengangguk dengan serius, menyimak katanya seolah menunggu sebuah jawaban ‘ya’ atas pernyataan cinta. Tapi, sepertinya dia tidak ingat bahwa aku pernah mengatakan ingin kembali. “Seperti bukan kau saja…”

“Aku sudah tidak pernah mengadakan pesta beberapa tahun belakangan kecuali pesta yang terakhir”, jelasku, “Kau pernah bilang sangat menyukai kembang api, bukan?”

Kei terdengar terkekeh, “Kau mengingat hal-hal seperti itu?”, tanya dia, meremehkanku sekaligus menyindirku.

“Kenapa tidak?”

Dia menatapku sarkastis, “Kau hanya berusaha mengingat-ngingat padahal sebenarnya kau sudah melupakannya”, kata dia, “Jangan membodohiku, Errence Lee”

Aku diam. Rasanya apapun yang akan kukatakan padanya dia akan membalasnya dengan sindiran seolah aku ini benar-benar tidak punya perasaan –dulunya. Dan ia seolah melampiaskan sakit hatinya. Tapi, jika seperti itu…apa aku harus memperbaikinya untuk membuatnya sadar bahwa banyak hal yang tidak bisa aku lupakan tentangnya?

“Kembang apimu tidak bisa membuatku jatuh cinta lagi padamu, Errence”, dia mengatakannya juga. Kali ini sambil tertawa tapi terdengar nada tegas pada kata-kata ‘tidak’-nya. Sehingga aku pun terdiam lagi untuk beberapa saat.

 “Kei…”, tegurku.

“Faia”, tandasnya, “Namaku Faia Grayson”

Aku tercekat, tentu aku tidak akan memanggilnya dengan nama yang asing di telingaku. Tapi, nama Grayson itu terdengar seperti pisau tajam yang menembus jantungku dan ajaibnya tidak membunuhku. Itu adalah namanya yang sekarang.

Dia mulai tidak mempedulikanku. Sesekali aku menoleh, Kei menikmati minumannya dan tampak tidak ada yang lebih baik dari mabuk dan tertawa sendiri. Kami duduk berdekatan tapi perasaanku dan perasaannya seolah puluhan mil jauhnya tanpa bisa bertemu lagi. Ya, begitulah sekarang sehingga aku pun diam hingga malam semakin larut.

“Aku akan mengantarmu pulang”, kataku.

Kei masih duduk dengan kepalanya di atas meja. “Tidak terima kasih”, dia tersenyum tapi tampak merana. Entah karena mabuk atau itu memang ungkapan perasaannya yang kacau.

Aku menarik tangannya tapi ia menepiskannya. Lalu aku meraih tubuh langsingnya yang pemalas agar menjauh dari meja bartender karena ia ingin pesan satu minuman lagi. Aku tidak bisa membiarkannya. Dengan sedikit memaksa, aku menarik pinggangnya lebih kuat sampai tubuh lunglainya menghempas dadaku. “Kau harus pulang. Sekarang”, tegasku, menyeretnya pergi dan dia tidak lagi melawanku.

“Tidak…”, katanya menolakku, dengan mendorongku tiba-tiba, “Aku tidak akan pergi denganmu…”

Butuh usaha yang sedikit keras untuk memasukannya ke mobil. Aku menariknya ke sisiku setiap ia hampir jatuh karena tidak bisa menahan badannya sendiri untuk berjalan. Dan ia terlalu keras kepala karena terus mendorongku darinya. Benar-benar sangat keras kepala sampai aku harus bersikap kasar dengan menyeretnya sampai ke mobil dan Kei masih saja meronta sambil memukul-mukul punggungku.

“Sekarang katakan, di mana rumahmu”, kataku begitu duduk di belakang setir tapi Kei sudah tersandar lemas ke jendela.

***

“Anda butuh bantuan, Tuan?”, tanya Simon saat aku membuka pintu dengan kewalahan dan membopong seorang perempuan mabuk yang tidak sadarkan diri.

“Tidak”, jawabku, melangkah melewatinya, “Biar aku saja”

“Apa anda perlu sesuatu yang lain?”, tanya dia lagi.

“Tidak, Simon”, aku menegaskan dan segera menuju ke kamarku.

Aku tidak percaya aku membawanya kembali ke sini lengkap dengan menenteng sepatu hak tinggi yang harus kulepaskan dari kakinya. Aku menjatuhkaannya di dekat pintu sebelum mendaratkan Kei di atas ranjang pelan-pelan. Aku tidak ingin dia terbangun dan menampar sambil memaki karena tidak memulangkannya. Tapi, untunglah aku tidak mabuk sama seperti dirinya atau seperti saat pertama kali aku membawanya ke sini dan…

“Lepaskan…”, Kei mengigau di atas tempat tidur lalu tiba-tiba bangkit dengan rambut yang sudah berantakan sekali. Dia melihatku, “Kau…”

“Tidurlah…”, kataku sambil melepas jas yang kukenakan dan menaruhnya di sandaran kursi.

“Kenapa membawaku ke sini…”, dia tahu, bahwa ini bukan tempat tinggalnya.

“Aku tidak tahu kau tinggal di mana”, jelasku sambil duduk di dekatnya dan memandangi wajahnya dengan seksama sambil merapikan helaian rambutnya yang acak-acakan, “Tidurlah. Aku akan mengantarmu pulang begitu kau bangun besok pagi…”

Tiba-tiba Kei tertawa cekikikan, “Aku ingat…”, katanya, “Ini malam yang sama saat kau pertama kali menyentuhku bukan? ...hanya saja, kau…jauh lebih kekanakan dari yang sekarang…”

“Apa maksudmu dengan kekanakan?”, aku mengernyit.

“Kau…balas dendam dengan meniduriku sebagai lelucon dengan teman-temanmu…”, dia mulai lagi.

“Tidak seperti itu, oke?”, aku menegaskan –meluruskan semuanya lagi. Aku tidak pernah berniat membalas dendam! “Aku benar-benar jatuh cinta padamu saat itu, saat…pertama kali aku menciummu dan kau harus tahu itu, Nona…”

“Kau pembohong”, cetusnya, “Kau selalu berbohong dan kau… tidak pernah menunjukan bahwa kau benar-benar mencintaiku”

Aku menghela nafas, “Aku mencintaimu, Kei”, kataku setengah berteriak, “Kalau aku tidak mencintaimu, aku tidak akan melakukan semua ini untukmu… kau tidak bisa mengingatnya lagi?”

“Aku sudah lupa…”, katanya, tanpa ekspresi, “Aku sudah menghapus semua tentangmu, juga wajahmu dari ingatanku…”

Kata-katanya menyakitkan hingga membuatku sedih dan…marah. Dia mengatakan itu dengan sangat jelas. “Aku akan membuatmu mengingatnya sekali lagi”, kataku dengan cepat sebelum menciumnya dengan paksa dan ia jatuh di atas ranjangku. Dia meronta menolakku, dengan mendorong dan memukul-mukul punggungku.

“Lepaskan…”, dia meringis dalam dekapanku tapi mulai tidak berdaya karena alcohol membuatnya lemas dan tak bisa bergerak.

“Aku mencintaimu dan berapa kali harus kukatakan… aku menyesal karena mengabaikanmu, dan aku tidak pernah bermaksud mengkianatimu…”, kataku di telinganya, “Aku ingin kau kembali padaku dan aku akan mencintaimu seperti yang kau inginkan. Kumohon beri aku kesempatan sekali saja untuk membuktikan kata-kataku…”

Kei berhenti mendorongku dan akupun memberanikan diri untuk menatap wajahnya. “Benarkah?”, dia bertanya dengan suara pelan dan aku mengangguk pelan sebelum mencium bibirnya dengan cara yang lebih baik.

Kedua tangannya yang tadi berusaha mendorongku sekuat tenaga sekarang merangkul punggungku. Dia memelukku dan aku merasa begitu lega dia tidak menolakku.

“Aku mencintaimu”, aku mengatakan itu di telinganya setiap aku mencium setiap bagian dari dirinya. Hingga saat aku merasa harus menyatukan diriku dengan dirinya. Desahan nafasnya di telingaku, terasa berat dan membutuhkan. Sudah lama aku tidak merasakan percintaan yang seperti ini dan aku terbuai dalam kesenangan yang hampir menuju puncaknya karena suara-suara yang membangkitkan geloraku padanya.

“Shane…”, gemeretak bibir Kei membunyikan nama itu di telingaku. Sontak aku menarik diri dan menjauh dengan kecewa. Dia membayangkan bercinta dengan orang lain saat aku menyentuhnya –itu lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.

Aku jadi tidak bisa meneruskan semua itu. Aku turun dari ranjang setelah memakaikan kemejaku ditubuhnya agar ia bisa tidur lebih nyaman. Kei bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang bercinta dengannya.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments