๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rasa Bersalah
Gigi terlihat di teras depan. Entah apa yang dia pikirkan, namun matanya memandang jauh ke ujung gang di mana sesekali tetangga atau gerobak pedagang makanan melintas. Malam cukup sunyi ketika aku memberanikan diri untuk menghampiri, setidaknya menyampaikan apa yang sudah aku rencanakan untuk kami selanjutnya. Yang pasti kami akan menetap di Jakarta dan aku akan mencari pekerjaan yang cocok; ya, pekerjaan yang sesuai dengan hasratku.
“Ini sudah jam sebelas, kamu nggak dingin?” tegurku.
Gigi menoleh. Namun tatapannya hampa, demikian pula bibirnya yang tertutup rapat.
“Aku menjadi nggak berguna kalau kamu stress hanya gara-gara pekerjaan,” ujarku. “Maksudku ..., kamu ingin bekerja karena aku terlalu sibuk dan sering nggak pulang. Tapi, sekarang, aku sudah nggak sesibuk dulu lagi. Artinya, kita akan punya lebih banyak waktu bersama. Jadi kamu nggak perlu harus bekerja.”
“Kamu? Kamu nggak kerja?”
Aku menggeleng, sambil merangkul pundaknya. Lalu tersenyum padanya.
“Kamu nggak kerja terus mau ngapain? Jangan bilang kamu mau guru SD ...,” kata Gigi, terdengar ketus. Tapi, setidaknya dia sudah mulai ingin bicara denganku.
“Ada yang salah dengan guru SD?”
“Kamu putra pengusaha kaya di Australia, Sid ...,” dia mengingatkan, “dengan banyak anak perusahaan dan karyawan yang jumlahnya ribuan.”
“Apa salahnya?” sambungku.
Gigi tertawa, meski itu sarkastis. Tapi, cukup menggembirakanku setelah biasanya dia hanya berwajah dingin. “Aku akan mencari pekerjaan yang cocok di Jakarta,” kataku berujar, di saat Gigi sudah lebih tenang. Dan dia tampak tidak percaya.
“Pekerjaan apa?”
“Ya, pekerjaan yang bisa aku lakukan. Reggina dan Beatriz udah melepaskan aku dari perusahaan, dan kamu tahu selama ini itulah yang ingin aku lakukan…” aku menjelaskan, dan Gigi mulai tersenyum.
“Jadi sekarang giliran kamu lagi yang kerja dan aku tinggal di rumah?” tanya dia.
“Jangan cemberut. Kerjaan yang kali ini mungkin nggak sampai larut malam. Pokoknya sore aku pasti di rumah…” ujarku lagi.
Ya, semua akan kembali seperti semula. Aku harap Saira saat ini Saira juga berbahagia di mana pun dia berada….
***
“Kebiasaan, Sidney. Setiap kamu sudah pergi ke sana, kamu selalu lupa untuk menelepon,” kata Reggina di seberang sana.
Aku baru ingat kalau sejak kembali ke Indonesia aku lupa menelpon ibuku sampai-sampai Reggina yang melakukannya. Ya, selalu dia yang berusaha menenangkan keadaan rumah saat aku pergi.
“Sorry, kamu tahu aku sedikit sibuk belakangan ini,...” kataku.
“Well yea, itu juga sudah tugasku karena sekarang hanya aku satu-satunya di sini yang merngerti kalau kamu sudah menikah,...” katanya. “Ditambah dengan keadaan Magisa akhir-akhir ini dan itulah yang sangat aku khawatirkan lebih dari saat kamu nggak bisa dihubungi.”
Aku diam sejenak. Tidak tahu apa yang bisa kukatakan saat ini. Kepalaku kosong. Sejak kami kembali ke apartemen di Jakarta yang mana kukira semua akan baik-baik saja nyatanya tidak demikian. Gigi tak kunjung membaik.
“Tapi, Sid, apa kamu baik-baik saja?” tanya Reggina kemudian.
“Tentu,” jawabku cepat. Aku tidak ingin keluargaku mencemaskanku karena itu akan sangat berlebihan. Aku anak sulung. Sudah banyak masalah yang aku ciptakan sejak muda dan aku tidak mau bahkan di saat aku telah menikah, aku masih membuat keluargaku khawatir. Meski ‘Reggina’ terkadang tidak termasuk dalam kapasitas ‘keluarga’ yang over-protektif terhadapku, namun menceritakan padanya bahwa keadaan malah semakin memburuk tetap saja membuatku merasa lemah -sebagai seorang lelaki.
“Kedengarannya nggak seperti itu,” kata Reggina. “Come on, Sid, aku bukan lagi adik perempuan yang selalu minta digendong sambil menangis. Kamu terlalu meremehkan aku!”
Aku tertawa. Ya, aku tahu. Reggina telah mengambil semua kontrol sejak Daddy meninggal. Tak heran dia tegas dan bisa diandalkan, meski pengetahuannya tentang ‘mengatur’ kelewat batas. Dia menyuruh orang membuntutiku dan Saira. Dia tahu terlalu banyak. Di sini aku menyadari bahwa Reggina bisa menjaga rahasiaku dengan baik tapi aku tidak siap mengungkap lebih banyak rahasia kepadanya.
“Don’t get me started...,” kata dia memperingatkan dan bagiku itu pemaksaan yang serius.
“Kamu nggak tahu segalanya, Reg...,” balasku.



Komentar
0 comments