๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Menghilang
Seluruh tubuhku mengeluh. Mulai dari kepala, tangan dan kaki; sekujur tubuh ini rasanya benar-benar lelah seperti habis berjalan kaki puluhan mil. Sepanjang jalan mengendarai mobilku menuju rumah, aku sudah membayangkan tempat tidur dan tidak sabar ingin melompat ke atasnya. Aku tidak tahu persis penyebab yang membuatku begitu lelah seperti ini; mungkin karena Saira telah pergi dan kupastikan kali ini kami tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya….
Karena tidak ingin mendengar hujan pertanyaan dari Mum karena tidak kembali dalam waktu yang lama, aku kembali ke rumah itu; rumah yang aku dan Gigi tinggalkan karena membuat dia kesepian. Sebuah rumah di Double Bay yang kupikir akan melengkapi kebahagiaan kami bersama anak-anak, tapi kenyataan berbanding terbalik dengan impian. Tahun-tahun yang kami habiskan di rumah ini malah menjadi pesakitan bagi kami.
Aku menendang keluar semua kenangan dari benakku saat menarik gagang pintu. Begitu kulangkahkan kakiku masuk, rasa lelah itu semakin menuntutku untuk berjalan lebih cepat menuju kamar. Tapi, rasa lelah itu jugalah yang membuatku harus tertatih, menaiki lima belas anak tangga, menelusuri koridor sepuluh meter sebelum aku tiba di kamarku. Aku membuka pintu dengan sisa tenagaku. Ya, aku menjatuhkan diriku begitu saja, disambut oleh empuknya ranjang yang sudah lama tidak ditiduri. Aku menarik nafas panjang setelah memejamkan mataku di atas bantal.
Sosok Saira yang melambaikan tangan di bandara terlintas begitu saja sehingga aku membuka mataku. Ya, hal petama yang kulihat adalah foto pernikahanku yang terpajang di meja sisi tempat tidur. Rasa bersalah itu kembali menggerogoti diriku bersamaan dengan ciuman terakhir Saira di bibirku; hatiku terasa ditusuk-tusuk karena aku tak mampu menyingkirkan semua bayang-bayang Saira. Tak tahan, kuraih foto pernikahan itu tanpa berani menatapnya lagi, lalu menaruhnya dengan posisi terbalik.
Kubalikan badan, menghadap langit-langit sambil menarik nafas lagi. Kupejamkan mata, bayangan Saira kembali hadir dalam gelap ruang mataku. Aku tidak bisa melupakan setiap kata yang dia ucapkan padaku dalam tangis, karena saat dia mengatakannya otakku membuat gambaran semua kejadian buruk yang telah dia lalui tanpaku. Aku kesal, marah, dan sedih sekaligus merasa tidak berdaya. Tidak tahu harus melampiaskannya pada siapa, karena semua sudah terjadi.
Lalu aku membuka mata lagi, karena gambaran cerita Saira dalam benakku begitu mengerikan. Ya, aku masih menemukan foto pernikahanku di dinding; dengan ukuran yang lebih besar. Tampak lebarnya senyum kami setelah pemberkatan dengan busana nuansa putih; di saat yang sama Saira harus menderita; karena kesalahanku; karena kesalahan Gigi. Foto itu membuatku semakin tak berdaya, namun aku tak berani menyingkirkannya apalagi menghancurkannya; hidupku telah terikat dengan seseorang dan aku telah berjanji akan selalu menjaga dan bersamanya seumur hidupku. Pada akhirnya aku hanya memalingkan wajahku; memutar badaku agar tak melihatnya lagi.
Magisa, maafkan aku….
***



Komentar
0 comments