๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rumah Keong
Baterai ponselku habis. Aku masih meninggalkan mobilku di parkiran Walmart. Seumur hidup, ini adalah malam yang terasa panjang bagiku; seolah larut malam bukan waktunya tidur; seakan matahari tidak akan datang esok hari karena aku harus melakukan banyak hal. Setelah makan di restoran di dekat Walmart, aku mengikuti Saira berjalan kaki tanpa tujuan. Ini bukan pertama kalinya kami berjalan seperti ini dan seolah tanpa tujuan.
Aku sudah melewatkan makan malam bersama keluargaku dan pastinya Mummy tidak jadi membuat Pavlova. Aku bahkan membuang whipped cream itu karena merepotkan membawa keranjang itu saat mengikuti Saira. Aku tidak mau di saat aku menaruhnya di mobil, Saira sudah menghilang lagi. Sekarang kami duduk di taman kecil yang selalu ia perhatikan dari seberang jalan karena sepertinya dia butuh sedikit beristrihat setelah pengakuanku yang membuatnya syok.
Jalanan tak pernah sunyi. Banyak sekali pejalan kaki yang bersliweran di sepanjang pedestrian. Kami sudah tidak saling berbicara selama beberapa menit. Syukurlah ini Sydney, karena kalau di Jakarta, sudah pasti dia kabur tanpa jejak; seperti saat aku kehilangannya dulu. Lagipula, dia membiarkanku di sekitarnya karena dia sendirian; tidak punya tempat kembali; dia juga tidak punya uang di kantongnya untuk membeli minuman kaleng. Aku akan membuatnya tinggal lebih lama, meski tidak tahu apa yang akan kulakukan padanya setelah ini.
Yang jelas besok, aku akan pergi membelikanya tiket pulang, jika dia menginginkannya. Atau kami bisa kembali bersama. Ya, bisa saja. Tapi, aku beristri. Walaupun aku sudah tidak punya perasaan apa-apa selain rasa penasaran, aku tetap tidak bisa memintanya untuk bersamaku sekali pun hanya untuk membantu. Aku pernah tergila-gila padanya; pernah seperti orang gila karena kehilangannya; dan… dia masih selalu hadir dalam mimpiku.
Saat dia terlihat depresi seperti sekarang, jujur; aku bahkan sangat ingin memeluknya. Tapi, aku harus selalu ingat, aku mencintai istriku dan aku tidak ingin menyakitinya, sekali pun Gigi tidak akan pernah tahu tentang pertemuan ini. Gigi sangat paranoid tentang kembalinya Saira yang ingin menghancurkan kami. Tapi, aku pastikan kami tidak akan hancur.
Setelah Saira pulang ke kampung ayahnya di Sumatera, kemungkinan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi, paling tidak, semua pertanyaan tentangnya selama bertahun-tahun sudah terjawab. Mungkin setelah ini dia tidak akan hadir lagi di dalam mimpiku. Aku harus berdamai dengan kenangan tentang Saira.
“Kabar terakhir yang aku dengar tentang kamu adalah kamu pergi ke luar negeri melihat ladang bunga matahari,” aku mulai meluruskan. “Kamu tahu aku sudah pergi ke Jepang, Thailand, Amerika, Italia… aku nggak ingat lagi negara mana yang punya ladang bunga matahari, karena aku pikir kamu melarikan diri ke salah satu tempat itu. Tapi aku nggak menemukan kamu….”
“Itu hanya rencana, tapi aku nggak pernah pergi ke sana….” Katanya
“Tapi, kamu ke Australia! Dan aku masih nggak ngerti dari tadi apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini!”
“Aku nggak bisa mengatakannya! Apa gunanya kamu tahu?!”
“Oh, masih main rahasia seperti anak kecil?” tuntutku, “Ayolah… apa gunanya kamu menyembunyikannya? Ini aneh, kamu masih aja menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya nggak harus kamu sembunyikan!”
Saira selalu diam di saat aku emosi. Bungkamnya seolah sedang membangun dinding pertahanan di sekelillingnya agar aku tidak memaksa. Dia selalu bisa menyusun polanya dengan baik; di saat satu pertanyaan besar terjawab, pertanyaan baru akan muncul dan dia segaja membiarkannya tetap menjadi tanda tanya. Apakah karena aku jujur padanya tentang pernikahanku dengan Gigi? Apakah itu membuatnya menarik diri untuk menceritakan yang sebenarnya?
“Kamu… ke Australia… untuk mencariku?”
Ya, hanya itu yang terpikirkan olehku saat ia tak kunjung memberiku jawaban. Dan dia menatapku, hanya itu. Aku sempat mengira dia akan membantahnya, tapi ini mengherankan. Dia masih diam.
“Saira, aku nggak sedang mengemis sama kamu untuk sebuah jawaban iya,” kataku lagi.
“Kenapa?” dia balas bertanya, kemudian. “Kenapa aku harus mencari kamu setelah semua yang kamu lakukan?”
Jawaban ‘ya’ yang kutunggu seakan tersapu oleh kata-kata itu. Ya, yang aku lakukan memang sangat menyakitkan; jangankan pada gadis berusia 17 tahun yang lugu dan kekanakan. Tapi, saat ini dia sudah dewasa. Saat remaja saja, Saira sudah termasuk gadis yang tidak mudah menangis, apalagi sekarang. Entah bagaimana caranya dia kemudian menunjukan bahwa dia bisa kembali tenang setelah tadi ia sangat terpukul.



Komentar
0 comments