๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Style
Perempuan itu sebenarnya sudah cukup tua.
Entah berapa lapis foundation yang dia tempel di wajahnya untuk mnyembunyikan
bekas jerawat dan kerutan itu. Dia selalu memasang bulu mata palsu sekali pakai
di kelopak matanya. Riasan matanya mungkin menggunakan eye shadow ratusan ribu, begitu juga lipstick dan blush on-nya.
Talisa berpikir untuk membeli semua itu dan menghabiskan semua gajinya bulan
ini. Pokoknya semua orang harus tercengang dengan penampilan barunya.
Hari libur, Talisa myempatkan diri singgah
di salon yang pernah ia datangi saat pesta ulang tahun perusahaan. Ia meminta
seorang pegawai salon banci untuk melakukan sesuatu pada rambut panjang
lurusnya itu agar terlihat berbeda.
Si banci itu bernama Brenda; Talisa
mendengar beberapa orang memanggilnya demikian. Walaupun banci-banci begini,
sebenarnya Brenda yang bernama asli Anton ini, mempunyai banyak ketrampilan.
Mulai dari meluruskan dan mengeriting, memotong dan memangkas rambut, ia juga
menguasai seni facial dan totok wajah; bahkan kalau mau Brenda juga bisa
mem-bleaching kulit tubuh.
“Sekali-sekali Non Talisa coba bleaching
deh, biar putihan ...” kata dia menyarankan.
Talisa langsung menggeleng. “Ah, nggak
apa-apa sawo matang ...,” balasnya. “Namanya juga orang Padang, tinggalnya di
pinggir pantai.”
“Iya sih, Non ... tapi anak-anak jaman
sekarang pada mau punya kulit putih,” celoteh Brenda lagi. “Soalnya cowok
katanya lebih suka yang kulitnya terang.”
“Oh ya?” Talisa mulai berpikir. Memang dia
tidak bisa mengingkari kalau Dara adalah seorang wanita berkulit putih; dan
mulus pula. Dia juga seorang janda yang sudah berpengalaman dalam urusan
ranjang; tentu Chakka tergila-gila padanya karena sebelum Chakka mengenal
Talisa, hubungan mereka memang sudah jauh. Membayangkan betapa hangatnya
hubungan mereka saat ini benar-benar membuat iri. Talisa menghela nafas. “Apa
nggak ada efek sampingnya, Kak Brenda?”
“Uji ke kulit aja dulu. Kalau misalnya
alergi, mending nggak usah aja, gitu,” ujar Brenda.
“Ya udah deh. Tapi, bener ya, kulitnya
lebih cerah?”
“Iya, Non, percaya deh sama Brenda!”
Talisa tidak keberatan melakukan apa pun
pada tubuhnya asal itu membuatnya merasa jadi lebih baik baik; lebih baik dari
Dara yang mulai menua. Orang-orang tetap akan berkomentar apapun yang ingin dia
lakukan; tapi berkat mereka Talisa menjadi orang yang kuat sekarang. Ia juga
telah merubah dirinya; tidak hanya model rambut tapi juga warnanya. Ia mulai
belajar memulas make up di wajahnya sesempurna Dara yang selalu menjadi
primadona.
***
“Talisa!” panggil Nelly saat Talisa hendak
naik ke lantai tiga, kembali ke kantornya.
“Ya?” sahut Talisa seraya menoleh dan
melihat Nelly mempunyai sebuah map di tangannya.
“Nanti ada rapat, ini bahannya. Kamu bisa
perbanyak untuk rapat nanti?” tanya Nelly yang kelihatan repot.
Talisa berbalik; menghampiri Nelly untuk
mengambil map itu. tapi, semua orang kaget saat tiba-tiba Talisa membanting map
itu ke mejanya Nelly dengan angkuh. “Kenapa Kak Nelly nggak melakukannya
sendiri?” tanya dia. “Aku bukan tukang foto copy!”
“Hei, kamu ....” Nelly tampak protes,
sebelum bibirnya tiba-tiba terkatup karena mendengar sesuatu.
“Ada apa ini?!” rupanya Dara yang sudah
kembali bekerja seperti biasa setelah berbela sungkawa terlalu lama akan
kematian ayah tercintanya. Mata cantik denga bulu mata palsu itu seakan
otomatis menyorot Talisa dengan penampilan dan rambut barunya. “Kenapa kamu
membanting map itu, Talisa?”
Talisa menatap Dara dengan berani, “Aku
cuma nggak mau ke ruang foto copy, karena itu bukan tugasku,” jawabnya, santai.
“Itu saja. Dan harusnya orang-orang di sini semuanya ngerti dengan tanggung
jawab dan tugas masing-masing. Aku asistennya Chakka, jadi selain Chakka nggak
ada yang bisa menyuruh aku seenaknya!”
“Tapi, kamu tahu siapa pemilik perusahaan?”
tantang Dara.
“Apa tadi aku bilang perusahaan ini bukan
punya Bu Dara?” balas Talisa, lalu tertawa kecil. “Aku nggak mau debat kusir
sama Bu Dara soal siapa yang atasan dan bawahan. Aku sudah melakukan
pekerjaanku, kok. Nggak sama kayak mereka yang suka sekali menggosip saban hari.”
“Talisa!” Dara mulai geram.
“Ya?” sahut Talisa, yang kelihatannya
tenang-tenang saja.
Dara hanya menatapnya dengan gigi gemeretak
menahan kesal. Tapi, ia berusaha mengndalikan itu, karena ia akan kehilangan
wibawanya. Ia tidak ingin gadis tidak tahu diri ini merusak citranya. Satu hal
yang kemudian ingin dia lakukan, adalah meminta Chakka memberhentikan gadis
ini.
***
“Kenapa? Talisa kerjaannya beres kok,”
jawab Chakka tenang, sambil menatap ke layar ke komputer. “Kamu berdebat lagi
dengan Talisa hari ini?”
Dara menggeleng. Tapi, tetap merasa
gelisah. Pokoknya setiap ia melihat Talisa berkeliaran di kantor ini, ia selalu
risau. Rasa cemburu melandanya karena sepanjang hari gadis itu berada di ruang
yang sama dengan Chakka. Ia harus menyingkirkan Talisa secepatnya.
“Nggak, dia selalu dengan gaya tidak tahu
diri menantangku,” kata Dara mengeluh sambil mondar-mandir lagi. Sebelum ia
menghampiri Chakka di mejanya, “Chakka, kamu harus melakukan sesuatu. Aku nggak
betah kalau dia masih di sini.”
Chakka mengalihkan perhatiannya ke Dara,
sambil tersenyum. “Aku sudah pernah bilang, jangan sekali-kali menunjukan
masalah pribadi kamu dengan Talisa di depan orang-orang. Itu nggak bagus buat
kamu. Kalau kita pecat Talisa, itu akan semakin membuktikan kalau kita nggak professional.”
Ujarnya.
“Iya, tapi aku nggak nyaman ...”
“Sayang, aku nggak mau kamu mengkhawatirkan
itu terus ...” Chakka berdiri dari tempat duduknya menghampiri Dara yang duduk
di sisi mejanya. “Kalau kamu terus khawatir seperti itu, artinya kamu nggak percaya.”
Dara mencoba tersenyum. Ia berusaha
menenangkan dirinya. Menurutnya, perkataan Chakka memang tidak bisa diragukan.
Ia tahu bahwa Chakka hanya mencintainya seorang; gadis itu hanya bayang-bayang
kesepian yang mencari tempat berteduh. Chakka hanya mengasihaninya saja, karena
ia membutuhkan pekerjaan untuk membiayai kuliahnya.
Tapi, yang membuat Dara tidak tahan adalah
kehadirannya yang tiba-tiba mengganggu suasana hatinya.
“Aku pikir setelah kalian tinggal serumah,
kalian nggak akan melakukannya lagi di kantor,” Talisa sudah berdiri di depan
pintu saat Chakka mendekapnya, dan itu menimbulkan kekesalan yang luar biasa;
namun tertahan di dalam hati Dara yang ingin sekali menjambak gadis itu dan
menyeretnya keluar ruangan.
“Harusnya kamu ketuk pintu dulu, Talisa,”
suara Chakka terengar datar. Sepertinya ia tidak suka apa yang dikatakan Talisa
barusan; yang nyatanya benar. Mereka saja yang sering lupa menempatkan diri.
“Aku nggak harus mengetuk pintu ruanganku
sendiri dan sebelumnya aku nggak pernah melakukan itu,” jawabnya, santai sambil
melangkah tenang ke hadapan Chakka. Ia sepertinya tidak melirik sedikit pun kea
rah Dara yang mengatupkan bibirnya dengan keras. “Tadi di depan pintu aku nggak
dengar apa-apa, makanya langsung masuk. Lagian kalau aku dengar sesuatu dan
tetap di depan pintu, bukannya itu lebih melanggar privasi. Kamu ‘kan pernah
kesal karena aku menguping dan mengintip.”
Ocehan itu membuat Dara semakin kesal.
Tapi, ia hanya bisa bergerak pergi sebelum gadis itu benar-benar menghancurkan
kesabarannya.
“Kamu nggak keberatan ‘kalau aku
benar-benar melakukan pekerjaanku? Aku nggak mau makan gaji buta dan jadi
umpatan orang sekantor,” Talisa masih mengoceh.
“Talisa, jangan memperpanjang urusan,”
Tegur Chakka, yang menyadari bahwa Dara mulai tampak tidak mampu menguasai
emosinya.
Talisa menaruh sbuah map di atas meja. “Aku
membawakan laporan keuangan bulan lalu dan beberapa surat yang harus ditanda
tangani,” kata Talisa menjelaskan; sejenak mengabaikan ocehannya sendiri. “Oh
ya, di dalam lemari sudah ada Coca Cola. Tadi pagi kebetulan aku ke
supermarket, jadi aku beli sekalian. Kamu ‘kan sibuk dan nggak ada yang sempat belanja.”
“Hm ... terima kasih, Talisa ...” Chakka
mulai cemas karena Dara benar-benar sudah naik pitam. Ia langsung mengabaikan
Talisa dengan mengejar Dara yang berlalu di balik pintu.
Sepintas Talisa merasa puas. Ia membuat
Dara merasa ketakutan akan kehadiran dirinya; sama seperti pernah dilakukan
perempuan itu padanya dulu. Agaknya Dara benar-benar berhati-hati padanya.
Talisa tertawa begitu pintu menutup dan ia tengah membayangkan bagaimana Chakka
mengejar Dara yang tak bisa mengatasi perasaan cemburunya. Namun, Talisa tak
merasa telah menjadi pemenang dari permainan bawahan melawan atasan ini.
Talisa selalu tahu, Dara tetap selangkah di
depannya. Menyadari itu, derai air mata kembali jatuh di sela tawanya sendiri.
Betapa sulitnya bersikap seperti pemenang di saat ia tahu ia kalah telak.
Betapa sulitnya bagi seekor kupu-kupu untuk tetap terbang di saat sayapnya
terkoyak; meski tertatih ia tetap mencoba mencapai langit. Begitulah dirinya
saat ini.
Berubah menjadi cantik pun tidak pernah
mengalihkan perhatian Chakka kepadanya. Mereka ibarat bayangan bulan di atas
air, betapa pun dihancurkan akan tetap kembali bersatu. Tapi, Talisa tak bisa
menyerah. Cintanya terlalu besar untuk dikalahkan oleh semua yang ia lihat.
Hatinya telah jatuh terlalu dalam sampai ia lebih memilih berakhir di dalam bus
itu jika saja Chakka tidak menghentikannya; untuk mengakhiri cinta ini. Namun,
Chakka selalu memberi harapan kepada Talisa untuk menhancurkannya beberapa saat
kemudian.
***
Lagi2 aku kebaWa arus.. ๐
Next...
yah, hanyuut