[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 17 (1/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Style

Perempuan itu sebenarnya sudah cukup tua. Entah berapa lapis foundation yang dia tempel di wajahnya untuk mnyembunyikan bekas jerawat dan kerutan itu. Dia selalu memasang bulu mata palsu sekali pakai di kelopak matanya. Riasan matanya mungkin menggunakan eye shadow ratusan ribu, begitu juga lipstick dan blush on-nya. Talisa berpikir untuk membeli semua itu dan menghabiskan semua gajinya bulan ini. Pokoknya semua orang harus tercengang dengan penampilan barunya.
Hari libur, Talisa myempatkan diri singgah di salon yang pernah ia datangi saat pesta ulang tahun perusahaan. Ia meminta seorang pegawai salon banci untuk melakukan sesuatu pada rambut panjang lurusnya itu agar terlihat berbeda. 
Si banci itu bernama Brenda; Talisa mendengar beberapa orang memanggilnya demikian. Walaupun banci-banci begini, sebenarnya Brenda yang bernama asli Anton ini, mempunyai banyak ketrampilan. Mulai dari meluruskan dan mengeriting, memotong dan memangkas rambut, ia juga menguasai seni facial dan totok wajah; bahkan kalau mau Brenda juga bisa mem-bleaching kulit tubuh.
“Sekali-sekali Non Talisa coba bleaching deh, biar putihan ...” kata dia menyarankan.
Talisa langsung menggeleng. “Ah, nggak apa-apa sawo matang ...,” balasnya. “Namanya juga orang Padang, tinggalnya di pinggir pantai.”
“Iya sih, Non ... tapi anak-anak jaman sekarang pada mau punya kulit putih,” celoteh Brenda lagi. “Soalnya cowok katanya lebih suka yang kulitnya terang.”
“Oh ya?” Talisa mulai berpikir. Memang dia tidak bisa mengingkari kalau Dara adalah seorang wanita berkulit putih; dan mulus pula. Dia juga seorang janda yang sudah berpengalaman dalam urusan ranjang; tentu Chakka tergila-gila padanya karena sebelum Chakka mengenal Talisa, hubungan mereka memang sudah jauh. Membayangkan betapa hangatnya hubungan mereka saat ini benar-benar membuat iri. Talisa menghela nafas. “Apa nggak ada efek sampingnya, Kak Brenda?”
“Uji ke kulit aja dulu. Kalau misalnya alergi, mending nggak usah aja, gitu,” ujar Brenda.
“Ya udah deh. Tapi, bener ya, kulitnya lebih cerah?”
“Iya, Non, percaya deh sama Brenda!”
Talisa tidak keberatan melakukan apa pun pada tubuhnya asal itu membuatnya merasa jadi lebih baik baik; lebih baik dari Dara yang mulai menua. Orang-orang tetap akan berkomentar apapun yang ingin dia lakukan; tapi berkat mereka Talisa menjadi orang yang kuat sekarang. Ia juga telah merubah dirinya; tidak hanya model rambut tapi juga warnanya. Ia mulai belajar memulas make up di wajahnya sesempurna Dara yang selalu menjadi primadona.
***
“Talisa!” panggil Nelly saat Talisa hendak naik ke lantai tiga, kembali ke kantornya.
“Ya?” sahut Talisa seraya menoleh dan melihat Nelly mempunyai sebuah map di tangannya.
“Nanti ada rapat, ini bahannya. Kamu bisa perbanyak untuk rapat nanti?” tanya Nelly yang kelihatan repot.
Talisa berbalik; menghampiri Nelly untuk mengambil map itu. tapi, semua orang kaget saat tiba-tiba Talisa membanting map itu ke mejanya Nelly dengan angkuh. “Kenapa Kak Nelly nggak melakukannya sendiri?” tanya dia. “Aku bukan tukang foto copy!”
“Hei, kamu ....” Nelly tampak protes, sebelum bibirnya tiba-tiba terkatup karena mendengar sesuatu.
“Ada apa ini?!” rupanya Dara yang sudah kembali bekerja seperti biasa setelah berbela sungkawa terlalu lama akan kematian ayah tercintanya. Mata cantik denga bulu mata palsu itu seakan otomatis menyorot Talisa dengan penampilan dan rambut barunya. “Kenapa kamu membanting map itu, Talisa?”
Talisa menatap Dara dengan berani, “Aku cuma nggak mau ke ruang foto copy, karena itu bukan tugasku,” jawabnya, santai. “Itu saja. Dan harusnya orang-orang di sini semuanya ngerti dengan tanggung jawab dan tugas masing-masing. Aku asistennya Chakka, jadi selain Chakka nggak ada yang bisa menyuruh aku seenaknya!”
“Tapi, kamu tahu siapa pemilik perusahaan?” tantang Dara.
“Apa tadi aku bilang perusahaan ini bukan punya Bu Dara?” balas Talisa, lalu tertawa kecil. “Aku nggak mau debat kusir sama Bu Dara soal siapa yang atasan dan bawahan. Aku sudah melakukan pekerjaanku, kok. Nggak sama kayak mereka yang suka sekali menggosip saban hari.”
“Talisa!” Dara mulai geram.
“Ya?” sahut Talisa, yang kelihatannya tenang-tenang saja.
Dara hanya menatapnya dengan gigi gemeretak menahan kesal. Tapi, ia berusaha mengndalikan itu, karena ia akan kehilangan wibawanya. Ia tidak ingin gadis tidak tahu diri ini merusak citranya. Satu hal yang kemudian ingin dia lakukan, adalah meminta Chakka memberhentikan gadis ini.
***
“Kenapa? Talisa kerjaannya beres kok,” jawab Chakka tenang, sambil menatap ke layar ke komputer. “Kamu berdebat lagi dengan Talisa hari ini?”
Dara menggeleng. Tapi, tetap merasa gelisah. Pokoknya setiap ia melihat Talisa berkeliaran di kantor ini, ia selalu risau. Rasa cemburu melandanya karena sepanjang hari gadis itu berada di ruang yang sama dengan Chakka. Ia harus menyingkirkan Talisa secepatnya.
“Nggak, dia selalu dengan gaya tidak tahu diri menantangku,” kata Dara mengeluh sambil mondar-mandir lagi. Sebelum ia menghampiri Chakka di mejanya, “Chakka, kamu harus melakukan sesuatu. Aku nggak betah kalau dia masih di sini.”
Chakka mengalihkan perhatiannya ke Dara, sambil tersenyum. “Aku sudah pernah bilang, jangan sekali-kali menunjukan masalah pribadi kamu dengan Talisa di depan orang-orang. Itu nggak bagus buat kamu. Kalau kita pecat Talisa, itu akan semakin membuktikan kalau kita nggak professional.” Ujarnya.
“Iya, tapi aku nggak nyaman ...”
“Sayang, aku nggak mau kamu mengkhawatirkan itu terus ...” Chakka berdiri dari tempat duduknya menghampiri Dara yang duduk di sisi mejanya. “Kalau kamu terus khawatir seperti itu, artinya kamu nggak percaya.”
Dara mencoba tersenyum. Ia berusaha menenangkan dirinya. Menurutnya, perkataan Chakka memang tidak bisa diragukan. Ia tahu bahwa Chakka hanya mencintainya seorang; gadis itu hanya bayang-bayang kesepian yang mencari tempat berteduh. Chakka hanya mengasihaninya saja, karena ia membutuhkan pekerjaan untuk membiayai kuliahnya.
Tapi, yang membuat Dara tidak tahan adalah kehadirannya yang tiba-tiba mengganggu suasana hatinya.
“Aku pikir setelah kalian tinggal serumah, kalian nggak akan melakukannya lagi di kantor,” Talisa sudah berdiri di depan pintu saat Chakka mendekapnya, dan itu menimbulkan kekesalan yang luar biasa; namun tertahan di dalam hati Dara yang ingin sekali menjambak gadis itu dan menyeretnya keluar ruangan.
“Harusnya kamu ketuk pintu dulu, Talisa,” suara Chakka terengar datar. Sepertinya ia tidak suka apa yang dikatakan Talisa barusan; yang nyatanya benar. Mereka saja yang sering lupa menempatkan diri.
“Aku nggak harus mengetuk pintu ruanganku sendiri dan sebelumnya aku nggak pernah melakukan itu,” jawabnya, santai sambil melangkah tenang ke hadapan Chakka. Ia sepertinya tidak melirik sedikit pun kea rah Dara yang mengatupkan bibirnya dengan keras. “Tadi di depan pintu aku nggak dengar apa-apa, makanya langsung masuk. Lagian kalau aku dengar sesuatu dan tetap di depan pintu, bukannya itu lebih melanggar privasi. Kamu ‘kan pernah kesal karena aku menguping dan mengintip.”
Ocehan itu membuat Dara semakin kesal. Tapi, ia hanya bisa bergerak pergi sebelum gadis itu benar-benar menghancurkan kesabarannya.
“Kamu nggak keberatan ‘kalau aku benar-benar melakukan pekerjaanku? Aku nggak mau makan gaji buta dan jadi umpatan orang sekantor,” Talisa masih mengoceh.
“Talisa, jangan memperpanjang urusan,” Tegur Chakka, yang menyadari bahwa Dara mulai tampak tidak mampu menguasai emosinya.
Talisa menaruh sbuah map di atas meja. “Aku membawakan laporan keuangan bulan lalu dan beberapa surat yang harus ditanda tangani,” kata Talisa menjelaskan; sejenak mengabaikan ocehannya sendiri. “Oh ya, di dalam lemari sudah ada Coca Cola. Tadi pagi kebetulan aku ke supermarket, jadi aku beli sekalian. Kamu ‘kan sibuk dan nggak ada yang sempat belanja.”
“Hm ... terima kasih, Talisa ...” Chakka mulai cemas karena Dara benar-benar sudah naik pitam. Ia langsung mengabaikan Talisa dengan mengejar Dara yang berlalu di balik pintu.
Sepintas Talisa merasa puas. Ia membuat Dara merasa ketakutan akan kehadiran dirinya; sama seperti pernah dilakukan perempuan itu padanya dulu. Agaknya Dara benar-benar berhati-hati padanya. Talisa tertawa begitu pintu menutup dan ia tengah membayangkan bagaimana Chakka mengejar Dara yang tak bisa mengatasi perasaan cemburunya. Namun, Talisa tak merasa telah menjadi pemenang dari permainan bawahan melawan atasan ini.
Talisa selalu tahu, Dara tetap selangkah di depannya. Menyadari itu, derai air mata kembali jatuh di sela tawanya sendiri. Betapa sulitnya bersikap seperti pemenang di saat ia tahu ia kalah telak. Betapa sulitnya bagi seekor kupu-kupu untuk tetap terbang di saat sayapnya terkoyak; meski tertatih ia tetap mencoba mencapai langit. Begitulah dirinya saat ini.
Berubah menjadi cantik pun tidak pernah mengalihkan perhatian Chakka kepadanya. Mereka ibarat bayangan bulan di atas air, betapa pun dihancurkan akan tetap kembali bersatu. Tapi, Talisa tak bisa menyerah. Cintanya terlalu besar untuk dikalahkan oleh semua yang ia lihat. Hatinya telah jatuh terlalu dalam sampai ia lebih memilih berakhir di dalam bus itu jika saja Chakka tidak menghentikannya; untuk mengakhiri cinta ini. Namun, Chakka selalu memberi harapan kepada Talisa untuk menhancurkannya beberapa saat kemudian.
***


Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments