๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
You Won't Feel A Thing~
Talisa masih datang dengan kesedihan yang
sama, ia hanya melamun di kursinya, sambil membayangkan Chakka duduk di sana.
Saking tergodanya melamun, Talisa tidak sadar pintu yang biasanya tidak pernah
dibuka orang selain dirinya, bergerak hingga kemudian seseorang masuk.
Talisa baru terjaga oleh suara pintu yang
menutup. “Chakka?!” ia berteriak karena terkejut dan sosok yang ditunggu itu
akhirnya datang juga. Segera Talisa berlari ke arahnya dan memeluk Chakka yang
memberinya seulas senyum. “Kamu kembali! Kenapa lama sekali?”
Chakka hanya menepuk-nepuk punggung Talisa.
“Ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sana ...,” jawabnya, tenang. “Apa
kabar?”
Talisa tidak langsung menjawab. Bagaimana
ia kan baik-baik saja setelah dua minggu Chakka seakan menghilang?
Sampai-sampai berpikiran bahwa Chakka tak akan kembali ke kota ini lagi.
“Aku sibuk sekali di sana. Mengurus
pemakaman, beberapa surat, yah ... kamu tahu sendiri ....,” Chakka menjelaskan
sambil menuju ke kursinya. Lalu ia duduk dan mulai menyentuh berkas-berkas yang
ada di meja. Ia tak lagi menghiraukan Talisa yang hampir menangis karena
terharu.
Ada banyak sekali laporan yang harus ia
periksa. Chakka mulai sibuk sementara Talisa bingung. Entah perasaannya saja
atau memang Chakka terlihat berbeda. Paling tidak Chakka bisa menanyakan
kuliahnya, atau hal lain yang berhubungan dengan dirinya. Tapi, sepertinya
begitu menemukan tumpukan berkas di meja, ia seolah mengabaikan segalanya
termasuk Talisa.
“Ya ampun, aku nggak tahu harus mulai dari
mana ...,” kata Chakka setelah mengutak-atik berkas itu satu persatu. Ia belum
menandatangani apa pun tapi sudah mengeluh.
“Itu laporan dari dua minggu yang lalu,
tepatnya sejak kamu pergi ...” ujar Talisa. “Wajar saja banyak. Tapi, aku sudah
menyusun berkasnya berdasarkan tanggal, kamu bisa mulai dari berkas paling
atas.”
“Ya, terima kasih banyak, Talisa. Itu
sangat membantu,” balas Chakka tapi perhatiannya hanya milik berkas-berkas itu.
Dia baru menoleh kepada Talisa saat mengingat sesuatu. “Oh ya, Talisa, kamu
bisa mengumpulkan semua kepala bagian? Aku pikir kita harus mengadakan rapat.”
“Ya, baiklah. Jam berapa?” tanya Talisa,
berusaha untuk tidak berkecil hati.
“Siang ini. Sekitar jam satu atau dua. Kamu
siapkan ruangannya,” jawab dia.
“Ya ...,’ sahut Talisa lesu, tapi ia masih
memandangi Chakka yang seolah tidak merasa rindu padanya.
Aneh. Setelah semua yang terjadi? Chakka
kembali tak tersentuh?
***
Handphone Chakka terdengar berbunyi. Sebuah
nada pendek. Chakka meraihnya sambil tetap mengamati layar komputernya –dia
sudah tidak bermain game lagi, melainkan mengerjakan pekerjaannya. Lalu ia
tersenyum saat membaca pesan singkat yang baru masuk itu.
Talisa masih memperhatikan. Ada apa dengan
Chakka?
Tapi, ia terlalu takut untuk bertanya.
Chakka yang ia lihat saat ini bukan Chakka yang ia kenal. Apakah kesibukannya
saat ini membuatnya harus fokus sehingga ia tampak membuang waktu sedikitpun
untuk bermain? Chakka kembali melibatkan dirinya dalam perusahaan setelah ia
berkata bahwa ia akan megundurkan diri saja karena tidak ingin terikat
selamanya. Namun, Chakka tidak pernah membahasnya lagi sejak kembali, seolah ia
lupa; atau berpura-pura lupa; atau barangkali ia telah menarik ucapan itu
sendiri dengan diam-diam. Bahkan Chakka juga enggan membahas hubungan mereka.
Talisa kembali risau. Tapi, tidak ada yang
bisa ia lakukan selain menunggu dengan sabar. Ia hanya perlu memberikan Chakka
waktu sebentar lagi saja memenuhi kewajibannya. Hanya saja, Talisa ragu, apakah
ia bisa bertahan sampai Chakka ‘kembali’ ke padanya? ; lelaki itu mulai asing
lagi baginya.
“Aku menyiapkan ruang pertemuan dulu,” kata
Talisa pamitan saat akan keluar dari kantor.
“Ya,” sahut Chakka hanya memberi anggukan
kecil sementara matan masih berada di layar computer.
Talisa keluar dengan perasaan khawatir.
Sejak Chakka sibuk, iapun juga sibuk menyiapkan semua yang Chakka minta. Tapi,
sesibuk apa pun, tak sedetik pun Talisa berhenti bertanya mengapa Chakka
kembali tidak mempedulikannya; seolah ini membuatnya gila karena terus
memendam.
Selangkah Talisa meninggalkan ruangan dan
menutup pintu, Chakka mulai melirik untuk memastikan gadis itu benar-benar
pergi. Rasa bersalah terpancar seketika dari wajahnya sampai ia tidak bisa
berkonsentrasi; ia tidak bisa apa-apa selain harus berpura-pura dingin. Karena
Chakka sendiri sebenarnya tidak tega mengatakan yang sebenarnya namun bersikap
bahwa ia membalas perasaan Talisa, malah akan memperburuk keadaan. Chakka tidak
bisa menerima Talisa; saat ini.
Chakka mendengus; apa yang harus ia katakan
pada Talisa? Bagaimana cara membuat gadis itu berhenti berharap akan dirinya?
Rasa takut telah menyusup diam-diam di hatinya setiap Chakka mengingat bahwa
gadis itu telah memberikan semua yang dia miliki kepadanya. Ketika malam itu
terjadi, Chakka sudah siap menerima cinta yang baru tanpa pernah tahu bahwa
sedetik kemudian semuanya berubah; membuat keputusannya untuk membuka hati bagi
Talisa adalah keputusan yang benar-benar keliru. Chakka telah menjanjikan
Talisa sebuah tempat di hatinya, tapi
begitu Dara tiba-tiba datang ia harus mengusir Talisa. Chakka tidak bisa
menempatkan dua perempuan sekaligus di hatinya. Namun, dengan mempertimbangkan
bahwa ia belum bisa memupus Dara sekali pun telah menyakiti hatinya berulang
kali, Chakka harus tetap memilih. Dan ia memilih Dara walau ia tidak tahu apa
yang akan ia lakukan terhadap Talisa.
Gadis itu sudah berkorban banyak demi
dirinya; Talisa telah benar-benar masuk ke dalam hidupnya dan bahkan menyentuh
kegelapan di dalam dirinya. Rasanya sekarang, ia juga tak bisa melepaskan diri
dari gadis itu sepenuhnya.
***
“Kamu terlambat, Chakka ...,” Dara kelihatan
cemberut. Ia duduk di sisi tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur putih yang
hampir tembus pandang.
Chakka sangat tergoda untuk memeluk dan
menyentuh wanita yang dia cintai itu walaupun merasa sangat bersalah karena ia
terlambat; terlambat karena harus mengantar Talisa lebih dulu sebelum pulang.
Ia melonggarkan dasi yang membuatnya sedikit sesak sebelum memeluk Dara yang
terlihat gusar.
Ya, Chakka merasa takut sejak tadi, entah
mengapa. Rasanya tadi Talisa bertanya kepadanya, apakah ia dan Dara sudah
bersama kembali dan Chakka menjawab tidak; Chakka sudah membohongi Talisa
sebagaimana ia juga membohongi Dara bahwa ia dan Talisa tidak mempunyai
hubungan apa-apa. Teringat pada ekspresi Talisa yang merengut; campuran antara
marah, kecewa dan sedih, sempat membuat Chakka merinding. Menurutnya ekspresi
Talisa itu lebih menakutkan dari orang-orang astral yang pernah ia lihat. Semua
itu tersimpan di bawah sadarnya.
Dalam hidupnya, Chakka tidak pernah merasa
setakut ini. Dia sudah sering menyakiti perempuan, tapi tak pernah merasa takut
walau ia ditampar dan dipermalukan. Berbeda dengan Talisa.
“Maafkan aku ...” ucap Chakka dengan sangat
menyesal; mempererat pelukannya.
“Kamu pergi sama gadis itu lagi?” tanya
Dara yang dingin; Dara tidak membalas pelukannya.
Chakka menggeleng. “Nggak ...,” jawab
Chakka semakin gelisah. Lalu melepaskan pelukannya untuk menatap Dara dan
membuat wanita itu berhenti bertanya. Beberapa saat kemudian mereka berakhir di
atas tempat tidur. Namun Chakka tidak juga merasa tenang.
Ia selalu diikuti ‘sesuatu’. Ia tahu itu;
selama ini a lebih suka menganggapnya tidak ada walaupun bisa melihatnya di
mana pun. Chakka merasa diawasi.
“Tadi dia ke sini ...,” Dara berkata di
telinganya; dengan nafas terengah. “Dia mencari kamu, Chakka. Katanya ... kamu
meninggalkan dia di jalan ....”
“Apa?” Chakka terkejut. Apa yang dia maksud
adalah Talisa? Talisa datang kemari?
Ketakutan itu semakin menggila di
pikirannya. Terlebih raut Dara masih dingin; seolah tidak menikmati apa yang
sedang mereka lakukan. Chakka tidak dapat meraih Dara lebih dalam dan membuat
perempuan itu menikmati percintaan.
“Lihat ...” kata Dara, tangannya menunjuk
sesuatu di belakang Chakka yang berada di atas tubuhnya. “Dia kembali ...”
Sontak, Chakka menoleh ke belakang. Gadis
itu sudah berdiri dekat tempat tidur; dengan wajah rusak; dengan sekujur badan
berlumuran darah; dengan tangan patah dan masih menggenggam sebuah gunting. Ia
mendekat dengan langkah terseok karena kaki kanannya juga patah. Darah menetes
dari setiap bagian tubuhnya yang terluka; Chakka bahkan dapat mendengar suara
tetesan itu.
Apa yang terjadi pada Talisa? Apa dia
mengalami kecelakaan yang parah?
“Tidak ada yang menang kalau semuanya
kalah, Chakka ...” sosok perempuan berkata dan bersiap menghujamkan gunting itu
kepadanya.
“Jangan!!!” Chakka berteriak saat ujung
gunting itu terarah ke matanya. Ia menyaksikan bagaimana ujung gunting yang
tajam itu meraih ke dalam bola matanya sementara tubuhnya tidak dapat bergerak
dan sosok Dara sudah menghilang.
Saat Chakka tersadar, nafasnya tersengal.
Ia mengalami mimpi yang benar-benar buruk. Melihat hantu bukanlah mimpi buruk
baginya; di dunia nyata pun ada yang lebih buruk dari makhluk aneh yang hilang
timbul. Namun, inilah pertama kali Chakka bermimpi, salah satu makhluk yang ia
lihat berusaha membunuhnya.
Apa ini pertanda bahwa ia harus menjauhi
gadis itu? Ya pertanda; ini adalah pertanda dari intuisinya yang kuat!
***

Komentar
0 comments