[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 16 (1/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

You Won't Feel A Thing~

Talisa masih datang dengan kesedihan yang sama, ia hanya melamun di kursinya, sambil membayangkan Chakka duduk di sana. Saking tergodanya melamun, Talisa tidak sadar pintu yang biasanya tidak pernah dibuka orang selain dirinya, bergerak hingga kemudian seseorang masuk.
Talisa baru terjaga oleh suara pintu yang menutup. “Chakka?!” ia berteriak karena terkejut dan sosok yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Segera Talisa berlari ke arahnya dan memeluk Chakka yang memberinya seulas senyum. “Kamu kembali! Kenapa lama sekali?”
Chakka hanya menepuk-nepuk punggung Talisa. “Ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sana ...,” jawabnya, tenang. “Apa kabar?”
Talisa tidak langsung menjawab. Bagaimana ia kan baik-baik saja setelah dua minggu Chakka seakan menghilang? Sampai-sampai berpikiran bahwa Chakka tak akan kembali ke kota ini lagi.
“Aku sibuk sekali di sana. Mengurus pemakaman, beberapa surat, yah ... kamu tahu sendiri ....,” Chakka menjelaskan sambil menuju ke kursinya. Lalu ia duduk dan mulai menyentuh berkas-berkas yang ada di meja. Ia tak lagi menghiraukan Talisa yang hampir menangis karena terharu.
Ada banyak sekali laporan yang harus ia periksa. Chakka mulai sibuk sementara Talisa bingung. Entah perasaannya saja atau memang Chakka terlihat berbeda. Paling tidak Chakka bisa menanyakan kuliahnya, atau hal lain yang berhubungan dengan dirinya. Tapi, sepertinya begitu menemukan tumpukan berkas di meja, ia seolah mengabaikan segalanya termasuk Talisa.
“Ya ampun, aku nggak tahu harus mulai dari mana ...,” kata Chakka setelah mengutak-atik berkas itu satu persatu. Ia belum menandatangani apa pun tapi sudah mengeluh.
“Itu laporan dari dua minggu yang lalu, tepatnya sejak kamu pergi ...” ujar Talisa. “Wajar saja banyak. Tapi, aku sudah menyusun berkasnya berdasarkan tanggal, kamu bisa mulai dari berkas paling atas.”
“Ya, terima kasih banyak, Talisa. Itu sangat membantu,” balas Chakka tapi perhatiannya hanya milik berkas-berkas itu. Dia baru menoleh kepada Talisa saat mengingat sesuatu. “Oh ya, Talisa, kamu bisa mengumpulkan semua kepala bagian? Aku pikir kita harus mengadakan rapat.”
“Ya, baiklah. Jam berapa?” tanya Talisa, berusaha untuk tidak berkecil hati.
“Siang ini. Sekitar jam satu atau dua. Kamu siapkan ruangannya,” jawab dia.
“Ya ...,’ sahut Talisa lesu, tapi ia masih memandangi Chakka yang seolah tidak merasa rindu padanya.
Aneh. Setelah semua yang terjadi? Chakka kembali tak tersentuh?
***
Handphone Chakka terdengar berbunyi. Sebuah nada pendek. Chakka meraihnya sambil tetap mengamati layar komputernya –dia sudah tidak bermain game lagi, melainkan mengerjakan pekerjaannya. Lalu ia tersenyum saat membaca pesan singkat yang baru masuk itu.
Talisa masih memperhatikan. Ada apa dengan Chakka?
Tapi, ia terlalu takut untuk bertanya. Chakka yang ia lihat saat ini bukan Chakka yang ia kenal. Apakah kesibukannya saat ini membuatnya harus fokus sehingga ia tampak membuang waktu sedikitpun untuk bermain? Chakka kembali melibatkan dirinya dalam perusahaan setelah ia berkata bahwa ia akan megundurkan diri saja karena tidak ingin terikat selamanya. Namun, Chakka tidak pernah membahasnya lagi sejak kembali, seolah ia lupa; atau berpura-pura lupa; atau barangkali ia telah menarik ucapan itu sendiri dengan diam-diam. Bahkan Chakka juga enggan membahas hubungan mereka.
Talisa kembali risau. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu dengan sabar. Ia hanya perlu memberikan Chakka waktu sebentar lagi saja memenuhi kewajibannya. Hanya saja, Talisa ragu, apakah ia bisa bertahan sampai Chakka ‘kembali’ ke padanya? ; lelaki itu mulai asing lagi baginya.
“Aku menyiapkan ruang pertemuan dulu,” kata Talisa pamitan saat akan keluar dari kantor.
“Ya,” sahut Chakka hanya memberi anggukan kecil sementara matan masih berada di layar computer.
Talisa keluar dengan perasaan khawatir. Sejak Chakka sibuk, iapun juga sibuk menyiapkan semua yang Chakka minta. Tapi, sesibuk apa pun, tak sedetik pun Talisa berhenti bertanya mengapa Chakka kembali tidak mempedulikannya; seolah ini membuatnya gila karena terus memendam.
Selangkah Talisa meninggalkan ruangan dan menutup pintu, Chakka mulai melirik untuk memastikan gadis itu benar-benar pergi. Rasa bersalah terpancar seketika dari wajahnya sampai ia tidak bisa berkonsentrasi; ia tidak bisa apa-apa selain harus berpura-pura dingin. Karena Chakka sendiri sebenarnya tidak tega mengatakan yang sebenarnya namun bersikap bahwa ia membalas perasaan Talisa, malah akan memperburuk keadaan. Chakka tidak bisa menerima Talisa; saat ini.
Chakka mendengus; apa yang harus ia katakan pada Talisa? Bagaimana cara membuat gadis itu berhenti berharap akan dirinya? Rasa takut telah menyusup diam-diam di hatinya setiap Chakka mengingat bahwa gadis itu telah memberikan semua yang dia miliki kepadanya. Ketika malam itu terjadi, Chakka sudah siap menerima cinta yang baru tanpa pernah tahu bahwa sedetik kemudian semuanya berubah; membuat keputusannya untuk membuka hati bagi Talisa adalah keputusan yang benar-benar keliru. Chakka telah menjanjikan Talisa  sebuah tempat di hatinya, tapi begitu Dara tiba-tiba datang ia harus mengusir Talisa. Chakka tidak bisa menempatkan dua perempuan sekaligus di hatinya. Namun, dengan mempertimbangkan bahwa ia belum bisa memupus Dara sekali pun telah menyakiti hatinya berulang kali, Chakka harus tetap memilih. Dan ia memilih Dara walau ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan terhadap Talisa.
Gadis itu sudah berkorban banyak demi dirinya; Talisa telah benar-benar masuk ke dalam hidupnya dan bahkan menyentuh kegelapan di dalam dirinya. Rasanya sekarang, ia juga tak bisa melepaskan diri dari gadis itu sepenuhnya.
***
“Kamu terlambat, Chakka ...,” Dara kelihatan cemberut. Ia duduk di sisi tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur putih yang hampir tembus pandang.
Chakka sangat tergoda untuk memeluk dan menyentuh wanita yang dia cintai itu walaupun merasa sangat bersalah karena ia terlambat; terlambat karena harus mengantar Talisa lebih dulu sebelum pulang. Ia melonggarkan dasi yang membuatnya sedikit sesak sebelum memeluk Dara yang terlihat gusar.
Ya, Chakka merasa takut sejak tadi, entah mengapa. Rasanya tadi Talisa bertanya kepadanya, apakah ia dan Dara sudah bersama kembali dan Chakka menjawab tidak; Chakka sudah membohongi Talisa sebagaimana ia juga membohongi Dara bahwa ia dan Talisa tidak mempunyai hubungan apa-apa. Teringat pada ekspresi Talisa yang merengut; campuran antara marah, kecewa dan sedih, sempat membuat Chakka merinding. Menurutnya ekspresi Talisa itu lebih menakutkan dari orang-orang astral yang pernah ia lihat. Semua itu tersimpan di bawah sadarnya.
Dalam hidupnya, Chakka tidak pernah merasa setakut ini. Dia sudah sering menyakiti perempuan, tapi tak pernah merasa takut walau ia ditampar dan dipermalukan. Berbeda dengan Talisa.
“Maafkan aku ...” ucap Chakka dengan sangat menyesal; mempererat pelukannya.
“Kamu pergi sama gadis itu lagi?” tanya Dara yang dingin; Dara tidak membalas pelukannya.
Chakka menggeleng. “Nggak ...,” jawab Chakka semakin gelisah. Lalu melepaskan pelukannya untuk menatap Dara dan membuat wanita itu berhenti bertanya. Beberapa saat kemudian mereka berakhir di atas tempat tidur. Namun Chakka tidak juga merasa tenang.
Ia selalu diikuti ‘sesuatu’. Ia tahu itu; selama ini a lebih suka menganggapnya tidak ada walaupun bisa melihatnya di mana pun. Chakka merasa diawasi.
“Tadi dia ke sini ...,” Dara berkata di telinganya; dengan nafas terengah. “Dia mencari kamu, Chakka. Katanya ... kamu meninggalkan dia di jalan ....”
“Apa?” Chakka terkejut. Apa yang dia maksud adalah Talisa? Talisa datang kemari?
Ketakutan itu semakin menggila di pikirannya. Terlebih raut Dara masih dingin; seolah tidak menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Chakka tidak dapat meraih Dara lebih dalam dan membuat perempuan itu menikmati percintaan.
“Lihat ...” kata Dara, tangannya menunjuk sesuatu di belakang Chakka yang berada di atas tubuhnya. “Dia kembali ...”
Sontak, Chakka menoleh ke belakang. Gadis itu sudah berdiri dekat tempat tidur; dengan wajah rusak; dengan sekujur badan berlumuran darah; dengan tangan patah dan masih menggenggam sebuah gunting. Ia mendekat dengan langkah terseok karena kaki kanannya juga patah. Darah menetes dari setiap bagian tubuhnya yang terluka; Chakka bahkan dapat mendengar suara tetesan itu.
Apa yang terjadi pada Talisa? Apa dia mengalami kecelakaan yang parah?
“Tidak ada yang menang kalau semuanya kalah, Chakka ...” sosok perempuan berkata dan bersiap menghujamkan gunting itu kepadanya.
“Jangan!!!” Chakka berteriak saat ujung gunting itu terarah ke matanya. Ia menyaksikan bagaimana ujung gunting yang tajam itu meraih ke dalam bola matanya sementara tubuhnya tidak dapat bergerak dan sosok Dara sudah menghilang.
Saat Chakka tersadar, nafasnya tersengal. Ia mengalami mimpi yang benar-benar buruk. Melihat hantu bukanlah mimpi buruk baginya; di dunia nyata pun ada yang lebih buruk dari makhluk aneh yang hilang timbul. Namun, inilah pertama kali Chakka bermimpi, salah satu makhluk yang ia lihat berusaha membunuhnya.
Apa ini pertanda bahwa ia harus menjauhi gadis itu? Ya pertanda; ini adalah pertanda dari intuisinya yang kuat!
***


Next


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments