[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 15 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

On the End of the Street~

Sekilas ini seperti pemaksaan. Entah ada apa lagi dengan Chakka. Setelah dia pergi dengan buru-buru malam itu, dia tidak pernah bisa dihubungi. Seperti menghilang ditelan bumi. Apa Chakka melakukannya lagi? Mengabaikannya setelah dia berjanji tidak akan membuat Talisa gelisah seperti ini lagi? Apa waktu yang Talisa berikan padanya belum cukup untuk mengurus masalahnya? Bukankah ini sudah terlalu lama?
Pagi Talisa hanya disambut oleh wajah cemberut orang-orang. Seakan ia baru saja melakukan hal yang jijik dan mereka melihatnya. Ada dua lantai dan lima puluh kepala yang harus diabaikan Talisa sejak pagi. Sekarang di lantai tiga hanya ada dia sendiri. Karena Chakka dan Dara berada di Jakarta. Tempat itu sepi sekali.
Talisa juga tidak mengerjakan apa-apa selama seminggu, tepatnya setelah Chakka harus pergi dan tidak memberi kabar selama itu. Dia hanya duduk di kursinya. Main komputer. Malas-malasan. Sesekali ia duduk di kursi Chakka, merasakan hawanya yang masih tersisa di sana karena terlalu merindukannya. Bahkan sampai ketiduran, tapi tak ada yang datang ke ruangan itu.
Tiba-tiba ia terjaga karena mendengar sesuatu. Sepertinya suara benda jatuh tepat di belakangnya. Talisa yang terkejut buru-buru melihat ke asal suara itu dan menemukan sebuah map yang terjatuh dari raknya. Bagaimana mungkin benda itu terjatuh dari susunan map yang begitu rapat di rak?
Talisa menoleh ke belakang karena ia pikir ada yang datang lewat suara langkah kaki yang pelan. Chakka!, pikirnya tapi ia kecewa karena tidak menemukan siapa-siapa. Ruangan itu kosong. Tidak ada seorang pun yang datang kemari. Talisa kembali menaruh map itu di tempatnya semula dan kembali duduk di kursi Chakka.
Ya, ia tahu ada yang tidak beres dengan ruangan ini –Chakka pernah mengatakannya. Saat itu Talisa takut dengan hal-hal berbau mistis. Tapi, sekarang dia tampaknya tidak peduli, walaupun rasanya di tempat itu ada yang tengah mengawasinya dan tidak kelihatan. Ia hanya teringat pada percakapannya dengan Chakka soal gangguan yang dialaminya dan itu juga mengganggu orang-orang yang pernah dekat dengannya.
***
“Apa kamu pernah tahu alasan mengapa kamu terlahir seperti itu?”
“Bukan alasan ...,” jawab Chakka, tampak menerawang. “Tapi, sejak terjadinya sesuatu, semuanya berubah ...”
“Kejadian apa?”
“Mati.”
Talisa tiba-tiba merinding. “Kamu pernah mati?”
“Satu kali.” Jawab Chakka, datar. “Mati yang tidak benar-benar mati. Seperti ... terombang-ambing di satu tempat yang dikenali tapi nggak bisa bicara pada siapa pun. Tapi, aku memilih hidup karena aku tahu aku layak untuk itu.”
“Apa yang kamu rasakan ketika mati?”
“Tersesat ...”
“Kamu bertemu seseorang?”
“Aku bertemu kehidupan lain dengan banyak orang-orang aneh ... aku nggak ingin tinggal bersama mereka. Tapi, salah satu dari mereka melarangku pergi. Sebagai gantinya setelah aku kembali ke kehidupan nyata, dia masih bisa terlihat di mana-mana. Dia bilang dia penjaga, tapi dia menjauhkan aku dari orang-orang. Dia mencelakai siapa saja. Dia bilang dia selalu menjagaku.”
“Sampai detik ini?”
Chakka mengangguk, sambil menatap Talisa yang ketakutan di sampingnya. “Kamu nggak perlu takut, Talisa ...,” ujarnya sembari meraih Talisa ke pelukannya. “Sekali pun saat ini dia marah ... kalau kamu takut padanya, dia akan mendapatkan kamu. Dia ... menyukai rasa takut ...,”
“Dia siapa, Chakka?”
“Kamu mau melihatnya? Aku yakin setelah kamu melihatnya, kamu nggak punya alasan untuk takut ....” Kata Chakka di telingaya.
Talisa pun mengangguk. Ia tidak mengerti dengan hal-hal absurd yang dikatakan Chakka tentang dirinya. Apa pun yang Chakka minta akan ia lakukan.
“Pejamkan mata, Talisa ...,” bisik Chakka dan ia memeluk kepala Talisa dengan kedua tangannya sementara ia sendiri juga memejamkan matanya. Membuat Talisa melihat apa yang dia lihat saat ini.
Seorang perempuan menjerit di sisi tempat tidur hendak menerkamnya. Talisa memekik ketakutan dan ingin melompat dari tempat tidur. Perempuan itu berwajah rusak dengan rambut berantakan. Tapi sesuatu seolah menahan tubuhnya untuk tak bergerak.
“Ssst ...,” Chakka berbisik. Talisa merasakan bahwa Chakka masih memeluk sekujur tubuhnya dari belakang. Dan mengajaknya melihat sosok mengerikan itu hanya bisa menatap; tidak, dia tidak menatap karena dia tidak punya bola mata. Tapi suaranya terdengar seperti angin yang berhembus. Kedua tangannya kurus dan panjang berusaha menggapai-gapai.
Talisa ketakutan tapi Chakka seolah memaksanya untuk tetap melihat. “Jangan takut ...,” ujar Chakka. Tapi, Talisa menutup matanya karena terlalu seram.
Ketika dia membuka matanya, saat itulah ia melihat Chakka mengangkat telepon Dara yang memberitahunya bahwa ayahnya meninggal.
Kilasan itu seperti mimpi. Ya, Chakka tidak melakukan hal-hal semacam itu padanya. Tapi, Talisa berhasil berhalusinasi tentang sesosok perempuan berwajah rusak yang mengikuti Chakka.
***
Kehidupan membuat cinta ini tampak sulit. Orang-orang yang tidak suka mulai mengakimi lewat tatapan mereka setiap Talisa lewat. Selalu saja ada ada orang-orang yang tidak setuju, seolah mereka tahu segalanya. Tapi, Talisa sudah memilih Chakka, tidak peduli apa pun yang harus ia korbankan. Ia sudah memberikan semuanya tanpa sisa. Pergi sama seperti mati. Meski harus menunggu; ia memang seorang penunggu; penunggu yang setia.
Setelah membereskan ruangan, ia langsung turun. Talisa punya ujian jam enam sehingga ia harus buru-buru. Mengabaikan orang-orang yang memandangnya cemberut, Talisa dengan penuh semangat menuju keluar.
Chakka akan pulang; karena di sini adalah rumahnya. Dia akan datang. Aku tidak perlu sedih ....
Setiap mengingat pertemuan terakhir mereka, Talisa selalu merasa lebih baik. Baginya dinding penghalang itu telah runtuh. Namun entah mengapa, ia tetap saja masih khawatir. Maka setiap khawatir, ia kembali memencet nomor telepon Chakka berharap akan ada jawaban. Tapi, tidak ada. Ia tidak mendengar nada sambung, hanya suarat operator yang otomatis mengatakan bahwa nomor itu masih tidak aktif.
Tak ayal, beberapa hari setelah seminggu yang penuh kegelisahan itu firasat buruk kembali merajai hatinya.
Mengapa Chakka begitu lama? Apa yang menahannya di sana?
Ujian semester pertama telah dilalui. Talisa sudah tidak peduli pada hasilnya. Karena otaknya sudah tak bisa memuat hal lain karena hanya dipenuhi oleh segala hal tentang Chakka. Saat perasaan tak mampu menopang pikiran yang semakin kalut, ia menangis, berteriak dalam keheningan sambil menahan sakit di hatinya dan bertanya, mengapa semua ini belum juga berakhir. Apakah semua yang ia berikan tak pernah cukup bagi Chakka untuk benar-benar terlepas? Semua pertanyaan yang timbul mulai seperti hantu. Menangis menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat melihat kursi Chakka masih kosong.
***


Next


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments