๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
On the End of the Street~
Sekilas ini seperti pemaksaan. Entah ada
apa lagi dengan Chakka. Setelah dia pergi dengan buru-buru malam itu, dia tidak
pernah bisa dihubungi. Seperti menghilang ditelan bumi. Apa Chakka melakukannya
lagi? Mengabaikannya setelah dia berjanji tidak akan membuat Talisa gelisah
seperti ini lagi? Apa waktu yang Talisa berikan padanya belum cukup untuk
mengurus masalahnya? Bukankah ini sudah terlalu lama?
Pagi Talisa hanya disambut oleh wajah
cemberut orang-orang. Seakan ia baru saja melakukan hal yang jijik dan mereka
melihatnya. Ada dua lantai dan lima puluh kepala yang harus diabaikan Talisa
sejak pagi. Sekarang di lantai tiga hanya ada dia sendiri. Karena Chakka dan
Dara berada di Jakarta. Tempat itu sepi sekali.
Talisa juga tidak mengerjakan apa-apa
selama seminggu, tepatnya setelah Chakka harus pergi dan tidak memberi kabar
selama itu. Dia hanya duduk di kursinya. Main komputer. Malas-malasan. Sesekali
ia duduk di kursi Chakka, merasakan hawanya yang masih tersisa di sana karena
terlalu merindukannya. Bahkan sampai ketiduran, tapi tak ada yang datang ke
ruangan itu.
Tiba-tiba ia terjaga karena mendengar
sesuatu. Sepertinya suara benda jatuh tepat di belakangnya. Talisa yang
terkejut buru-buru melihat ke asal suara itu dan menemukan sebuah map yang
terjatuh dari raknya. Bagaimana mungkin benda itu terjatuh dari susunan map
yang begitu rapat di rak?
Talisa menoleh ke belakang karena ia pikir
ada yang datang lewat suara langkah kaki yang pelan. Chakka!, pikirnya tapi ia kecewa karena tidak menemukan
siapa-siapa. Ruangan itu kosong. Tidak ada seorang pun yang datang kemari.
Talisa kembali menaruh map itu di tempatnya semula dan kembali duduk di kursi
Chakka.
Ya, ia tahu ada yang tidak beres dengan
ruangan ini –Chakka pernah mengatakannya. Saat itu Talisa takut dengan hal-hal
berbau mistis. Tapi, sekarang dia tampaknya tidak peduli, walaupun rasanya di
tempat itu ada yang tengah mengawasinya dan tidak kelihatan. Ia hanya teringat
pada percakapannya dengan Chakka soal gangguan yang dialaminya dan itu juga
mengganggu orang-orang yang pernah dekat dengannya.
***
“Apa kamu pernah tahu alasan mengapa kamu
terlahir seperti itu?”
“Bukan alasan ...,” jawab Chakka, tampak
menerawang. “Tapi, sejak terjadinya sesuatu, semuanya berubah ...”
“Kejadian apa?”
“Mati.”
Talisa tiba-tiba merinding. “Kamu pernah
mati?”
“Satu kali.” Jawab Chakka, datar. “Mati
yang tidak benar-benar mati. Seperti ... terombang-ambing di satu tempat yang
dikenali tapi nggak bisa bicara pada siapa pun. Tapi, aku memilih hidup karena
aku tahu aku layak untuk itu.”
“Apa yang kamu rasakan ketika mati?”
“Tersesat ...”
“Kamu bertemu seseorang?”
“Aku bertemu kehidupan lain dengan banyak
orang-orang aneh ... aku nggak ingin tinggal bersama mereka. Tapi, salah satu
dari mereka melarangku pergi. Sebagai gantinya setelah aku kembali ke kehidupan
nyata, dia masih bisa terlihat di mana-mana. Dia bilang dia penjaga, tapi dia
menjauhkan aku dari orang-orang. Dia mencelakai siapa saja. Dia bilang dia
selalu menjagaku.”
“Sampai detik ini?”
Chakka mengangguk, sambil menatap Talisa
yang ketakutan di sampingnya. “Kamu nggak perlu takut, Talisa ...,” ujarnya
sembari meraih Talisa ke pelukannya. “Sekali pun saat ini dia marah ... kalau
kamu takut padanya, dia akan mendapatkan kamu. Dia ... menyukai rasa takut
...,”
“Dia siapa, Chakka?”
“Kamu mau melihatnya? Aku yakin setelah
kamu melihatnya, kamu nggak punya alasan untuk takut ....” Kata Chakka di
telingaya.
Talisa pun mengangguk. Ia tidak mengerti
dengan hal-hal absurd yang dikatakan Chakka tentang dirinya. Apa pun yang
Chakka minta akan ia lakukan.
“Pejamkan mata, Talisa ...,” bisik Chakka
dan ia memeluk kepala Talisa dengan kedua tangannya sementara ia sendiri juga
memejamkan matanya. Membuat Talisa melihat apa yang dia lihat saat ini.
Seorang perempuan menjerit di sisi tempat
tidur hendak menerkamnya. Talisa memekik ketakutan dan ingin melompat dari
tempat tidur. Perempuan itu berwajah rusak dengan rambut berantakan. Tapi
sesuatu seolah menahan tubuhnya untuk tak bergerak.
“Ssst ...,” Chakka berbisik. Talisa
merasakan bahwa Chakka masih memeluk sekujur tubuhnya dari belakang. Dan
mengajaknya melihat sosok mengerikan itu hanya bisa menatap; tidak, dia tidak
menatap karena dia tidak punya bola mata. Tapi suaranya terdengar seperti angin
yang berhembus. Kedua tangannya kurus dan panjang berusaha menggapai-gapai.
Talisa ketakutan tapi Chakka seolah
memaksanya untuk tetap melihat. “Jangan takut ...,” ujar Chakka. Tapi, Talisa
menutup matanya karena terlalu seram.
Ketika dia membuka matanya, saat itulah ia
melihat Chakka mengangkat telepon Dara yang memberitahunya bahwa ayahnya
meninggal.
Kilasan itu seperti mimpi. Ya, Chakka tidak
melakukan hal-hal semacam itu padanya. Tapi, Talisa berhasil berhalusinasi
tentang sesosok perempuan berwajah rusak yang mengikuti Chakka.
***
Kehidupan membuat cinta ini tampak sulit.
Orang-orang yang tidak suka mulai mengakimi lewat tatapan mereka setiap Talisa
lewat. Selalu saja ada ada orang-orang yang tidak setuju, seolah mereka tahu
segalanya. Tapi, Talisa sudah memilih Chakka, tidak peduli apa pun yang harus
ia korbankan. Ia sudah memberikan semuanya tanpa sisa. Pergi sama seperti mati.
Meski harus menunggu; ia memang seorang penunggu; penunggu yang setia.
Setelah membereskan ruangan, ia langsung
turun. Talisa punya ujian jam enam sehingga ia harus buru-buru. Mengabaikan
orang-orang yang memandangnya cemberut, Talisa dengan penuh semangat menuju
keluar.
Chakka akan pulang; karena di sini adalah
rumahnya. Dia akan datang. Aku tidak
perlu sedih ....
Setiap mengingat pertemuan terakhir mereka,
Talisa selalu merasa lebih baik. Baginya dinding penghalang itu telah runtuh.
Namun entah mengapa, ia tetap saja masih khawatir. Maka setiap khawatir, ia
kembali memencet nomor telepon Chakka berharap akan ada jawaban. Tapi, tidak
ada. Ia tidak mendengar nada sambung, hanya suarat operator yang otomatis
mengatakan bahwa nomor itu masih tidak aktif.
Tak ayal, beberapa hari setelah seminggu
yang penuh kegelisahan itu firasat buruk kembali merajai hatinya.
Mengapa Chakka begitu lama? Apa yang
menahannya di sana?
Ujian semester pertama telah dilalui.
Talisa sudah tidak peduli pada hasilnya. Karena otaknya sudah tak bisa memuat
hal lain karena hanya dipenuhi oleh segala hal tentang Chakka. Saat perasaan
tak mampu menopang pikiran yang semakin kalut, ia menangis, berteriak dalam
keheningan sambil menahan sakit di hatinya dan bertanya, mengapa semua ini
belum juga berakhir. Apakah semua yang ia berikan tak pernah cukup bagi Chakka
untuk benar-benar terlepas? Semua pertanyaan yang timbul mulai seperti hantu.
Menangis menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat melihat kursi
Chakka masih kosong.
***
Komentar
0 comments