[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic- Ch. 14 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Wildest Dreams

Jam setengah empat sore; gemuruh dalam tetesan hujan tidak kunjung berakhir. Banyak orang yang terpaksa menunggu di sepanjang koridor sampai hujannya berhenti. Talisa masih termenung di salah satu kursi di saat mahasiswa lain memilih berdiskusi atau mengobrol dengan berkelompok. Suara-suara mereka tersamarkan oleh hujan. Saat itu, Talisa lebih memilih untuk tidak merasakan apa pun setelah menghapus air matanya karena tidak ingin ada yang melihat.
Lalu handphone-nya berbunyi. Ia merogoh ke dalam tasnya untuk mencari benda kecil itu. saat melihat nama Chakka muncul, Talisa tidak serta merta merasa senang. Akhirnya lelaki itu ingat padanya. Namun, satu hal  yang ia sadari adalah mungkin saja bosnya itu marah padanya karena jam kantor hampir selesai, Talisa masih belum kembali ke kantor. Lagipula Dara juga mempermasalahkannya tadi. Tapi, Talisa keburu berpikiran yang tidak-tidak.
“Halo?” dia mengangkat telepon itu, berusaha untuk tidak gemetaran. “A ... aku masih di kampus. Hujannya ... lebat sekali,” kata Talisa segera sebelum lelaki itu bertanya tentang keberadaannya.
“Aku tahu,” jawab Chakka dengan suaranya yang datar. “Aku sudah di tempat parkir. Ayo pulang ...”
Talisa terkejut. Tidak tahu apa yang ia rasakan; rasa senang terhimpit oleh kenyataan bahwa Chakka tidak betul-betul mengharapkan dirinya. Dalam pertanyaan mengapa tiba-tiba dia datang menjemput, Talisa merasa sangat gelisah. Takut salah paham; takut kembali berharap. Tapi ... ketika menemukan mobil Chakka sudah ada di tempat parkir, ia tersenyum. Chakka benar-benar datang di hari terburuknya, dan itu bukanlah halusinasi; meski ia tidak tahu alasan mengapa dan dia perlu tahu itu daripada terus berharap akan sesuatu yang tak pasti.
Namun, Chakka yang menunggu di dalam mobil sampai Talisa masuk, terlihat berbeda.
“Harusnya kamu menelepon,” kata dia pada Talisa, terdengar protes.
Talisa menggeleng. Ia kembali gelisah memikirkan kejadian tadi. Bagaimana bisa ia tetap menghubungi Chakka? Tapi, Talisa sudah tidak tahan. Perih di hatinya semakin menjadi-jadi setiap ia membayangkan dirinya berada di tengah kedua orang itu.
“Aku nggak mau memperburuk keadaan ...,” jawab Talisa, suaranya gemetar. “Aku ... merasa kalau aku terlibat semakin jauh dan takut aku nggak bisa lepas ....”
“Maaf ...,” ucap Chakka, wajahnya terlihat menyesal saat memandangi Talisa. Ia tahu mata gadis itu sembab; suaranya juga serak. Pasti karena terlalu banyak menangis dan ia tidak sejahat itu berpura-pura tidak tahu. “Aku mendorong kamu ke dalam pusaran itu. Aku bahkan nggak menyadarinya ....”
Talisa menarik nafas. Ketahuan kalau ia menangis lagi. Sebelumnya ia tidak pernah menagis di depan Chakka. Talisa tidak pernah menunjukan bahwa ia sering terluka karenanya.
“Karena ... aku nggak menyangka, Dara akan berbuat sejauh itu terhadap kamu. Dia nggak menginginkan aku dan apa pun yang aku lakukan dia nggak akan peduli ....” Chakka menjelaskan.
“Apa semua ini adalah kebohongan dari awal?” Talisa bertanya. “Kamu ... berada sedekat ini denganku hanya untuk membuat dia merasa terganggu? Karena ... karena ... sumpah demi Tuhan, Chakka ... aku berpikiran bahwa kamu sudah melupakan dia dan aku ... berharap aku berhasil menarik kamu keluar dari segala hal yang dia sebut dengan mengerikan ....”
Chakka menggeleng, tapi Talisa tidak mau melihatnya. Ia hanya tertunduk, menarik nafas, menyeka air matanya berkali-kali. Anehnya Talisa malah tertawa.
“Leluconnya adalah aku ‘kan?” Talisa mulai meracau. Sambil tertawa getir. “Aku yang menaruhnya sendiri di punggungku, sehingga orang-orang bisa lihat ... kalau aku sendirilah yang melemparkan diriku ke dalam pusaran ....” Sambungnya, dengan suara menggigil. “Karena aku tahu ... dari awal ... kamu ... nggak akan melihatku ....”
“Kamu sendiri juga merasa aku orang yang kejam?”
Talisa mulai meratap. “Aku tahu itu!” katanya, menatap Chakka dengan mata merah dan raut yang begitu merana. “Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Nggak peduli kamu aneh, kejam, psikopat, atau bahkan menjadikanku pengisi kekosongan, aku masih menyukainya seperti aku ... menyukai diri kamu tanpa semua itu .... aku hanya melihat kamu sebagai laki-laki, bukan sosok ... Aku nggak mengenal kamu. Aku hanya mendengar cerita tentang kamu, dan aku merasa itu cukup sebagai alasan ... kenapa aku selalu duduk di belakang pintu dan menunggu .... Aku selalu berharap, kamu bisa melihat dunia ini berwarna di luar dari hitam putih masa lalu kamu yang buruk, dan makhluk-makhluk astral yang kamu lihat ....”
Chakka tercenung. Tidak menyangka kata-kata itu keluar dari bibir seorang gadis yang baru dua puluh tahun. Ucapan kekanakan yang terdengar jujur, sehingga membuatnya tidak mampu berkata; hanya mendengarkan kata-kata Talisa yang mengalir keluar seperti kata-kata cinta paling romantis namun terdengar sedih. Seingatnya tidak pernah ada perempuan yang mengaku cinta padanya dengan cara seperti ini.
“Aku diam karena aku selalu menunggu saat yang tepat untuk mengatakan ini semua dan aku juga belum punya keberanian. Aku ... merasa kamu akan menolakku karena Dara, tapi kadang-kadang aku merasa kalau kamu hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menerimaku ... tapi pesta itu membuat aku sadar, kalau menunggu itu sia-sia ...,” Talisa masih meracau. “Sungguh, aku nggak pernah merencanakan mengatakan ini dalam keadaan yang benar-benar kacau begini ... aku pernah berharap, kamu yang akan mengatakannya ... tapi itu nggak akan terjadi ... meski itu artinya kalau aku pergi semuanya akan kembali seperti saat kita nggak pernah kenal ... semua itu berputar-putar di dalam kepalaku seperti badai ....”
“Cukup!” celetuk Chakka; tba-tiba ia meraih Talisa dengan kedua lengannya. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mendekap dengan erat.
Talisa terkejut. Seluruh anggota tubuhnya membeku walaupun pelukan Chakka memisahkannya dari dinginnya hawa mobil juga hawa di luar sana.
“Aku nggak pernah dengar ungkapan sepanjang itu sebelumnya ...,” aku Chakka sambil mempererat pelukannya sedikit lagi agar Talisa tidak menarik dirinya. “Kalau kamu teruskan, aku semakin merasa kalau aku memang kejam ... aku merasa bodoh karena berusaha mengingkarinya tapi malah melakukan hal yang sebaliknya. Jadi cukup, Talisa ... aku mohon ....”
Talisa diam, merasakan hawa Chakka yang begitu pekat di tubuhnya. Meski ia perlu bernafas, namun ia sudah pasrah; entah ini mimpi seperti biasanya. Namun merasakan Chakka bernafas di belakang kepalanya, membuatnya sadar, ini nyata.
“Aku minta maaf ...,” ucap Chakka sekali lagi.
Talisa hanya memejamkan matanya. Meresapi dekapan yang belum pernah ia dapatkan itu, seolah ini akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir. Ia masih belum bisa memastikan maksud dari sikap Chakka ini. Ia belum tahu, ke mana lagi mereka akan berada setelah tahap ini; setelah Chakka tahu perasaannya. Tapi, Chakka kemudian melepaskannya. Talisa yang malu tertunduk. Ia tidak ingin Chakka melihatnya seperti ini, walau tak bisa menghindar.
“Aku nggak akan melakukannya lagi ...,” kata Chakka, berujar. Sambil membelai rambut Talisa yang setengah basah oleh hujan dengan lembut. “Aku berpikir untuk meninggalkan semuanya, karena aku muak ....”
Talisa menatapnya penuh tanda tanya, meski tak ada kata yang keluar dari bibirnya yang memucat karena dingin.
Chakka tersenyum. “Aku akan keluar dari perusahaan itu, pergi ke mana pun yang aku suka ...,” katanya. “Aku sudah memikirkan ini sejak lama, tapi karena mempertimbangkan banyak hal, aku belum berani memutuskan ....”
Tapi, Talisa malah berfirasat buruk. “Kamu ... akan pulang ke Jakarta?”
Chakka menatap Talisa lekat-lekat. Sambil membelai rambut Talisa lagi, dengan kedua tangannya yang panas. Lalu menggeleng. “Di Jakarta aku nggak punya siapa-siapa lagi,” jawab dia. “Aku nggak punya tempat untuk pulang. Kalau di sini aku punya tempat tinggal yang baru, untuk apa aku kembali ke sana?”
Akhirnya Talisa tertawa; bersusah payah menghilangkan semua kegelisahannya. Tapi, saat Chakka memeluknya sekali lagi, semua rasa sedih tergantikan dengan bahagia yang sangat. Penuh mengisi rongga dadanya, bahkan juga setiap bagian dari tubuhnya. Chakka mempererat pelukannya; ini bukanlah mimpi.
Setelah saling melepaskan pelukan, mereka sudah tak punya kata-kata; hanya senyuman yang mengisyaratkan bahwa abu-abu telah menjdi putih. Terlebih Chakka belum berhenti membelai rambutnya lembut dan Talisa menatapinya dengan perasaan bahagia sebelum lelaki itu memberinya rasa ciuman pertama.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments