๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Wildest Dreams
Jam setengah empat sore; gemuruh dalam
tetesan hujan tidak kunjung berakhir. Banyak orang yang terpaksa menunggu di
sepanjang koridor sampai hujannya berhenti. Talisa masih termenung di salah
satu kursi di saat mahasiswa lain memilih berdiskusi atau mengobrol dengan
berkelompok. Suara-suara mereka tersamarkan oleh hujan. Saat itu, Talisa lebih
memilih untuk tidak merasakan apa pun setelah menghapus air matanya karena
tidak ingin ada yang melihat.
Lalu handphone-nya berbunyi. Ia merogoh ke
dalam tasnya untuk mencari benda kecil itu. saat melihat nama Chakka muncul,
Talisa tidak serta merta merasa senang. Akhirnya lelaki itu ingat padanya.
Namun, satu hal yang ia sadari adalah
mungkin saja bosnya itu marah padanya karena jam kantor hampir selesai, Talisa
masih belum kembali ke kantor. Lagipula Dara juga mempermasalahkannya tadi.
Tapi, Talisa keburu berpikiran yang tidak-tidak.
“Halo?” dia mengangkat telepon itu,
berusaha untuk tidak gemetaran. “A ... aku masih di kampus. Hujannya ... lebat
sekali,” kata Talisa segera sebelum lelaki itu bertanya tentang keberadaannya.
“Aku tahu,” jawab Chakka dengan suaranya
yang datar. “Aku sudah di tempat parkir. Ayo pulang ...”
Talisa terkejut. Tidak tahu apa yang ia
rasakan; rasa senang terhimpit oleh kenyataan bahwa Chakka tidak betul-betul
mengharapkan dirinya. Dalam pertanyaan mengapa tiba-tiba dia datang menjemput,
Talisa merasa sangat gelisah. Takut salah paham; takut kembali berharap. Tapi
... ketika menemukan mobil Chakka sudah ada di tempat parkir, ia tersenyum.
Chakka benar-benar datang di hari terburuknya, dan itu bukanlah halusinasi;
meski ia tidak tahu alasan mengapa dan dia perlu tahu itu daripada terus
berharap akan sesuatu yang tak pasti.
Namun, Chakka yang menunggu di dalam mobil
sampai Talisa masuk, terlihat berbeda.
“Harusnya kamu menelepon,” kata dia pada Talisa,
terdengar protes.
Talisa menggeleng. Ia kembali gelisah
memikirkan kejadian tadi. Bagaimana bisa ia tetap menghubungi Chakka? Tapi,
Talisa sudah tidak tahan. Perih di hatinya semakin menjadi-jadi setiap ia
membayangkan dirinya berada di tengah kedua orang itu.
“Aku nggak mau memperburuk keadaan ...,”
jawab Talisa, suaranya gemetar. “Aku ... merasa kalau aku terlibat semakin jauh
dan takut aku nggak bisa lepas ....”
“Maaf ...,” ucap Chakka, wajahnya terlihat
menyesal saat memandangi Talisa. Ia tahu mata gadis itu sembab; suaranya juga
serak. Pasti karena terlalu banyak menangis dan ia tidak sejahat itu
berpura-pura tidak tahu. “Aku mendorong kamu ke dalam pusaran itu. Aku bahkan
nggak menyadarinya ....”
Talisa menarik nafas. Ketahuan kalau ia
menangis lagi. Sebelumnya ia tidak pernah menagis di depan Chakka. Talisa tidak
pernah menunjukan bahwa ia sering terluka karenanya.
“Karena ... aku nggak menyangka, Dara akan
berbuat sejauh itu terhadap kamu. Dia nggak menginginkan aku dan apa pun yang
aku lakukan dia nggak akan peduli ....” Chakka menjelaskan.
“Apa semua ini adalah kebohongan dari
awal?” Talisa bertanya. “Kamu ... berada sedekat ini denganku hanya untuk
membuat dia merasa terganggu? Karena ... karena ... sumpah demi Tuhan, Chakka
... aku berpikiran bahwa kamu sudah melupakan dia dan aku ... berharap aku
berhasil menarik kamu keluar dari segala hal yang dia sebut dengan mengerikan
....”
Chakka menggeleng, tapi Talisa tidak mau
melihatnya. Ia hanya tertunduk, menarik nafas, menyeka air matanya berkali-kali.
Anehnya Talisa malah tertawa.
“Leluconnya adalah aku ‘kan?” Talisa mulai
meracau. Sambil tertawa getir. “Aku yang menaruhnya sendiri di punggungku,
sehingga orang-orang bisa lihat ... kalau aku sendirilah yang melemparkan
diriku ke dalam pusaran ....” Sambungnya, dengan suara menggigil. “Karena aku
tahu ... dari awal ... kamu ... nggak akan melihatku ....”
“Kamu sendiri juga merasa aku orang yang
kejam?”
Talisa mulai meratap. “Aku tahu itu!”
katanya, menatap Chakka dengan mata merah dan raut yang begitu merana. “Tapi,
apa yang bisa aku lakukan? Nggak peduli kamu aneh, kejam, psikopat, atau bahkan
menjadikanku pengisi kekosongan, aku masih menyukainya seperti aku ... menyukai
diri kamu tanpa semua itu .... aku hanya melihat kamu sebagai laki-laki, bukan
sosok ... Aku nggak mengenal kamu. Aku hanya mendengar cerita tentang kamu, dan
aku merasa itu cukup sebagai alasan ... kenapa aku selalu duduk di belakang
pintu dan menunggu .... Aku selalu berharap, kamu bisa melihat dunia ini
berwarna di luar dari hitam putih masa lalu kamu yang buruk, dan
makhluk-makhluk astral yang kamu lihat ....”
Chakka tercenung. Tidak menyangka kata-kata
itu keluar dari bibir seorang gadis yang baru dua puluh tahun. Ucapan kekanakan
yang terdengar jujur, sehingga membuatnya tidak mampu berkata; hanya
mendengarkan kata-kata Talisa yang mengalir keluar seperti kata-kata cinta
paling romantis namun terdengar sedih. Seingatnya tidak pernah ada perempuan
yang mengaku cinta padanya dengan cara seperti ini.
“Aku diam karena aku selalu menunggu saat
yang tepat untuk mengatakan ini semua dan aku juga belum punya keberanian. Aku
... merasa kamu akan menolakku karena Dara, tapi kadang-kadang aku merasa kalau
kamu hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menerimaku ... tapi pesta itu membuat
aku sadar, kalau menunggu itu sia-sia ...,” Talisa masih meracau. “Sungguh, aku
nggak pernah merencanakan mengatakan ini dalam keadaan yang benar-benar kacau
begini ... aku pernah berharap, kamu yang akan mengatakannya ... tapi itu nggak
akan terjadi ... meski itu artinya kalau aku pergi semuanya akan kembali
seperti saat kita nggak pernah kenal ... semua itu berputar-putar di dalam
kepalaku seperti badai ....”
“Cukup!” celetuk Chakka; tba-tiba ia meraih
Talisa dengan kedua lengannya. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan
mendekap dengan erat.
Talisa terkejut. Seluruh anggota tubuhnya
membeku walaupun pelukan Chakka memisahkannya dari dinginnya hawa mobil juga
hawa di luar sana.
“Aku nggak pernah dengar ungkapan sepanjang
itu sebelumnya ...,” aku Chakka sambil mempererat pelukannya sedikit lagi agar
Talisa tidak menarik dirinya. “Kalau kamu teruskan, aku semakin merasa kalau
aku memang kejam ... aku merasa bodoh karena berusaha mengingkarinya tapi malah
melakukan hal yang sebaliknya. Jadi cukup, Talisa ... aku mohon ....”
Talisa diam, merasakan hawa Chakka yang
begitu pekat di tubuhnya. Meski ia perlu bernafas, namun ia sudah pasrah; entah
ini mimpi seperti biasanya. Namun merasakan Chakka bernafas di belakang
kepalanya, membuatnya sadar, ini nyata.
“Aku minta maaf ...,” ucap Chakka sekali
lagi.
Talisa hanya memejamkan matanya. Meresapi
dekapan yang belum pernah ia dapatkan itu, seolah ini akan selalu menjadi yang
pertama dan terakhir. Ia masih belum bisa memastikan maksud dari sikap Chakka
ini. Ia belum tahu, ke mana lagi mereka akan berada setelah tahap ini; setelah
Chakka tahu perasaannya. Tapi, Chakka kemudian melepaskannya. Talisa yang malu
tertunduk. Ia tidak ingin Chakka melihatnya seperti ini, walau tak bisa
menghindar.
“Aku nggak akan melakukannya lagi ...,”
kata Chakka, berujar. Sambil membelai rambut Talisa yang setengah basah oleh
hujan dengan lembut. “Aku berpikir untuk meninggalkan semuanya, karena aku muak
....”
Talisa menatapnya penuh tanda tanya, meski
tak ada kata yang keluar dari bibirnya yang memucat karena dingin.
Chakka tersenyum. “Aku akan keluar dari
perusahaan itu, pergi ke mana pun yang aku suka ...,” katanya. “Aku sudah
memikirkan ini sejak lama, tapi karena mempertimbangkan banyak hal, aku belum
berani memutuskan ....”
Tapi, Talisa malah berfirasat buruk. “Kamu
... akan pulang ke Jakarta?”
Chakka menatap Talisa lekat-lekat. Sambil
membelai rambut Talisa lagi, dengan kedua tangannya yang panas. Lalu
menggeleng. “Di Jakarta aku nggak punya siapa-siapa lagi,” jawab dia. “Aku
nggak punya tempat untuk pulang. Kalau di sini aku punya tempat tinggal yang
baru, untuk apa aku kembali ke sana?”
Akhirnya Talisa tertawa; bersusah payah
menghilangkan semua kegelisahannya. Tapi, saat Chakka memeluknya sekali lagi,
semua rasa sedih tergantikan dengan bahagia yang sangat. Penuh mengisi rongga
dadanya, bahkan juga setiap bagian dari tubuhnya. Chakka mempererat pelukannya;
ini bukanlah mimpi.
Setelah saling melepaskan pelukan, mereka
sudah tak punya kata-kata; hanya senyuman yang mengisyaratkan bahwa abu-abu
telah menjdi putih. Terlebih Chakka belum berhenti membelai rambutnya lembut
dan Talisa menatapinya dengan perasaan bahagia sebelum lelaki itu memberinya
rasa ciuman pertama.
***
Komentar
0 comments