๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Out of the Woods
Wajah orang-orang itu tidak pernah berubah.
Dari front desk sampai kantornya di lantai tiga, Talisa hanya menemui
orang-orang yang menjengkelkan. Begitu ia mendudukan pantatnya di kursi
kerjanya, beban sedikit berkurang. Tidak masuk selama empat hari karena sakit
tidak ubahnya seperti kembali dari pengasingan. Sedikit kikuk dan takut.
Meja Chakka masih kosong –sepertinya dia
belum datang. Talisa mencoba mengabaikan semua itu dengan membuka buku pelajaran dan mulai menyalin catatan
yang ia dapatkan dari temannya di kampus. Minggu depan ujian semester
pertamanya, dia tidak ingin mengulang karena hanya akan menghabiskan waktunya.
Jam sepuluh, pintu bergerak. Seseorang
masuk dan Talisa masih sibuk menulis.
“Kamu sudah masuk?” tanya Chakka yang cukup
kaget menemukan Talisa sudah di mejanya.
“Hm ...,” balas Talisa acuh. Ia harus
memusatkan perhatian pada apa yang ia tulis dengan harapan bisa mengingatnya
untuk ujian nanti.
Chakka duduk di kursinya tanpa bertanya
lagi.
Talisa meliriknya sedikit namun segera ia
tendang pikiran itu keluar dari kepalanya. Orang itu tidak akan pernah
menyadari bahwa Talisa selalu menunggunya di pintu. Ia harus menyerah menerima
kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mau membuka hatinya untu
perempuan lain.
Saat istirahat siang, Chakka kembali menghampiri.
Seakan tidak bersalah ia mengajak makan siang lagi.
Talisa menggeleng. “Aku masih banyak
tugas,” katanya tanpa mau menatap Chakka. “Sebentar lagi ujian ...,”
“Oh ya sudah ...,”
Chakka pun berlalu. Talisa sedih. Betapa
sulitnya berpura-pura dia tak peduli lagi sampai rasanya ingin menangis. Namun
ia sudah putus asa. Pertengkaran dengan Dara malam itu benar-benar membuatnya
harus berhenti mengejar apa yang tidak akan pernah ia dapatkan.
***
Tiba-tiba saja kesedihan itu membuatnya
berdiri di depan pintu rumah Onny.
“Onny-nya ada, Tante?” tanya Talisa pada
wanita yang membukakan pintu. Dia ibunya Onny.
Ibu itu kelihatan cukup terkejut. “Lho kamu
nggak tahu kalau Onny sudah nggak di sini lagi?” balas dia.
“Hah?” Talisa terkejut. “Onny pindah,
Tante?”
Ibunya mengangguk. “Onny sudah bekerja di
Jakarta ...,” jawabnya. “Dia dibawa sama kakaknya, Talisa. Memang Onny belum
bilang ke kamu?”
Talisa menggeleng sambil tetap tersenyum.
Pantas nomor handphone Onny sudah tidak aktif. Dia sudah menggantinya.
“Aku bisa minta nomor teleponnya?”
Wanita itu menuliskan nomor telepon di
sebuah kertas kecil. Setelah pergi dari
sana dengan kecewa ia mencoba menelpon Onny. Menelan ludah di awal kalimatnya
sebelum berani bersuara.
“Onny, maafkan aku ya ...,” kata Talisa.
Setetes air mata jatuh di pipinya.
“Ya sudah, nggak apa-apa,” balas Onny.
Kedengarannya bisa menerima. Tapi hanya itu yang dia katakan. Talisa pikir Onny
akan bertanya soal Chakka namun temannya itu diam –seolah tidak ada lagi yang
bisa dia katakan kalau dia benar-benar sudah memaafkan Talisa. “Talisa, maaf
ya? Aku lagi di tempat kerja, telepon lagi nanti ya?”
Lalu teleponnya terputus. Biasanya Onny
suka mengobrol. Dia tidak peduli dengan jam kerja. Asal sudah punya topik yang
bagus dia bisa cerita berjam-jam. Namun, semuanya telah berbeda. Saat Talisa
pikir ia bisa menelepon Onny malam harinya lagi untuk bercerita soal pesta
memalukan itu, Onny tidak pernah lagi mengangkat teleponnya. Hari-hari
berikutnya juga. Sehingga ia menyerah. Onny sudah bukan sahabatnya lagi.
***
Keesokan hari Talisa meminta izin pada
Chakka untuk pergi ke kampus menemui dosennya. Chakka mengizinkannya begitu
saja tanpa menawarkan untuk mengantarnya seperti yang biasa dia lakukan. Talisa
berusaha untuk tidak kecewa karena ia harus membuka matanya lebar-lebar.
Laki-laki itu memang tidak peduli padanya.
Tiba-tiba saja Dara masuk. Ia langsung
menemukan Talisa yang hendak membuka pintu. “Kamu mau ke mana?” tanya dia,
sambil mengerutkan dahinya.
Belakangan Dara semakin berani
menyinggungnya.
“Ke kampus ...,” jawab Talisa melewati
perempuan itu begitu saja.
“Kamu pikir ini tempat apa?” hardik Dara.
“Kamu bisa keluar masuk sesukanya di jam kerja! Memangnya perusahaan ini milik
ayah kamu?!”
“Dara!” Chakka seketika berdiri dari
kursinya.
“Apa?!” cetus Dara, beralih menantang
Chakka yang marah. “Kamu nggak suka aku bentak-bentak peliharaan kesayangan
kamu?!”
“Dara!” teriak Chakka lagi, kali ini
langsung menghampiri Dara. “Apa-apaan kamu?! Kalau kamu datang ke sini hanya
untuk cari ribut sebaiknya kamu keluar!”
“Kamu ngusir aku?” Dara tersenyum sinis.
“Apa kamu lupa diri, Chakka?!”
“Oh, oke! Aku yang keluar!” balas Chakka
sambil kembali ke mejanya untuk mengambil jasnya yang tergantung di kursi lalu
pergi. “Aku sudah muak ada di tempat yang sama dengan kamu!”
“Kalian benar-benar lucu ya?” Dara masih
menunjukan kekesalannya seakan belum puas mengganggu. “Kalian kelihatan saling
memiliki tapi kalau diperhatikan baik-baik sepertinya ada yang nggak beres.”
Chakka berhenti di depan pintu dan menatap
Talisa yang khawatir. Perempuan itu menghampiri Chakka dan Talisa yang berdiri
di depan pintu dengan lagkahnya yang angkuh.
“Kamu nggak bilang ke Chakka kalau kamu
keluar dari hotel dengan wajah berantakan dan nggak pakai sepatu?” tanya Dara
dan Talisa tertunduk malu. Kemudian Dara melirik Chakka yang tampak terkejut.
“Kamu juga nggak tahu apa-apa di saat semua orang di bawah membicarakan gadis
kesayangan kamu yang pulang seperti pelacur yang diusir keluar dari kamar
hotel?!”
“Diam kamu, Dara!” Chakka menunjuk Dara
dengan emosi. “Sekali lagi kamu bicara yang bukan-bukan ....”
“Kamu mau menamparku?!” tantang Dara,
mendekat selangkah. “Ayo! Ayo lakukan kalau kamu berani!”
“Kamu sinting!” tandas Chakka, sepertinya
mereka akan bertengkar lagi. “Apa sih mau kamu?!”
“Kamu tanya apa yang aku inginkan?! Oke!
Aku nggak ingin melihat gadis itu lagi di sini!” Dara berteriak sambil menunjuk
Talisa yang terlihat seperti kucing yang baru disiram air. “Dia gadis paling
kurang ajar dan nggak tahu diri yang pernah aku tahu! Aku nggak ngerti kenapa
kamu mempertahankan dia! Apa dia berguna buat kamu, hah?!”
“Apa hubungannya dengan kamu?! Apa dia
pernah mengganggu kamu?!” balas Chakka sampai Dara terdiam.
Perempuan itu hanya menatap Chakka dengan
wajah merengut. Dia tidak punya jawaban yang pasti karena ia sendiri tahu
masalahnya bukan pada Talisa, melainkan pada Chakka yang tiba-tiba dekat dengan
gadis itu. Dara tidak menyukainya.
“Kamu cemburu?” tanya Chakka kemudian.
Talisa yang tak bisa berbuat apa-apa
semakin gelisah. Dia tidak ingin berada di tempat itu untuk menonton bagian
yang paling tidak dia sukai dari pertengkaran dua orang ini. Rasanya ia ingin
melarikan diri, tapi ia juga ingin tahu seberapa jauh Chakka berani membelanya.
Namun melihat Dara yang kebingungan, sudah
membuktikan banyak hal. Dia memang cemburu. Satu hal yang terbesit kemudian di
benak Talisa adalah semua yang pernah Onny katakan benar. Untuk apa dia berdiri
di sana lebih lama? Dirinya hanyalah orang luar. Sikap Chakka yang tidak
konsisten itu mungkin disebabkan karena ia belum melepaskan Dara.
Talisa menarik gagang pintu. Air matanya
sudah tidak tertahankan ketika ia berlari di lorong sepi menuju toilet. Hatinya
terasa sakit. Sedangkan Chakka dan Dara belum berhenti berdebat setelah
menyaksikan Talisa berlari keluar sambil menangis.
“Kamu pikir kamu bisa bikin aku cemburu
dengan pura-pura mendekati gadis lain?” Dara masih tersenyum sinis. Tampak puas
melihat Talisa benar-benar mundur.
“Kenapa kamu merasa aku melakukan hal-hal
yang konyol itu?” balas Chakka sambil tertawa kecil. “Memang menurut kamu
pernah ada apa di antara kita? Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sama sekali
nggak bisa mencintaiku. Kenapa sekarang kamu bersikap seolah aku berselingkuh
dengan perempuan lain sebagai balas dendam atas apa yang pernah kamu perbuat?”
Dara tertawa. “Apa yang aku perbuat,
Chakka?” balas Dara. “Kamu masih sakit hati karena aku membuang semua pemberian
kamu? Aku melakukannya karena aku menikah dan aku nggak ingin rumah tanggaku
berantakan.”
“Terus apa yang kamu harapkan? Apa aku
harus mengakui bahwa aku nggak bisa hidup tanpa kamu sekali lagi? Sehingga
sekarang kamu berhak untuk mengurus hal yang bukan urusanmu?”
“Kenapa gadis seperti itu?” tanya Dara.
“Karena dia bukan kamu,”
“Kamu suka dia?”
“Aku sudah bilang itu bukan urusan kamu,
Dara. Kalau kamu nggak ingin pergi dari sini aku yang akan pergi.”
Dara menghela nafas. Dia kembali tersenyum.
“Kamu laki-laki yang kejam, Chakka ...,” katanya tiba-tiba. “Satu-satunya hal
yang membuat aku nggak pernah bisa menerima kamu adalah ... karena kamu nggak
pernah bisa mencintai siapa pun atau apa pun dengan cara yang normal ....”
Chakka diam. Dia tampak tidak ingin
membalas hinaan yang satu itu.
“Gadis yang malang ....” Sambung Dara lagi.
“Dia akan mati gara-gara kamu sama seperti perempuan lain yang pernah celaka
gara-gara kamu, Chakka ....”
***
Komentar
0 comments