[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 13 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Out of the Woods

Wajah orang-orang itu tidak pernah berubah. Dari front desk sampai kantornya di lantai tiga, Talisa hanya menemui orang-orang yang menjengkelkan. Begitu ia mendudukan pantatnya di kursi kerjanya, beban sedikit berkurang. Tidak masuk selama empat hari karena sakit tidak ubahnya seperti kembali dari pengasingan. Sedikit kikuk dan takut.
Meja Chakka masih kosong –sepertinya dia belum datang. Talisa mencoba mengabaikan semua itu dengan membuka  buku pelajaran dan mulai menyalin catatan yang ia dapatkan dari temannya di kampus. Minggu depan ujian semester pertamanya, dia tidak ingin mengulang karena hanya akan menghabiskan waktunya.
Jam sepuluh, pintu bergerak. Seseorang masuk dan Talisa masih sibuk menulis.
“Kamu sudah masuk?” tanya Chakka yang cukup kaget menemukan Talisa sudah di mejanya.
“Hm ...,” balas Talisa acuh. Ia harus memusatkan perhatian pada apa yang ia tulis dengan harapan bisa mengingatnya untuk ujian nanti.
Chakka duduk di kursinya tanpa bertanya lagi.
Talisa meliriknya sedikit namun segera ia tendang pikiran itu keluar dari kepalanya. Orang itu tidak akan pernah menyadari bahwa Talisa selalu menunggunya di pintu. Ia harus menyerah menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mau membuka hatinya untu perempuan lain.
Saat istirahat siang, Chakka kembali menghampiri. Seakan tidak bersalah ia mengajak makan siang lagi.
Talisa menggeleng. “Aku masih banyak tugas,” katanya tanpa mau menatap Chakka. “Sebentar lagi ujian ...,”
“Oh ya sudah ...,”
Chakka pun berlalu. Talisa sedih. Betapa sulitnya berpura-pura dia tak peduli lagi sampai rasanya ingin menangis. Namun ia sudah putus asa. Pertengkaran dengan Dara malam itu benar-benar membuatnya harus berhenti mengejar apa yang tidak akan pernah ia dapatkan.
***
Tiba-tiba saja kesedihan itu membuatnya berdiri di depan pintu rumah Onny.
“Onny-nya ada, Tante?” tanya Talisa pada wanita yang membukakan pintu. Dia ibunya Onny.
Ibu itu kelihatan cukup terkejut. “Lho kamu nggak tahu kalau Onny sudah nggak di sini lagi?” balas dia.
“Hah?” Talisa terkejut. “Onny pindah, Tante?”
Ibunya mengangguk. “Onny sudah bekerja di Jakarta ...,” jawabnya. “Dia dibawa sama kakaknya, Talisa. Memang Onny belum bilang ke kamu?”
Talisa menggeleng sambil tetap tersenyum. Pantas nomor handphone Onny sudah tidak aktif. Dia sudah menggantinya.
“Aku bisa minta nomor teleponnya?”
Wanita itu menuliskan nomor telepon di sebuah kertas kecil. Setelah  pergi dari sana dengan kecewa ia mencoba menelpon Onny. Menelan ludah di awal kalimatnya sebelum berani bersuara.
“Onny, maafkan aku ya ...,” kata Talisa. Setetes air mata jatuh di pipinya.
“Ya sudah, nggak apa-apa,” balas Onny. Kedengarannya bisa menerima. Tapi hanya itu yang dia katakan. Talisa pikir Onny akan bertanya soal Chakka namun temannya itu diam –seolah tidak ada lagi yang bisa dia katakan kalau dia benar-benar sudah memaafkan Talisa. “Talisa, maaf ya? Aku lagi di tempat kerja, telepon lagi nanti ya?”
Lalu teleponnya terputus. Biasanya Onny suka mengobrol. Dia tidak peduli dengan jam kerja. Asal sudah punya topik yang bagus dia bisa cerita berjam-jam. Namun, semuanya telah berbeda. Saat Talisa pikir ia bisa menelepon Onny malam harinya lagi untuk bercerita soal pesta memalukan itu, Onny tidak pernah lagi mengangkat teleponnya. Hari-hari berikutnya juga. Sehingga ia menyerah. Onny sudah bukan sahabatnya lagi.
***
Keesokan hari Talisa meminta izin pada Chakka untuk pergi ke kampus menemui dosennya. Chakka mengizinkannya begitu saja tanpa menawarkan untuk mengantarnya seperti yang biasa dia lakukan. Talisa berusaha untuk tidak kecewa karena ia harus membuka matanya lebar-lebar. Laki-laki itu memang tidak peduli padanya.
Tiba-tiba saja Dara masuk. Ia langsung menemukan Talisa yang hendak membuka pintu. “Kamu mau ke mana?” tanya dia, sambil mengerutkan dahinya.
Belakangan Dara semakin berani menyinggungnya.
“Ke kampus ...,” jawab Talisa melewati perempuan itu begitu saja.
“Kamu pikir ini tempat apa?” hardik Dara. “Kamu bisa keluar masuk sesukanya di jam kerja! Memangnya perusahaan ini milik ayah kamu?!”
“Dara!” Chakka seketika berdiri dari kursinya.
“Apa?!” cetus Dara, beralih menantang Chakka yang marah. “Kamu nggak suka aku bentak-bentak peliharaan kesayangan kamu?!”
“Dara!” teriak Chakka lagi, kali ini langsung menghampiri Dara. “Apa-apaan kamu?! Kalau kamu datang ke sini hanya untuk cari ribut sebaiknya kamu keluar!”
“Kamu ngusir aku?” Dara tersenyum sinis. “Apa kamu lupa diri, Chakka?!”
“Oh, oke! Aku yang keluar!” balas Chakka sambil kembali ke mejanya untuk mengambil jasnya yang tergantung di kursi lalu pergi. “Aku sudah muak ada di tempat yang sama dengan kamu!”
“Kalian benar-benar lucu ya?” Dara masih menunjukan kekesalannya seakan belum puas mengganggu. “Kalian kelihatan saling memiliki tapi kalau diperhatikan baik-baik sepertinya ada yang nggak beres.”
Chakka berhenti di depan pintu dan menatap Talisa yang khawatir. Perempuan itu menghampiri Chakka dan Talisa yang berdiri di depan pintu dengan lagkahnya yang angkuh.
“Kamu nggak bilang ke Chakka kalau kamu keluar dari hotel dengan wajah berantakan dan nggak pakai sepatu?” tanya Dara dan Talisa tertunduk malu. Kemudian Dara melirik Chakka yang tampak terkejut. “Kamu juga nggak tahu apa-apa di saat semua orang di bawah membicarakan gadis kesayangan kamu yang pulang seperti pelacur yang diusir keluar dari kamar hotel?!”
“Diam kamu, Dara!” Chakka menunjuk Dara dengan emosi. “Sekali lagi kamu bicara yang bukan-bukan ....”
“Kamu mau menamparku?!” tantang Dara, mendekat selangkah. “Ayo! Ayo lakukan kalau kamu berani!”
“Kamu sinting!” tandas Chakka, sepertinya mereka akan bertengkar lagi. “Apa sih mau kamu?!”
“Kamu tanya apa yang aku inginkan?! Oke! Aku nggak ingin melihat gadis itu lagi di sini!” Dara berteriak sambil menunjuk Talisa yang terlihat seperti kucing yang baru disiram air. “Dia gadis paling kurang ajar dan nggak tahu diri yang pernah aku tahu! Aku nggak ngerti kenapa kamu mempertahankan dia! Apa dia berguna buat kamu, hah?!”
“Apa hubungannya dengan kamu?! Apa dia pernah mengganggu kamu?!” balas Chakka sampai Dara terdiam.
Perempuan itu hanya menatap Chakka dengan wajah merengut. Dia tidak punya jawaban yang pasti karena ia sendiri tahu masalahnya bukan pada Talisa, melainkan pada Chakka yang tiba-tiba dekat dengan gadis itu. Dara tidak menyukainya.
“Kamu cemburu?” tanya Chakka kemudian.
Talisa yang tak bisa berbuat apa-apa semakin gelisah. Dia tidak ingin berada di tempat itu untuk menonton bagian yang paling tidak dia sukai dari pertengkaran dua orang ini. Rasanya ia ingin melarikan diri, tapi ia juga ingin tahu seberapa jauh Chakka berani membelanya.
Namun melihat Dara yang kebingungan, sudah membuktikan banyak hal. Dia memang cemburu. Satu hal yang terbesit kemudian di benak Talisa adalah semua yang pernah Onny katakan benar. Untuk apa dia berdiri di sana lebih lama? Dirinya hanyalah orang luar. Sikap Chakka yang tidak konsisten itu mungkin disebabkan karena ia belum melepaskan Dara.
Talisa menarik gagang pintu. Air matanya sudah tidak tertahankan ketika ia berlari di lorong sepi menuju toilet. Hatinya terasa sakit. Sedangkan Chakka dan Dara belum berhenti berdebat setelah menyaksikan Talisa berlari keluar sambil menangis.
“Kamu pikir kamu bisa bikin aku cemburu dengan pura-pura mendekati gadis lain?” Dara masih tersenyum sinis. Tampak puas melihat Talisa benar-benar mundur.
“Kenapa kamu merasa aku melakukan hal-hal yang konyol itu?” balas Chakka sambil tertawa kecil. “Memang menurut kamu pernah ada apa di antara kita? Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sama sekali nggak bisa mencintaiku. Kenapa sekarang kamu bersikap seolah aku berselingkuh dengan perempuan lain sebagai balas dendam atas apa yang pernah kamu perbuat?”
Dara tertawa. “Apa yang aku perbuat, Chakka?” balas Dara. “Kamu masih sakit hati karena aku membuang semua pemberian kamu? Aku melakukannya karena aku menikah dan aku nggak ingin rumah tanggaku berantakan.”
“Terus apa yang kamu harapkan? Apa aku harus mengakui bahwa aku nggak bisa hidup tanpa kamu sekali lagi? Sehingga sekarang kamu berhak untuk mengurus hal yang bukan urusanmu?”
“Kenapa gadis seperti itu?” tanya Dara.
“Karena dia bukan kamu,”
“Kamu suka dia?”
“Aku sudah bilang itu bukan urusan kamu, Dara. Kalau kamu nggak ingin pergi dari sini aku yang akan pergi.”
Dara menghela nafas. Dia kembali tersenyum. “Kamu laki-laki yang kejam, Chakka ...,” katanya tiba-tiba. “Satu-satunya hal yang membuat aku nggak pernah bisa menerima kamu adalah ... karena kamu nggak pernah bisa mencintai siapa pun atau apa pun dengan cara yang normal ....”
Chakka diam. Dia tampak tidak ingin membalas hinaan yang satu itu.
“Gadis yang malang ....” Sambung Dara lagi. “Dia akan mati gara-gara kamu sama seperti perempuan lain yang pernah celaka gara-gara kamu, Chakka ....”
***


Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments