[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 12 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pesta

Seminggu menjelang pesta Onny sudah tidak pernah terlihat sampai bagian personalia repot-repot mengeluarkan surat peringatan karena tidak ada kabar dari gadis itu. Dua hari sebelum pesta, akhirnya bagian personalia menerima surat pengunduran Onny yang artinya dia berhenti secara tidak hormat. Talisa menyadari hal itu ia lakukan untuk menyinggung Dara dan Chakka, juga menunjukan kekecewaannya pada Talisa yang tidak pernah meminta maaf. Bahkan Talisa juga tidak pernah menghubunginya untuk menunjukan bahwa ia peduli.
Seperti biasa orang-orang kembali berbicara satu sama lain. Membicarakan banyak keburukan yang terlihat oleh mata mereka. Kantor terasa seperti ruang kelas yang diisi oleh anak-anak yang jahil seperti menertawai kebodohan seseorang dan membicarakannya sampai beberapa episode sebelum mereka membuat episode yang baru dan itu tidak pernah ada habisnya. Semakin mereka banyak bicara, semakin asing mereka bagi Talisa yang mencoba untuk menjauh terutama dari suara sumbang mereka.
Kali ini mereka menertawakan hal yang berbeda dari Talisa yang berjalan ke mana-mana dengan kertas bertuliskan ‘Aku sudah gila’ –mereka melihatnya seperti itu. Mereka tertawa lebih keras karena tahu bukan salah seorang dari mereka yang memasang kertas itu diam-diam di punggung gadis malang itu, tapi karena memang Talisa sendiri lah yang memasangnya.
Tapi, dia tidak peduli.
Di hari yang sama ketika ia menyesal membuat Onny harus berhenti dari pekerjaannya, ia menerima sebuah hadiah. Hadiah yang semakin melambungkan angannya tentang sebuah pesta di mana Cinderella pernah berdansa dengan pangeran tampan. Sebuah gaun berwarna kuning dalam sebuah kotak yang ia temukan pagi-pagi sekali di atas meja kerjanya. Ia hampir tidak percaya Chakka membelikannya barang mahal yang mungkin saja tidak tersedia di butik mana pun di kota ini.
“Ini bukan ulang tahunku!” kata dia saking girangnya sampai ia ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, ia terlalu malu melakukannya. Namun yang pasti gaun itu jauh lebih indah dari gaun-gaun yang pernah mereka lihat di butik tempo hari.
Gaun dengan panjang Selutut dan berwarna kuning pucat dengan Kristal-kristal kecil di bagian dada.
“Itu dikirim langsung dari Jakarta. Kamu suka?” tanya Chakka padanya, seakan berbangga hati telah membuat Talisa melupakan kegelisahaannya tentang Onny.
Talisa mengangguk-angguk. Ia tidak pernah merasa istimewa sebelum ia mendapatkan gaun itu. Dia tidak pernah membayangkan betapa indah hidupnya saat ini. Maka ia mulai banyak bermimpi karena percaya semua harapan akan terkabul karena ia berusaha.
Percikan api seakan membias saat Chakka tersenyum. Seperti kembang api yang berpendar di kelamnya malam. Mengusir rasa takutnya akan kejamnya orang-orang berwajah datar di luar sana dan selalu mengintainya seperti gagak yang kelaparan. Talisa tidak ingin menjadi bangkai di antara mereka.
Ia ingin membuktikan dengan sedikit rasa percaya diri yang ada di dalam dirinya bahwa ia pantas untuk berdiri di samping Chakka –paling tidak dalam pestanya di mana orang-orang sudah membayangkan Dara akan menjadi ratunya. Tapi, Talisa adalah putri yang sesungguhnya. Dia ingin menunjukan bahwa dia gadis yang berbeda sekarang.
***
Chakka akan menjemput pada jam enam –satu jam sebelum pesta dimulai. Talisa sudah menongkrongi salon kecantikan sejak jam empat. Karena belum bisa berdandan ia mengandalkan jasa sebuah salon ternama di kota untuk mengubahnya menjadi seorang putri. Namun melihat sosoknya yang terpantul di cermin, Talisa seakan melihat orang yang berbeda. Dandanan itu membuatnya terkesima pada dirinya sendiri. Seketika terbesit pemikiran bahwa ia harusnya melakukan ini sejak lama, supaya Chakka memandangnya dengan sudi. Supaya Chakka melupakan wanita yang kata-katanya menyakitkan itu.
Saat jam dinding hampir menunjukan jam tujuh, Talisa mulai berdebar. Ia menatap ke pintu dengan gelisah setiap kali setelah melirik jam dinding. Ia juga malu menelpon Chakka untuk memastikan keberadaannya. Ini pesta pertamanya dan ini adalah penampilan terbaiknya. Ia berusaha menenangkan dirinya.
Lalu telepon itu akhirnya berbunyi. Nada singkat sebuah pesan masuk. Chakka hanya menuliskan. “Aku sudah di depan salon. Kamu sudah selesai?”
Talisa mengangguk-anggguk. Ia tak perlu membalas pesan itu. Ia segera berdiri dari kursi tanpa perlu melihat ke cermin lagi untuk memastikan bahwa make up nya belum luntur hanya karena Chakka terlambat hampir satu jam. Pestanya pasti sudah dimulai.
Lelaki itu terlihat berdiri di depan pintu kaca. Talisa mulai memelankan langkahnya walaupun hatinya buru-buru sekali hendak menaiki mobil yang saat ini terlihat seperti kereta kencana dengan beberapa ekor kuda putih. Beberapa saat Chakka tida melihat ke dalam salon sampai Talisa mendorong pintu itu dan Chakka mendengar suaranya membuka pintu. Ketika lelaki itu menoleh, ia menemukan seorang gadis asing di hadapan matanya. Gadis yang rambutnya yang berombak tergerai panjang melewati bahu
Awalnya dia hanya menatap dengan biasa, sampai Talisa menyapanya. “Hai,” dengan suara manis.
Tanpa bersuara, Chakka menatap tidak percaya. Ia mengenali suara yang menyapa itu dan tiba-tiba tersadar. Seperti yang Talisa harapkan, Chakka memandangnya –benar-benar memandangnya seakan baru terpesona hingga Talisa yang tersipu menjadi salah tingkah. Gadis itu menunduk sambil sesekali tersenyum malu sampai Chakka menjulurkan tangannya, menyambut langkah Talisa yang gugup.
Chakka belum pernah menatapnya dengan cara seperti itu, dan tatapan itu rasanya menggelisahkan. Talisa sedikit takut sepatu tumit yang ia pakai membuat langkahnya berantakan saat menuruni beberapa anak tangga. Tapi, saat ia menerima uluran tangan Chakka ia tak peduli pada sensasi rasa sakit yang muncul akibat belum pernah memakai high heels setinggi 11 cm. Ia tahu ia memaksakan diri membeli sepatu itu hanya untuk satu malam namun ia berjanji suatu hari nanti akan bisa melangkah dengan anggun –layaknya Dara.
Detik-detik ketika ia meraih tangan Chakka seperti sebuah adegan di mana Kate Winslet meraih tangan Leonardo Di Caprio dalam pesta pertama mereka di kapal Titanic. Itu adalah sebuah momentum romantis dengan sedikit rasa Hollywood. Tapi apa yang terjadi awal tidak menentukan bahwa selepas ia menaiki mobil Chakka menuju pesta, ia akan menjadi seorang putri pesta sesungguhnya.
***



Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments