[Ch.7] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Harapan Terakhir

Sangat disayangkan waktu itu aku nggak melihat amukan orang-orang terhadap si kawat gigi Magisa. Sejak pemakaman Ananda, aku enggan datang ke sekolah. Ya, aku menyendiri. Mama kelihatan belum puas sebelum aku menunjukan diriku agar semua orang tahu aku nggak bersalah sehingga dia memaksaku untuk tampil di muka umum dan membuat si kawat gigi Magisa makin terpojok. Bagiku, tanpa Ananda semua itu sudah nggak ada artinya.

Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu di dalam diriku dan nggak punya pilihan selain menemui Pevi.

“Lo udah periksa ke dokter?” Pevi bertanya dengan wajah cemas.

Aku menggeleng. Aku merasa pusing karena memang kurang tidur dan barangkali terserang anemia. Lagipula stress berkepanjangan membuatku sama sekali nggak bernafsu untuk makan. Setiap pagi aku merasa mual sampai muntah beberapa kali.

Karena khawatir, Pevi memberitahu Adrian yang notabene akan menjadi seorang dokter.

Adrian datang dan luar biasa senang ketika melihatku. Namun, rautnya yang bahagia tiba-tiba berubah muram saat memperhatikan wajahku yang pucat.

“Sejak kapan kamu sering mual?” dia bertanya padaku dengan tampang serius seolah sakitku ini sangat berbahaya.

Aku masih berpikiran bahwa hanya dengan beristirahat aku akan membaik. “Aku nggak ingat, tapi sering...,” jawabku. Aku juga cepat lelah tanpa sebab. Dan yang terparah rasa pusing terkadang membuatku harus berbaring seharian di tempat tidur.

Adrian masih menatapku dengan cara yang sama. Antara khawatir dan curiga. Dia membuatku sedikit jengah di saat aku lebih ingin sendiri daripada menjawab pertanyaannya. “Kapan terakhir kali kamu menstruasi?” dia bertanya lagi dan itu membuatku kaget setengah mati. Kenapa dia bertanya begitu?

Pevi mendekat. “Lo nggak telat ‘kan, Sai?” dia ikut bertanya seakan sependapat dengan Adrian.

Aku mencoba mengingatnya lagi dan mulai menghitung. Saat aku menemukan jawaban dari pertanyaan Pevi dan Adrian, aku mulai panik. Itu nggak mungkin. Aku menendang semua memori bersama Sidney namun itu tak dapat membantah kenyataan yang harus kuterima bagaimana pun juga. Aku hamil. Aku memang terkejut, Pevi juga. Tapi, Adrian tampak kecewa lagi. Sejak dia tahu tentang hubunganku dengan Sidney, sikapnya berubah. Aku tahu aku nggak hanya membuatnya patah hati berkali-kali tapi juga menyakiti perasaannya setelah itu dan bahkan aku telah membuat adiknya bunuh diri.

Aku mulai membayangkan bagaimana jika aku melalui ini tanpa Sidney. Aku akui bahwa akulah yang menghindar darinya karena takut kecewa. Namun, saat Pevi memberiku sebuah kertas kecil yang ia dapatkan dari Sidney yang mencariku, aku melihat harapan terakhirku masih ada bersamanya. Dia mengirimiku pesan pada kertas kecil yang bergambar rumah seolah menunjukan bahwa dia adalah tempat bagiku untuk kembali. Aku hampir menangis saat menyadari bahwa pemikiranku salah. Kemudian, aku merasa nggak akan sanggup melalui semua ini tanpanya.

Harapan untuk kembali bersama terlihat kian jelas di pelupuk mata saat aku menuju apartemen Sidney dengan membawa baju-bajuku. Aku tahu Mama nggak akan setuju dengan keputusanku sehingga aku berpikir untuk melarikan diri saja. Dengan naifnya aku sangat yakin setelah aku memberitahu Sidney, dia akan menikahiku. Dia akan membawaku pergi. Ke Australia atau ke mana pun itu. Aku sangat yakin Sidney sedang menungguku kembali padanya.

Tapi, aku keliru.

Dengan riang, aku memencet bel pintunya. Berharap dia akan membukanya dan langsung memelukku begitu dia tahu yang datang adalah aku. Aku sudah nggak bisa menunggu lama untuk memberitahunya. Namun, kejamnya kenyataan menghancurkan semua khayalanku tentangnya. Seorang perempuan asing yang hanya mengenakan baju tidur terlihat di balik pintu.

Aku terpana padanya saat dia mengerutkan dahi dan menanyakan sesuatu; tapi dalam Bahasa Inggris yang sama sekali nggak kupahami. Tapi, melihat akhirnya Sidney muncul juga dengan telanjang dada, membuatku benar-benar mengubur semua keinginan untuk bersamanya.

Ternyata kabar bahwa dia sudah bertunangan itu benar. Perempuan bermata biru dan berambut pirang itu adalah kekasihnya yang lain.

“Saira?!” Sidney memanggil namaku.

Tapi, aku segera pergi. Aku berlari sekencang-kencangnya sambil menghapus air mataku yang nggak bisa berhenti mengalir. Aku nggak pernah menyangka bahwa aku akan melihat hal-hal seperti itu. Aku nggak hanya merasa dikhianati tapi juga telah ditipu mentah-mentah. Seharusnya aku mendengarkan teman-temanku. Namun, penyesalan nggak membuat masa-masa yang harusnya indah menjadi baik. Aku benar-benar tersesat seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya. Aku merangkak dalam kegelapan dan tangisku sendiri cukup lama. Dan di saat terkelamku, Pevi nggak pernah meninggalkanku.

Dia memberiku tempat tinggal karena aku nggak bisa pulang lagi. Mamaku pasti akan mengamuk kalau dia tahu aku hamil. Karena itu aku menghilang dari rumah hanya dengan meninggalkan secarik kertas di atas meja dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku berpesan pada Mama agar jangan mencariku.

***

Aku melewatkan banyak hal yang harusnya kualami di masa-masa terakhirku menjadi anak SMA; pesta perpisahan berlalu begitu saja. Aku juga bahkan absen dari Ujian Nasional. Artinya aku nggak pernah lulus. Aku menghabiskan hariku untuk merenungi semua yang telah terjadi. Badai sudah berlalu namun menyisakan kepedihan yang panjang. Aku tahu semua orang mencariku untuk mengembalikan namaku tapi aku memilih menghindar.

Satu masalah besar selesai, satu masalah yang lebih besar lagi datang. Ah, aku nggak boleh menyebutnya masalah karena ini menyangkut satu nyawa yang hidup dan tumbuh bersamaku; dan berharap untuk terus hidup. Aku tahu aku akan mencintai anak ini lebih dari aku mencintai Sidney dan enam bulan kemudian dia hadir dalam bentuk yang sangat nyata. Seorang bayi kecil laki-laki yang sangat imut dan membuatku menangis saat pertama kali aku memeluknya.

“Satu nyawa pergi, satu nyawa terlahir kembali...,” kata Pevi padaku saat ia menggendong anak lelakiku yang lahir beberapa hari lalu. “Dia manis banget... mirip lo, Sai....”

Aku tersenyum hampa memandangi Pevi. Aku masih belum percaya sembilan bulan telah berlalu tanpa terasa dalam persembunyian. Aku mengingat prosesnya yang panjang sampai akhirnya dia hadir dalam pelukanku dengan rasa sakit yang luar biasa sebagai penguat setiap aku merasa lemah. Setelah anakku lahir, aku akan hidup dengan baik.

“Lo mau kasih nama apa?” tanya Pevi kemudian.

“Gue belum kepikiran, Pev...,”  jawabku murung.

Pevi memandangi wajah bayi itu dengan penuh kasih sayang. “Dia bakal menggantikan Nanda di antara kita,” katanya. “Mungkin dia reinkarnasinya Nanda....”

“Tapi, dia cowok, Pev....”

Tiba-tiba Pevi menghampiriku sambil tetap menggendong si bayi yang sedang tidur pulas. “Eh, Nanda ‘kan suka banget sama bunga matahari. Kita namain anak ini Sunny aja,” usul dia.

Aku tersenyum. “Sunny?”

“Ya, kalau lo mau.”

Aku pun mengangguk. “Sunny,” kataku sambil memandangi putraku.

“Sunny, nama yang lucu...,” gumam Pevi sambil menciumi pipi Sunny dengan gemas. Lalu menatapku. “Oh ya, ngomong-ngomong soal Nanda... rencana kita soal ladang bunga matahari masih tetap ‘kan?”

“Ya, itu permintaan terakhirnya Nanda di catatan bunuh dirinya...,” kataku menjadi sedih secara tiba-tiba.

“Tenang aja,” ujar Pevi. “Gue pasti bisa ngumpulin uang buat ke sana. Lo juga.”

“Pasti....”

Kami saling tatap dan tersenyum. Sama-sama melempar kerinduan yang pedih kepada teman kami yang sudah pergi. Tapi, kesedihan itu seketika sirna ketika memandangi Sunny. Dia adalah matahari yang kembali terbit setelah gelapnya malam membuat kami kehilangan Ananda. Masalah di sekolah sudah selesai. Kelulusan berjalan dengan semestinya tanpaku.

***

“Sai...,” Pevi kembali menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu saat aku sibuk mengganti pakaian Sunny yang baru selesai mandi. “Gue ngerasa kenapa lo nggak kasih tahu Sidney soal Sunny. Gimana pun dia tetap ayanya Sunny.”

Aku pun tersenyum getir. “Dia pasti udah balik ke Australia. Mau dicari ke mana?” balasku. “Lagian mungkin... kayaknya dia udah lupa sama gue....”

Pevi terdiam sejenak sebelum menarik nafas lelah. “Ya, kalau seandainya lo nggak kabur dari Mama lo juga pasti lo punya duit untuk nyari dia ke Australia. Alamat sih bisa dicari...,” komentarnya sambil mencak-mencak. “Semuanya jadi rumit ya?”

“Gue bisa ngurus Sunny sendiri kok,” ujarku.

“Ini bukan masalah sekedar ngurusin anak, Sai...,” kata Pevi.

“Ya, siapa tahu aja Sidney udah menikah sama perempuan itu....” balasku sambil tertunduk.

Pevi mengerutkan dahinya. “Tunggu, kenapa lo jadi putus asa gitu? Gue bilang lo harus ngasih tahu Sidney itu bukan supaya dia mau nikahin lo karena kalian punya anak. Paling nggak Sidney harus tahu dulu. Urusan dia bakal nikahin lo atau enggak juga ‘kan bisa dipikirin nanti....”

Aku menggeleng pelan. “Gue udah nggak mau ngomongin soal dia lagi,” tegasku.

“Iya gue ngerti. Dia itu memang bangsat banget. Bikin gue keki setelah tahu dia kayak ada sesuatu gitu sama si Magisa!” kata Pevi mulai mencak-mencak lagi. “Menjelang magangnya selesai, mereka sering kelihatan bareng. Kayak ada sesuatu. Dan lo tahu apa yang bikin gue lebih jengkel lagi? Si kawat gigi Magisa itu nggak cuma bikin Nanda bunuh diri tapi juga mengambil impiannya Nanda!”

Aku terkejut dan memusatkan perhatianku padanya.

“Iya, Sai! Si Magisa kabarnya mau kuliah di Australia! Dan lo tahu dia ngambil jurusan arsitektur! Persis kayak yang Nanda mau!”

“Mereka mungkin punya pemikiran yang sama karena dulunya sahabatan. Barangkali juga dulu mereka niatnya bisa sama-sama lulus...,” kataku, nggak mau ambil pusing soal si kawat gigi Magisa. Setiap mendengar namanya kepalaku jadi sakit. “Lo ingat ‘kan ritual kita? Itu ‘kan idenya dia dan justru Nanda yang ikut-ikutan....”

“Tapi, ini beda, Sai...,” Pevi meyakinkanku. “Gue sempat ngobrol sebentar sama dia saat ketemu di pengumuman kelulusan. Dia nanya ke gue soal permintaan terakhirnya Nanda. Dia bilang dia mau ke Australia. Abunya Nanda biar dia yang bawa ke ladang matahari yang ada di sana. Gue sebel banget tahu!”

“Terus lo bilang apa lagi?”

“Ya gue bilang aja gue sama lo juga mau ke Australia dalam waktu dekat! Bahkan kita juga udah beli tiketnya.”

“Jadi... si kawat gigi Magisa sekarang udah di Australia?”

“Kurang lebih....”

Aku terdiam sangat lama. Sidney juga sudah kembali ke negaranya. Apa mereka mungkin bertemu lagi? Tapi, bagaimana dengan perempuan di apartemen?

“Kayaknya sih... si Magisa bela-belain ke Australia karena mau ngejar Sidney. Lo ‘kan tahu si nyebelin itu juga naksir cowok brengsek itu. Tapi, pasti dia nggak tahu kalau Sidney udah punya tunangan. Dia bakal tersingkir dengan lebih mudah....”

Aku meragukan hal itu karena nggak yakin Magisa benar-benar sudah berhenti berbohong akan segala hal. Aku sempat melihat dia mengakui kebohongannya di TV. Walaupun hanya dari kejauhan, aku bisa merasakan bahwa dia belum bersungguh-sungguh. Dia melakukan itu hanya karena terpojok. Jika selama aku nggak ada, dia dan Sidney begitu dekat nggak menutup kemungkinan dia masih suka berbohong. Katakanlah Magisa mengaku salah tapi pasti dia nggak berhenti mencoba meyakinkan Sidney bahwa dia memang menyesal sekali. Aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Sidney; sialnya.

Selama ini Magisa hidup dengan memperdaya orang dengan kata-kata yang tanpa perbuatan demi hasratnya yang nggak masuk akal. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi sosok yang mengerikan setelah dewasa; barangkali mendekati psikopat. Orang ini nggak pernah benar-benar menyesali perbuatannya. Dia hanya menginginkan simpati dan perhatian orang-orang karena dulunya dia bukanlah apa-apa.

“Saira?” kehadiran Mama-nya Pevi tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Ada tamu,” kata Mama-nya Pevi padaku.

Aku terkesiap dan Pevi terkejut. Sejak sembunyi aku nggak pernah ketemu siapa pun. Bahkan nggak ada yang tahu bahwa selama beberapa bulan ini aku menumpang tinggal di rumah keluarga Pevi. Mama Pevi juga sangat baik padaku dan mengajariku cara mengurus bayi yang benar.

Tapi, aku bersyukur karena tamu yang datang mencariku hanyalah Adrian.

***

“Sampai kapan?” Adrian bertanya dengan serius padaku setelah kami mengobrol santai tentang apa saja yang terjadi akhir-akhir ini. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama kalinya lagi setelah Adrian tahu kehamilanku dan dia nggak pernah menemuiku lagi sehingga dia membuatku sedikit gemetaran dan grogi. Mengetahui bahwa setidaknya dia masih peduli padaku walaupun aku selalu saja menyakiti hatinya, membuatku bahagia. Dia datang dengan sebuah boneka kelinci putih untuk Sunny.

Aku nggak langsung menjawab pertanyaannya. Aku nggak mengerti dengan apa yang dia maksud dengan ‘sampai kapan’. Aku merasa pertanyaan itu merujuk pada banyak hal yang sekarang berputar-putar di kepalaku. Entah itu pertanyaan tentang sampai kapan aku akan bersembunyi di sini atau mungkin menumpang tinggal dengan keluarga Pevi karena jelas itu sangat merepotkan mereka. Terlebih aku belum bisa menemukan pekerjaan. Bayiku masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal.

“Sampai kapan kamu akan membiarkan dia merasa nggak meninggalkan jejak sedikit pun?” Adrian kembali bertanya dan pertanyaan itu membuatku kembali terdiam.

Cukup lama kemudian, Adrian menghembuskan nafas lelah.

“Kenapa, Saira?” tanya Adrian lagi padaku. “Apa ini karena kamu nggak berdaya untuk pergi menemuinya ke sana?”

Aku menggeleng. Aku nggak pernah mengatakan padanya bahwa aku sengaja menarik diri karena Sidney sudah mempunyai perempuan lain. Hanya itu yang kutahu.

“Aku pikir ini hukuman untuknya atas apa yang dia perbuat...,” jawabku tenang. “Akan lebih baik kalau dia nggak tahu....”

Aku hanya nggak ingin Sidney muncul dengan tunangan yang mungkin sudah menjadi istrinya di hadapanku dan mengembalikan semua kenangan buruk. Selama ini aku berhasil bertahan dengan melupakan bahwa dia mengkhianatiku.

“Artinya kamu belum benar-benar lepas dari kenangan,” Adrian berkata.

“Aku nggak punya waktu untuk memikirkan gimana caranya aku bisa ketemu dia lagi,” tegasku. “Lagian kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal dia? Apa kamu sengaja datang ke sini hanya untuk itu?”

“Aku nggak sepicik itu,” kata Adrian. “Kamu menanggung ini sendirian, Saira!”

“Terus kenapa? Apa kelihatannya aku nggak mampu?”

“Bukan begitu!” suara Adrian mengeras. Dia menatapku lekat-lekat. “Aku sangat menyayangi kamu. Bahkan setelah semua hal yang nggak adil ini terjadi padaku, aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu. Hanya sedikit lagi saja, Saira, aku bisa membuat kamu melupakan dia. Tapi, kamu... kamu mempunyai anak dengan orang itu. Aku merasa bahwa kamu harus memberitahunya. Aku nggak ingin melihat kamu menderita sendiri seperti ini....”

“Aku nggak benar-benar sendirian...,” ujarku bersungguh-sungguh. “Dan aku nggak bisa terus ada di masa lalu....”

Adrian menatapku lagi. Kali ini lebih dalam. “Kamu pikir seperti apa caraku mencintai kamu?” dia bertanya. “Aku bisa saja bilang ingin menikahi kamu dan menjadikan Sunny anakku sehingga kamu nggak perlu sembunyi terus. Paling nggak aku bisa meyakinkan ibu kamu. Tapi, aku yakin kamu nggak menginginkannya karena kamu masih terikat dengan dia. Aku tahu sampai detik ini pun kamu belum bisa melupakannya. Apa aku bisa memaksa kamu?”

Aku masih nggak percaya dengan apa yang aku dengar dari Adrian.

“Aku terus memikirkannya, Saira...,” Adrian masih menatapku dengan cara yang sama. “Aku bukan seseorang yang kamu inginkan untuk berada di sisimu saat ini. Tapi, aku merasa nggak bisa membiarkan kamu sendirian. Dan jika bersamanya, semua penderitaan kamu berakhir, apalagi yang bisa kuberikan selain mengalah? Hanya agar... kamu bahagia?”

“Aku ngerti...,” kataku kemudian. “Aku bahkan nggak mikirin diriku sampai segitunya....”

Adrian berdiri lalu memandangku lagi. “Aku datang ke sini untuk ngasih kamu sebuah penawaran,” kata dia, tegas. Tampaknya dia ingin segera mengakhiri pembicaraan kami. “Aku berharap kamu nggak menerimanya tapi aku pikir akan sangat egois kalau aku terus memaksa kamu untuk bersamaku.”

“Penawaran apa?”

“Kalau kamu mau pergi ke Australia, aku akan mengurus keperluannya. Temui dia dan katakan semuanya!”

Aku terhenyak. Ke Australia? Aku hampir nggak percaya tapi tampaknya Adrian nggak sedang mencandaiku. Aku belum memahami kenapa dia melakukan ini.

“Inilah hal terakhir yang bisa aku lakukan dan setelah itu aku akan berhenti gelisah soal kamu. Meski pun itu artinya aku akan kehilangan kamu. Tapi, memang selama ini aku juga nggak pernah merasa memiliki kamu. Kita nggak akan merindukan sesuatu yang nggak pernah kita miliki, Saira....”

“Apa kamu nggak apa-apa? Aku selalu bikin kamu kecewa dan gimana mungkin... kamu membuka kesempatan untuk dikecewakan lagi dengan cara yang sama? Aku muak ngelakuin itu ke kamu....”

“Lalu jangan lakukan itu lagi...,” katanya, suaranya mulai gemetar.

Aku diam.

“Kamu nggak bisa ‘kan?” desaknya. “Aku sudah siap dengan segala kemungkinan itu....”

“Tapi, kenapa, Adrian?”

Dia mendekat selangkah untuk menatapku lekat-lekat. “Setidaknya aku masih percaya jika sesuatu ditakdirkan untuk kita miliki, dia akan kembali walaupun telah pergi berkali-kali...,” ucap dia dan aku mendengarkan dengan seksama. “Kita nggak pernah tahu takdir kita. Nggak peduli seribu tahun,  cinta tetap akan kembali ke rumahnya... yaitu hati kita....”

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: