๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pertemuan Kembali
Selama ini aku nggak punya gambaran yang pasti tentang bagaimana rupa dan perawakannya. Memori tentangnya tertinggal sangat jauh di masa kecil yang nggak semuanya bisa teringat dengan jelas olehku. Mimpi itu pun hanya berupa kilasan pertemuan dengan seorang pria yang akrab sekaligus asing. Aku mengenalnya dengan sebutan ‘Papa’ meski aku nggak melihat wajahnya. Namun, hari ini aku akan segera bertemu dengannya.
“Dia datang ke sini?” Mama bertanya padaku dengan datar pada pertemuan pagi kami yang biasa.
Aku mengangguk. “Nggak apa-apa ‘kan kalau aku ketemu Papa?”
Mama menatapku tenang sambil menikmati sarapan paginya. “Dia Papa-mu,” katanya. “Memang siapa yang akan menikahkan kamu nanti selain Papa-mu?”
Aku gembira sekali meski nggak lama setelah pembicaraan itu Mama langsung pergi. Aku heran, kapan sih Mama nggak bilang kalau dia harus buru-buru ke kantor? Bahkan dia nggak punya satu menit untukku.
Setelah lama nggak diantar Pak Didi, aku juga nggak mempermasalahkan harus naik bus lagi. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku menolak saat Mama mengajakku naik ke mobil dan berangkat bersama. Mama bisa telat ke kantor kalau harus mengantarku dulu. Rasanya lebih damai saat belajar mandiri. Sebentar lagi aku akan lulus SMA. Tapi, hari ini aku akan bertemu Papa.
Pesawat yang membawa Papa ke sini mendarat sekitar pukul empat sore. Ananda menawarkan bantuan untuk menjemputnya dengan mobil ayahnya yang kebetulan sedang libur. Tapi, dengan syarat Adrian-lah yang menyetir. Pevi juga nggak mau ketinggalan. Akhirnya dia ikut untuk meramaikan suasana di dalam mobil.
Kami bernyanyi di sepanjang jalan dengan gembira. Aku merekam dengan sangat baik bagaimana hari itu begitu menyenangkan sampai lupa caranya menangis; bagaimana ekspresi Ananda yang ceria dan bagaimana Pevi menari-nari dengan tubuhnya yang besar serta bagaimana Adrian sesekali menoleh ke arahku sambil tersenyum.
Aku pikir Adrian masih berharap untuk bisa bersamaku lewat tatapannya. Aku pikir, aku telah melewatkannya dengan memilih Sidney yang pada akhirnya mengecewakanku. Saat kedua temanku terlalu asyik menyanyikan lagu Ungu, aku membalas tatapan Adrian. Sebelum tiba-tiba lagu Ciuman Pertama-nya ungu berubah menjadi lagu dangdut.
“Pandangan pertama, awal aku berjumpa!” Ananda mulai menggodaku.
“Cowok setampan diaaa datang menghampiriku...” sambung Pevi.
Sepertinya Pevi juga sengaja ikut-ikutan menggodaku seakan ia dan Ananda ingin kembali mencoba mencomblangiku dengan Adrian. Kali ini aku mungkin nggak akan menolaknya lagi.
Pokoknya kami bahagia sekali dan kuharap waktu berhenti sampai di sana; karena itulah terakhir kali kami bisa tertawa lepas bersama.
Ku kira pertemuan kembali dengan Papa adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku; itu benar. Aku menghabiskan dua hari bersama Papa karena harus segera kembali. Papa memiliki seorang istri dan tiga orang anak yang harus ia hidupi. Papa jelas nggak sekaya Mama yang punya satu perusahaan dengan ratusan karyawan. Papa hanyalah seorang pegawai biasa yang nggak bisa izin lama-lama dari kantornya. Setelah Papa pulang, aku kembali pada kehidupan sekolahku yang menyebalkan. Tapi, masalah belum berhenti menderaku.
***
Dua hari bolos sekolah, ku pikir nggak ada yang berubah selain dari tatapan sinis orang-orang. Memang menghilangnya aku selama dua hari nggak bikin heboh, tapi cukup untuk membuatku kembali terguncang.
Aku baru saja tiba di kelas dan menaruh tas di kursiku saat Pevi tiba-tiba datang dengan wajah cemas dan sedih.
“Sai, Nanda...,” Pevi terlihat ketakutan sampai ia nggak menjelaskan padaku dengan cepat. “Nanda....”
“Nanda kenapa, Pev?” aku bertanya nggak sabaran. Memang Ananda selalu ceria tapi dia rapuh. Dia pernah di bully habis-habisan dulu sampai nggak berani datang ke sekolah.
“Nanda diancam sama si Magisa,” jawab dia khawatir.
Segera aku mengikuti Pevi ke toilet di mana Ananda tengah menangis karena ketakutan setelah si kawat gigi Magisa berani menyentuhnya.
“Dia bilang apa sama lo?” desakku saat melihat Ananda tertunduk dengan wajah memerah karena terlalu lama menangis.
Ananda nggak langsung menjawab. Lalu aku menoleh ke Pevi yang pasti sudah mendengarnya lebih dulu dari Ananda. Pevi juga ketakutan. Bayangkan mereka ketakutan hanya gara-gara mantan anak cupu yang mendadak terkenal karena fitnah-fitnahnya!
“Magisa... punya foto yang menunjukan kalau kita sedang jual diri, Sai... dia bakal nyebar foto-foto itu kalau kita nggak membubarkan perkumpulan...,” jelas Pevi, dia juga ikut menangis.
“Apa?” aku nggak menyangka mereka ketakutan hanya gara-gara ancaman basi seperti itu?. “Foto apa sih? Memang kapan kita jual diri?”
“Gue nggak tahu, Sai...,” kata Pevi gemetaran. “Dia bisa aja punya. Kayak foto yang dia ambil di belakang catwalk itu....”
“Dia nggak bakal berani ngelakuin itu!” kataku, “dia nggak punya bukti yang kuat!”
“Tapi, dia punya fitnah yang kuat, Sai. Semua orang percaya sama omongan dia...,” kata Nanda yang juga gemetaran. Dia menatapku nanar dan panik. “Harusnya kita kasih tau semua orang kalau perkumpulan kita nggak seperti yang mereka pikirkan....”
“Apa sih maunya tuh orang?! Nanti gue samperin dia!” cetusku kesal.
“Jangan, Sai!” larang Pevi yang mencegatku saat aku akan mencari si kawat gigi Magisa untuk melabraknya. “Selama ini lo aman karena nggak meladeni dia!”
“Yang dia inginkan cuma memimpin perkumpulan itu... karena... karena...” jelas Ananda terbata-bata. “Mengirim surat botol itu adalah... kebiasaan dia yang dulu. Gue kebawa karena kita pernah sahabatan. Dulunya kita sering ngelakuin itu bareng-bareng. Tapi, setelah dia mendadak terkenal, sifatnya banyak berubah. Dia mulai menganggap itu konyol. Dan saat dia tahu kalau di perkumpulan kita ngelakuin itu dia menuntut supaya gue bilang bahwa menghanyutkan botol itu idenya. Kalau nggak dia bakal menghancurkan kita semua.....”
***
Aku menemukan sosok kurus dengan senyum sumringah itu di antara teman-temannya; heran dia punya banyak teman sekarang. Ekspresi mereka semua ketika melihatku adalah sinis dan melecehkan tapi aku nggak peduli. Aku sudah siap menantangnya. Biasanya aku diam untuk menghindari masalah. Tapi, dia sengaja datang untuk menyentuh teman-temanku dan membuat mereka ketakutan. Aku nggak bisa membiarkan orang ini terus berkoar tentang kesalahan yang kulakukan untuk meraih popularitas.
“Lo datang?” dia menegur dengan senyum angkuh itu lagi. Dia bukan lagi sekedar anak cupu menyedihkan yang baru bangkit dari kuburan.
Aku berusaha menjauhinya karena aku sudah mendapatkan banyak masalah gara-gara dia tapi dia seolah menarikku ke pusaran itu. Bagiku, dia seperti hantu penasaran yang mati karena aku membunuhnya. Dia menghantuiku untuk membalaskan dendamnya atas apa yang aku lakukan. Aku akui, aku memang bersalah. Tapi, aku nggak pernah tahu bahwa aku akan membayar kesalahanku dengan harga yang begitu mahal. Aku sudah berusaha semampuku untuk menarik diri darinya setelah fitnah kejam yang membuatku terpukul.
“Lo bilang apa sama Nanda?” tanyaku setengah membentak untuk membuatnya gentar.
Tapi, cewek ini terlalu santai. “Gue bilang apa emang?” balasnya.
“Lo ngancam dia ‘kan?” cetusku. Lalu terkekeh. “Lo sakit hati karena kebiasaan lo itu jadi panutan berkat Nanda sementara lo cuma dikenal sebagai tukang fitnah?”
Ekspresinya berubah kesal. “Jadi dia ngadu ke elo?” tukasnya kemudian tertawa sinis. “Dia tetap ya jadi pengecut yang suka sembunyi di belakang punggung orang? Dan lo datang ke sini cuma buat belain orang yang nggak berguna kayak dia.”
“Justru yang nggak guna itu adalah elo. Coba deh pikir, lo tanpa semua fitnah-fitnah tentang gue itu siapa?” tantangku. “Lo itu cuma paparazzi amatir nggak jelas yang nebeng di popularitas orang. Lo cuma tukang cari sensasi, Magisa. Beruntung, itu cuma gue yang tahu dan gue nggak ikutan jadi penebar fitnah kayak lo! Kalau gue bilang ke orang-orang kalau mading lo itu sampah, lo pasti lebih hancur dari gue! Tapi, kualitas gue sama kualitas lo beda jauh.”
Magisa kelihatan sedikit goyah saat dia menatapku tajam. Dia benar-benar terganggu dengan ucapanku. “Ya iyalah beda jauh. Kualitas lo murahan!” kata dia. “Lo pikir gue nggak tahu lo ngerayu Sidney dengan cara lo yang murahan?”
Aku tertawa. “Murahan lo bilang?!” teriakku. “Masih mending gue murahan, gue bisa ngedapetin Sidney. Daripada lo yang sok baik dan alim cuma bisa memfitnah gue tapi Sidney nggak percaya! Lagian lo itu jelek. Nggak bakal ada cowok yang suka sama lo lebih-lebih lo suka nuduh orang sembarangan!”
Ya, aku berhasil membangungkan amarah Magisa. Dia yang awalnya tampak percaya diri menghadapiku mulai kehilangan sikap angkuhnya.
“Gue, walaupun kelakuannya jelek orang masih suka ngelihat karena gue cantik! Tapi, elo, ngelihatnya aja orang udah males banget, apalagi setelah tahu kalau lo tukang fitnah! Apalagi Sidney!” cercaku sambil menunjuk-nunjuk ke wajahnya. “Lo ngerasa hebat karena semua orang percaya sama omongan lo?! Bohong itu tetap bohong! Sampai kapan sih lo mau ngebohongin orang?!”
“Diem lo, Saira!” jerit dia. Magisa benar-benar di ambang amarahnya sementara aku tertawa. “Ini nggak bakal terjadi kalau seandainya lo nggak pernah nge-bully gue! Orang lain kena getahnya gara-gara elo, tahu?!”
Aku sempat diam sebentar. “Tapi, gue nggak pernah memfitnah elo dan yang lo lakuin ke gue itu lebih jahat dari yang pernah gue lakuin ke elo, Magisa...,” kataku sambil memelototinya. “Jangan pikir gue takut sama lo, gue cuma ingin menunjukan kalau gue nggak sama kayak lo. Lo ngerti, kawat gigi Magisa?”
“Apa salahnya kalian bilang kalau ritual kalian itu idenya gue?” suara Magisa mulai melemah. Aku hampir membuatnya menangis. “Nanda itu sahabat gue! Lo ngeracunin dia supaya berpihak sama lo ‘kan?!”
“Gue nggak pernah minta dia berpihak sama gue! Dia datang ke gue karena salah lo sendiri, tahu?! Otaknya nggak sakit, nggak sama kayak teman-teman lo sekarang yang juga hobi memfitnah orang! Dia sahabat yang baik tapi lo menyia-nyiakan dia. Bukan salah gue sekarang dia dekat sama gue!”
“Lo emang jahat, Sai...,” Magisa tiba-tiba meringis. “Kenapa harus lo?!”
“Gue tahu lo cuma ingin gabung sama kita,” kataku untuk yang terakhir. “Denger ya, sampai kapan pun lo nggak akan pernah jadi salah satu dari kita! Inget tuh!”
Aku membalikan badanku segera sebelum perdebatan dengannya lebih panjang lagi. Aku merasa menang karena berhasil membuatnya takut. Tapi, entah kenapa tiba-tiba Magisa memegangi tanganku.
“Lo apaan sih?! Lepasin gue...,” kataku sambil menoleh dan menepiskan tangannya dengan kasar. Sekilas aku melihatnya tampak memohon di saat yang sama aku menyadari dia kehilangan keseimbangannya. Dan tubuhnya yang kurus kecil di sambut oleh anak tangga di belakangnya.
Aku memang membencinya; berharap dia jera dengan semua kejahatannya. Tapi, sungguh, aku nggak pernah ingin mencelakainya sengaja atau tidak disengaja. Namun, itulah yang kulakukan. Aku menyaksikan dia terhempas berkali-kali menuruni anak tangga dan mendarat di lantai dengan tubuh lunglai. Di saat yang sama aku mendapati Sidney berdiri nggak jauh dari sana disambut oleh anak-anak lain yang menyerbu tubuh Magisa.
***
Aku nggak ingin mengulang bagaimana aku menerima perlakuan orang sejak kejadian itu. Hampir semua orang menyudutkanku; Sidney, Mama, guru dan kepala sekolah ditambah seisi sekolah. Banyak yang mengaku bahwa mereka menyaksikan sendiri bagaimana aku mencelakai Magisa. Aku dengan sengaja mendorongnya sampai jatuh dari tangga hingga koma di rumah sakit. Tuduhan itu terdengar makin menyakitkan saja. Ada yang bilang aku melakukan itu untuk membungkam Magisa agar nggak membongkar kedok Saira’s Squad. Ada pula yang bilang aku membalaskan dendam.
Nggak lama foto-foto yang Magisa pakai untuk mengancam Ananda tersebar luas. Wali murid mulai heboh dengan kabar tentang prostistusi yang menyeret aku dan juga Ananda yang berada di foto itu. Aku nggak tahu siapa penyebar foto itu tapi yang jelas bukan Magisa karena dia masih koma. Aku mencurigai teman-teman di klub madingnya. Ya, mereka pasti juga mempunyai foto itu dan sengaja menyebarkannya untuk membalasku.
“Sai, kita udah nggak bisa tinggal diam!” putus Pevi yang kesal. “Kenapa sih selalu lo yang jadi sasaran?!”
“Pev, udah...,” pintaku berusaha menahan air mataku agar nggak jatuh. Bahkan pada saat yang genting pun aku belum ingin menangis.
“Masalah ini nggak pernah berhenti...,” rengek Ananda yang sama sekali nggak kelihatan tenang. Terutama sejak si kawat gigi Magisa mengancam, Ananda lah yang paling tertekan.
Aku mencoba membelanya tapi malah menimbulkan masalah yang lain. Seakan yang merasa paling terpojok adalah dia. Aku nggak pernah lagi melihatnya ceria.
“Nan, lo harus kuat... kita nggak sendirian...,” ujar Pevi padanya tapi Ananda terus menggeleng membantah semua ucapan kami.
“Gue nggak tahu... apa sih salah gue....” ringisnya sambil memeluk dirinya. “Kenapa mereka... ngelakuin ini ke gue?”
Aku heran. “Mereka siapa, Nand?” tanyaku. “Apa yang mereka lakuin ke lo?”
Ananda hanya terisak. Ia memeluk dirinya sendiri makin erat. Air mata terus mengalir di pipinya yang memerah. Dia menatapku dengan sedih seakan ingin menunjukan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya.
“Ada apa, Nand?” Pevi juga mendesaknya.
Sahabatku, Ananda hanya terisak makin keras sebelum dia menceritakan bahwa kemarin sekelompok anak lelaki menyeretnya ke halaman belakang sekolah setelah jam pulang. Ananda nggak menceritakan dengan detil tentang apa yang anak-anak itu lakukan di sana terhadapnya, namun aku sudah bisa menyimpulkan banyak hal.
***
Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan Ananda bersama Pevi dan mencari anak-anak kelas tiga lain yang dimaksudnya. Darahku sudah berada di kepala. Amarahku sudah berada di ambang batas. Mereka boleh menghinaku, menyebutku murahan atau p*lacur tapi teman-temanku nggak pantas menerima itu. Aku mendatangi kelas mereka dengan kemarahan yang sudah meluap-luap.
“Hei, geng banci!” teriakku hingga seisi kelas melihat ke arahku dengan ekspresi terkejut. “Kalian bener-bener pengecut ya?!”
Salah seorang tertawa meledek. “Wah, datang nih induk ayam!” seru dia di sambut tawa teman-temannya yang lain termasuk semua yang ada di kelas. “Mau apa lo ke sini?”
“Anj*ing lo semua!” cercaku sambil menghampiri mereka. “Kenapa lo beraninya cuma sama Ananda?! Dasar bencong!”
Mereka tertawa bersahutan. Salah seorang berdiri dari kursinya untuk menghampiriku. “Kenapa juga itu jadi urusan lo?!” balas dia.
“Denger ya, gue bakal ngelaporin kalian ke guru!” ancamku.
“Eh, bispak, lo pikir orang-orang bakal percaya sama lo?! Yang ada juga lo disalahin gara-gara lo teman-teman lo jadi murahan kayak lo!” balas dia. “Lo yakin mau koar-koar soal dia? Lo mau bikin teman lo sendiri malu?!”
Mereka membuatku semakin naik darah. “Lo laki apa bencong pake ngancam-ngancam gue?” tantangku.
“Mendingan lo pergi deh dari sini!” kata salah seorang yang lain mengusirku. “Lo pikir ini pasar?!”
“Diem lo, anj*ing!” teriakku.
“Saira Gayatri!” seseorang menegurku hingga aku terkejut bagaikan tersambar petir.
Ketika aku menoleh ke belakang aku menemukan seorang guru baru saja masuk ke kelas itu. Lagi-lagi keberuntungan nggak berpihak padaku. Di saat aku membela temanku, aku selalu mendapatkan masalah yang baru. Kali ini karena bersumpah serapah dengan kasar di kelas lain. Aku kembali dipanggil ke ruang konseling namun kali ini aku melawan.
“Sudah cukup, Saira! Kenapa kamu membuat sekolah ini seperti nggak punya aturan dengan kelakuan kamu itu?!” Bu Tetty meradang. Kepala sekolah berada di belakangnya dan menatapku dengan kesal. “Jangan hanya karena ibu kamu sudah memberikan banyak donasi kamu bisa berbuat sesukanya!”
“Siapa yang sebenarnya berbuat sesukanya, Bu Tetty?” balasku, tanpa gentar sambil berdiri dari kursiku seakan menantang. “Saya atau mereka yang seenaknya menuduh dan melecehkan seseorang yang nggak bersalah?!”
Bu Tetty dan Kepala Sekolah tampak terkejut.
“Apa yang ibu guru tahu tentang mereka?! Apa?!” teriakku.
“Jangan kurang ajar, Saira!” Ibu Kepala Sekolah menghardikku dengan suaranya yang keras tapi nggak mampu menyurutkan amarahku.
“Setelah ini silakan keluarin saya dari sekolah asalkan nama saya bisa bersih dari semua tuduhan yang selama ini bikin saya dihina dan dicaci maki sama orang-orang yang sok tahu!” teriakku. “Saya diam bukan karena saya takut dimarahi, tapi demi melindungi teman-teman saya! Dan lihat apa yang mereka lakuin ke Nanda, Bu! Mereka melecehkan Nanda di halaman belakang sekolah hanya karena berteman dengan saya mereka juga menyebut Nanda p*lacur! Apa ibu tahu itu? Apa ibu mau tahu apa yang terjadi?!”
Dahi Bu Tetty mengerut. “Kamu bilang apa?” ia kelihatan kaget.
“Ibu masih mau bilang kalau ini salah saya?!” cetusku. “Salah saya karena Nanda berteman sama saya?!”
Mereka terdiam. Aku merasa bahwa pengakuanku cukup untuk merubah keadaan yang pada awalnya nggak pernah berpihak padaku. Untungnya mereka percaya dan kemudian mengusut kejadian itu. Ananda dipanggil lalu anak-anak itu untuk memberikan keterangan. Kasus ini bahkan sampai ke polisi karena keluarga Ananda nggak terima.
***
Saat itu aku dan Pevi, juga Adrian berusaha mendampingi Ananda yang nggak pernah mau lagi ke sekolah. Dia nggak ingin bertemu siapa pun sampai-sampai aku dan Pevi juga kesulitan menemuinya. Terpaksa hampir setiap hari kami menunggu di rumahnya untuk memastikan Ananda baik-baik saja.
“Maafin aku...,” kataku pada Adrian atas apa yang terjadi akhir-akhir itu.
Berita tentang Ananda bahkan sudah menjadi headline di kota. Banyak wartawan yang datang ke rumah untuk mencari informasi. Mereka juga sempat menyerangku dengan banyak pertanyaan tapi aku juga menghindar; demikian juga Pevi dan Adrian serta pihak keluarga Ananda.
“Kamu melakukan hal yang benar, Sai...,” dia berujar.
Aku pikir Ananda akan mendapatkan keadilan dan kejadian itu bisa membuka mata semua orang. Aku ingin meluruskan semua tuduhan yang pernah dialamatkan padaku untuk membongkar kebohongan yang pernah Magisa buat. Aku pikir belum terlambat untuk menunjukan siapa diriku yang sebenarnya tapi tanpa disangka Ananda membuat keputusannya sendiri.
Jam dua dini hari telepon di rumahku berbunyi; dari Ananda. Sejak ia mulai mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari, baru kali itu aku bisa bicara dengannya.
“Sai...,” suaranya terdengar sayup hingga aku harus menajamkan pendengaranku.
“Ada apa, Nan?” tanyaku penuh perhatian namun cemas.
Aku mendengarnya menarik nagas; dari tarikan nafas itulah aku tahu bahwa ia tengah menangis lagi.
“Makasih ya, lo udah jadi sahabat gue selama ini...,” katanya. “Sampai saat ini gue nggak nyangka bisa sahabatan sama lo....”
“Lo ngomong apa sih, Nan? Biasa aja. Gue juga senang punya sahabat kayak lo,” ujarku.
“Gue dan Magisa kagum banget sama lo. Itu awalnya kenapa kita berusaha untuk deketin lo. Walaupun Magisa udah jadi musuh bebuyutan lo seumur hidup, paling nggak gue bisa tahu kalau lo nggak seperti yang kita kira sebelumnya. Lo cewek yang punya pendirian yang kuat dan sekali lo memiliki sesuatu lo menjaganya dengan baik....” katanya lagi. “Gue senang pernah kenal dengan Saira yang kayak gitu, bukan Saira yang angkuh, jutek dan nyebelin....”
“Jangan bilang gitu, Nan. Gue jadi merasa bersalah....”
“Nggak apa-apa, Sai... gue ngerti... lo cuma kesepian dan sedih....”
“Sebentar lagi semua ini selesai, Nan. Lo harus tabah. Sebentar lagi semua juga tahu kebenarannya. Lo nggak perlu ketakutan lagi....”
Nggak ada jawaban dari seberang hingga aku kembali gelisah.
“Nan?” panggilku. “Oh iya, Nan, gue sama Pevi punya rencana setelah lulus nanti kita mau ke Jepang, ke ladang bunga matahari dan otomatis lo juga harus ikut. Lo nggak perlu pikirin tiket atau hotel, semuanya gue yang atur. Gimana?”
Tapi, tetap nggak ada jawaban. Hening dan sunyi. Aku berusaha untuk memanggil tapi Ananda nggak menjawabku. Firasat burukku semakin menjadi karena lima menit kemudian juga Ananda masih diam. Dengan nekat aku membangunkan Pak Didi supaya mengantarku ke rumahnya.
Aku menggedor-gedor pintu membangunkan semua orang yang malam itu tengah tertidur. Adrian membuka pintu dengan rambut acak-acakan dan terkejut melihatku.
“Saira? Ngapain kamu datang malam-malam begini?” dia bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku menyerobot masuk dan menuju kamar Ananda. Aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali dengan tidak sabaran.
“Nanda?! Nanda!” panggilku hingga semua orang terbangun dan heran melihatku.
“Ada apa, Sai?” tanya Adrian padaku.
“Nanda barusan telepon aku! Aku takut dia kenapa-napa!” jawabku sambil tetap memukul-mukul pintu yang terkunci dari dalam. “Nan, buka pintunya!”
Tapi, Ananda nggak mau membuka pintunya.
Berikutnya Adrian terpaksa mendobrak pintu itu karena setelah cukup lama, Ananda nggak menggubrisku. Malam itu kami dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa Ananda telah tiada. Kami menemukan dia tergantung di langit-langit kamar dan sudah nggak bernyawa.
***
Aku menyesal atas pengakuanku dan mulai menyalahkan diriku karena yang membuat Ananda bunuh diri adalah rasa malu setelah semua orang kini tahu ia dilecehkan. Seandainya aku nggak melaporkan kejadian itu ke guru, orang-orang nggak akan tahu apa yang menimpanya, Ananda nggak akan menanggung malu yang begitu besar. Ananda nggak akan mati.
Banyak kejadian telah membuatku terpukul. Namun, kematian Ananda membuatku benar-benar mengalami kemunduran. Aku menjauhi semua orang karena merasa bersalah. Aku yang membuatnya bunuh diri dan nggak pernah memaafkan diriku walaupun setelah kematian Ananda yang menjadi headline membuat Magisa keluar dari persembunyiannya dan mengakui semua kebohongannya. Aku nggak merasa memenangkan apa pun. Aku kehilangan sahabat terbaikku; aku kehilangan seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku dari kesedihan panjang.
Komentar
0 comments