[Ch.4] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Lelaki Pertama

Setiap aku membantah ucapan Sidney, dia lebih memilih diam untuk menghindari perdebatan. Mungkin itu cara terbaiknya menghadapi kemarahanku yang kadang sama sekali nggak beralasan. Misal aku marah karena dia dia terlambat menjemputku dengan alasan ada banyak yang harus dia kerjakan di sekolah atau saat di mobil dia sama sekali nggak bicara dan aku mulai merajuk nggak jelas untuk memancing perhatiannya.

“Kamu bosan?” aku bertanya sambil menoleh ke arahnya.

Sidney menyetir dengan serius; yang paling mengesalkan bagiku saat itu adalah dia nggak mau memandangku. “Nggak,” jawab dia datar.

“Terus kenapa kamu diam?”

Lagi-lagi nggak ada jawaban. Dia membuatku sedikit berkecil hati karena begitu Sidney diam, nggak akan ada lagi pembicaraan berarti di antara kami. Hingga kemudian, handphone-nya berbunyi. Dia meraihnya dan melihat panggilan itu sebentar lalu menatapku. Aku nggak tahu kenapa dia kelihatan cemas, tapi dia tetap saja mengangkat telepon itu. Sayangnya, dia bicara dalam Bahasa Inggris; tahu sendiri, kemampuan Bahasa Inggrisku di bawah rata-rata alias sama sekali nggak bisa. Jadi, aku hanya menunggu sampai dia selesai. Pembicaraannya hanya sebentar dan kesimpulannya, Sidney tampak buru-buru mengakhirinya.

“Siapa?” tanyaku.

Dia menatapku, masih dengan tatapan cemas itu. Aku belum pernah melihat Sidney cemas atau khawatir akan sesuatu. Dia orang yang segala tindak tanduknya terstruktur dengan rapi. Jadi hampir nggak mungkin aku melihatnya cemas apalagi takut.

Dia memberiku jawaban yang cukup lama. “Adikku...,” katanya dan aku nggak lagi bertanya.

Andai aku tahu bahwa itu adalah tunangannya.

Putus asa karena sikap itu, aku merasa begitu lemah. Aku belum pernah menangis karena sesuatu yang sepele namun saat itu hampir saja aku meneteskan air mata di hadapannya. Aku menoleh ke sampingku sekali lagi; berusaha untuk merasakan bahwa orang ini benar-benar ada untukku tapi aku mulai meragukannya. Namun, meragukannya  pun, apa dayaku?

Akhirnya tetesan yang kubenci itu jatuh juga dari pelupuk mataku. Bahkan aku sudah berusaha membendungnya. Aku juga menahan nafas agar Sidney nggak mendengar kalau aku menangis. Tapi, saat aku nggak bisa menahannya lagi, nafasku sesak dan air mataku semakin membanjir. Sidney melihatnya dan dia kembali terlihat khawatir.

Oh, akhirnya aku mendapatkan perhatiannya lagi.

“Aku nggak bisa mengatakan apa yang aku pikirkan karena pasti kamu nggak bisa mengerti dari sudut pandang kamu, Saira...,” dia berujar saat kemudian dia memberhentikan mobil dan kami kembali berbicara. “Ada hal yang nggak bisa aku paksakan ke kamu....”

Aku hanya terisak.

“Aku mengerti selama ini kamu sendirian,” sambung dia. “Tapi, aku nggak mau memanfaatkan itu untuk memenuhi egoku sendiri. Kamu masih sekolah dan aku harus menjaga agar hubungan ini nggak merugikan kamu atau pun aku....”

“Jadi kamu salah memilih orang?” aku semakin nggak tahan mendengarnya.

“Bukan begitu...,” ujarnya sambil membelai kepalaku lembut. “Aku menjaga kamu karena aku sangat menyayangi kamu....”

“Aku bisa jaga diri sendiri...,” celetukku. “Selama ini aku juga sendirian. Apa bedanya?”

“Terus apa mau kamu?” Sidney bertanya setelah dia menarik nafas panjang.

Aku menatapnya lekat-lekat dan balas bertanya, “Menurut kamu, kenapa kita bisa begini?”

Sidney mengerutkan dahinya. Tampak nggak mengerti dengan pertanyaanku.

“Kamu nggak suka nyium cewek sembarangan ‘kan?” aku bertanya lagi dan Sidney membelalak karena kaget. Kepalaku tertunduk namun aku mencoba mendekat menyandarkan kedua lenganku di dadanya. Aku ingin dia memelukku karena pikiranku mulai kacau. Aku bahkan nggak tahu apa yang ada di kepalaku. “Aku ngerasa... kita begini... karena kamu nggak melihatku sebagai anak kecil. Aku ... biarin kamu mendekat karena aku senang ada orang yang memahami aku. Bahkan Mama-ku sendiri nggak tahu kalau aku ingin cepat dewasa.”

“Umur memang nggak mempengaruhi kedewasaan seseorang, Sai,...” katanya dengan pelan. Dia nggak kunjung merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya di saat aku ingin. “Tapi, umur mempengaruhi cara bagaimana orang lain melihat diri kita. Itulah yang akan membuat kita dalam masalah. Kamu harus tahu, kedewasaan  dinilai dari cara kita menghadapi sesuatu bukan dari cara merokok atau berpacaran. Kalau kamu seperti ini, kamu belum berpikiran dewasa....”

Faktanya bukan kedewasaan seperti itu yang aku maksud. Lagipula aku memang belum dewasa. Yang kulakukan selama ini hanyalah supaya ‘terlihat dewasa’. Aku hanya ingin bersamanya karena aku kesepian dan aku belum pernah bertemu orang yang bisa membuatku tertawa. Tapi, tertawa saja nggak cukup bagiku. Aku mulai bertingkah seperti ini karena merasa bahwa bukan hanya aku yang dia perlakukan dengan manis; Magisa juga. Itu benar-benar membuatku putus asa.

Jawaban Sidney membuatku sedikit kecewa hingga aku menarik diriku darinya. Ia menatapku datar dan aku merasa mulai kehilangan sosoknya. Aku sangat takut hingga perasaanku mengambil alih diriku. Dia mungkin lupa kalau aku gadis gila yang sudah nggak peduli dengan harga dirinya karena seseorang sudah menghancurkan hidupnya.

“Saira?” Sidney melotot saat aku melepas kancing seragamku satu persatu.

Aku melakukan hal itu karena seragam ini yang membuatnya selalu memanggilku anak kecil. Segala sesuatu tentang sekolah lah yang membuat dia begitu hati-hati terhadapku. Untuk itu aku menanggalkan semuanya agar dia melihatku sebagai seorang gadis sama seperti pertama kali dia menciumku. Tak puas melepas seragam, aku menciumnya dengan paksa hingga dia benar-benar nggak bisa menolakku lagi. Aku tahu itu gila dan berlebihan, namun dia nggak mengerti bahwa aku cemburu. Itu saja.

Sejak itulah semuanya mulai keluar dari jalur tanpa kendali penuh.

***

Di sekolah, aku kembali menjadi siswa nakal yang terkadang dilecehkan secara verbal oleh teman sekelasnya. Aku masih memakai rok di atas lutut dan terlihat berbeda dari yang lain.

“Lo mau ke mana, Saiang?” seorang anak lelaki menegurku saat aku lewat di depan kelas mereka. “Lihat dikit dong!”

Aku menoleh padanya dengan gusar sambil mengacungkan jari tengah dan kemudian berlalu.

“Dasar cewek murahan!” seru mereka setelah aku cukup jauh.

Mereka membuatku kesal sampai ke ubun-ubun. Tapi, aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan mengabaikan suara tawa mereka yang mengesalkan. Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu. Aku juga sudah biasa dipandangi sepanjang jalan hanya karena seragamku berbeda. mereka menilai sesuatu dari luarnya saja dan membuat drama mereka sendiri terhadap orang lain; seakan aku begitu murahan karena seragam yang kukenakan. Setidaknya sebelum mengenal Sidney, aku nggak pernah disentuh siapapun. Aku menjaga diriku dengan baik.

Sekarang, aku mulai muak dengan diriku. Aku yang nggak pernah lepas dari tatapan sarkastis dan sinis, bahkan dari orang-orang yang sama sekali nggak mengenali diriku. Hubunganku dengan Sidney juga bukan hubungan yang bisa kubanggakan kepada Ananda dan Pevi setelah aku mengakui bahwa aku benar-benar jatuh cinta dengan orang ini. Mungkin, mereka benar tentang Sidney tapi aku nggak berani menceritakan kegelisahanku.

Aku... merasa nggak berguna. Magisa muncul secara tiba-tiba untuk memperburuk suasana hatiku. Kami kebetulan berpapasan saat aku ingin pergi ke toilet.

Magisa baru saja keluar dari toilet dan melihatku. Dia tersenyum ramah dengan penuh percaya diri memperlihatkan Magisanya yang masih dipagari kawat gigi. Aku mengabaikannya dengan melewatinya begitu saja. Aku juga muak dengan senyum ala malaikat miliknya itu.

“Ngomong-ngomong, sejak kapan lo sama Ananda temenan?” dia bertanya dan itu benar-benar memancingku untuk membalikan badanku.

Inilah yang aku takutkan.

Si kawat gigi Magisa pun tampaknya masih punya banyak kata-kata pamungkas yang membuatku melotot padanya. “Dan... sejak kapan melempar botol ke laut bisa mengabulkan permohonan?” sambungnya. “Gue nggak percaya, Nanda masih percaya aja sama hal konyol begitu.”

Aku belum mengatakan apa-apa dan hanya memandangnya dengan gusar. Aku menahan diriku agar nggak menjambak rambutnya dan membuatnya menjerit kesakitan. Sekali aku berurusan dengannya lagi, aku pasti akan mendapatkan masalah yang lebih besar.

“Kalian sadar nggak sih, itu sama aja mengotori laut dengan sampah. Kalau kalian mau cita-cita tercapai, harus belajar dan jangan kebanyakan mimpi!” tandas dia, lalu tertawa. “Khusus buat lo, Saira, kalau lo mau ngedapetin Sidney, mendingan lo godain aja dia pakai body lo yang seksi. Bukannya itu bakat alami lo?”

Kalau saja dia nggak menghancurkanku sebelum ini, sudah pasti aku akan membuatnya jera. Tapi, aku takut. Setiap perbuatan yang kulakukan padanya akan memantul padaku dengan kuat. Aku hanya mengepalkan tanganku, menahan amarahku hanya untuk nggak menampar dia. Pada akhirnya aku hanya membiarkan dia pergi sembari mendengarkan tawanya.

Hari itu aku nggak membolos lagi. Aku mengikuti pelajaran sampai selesai walaupun aku lagi-lagi nggak memahaminya. Sebelum pulang aku menyempatkan diri ke ruang konseling untuk melihat Sidney. Aku hanya ingin tahu apa yang dia lakukan. Dia pernah bilang sedikit kesulitan dengan tugasnya dan waktunya mulai menipis. Tapi, kelihatannya dia nggak kesulitan lagi. Seseorang selain Bu Tetty membantunya mengumpulkan bahan penelitian.

Mereka tampak sibuk menyatukan kertas-kertas dan menggarisi halaman buku. Walaupun aku tahu bahwa orang itu adalah orang yang kubenci, aku merasa nggak pantas untuk marah. Mereka bisa terlihat bersama dengan mudah sementara aku? Aku harus menunggu di luar seperti seorang pengecut. Tapi, aku sudah nggak ingin lagi seperti itu.

Marah pun tidak tahu harus kepada siapa. Semuanya adalah salahku. Aku bermesraan dengannya di mobil dan berakhir di apartemennya. Itu nggak hanya sekali karena aku datang padanya setiap merasa gelisah. Hanya dia yang bisa menenangkanku tapi di sisi lain ada hal yang nggak bisa kupenuhi: Sidney berusaha membantuku dengan membuatku berterus terang tentang segalanya. Aku nggak bisa melanggar janji pada teman-temanku.

***

“Gimana kita bisa menjalani sebuah hubungan kalau kamu masih penuh dengan rahasia?” Sidney bertanya padaku dan aku hanya tertunduk di tempat tidur, berusaha menghindari tatapannya yang membuatku takut.

Janji adalah janji. Aku bisa saja mengatakan padanya bahwa perkumpulan itu bahkan bukan ideku. Mereka menamainya dengan namaku hanya karena aku ada di sana. Janji kami menguatkan kami satu sama lain. Aku sudah meyakinkan Sidney bahwa aku nggak pernah menyebutnya dengan nama Saira’s Squad. Tapi, dia tetap ingin tahu karena di sekolah mulai beredar kabar bahwa aku mencuci otak gadis-gadis itu dan membawa mereka seperti diriku.

Beberapa jam lalu kami bertemu di dekat sekolah dan pergi ke apartemennya. Aku memang sempat merasa bahwa sikap Sidney agak acuh padaku tapi dia nggak menolak saat aku menciumnya dan membawaku ke ranjangnya. Aku pikir, aku bisa sedikit menghibur tapi saat dia mulai membicarakan apa yang dia dengar di sekolah tentangku, Sidney mulai nggak tenang. Lalu semuanya menjadi seperti ini.

Sidney mulai mondar-mandir dengan kesal. “Katakan, Saira!” desak dia sambil mendekat dan menggenggam kedua bahuku. “Gimana aku bisa melindungi kamu kalau begini? Aku bahkan nggak tahu apa-apa!”

Tapi, aku diam. Aku nggak bisa mengatakan padanya bahwa aku nggak peduli sekalipun semua orang membenciku asalkan dia tetap bersamaku.

Aku tahu Sidney mulai bosan padaku dan mempertanyakan apakah ini karena hampir setiap hari kami bersama. Karena meladeniku, Sidney hampir nggak punya waktu untuk menyelesaikan penelitiannya. Akhir-akhir ini aku memang jarang melihatnya duduk di depan komputer. Salahku  nggak membiarkan dia memegang buku atau komputer. Aku membuat dia melupakan semua itu dengan tubuhku.

Ya, keinginanku terhadapnya memang nggak bisa dikendalikan. Orang bilang pubertas, tapi aku merasa seperti wanita dewasa. Barangkali aku sudah terpengaruh oleh film-film Hollywood yang sering ku tonton. Aku melihat berbagai adegan percintaan yang panas dan membuatku ikut gerah. Perasaan seperti itu terbawa setiap sedang bersama Sidney dan tanpa sadar aku memulainya. Sidney pernah menolakku tapi setelah dia menyentuhku sekali, dia nggak bisa menahan diri lagi. Terlebih setelah merasakan bagaimana Sidney membuatku menjerit di tempat tidur, ada semacam perasaan ingin mengulangnya lagi. Aku ingin menguasai dirinya sejak dia berkata mengagumiku; kecantikanku, tubuhku dan gerak-gerikku. Aku pikir aku memegang kendali saat Sidney tunduk pada setiap ucapanku hingga ia mulai tampak tertekan oleh keadaan di sekitarnya. Sebenarnya aku hanyalah gadis kecil yang sok tahu.

“Jawab, Saira!” Sidney mengguncang bahuku dan ia membuatku takut. “Ada apa sebenarnya? Apa yang kamu lakukan?!”

“Aku nggak melakukan apa-apa,” kataku memohon. “Kenapa kamu mulai seperti mereka? Kenapa kamu juga mulai beranggapan kalau aku melakukan kesalahan?”

“Itu karena aku nggak tahu apa pun!” dia membalasku dengan setengah berteriak. “Kamu selalu di sini, bersamaku, tapi aku nggak tahu apa-apa soal kamu! Apa yang membuat kamu nggak mau menceritakannya sama aku?! Aku percaya kamu tapi kamu sepertinya nggak bisa mempercayaiku!”

“Saira’s Squad atau apa pun yang mereka bilang tentang aku itu nggak ada hubungannya dengan kita, Sid...,” kataku, berusaha merendahkan suaraku karena mulai menyadari sifatnya yang seperti ini; pemarah. “Bukannya aku lebih banyak menghabiskan waktu sama kamu? Buat aku kabar itu sama sekali nggak penting. Aku bisa mengatasinya karena ini bukan pertama kalinya aku dituduh aneh-aneh.”

“Tapi, buat ku penting, Saira! Itu sangat penting! Kalau memang nggak ada sesuatu yang harus aku cemaskan, apa salahnya kamu bilang ke aku?!”

“Aku nggak bisa bilang,” aku kembali memohon padanya saat Sidney kembali menatapku dengan tatapan itu. “Aku janji untuk nggak bilang siapa pun....”

“Benar ‘kan kamu terlibat dengan kelompok itu?” desak dia lagi.

Aku kembali tertunduk. Sebelum memberanikan diri untuk menegaskan bahwa aku nggak bisa mengecualikan dia untuk rahasia teman-temanku. “Kelompok itu nggak ada hubungannya dengan kita. Lagian aku bilang pun kamu nggak akan ngerti,” balasku, menatapnya dengan memohon agar dia berhenti mendesakku. “Sama kayak tugas kamu yang aku sama sekali nggak ngerti. Aku juga nggak pernah mau tahu kenapa kamu sampai melibatkan si kawat gigi Magisa untuk membantu kamu ngerjainnya....”

“Tesis-ku dan apa yang kamu lakukan itu adalah dua hal yang berbeda! Kamu harus tahu itu!” Sidney membentakku. Ya, aku sudah membangunkan amarahnya. Dia hampir membuatku menangis  “Kenapa kamu malah bawa-bawa orang lain dalam masalah kita?!”

“Kita nggak punya masalah, Sid!” tegasku, dengan suara gemetaran. “Kamu sendiri yang menganggapnya masalah. Bukannya aku bilang semua yang dituduhkan ke aku itu nggak ada hubungannya dengan kita. Biar aja orang lain bilang aku ini mencuci otak anggota Saira’s Squad, mengajak mereka ke jalan yang salah... karena semua itu sama sekali nggak benar....”

Sidney terlihat menarik nafas panjang sebelum mendekat lagi untuk yang terakhir. “Dengar, kalau kamu berpikiran ada sesuatu antara aku sama Magisa, kamu salah,” kata dia dan aku tertunduk ketakutan di hadapannya. “Justru karena kamu tertutuplah, aku harus mencari tahu dari orang lain tentang apa yang terjadi!”

“Tapi, bukan dari orang kayak dia!” celetukku lalu menatapnya. Air mataku sudah jatuh melewati pipiku “Dia pernah menuduhku, kamu tahu itu ‘kan?”

“For God’s sake, Saira, katakan saja semuanya agar aku tenang dan perdebatan ini selesai!” Sidney kembali membentakku.

Aku menangis. Perlahan aku merasakan bahwa sebenarnya aku telah menggantungkan kebahagiaanku di tangannya. Aku memikirkan alasan tentang kenapa Sidney kemudian mengusirku dari apartemennya hari itu. Dari sekian banyak alasan yang paling memungkinkan, aku sedikitnya percaya bahwa satu-satunya yang paling masuk akal adalah tesis-nya yang belum selesai di saat waktunya menipis. Karena itu dia kesal padaku.

Air mataku terus mengalir deras seperti sungai di musim hujan. Sidney nggak akan pernah tahu bahwa aku menangis sepanjang perjalanan pulang dari apaetemennya setelah dia berkata bahwa dia memikirkanku terlalu banyak sampai dia mengabaikan semua hal dan aku nggak membantunya dengan berterus terang agar dia berhenti merasa cemas. Dia mencoba membantuku tapi aku malah menyulitkannya.

Setibanya di rumah, aku mengurung diriku di kamar mandi di bawah guyuran air selama berjam-jam. Mungkin sudah terlambat untuk menangisinya sekarang, namun aku menyesal telah memberikan segalanya. Siraman air dingin itu nggak akan bisa mencuci bersih diriku dan noda-noda yang melekat pada tubuhku. Aku mulai paham kenapa Mama nggak mengizinkanku berpacaran, karena takut hal ini terjadi. Kalau Mama tahu apa yang sudah kulakukan, dia pasti sangat kecewa padaku. Aku merasa sangat berdosa padanya. 

Aku memang bodoh. Benar-benar sangat tolol. Aku merasa kalau saja aku nggak jatuh cinta padanya, aku nggak akan patah hati sesakit ini. Pertanda demi pertanda bahwa Sidney akan mencampakanku sudah mulai terlihat dan sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk mundur. Aku menarik diriku darinya.

Malam nggak pernah terasa semenyedihkan ini sebelumnya. Aku menyalakan TV dan DVD untuk memutar Ice Age lagi. Sidney Adams memang sudah membuatku menangis tapi Sidney si kukang pasti akan membuatku tertawa. Namun, hanya 10 menit film itu diputar aku malah mematikannya dan kembali meringkuk di bawah selimut.

Satu tempat berpegangan telah lepas dan aku jatuh terhempas sangat keras dalam kesedihan. Aku punya teman-teman tapi aku nggak bisa menceritakan ketololanku pada mereka karena itu justru akan mempermalukanku. Lalu dalam gelap aku mulai memikirkan langkah selanjutnya. Masa-masa SMA-ku akan segera berakhir kurang dari enam bulan lagi. Setelah Sidney menyelesaikan tugasnya dia akan kembali ke negaranya. Lalu apa yang akan aku lakukan?

Aku membutuhkan seseorang untuk memelukku dengan hangat. Tanpa kusadari aku tertidur bersimbah air mata lalu bermimpi bertemu seseorang. Papa.

***

Seperti biasanya, Mama-ku sibuk dengan telepon di telinga. Aku sudah bersiap sejak mendengar suara langkah kaki menuruni tangga karena yakin itu pasti Mama yang tergesa-gesa harus ke kantor. Padahal masih jam enam pagi dan dia sudah harus pergi.

Aku duduk di meja makan dan menatap ke arahnya ketika dia sudah tiba.

“Kamu nggak sarapan?” tanya dia menginterupsi pembicaraannya di telepon lalu mulai mengedarkan pandangan ke penjuru dapur; sepertinya Mama mencari Mbok Ijah yang harusnya sudah membuatkan sarapanku.

“Aku udah sarapan, Ma...,” jawabku tenang dan memperlihatkan bahwa sarapan wajibku sudah habis. Aku nggak ingin Mama marah terlebih dahulu hanya gara-gara aku nggak mau makan makanan bergizi anjurannya.

Mama tampak langsung percaya dan ia kembali melihat sekelilingnya. “Mbok Jah!” dia berteriak dengan keras sampai wanita berusia sekitar 57 tahun itu muncul dari pintu belakang.

“Ya, Nya...,” sahut Mbok Ijah yang buru-buru menghampiri Mama.

“Bikinin saya sarapan,” kata Mama sambil duduk di kursi yang ada di depanku. Dia kembali melanjutkan pembicaraan dengan stafnya di telepon.

Selagi Mbok Ijah menyiapkan sarapan untuk Mama, aku menatap Mama lekat-lekat lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Aku harus bertanya pada Mama sebelum pergi tanpa harus menunggunya pulang larut malam nanti.

“Apa Mama tahu Papa di mana?” tanyaku dengan suara lantang.

Mama yang langsung mendengarnya tiba-tiba melotot. Dia terdiam sampai kemudian mematikan teleponnya begitu saja tanpa permisi. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya?” dia balas bertanya.

“Aku cuma mau tahu...,” jawabku. “Selama ini aku nggak pernah nanya karena nggak mau Mama marah....”

Mama masih menatapku dengan caranya; tenang dan datar. “Mama nggak perlu marah kalau soal itu,” dia berkata. “Kalau memang ini saat yang tepat di mana kamu harus tahu, kenapa Mama harus marah?”

“Kenapa dia pergi?” aku memberikan pertanyaan lain.

Mama terkekeh. “Kenapa kamu menatap Mama seolah kamu curiga kalau Mama yang bikin Papa kamu nggak tahan dan pergi?” balasnya sinis.

“Ma, aku nggak mau berantem sama Mama pagi-pagi...,” tegasku. “Aku nggak bisa nyalahin Mama sementara aku nggak tahu apa-apa ‘kan?”

“Oke, Saira, Mama tahu,” kata dia menghela nafas. “Papa kamu pergi saat umur kamu masih lima tahun dan sampai detik ini nggak pernah muncul lagi. Tapi, dia masih hidup dalam keadaan sehat walafiat.”

Aku mendengarkannya dengan baik sementara Mbok Ijah menaruh sarapan Mama -roti isi yang sama denganku- di atas meja. Mama membuatku nggak sabar dengan memilih menghabiskan sepotong demi sepotong rotinya dan bertingkah amat misterius di depanku daripada menjawab pertanyaanku dengan singkat.

“Tadi kamu nanya dia di mana sekarang?” Mama bertanya dengan santai sambil menusuk potongan roti berikutnya dengan garpu sebelum ia memakannya.

Aku menunggu lagi sampai Mama selesai mengunyah; Mama seolah mengulur waktu hingga makin ketahuan kalau dia benar-benar nggak mau membahas tentang Papa.

“Papa kamu kembali ke kampung halamannya,” jawab Mama. “Mungkin punya anak-anak dengan istrinya yang sekarang dan hidup bahagia.”

“Papa.... menikah lagi?” aku sedikit syok mendengarnya.

Mama nggak menjawabku. Lalu berdiri dari kursinya dan bersiap untuk pergi. Bahkan Mama belum menjawab semua pertanyaanku.

“Mama?” aku memanggilnya untuk memintanya tinggal beberapa saat lagi untuk menjelaskan alasan mengapa ayahku pergi dari kehidupan kami dan nggak pernah menemuiku.

“Mama buru-buru, Saira,” hanya itu yang dia katakan sambil melangkah menuju teras depan rumah.

Aku sangat kecewa dengan Mama yang menjadi begitu acuh di saat aku benar-benar butuh penjelasan darinya.

“Pak Didi!” Mama berteriak lagi dan langkahnya amat cepat.

“Mama!” panggilku, setengah berlari mengikuti kecepatannya. “Kenapa Mama nggak mau bilang sama aku?!”

“Ceritanya panjang, Saira. Mama bisa telat ke kantor,” jawabnya.

“Mau berangkat sekarang, Nya?” tanya Pak Didi yang sudah siap dengan mobil di depan teras.

“Iya, Pak Didi,” jawab Mama cepat sambil masuk ke mobil begitu Pak Didi membukakan pintunya.

“Ma?!” aku kembali memanggilnya.

Pak Didi yang selalu nggak berkutik di depan Mama pun juga langsung naik mobil. Aku hampir menangis saat kupikir Mama akan langsung pergi. Tapi, mobilnya masih belum bergerak walau mesin sudah menyala. Nggak lama Mama turun dari mobil itu dan menghampiriku.

“Mama sudah muak disalahkan atas kepergian Papa-mu,” kata dia padaku. “Tekanan yang Mama rasakan setelah dia sangat luar biasa di saat yang sama Mama harus membesarkan kamu seorang diri.”

Aku menatap Mamaku yang juga nggak bisa menyembunyikan kesedihannya saat dia memberiku secarik kertas kecil yang baru ia tulisi sebuah nomor telepon.

“Kamu bakal mengerti kenapa kita hanya berdua, Saira,” sambung Mama setelah aku menerima kertas itu dengan tangan gemetaran. “Setelah kamu menanyakannya sendiri ke Papa-mu....”

Setelah itu Mama kembali ke mobil. Pintunya ditutup, Pak Didi langsung melajukan mobil sementara aku tertegun sangat lama di depan pintu dan mengingat ekspresi ibuku tepat sebelum ia pergi. Mama juga hampir menangis; sepertiku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments