[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 9 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

HE WILL BE LOVED~

Talisa terjangkit penyakit aneh. Suka gelisah sendiri. Mondar-mandir tidak jelas. Kehilangan nafsu makan. Tidur tidak nyenyak. Kepalanya selalu memutar kenangan di pantai siang itu sedangkan hatinya berharap hal itu akan terulang sekali lagi; meski masih terasa mustahil.
“Memangnya kalian sudah jadian?” Onny bertanya –dari tatapan sarkastisnya, Talisa yakin yang terlihat sedang ia lakukan ini adalah salah.

“Jadian?” Talisa heran. Menurutnya, Onny hanya tidak tahu saja bahwa mereka sudah lebih dekat dari yang sebelumnya. Menurut teori pendekatan yang Talisa tahu, laki-laki hanya pergi dengan seseorang yang dia sukai. Walaupun Chakka memang suka bepergian dengan sembarang wanita cantik tapi Talisa sangat yakin Talisa lebih istimewa dibandingkan mereka. Karena Talisa sadar dia tidak cantik. Ia melihatnya terluka dan kesakitan serta membuatnya tidak menangis di saat Chakka terlihat ingin melakukannya. Tidak pernah ada orang lain yang pernah melakukan itu padanya bahkan termasuk Dara.
“Ya,” Onny masih menatap Talisa dengan tatapan geli itu. “Apa dia bilang sesuatu sebelum pergi?”
“Sesuatu apa?”
Gadis berambut keriting itu menghela nafas lelah. “Aku suka kamu, yuk kita jadian,” jelas Onny. “Kata-kata semacam itu. Chakka itu ‘kan playboy.”
Talisa tertawa. “Aku berbeda, Onny.” Ia meyakinkan Onny. “Dia nggak akan mengatakan hal yang sembarangan padaku ....”
“Sok tahu!” celetuk Onny, mulai kesal. “Itu penting, Talisa. Itu sebuah pengakuan!”
“Ya, tapi aku lebih percaya sikap daripada ucapan.”
“Sikap apa?” tanya Onny, menyipitkan mata seakan tidak percaya ucapan Talisa.
“Ya sikap yang menunjukan kalau dia punya perasaan yang sama,” jawab Talisa menatap Onny dengan sangat yakin.
“Contohnya?” pertanyaan Onny meruncing dan Talisa jadi bingung.
Apa harus dijelaskan bahwa Chakka pernah memeluk dan memegang tangannya saat di mobil?
Memang tidak ada sesuatu yang lebih dari itu. Tapi, kalau dia tidak punya perasaan padanya kenapa Chakka melakukan itu?
Onny menghela nafas lagi. Lalu berdiri dari kursinya. Tampak bergegas ingin kembali ke ruangannya. “Jangan suka ge-er sendiri kalau kamu belum bisa memastikan,” kata dia. “Coba pikir pakai logika, dia baru saja ditolak dengan cara yang menyakitkan sehari sebelumnya. Walaupun dia mengajak kamu jalan bareng, belum tentu dia sudah melupakan orang yang dia cintai sejak kecil, kecuali ....”
“Kecuali apa?” Talisa mengerutkan dahinya; tidak suka Onny mulai tidak sependapat dengannya.
“Kecuali dia mau menjadikan kamu pelarian karena patah hati,” jawab Onny cepat dan itu kedengaran menusuk. “That’s it!”
“Dia bukan tipe yang suka memanfaatkan orang kok,” Talisa menghampiri Onny, meyakinkannya lagi bahwa pendapatnya lah yang salah. Menurut Talisa, hanya Onny saja yang tidak mengenal Chakka.
Whatever-lah ...,” kata Onny, sambil mengumpulkan kotak makan siangnya yang sudah kering setelah dicuci lalu membawanya pergi.
“Onny?” Talisa hanya menyaksikan Onny berlalu dari hadapannya dan heran sendiri dengan sikapnya sejak Talisa bercerita soal Chakka; selalu sarkastis.
Apakah sesuatu yang Onny lihat tapi tidak bisa  Talisa lihat itu?
***
“Aduh!” Talisa terkejut saat merasa ada yang membukul kepalanya. Tidak sakit tapi benar-benar membuat semua yang ia pikirkan buyar.
Tapi, melihat Chakka tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, Talisa benar-benar lupa kalau Onny marah padanya karena tidak mendengarkannya –itulah yang sedang  Talisa pikirkan.
“Kamu lagi apa sih?” tegur dia berisyarat agar Talisa melihat mesin fotokopi yang sedang bekerja.
Ya Tuhan! Talisa seegera sadar bahwa benda itu dari tadi terus menyalin selembar surat di scanner-nya. Talisa pasti salah memencet tombol sampai mesin itu terus mem-fotokopi surat itu sampai belasan kali.
Chakka tertawa saat Talisa memencet tombol STOP segera dengan panik. “Kamu melamun apa sih?” tanya dia, tapi terdengar meledek. Dia hanya tidak tahu saja, bagi Talisa bertengkar dengan sahabat itu hampir sama rasanya berterngkar dengan pacar –bagi orang yang belum pernah berpacaran.
Talisa menarik nafas panjang. Memunguti lembaran kertas  yang sudah terfotokopi itu dengan lelah. Ini sih namanya membuang-buang kertas.
“Kamu tahu ada berapa banyak pohon yang ditebang untuk bikin satu rim kertas?” tanya dia, kedengarannya mulai menyalahkan Talisa yang langsung tertunduk. Setelah kembali ke kantor dan suasana normal, sebagai atasan mungkin Chakka akan menceramahinya soal kertas-kertas yang terbuang itu. Chakka pun menunjuk sebuah pengumuman di dinding yang bunyinya :
1 TON KERTAS = 400 RIM = 200.000 LEMBAR.
1 Rim kertas A4 menghabiskan sebatang pohon berusia 5 tahun
 Untuk memproduksi kertas, dibutuhkan 3 ton kayu dan 98 ton bahan baku lain.
Setiap jam, dunia kehilangan 1.732,5 hektare hutan kayu karena ditebang untuk dijadikan bahan baku kertas.
Chakka sepertinya sangat peduli lingkungan.
Talisa berusaha untuk terlihat menyesal. “Maaf, aku nggak sengaja ...,”
“Kamu lagi nggak sehat?” dia bertanya, mungkin melihat tampang Talisa yang cemberut dan kecerahannya sedikit berkurang. Tapi gadis itu menggeleng.
Gejala itu kembali datang –jantung berdebar tidak karuan sampai-sampai sulit bernafas, dan Talisa juga khawatir Chakka melihatnya.
“Aku nggak kenapa-napa ...,” jawab Talisa masih tertunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Talisa benar-benar tidak ingin Chakka tahu apa yang ia rasakan.
“Kamu berbohong lagi ya?” dia mulai mendesak.
Talisa menggeleng-geleng. Wajahnya terasa panas. Lama-lama berdiri di dekatnya, Talisa bisa kehilangan nafasnya sendiri.
“Itu nggak adil, tahu?” protes Chakka tiba-tiba. “Aku memberitahu kamu apa saja tapi sepertinya kamu masih saja tertutup. Ayo bilang, ada apa?”
Talisa masih menggeleng. “Nggak ada apa-apa?”
“Hm ...,” dia mendekat dan Talisa mulai tegang. Keringat dingin mulai membasahi setiap jengkal kulitnya.
Ah, mau apa dia?
“Aku tahu, kamu pasti mempunyai masalah dengan seseorang!”
“Nggak,” Talisa bersikeras, sambil menjauh.
Kenapa dia jadi begitu memperhatikan Talisa?
Ia sama sekali tidak siap! Oh Tuhan, kenapa aku jadi takut dengan apa yang kuinginkan?
Chakka mendekat selangkah. Mungkin Talisa benar-benar kelihatan seperti sedang punya masalah dan dia mencoba untuk tahu. Talisa baru sadar bahwa mereka sudah semakin dekat.
“Chakka!” suara itu membuat keduanya terkejut.
Dara terlihat di ambang pintu ruang fotokopi, menatap kemari. Ekspresinya tampak terkejut –mungkin Talisa dan Chakka adalah kombinasi paling aneh yang pernah ia lihat.
“Ya?” Chakka langsung membalikan badan sambil menyahut. “Apa?”
“Kamu sedang apa?” Dara kedengaran tidak sadar. Dia memandangi Chakka dengan wajah kesal. “Kita ada rapat! Kenapa kamu masih di sini sih?!”
“Ada yang harus di fotokopi, kamu lihat?” balas Chakka tidak kalah ketus sambil memperlihatkan selembar kertas di tangannya.
Dara melangkah ke dalam, perhatiannya tertuju pada Talisa. “Kamu,” dia menegurnya dengan nada suara tinggi. “Mana surat yang saya suruh fotokopi tadi?”
Talisa segera menyodorkan salah satu lembaran dari mesin foto kopi. “Ini,” Talisa berkata dan Dara mengambil kertas itu dengan kasar dari tangannya.
Lalu wanita itu langsung pergi. Tapi, tiba-tiba menoleh lagi, masih dengan ekspresi kesal –entah pada Talisa atau Chakka. Setelah dia menghilang Talisa menghembuskan nafas lega. Semakin hari dia semakin mengerikan saja. Sedangkan Chaka semakin ramah, semakin membuatnya bertanya-tanya.
Setelah Chakka selesai menggandakan berkas miliknya, mereka segera meninggalkan ruang fotokopi. Talisa mengikuti langkah Chakka dengan perasaan berdebar sambil memandangi pungungnya. Talisa pun tersenyum –hanya pada saat Chakka tidak melihatnya Talisa bisa tersenyum pada lelaki yang disukainya itu.
Tapi, Dara tiba-tiba muncul lagi. Sosoknya yang hampir sama tinggi dengan Talisa terlihat berdiri di ujung koridor. Dia menoleh ke arah Talisa; baru saja menangkap senyum di wajahnya. Memandang dengan kesal, Cara seolah menyadari bahwa senyum Talisa itu memang untuk Chakka yang berjalan tepat di depannya.
Chakka mungkin tidak tahu itu. Ia terus saja melangkah, menghampiri Dara yang berdiri di depan pintu ruang pertemuan. “Aku datang!” kata lelaki itu terdengar sebal, lalu masuk. Dara masih berdiri di ambang pintu dan matanya masih mengawasi Talisa yang harus berbelok dan menuruni tangga.
Talisa tidak ingin dihujam terlalu lama dengan tatapan itu. Ia tidak melakukan kesalahan yang mengganggunya; ia merasa tidak merampas kekasih wanita itu. Chakka memang baik padanya, apa Talisa harus menolaknya? Lagipula nenek sihir itu sudah menolak Chakka dengan kejam!
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments