๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
HE WILL BE LOVED~
Talisa
terjangkit penyakit aneh. Suka gelisah sendiri. Mondar-mandir tidak jelas.
Kehilangan nafsu makan. Tidur tidak nyenyak. Kepalanya selalu memutar kenangan
di pantai siang itu sedangkan hatinya berharap hal itu akan terulang sekali
lagi; meski masih terasa mustahil.
“Memangnya
kalian sudah jadian?” Onny bertanya –dari tatapan
sarkastisnya, Talisa yakin yang terlihat sedang ia lakukan ini adalah salah.
“Jadian?”
Talisa heran. Menurutnya, Onny hanya tidak tahu saja bahwa mereka sudah lebih
dekat dari yang sebelumnya. Menurut teori pendekatan yang Talisa tahu,
laki-laki hanya pergi dengan seseorang yang dia sukai. Walaupun Chakka memang
suka bepergian dengan sembarang wanita cantik tapi Talisa sangat yakin Talisa
lebih istimewa dibandingkan mereka. Karena Talisa sadar dia tidak cantik. Ia
melihatnya terluka dan kesakitan serta membuatnya tidak menangis di saat Chakka
terlihat ingin melakukannya. Tidak pernah ada orang lain yang pernah melakukan
itu padanya bahkan termasuk Dara.
“Ya,”
Onny masih menatap Talisa dengan tatapan geli itu. “Apa dia bilang sesuatu
sebelum pergi?”
“Sesuatu
apa?”
Gadis
berambut keriting itu menghela nafas lelah. “Aku suka kamu, yuk kita jadian,”
jelas Onny. “Kata-kata semacam itu. Chakka itu ‘kan playboy.”
Talisa
tertawa. “Aku berbeda, Onny.” Ia meyakinkan Onny. “Dia nggak akan mengatakan
hal yang sembarangan padaku ....”
“Sok
tahu!” celetuk Onny, mulai kesal. “Itu penting, Talisa. Itu sebuah pengakuan!”
“Ya,
tapi aku lebih percaya sikap daripada ucapan.”
“Sikap
apa?” tanya Onny, menyipitkan mata seakan tidak percaya ucapan Talisa.
“Ya
sikap yang menunjukan kalau dia punya perasaan yang sama,” jawab Talisa menatap
Onny dengan sangat yakin.
“Contohnya?”
pertanyaan Onny meruncing dan Talisa jadi bingung.
Apa
harus dijelaskan bahwa Chakka pernah memeluk dan memegang tangannya saat di
mobil?
Memang
tidak ada sesuatu yang lebih dari itu. Tapi, kalau dia tidak punya perasaan
padanya kenapa Chakka melakukan itu?
Onny
menghela nafas lagi. Lalu berdiri dari kursinya. Tampak bergegas ingin kembali
ke ruangannya. “Jangan suka ge-er sendiri kalau kamu belum bisa memastikan,”
kata dia. “Coba pikir pakai logika, dia baru saja ditolak dengan cara yang
menyakitkan sehari sebelumnya. Walaupun dia mengajak
kamu jalan bareng, belum tentu dia sudah
melupakan orang yang dia cintai sejak kecil, kecuali ....”
“Kecuali
apa?” Talisa mengerutkan dahinya; tidak suka Onny mulai tidak sependapat
dengannya.
“Kecuali
dia mau menjadikan kamu pelarian karena patah hati,” jawab Onny cepat dan itu
kedengaran menusuk. “That’s it!”
“Dia
bukan tipe yang suka memanfaatkan orang kok,” Talisa menghampiri Onny,
meyakinkannya lagi bahwa pendapatnya lah yang salah. Menurut Talisa, hanya Onny
saja yang tidak mengenal Chakka.
“Whatever-lah ...,” kata Onny, sambil
mengumpulkan kotak makan siangnya yang sudah kering setelah dicuci lalu
membawanya pergi.
“Onny?”
Talisa hanya menyaksikan Onny berlalu dari hadapannya dan heran sendiri dengan
sikapnya sejak Talisa bercerita soal Chakka; selalu sarkastis.
Apakah
sesuatu yang Onny lihat tapi tidak bisa
Talisa lihat itu?
***
“Aduh!”
Talisa terkejut saat merasa ada yang membukul kepalanya. Tidak sakit tapi
benar-benar membuat semua yang ia pikirkan buyar.
Tapi,
melihat Chakka tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, Talisa benar-benar lupa
kalau Onny marah padanya karena tidak mendengarkannya –itulah yang sedang Talisa pikirkan.
“Kamu
lagi apa sih?” tegur dia berisyarat agar Talisa melihat mesin fotokopi yang
sedang bekerja.
Ya Tuhan! Talisa seegera sadar bahwa benda itu
dari tadi terus menyalin selembar surat di scanner-nya.
Talisa pasti salah memencet tombol sampai mesin itu terus mem-fotokopi surat
itu sampai belasan kali.
Chakka
tertawa saat Talisa memencet tombol STOP segera dengan panik. “Kamu melamun apa
sih?” tanya dia, tapi terdengar meledek. Dia hanya tidak tahu saja, bagi Talisa
bertengkar dengan sahabat itu hampir sama rasanya berterngkar dengan pacar
–bagi orang yang belum pernah berpacaran.
Talisa
menarik nafas panjang. Memunguti lembaran kertas yang sudah terfotokopi itu dengan lelah. Ini
sih namanya membuang-buang kertas.
“Kamu
tahu ada berapa banyak pohon yang ditebang untuk bikin satu rim kertas?” tanya
dia, kedengarannya mulai menyalahkan Talisa yang langsung tertunduk. Setelah
kembali ke kantor dan suasana normal, sebagai atasan mungkin Chakka akan
menceramahinya soal kertas-kertas yang terbuang itu. Chakka pun menunjuk sebuah
pengumuman di dinding yang bunyinya :
1 TON KERTAS = 400 RIM = 200.000 LEMBAR.
1 Rim kertas A4 menghabiskan sebatang pohon berusia 5 tahun
Untuk memproduksi
kertas, dibutuhkan 3 ton kayu dan 98 ton bahan baku lain.
Setiap jam, dunia kehilangan 1.732,5 hektare hutan kayu
karena ditebang untuk dijadikan bahan baku kertas.
Chakka
sepertinya sangat peduli lingkungan.
Talisa
berusaha untuk terlihat menyesal. “Maaf, aku nggak sengaja ...,”
“Kamu
lagi nggak sehat?” dia bertanya, mungkin melihat tampang Talisa yang cemberut
dan kecerahannya sedikit berkurang. Tapi gadis itu menggeleng.
Gejala
itu kembali datang –jantung berdebar tidak karuan sampai-sampai sulit bernafas,
dan Talisa juga khawatir Chakka melihatnya.
“Aku
nggak kenapa-napa ...,” jawab Talisa masih tertunduk, menyembunyikan rona merah
di wajahnya. Talisa benar-benar tidak ingin Chakka tahu apa yang ia rasakan.
“Kamu
berbohong lagi ya?” dia mulai mendesak.
Talisa
menggeleng-geleng. Wajahnya terasa panas. Lama-lama berdiri di dekatnya, Talisa
bisa kehilangan nafasnya sendiri.
“Itu
nggak adil, tahu?” protes Chakka tiba-tiba. “Aku memberitahu kamu apa saja tapi
sepertinya kamu masih saja tertutup. Ayo bilang, ada apa?”
Talisa
masih menggeleng. “Nggak ada apa-apa?”
“Hm
...,” dia mendekat dan Talisa mulai tegang. Keringat dingin mulai membasahi
setiap jengkal kulitnya.
Ah,
mau apa dia?
“Aku
tahu, kamu pasti mempunyai masalah dengan seseorang!”
“Nggak,”
Talisa bersikeras, sambil menjauh.
Kenapa
dia jadi begitu memperhatikan Talisa?
Ia
sama sekali tidak siap! Oh Tuhan, kenapa
aku jadi takut dengan apa yang kuinginkan?
Chakka
mendekat selangkah. Mungkin Talisa benar-benar kelihatan seperti sedang punya
masalah dan dia mencoba untuk tahu. Talisa baru sadar bahwa mereka sudah
semakin dekat.
“Chakka!”
suara itu membuat keduanya terkejut.
Dara
terlihat di ambang pintu ruang fotokopi, menatap kemari. Ekspresinya tampak
terkejut –mungkin Talisa dan Chakka adalah kombinasi paling aneh yang pernah ia
lihat.
“Ya?”
Chakka langsung membalikan badan sambil menyahut. “Apa?”
“Kamu
sedang apa?” Dara kedengaran tidak sadar. Dia memandangi Chakka dengan wajah
kesal. “Kita ada rapat! Kenapa kamu masih di sini sih?!”
“Ada
yang harus di fotokopi, kamu lihat?” balas Chakka tidak kalah ketus sambil
memperlihatkan selembar kertas di tangannya.
Dara
melangkah ke dalam, perhatiannya tertuju pada Talisa. “Kamu,” dia menegurnya
dengan nada suara tinggi. “Mana surat yang saya suruh fotokopi tadi?”
Talisa
segera menyodorkan salah satu lembaran dari mesin foto kopi. “Ini,” Talisa
berkata dan Dara mengambil kertas itu dengan kasar dari tangannya.
Lalu
wanita itu langsung pergi. Tapi, tiba-tiba menoleh lagi, masih dengan ekspresi
kesal –entah pada Talisa atau Chakka. Setelah dia menghilang Talisa
menghembuskan nafas lega. Semakin hari dia semakin mengerikan saja. Sedangkan
Chaka semakin ramah, semakin membuatnya bertanya-tanya.
Setelah
Chakka selesai menggandakan berkas miliknya, mereka segera meninggalkan ruang
fotokopi. Talisa mengikuti langkah Chakka dengan perasaan berdebar sambil
memandangi pungungnya. Talisa pun tersenyum –hanya pada saat Chakka tidak
melihatnya Talisa bisa tersenyum pada lelaki yang disukainya itu.
Tapi,
Dara tiba-tiba muncul lagi. Sosoknya yang hampir sama tinggi dengan Talisa
terlihat berdiri di ujung koridor. Dia menoleh ke arah Talisa; baru saja
menangkap senyum di wajahnya. Memandang dengan kesal, Cara seolah menyadari
bahwa senyum Talisa itu memang untuk Chakka yang berjalan tepat di depannya.
Chakka
mungkin tidak tahu itu. Ia terus saja melangkah, menghampiri Dara yang berdiri
di depan pintu ruang pertemuan. “Aku datang!” kata lelaki itu terdengar sebal,
lalu masuk. Dara masih berdiri di ambang pintu dan matanya masih mengawasi
Talisa yang harus berbelok dan menuruni tangga.
Talisa
tidak ingin dihujam terlalu lama dengan tatapan itu. Ia tidak melakukan
kesalahan yang mengganggunya; ia merasa tidak merampas kekasih wanita itu.
Chakka memang baik padanya, apa Talisa harus menolaknya? Lagipula nenek sihir
itu sudah menolak Chakka dengan kejam!
.jpg)
Komentar
0 comments