๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
PESTA
Seminggu menjelang pesta Onny sudah tidak
pernah terlihat sampai bagian personalia repot-repot mengeluarkan surat
peringatan karena tidak ada kabar dari gadis itu. Dua hari sebelum pesta,
akhirnya bagian personalia menerima surat pengunduran Onny yang artinya dia berhenti
secara tidak hormat. Talisa menyadari hal itu ia lakukan untuk menyinggung Dara
dan Chakka, juga menunjukan kekecewaannya pada Talisa yang tidak pernah meminta
maaf. Bahkan Talisa juga tidak pernah menghubunginya untuk menunjukan bahwa ia
peduli.
Seperti biasa orang-orang kembali berbicara
satu sama lain. Membicarakan banyak keburukan yang terlihat oleh mata mereka.
Kantor terasa seperti ruang kelas yang diisi oleh anak-anak yang jahil seperti
menertawai kebodohan seseorang dan membicarakannya sampai beberapa episode
sebelum mereka membuat episode yang baru dan itu tidak pernah ada habisnya. Semakin
mereka banyak bicara, semakin asing mereka bagi Talisa yang mencoba untuk
menjauh terutama dari suara sumbang mereka.
Kali ini mereka menertawakan hal yang
berbeda dari Talisa yang berjalan ke mana-mana dengan kertas bertuliskan ‘Aku
sudah gila’ –mereka melihatnya seperti itu. Mereka tertawa lebih keras karena
tahu bukan salah seorang dari mereka yang memasang kertas itu diam-diam di
punggung gadis malang itu, tapi karena memang Talisa sendiri lah yang
memasangnya.
Tapi, dia tidak peduli.
Di hari yang sama ketika ia menyesal
membuat Onny harus berhenti dari pekerjaannya, ia menerima sebuah hadiah.
Hadiah yang semakin melambungkan angannya tentang sebuah pesta di mana Cinderella
pernah berdansa dengan pangeran tampan. Sebuah gaun berwarna kuning dalam
sebuah kotak yang ia temukan pagi-pagi sekali di atas meja kerjanya. Ia hampir
tidak percaya Chakka membelikannya barang mahal yang mungkin saja tidak
tersedia di butik mana pun di kota ini.
“Ini bukan ulang tahunku!” kata dia saking
girangnya sampai ia ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, ia terlalu malu
melakukannya. Namun yang pasti gaun itu jauh lebih indah dari gaun-gaun yang
pernah mereka lihat di butik tempo hari.
Gaun dengan panjang Selutut dan berwarna
kuning pucat dengan Kristal-kristal kecil di bagian dada.
“Itu dikirim langsung dari Jakarta. Kamu
suka?” tanya Chakka padanya, seakan berbangga hati telah membuat Talisa
melupakan kegelisahaannya tentang Onny.
Talisa mengangguk-angguk. Ia tidak pernah
merasa istimewa sebelum ia mendapatkan gaun itu. Dia tidak pernah membayangkan
betapa indah hidupnya saat ini. Maka ia mulai banyak bermimpi karena percaya
semua harapan akan terkabul karena ia berusaha.
Percikan api seakan membias saat Chakka
tersenyum. Seperti kembang api yang berpendar di kelamnya malam. Mengusir rasa
takutnya akan kejamnya orang-orang berwajah datar di luar sana dan selalu
mengintainya seperti gagak yang kelaparan. Talisa tidak ingin menjadi bangkai
di antara mereka.
Ia ingin membuktikan dengan sedikit rasa
percaya diri yang ada di dalam dirinya bahwa ia pantas untuk berdiri di samping
Chakka –paling tidak dalam pestanya di mana orang-orang sudah membayangkan Dara
akan menjadi ratunya. Tapi, Talisa adalah putri yang sesungguhnya. Dia ingin
menunjukan bahwa dia gadis yang berbeda sekarang.
***
Chakka akan menjemput pada jam enam –satu
jam sebelum pesta dimulai. Talisa sudah menongkrongi salon kecantikan sejak jam
empat. Karena belum bisa berdandan ia mengandalkan jasa sebuah salon ternama di
kota untuk mengubahnya menjadi seorang putri. Namun melihat sosoknya yang
terpantul di cermin, Talisa seakan melihat orang yang berbeda. Dandanan itu
membuatnya terkesima pada dirinya sendiri. Seketika terbesit pemikiran bahwa ia
harusnya melakukan ini sejak lama, supaya Chakka memandangnya dengan sudi.
Supaya Chakka melupakan wanita yang kata-katanya menyakitkan itu.
Saat jam dinding hampir menunjukan jam
tujuh, Talisa mulai berdebar. Ia menatap ke pintu dengan gelisah setiap kali
setelah melirik jam dinding. Ia juga malu menelpon Chakka untuk memastikan
keberadaannya. Ini pesta pertamanya dan ini adalah penampilan terbaiknya. Ia
berusaha menenangkan dirinya.
Lalu telepon itu akhirnya berbunyi. Nada
singkat sebuah pesan masuk. Chakka hanya menuliskan. “Aku sudah di depan salon.
Kamu sudah selesai?”
Talisa mengangguk-anggguk. Ia tak perlu
membalas pesan itu. Ia segera berdiri dari kursi tanpa perlu melihat ke cermin lagi
untuk memastikan bahwa make up nya belum luntur hanya karena Chakka terlambat
hampir satu jam. Pestanya pasti sudah dimulai.
Lelaki itu terlihat berdiri di depan pintu
kaca. Talisa mulai memelankan langkahnya walaupun hatinya buru-buru sekali
hendak menaiki mobil yang saat ini terlihat seperti kereta kencana dengan
beberapa ekor kuda putih. Beberapa saat Chakka tida melihat ke dalam salon
sampai Talisa mendorong pintu itu dan Chakka mendengar suaranya membuka pintu. Ketika
lelaki itu menoleh, ia menemukan seorang gadis asing di hadapan matanya. Gadis
yang rambutnya yang berombak tergerai panjang melewati bahu
Awalnya dia hanya menatap dengan biasa,
sampai Talisa menyapanya. “Hai,” dengan suara manis.
Tanpa bersuara, Chakka menatap tidak
percaya. Ia mengenali suara yang menyapa itu dan tiba-tiba tersadar. Seperti
yang Talisa harapkan, Chakka memandangnya –benar-benar memandangnya seakan baru
terpesona hingga Talisa yang tersipu menjadi salah tingkah. Gadis itu menunduk
sambil sesekali tersenyum malu sampai Chakka menjulurkan tangannya, menyambut langkah
Talisa yang gugup.
Chakka belum pernah menatapnya dengan cara
seperti itu, dan tatapan itu rasanya menggelisahkan. Talisa sedikit takut
sepatu tumit yang ia pakai membuat langkahnya berantakan saat menuruni beberapa
anak tangga. Tapi, saat ia menerima uluran tangan Chakka ia tak peduli pada
sensasi rasa sakit yang muncul akibat belum pernah memakai high heels setinggi
11 cm. Ia tahu ia memaksakan diri membeli sepatu itu hanya untuk satu malam
namun ia berjanji suatu hari nanti akan bisa melangkah dengan anggun –layaknya
Dara.
Detik-detik ketika ia meraih tangan Chakka
seperti sebuah adegan di mana Kate Winslet meraih tangan Leonardo Di Caprio
dalam pesta pertama mereka di kapal Titanic. Itu adalah sebuah momentum
romantis dengan sedikit rasa Hollywood. Tapi apa yang terjadi awal tidak
menentukan bahwa selepas ia menaiki mobil Chakka menuju pesta, ia akan menjadi
seorang putri pesta sesungguhnya.
***
Pesta telah dimulai satu jam saat mereka
tiba. Semua orang tampak menikmati makan malam di round table sambil mendengarkan live
music dari sebuah grup band. Pesta itu sudah ramai sekali oleh undangan
–kolega, rekan bisnis hingga karyawan yang berdiri di dekat meja prasmanan
menikmati dessert aneka rasa.
Pertama kali Talissa menginjakan kakinya di
ballroom, ia sempat menarik nafas panjang sebelum melangkah lebih dalam.
Bergabung dalam keramaian sambil sesekali memperhatikan sekeliling. Beginilah pesta
itu. Untuk sesaat ia mengabaikan Chakka yang memilih berpisah darinya sejenak
karena harus menghampiri keluarganya.
Talisa masih sibuk mengawasi sekitarnya,
mencari tempat kosong untuk dirinya dan Chakka. Namun, ia terkejut saat melihat
bahwa Chakka sudah menemukan tempatnya –meja yang sama dengan keluarga Dara di
mana ada ayah dan ibu beserta saudara-saudaranya. Tampaknya sebuah kursi khusus
untuk Chakka sudah disiapkan dan karena inilah Chakka akhirnya mau datang ke
pesta. Mereka menunggu anak angkat kesayangan mereka datang. Sementara Chakka
sedang mengobrol dengan keluarganya, termasuk juga Dara yang duduk di
sebelahnya, Talisa masih berdiri di tengah. Memandang ke tempat yang tak bisa
ia datangi.
Beberapa orang yang menyadari kehadirannya
menoleh dan kembali saling bicara. “Eh, lihat itu ...” di sambut beberapa
pasang mata yang mengawasi seolah di balik gaun indahnya yang menakjubkan
Talisa sedang membawa bom yang sebentar lagi akan meledak.
Talisa masih berdiri di sana, sepertinya
tak ada tempat kosong baginya untuk duduk. Seolah tak ada yang bersedia
memberinya tempat walaupun kakinya terasa begitu pegal. Chakka juga sepertinya
lupa mereka datang bersama. Tiba-tiba ia teringat pada Onny.
Ah seandainya saja ia dan Onny tidak
bertengkar, pasti ia tidak akan sendirian begini. Mereka akan duduk di salah
satu round table, memakan apa saja yang
mereka temukan di meja prasmanan tanpa peduli orang-orang akan mencemooh mereka
rakus. Tapi, kenyataannya Onny tidak akan pernah ada lagi di pesta mana pun. Talisa
mulai menyesal tidak membela Onny di saat Chakka memaki sahabatnya, karena
itulah ia kehilangannya.
Sekelompok orang yang tidak mengenalnya
mulai melirik ke arahnya. Talisa terlihat seperti gadis yang salah masuk ke
ruang pesta di mana tampaknya ia tak mengenal siapa pun. Ia melihat sekitarnya
dengan bingung dan kesakitan. Sepatu hak tinggi yang menopang keseluruhan
penampilannya mulai membuatnya panik. Talisa tidak bisa berdiri di sana lebih
lama namun tak ada yang peduli sekali pun dia adalah yang paling cantik.
Lama-lama Talisa mulai tidak betah degan
sorot mata yang menelanjanginya seakan mereka bisa melihat menembus gaun kuning
yang dia kenakan. Ia memaksakan dirinya untuk melangkah pergi dengan tertatih.
Kakinya terasa pegal dan sakit sampai ia ingin melepas sepatu itu namun ia
harus bersabar sampai berhasil keluar.
Dirinya bukan Cinderella yang ketinggalan
sebelah sepatunya hanya karena pangeran yang sedang mengejar. Talisa adalah
Cinderella yang gagal ketika ia melepas sepatu itu dari kakinya yang memerah di
depan pintu masuk ballroom. Ia sempat diperhatikan oleh beberapa tamu yang baru
datang dan hendak masuk. Ada yang tertawa geli, ada juga yang heran saat Talisa
menenteng sepatu itu menuju restroom dengan wajah cemberut.
***
Tetesan air mata terasa hangat di pipinya
meski ia tidak melihat ada bara api ketika berkaca. Dandanan salon itu sudah
luntur. Polesan maskara dan eyeliner-nya belepotan di sepanjang lingkar mata. Namun
seakan tak puas air mata tidak kunjung berhenti. Satu jam sudah ia berada di
dalam toilet wanita duduk di atas kloset memandangi sepatu pestanya.
Apa arti semua ini? Ia mulai
bertanya-tanya. Sementara Chakka yang tidak merasa kehilangan, belum
menghubunginya. Mungkin ia terlalu menikmati saat-saat bersama keluarganya. Apa
yang bisa Talisa lakukan? Ia menatap langit-langit untuk menahan air matanya,
namun ia tidak bisa menengadah berlama-lama karena matanya perlu berkedip. Dan
setiap ia melakukannya, air mata mengalir lebih deras melewati pipinya yang
sudah tak merona.
Ini adalah pesta yang buruk. Pesta pertama
yang benar-benar buruk bagi Cinderella yang gagal.
Lagi, ia melangkah keluar dari toilet untuk
berkaca di depan wastafel. Ia melihat bayangan seorang gadis dengan wajah
menyeramkan terpantul di cermin dan seketika mendengar jeritan seorang
perempuan. Matanya hitam seperti panda dengan sorot yang tajam. Dikiranya
bayangan menakutkan di cermin itu adalah sesosok hantu penghuni toilet wanita,
ia segera menoleh ke belakang.
Talisa juga terkejut melihat wanita bergaun
merah muda dengan belahan dada rendah itu karena dia adalah Dara. Dara yang
kemudian tertawa menyadari bahwa hantu yang dia lihat adalah seorang gadis yang
ia ingin selalu terlihat menyedihkan.
“Ya ampun! Apa-apaan kamu?!” dia berteriak,
tapi tertawa puas. Sepertinya tahu kalau Chakka sudah menelantarkan Talisa di
pesta.
Talisa berusaha mengabaikan perempuan itu
dengan tetap melangkah ke wastafel, berniat menghapus segala bentuk tambalan di
wajahnya. Ia mencuci bersih semua yang menempel di bibir dan matanya juga untuk
mengembalikan wajah sesungguhnya. Talisa sudah berniat ingin pulang karena
pesta ini hanya semakin menunjukan betapa kesepian dirinya.
“Kamu mau kembali ke ballroom dengan wajah
yang nggak enak dilihat begitu?” tanya Dara padanya, terdengar meledek. “Dengar
ya, aku sudah kasihan sama kamu karena selalu jadi perbincangan di kantor.
Jangan sampai malam ini menjadi malam terburuk kamu. aku juga nggak setega itu
melihat kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Lagipula ini pesta besar. Bisa
panjang urusannya kalau orang lain tahu kalau kamu adalah karyawan.”
“Apa Bu Dara kesurupan memberiku nasehat
sepanjang itu?” balas Talisa sembari memutar matanya –seperti melawan.
“Kamu bilang apa?”
“Atau saking sukanya berbohong sampai
mengatakan hal-hal yang kebalikan dari yang ada di hati?” balas Talisa lagi.
“Aku benar-benar nggak mengerti ....”
“Heh ....,”
“Dengar, Bu Dara, aku dan Bu Dara nggak
punya masalah,” kata Talisa menegaskan. “Coba pikir apa salahku sampai aku dimusuhi?
Apa aku mengganggu pacarnya Bu Dara?”
Dara mengernyit, sepertinya dia belum paham
apa yang dikatakan gadis itu.
“Aku nggak merampas milik orang lain, tapi aku
nggak mengerti kenapa aku diperlakukan seperti perusak kebahagiaan orang,”
jelas Talisa lagi.
“Kamu benar-benar nggak tahu diri ya. Jadi
karena dilindungi Chakka kamu jadi berani sama aku?”
“Aku dilindungi karena aku nggak bersalah
tapi diperlakukan nggak adil!”
“Kamu jangan terlalu banyak bermimpi,
Talisa. Kamu pikir Chakka tertarik dengan gadis kecil seperti kamu?”
Talisa mulai geram. Ia menatap Dara dengan
tajam dan bersiap untuk membalas “Ya, aku memang gadis kecil dan untungnya aku bukan
perempuan tua yang patah hati!” katanya dengan keras. “Aku memang bukan gadis
yang menarik, dan di saat orang nggak tertarik padaku, aku nggak perlu berkecil
hati karena aku juga sudah tahu akan seperti itu. Tapi, wanita cantik saja
kalau sudah tidak ada yang tertarik dan dicampakan rasanya itu lebih
menyakitkan dari pada berwajah jelek dan tidak menarik!”
Tanpa jeda, Dara pun mendampratnya. Sebuah
tamparan mendarat di pipi Talisa yang langsung tercenung. “Jaga bicara kamu,
dasar gadis nggak tahu malu!” cacinya kepada gadis itu.
Talisa syok. Ia merasakan sakit merambat
dengan cepat di wajahnya hingga ke ulu hati.
Berani
sekali perempuan itu menamparku! Benar-benar perempuan kesepian yang malang!
“Marah karena apa yang aku bilang benar?!”
tantang Talisa lagi. “Sekarang siapa yang lebih menyedihkan? Berusaha
mendapatkan apa yang tidak pernah didapatkan atau menjilat ludah sendiri saat
memungut kembali apa yang sudah dibuang jauh-jauh?!”
Ya, kata-kata Talisa membungkam Dara yang
hanya bisa membuat wanita itu mengepalkan tangan tanpa berani memukul lagi.
“Aku nggak mengambil apapun dari siapa
pun!” tegas Talisa kemudian. “Jadi berhentilah memperlakukan aku seperti pencuri!”
Lalu ia memunguti sepatunya yang tertinggal
di toilet dan membawanya pergi. Talisa meninggalkan restroom sambil menenteng sepatu. Ia melewati lorong yang panjang
dengan mengabaikan tatapan geli orang-orang. Sejak ia terbiasa diperolok,
Talisa seakan tidak punya rasa malu berjalan tanpa alas kaki hingga ke loby
bahkan sampai ia bisa menemukan taksi di pinggir jalan. Namun tampaknya di
udara yang lembab itu, tidak ada yang bebelas kasihan padanya.
Taksi-taksi itu seakan penuh secara
mendadak agar dunia ini menjadi lebih tak adil baginya. Jadi ia melangkah
menapaki jalan yang keras dan kasar menuju rumah sambil sesekali menyeka air
matanya yang terus mengalir. Gerimis mulai turun, alam juga tidak iba padanya.
Ada apa dengan hari ini? Kenapa dengan
malam ini?
***
“Ya Tuhan, Talisa, 39 derajat!” Reti
menghela nafas sambil memandangi thermometer yang baru ia cabut dari mulut
Talisa yang terkatup. “Apa sih yang terjadi di pesta itu sampai kamu pulang
jalan kaki sambil nyeker, di tengah hujan pula. Mau jadi bintang sinetron?!”
“Kak Reti berisik!” tandas Talisa sambil
beguling ke samping dan menggulung tubuhnya yang demam dengan selimut tebal. Di
luar masih hujan walau pun tidak lebat, rasanya tetap saja menyedihkan bagi
Talisa.
Sekali lagi, Talisa melihat layar handphone-nya
sembunyi-sembunyi. Lalu menarik nafas. Tidak ada pesan atau telepon dari Chakka
dari dua hari yang lalu, padahal sudah selama itu juga dia tidak masuk kantor.
“Aku nggak tahu ya kamu pacaran dengan
laki-laki yang seperti apa. Tapi, kalau menurutku sih ... laki-laki yang tega
menelantarkan perempuan di jalan itu bukan orang yang baik,” Reti mulai
berkomentar. “Kemarin pergi bersama, pulangnya kamu nggak diantar. Kamu nggak
bisa membedakan mana yang serius dan yang iseng?”
Talisa semakin merengut. Ia juga membungkus
kepalanya dengan selimut supaya tidak mendengar komentar Reti lagi.
Reti hanya bisa memandangi adiknya itu
dengan kasihan. “Hentikan, Talisa,” kata dia kemudian. “Kamu pasti nggak ingin
Mama atau Papa tahu soal ini. Kalau mereka tahu, laki-laki seperti itu nggak
akan bisa diterima ....”
Talisa diam. Berikutnya ia hanya mendengar
suara pintu kamarnya yang menutup. Sepertinya kakak perempuannya yang cerewet
itu sudah pergi. Walaupun kesal karena komentar kakaknya yang sok tahu, Talisa
tidak bisa mengingkari bahwa perkataannya benar.
Ke mana Chakka di saat ia membutuhkannya?
Chakka memang tidak peduli. Lalu apa yang
dia harapkan?
Mungkin semua ini harus dihentikan,
pikirnya kemudian. Berkat Chakka ia mendapatkan pesta terburuk dalam hidupnya.
Ia juga kehilangan Onny sahabatnya. Talisa juga sudah tidak fokus pada
kuliahnya. Semua hal buruk yang terjadi padanya adalah gara-gara lelaki itu,
namun Chakka tidak pernah bertanggung jawab. Talisa sadar, Chakka hanya berbuat
semaunya tanpa memikirkan perasaannya.
Di pesta itu mereka seperti dua orang yang
saling tidak mengenal saja. Dia menikmati makan malam bersama keluarga
angkatnya dan lupa telah meninggalkan Talisa –itu tidak bisa diterima.
***
NEXT
.jpg)
Komentar
0 comments