[NOVEL ROMAN] Enigmatic CH. 12

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 PESTA

Seminggu menjelang pesta Onny sudah tidak pernah terlihat sampai bagian personalia repot-repot mengeluarkan surat peringatan karena tidak ada kabar dari gadis itu. Dua hari sebelum pesta, akhirnya bagian personalia menerima surat pengunduran Onny yang artinya dia berhenti secara tidak hormat. Talisa menyadari hal itu ia lakukan untuk menyinggung Dara dan Chakka, juga menunjukan kekecewaannya pada Talisa yang tidak pernah meminta maaf. Bahkan Talisa juga tidak pernah menghubunginya untuk menunjukan bahwa ia peduli.

Seperti biasa orang-orang kembali berbicara satu sama lain. Membicarakan banyak keburukan yang terlihat oleh mata mereka. Kantor terasa seperti ruang kelas yang diisi oleh anak-anak yang jahil seperti menertawai kebodohan seseorang dan membicarakannya sampai beberapa episode sebelum mereka membuat episode yang baru dan itu tidak pernah ada habisnya. Semakin mereka banyak bicara, semakin asing mereka bagi Talisa yang mencoba untuk menjauh terutama dari suara sumbang mereka.
Kali ini mereka menertawakan hal yang berbeda dari Talisa yang berjalan ke mana-mana dengan kertas bertuliskan ‘Aku sudah gila’ –mereka melihatnya seperti itu. Mereka tertawa lebih keras karena tahu bukan salah seorang dari mereka yang memasang kertas itu diam-diam di punggung gadis malang itu, tapi karena memang Talisa sendiri lah yang memasangnya.
Tapi, dia tidak peduli.
Di hari yang sama ketika ia menyesal membuat Onny harus berhenti dari pekerjaannya, ia menerima sebuah hadiah. Hadiah yang semakin melambungkan angannya tentang sebuah pesta di mana Cinderella pernah berdansa dengan pangeran tampan. Sebuah gaun berwarna kuning dalam sebuah kotak yang ia temukan pagi-pagi sekali di atas meja kerjanya. Ia hampir tidak percaya Chakka membelikannya barang mahal yang mungkin saja tidak tersedia di butik mana pun di kota ini.
“Ini bukan ulang tahunku!” kata dia saking girangnya sampai ia ingin memeluk laki-laki itu. Tapi, ia terlalu malu melakukannya. Namun yang pasti gaun itu jauh lebih indah dari gaun-gaun yang pernah mereka lihat di butik tempo hari.
Gaun dengan panjang Selutut dan berwarna kuning pucat dengan Kristal-kristal kecil di bagian dada.
“Itu dikirim langsung dari Jakarta. Kamu suka?” tanya Chakka padanya, seakan berbangga hati telah membuat Talisa melupakan kegelisahaannya tentang Onny.
Talisa mengangguk-angguk. Ia tidak pernah merasa istimewa sebelum ia mendapatkan gaun itu. Dia tidak pernah membayangkan betapa indah hidupnya saat ini. Maka ia mulai banyak bermimpi karena percaya semua harapan akan terkabul karena ia berusaha.
Percikan api seakan membias saat Chakka tersenyum. Seperti kembang api yang berpendar di kelamnya malam. Mengusir rasa takutnya akan kejamnya orang-orang berwajah datar di luar sana dan selalu mengintainya seperti gagak yang kelaparan. Talisa tidak ingin menjadi bangkai di antara mereka.
Ia ingin membuktikan dengan sedikit rasa percaya diri yang ada di dalam dirinya bahwa ia pantas untuk berdiri di samping Chakka –paling tidak dalam pestanya di mana orang-orang sudah membayangkan Dara akan menjadi ratunya. Tapi, Talisa adalah putri yang sesungguhnya. Dia ingin menunjukan bahwa dia gadis yang berbeda sekarang.
***
Chakka akan menjemput pada jam enam –satu jam sebelum pesta dimulai. Talisa sudah menongkrongi salon kecantikan sejak jam empat. Karena belum bisa berdandan ia mengandalkan jasa sebuah salon ternama di kota untuk mengubahnya menjadi seorang putri. Namun melihat sosoknya yang terpantul di cermin, Talisa seakan melihat orang yang berbeda. Dandanan itu membuatnya terkesima pada dirinya sendiri. Seketika terbesit pemikiran bahwa ia harusnya melakukan ini sejak lama, supaya Chakka memandangnya dengan sudi. Supaya Chakka melupakan wanita yang kata-katanya menyakitkan itu.
Saat jam dinding hampir menunjukan jam tujuh, Talisa mulai berdebar. Ia menatap ke pintu dengan gelisah setiap kali setelah melirik jam dinding. Ia juga malu menelpon Chakka untuk memastikan keberadaannya. Ini pesta pertamanya dan ini adalah penampilan terbaiknya. Ia berusaha menenangkan dirinya.
Lalu telepon itu akhirnya berbunyi. Nada singkat sebuah pesan masuk. Chakka hanya menuliskan. “Aku sudah di depan salon. Kamu sudah selesai?”
Talisa mengangguk-anggguk. Ia tak perlu membalas pesan itu. Ia segera berdiri dari kursi tanpa perlu melihat ke cermin lagi untuk memastikan bahwa make up nya belum luntur hanya karena Chakka terlambat hampir satu jam. Pestanya pasti sudah dimulai.
Lelaki itu terlihat berdiri di depan pintu kaca. Talisa mulai memelankan langkahnya walaupun hatinya buru-buru sekali hendak menaiki mobil yang saat ini terlihat seperti kereta kencana dengan beberapa ekor kuda putih. Beberapa saat Chakka tida melihat ke dalam salon sampai Talisa mendorong pintu itu dan Chakka mendengar suaranya membuka pintu. Ketika lelaki itu menoleh, ia menemukan seorang gadis asing di hadapan matanya. Gadis yang rambutnya yang berombak tergerai panjang melewati bahu
Awalnya dia hanya menatap dengan biasa, sampai Talisa menyapanya. “Hai,” dengan suara manis.
Tanpa bersuara, Chakka menatap tidak percaya. Ia mengenali suara yang menyapa itu dan tiba-tiba tersadar. Seperti yang Talisa harapkan, Chakka memandangnya –benar-benar memandangnya seakan baru terpesona hingga Talisa yang tersipu menjadi salah tingkah. Gadis itu menunduk sambil sesekali tersenyum malu sampai Chakka menjulurkan tangannya, menyambut langkah Talisa yang gugup.
Chakka belum pernah menatapnya dengan cara seperti itu, dan tatapan itu rasanya menggelisahkan. Talisa sedikit takut sepatu tumit yang ia pakai membuat langkahnya berantakan saat menuruni beberapa anak tangga. Tapi, saat ia menerima uluran tangan Chakka ia tak peduli pada sensasi rasa sakit yang muncul akibat belum pernah memakai high heels setinggi 11 cm. Ia tahu ia memaksakan diri membeli sepatu itu hanya untuk satu malam namun ia berjanji suatu hari nanti akan bisa melangkah dengan anggun –layaknya Dara.
Detik-detik ketika ia meraih tangan Chakka seperti sebuah adegan di mana Kate Winslet meraih tangan Leonardo Di Caprio dalam pesta pertama mereka di kapal Titanic. Itu adalah sebuah momentum romantis dengan sedikit rasa Hollywood. Tapi apa yang terjadi awal tidak menentukan bahwa selepas ia menaiki mobil Chakka menuju pesta, ia akan menjadi seorang putri pesta sesungguhnya.
***
Pesta telah dimulai satu jam saat mereka tiba. Semua orang tampak menikmati makan malam di round table sambil mendengarkan live music dari sebuah grup band. Pesta itu sudah ramai sekali oleh undangan –kolega, rekan bisnis hingga karyawan yang berdiri di dekat meja prasmanan menikmati dessert aneka rasa.
Pertama kali Talissa menginjakan kakinya di ballroom, ia sempat menarik nafas panjang sebelum melangkah lebih dalam. Bergabung dalam keramaian sambil sesekali memperhatikan sekeliling. Beginilah pesta itu. Untuk sesaat ia mengabaikan Chakka yang memilih berpisah darinya sejenak karena harus menghampiri keluarganya.
Talisa masih sibuk mengawasi sekitarnya, mencari tempat kosong untuk dirinya dan Chakka. Namun, ia terkejut saat melihat bahwa Chakka sudah menemukan tempatnya –meja yang sama dengan keluarga Dara di mana ada ayah dan ibu beserta saudara-saudaranya. Tampaknya sebuah kursi khusus untuk Chakka sudah disiapkan dan karena inilah Chakka akhirnya mau datang ke pesta. Mereka menunggu anak angkat kesayangan mereka datang. Sementara Chakka sedang mengobrol dengan keluarganya, termasuk juga Dara yang duduk di sebelahnya, Talisa masih berdiri di tengah. Memandang ke tempat yang tak bisa ia datangi.
Beberapa orang yang menyadari kehadirannya menoleh dan kembali saling bicara. “Eh, lihat itu ...” di sambut beberapa pasang mata yang mengawasi seolah di balik gaun indahnya yang menakjubkan Talisa sedang membawa bom yang sebentar lagi akan meledak.
Talisa masih berdiri di sana, sepertinya tak ada tempat kosong baginya untuk duduk. Seolah tak ada yang bersedia memberinya tempat walaupun kakinya terasa begitu pegal. Chakka juga sepertinya lupa mereka datang bersama. Tiba-tiba ia teringat pada Onny.
Ah seandainya saja ia dan Onny tidak bertengkar, pasti ia tidak akan sendirian begini. Mereka akan duduk di salah satu round table, memakan apa saja yang mereka temukan di meja prasmanan tanpa peduli orang-orang akan mencemooh mereka rakus. Tapi, kenyataannya Onny tidak akan pernah ada lagi di pesta mana pun. Talisa mulai menyesal tidak membela Onny di saat Chakka memaki sahabatnya, karena itulah ia kehilangannya.
Sekelompok orang yang tidak mengenalnya mulai melirik ke arahnya. Talisa terlihat seperti gadis yang salah masuk ke ruang pesta di mana tampaknya ia tak mengenal siapa pun. Ia melihat sekitarnya dengan bingung dan kesakitan. Sepatu hak tinggi yang menopang keseluruhan penampilannya mulai membuatnya panik. Talisa tidak bisa berdiri di sana lebih lama namun tak ada yang peduli sekali pun dia adalah yang paling cantik.
Lama-lama Talisa mulai tidak betah degan sorot mata yang menelanjanginya seakan mereka bisa melihat menembus gaun kuning yang dia kenakan. Ia memaksakan dirinya untuk melangkah pergi dengan tertatih. Kakinya terasa pegal dan sakit sampai ia ingin melepas sepatu itu namun ia harus bersabar sampai berhasil keluar.
Dirinya bukan Cinderella yang ketinggalan sebelah sepatunya hanya karena pangeran yang sedang mengejar. Talisa adalah Cinderella yang gagal ketika ia melepas sepatu itu dari kakinya yang memerah di depan pintu masuk ballroom. Ia sempat diperhatikan oleh beberapa tamu yang baru datang dan hendak masuk. Ada yang tertawa geli, ada juga yang heran saat Talisa menenteng sepatu itu menuju restroom dengan wajah cemberut.
***
Tetesan air mata terasa hangat di pipinya meski ia tidak melihat ada bara api ketika berkaca. Dandanan salon itu sudah luntur. Polesan maskara dan eyeliner-nya belepotan di sepanjang lingkar mata. Namun seakan tak puas air mata tidak kunjung berhenti. Satu jam sudah ia berada di dalam toilet wanita duduk di atas kloset memandangi sepatu pestanya.
Apa arti semua ini? Ia mulai bertanya-tanya. Sementara Chakka yang tidak merasa kehilangan, belum menghubunginya. Mungkin ia terlalu menikmati saat-saat bersama keluarganya. Apa yang bisa Talisa lakukan? Ia menatap langit-langit untuk menahan air matanya, namun ia tidak bisa menengadah berlama-lama karena matanya perlu berkedip. Dan setiap ia melakukannya, air mata mengalir lebih deras melewati pipinya yang sudah tak merona.
Ini adalah pesta yang buruk. Pesta pertama yang benar-benar buruk bagi Cinderella yang gagal.
Lagi, ia melangkah keluar dari toilet untuk berkaca di depan wastafel. Ia melihat bayangan seorang gadis dengan wajah menyeramkan terpantul di cermin dan seketika mendengar jeritan seorang perempuan. Matanya hitam seperti panda dengan sorot yang tajam. Dikiranya bayangan menakutkan di cermin itu adalah sesosok hantu penghuni toilet wanita, ia segera menoleh ke belakang.
Talisa juga terkejut melihat wanita bergaun merah muda dengan belahan dada rendah itu karena dia adalah Dara. Dara yang kemudian tertawa menyadari bahwa hantu yang dia lihat adalah seorang gadis yang ia ingin selalu terlihat menyedihkan.
“Ya ampun! Apa-apaan kamu?!” dia berteriak, tapi tertawa puas. Sepertinya tahu kalau Chakka sudah menelantarkan Talisa di pesta.
Talisa berusaha mengabaikan perempuan itu dengan tetap melangkah ke wastafel, berniat menghapus segala bentuk tambalan di wajahnya. Ia mencuci bersih semua yang menempel di bibir dan matanya juga untuk mengembalikan wajah sesungguhnya. Talisa sudah berniat ingin pulang karena pesta ini hanya semakin menunjukan betapa kesepian dirinya.
“Kamu mau kembali ke ballroom dengan wajah yang nggak enak dilihat begitu?” tanya Dara padanya, terdengar meledek. “Dengar ya, aku sudah kasihan sama kamu karena selalu jadi perbincangan di kantor. Jangan sampai malam ini menjadi malam terburuk kamu. aku juga nggak setega itu melihat kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Lagipula ini pesta besar. Bisa panjang urusannya kalau orang lain tahu kalau kamu adalah karyawan.”
“Apa Bu Dara kesurupan memberiku nasehat sepanjang itu?” balas Talisa sembari memutar matanya –seperti melawan.
“Kamu bilang apa?”
“Atau saking sukanya berbohong sampai mengatakan hal-hal yang kebalikan dari yang ada di hati?” balas Talisa lagi. “Aku benar-benar nggak mengerti ....”
“Heh ....,”
“Dengar, Bu Dara, aku dan Bu Dara nggak punya masalah,” kata Talisa menegaskan. “Coba pikir apa salahku sampai aku dimusuhi? Apa aku mengganggu pacarnya Bu Dara?”
Dara mengernyit, sepertinya dia belum paham apa yang dikatakan gadis itu.
“Aku nggak merampas milik orang lain, tapi aku nggak mengerti kenapa aku diperlakukan seperti perusak kebahagiaan orang,” jelas Talisa lagi.
“Kamu benar-benar nggak tahu diri ya. Jadi karena dilindungi Chakka kamu jadi berani sama aku?”
“Aku dilindungi karena aku nggak bersalah tapi diperlakukan nggak adil!”
“Kamu jangan terlalu banyak bermimpi, Talisa. Kamu pikir Chakka tertarik dengan gadis kecil seperti kamu?”
Talisa mulai geram. Ia menatap Dara dengan tajam dan bersiap untuk membalas “Ya, aku memang gadis kecil dan untungnya aku bukan perempuan tua yang patah hati!” katanya dengan keras. “Aku memang bukan gadis yang menarik, dan di saat orang nggak tertarik padaku, aku nggak perlu berkecil hati karena aku juga sudah tahu akan seperti itu. Tapi, wanita cantik saja kalau sudah tidak ada yang tertarik dan dicampakan rasanya itu lebih menyakitkan dari pada berwajah jelek dan tidak menarik!”
Tanpa jeda, Dara pun mendampratnya. Sebuah tamparan mendarat di pipi Talisa yang langsung tercenung. “Jaga bicara kamu, dasar gadis nggak tahu malu!” cacinya kepada gadis itu.
Talisa syok. Ia merasakan sakit merambat dengan cepat di wajahnya hingga ke ulu hati.
Berani sekali perempuan itu menamparku! Benar-benar perempuan kesepian yang malang!
“Marah karena apa yang aku bilang benar?!” tantang Talisa lagi. “Sekarang siapa yang lebih menyedihkan? Berusaha mendapatkan apa yang tidak pernah didapatkan atau menjilat ludah sendiri saat memungut kembali apa yang sudah dibuang jauh-jauh?!”
Ya, kata-kata Talisa membungkam Dara yang hanya bisa membuat wanita itu mengepalkan tangan tanpa berani memukul lagi.
“Aku nggak mengambil apapun dari siapa pun!” tegas Talisa kemudian. “Jadi berhentilah memperlakukan aku seperti pencuri!”
Lalu ia memunguti sepatunya yang tertinggal di toilet dan membawanya pergi. Talisa meninggalkan restroom sambil menenteng sepatu. Ia melewati lorong yang panjang dengan mengabaikan tatapan geli orang-orang. Sejak ia terbiasa diperolok, Talisa seakan tidak punya rasa malu berjalan tanpa alas kaki hingga ke loby bahkan sampai ia bisa menemukan taksi di pinggir jalan. Namun tampaknya di udara yang lembab itu, tidak ada yang bebelas kasihan padanya.
Taksi-taksi itu seakan penuh secara mendadak agar dunia ini menjadi lebih tak adil baginya. Jadi ia melangkah menapaki jalan yang keras dan kasar menuju rumah sambil sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir. Gerimis mulai turun, alam juga tidak iba padanya.
Ada apa dengan hari ini? Kenapa dengan malam ini?
***
“Ya Tuhan, Talisa, 39 derajat!” Reti menghela nafas sambil memandangi thermometer yang baru ia cabut dari mulut Talisa yang terkatup. “Apa sih yang terjadi di pesta itu sampai kamu pulang jalan kaki sambil nyeker, di tengah hujan pula. Mau jadi bintang sinetron?!”
“Kak Reti berisik!” tandas Talisa sambil beguling ke samping dan menggulung tubuhnya yang demam dengan selimut tebal. Di luar masih hujan walau pun tidak lebat, rasanya tetap saja menyedihkan bagi Talisa.
Sekali lagi, Talisa melihat layar handphone-nya sembunyi-sembunyi. Lalu menarik nafas. Tidak ada pesan atau telepon dari Chakka dari dua hari yang lalu, padahal sudah selama itu juga dia tidak masuk kantor.
“Aku nggak tahu ya kamu pacaran dengan laki-laki yang seperti apa. Tapi, kalau menurutku sih ... laki-laki yang tega menelantarkan perempuan di jalan itu bukan orang yang baik,” Reti mulai berkomentar. “Kemarin pergi bersama, pulangnya kamu nggak diantar. Kamu nggak bisa membedakan mana yang serius dan yang iseng?”
Talisa semakin merengut. Ia juga membungkus kepalanya dengan selimut supaya tidak mendengar komentar Reti lagi.
Reti hanya bisa memandangi adiknya itu dengan kasihan. “Hentikan, Talisa,” kata dia kemudian. “Kamu pasti nggak ingin Mama atau Papa tahu soal ini. Kalau mereka tahu, laki-laki seperti itu nggak akan bisa diterima ....”
Talisa diam. Berikutnya ia hanya mendengar suara pintu kamarnya yang menutup. Sepertinya kakak perempuannya yang cerewet itu sudah pergi. Walaupun kesal karena komentar kakaknya yang sok tahu, Talisa tidak bisa mengingkari bahwa perkataannya benar.
Ke mana Chakka di saat ia membutuhkannya?
Chakka memang tidak peduli. Lalu apa yang dia harapkan?
Mungkin semua ini harus dihentikan, pikirnya kemudian. Berkat Chakka ia mendapatkan pesta terburuk dalam hidupnya. Ia juga kehilangan Onny sahabatnya. Talisa juga sudah tidak fokus pada kuliahnya. Semua hal buruk yang terjadi padanya adalah gara-gara lelaki itu, namun Chakka tidak pernah bertanggung jawab. Talisa sadar, Chakka hanya berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaannya.
Di pesta itu mereka seperti dua orang yang saling tidak mengenal saja. Dia menikmati makan malam bersama keluarga angkatnya dan lupa telah meninggalkan Talisa –itu tidak bisa diterima.
***

NEXT
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments