[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 11 (1/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Crazier

“Semua orang melihatnya, Talisa Andari. Termasuk aku,” Onny menatapnya dengan cara itu lagi; skeptis dan curiga.“Kamu pikir orang nggak punya mata apa? Kalian bersliweran di kantor sambil tertawa seolah dunia milik berdua.”

“Terus? Kenapa?” balas Talisa acuh. “Aku ‘kan pernah bilang kalau aku masih punya harapan.”

“Harapan apa?”

Talisa tidak mengerti mengapa Onny sama sekali nggak mau mendukungnya soal Chakka. Dia sudah melihat sendiri bagaimana Chakka memperlakukannya dengan istimewa. Sejak menjadi asisten Chaka tidak ada seorang pun di kantor yang berani memperlakukannya semena-mena seperti dulu. Bagi Talisa itu sebuah kemajuan, tapi bagi Onny Talisa seperti sedang menggali kubur sendiri walaupun Talisa sudah meyakinkannya bahwa Chakka hampir lepas dari bayang-bayang Dara.

Sejak orang-orang melihat Talisa dan Chakka pulang dari kampus dan makan siang di luar hari itu, mereka mulai berbisik satu sama lain. Talisa tahu apa yang mereka bicarakan –ia adalah mainan Chakka yang baru. Selentingan kabar lain yang tak kalah menjengkelkan juga mulai terdengar; mereka bilang hubungan Chakka dan Dara rusak gara-gara Talisa.

Namun, Talisa tidak pernah peduli. Mereka tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Mereka tidak benar-benar mengenal Chakka seperti dirinya.

Saat Onny juga mulai seperti mereka, Talisa mulai malas bercerita padanya. Dia selalu memperingatkan seakan yang Talisa lakukan salah. Dia selalu mencoba membuatnya ‘tersadar’. Lelah meyakinkannya bahwa apa yang dia pikirkan itu hanya perasaannya saja. Talisa yang tahu persis apa yang ia alami sendiri. Orang lain hanya akan berkomentar dan menghakimi.

“Kalau menurut kamu Chakka punya perasaan yang sama, coba perhatikan sikapnya menghadapi kabar-kabar miring itu!” kata Onny, sepertinya dia marah. “Apa dia merasa terganggu? Apa setelah itu dia memperjelas semuanya ke kamu? Kalau dia nggak mengatakan apa-apa, berarti hanya kamu yang berhalusinasi!”

Talisa termangu. Onny belum pernah bicara sekeras itu padanya  sebelum ini.

“Aku nggak tahu persis apa yang kamu lihat. Tapi, kamu kayaknya nggak sadar, kalau yang merasa terganggu itu Dara!” katanya lagi. “Kalau Dara yang nggak senang, kamu tahu itu artinya apa?! Dia cemburu! Kalau dia cemburu, menurut kamu siapa yang memenangkan permainan ini?!”

“Tunggu! Tunggu! Nggak seperti itu, Vonnya!” bantah Talisa.

“Lalu seperti apa?!”

Talisa malah diam.

“Kamu cuma alat! Kamu pikir kenapa tiba-tiba kamu bisa pindah kantor ke lantai tiga?”

“Kamu mau bilang kalau aku yang nggak punya kemampuan apa-apa ini jadi asisten hanya karena beruntung?! Kamu pikir aku nggak pantas buat itu?!”

“Intinya bukan itu! apa sih yang kamu kerjain di sana? Memperhatikan Chakka  main game seharian?!”

“Cukup, Onny! Aku nggak ngerti kenapa kamu nggak senang! Kamu iri sama caku karena sampai sekarang masih jadi Front Desk?! Kamu temanku, tapi kenapa kamu nggak mendukungku!”

Onny berdiri dari tempatnya. “Terserah ya kamu mau bilang aku nggak senang atau iri! Tapi, aku bukan teman yang suka memuji atau berkata manis tapi busuk di belakang!” tandasnya. “Aku mengatakan ini karena aku nggak mau kamu masuk ke lubang yang kamu gali sendiri, Talisa!”

Setelah itu dia pergi. Talisa sedikit merasa bersalah. Tapi, itu tak pernah cukup. Talisa mulai membiarkan persahabatan mereka renggang. Perlahan tapi pasti, Chakka mempersempit ruang itu dengan segala hal yang dia lakukan untukTalisa sehingga gadis itu semakin yakin bahwa ini berarti sesuatu. Menurutnya Onny telah keliru menilai keadaan, tapi Talisa tidak pernah mau meluruskan masalahnya.

Sejak tak bicara dengan Onny lagi, Talisa tidak pernah makan di pantry. Chakka sering mengajaknya makan di luar. Setiap kali Talisa berpapasan dengan Onny dia melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Rasanya begitu buruk saat orang lain juga bersikap demikian pada dirnya. Seolah Talisa seorang gadis yang tidak sadar diri telah merusak kehidupan orang lain.

Pekerjaannya menjadi tidak berarti. Karena Chakka juga tidak mengerjakan tugasnya selain dari menandatangani berkas yang perlu tanda tangannya. Karena berlabel asisten Chakka tidak pernah ada yang menegur bahkan personalia saja juga tutup mulut. Dara bahkan juga tidak berkutik sebab masih terjebak perang dingin dengan Chakka.

Yang paling tidak bisa dimengerti Talisa adalah Chakka tidak pernah berkomentar baik itu tentang pertengkarannya dengan Onny atau pun tatapan Dara yang terus meruncing setiap mereka berpapasan dengannya. Talisa merasa sedikit kesepian saat dia hanya bermain game tapi dia tidak peduli pada Talisa.

***

15 Juli adalah hari ulang tahun perusahaan. Sebuah perayaan sudah disiapkan dari dua bulan sebelumnya. Menurut senior, acara tahun ini dirayakan di sebuah ballroom hotel. Pada rapat kedua disepakati pembagian tugas. Tapi, saat Talisa membaca di papan pengumuman tentang panitia acara, namanya sama sekali tidak tertulis di sana. Itu membuatnya sedih; sepertinya ia dikucilkan.

“Kenapa harus jadi panitia? Bukannya itu merepotkan?” komentar Chakka saat akhirnya Talisa mengeluh karena tidak ada seorangpun selain lelaki itu yang mau mengajaknya bicara.

“Aku cuma merasa aneh. Apa salahku sampai mereka tidak melibatkanku? Apa aku bukan karyawan juga?”

“Nggak usah dipikirkan!” ujarnya. “Mereka akan tetap seperti itu apapun yang mau kamu lakukan.”

“Tapi ‘kan ini demi perusahaan juga…”

“Talisa, kalau kamu mau memikirkan semuanya itu terserah. Apa pentingnya merepotkan diri sendiri hanya demi orang-orang yang sehari-harinya mencaci maki kamu di belakang? Mereka melakukan itu hanya supaya kamu nggak betah demi kesenangan mereka sendiri. Apa untung ruginya buat mereka kalau kamu terganggu? Mereka itu cuma orang yang hobi bicara dan menunjukan mereka lebih baik. Tapi, kamu lihat sendiri ‘kan kepicikan mereka terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka. Kenapa kamu harus memusingkan itu?”

Talisa diam. Chakka memang benar tapi Talisa tidak bisa berhenti gelisah. Ia hanya heran bagaimana Chakka masih bisa tenang dengan gossip-gosip sok tahu yang membredel namanya. Talisa tidak tahu persis apa yang ia rasakan, tapi perlahan Talisa mulai menemukan sifat asli Chakka.

Chakka tiba-tiba berdiri dari kursinya, beranjak dari zona malasnya dan menghampiri. “Jangan memikirkan orang-orang nggak berguna seperti itu,” ujarnya, menatap Talisa yang pasti berdebar lagi setiap memberikan perhatiannya yang intens. Chaka selalu mampu membuatku melupakan keluh kesah, walau setelah itu ia kembali ke dunianya dan Talisa hanya bisa memandang di balik keraguan.

Menatapnya sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan. Menyenangkan karena Chakka seolah ada untuknya dan menyakitkan karena Talisa takut jatuh semakin dalam. Yang lebih buruk dari semua itu adalah Talisa tidak pernah tahu sampai kapan akan terus begini selama Talisa tidak bisa memastikan apakah dia sudah melupakan wanita itu. Karena terkadang Talisa masih bisa melihatnya memperhatikan Dara dengan penuh harapan kosong.

***


Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments