๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Crazier
“Semua orang melihatnya, Talisa Andari. Termasuk aku,” Onny menatapnya
dengan cara itu lagi; skeptis dan curiga.“Kamu pikir orang nggak punya mata
apa? Kalian bersliweran di kantor sambil tertawa seolah dunia milik berdua.”
“Terus? Kenapa?” balas Talisa acuh. “Aku
‘kan pernah bilang kalau aku masih punya harapan.”
“Harapan apa?”
Talisa tidak mengerti mengapa Onny sama
sekali nggak mau mendukungnya soal Chakka. Dia sudah melihat sendiri bagaimana
Chakka memperlakukannya dengan istimewa. Sejak menjadi asisten Chaka tidak ada
seorang pun di kantor yang berani memperlakukannya semena-mena seperti dulu.
Bagi Talisa itu sebuah kemajuan, tapi bagi Onny Talisa seperti sedang menggali
kubur sendiri walaupun Talisa sudah meyakinkannya bahwa Chakka hampir lepas
dari bayang-bayang Dara.
Sejak orang-orang melihat Talisa dan Chakka
pulang dari kampus dan makan siang di luar hari itu, mereka mulai berbisik satu
sama lain. Talisa tahu apa yang mereka bicarakan –ia adalah mainan Chakka yang
baru. Selentingan kabar lain yang tak kalah menjengkelkan juga mulai terdengar;
mereka bilang hubungan Chakka dan Dara rusak gara-gara Talisa.
Namun, Talisa tidak pernah peduli. Mereka
tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Mereka tidak benar-benar mengenal
Chakka seperti dirinya.
Saat Onny juga mulai seperti mereka, Talisa
mulai malas bercerita padanya. Dia selalu memperingatkan seakan yang Talisa
lakukan salah. Dia selalu mencoba membuatnya ‘tersadar’. Lelah meyakinkannya
bahwa apa yang dia pikirkan itu hanya perasaannya saja. Talisa yang tahu persis
apa yang ia alami sendiri. Orang lain hanya akan berkomentar dan menghakimi.
“Kalau menurut kamu Chakka punya perasaan
yang sama, coba perhatikan sikapnya menghadapi kabar-kabar miring itu!” kata
Onny, sepertinya dia marah. “Apa dia merasa terganggu? Apa setelah itu dia
memperjelas semuanya ke kamu? Kalau dia nggak mengatakan apa-apa, berarti hanya
kamu yang berhalusinasi!”
Talisa termangu. Onny belum pernah bicara
sekeras itu padanya sebelum ini.
“Aku nggak tahu persis apa yang kamu lihat.
Tapi, kamu kayaknya nggak sadar, kalau yang merasa terganggu itu Dara!” katanya
lagi. “Kalau Dara yang nggak senang, kamu tahu itu artinya apa?! Dia cemburu!
Kalau dia cemburu, menurut kamu siapa yang memenangkan permainan ini?!”
“Tunggu! Tunggu! Nggak seperti itu,
Vonnya!” bantah Talisa.
“Lalu seperti apa?!”
Talisa malah diam.
“Kamu cuma alat! Kamu pikir kenapa
tiba-tiba kamu bisa pindah kantor ke lantai tiga?”
“Kamu mau bilang kalau aku yang nggak punya
kemampuan apa-apa ini jadi asisten hanya karena beruntung?! Kamu pikir aku
nggak pantas buat itu?!”
“Intinya bukan itu! apa sih yang kamu
kerjain di sana? Memperhatikan Chakka
main game seharian?!”
“Cukup, Onny! Aku nggak ngerti kenapa kamu
nggak senang! Kamu iri sama caku karena sampai sekarang masih jadi Front Desk?!
Kamu temanku, tapi kenapa kamu nggak mendukungku!”
Onny berdiri dari tempatnya. “Terserah ya kamu
mau bilang aku nggak senang atau iri! Tapi, aku bukan teman yang suka memuji
atau berkata manis tapi busuk di belakang!” tandasnya. “Aku mengatakan ini
karena aku nggak mau kamu masuk ke lubang yang kamu gali sendiri, Talisa!”
Setelah itu dia pergi. Talisa sedikit
merasa bersalah. Tapi, itu tak pernah cukup. Talisa mulai membiarkan
persahabatan mereka renggang. Perlahan tapi pasti, Chakka mempersempit ruang
itu dengan segala hal yang dia lakukan untukTalisa sehingga gadis itu semakin
yakin bahwa ini berarti sesuatu. Menurutnya Onny telah keliru menilai keadaan,
tapi Talisa tidak pernah mau meluruskan masalahnya.
Sejak tak bicara dengan Onny lagi, Talisa
tidak pernah makan di pantry. Chakka sering mengajaknya makan di luar. Setiap
kali Talisa berpapasan dengan Onny dia melewatinya begitu saja tanpa menyapa.
Rasanya begitu buruk saat orang lain juga bersikap demikian pada dirnya. Seolah
Talisa seorang gadis yang tidak sadar diri telah merusak kehidupan orang lain.
Pekerjaannya menjadi tidak berarti. Karena
Chakka juga tidak mengerjakan tugasnya selain dari menandatangani berkas yang
perlu tanda tangannya. Karena berlabel asisten Chakka tidak pernah ada yang
menegur bahkan personalia saja juga tutup mulut. Dara bahkan juga tidak
berkutik sebab masih terjebak perang dingin dengan Chakka.
Yang paling tidak bisa dimengerti Talisa
adalah Chakka tidak pernah berkomentar baik itu tentang pertengkarannya dengan
Onny atau pun tatapan Dara yang terus meruncing setiap mereka berpapasan
dengannya. Talisa merasa sedikit kesepian saat dia hanya bermain game tapi dia
tidak peduli pada Talisa.
***
15 Juli adalah hari ulang tahun perusahaan.
Sebuah perayaan sudah disiapkan dari dua bulan sebelumnya. Menurut senior,
acara tahun ini dirayakan di sebuah
ballroom hotel. Pada rapat kedua disepakati pembagian tugas. Tapi, saat
Talisa membaca di papan pengumuman tentang panitia acara, namanya sama sekali
tidak tertulis di sana. Itu membuatnya sedih; sepertinya ia dikucilkan.
“Kenapa harus jadi panitia? Bukannya itu merepotkan?”
komentar Chakka saat akhirnya Talisa mengeluh karena tidak ada seorangpun
selain lelaki itu yang mau mengajaknya bicara.
“Aku cuma merasa aneh. Apa salahku sampai
mereka tidak melibatkanku? Apa aku bukan karyawan juga?”
“Nggak usah dipikirkan!” ujarnya. “Mereka
akan tetap seperti itu apapun yang mau kamu lakukan.”
“Tapi ‘kan ini demi perusahaan juga…”
“Talisa, kalau kamu mau memikirkan semuanya
itu terserah. Apa pentingnya merepotkan diri sendiri hanya demi orang-orang
yang sehari-harinya mencaci maki kamu di belakang? Mereka melakukan itu hanya
supaya kamu nggak betah demi kesenangan mereka sendiri. Apa untung ruginya buat
mereka kalau kamu terganggu? Mereka itu cuma orang yang hobi bicara dan
menunjukan mereka lebih baik. Tapi, kamu lihat sendiri ‘kan kepicikan mereka
terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka. Kenapa kamu harus memusingkan itu?”
Talisa diam. Chakka memang benar tapi
Talisa tidak bisa berhenti gelisah. Ia hanya heran bagaimana Chakka masih bisa
tenang dengan gossip-gosip sok tahu yang membredel namanya. Talisa tidak tahu
persis apa yang ia rasakan, tapi perlahan Talisa mulai menemukan sifat asli
Chakka.
Chakka tiba-tiba berdiri dari kursinya,
beranjak dari zona malasnya dan menghampiri. “Jangan memikirkan orang-orang
nggak berguna seperti itu,” ujarnya, menatap Talisa yang pasti berdebar lagi
setiap memberikan perhatiannya yang intens. Chaka selalu mampu membuatku
melupakan keluh kesah, walau setelah itu ia kembali ke dunianya dan Talisa
hanya bisa memandang di balik keraguan.
Menatapnya sangat menyenangkan sekaligus
menyakitkan. Menyenangkan karena Chakka seolah ada untuknya dan menyakitkan
karena Talisa takut jatuh semakin dalam. Yang lebih buruk dari semua itu adalah
Talisa tidak pernah tahu sampai kapan akan terus begini selama Talisa tidak
bisa memastikan apakah dia sudah melupakan wanita itu. Karena terkadang Talisa
masih bisa melihatnya memperhatikan Dara dengan penuh harapan kosong.
***
Komentar
0 comments