๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
KISAH KITA
Mendaftar
di universitas tidak pernah ada dalam rencana. Talisa memutuskan untuk tidak
kuliah karena ingin mandiri. Lagipula banyak orang yang tidak punya gelar di
belakang nama mereka juga sukses. Namun, Talisa bekerja di lingkungan
orang-orang berpendidikan. Gelar itu memudahkan mereka untuk terus naik ke
posisi yang lebih bergengsi. Talisa juga tidak ingin lepas dari mulut buaya
masuk ke mulut harimau begini.
“Kamu
yakin sudah bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja?” Mama meyakinkannya
sekali lagi. Walaupun ini sudah terlambat dan Talisa sudah keburu mendaftar di
fakultas psikologi.
“Ya,
katanya kuliah bagi orang yang bekerja itu nggak susah. Tugasnya juga lebih
sedikit,” Talisa berkata, balas meyakinkan Mamanya.”Lagian di tempat kerja
Talisa selalu bergaul sama ibu-ibu muda yang pikirannya tua.”
Mama
tertawa. “Kamu ‘kan punya banyak teman di luar.”
“Iya
sih. Tapi, rata-rata mereka ‘kan kuliah, Ma. Kalau lagi ngumpul pasti cerita
soal kuliah dan cowok. Jarang yang ceritanya berurusan sama bos cewek yang
sinis dengan tatapan melecehkan. Rasanya masa mudaku benar-benar nggak
menyenangkan.”
“Itu
namanya yang bertanggungjawab dengan pilihan,” potong Papa tiba-tiba. “Tapi,
kamu harus banyak bersyukur. Kamu sudah melihat Reti ‘kan?”
Ah
ya, Reti, kakakku sudah menikah di usiaku sekarang.
“Kamu
masih dua puluh tahun. Masih muda,” kata Papa lagi. “Kerja keras dulu baru
senang. Jangan buru-buru menikah.”
“Iya,
Pa. Talisa tahu.”
Walaupun
kisah cinta pertamanya sedikit tragis, tapi memiliki orang tua yang mendukung
penuh setiap keputusannya terkadang membuatnya lebih bersemangat. Talisa juga
punya banyak teman, kadang suka berkumpul di luar. Itu menyenangkan sekali.
Sebenarnya hidupnya sudah sempurna; Selama ini Talisa tidak pernah memiliki
persoalan berarti dalam hidup.
Di
sekolah dulu Talisa adalah anak yang menonjol meskipun belum pernah jadi juara
kelas tapi menurut guru Talisa termasuk kategori anak baik. Talisa sangat aktif
di kegiatan organisasi seperti OSIS dan PMR. Teman-teman bisa mengandalkannya
dalam acara sekolah. Setelah lulus SMA pun mereka masih sering bertemu dalam
reuni kecil-kecilan. Ya, Talisa hampir
tidak pernah mengalami masalah dalam bergaul tapi saat masuk ke dunia kerja,
semua terasa berbeda. Rasanya Talisa hanyalah gadis kecil di dunia yang besar
dan luas. Lalu ketika Talisa jatuh cinta, Talisa merasa bahwa dirinya tidak
cukup baik, karena orang yang ia sukai tidak bisa melihat hal baik dalam
dirinya.
Tapi,
inilah hidup –sebuah dinamika, selalu berubah entah kita menginginkannya atau
menolaknya.
***
“Talisa
Andari, S.Psi,” kata Onny, menatap Talisa dengan senyum lebar. Dan Talisa hanya
tertawa. “Keren ‘kaaaan?!”
“Masih
lama, Onny!”
Mereka
baru saja keluar dari gedung kampus setelah mendaftar. Rasanya seperti baru
kembali ke peradaban sesungguhnya di mana mereka bertemu orang-orang yang
sepantaran. Mereka akan berkenalan dengan orang yang akan jadi teman sekelas.
Dibandingkan dari saat Talisa terjebak di antara sekumpulan orang dewasa yang
dikuasai hasrat persaingan, Talisa pasti akan merasa lebih hidup saat berada di
kelompok mahasiswa yang hobinya nongkrong dan bersenang-senang. Untuk sesaat
Talisa bisa melupakan cinta pertamanya yang rumit. Mungkin Talisa akan bertemu
pacar pertamanya di sini.
Jadwal
kuliah hanya di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Jadwalnya terkesan sangat santai.
Saat mendaftar Talisa sama sekali tidak tahu bahwa kuliah malam itu hanya
diikuti oleh orang yang bekerja saja sehingga di hari pertama Talisa lumayan
kaget; ia tidak menemukan orang-orang yang sebaya dengannya. Di usiaa ini tentu
mereka mengambil kelas regular dengan jadwal yang padat, bukan kelas malam.
Sialnya
Talisa dan Onny juga tidak sekelas karena dia mengambil jurusan ekonomi. Ya,
awal yang cukup buruk karena kebodohannya sendiri. Sebagai gantinya seminggu
kemudian, pagi-pagi Talisa masih sangat mengantuk. Kuliah malam membuat waktu
istirahatnya berkurang, karena pulang dari kantor Talisa tidak langsung pulang
tapi ke kampus dulu.
“Talisa?”
Chakka tiba-tiba muncul dan Talisa nyaris ketiduran di depan komputer sedangkan
ini masih jam sepuluh. “Kamu sakit?”
Talisa
mengangkat kepalanya. “Ada apa?” sahutnya sambil menyeka rambutnya ke belakang
dan merapikannya.
Chakka
menatapnya heran, sebelum kemudian mendekat. “Kamu bisa bantu aku bikin surat
ini?” tanya dia memberiku selembar surat dan Talisa sempat membacanya sekilas.
Talisa
mengangguk, lalu mulai bekerja seperti yang dia perintahkan. Tapi, Chakka masih
berdiri di depannya.
“Kamu
nggak apa-apa?” tanya Chakka, sekilas terdengar perhatian.
“Aku
nggak apa-apa,” jawab Talisa sambil mulai mengetik dan Chakka pun pergi. Talisa
menguap sekali lagi; lelah dan kurang tidur.
Tiba-tiba
saja Chakka kembali. Talisa tidak terlalu terkejut, tapi saat dia menaruh
sesuatu di mejanya, membuat perhatian Talisa seketika terbagi. Sekaleng Coca
Cola. “Itu bisa menghilangkan rasa kantuk,” jelas dia. “Mengandung gula dan
rasanya yang asam bisa bikin kamu segar lagi.”
“Makasih,”
Talisa berkata, tersenyum simpul dan kembali mengetik. Lama-lama Talisa bisa
kecanduan Coca Cola.
Dia
tidak punya apa-apa selain Coca Cola. Dasar,
Mr. Coca Cola.
“Sama-sama,”
balas Chakka. Tapi belum tampak ingin pergi. “Kuliah sambil kerja itu memang
berat. Kamu harus bisa bagi waktu dan jaga stamina.”
Talisa
tahu itu. Mendengarkan dia bicara, membuatnya sedikit hilang konsentrasi
mengetik. Beberapa kali Talisa harus memencet backspace untuk setiap kata.
“Kamu
minum multivitamin?”
Talisa
menggeleng. Sejak kapan dia peduli?
Chakka
tertawa sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di sana. Sepertinya dia akan
lama di sini. “Kamu tahu, kamu beruntung bisa kuliah dan menjalani hari yang
normal.”
“Maksudnya?
Memang kamu nggak pernah kuliah?”
“Ya,
nggak sampai lulus. Karena aku aneh, aku sering berdebat dengan dosen. Lalu
dianggap tidak menghormati dan diskors.”
Oh?
“Memang
seaneh apa orang yang disebut Indigo itu?” Talisa bertanya. “Kalau kamu terlalu
pintar harusnya kamu yang jadi dosennya.”
“Aku
nggak punya tujuan hidup yang pasti. Aku hanya tahu aku pantas untuk hidup di
dunia. Untuk sesuatu tapi aku nggak tahu persis itu apa. Aku sama sekali nggak
merasa pintar karena kadang kalau merasa sangat terganggu aku bisa insomnia dan
nggak tidur berhari-hari.”
“Terganggu?”
“Oleh
banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.”
“Seperti
orang yang hidup di dunia sendiri?”
Chakka
mengangguk.
“Apa
kelebihan orang Indigo kalau yang menjadi Indigo saja malah merasa nggak normal
dengan hidupnya?”
“Intuitif,”
Chakka menegaskan. “Aku merasa bahwa aku tahu lebih banyak dari orang lain.
Misalnya apa yang akan terjadi. Semua itu terlintas begitu saja di pikiranku
seperti bisikan.”
“Terus
apa yang bikin kamu mulai merasa nggak nyaman?”
Chakka
menatapku. Tatapannya sangat serius. “Aku bisa melihat apa yang nggak bisa
dilihat orang lain,” jawabnya dan Talisa mengernyit. “Itu mulai menyiksa karena
aku sama sekali nggak ingin melihatnya.”
“Apa
itu?”
Chakka
menggeleng-geleng. Lalu berdiri. “Kamu pasti nggak ingin tahu,” katanya dan
bersiap untuk pergi.
Talisa
ikut berdiri. “Apa sih?” desaknya
ngotot.
Lagi-lagi,
dia hanya tersenyum. “Kalau aku bilang, kamu pasti nggak betah kerja di sini,”
jawabnya lalu bergerak pergi.
“Maksud
kamu apa?” desak Talisa lagi dan Chakka hanya menoleh, memberi senyum
misterius.
Apa maksudnya yang dia lihat itu adalah ... hantu?
Bulu kuduknya merinding! Ia mulai memandangi rak-rak yang berjejer di
sekitarnya. Tempat ini lumayan pengap dan sepi. “Chakka!!” jerit Talisa sambil
berlari keluar dari rak-rak itu dengan ketakutan.
***
.jpg)
Komentar
0 comments