[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 10 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

KISAH KITA

Mendaftar di universitas tidak pernah ada dalam rencana. Talisa memutuskan untuk tidak kuliah karena ingin mandiri. Lagipula banyak orang yang tidak punya gelar di belakang nama mereka juga sukses. Namun, Talisa bekerja di lingkungan orang-orang berpendidikan. Gelar itu memudahkan mereka untuk terus naik ke posisi yang lebih bergengsi. Talisa juga tidak ingin lepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau begini.
“Kamu yakin sudah bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja?” Mama meyakinkannya sekali lagi. Walaupun ini sudah terlambat dan Talisa sudah keburu mendaftar di fakultas psikologi.

“Ya, katanya kuliah bagi orang yang bekerja itu nggak susah. Tugasnya juga lebih sedikit,” Talisa berkata, balas meyakinkan Mamanya.”Lagian di tempat kerja Talisa selalu bergaul sama ibu-ibu muda yang pikirannya tua.”
Mama tertawa. “Kamu ‘kan punya banyak teman di luar.”
“Iya sih. Tapi, rata-rata mereka ‘kan kuliah, Ma. Kalau lagi ngumpul pasti cerita soal kuliah dan cowok. Jarang yang ceritanya berurusan sama bos cewek yang sinis dengan tatapan melecehkan. Rasanya masa mudaku benar-benar nggak menyenangkan.”
“Itu namanya yang bertanggungjawab dengan pilihan,” potong Papa tiba-tiba. “Tapi, kamu harus banyak bersyukur. Kamu sudah melihat Reti ‘kan?”
Ah ya, Reti, kakakku sudah menikah di usiaku sekarang.
“Kamu masih dua puluh tahun. Masih muda,” kata Papa lagi. “Kerja keras dulu baru senang. Jangan buru-buru menikah.”
“Iya, Pa. Talisa tahu.”
Walaupun kisah cinta pertamanya sedikit tragis, tapi memiliki orang tua yang mendukung penuh setiap keputusannya terkadang membuatnya lebih bersemangat. Talisa juga punya banyak teman, kadang suka berkumpul di luar. Itu menyenangkan sekali. Sebenarnya hidupnya sudah sempurna; Selama ini Talisa tidak pernah memiliki persoalan berarti dalam hidup.
Di sekolah dulu Talisa adalah anak yang menonjol meskipun belum pernah jadi juara kelas tapi menurut guru Talisa termasuk kategori anak baik. Talisa sangat aktif di kegiatan organisasi seperti OSIS dan PMR. Teman-teman bisa mengandalkannya dalam acara sekolah. Setelah lulus SMA pun mereka masih sering bertemu dalam reuni kecil-kecilan.  Ya, Talisa hampir tidak pernah mengalami masalah dalam bergaul tapi saat masuk ke dunia kerja, semua terasa berbeda. Rasanya Talisa hanyalah gadis kecil di dunia yang besar dan luas. Lalu ketika Talisa jatuh cinta, Talisa merasa bahwa dirinya tidak cukup baik, karena orang yang ia sukai tidak bisa melihat hal baik dalam dirinya.
Tapi, inilah hidup –sebuah dinamika, selalu berubah entah kita menginginkannya atau menolaknya.
***
“Talisa Andari, S.Psi,” kata Onny, menatap Talisa dengan senyum lebar. Dan Talisa hanya tertawa. “Keren ‘kaaaan?!”
“Masih lama, Onny!”
Mereka baru saja keluar dari gedung kampus setelah mendaftar. Rasanya seperti baru kembali ke peradaban sesungguhnya di mana mereka bertemu orang-orang yang sepantaran. Mereka akan berkenalan dengan orang yang akan jadi teman sekelas. Dibandingkan dari saat Talisa terjebak di antara sekumpulan orang dewasa yang dikuasai hasrat persaingan, Talisa pasti akan merasa lebih hidup saat berada di kelompok mahasiswa yang hobinya nongkrong dan bersenang-senang. Untuk sesaat Talisa bisa melupakan cinta pertamanya yang rumit. Mungkin Talisa akan bertemu pacar pertamanya di sini.
Jadwal kuliah hanya di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Jadwalnya terkesan sangat santai. Saat mendaftar Talisa sama sekali tidak tahu bahwa kuliah malam itu hanya diikuti oleh orang yang bekerja saja sehingga di hari pertama Talisa lumayan kaget; ia tidak menemukan orang-orang yang sebaya dengannya. Di usiaa ini tentu mereka mengambil kelas regular dengan jadwal yang padat, bukan kelas malam.
Sialnya Talisa dan Onny juga tidak sekelas karena dia mengambil jurusan ekonomi. Ya, awal yang cukup buruk karena kebodohannya sendiri. Sebagai gantinya seminggu kemudian, pagi-pagi Talisa masih sangat mengantuk. Kuliah malam membuat waktu istirahatnya berkurang, karena pulang dari kantor Talisa tidak langsung pulang tapi ke kampus dulu.
“Talisa?” Chakka tiba-tiba muncul dan Talisa nyaris ketiduran di depan komputer sedangkan ini masih jam sepuluh. “Kamu sakit?”
Talisa mengangkat kepalanya. “Ada apa?” sahutnya sambil menyeka rambutnya ke belakang dan merapikannya.
Chakka menatapnya heran, sebelum kemudian mendekat. “Kamu bisa bantu aku bikin surat ini?” tanya dia memberiku selembar surat dan Talisa sempat membacanya sekilas.
Talisa mengangguk, lalu mulai bekerja seperti yang dia perintahkan. Tapi, Chakka masih berdiri di depannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Chakka, sekilas terdengar perhatian.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Talisa sambil mulai mengetik dan Chakka pun pergi. Talisa menguap sekali lagi; lelah dan kurang tidur.
Tiba-tiba saja Chakka kembali. Talisa tidak terlalu terkejut, tapi saat dia menaruh sesuatu di mejanya, membuat perhatian Talisa seketika terbagi. Sekaleng Coca Cola. “Itu bisa menghilangkan rasa kantuk,” jelas dia. “Mengandung gula dan rasanya yang asam bisa bikin kamu segar lagi.”
“Makasih,” Talisa berkata, tersenyum simpul dan kembali mengetik. Lama-lama Talisa bisa kecanduan Coca Cola.
Dia tidak punya apa-apa selain Coca Cola. Dasar, Mr. Coca Cola.
“Sama-sama,” balas Chakka. Tapi belum tampak ingin pergi. “Kuliah sambil kerja itu memang berat. Kamu harus bisa bagi waktu dan jaga stamina.”
Talisa tahu itu. Mendengarkan dia bicara, membuatnya sedikit hilang konsentrasi mengetik. Beberapa kali Talisa harus memencet backspace untuk setiap kata.
“Kamu minum multivitamin?”
Talisa menggeleng. Sejak kapan dia peduli?
Chakka tertawa sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di sana. Sepertinya dia akan lama di sini. “Kamu tahu, kamu beruntung bisa kuliah dan menjalani hari yang normal.”
“Maksudnya? Memang kamu nggak pernah kuliah?”
“Ya, nggak sampai lulus. Karena aku aneh, aku sering berdebat dengan dosen. Lalu dianggap tidak menghormati dan diskors.”
Oh?
“Memang seaneh apa orang yang disebut Indigo itu?” Talisa bertanya. “Kalau kamu terlalu pintar harusnya kamu yang jadi dosennya.”
“Aku nggak punya tujuan hidup yang pasti. Aku hanya tahu aku pantas untuk hidup di dunia. Untuk sesuatu tapi aku nggak tahu persis itu apa. Aku sama sekali nggak merasa pintar karena kadang kalau merasa sangat terganggu aku bisa insomnia dan nggak tidur berhari-hari.”
“Terganggu?”
“Oleh banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.”
“Seperti orang yang hidup di dunia sendiri?”
Chakka mengangguk.
“Apa kelebihan orang Indigo kalau yang menjadi Indigo saja malah merasa nggak normal dengan hidupnya?”
“Intuitif,” Chakka menegaskan. “Aku merasa bahwa aku tahu lebih banyak dari orang lain. Misalnya apa yang akan terjadi. Semua itu terlintas begitu saja di pikiranku seperti bisikan.”
“Terus apa yang bikin kamu mulai merasa nggak nyaman?”
Chakka menatapku. Tatapannya sangat serius. “Aku bisa melihat apa yang nggak bisa dilihat orang lain,” jawabnya dan Talisa mengernyit. “Itu mulai menyiksa karena aku sama sekali nggak ingin melihatnya.”
“Apa itu?”
Chakka menggeleng-geleng. Lalu berdiri. “Kamu pasti nggak ingin tahu,” katanya dan bersiap untuk pergi.
Talisa ikut berdiri. “Apa sih?”  desaknya ngotot.
Lagi-lagi, dia hanya tersenyum. “Kalau aku bilang, kamu pasti nggak betah kerja di sini,” jawabnya lalu bergerak pergi.
“Maksud kamu apa?” desak Talisa lagi dan Chakka hanya menoleh, memberi senyum misterius.
Apa maksudnya yang dia lihat itu adalah ... hantu? Bulu kuduknya merinding! Ia mulai memandangi rak-rak yang berjejer di sekitarnya. Tempat ini lumayan pengap dan sepi. “Chakka!!” jerit Talisa sambil berlari keluar dari rak-rak itu dengan ketakutan.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments