[Ch.3] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Cinta Gadis Kecil

“Merokok itu nggak baik, Sai,” kata Pevi padaku tapi aku nggak menghiraukannya. Aku menjadi tergantung pada tembakau yang dibungkus rasa mint itu karena aku seringkali merasa gelisah akan sesuatu.

Sejak kabar angin mulai berhembus tentang Saira’s Squad, aku semakin takut saja. Aku nggak tahu siapa yang mulai menjuluki pertemuan itu dengan namaku; aku curiga lagi-lagi si kawat gigi Magisa yang sepertinya nggak suka ada gerakan lain yang menggesernya dari posisi ‘headline sekolah’. Orang-orang mulai berkeyakinan aku yang mencetuskan ide perkumpulan rahasia itu untuk membalas Magisa dengan program anti bullying-nya.

Walaupun popularitas yang kembali kudapatkan itu hampir positif di mata orang-orang yang menilai bahwa bertindak diam-diam tanpa orasi adalah cara yang elegan untuk bangkit, aku nggak serta merta kembali mendapatkan cakarku. Aku benar-benar takut akan apa yang membuatku di atas angin; seseorang akan kembali menjatuhkanku ke tanah. Ananda dan Pevi sadar akan hal itu dan mereka mencoba untuk mendukungku. Tapi, kami telah berjanji bahwa semuanya adalah rahasia dan nggak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya. Nggak peduli pendapat orang lain kami tetap bersama, menjalankan ritual itu dengan diam-diam.

Selama itu, aku sudah mendengar banyak sekali permohonan dan aku masih belum menulis satu pun permohonan. Ada yang ingin seragam baru, ada yang ingin bertemu orang tuanya, ada pula yang ingin pernyataan cintanya diterima orang yang disukai. Semua itu amat sederhana bagiku. Namun, bagi mereka hal-hal yang mereka ucapkan begitu berharga.

Aku mulai mempertanyakan apakah aku orang yang hidup? Kenapa rasanya begitu hampa? Apakah aku nggak memiliki sesuatu yang berharga di dunia ini?

Nggak lama kemudian, akhirnya Adrian menyatakan cintanya lewat sekotak coklat yang terang-terangan dia berikan di depan adiknya dan Pevi. Semua orang berkata aku harus menerimanya karena kami serasi. Aku merasa bingung. Aku suka mengobrol dengan Adrian apalagi saat dia mengajariku matematika, tapi perasaan yang kupunya untuknya belum sejauh itu. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba aku sadar kalau sebenarnya aku punya seseorang yang selalu aku perhatikan dan sayangnya itu bukan Adrian. Jadi, saat itu aku hanya mengucapkan maaf.

Aku mungkin membuat Ananda kecewa tapi untungnya dia mengerti bahwa aku sama sekali nggak mengerti cinta. Aku masih mempertanyakan apa aku ini memiliki cinta untuk orang lain. Aku bahkan nggak mencintai diriku sendiri dengan berlarut-larut dalam ketakutan akan segala hal yang mungkin menyakitiku. Aku merokok dan malas belajar. Aku masih berusaha melarikan diri di saat teman-temanku berusaha untuk menopangku agar nggak jatuh lagi.

Saat Saira Squad mulai menjadi viral di sekolah karena mulai banyak anak-anak yang ikut ritual, aku semakin takut lagi. Aku berusaha untuk sembunyi karena nggak ingin dihubung-hubungkan dengan apa yang dilakukan teman-temanku. Mereka orang-orang yang berhasil bangkit, sedangkan aku? Aku seperti pengecut yang selalu mati ketakutan dan ingin sembunyi lebih lama.

Tapi, suatu ketika saat aku melihat Sidney lagi, sebuah keinginan muncul begitu saja dari dalam diriku. Aku memperhatikannya dari kejauhan dan berharap bisa menyapanya; hanya sekedar menyapa. Dan entah ada apa dengan diriku, ketika dia hampir menemukanku, aku bersembunyi seperti gadis pemalu; selalu seperti itu sampai aku putus asa.

Hingga pada sebuah ritual perkumpulan berikutnya, aku muncul untuk menulis sebuah permohonan. Ananda dan Pevi sempat terkejut tapi senang saat tahu aku akan menulis permohonan pertamaku di saat yang lain sudah menghanyutkan banyak permohonan di laut. Kami berdiri sambil berpegangan tangan untuk membacakan permohonan masing-masing.

Saat Ananda berkata ingin pergi ke ladang bunga matahari dan Pevi masih belum kurus dan langsing, aku mengucapkan “Aku ingin bicara dengan Sidney.”

Kedua temanku terkejut dan mendadak histeris.

“Lo suka sama cowok yang sering di ruangan Bu Tetty itu?!” Pevi tampak tak percaya padaku dan aku mengangguk.

Sedikit malu mengakuinya, terlebih aku juga nggak enak sama Ananda. Tapi, Ananda memelukku. “Gue senang akhirnya lo bikin permohonan,” katanya.

“Sorry ya, Nan...,” ucapku soal Adrian yang mungkin masih patah hati karena penolakanku.

Ananda menggeleng sambil tersenyum dan memelukku lagi dengan haru. “Gue senang lihat lo akhirnya punya sesuatu yang lo inginkan...,” dia berkata. “Walaupun Adrian kakak gue, itu tetap nggak ada hubungannya....”

Lalu kami menghanyutkan semua permohonan kami bersama-sama dan pulang dengan gembira. Setelah itu, kami mulai berusaha untuk mewujudkan impian masing-masing. Ananda mulai sibuk belajar untuk dapat beasiswa sekolah di luar negeri dan Pevi mulai mengatur pola makan dan olahraga. Sedangkan aku mengambil langkah awal dengan menonton film romantis Hollywood seperti Chasing Liberty, The Notebook, Love Actually dan sejenisnya; setidaknya itu memberitahuku seperti apa orang-orang jatuh cinta dan menjalani sebuah hubungan.

Namun, kisah cintaku berbeda. Mungkin karena keingintahuanku tentang ‘kedewasaan’ begitu besar dan seandainya aku bisa menahan diri semua kejadian buruk nggak akan menimpaku. Aku hanya nggak tenang sehingga kemudian aku merokok lagi walaupun teman-temanku sudah melarangnya. Di sekolah aku tetap sendirian karena nggak punya nyali mendekati teman-temanku. Aku bahkan menghindar saat Ananda dan Pevi menghampiriku di sekolah. Aku nggak ingin orang lain melihat mereka bersamaku jadinya aku memilih halaman belakang sekolah untuk menyendiri. Lalu dia datang; begitu saja; dan kemudian mengubah banyak hal.

Sidney nggak berpikiran buruk padaku saat melihatku merokok karena bahkan dia ikut merokok bersama. Rupanya dia sering memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini. Seperti keinginan yang telah dikabulkan, kami mulai saling bicara dan aku berusaha menyembunyikan debaran di dadaku setiap melihatnya. Dia begitu tenang dan aku mulai merasa begitu menginginkannya. Seperti yang kukatakan, dia datang dengan begitu mudahnya semudah ia menghancurkan hatiku. Aku pikir aku gadis satu-satunya yang sering dia ajak bicara serius tapi aku melihatnya berbicara dengan Magisa beberapa kali.

“Kamu tahu merokok di sekolah itu berbahaya?” dia menegurku setelah muncul dengan tiba-tiba saat aku merokok.

“Tumben...,” balasku. “Kamu kehabisan rokok ya?”

“Aku masih punya banyak kalau kamu mau,” dia menegaskan. “Tapi, nggak perlu harus ngerokok di sini. Kalau ketahuan, kamu pasti habis.”

“Habis yang gimana sih?” balasku lagi. “Habis karena aku di skorsing guru?”

Tapi tiba-tiba saja dia merampas rokok di tanganku. “Hey!” protesku dan aku geram sekali ketika dia membuang rokok itu dan menginjaknya. “Itu tinggal satu!”

“Kamu tahu ada yang lebih buruk dari kemarahan guru kamu ‘kan?” Sidney mulai bertingkah aneh,

“Oh, aku lupa kalau aku selebritis sekolah dan apapun yang aku lakuin bakal di pajang di selebaran nggak jelas itu,” aku terkekeh. “Harusnya si kawat gigi Magisa ganti nama madingnya jadi namaku, karena yang dia omongin di sana selalu aku.”

“Coba deh kamu  nggak bikin perkumpulan aneh yang jadi trend itu, kamu nggak akan jadi langganan artikel mereka....”

“Siapa sih yang bikin perkumpulan?” celetukku sebal.

“Terus kamu sama anak-anak itu ngapain?”

Aku diam dan kembali nggak tenang. Aku nggak menyangka Sidney pun merasa bahwa aku yang membuat perkumpulan itu untuk balas dendam. Apa itu yang membuat sikapnya sedikit berbeda dari saat terakhir kami mengobrol? Apa karena dia juga... termakan oleh omonngannya Magisa?

“Sejak kapan sih kamu jadi pingin tahu banget?” celetukku lagi dengan kesal. “Oh, atau karena kebanyakan mojok sama si kawat gigi Magisa?”

“Terus kamu cemburu?” dia membalas seakan dengan tatapannya itu ia bisa membaca hatiku saat ini.

“Cemburu?” aku membantah dan nyaris nggak bisa sembunyi lagi. “Jangan ngasal....”

“Apa ya namanya perasaan kalau tiba-tiba orang balik kanan hanya karena melihat seorang laki-laki berjabat tangan sama seorang gadis?” tanya Sidney yang tiba-tiba malah mendesakku. “Setelah itu selalu kabur dan setiap ketemu selalu lari-lari kucing.”

“Bakal lain ceritanya kalau kamu nggak berurusan sama si kawat gigi Magisa, tau?! Kalau sama yang lain aku nggak peduli!” cetusku kesal dan ingi pergi sebelum Sidney benar-benar menyadarinya. Tentu saja aku malu. Selama ini aku selalu berpura-pura di depannya.

Tapi, Sidney mendapatkanku sebelum aku berhasil kabur. “Kamu serius?” ia bertanya sambil menatapku lekat-lekat.

“Apa sih?!” teriakku. Gengaman tangannya di lenganku membuatku benar-benar takut dan salah tingkah. Namun, aku nggak bisa menarik diriku sekalipun yang kukatakan sudah cukup menegaskan bahwa persembunyianku belum terungkap. “Aku ini bukan cewek bego yang bisa dijadiin objek penelitian! Aku bukan anak kecil!”

Sidney tertawa tanpa melepaskan genggamannya sementara aku mulai berkeringat dingin. Kalau dia nggak melepaskanku, aku bisa mati lemas. Tapi, dia ternyata menggodaku seakan dia mempunyai rasa yang sama. “Kalau gitu buktikan kalau kamu bukan anak kecil,” Sidney mulai serius dengan tatapan matanya yang juga nggak mau melepaskanku. “Orang dewasa nggak akan semudah itu jatuh hanya gara-gara kata yang sepele, Saira...”

Aku benar-benar berada dalam jarak yang dekat dengannya di tambah dengan situasi yang mendukung. Halaman belakang yang sepi dan sunyi. Aku berusaha mengendalikan detak jantungku saat dia mendekatkan wajahnya dan kalau saja bel tanda istirahat berakhir nggak pakai acara berbunyi segala, dia berhasil menciumku.

Namun, esoknya Magisa kembali terlihat di sekitar Sidney.

***

Saat lampu kuningku menyala, teman-temanku mulai resah. Aku nggak lagi mendengar mereka mendukungku sejak Sidney mulai sering terlihat bersama Magisa. Aku sempat berpikir untuk mundur apalagi Ananda dan Pevi akhirnya mengatakan bahwa mereka sempat mendengar bahwa Sidney sudah bertunangan. Mereka memintaku untuk memupus perasaanku sebelum semuanya terlambat. Mereka benar-benar percaya karena Sidney tampaknya juga menggoda Magisa. Tapi untuk apa dia melakukan itu? Sidney hanya melakukan penelitian untuk menyelesaikan sesuatu yang disebut penting untuk gelar S2-nya. Aku percaya dia bukan laki-laki yang seperti itu.

“Kalau kamu nggak percaya, coba perhatiin jari manisnya. Sidney pakai cincinnya, Sai...,” kata Pevi. “Aku tahu dari teman-teman yang kebetulan pernah dengar Bu Tetty ngobrol santai sama Sidney....”

Aku diam. Aku nggak tahu mana yang harus aku percayai. Namun, kemudian aku berusaha membuktikan kalau teman-temanku salah. Aku menunggu Sidney, mengajaknya kabur dari sekolah yang melelahkan itu. Untuk beberapa saat, aku lega. Aku nggak melihat cincin di jari tangannya seperti yang teman-temanku bilang. Aku sama sekali nggak berpikiran bahwa kalau memang iya, Sidney bisa saja melepasnya saat diperlukan. Tapi, aku sudah buta.

Setelah melompat pagar di mana pelajaran sekolah belum usai, Sidney benar-benar mendapatkanku. Dia memberiku ciuman pertama yang sampai kapan pun nggak akan terlupakan. Aku nggak bisa mundur lagi darinya. Setelah semua hal buruk yang terjadi padaku, Sidney menjadi alasan pertamaku untuk bahagia dan melupakan keluh kesahku. Bersamanya aku mulai menemukan kebahagiaan yang belum pernah kumiliki.

Dari awal Sidney memang nggak percaya dengan tuduhan Magisa padaku dan aku senang sekali saat mengetahui bahwa dia selalu memperhatikanku. Dia mencari tahu apa yang kulakukan karena ia percaya aku nggak seperti yang orang-orang tuduhkan. Namun, rahasia tetap rahasia. Aku nggak mau membeberkan apa yang dilakukan teman-temanku dalam perkumpulan. Kami menjaga sebuah komitmen untuk nggak bilang pada siapa-siapa sekalipun semua orang beranggapan bahwa Saira telah mencuci otak mereka. Aku bersedia menanggung semua keburukan itu karena nggak ingin teman-temanku harus bubar. Saling menyimpan rahasia membuat persaudaraan itu semakin kuat. Magisa dan fitnah-fitnahnya nggak akan bisa meruntuhkan mereka.

Semuanya memang terjadi dalam waktu yang singkat sampai-sampai aku nggak sempat memikirkan seperti apa jadinya kami nanti. Namun, melarikan diri nggak pernah semenyenangkan saat aku selalu bolos pelajaran di jam-jam terakhir dan menunggu Sidney di pinggir jalan yang nggak jauh dari sekolah. Aku naik ke mobilnya dan kami pergi berkendara tanpa tujuan. Dia menceritakan banyak hal tentang keluarganya; di antaranya ibu yang super over-protektif, adik-adik yang manja dan ayah yang ingin ia menjalankan bisnis keluarga. Aku memang baru mengenalnya tapi jiwanya sangat akrab denganku karena kami sama.

Sidney selalu bertentangan dengan ayahnya seperti aku yang selalu melawan Mama. Ayahnya Sidney dan Mamaku kurang lebih mirip. Mereka seorang bos yang suka mengatur bahkan hal-hal terkecil sekalipun mereka nggak ingin melewatkannya.

“Mama bener-bener nyebelin soal baju,” kataku. “Dia  bilang bajuku kurang bahan lah, sempit lah, dan ujung-ujungnya dia ceramahin aku. Pelecehan itu kadang terjadi karena kesalahan perempuan sendiri contohnya baju yang mereka pakai itu bisa mengundang perhatian orang. Pagi-pagi kalau dia sempat masuk kamarku sebelum berangkat sekolah dia pasti nyuruh aku ganti baju. Padahal menurutku sih kalau laki-lakinya emang bejat nggak peduli terbuka atau ketutup tetap aja nafsu!”

“Kalau soal itu Mama kamu nggak salah,” komentar dia hingga membuatku melotot. Dia memandangiku dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang dipenuhi nafsu. ”Mungkin karena laki-laki yang kamu maksud itu  belum pernah semobil sama kamu.”

“Ih, apa sih?!” cetusku sambil mendorong dan memukul-mukul tubuhnya.

Sidney tertawa.

“Jangan ikutan nyebelin!” teriakku masih nggak terima karena dia masih menertawaiku bahkan sampai terpingkal-pingkal.

Entah apa yang lucu baginya tapi saat di dekatnya, aku berusaha untuk tahu apa yang dia pikirkan tentangku. Aku ingin mencuri pikirannya. Hanya saja ketika Sidney menangkap basah aku yang sedang memandanginya, aku selalu tertunduk dengan menggelikan. Seperti belum terbiasa berada dalam jarak yang dekat dengannya. Dan Sidney, dia selalu tenang dan mengendalikan keadaan. Misalnya dengan bertanya ke mana tujuan kami selanjutnya dan aku menjawab nggak tahu; aku belum pernah berkencan dengan siapa pun.

“Kamu nggak sedang diet ‘kan?” dia bertanya setengah meledek padaku. “Aku lapar sejak diculik dari sekolah belum makan apa-apa.”

Aku sedikit sebal dan membalas ucapannya sambil cemberut. “Mana ada orang yang diculik nyetir mobil sendiri sama penculiknya?” cetusku.

“Habisnya si penculik nggak bisa nyetir dan yang diculik ingin sekali diculik,” jawab dia enteng lalu tertawa lagi.

“Kenapa kamu nggak ngajarin aku nyetir?” tanyaku, sedikit merajuk.

Sidney nggak langsung menjawab. Malahan dia cukup kaget mendengar permintaanku.

Aku kembali cemberut. “Kamu takut mobil mahal kamu nabrak kalau aku yang bawa?” celetukku lagi.

Sepertinya aku membuatnya kesal, karena dia buang pandang sebentar sebelum menyentil dahiku. “Dasar, anak kecil!” katanya. “Kenapa kamu selalu berpikiran buruk sama orang lain?”

“Habis tampang kamu nggak enak dilihat,” kataku.

“Oke, aku ajarin kamu nyetir. Kalau kamu nabrak dan mobilnya rusak, tenang aja, aku masih bisa beli sepuluh lagi,” kata dia lalu menatapku lekat-lekat. “Tapi, ada syaratnya.”

Aku mengangguk dengan bersemangat sembari menunggu syarat yang dia maksud itu.

“Kita makan dulu ya?” sambung dia. “Aku lapar.”

“Ih, aku kira apaan!” celetukku sedikit gusar.

Sidney tertawa. “Kamu pikir aku pasti minta yang aneh-aneh ‘kan?” dia malah menggodaku.

Aku nggak menjawabnya karena tiba-tiba jadi malu. Memang aku sempat mengira dia minta aku menciumnya atau yang lebih dari itu. Tapi, sepertinya dia berhasil mempermainkanku.

“Aku bukan laki-laki yang gampang tergoda hanya karena kamu pakai rok yang kalau udah duduk kayak gitu hampir seperti pakai celana dalam,” tandas dia, dan itu terdengar menyebalkan bagiku.

“Kamu udah kayak Mama-ku aja ya?” balasku, kesal. “Aku tahu kamu tuh udah biasa di Australia dan ngelihat lebih dari ini, tapi nggak usah ngomong kayak gitu dong ke aku!”

“Makanya sekarang kita pergi makan ya?” kata dia lagi dan itu membuatku heran. Sikapnya begitu santai menghadapiku. “Aku suka ngomong aneh-aneh kalau lagi lapar.”

Dia menghadapiku dengan baik. Aku kira itu sindiran karena sepertinya Sidney juga nggak suka dengan rokku. Aku gelisah memikirkannya sampai kami tiba di restoran dan kami belum bicara apa-apa lagi. Sampai saat kami duduk dan menunggu pesanan datang, aku kembali gelisah. Aku memandanginya dengan khawatir karena Sidney sibuk dengan handphone-nya.

“Habis ini, aku... ganti baju ya?” kataku dengan ragu-ragu.

Sidney menoleh lalu tersenyum. “Ide bagus,” jawab dia. “Aku juga nggak mau kelihatan jalan sama anak SMA.”

“Jangan nyebelin lagi deh...,”

“Aku cuma bercanda,” katanya sambil mengusap-usap kepalaku. “Mau gimana lagi kamu memang belum cukup 17 tahun.”

“Aku udah 17 tahun, Sid!” tukasku. “Aku cuma nggak pernah ngerayain Sweet Seventeen karena aku nggak punya teman! Bukan berarti aku belum 17 tahun!”

“Kapan?”

“Sebulan yang lalu. Aku juga lupa kalau aku ulang tahun,” kataku, sedih.

“Harusnya kamu bilang ke aku,”

“Gimana mau bilang? Kita belum kenal...,”

“Ya sudah, kalau gitu ayo kita kenalan.” Sidney mengulurkan tangannya padaku. “Aku Sidney William Adams, apa kabar?”

Aku tertawa dibuatnya. Dia selalu berhasil membuatku tertawa. Menurutku dia benar-benar konyol.

“Kenapa?” dia bertanya karena aku nggak membalas uluran tangannya. “Katanya mau merayakan Sweet Seventeen?”

“Udah lewat!” teriakku sambil terus tertawa. “Kamu apa-apaan sih? Sok lucu!”

Sidney hanya menatapku sambil tersenyum. Aku nggak mengerti kenapa dia menatapku seolah dia nggak pernah bosan melakukannya. Padahal aku ini pemarah, kekanakan, suka ngomong sembarangan, ringan tangan juga. Tapi, dia selalu membuatku tertawa.

“Aku nggak minta kamu ngerayainnya kok,” kataku. “Acara ulang tahun itu cuma buat mereka yang punya orang-orang untuk merayakannya.”

“Ya, kamu benar. Kalau cuma berdua itu namanya pacaran,” balas Sidney lagi dan aku kembali terpingkal dibuatnya.

Lalu pesanan makanan tiba. Kami mulai makan sambil mengobrol ringan. Seperti biasa, kata-kata Sidney yang singkat tanpa makna, namun menghibur. Aku nggak pernah sesenang ini sebelumnya sehingga aku nggak ingin saat-saat itu segera berlalu.

***

“Jadi... setelah ini kita mau ke mana?” tanyaku saat kami berjalan menuju ke parkiran mobil.

Sidney melirik jam tangannya. “Jam lima sore. Kamu pikir kita bisa ke mana lagi?” dia bertanya dan aku hanya angkat bahu. “Dengar-dengar Mama kamu ngelarang kamu pacaran, jadi kupikir... kamu harus sampai di rumah sebelum jam enam.”

“Yah, nggak seru, Sid!” kataku dengan kecewa. ”Aku masih ingin keliling!”

“Mungkin besok,” jawab dia tegas.

“Gimana kalau nggak ada besok?” aku mulai merajuk.

“Ada.” Sidney masih terlihat tenang dan santai.

“Gimana kalau besok kita nggak bisa ketemu lagi,” desakku.

Reaksi Sidney masih nggak berubah. “Aku bakal nyari kamu sampai ketemu.”

“Kalau aku benar-benar menghilang, kamu mau apa?” aku mulai memaksanya.

“Aku akan menunggu sampai kamu kembali,” balas dia datar.

“Kalau aku nggak kembali untuk selama-lamanya gimana?”  aku benar-benar kehilangan ide.

“Aku pacaran sama orang lain aja,” jawab Sidney dengan cara yang sama namun membuatku benar-benar patah semangat.

“Yaah, nggak asyik!”

“Jangan bandel, Saira!” dia berkata sambil menyentil dahiku lagi.

Aku kesal dan mulai menghentakan kakiku seperti anak kecil yang merengek. “Ih, aku nggak suka kamu nyentil dahiku terus!” kataku. “Aku bukan anak kecil!”

“Kamu selalu bikin aku harus ngelakuin itu,” kata dia sambil menatapku serius. Lalu membalikan badan menuju mobilnya yang sudah ada di depan mata.

Aku menarik nafas. Seringkali Sidney membuatku hilang akal; ingin menunjukan padanya bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi, entah apa yang membuatnya terkadang tampak acuh; atau memang begitulah orang dewasa. Dia selalu bisa menghadapi emosiku yang meledak-ledak dengan sikapnya itu. Aku merasa dia nggak benar-benar mengerti diriku.

“Kamu sering bilang aku anak kecil, tapi kamu ingat kemarin kamu pernah nyium aku?!” seruku saking kesalnya hingga Sidney menoleh dan dia tampak kelabakan.

Sepertinya dia nggak ingin ada orang lain yang mendengar kata-kataku barusan. Dengan cepat, dia menghampiriku dengan wajah gusar. “Kenapa kamu harus teriak-teriak?” dia bertanya.

Aku menjawabnya hanya dengan menunjukan ekspresi kesalku.

Sidney menunjuk ke mobil. “Cepat naik ke mobil, sekarang!” dia memerintahku dan aku bertambah sebal dengan sikapnya itu. “Aku harus mengantar kamu sebelum jam enam karena aku nggak mau kamu dalam masalah. Lagian aku juga nggak enak sama ibu kamu, Saira. Kamu harus paham itu.”

Ya, dia benar. Aku selalu dalam masalah dan dia nggak ingin menambahnya. Mungkin kalau ketahuan Mama aku pergi dengannya, habislah aku. Mama juga nggak akan segan-segan menyerang Sidney dan pasti dituduh macam-macam. Bagi sebagian orang hubungan antara gadis SMA dengan laki-laki dua puluh enam tahun di sekolah itu sesuatu yang nggak bagus. Sidney memintaku untuk memahami hal itu berkali-kali.

Tapi, aku hanya... hanya ingin dia melihatku sebagai seorang gadis seperti saat dia menciumku waktu itu. Dia bisa mengabaikan hal itu namun hanya sekali. Untuk selanjutnya Sidney benar-benar memperlakukanku seperti anak kecil yang harus dia jaga baik-baik.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments