๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Message in the Bottle
Rumah keluarga Ananda memang kecil dan sempit. Tapi, aku senang berada di dalamnya. Entah kenapa. Aku suka dengan masakan Bunda-nya dan aku senang meladeni Arman yang ingin merasakan naik mobil keren karena dia pernah melihat aku dijemput Pak Didi di depan rumahnya. Tapi, aku hanya bisa berjanji nanti akan mengajaknya berkeliling karena sekarang aku harus belajar untuk ujian semester yang hanya tinggal dalam hitungan minggu.
“Lo nggak kepikiran setelah lulus SMA nanti mau masuk ke universitas mana?” Ananda tiba-tiba bertanya padaku saat aku sedang berusaha menyelsaikan PR Matematika-ku.
Aku hanya menggeleng. “Mama-ku belum bilang apa-apa soal itu,” jawabku singkat.
“Apa?” Ananda seakan nggak percaya dengan jawabanku yang terlalu ngasal.
Habisnya aku ini nggak pintar. Hanya Mama-ku yang tahu apa yang bisa kulakukan. Kalaupun aku memilih sendiri, itu nggak akan ada gunanya karena aku yakin apa yang kupilih pasti nggak sesuai keinginannya. Aku bosan berdebat dengan Mama-ku.
Aku nggak menjawabnya sehingga Ananda menggelengkan kepala seakan nggak percaya dengan jawabanku.
“Wah, lagi belajar ya?”
Rupanya Adrian datang dan menghampiri kami.
Ya, Adrian kakak laki-laki Ananda satu-satunya. Seperti Bunda-nya, Adrian juga ramah dan memiliki senyum yang hangat. Dia memang tinggi kurus dengan rambut yang sedikit gondrong plus berkaca mata dan mendekati ‘kutu buku’. Tapi Adrian membuat kesan kutu buku itu nggak melulu cupu dan kurang gaul. Dia sangat menyenangkan.
“Kebetulan nih aku beli cemilan,” kata dia sambil menaruh sebuah bungkusan kantong plastik di atas meja.
“Yes!” Arman tiba-tiba muncul entah dari mana dan langsung mengambil bungkusan.
“Arman!” seru Ananda yang protes. “Itu buat Saira! Bukan buat kamu!”
Arman berubah menjadi cemberut sementara aku nggak bisa berhenti ketawa. Dengan patah semangat dia mengembalikan bungkusan itu ke atas meja.
“Mas Adrian beli apa sih? Hati-hati, Saira nggak biasa makan jajanan pinggir jalan, nanti dia sakit perut,” ledek Ananda dan membuatku malu sekali.
Adrian hanya tertawa sambil memperhatikan buku pelajaranku. “Matematika ya?” tanya dia padaku.
Aku mengangguk.
“Iya, Matematika,” celetuk Ananda. “Mas Adrian coba ajarin Saira deh. Daritadi dia nggak ngerti-ngerti. Apa aku yang nggak bisa ngajarin ya?”
“Ah, nggak!” kataku cepat-cepat. Merasa nggak enak sama Adrian yang jadi nangkring di meja kami. “Memang aku aja yang nggak bisa....”
Ini pertama kalinya aku merasa malu di depan orang; orangnya seperti Adrian pula. Seorang cowok ramah yang kelihatannya penyayang sama adik-adiknya. Apa sih yang kurang dari keluarga ini? Mereka nggak pernah kekurangan senyum untuk orang lain. Nggak pernah terlihat merasa kekurangan walaupun mereka tinggal di tempat seperti ini.
***
“Perasaan gue aja atau... Mas Adrian memang suka sama lo, Sai,” celetuk Ananda tiba-tiba dan aku nyaris memuntahkan minumanku saking kagetnya.
Dia tengah menyirami bunga-bunga mataharinya yang ada di depan rumah dan aku duduk diterasnya yang hanya bisa memuat dua buah kursi kecil.
Ananda terbahak melihat ekspresiku. “Gue nggak maksud nyomblangin lo. Tapi, kayaknya sih gitu....”
“Adrian? Suka sama gue?” aku hampir nggak percaya. Aku memang nggak tahu apa-apa soal cowok. Aku belum pernah suka sama siapa pun. Walaupun di sekolah ada seseorang yang sempat kuperhatikan. Tapi, ini berbeda. “Kayak nggak ada cewek yang normal aja.”
“Kenapa lo ngerasa nggak normal sih?” protes Ananda sambil mengernyitkan dahinya.
“Yah, gue ini kan...,” jawabku sambil memberi tanda petik dengan jari-jariku, “cewek nakal.”
“Itu ‘kan cuma fitnahnya Magisa,” hiburnya.
Aku menghela nafas lelah. “Sekarang itu nggak cuma fitnah, Nan...,” kataku, tiba-tiba sedih. “Tuduhan itu terasa nyata sekarang.”
Ananda terdiam dan ikut sedih. “Kalau gue yang ada di posisi lo saat ini, gue pasti juga nggak tahan, Sai. Bisa-bisa gue bunuh diri...,” katanya. “Apalagi sekarang Magisa semakin menjadi-jadi. Dia muncul kayak seorang pahlawan sama omong kosongnya soal anti-bullying. Apa dia nggak sadar dia juga sedang nge-bully orang dan itu dengan cara yang sama sekali nggak terhormat. Dia populer karena suka ngebohongin orang.”
“Itu karma buat gue, Nan... makanya gue nggak mau ladenin. Yang penting sekarang buat gue adalah ngejauhin dia dan keramaian...,” kataku, berusaha untuk kembali tenang.
“Lo bener, Sai. Tapi, dia kelewatan...,” lanjut Ananda. “Dia memfitnah lo habis-habisan dan itu nggak adil buat lo.”
“Kalau gue ngebalas dia, semua ini nggak akan ada habisnya....”
“Iya juga sih... gue juga kadang-kadang suka mikir, gimana ya caranya supaya anak-anak di sekolah nggak terpengaruh sama omong kosong-nya Magisa. Dia itu cuma pintar orasi. Buktinya juga masih banyak yang di-bully di sekolah!”
Aku diam. Ananda ikut diam. Sepertinya dia memang serius memikirkan sebuah ide untuk membalas si kawat gigi Magisa walaupun aku terang-terangan menolak. Si kawat gigi Magisa bisa saja memutar balikan fakta dan terus mencari korban. Dia seorang ratu drama yang ingin diperhitungkan. Aku jadi ingat saat melihatnya di sekolah beberapa waktu lalu; dia melenggak lenggok di sepanjang lorong sekolah seolah dia adalah selebriti papan atas.
“Udah deh, daripada lo sedih, mending lo ikut gue ke suatu tempat,” kata Ananda secara tiba-tiba sehingga membuatku heran.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ke tempat di mana semua keinginan pasti terkabul!”
Sore itu Ananda mengajakku ke Teluk Jakarta dengan berjalan kaki. Aku nggak ngerti awalnya kenapa Ananda menyebut tempat yang sama sekali nggak kelihatan istimewa itu adalah pengabul semua keinginan. Aku hanya memperhatikan laut dan gedung-gedung tinggi yang lampunya mulai menyala karena senja sudah tiba. Kuperhatikan Ananda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah botol dan buku catatan; dia tampak akan menulis sesuatu di sana. Benar saja, Ananda menuliskan sebuah kalimat pada secarik kertas lalu memasukannya ke botol. Ia sempat menawariku untuk menulis satu permohonan tapi aku menolak karena aku nggak punya keinginan apa-apa. Kemudian Ananda menghanyutkan botol berisi surat itu di laut dengan penuh keyakinan apa yang ia tulis akan terkabul.
“Lo nulis apa di sana?” tanyaku dengan penasaran.
Dia hanya tersenyum dan aku pun nggak bertanya lagi walaupun aku masih saja heran. Apa hubungan surat dalam botol dengan keinginan yang pasti akan terkabul? Dalam perjalanan pulang, aku masih saja memikirkannya seakan itu begitu penting. Kenapa Ananda mempercayai hal-hal seperti itu. Tuhan bukankah berada di atas? Bukan di laut?
“Kenapa harus laut dan surat dalam botol?” akhirnya aku bertanya.
“Memangnya kenapa?” dia balas bertanya. “Kita bisa berdoa dengan cara apa aja ‘kan?”
Aku semakin nggak ngerti.
“Tuhan ada di mana-mana...,” dia mengingatkan. “Kita ini ibarat manusia yang terdampar di sebuah pulau terpencil seorang diri. Ada manusia yang percaya bahwa pertolongan akan datang dan ada yang terlanjur putus asa kalau mereka nggak akan keluar dari pulau itu. Bagi yang percaya, dia akan berusaha dan berdoa salah satunya dengan menghanyutkan pesan di dalam botol. Seseorang akan menemukan pesan itu suatu hari dan menyelamatkannya. Hanya ada dua pilihan, Sai, percaya kita akan menemukan jalan atau putus asa begitu saja.”
“Apa semua keinginan akan benar-benar terkabul?” aku menanyainya lagi untuk yang terakhir.
“Akan selalu ada keajaiban kalau kita percaya,” jawabnya dan itu kuingat dengan sangat baik di dalam memoriku.
Sebenarnya Ananda menginginkan orang-orang untuk percaya pada impiannya sendiri; percaya bahwa itu akan terkabul selama kita yakin. Dia mempunyai filosofi yang unik. Dulunya ia dan si kawat gigi Magisa mempercayai hal yang sama karena itu mereka berteman. Tapi, sejak si kawat gigi Magisa menunjukan tujuannya mulai berbeda, mereka nggak sejalan lagi. Aku tahu bahwa gadis yang sekarang sudah populer itu juga mengutuk Ananda yang dia anggap telah mengkhianatinya. Setiap bertemu, si kawat gigi Magisa akan menatapnya dengan sinis atau mungkin menyindir. Tapi, Ananda diam, dia juga nggak mengatakannya padaku. Aku tahu bahwa dia harus menghadapi kesinisan si kawat gigi Magisa sejak Ananda mencetuskan sebuah bentuk persaudaraan.
***
Ananda memulainya dengan sebuah undangan kepada seorang gadis yang pernah ia lihat sedang dibully oleh siswa laki-laki karena bertubuh gendut. Sebuah undangan kecil bertuliskan ilustrasi matahari dan jam di mana Ananda akan menunggunya lalu mereka pergi ke Teluk Jakarta. Ananda memberinya sebuah botol dan kertas untuk ditulis sebuah permohonan lalu menghanyutkannya di laut. Namanya Pevita dan kami memanggilnya Pevi. Tahu apa yang ditulis Pevi di dalam botolnya? ‘Aku ingin sekali menjadi kurus seperti Saira’.
Sejak kehadiran Pevi, semuanya menjadi lebih berwarna. Pevi adalah gadis yang kurang percaya diri dengan bobotnya; nggak heran sih makanan favoritnya Pevi adalah nasi Padang. Sepulang sekolah dia bahkan sering mengajak kami makan di warung nasi Padang favoritnya. Dari sana aku tahu alasan mengapa Nasi Padang terkenal di mana-mana. Menunya kebanyakan terbuat dari santan; gulai, rendang dan sejenisnya. Aku juga sempat keranjingan makan nasi Padang.
Sebenarnya Pevi sendiri menyangsikan kalau dia bisa kurus dan sudah lama putus asa dengan berat badannya yang bukan berkurang tapi malah terus bertambah. Aku dan Ananda membuatnya benar-benar percaya itu akan terjadi. Karena Pevi-lah jalan kaki dari sekolah ke Teluk Jakarta menjadi sebuah ritual. Kami sengaja mengajaknya jalan kaki karena Pevi memang pemalas dan kami membuatnya menjadi menyenangkan dengan tertawa dan menceritakan hal-hal yang menyenangkan sepanjang jalan; walaupun sebelum ke Teluk Jakarta tetap singgah di warung nasi Padang untuk makan.
Setelah Pevi berhasil menurunkan berat badannya, walaupun hanya beberapa kilogram saja, ia pun terpikir untuk mengajak orang lain yang mengalami nasib seperti dirinya yaitu di-bully karena kekurangannya. Tapi, Ananda kurang setuju dengan itu karena kalau kami terlalu ramai maka semua orang akan tahu. Ananda nggak ingin membentuk sebuah geng karena menurutnya ritual menghanyutkan botol di laut adalah rahasianya dan ia hanya ingin berbagi pada orang-orang yang ia percayai. Ananda nggak ingin apa yang dia lakukan dianggap sebagai hal yang kekanakan dan konyol apalagi sampai ada yang mencelanya. Itu malah akan menimbulkan sesuatu untuk dibully oleh anak-anak lain. Aku juga nggak setuju karena aku berada di dalamnya dan aku terlanjur memiliki reputasi sebagai ‘siswi nakal’. Aku nggak ingin orang lain jadi kebawa-bawa gara-gara aku.
“Kita membuatnya menjadi rahasia!” seru Pevi yang bersemangat sekali ingin berbagi. “Maksudnya semua yang kita lakukan itu adalah rahasia.”
Aku dan Ananda hanya mengernyit. Kami masih belum mengerti dengan rencananya.
“Iya, rahasia! Sama kayak Nanda ngasih gue undangan sama kertas kecil yang dilipat-lipat. Itu ‘kan undangan rahasia,” jelasnya.
“Gue ngirim undangan itu sebagai tanda karena nggak tahu cara lain supaya bisa ngasih tahu lo, Pev...” kata Nanda. “Kita ‘kan belum pernah ngobrol sebelumnya....”
“Ya itu dia! Undangannya yang ada simbolnya,” dia berkata dengan sangat yakin sambil berdiri dan menghadap laut. Sekali ia menoleh kepada kami yang masih duduk di atas pasir sambil memandangi dia penuh dengan tanda tanya. “Kita bisa mulai dari sini!”
Aku bertambah bingung dan Ananda menatapku heran.
“Ayo, sini!” panggil Pevi dengan lambaian tangannya.
Saat itu matahari hampir tenggelam dan langit mulai kemerahan. Pevita mengajak kami untuk membuat sebuah perjanjian. Kami berdiri berpegangan membentuk lingkaran sambil mengucapkan permohonan yang kami tulis pada kertas dalam botol lalu berjanji nggak akan mengatakannya pada siapa pun.
“Aku ingin dapat beasiswa jurusan arsitektur di University of Canberra,” Ananda mengucapkan permohonanannya.
“Aku ingin kurus dan punya pacar,” permohonan Pevi membuatku tertawa namun Ananda menyentak tanganku agar gak meremehkan permohonannya.
Sayangnya aku belum mengucapkan permohonan apa-apa saat itu. Aku belum pernah membuat surat dalam botol. Namun, aku berjanji akan menjaga rahasia tentang apa yang mereka inginkan sembari memikirkan apa yang ingin aku tulis. Yang jelas kemudian, aku memotong pendek rambutku sebagai permulaan yang baru karena akhirnya aku memiliki teman-teman.
Undangan mulai tersebar secara rahasia. Karena aku satu-satunya yang pasif, aku memutuskan untuk menjadi penulis undangan saja ketimbang menargetkan siapa yang akan menerima undangan itu. Pevi dan Ananda lebih tahu orang yang paling tepat untuk diundang; karena mereka pernah di-bully. Sedangkan aku adalah si pem-bully yang sudah jera dan ingin memulai awal yang baru; kenyataan itu kadang membuatku merasa malu.
Biasanya Pevi dan Ananda memasukan undangan itu secara diam-diam ke dalam tas atau menyelipkannya di buku milik orang yang mereka tuju. Pevi menunggu yang terpilih di belakang sekolah untuk mengecek apakah orang yang datang memiliki undangan. Sedangkan Ananda menunggu di Teluk Jakarta untuk memberikan botol dan kertas kepada mereka untuk ditulisi permohonan. Kalau aku sendiri lebih memilih sembunyi. Aku merasa nggak pantas berada di antara mereka saat mengucapkan permohonan. Aku nggak punya impian atau keinginan. Menyedihkan bukan?
Aku nggak pernah tahu apa yang aku inginkan sebelum aku bertemu seseorang yang kemudian mengubah segalanya.
***
Siang itu, aku bosan sekali. Aku memang benci belajar. Aku juga nggak punya hobi yang bikin aku merasa betah. Sejak berteman sama Ananda aku lebih suka nongkrong di rumahnya sampai sore. Tapi, karena kegiatan perkumpulan adalah rahasia bagi orang selain anggota, kami mulai jarang duduk-duduk di sana. Aku nggak pernah bertemu Adrian yang memperhatikanku lagi walaupun kadang Ananda bilang padaku Adrian sempat bertanya tentangku. Ya, Adrian memang baik bahkan Ananda berkata seolah Adrian suka padaku. Bahkan setelah Pevi juga tahu hal itu, mereka semakin bersemangat. Pernah setelah kembali dari Teluk Jakarta, kami bela-belain pergi ke rumah Ananda untuk mempertemukanku dengan Adrian.
Ya, Adrian memang baik dan ramah. Keren juga. Tapi, aku nggak suka. Nggak tahu kenapa, aku nggak punya ketertarikan khusus pada Adrian. Adrian memang sering membuatku tersipu malu saat mengobrol di dekatnya. Tapi, perasaan itu jauh dari rasa suka yang sebenarnya. Aku merasa yang aku inginkan bukan Adrian walaupun aku juga nggak tahu orang seperti apa yang bisa membuatku jatuh cinta. Bahkan kata ‘jatuh cinta’ masih sesuatu yang mewah bagiku; karena perasaan semacam itu nggak bisa dibeli dengan uang.
Tiba-tiba aku ingin melarikan diri saja dari sekolah. Di sekolah aku memang menjauhi Ananda dan Pevi. Sekali lagi aku bilang, aku ini seperti racun yang berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka di sekolah. Jadi, kemudian aku memutuskan untuk membolos dengan memanjat pagar belakang. Kebiasaan membolos itu terus berlanjut karena ruangan Bu Tetty nggak pernah membuatku takut.
Aku masuk ke sana dan dimarahi; itu saja dan sebagai gantinya aku bertemu dengan orang itu; namanya sama seperti nama kukang dalam film Ice Age. Sebenarnya nama itu keren; kalau nggak salah ibukotanya Australia; ah, aku juga nggak tahu ibukotanya Australia, tapi saat mendengar Bu Tetty memanggilnya “Sid,” aku langsung tertawa. Manny dan Diego selalu memanggil Sidney si kukang dengan ‘Sid’; biasanya kalau Sid melakukan kesalahan yang konyol. Sid memang hewan yang lucu, tapi kalau cowok itu, dia sama sekali nggak ada lucu-lucunya. Dia sangat kaku untuk ukuran orang bule yang kebanyakan suka sekali menggangu cewek lokal.
Aku juga ingat saat kelas Kimia; karena aku jurusannya IPA dan aku sama sekali nggak mengerti apa-apa; disuruh menghafal nama-nama bahan kimia berbahaya. Hydrofluoric Acid dengan nama lain Asam Fluorida. Aku langsung teringat padanya. Acid; Sid; dan itu sama sekali nggak kedengaran keren. Sidney Adams, memang berbahaya seperti Hydrofluoric Acid.
Jadi, ketika akhirnya dia menangkap basah aku yang berusaha kabur, aku benar-benar takut. Tapi, takut itu seketika hilang karena aku jatuh dan dia melihat celana dalamku. Aku malu. Tentu saja. Walaupun itu pertama kalinya aku bicara dengannya, aku bersikap menggelikan dengan menantangnya untuk melaporkanku ke Bu Tetty kalau dia berani.
Tapi, dia memang nggak pernah mengadukanku. Hanya saja, sejak itu aku selalu menghindar setiap akan berpapasan dengannya. Bagaimana pun kejadian hari itu sangat memalukan. Aku nggak ingin dia ingat bahwa akulah yang terjatuh dengan konyol dari pagar saat mencoba bolos walaupun aku yakin seratus persen dia tahu bahwa cewek sial itu adalah Saira Gayatri yang paling bermasalah. Aku nggak sadar, itulah pertama kalinya aku takut dengan pendapat orang tentangku.
Aku begitu gelisah. Aku jadi nggak berani lagi bolos lewat pagar belakang terlebih aku mulai sering menemukan dia merokok di sana. Firasatku mengatakan itu dia lakukan untuk mengantisipasi nggak ada yang kabur saat pelajaran. Tapi, apa gunanya? Setahuku dia hanya anak magang dan tugasnya bukan mengawasi tapi belajar sepertiku. Karena sering melihat dia di sana, aku selalu mengambil langkah mundur dan balik kanan. Aku nggak ingin dia melihatku; melihat aku yang seperti ini. Walaupun kadang rasa ingin menghampiri itu muncul; tapi bagaimana caranya? Aku nggak pernah memulai pembicaraan dengan seorang cowok. Lagipula dia lebih dewasa daripada Adrian; pasti aku akan kelihatan kekanakan saat bicara sembarangan.
Tapi, dia merokok. Aku memang sering memperhatikan orang dewasa yang merokok. Di sekolahku, rata-rata guru-guru pria memang merokok. Mereka merokok di area tertentu saja supaya nggak dilihat murid dan menjadi contoh. Dia juga. Pergi ke halaman belakang supaya nggak kelihatan sedang merokok. Bagiku merokok itu adalah cara orang dewasa melupakan masalah sejenak. Aku juga pernah melihat Mama-ku merokok saat dia sedang tertekan. Aku pernah mencobanya juga tapi rasanya sama sekali nggak enak. Namun, entah mengapa aku ingin mencobanya lagi.
***
Komentar
0 comments