๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku melihatnya –bagaimana saat Ibunya yang malu sekali
datang ke sekolah dipanggil. Seorang wanita kantoran yang sepertinya sibuk
sekali. Seringkali telepon genggamnya berbunyi dan ia harus mengangkatnya.
“Maaf mengganggu, Bu Sastri,” kata Bu Tetty, terlihat amat
segan saat wanita itu baru saja menutup sebuah telpon penting tentang rapat
yang sepertinya harus ia hadiri segera.
“Ah, nggak apa-apa, Bu...,” balas wanita itu. “Saya
benar-benar repot hari ini. Tapi, mengenai anak saya... tolong, beri dia
kesempatan sekali lagi. Memang, Saira susah sekali untuk dinasehati. Apalagi
sejak saya dan Papa-nya bercerai. Saira semakin tidak terkendali....”
“Saya mengerti, Bu. Masalah ini akan terus ditelusuri.
Karena saya masih kurang yakin Saira berbuat seperti itu,” jelas Bu Tetty lagi.
“Sampai sekarang, Saira tidak pernah mau cerita tentang apa yang ia alami....”
“Saya mohon bantuannya, Bu Tetty. Dia nggak pernah mau
dengerin saya. Saya sendiri juga bingung harus menasehati dia dengan cara
bagaimana,” kata wanita itu buru-buru. Tampak sudah mau pergi.
Sementara itu Saira masih di luar, menunggu ibunya keluar
dari ruang BK. Ia tampak termenung sampai kemudian sang ibu muncul dalam
keadaan marah.
“Mama nggak ngerti sama kamu, Saira! Mama izinin kamu
modeling supaya kamu punya kegiatan yang positif di luar sekolah. Nggak
keluyuran, nggak aneh-aneh!” katanya
menyemprot Saira yang hanya memalingkan wajahnya dengan sedih. Tapi,
sang ibu menganggapnya seperti sebuah perlawanan karena tak kunjung mau
menatapnya. “Lihat Mama, Saira!”
Saira menoleh, memandang ibunya ogah-ogahan tanpa bicara.
“Mama malu banget, tahu?!” teriak Mama-nya lagi. “Kamu masih
diberi kesempatan sekolah di sini karena mereka masih memandang Mama, kamu
ngerti?! Jangan sampai kamu bikin ulah lagi!”
Saira masih tidak menjawab. Saat sang ibu pergi, ia hanya
menatap dengan kosong. Lalu setetes air mata mengalir dari sepasang mata yang
berkaca itu.
Hari setelah orang tuanya dipanggil, sekolah kembali
dihebohkan dengan kelakuannya yang lain. Saira merusak mading dengan
menyempotkan cat yang bertuliskan ‘Mading Tukang Fitnah’. Kemudian mereka
berdua kembali terpanggil ke ruang Bu Tetty. Saat Gigi berusaha membela
dirinya, Saira malah diam saja.
Walaupun semua memojokannya, aku tahu pasti ada sesuatu yang
dia sembunyikan dari semua orang. Tapi, kenapa dia tidak berkata jujur? Kalau
dia jujur, tentu keadaan menjadi terbalik. Lalu segala hal tentang Saira mulai
menjadi misteri.
Desas desus mulai berhembus. Semua fasilitas mewah yang ia
dapat dari keluarganya telah dicabut. Uang jajan pun dibatasi. Tapi, seolah
membuktikan kabar tentangnya tidak benar, Saira berhenti ikut kegiatan modeling
atau pemotretan segala macam. Hari-hari setelah itu, ia sering terlihat
berjalan kaki ke sekolah. Dia memotong rambut panjangnya menjadi sangat pendek,
hingga membuat orang-orang heran. Perubahan yang terjadi dalam dirinya sangat
drastis. Kebanyakan orang menyebutnya sedang menerima ‘hukuman’ tapi bagiku
sesungguhnya ia tengah membalas mereka yang memfitnahnya.
Bahkan saat Gigi memenangkan penghargaan Mading Terbaik
antar sekolah, Saira seolah tidak peduli. Dia tidak pernah terlihat mengambil
ancang-ancang menjatuhkan Gigi dari singgasananya seperti yang pernah Gigi
lakukan terhadapnya. Lalu apa yang dia lakukan?
***

Komentar
0 comments