[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 8 (1/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

I'D LIE

“Hei!” tiba-tiba Chakka muncul di hadapan Talisa keesokan harinya. Dengan sedikit rasa bersalah, ia menunjukan bahwa ia cukup menyesal atas kejadian itu.
Gadis itu benar-benar mengira bahwa Chakka akan mengeluarkan surat PHK untuknya.
 “Maaf,” dia berkata dengan tiba-tiba. “Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan kamu. Kalau kamu merasa terganggu karena sering melihat hal-hal yang seharusnya kamu nggak lihat, aku minta maaf. Setelah ini mungkin aku akan lebih hati-hati ....”
Talisa menggeleng. Lalu tertunduk. Seperti baru mendengar sebuah penolakan cinta. Bisa-bisanya Talisa tertekan dengan kalimatnya. Sedangkan Chakka hanya menatapnya karena Talisa tidak bicara.
Apa lagi yang harus kukatakan? Aku ini hanya ‘orang luar’.
“Dengar, aku nggak kesal karena kamu juga bilang aku psikopat,” kata dia. “Maksudku bukan psikopat seperti yang Dara ucapkan.”
“Memang ada berapa macam psikopat di dunia ini?” Talisa berusaha untuk tenang. Berada di sekitarnya terasa menyenangkan sekaligus berdebar. Memikirkannya bahkan sampa membuatnya tidak tidur. Semalaman Talisa menangis untuk sesuatu yang tidak pernah ada.
“Aku nggak mempermainkan orang karena hobi dan aku nggak segila itu,”
Kenapa dia harus mengatakannya padaku? Memangnya dia suka padaku dan dia tidak mau aku berpikiran macam-macam tentangnya? Talisa hanya menatapnya heran. Talisa tidak tahu Chakka menganggapnya apa dan ia jadi mau tahu sekali karena lelaki itu tampak ingin mengklarrifikasi semauanya seakan menurutnya itu penting bagi Talisa.
“Aku dengar kamu benar-benar gila ...,” gumam Talisa, teringat bagaimana kemarin dia membuat Dara benar-benar kesakitan dan ketakutan. Apa begitu caranya mencintai? Setahunya, dari film romantis, mencintai itu adalah candle light dinner, berciuman dengan mesra, bukannya saling memaksa dan adu mulut –atau barangkali memang seperti itulah gaya Chakka dan Dara.
Chakka terdengar menghela nafas. “Sekali lagi maaf,”
Talisa mengamati wajahnya. Apa dia serius soal itu? Tapi, apa pentingnya meminta maaf pada Talisa? Lama-lama orang ini membuatnya semakin berharap saja.
Apa dia sudah memikirkan cara untuk melupakan Dara?
Ah, itu hampir tidak mungkin.
“Aku nggak terima Coca Cola sebagai permintaan maaf,” Talisa berkata memperingatkan sebelum nanti tiba-tiba dia muncul di hadapannya dan memberikan si kaleng merah. Talisa tidak suka dengan minuman jenis itu.
Chakka tertawa. “Ya sudah, setelah jam kantor kita makan di luar?” tanya dia. Paling tidak ajakan yang itu membuat Talisa menjadi bersemangat dalam sekejap.
Kapan lagi dia mau mengajaknya makan di luar? Bagi Talisa yang lugu, mungkin ini akan menjadi sebuah awal. Chakka telah menerbitkan secercah harapan di hatinya yang kelabu.
***
“Ini mulai menakutkan, Sa ...,” komentar Onny.
Sungguh, rasanya campur aduk saat menceritakan bagaimana kemarin sore Talisa dan Chakka makan di sebuah restoran dan mengobrol lama. Chakka banyak bertanya soal kehidupan Talisa dulu dan kelihatannya dia tertarik sekali dengan kehidupan sekolahnya setelah menceritakan bahwa Talisa terpaksa membatalkan janji reuni karena mengurusnya hari itu.
“Kalau yang lain tahu kamu bisa-bisa digosipkan,” kata Onny lagi.
“Itu nggak akan jadi gossip kalau kamu nggak cerita ke siapa-siapa,”
Onny mendengus. “Kamu pikir aku nggak punya bahan gossip lain apa?”
“Aku sama Chakka nggak ada apa-apa. ‘Kan nggak lucu kalau sampai digosipkan aneh-aneh!”
“Yang lucu itu kalau ada yang melihat kamu lagi bukain tutup kaleng Coca Cola buat Chakka. Setelah itu bakal terdengar kabar kalau Chakka sudah menemukan ‘target’ baru. Dan itu semakin nggak lucu karena yang didekati Chakka adalah kamu, Talisa Andari si kurus yang nggak menarik.”
“Tapi, nggak perlu segitunya juga kali ...” gerutu Talisa, sambil menatap cermin pantry dan memandangi wajahnya yang muram. “Aku berusaha untuk nggak lebih berharap dari ini ...”
“Ingat! Jaga jarak aman! Nggak boleh terlalu dekat!” kata Onny.
“Ah, Onny, jangan nakutin aku terus ...,” Talisa berkata merengek sambil memutar badannya lalu menghampiri Onny seperti seorang anak kecil yang memohon supaya jangan dihukum karena ketahuan mencuri. “Aku cuma kebetulan sering ke ruangannya karena Dara kasih aku setumpuk map yang banyak sekali untuk diarsip! Lagian sejak itu, kalau Chakka butuh berkas, dia pasti memanggil aku karena cuma aku yang tahu di mana menyimpannya!”
Onny cekikikan. Ketahuan sudah kalau dia hanya mempermainkan Talisa. “Nggak usah pakai nangis ...,” ledeknya. “Lagian, kenapa  sih kamu ikut campur masalah orang lain?”
“Aku nggak sengaja!” Talisa  membela diri.
Onny masih tertawa. “Kamu sadar nggak sih, kenapa Chakka itu tiba-tiba bisa berubah jadi baik sama kamu?” tanya dia pada Talisa, mulai serius lagi. “Supaya kamu nggak buka mulut sama orang-orang soal apa yang dia sama Dara lakukan diam-diam di kantor. Dan mungkin dia mencoba untuk bikin Dara sakit hati atau cemburu.”
Talisa tertegun. Apa benar begitu?
“Kenapa aku yang dimanfaatkan? Di luar sana banyak yang lebih cantik ‘kan?”
“Alasannya hanya satu, Talisa Sayang, mereka nggak ada di kantor ini untuk mengipas Dara!”
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, Talisa memang sudah melihat terlalu banyak. Sesuatu yang lebih dari itu yang pernah ia lihat diam-diam –yang mana Talisa tidak mau mengingatnya, membuktikan kalau mereka memang saling memiliki walaupun saling bertentangan. Talisa menyaksikan sendiri bagaimana Chakka menciumnya, seakan Talisa dapat merasakan bahwa dia sedang memohon pada perempuan itu agar jangan menyakitinya. Tapi, Talisa sudah terjangkit virus ‘orang bodoh’ dan tak sadar setiap ia berjalan ke arah Chakka, neraka semakin dekat.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments