๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
I'D LIE
“Hei!” tiba-tiba Chakka muncul di hadapan Talisa keesokan
harinya. Dengan sedikit rasa bersalah, ia menunjukan bahwa ia cukup menyesal
atas kejadian itu.
Gadis itu benar-benar mengira bahwa Chakka akan mengeluarkan
surat PHK untuknya.
“Maaf,” dia berkata
dengan tiba-tiba. “Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan kamu. Kalau
kamu merasa terganggu karena sering melihat hal-hal yang seharusnya kamu nggak
lihat, aku minta maaf. Setelah ini mungkin aku akan lebih hati-hati ....”
Talisa menggeleng. Lalu tertunduk. Seperti baru mendengar
sebuah penolakan cinta. Bisa-bisanya Talisa tertekan dengan kalimatnya.
Sedangkan Chakka hanya menatapnya karena Talisa tidak bicara.
Apa lagi yang harus kukatakan? Aku ini hanya ‘orang luar’.
“Dengar, aku nggak kesal karena kamu juga bilang aku
psikopat,” kata dia. “Maksudku bukan psikopat seperti yang Dara ucapkan.”
“Memang ada berapa macam psikopat di dunia ini?” Talisa
berusaha untuk tenang. Berada di sekitarnya terasa menyenangkan sekaligus
berdebar. Memikirkannya bahkan sampa membuatnya tidak tidur. Semalaman Talisa
menangis untuk sesuatu yang tidak pernah ada.
“Aku nggak mempermainkan orang karena hobi dan aku nggak
segila itu,”
Kenapa dia harus mengatakannya padaku?
Memangnya dia suka padaku dan dia tidak mau aku berpikiran macam-macam
tentangnya? Talisa hanya menatapnya
heran. Talisa tidak tahu Chakka menganggapnya apa dan ia jadi mau tahu sekali
karena lelaki itu tampak ingin mengklarrifikasi semauanya seakan menurutnya itu
penting bagi Talisa.
“Aku dengar kamu benar-benar gila ...,” gumam Talisa,
teringat bagaimana kemarin dia membuat Dara benar-benar kesakitan dan
ketakutan. Apa begitu caranya mencintai? Setahunya, dari film romantis,
mencintai itu adalah candle light dinner,
berciuman dengan mesra, bukannya saling memaksa dan adu mulut –atau barangkali memang seperti itulah gaya Chakka dan Dara.
Chakka terdengar menghela nafas. “Sekali lagi maaf,”
Talisa mengamati wajahnya. Apa dia serius soal itu? Tapi,
apa pentingnya meminta maaf pada Talisa? Lama-lama orang ini membuatnya semakin
berharap saja.
Apa dia sudah memikirkan cara untuk melupakan Dara?
Ah, itu hampir tidak mungkin.
“Aku nggak terima Coca Cola sebagai permintaan maaf,” Talisa
berkata memperingatkan sebelum nanti tiba-tiba dia muncul di hadapannya dan
memberikan si kaleng merah. Talisa tidak suka dengan minuman jenis itu.
Chakka tertawa. “Ya sudah, setelah jam kantor kita makan di
luar?” tanya dia. Paling tidak ajakan yang itu membuat Talisa menjadi
bersemangat dalam sekejap.
Kapan lagi dia mau mengajaknya makan di luar? Bagi Talisa
yang lugu, mungkin ini akan menjadi sebuah awal. Chakka telah menerbitkan
secercah harapan di hatinya yang kelabu.
***
“Ini
mulai menakutkan, Sa ...,” komentar Onny.
Sungguh,
rasanya campur aduk saat menceritakan bagaimana kemarin sore Talisa dan Chakka
makan di sebuah restoran dan mengobrol lama. Chakka banyak bertanya soal
kehidupan Talisa dulu dan kelihatannya dia tertarik sekali dengan kehidupan
sekolahnya setelah menceritakan bahwa Talisa terpaksa membatalkan janji reuni
karena mengurusnya hari itu.
“Kalau
yang lain tahu kamu bisa-bisa digosipkan,” kata Onny lagi.
“Itu
nggak akan jadi gossip kalau kamu nggak cerita ke siapa-siapa,”
Onny
mendengus. “Kamu pikir aku nggak punya bahan gossip lain apa?”
“Aku
sama Chakka nggak ada apa-apa. ‘Kan nggak lucu kalau sampai digosipkan
aneh-aneh!”
“Yang
lucu itu kalau ada yang melihat kamu lagi bukain tutup kaleng Coca Cola buat
Chakka. Setelah itu bakal terdengar kabar kalau Chakka sudah menemukan ‘target’
baru. Dan itu semakin nggak lucu karena yang didekati Chakka adalah kamu,
Talisa Andari si kurus yang nggak menarik.”
“Tapi,
nggak perlu segitunya juga kali ...” gerutu Talisa, sambil menatap cermin pantry
dan memandangi wajahnya yang muram. “Aku berusaha untuk nggak lebih berharap
dari ini ...”
“Ingat!
Jaga jarak aman! Nggak boleh terlalu dekat!” kata Onny.
“Ah,
Onny, jangan nakutin aku terus ...,” Talisa berkata merengek sambil memutar
badannya lalu menghampiri Onny seperti seorang anak kecil yang memohon supaya
jangan dihukum karena ketahuan mencuri. “Aku cuma kebetulan sering ke
ruangannya karena Dara kasih aku setumpuk map yang banyak sekali untuk diarsip!
Lagian sejak itu, kalau Chakka butuh berkas, dia pasti memanggil aku karena
cuma aku yang tahu di mana menyimpannya!”
Onny
cekikikan. Ketahuan sudah kalau dia hanya mempermainkan Talisa. “Nggak usah
pakai nangis ...,” ledeknya. “Lagian, kenapa
sih kamu ikut campur masalah orang lain?”
“Aku
nggak sengaja!” Talisa membela diri.
Onny
masih tertawa. “Kamu sadar nggak sih, kenapa Chakka itu tiba-tiba bisa berubah
jadi baik sama kamu?” tanya dia pada Talisa, mulai serius lagi. “Supaya kamu
nggak buka mulut sama orang-orang soal apa yang dia sama Dara lakukan diam-diam
di kantor. Dan mungkin dia mencoba untuk bikin Dara sakit hati atau cemburu.”
Talisa
tertegun. Apa benar begitu?
“Kenapa
aku yang dimanfaatkan? Di luar sana banyak yang lebih cantik ‘kan?”
“Alasannya
hanya satu, Talisa Sayang, mereka nggak ada di kantor ini untuk mengipas Dara!”
Tapi,
kalau dipikir-pikir lagi, Talisa memang sudah melihat terlalu banyak. Sesuatu
yang lebih dari itu yang pernah ia lihat diam-diam –yang mana Talisa tidak mau
mengingatnya, membuktikan kalau mereka memang saling memiliki walaupun saling
bertentangan. Talisa menyaksikan sendiri bagaimana Chakka menciumnya, seakan
Talisa dapat merasakan bahwa dia sedang memohon pada perempuan itu agar jangan
menyakitinya. Tapi, Talisa sudah terjangkit virus ‘orang bodoh’ dan tak sadar
setiap ia berjalan ke arah Chakka, neraka semakin dekat.
***
.jpg)
Komentar
0 comments