[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 7 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

MASALAH ~

Talisa mendengar suara langkah kaki berderap di sepanjang anak tangga. Sepertinya salah satu dari mereka sudah keluar. Sebelum Talisa sempat bertanya siapa, Dara terlihat berlari melintasi koridor dengan wajah pucat bersimbah air mata dan noda merah di bagian dada kemeja biru langit yang dia kenakan. Dia terlihat sangat berantakan. Syukur dia berhasil melepaskan diri dari Chakka –Talisa merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Barangkali Chakka yang emosi berusaha untuk ... memperkosanya. Ya  itu bisa saja terjadi –sekarang Talisa tahu bahwChakka adalah laki-laki yang berbahaya. Dia... memaksa Dara untuk memenuhi hasratnya.
Namun, selepas kepergian Dara, Talisa tidak melihatnya turun.
Talisa sudah mengabaikan panggilan telepon dari teman-temanya yang  menunggu. Ya, ia tidak memikirkan itu karena kemudian i memberanikan diri untuk kembali ke lantai tiga. Penasaran dengan bagaimana akhirnya Dara bisa melepaskan diri, firasat buruk mulai terbesit karena teringat pada noda merah yang kontras di baju yang Dara kenakan. Apa dia memukul Chakka dengan benda keras sampai berdarah?
Firasat itu semakin meraja lela ketika Talisa menemukan pintu ruangan Chakka dalam keadaan terbuka lebar. Ia menyingkirkan rasa takutnya saat masuk ke sana dan melihat Chakka duduk di bawah mejanya dengan tangan terluka.
Ya Tuhan! Talisa berlari menghampiri Chakka.
“Pak Chakka ....?” Talisa tidak melihat wajahnya karena ia tertunduk lemah.
Saat mendekat, Talisa baru mendengar ringisan kesakitannya yang sepertinya berasal dari tangannya yang terluka. Rupanya suara keras di pintu itu adalah karena dia meninjunya. Talisa semakin tidak mengerti, mengapa dia sampai melakukan itu. Mengapa dia melakukan itu demi orang yang bahkan tidak bisa mencintainya dan selalu saja mengatakan hal-hal yang menyakitkan? Melihat tetesan darah di lantai, Talisa menangis. Talisa tidak tahu berapa kali dia memukul pintu dengan keras.
“Apa yang kamu lakukan ...?” Ia bertanya.
Chakka mengangakat kepalanya dengan pelan untuk menatap gadis itu. Ya, dia masih bisa tersenyum meskipun getir.
Apa yang dia dapatkan dengan memaksa dan menyakiti seperti ini?
“Kamu berdarah ...,” Talisa berkata sambil meraih tangannya dan merasakan betapa dinginnya dia.
“Kamu belum pulang?” tanya dia –suaranya pelan.
Talisa menggeleng pelan. Handphone-nya berbunyi lagi, tapi ia tidak peduli. Talisa segera mengambil tisu di atas meja, membungkus tangan kanannya yang berlumuran darah dengan sangat hati-hati. Chakka meringis, namun dia tidak menghentikannya.
“Kamu mendengarnya?” tanya dia pada Talisa.
“Bersyukurlah yang dengar bukan orang lain ...,” jawabnya.
Chakka terkekeh.”Selalu kamu ....”.
“Kamu benar-benar gila ...,” balas Talisa masih sibuk menempelkan helaian tisu pada lukanya untuk menghentikan pendarahan sampai bercak darah tak tembus lagi. “Kamu harus ke dokter ....”
Dia tidak menjawab Talisa.
“Tunggu! Aku mau ambil kotak obat!” Talisa berujar dan dengan buru-buru berlari lagi ke lantai dua. Ia ingat benda itu tersimpan di salah satu lemari di ruang administrasi. Paling tidak ia harus memberinya pertolongan pertama. Kemudian ia juga pergi ke pantry untuk mengambil sebotol air mineral dan sebuah mangkuk.
Saat Talisa kembali untuk mengobati lukanya, Chakka sudah duduk di kursinya. Tampaknya dia baru saja merasakan sakit setelah emosi tadi membuatnya mati rasa.
“Lukanya harus dibersihkan, kalau nggak bisa infeksi ...” ujar Talisa lagi, kembali meraih tangannya yang terluka. Ia menaruh mangkuk di atas meja untuk menampung tetesan air saat membasuh lukanya.
Chakka meringis kesakitan saat air dari botol mineral menyapu lukanya. Air mengalirkan darah merah ke dalam mangkuk putih. Kemudian Talisa meraih alcohol di dalam kotak P3K.
“Ini bakalan sakit, tapi kalau nggak dibersihkan pakai alcohol kamu bisa kena tetanus ...” jelasku tapi Chakka seolah tidak bereaksi.
Dia hanya memandang dengan nanar.
Saat Talisa menyeka lukanya dengan kapas yang dilumuri alcohol dia menjerit. Talisa menahan tangannya agar dia tidak menariknya.
“Kamu benar-benar gila ...,” Talisa berkata.
Setelah memastikan lukanya bersih Talisa membubuhinya dengan obat luka dan terakhir  menutupnya dengan kain kasa. Untungnya waktu SMA ia pernah ikut Palang Merah Remaja.
Sudah tak ada ringisan saat Talisa berhasil memasangkan perbannya dengan sempurna. Chakka sudah lebih tenang.
“Kenapa harus seperti itu?” Talisa bertanya lagi padanya.
Chakka hanya menatap gadis ituogah-ogahan seakan tidak ingin menjawabnya. Bagaimana pun cekatannya dia mengobati luka, dia hanyalah seorang gadis kecil. “Kamu nggak akan mengerti ...,” jawabnya singkat lalu memandangi tanganya yang telah dibalut dengan perban.
“Apa yang nggak aku mengerti?” balas Talisa.
“Apa kamu ... pernah jatuh cinta?”
Talisa tertawa satu kali. Tidak langsung menjawabnya, Talisa hanya menggelengkan kepala. Apa jadinya jika ia mengatakan bahwa Chakka lah orang yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. “Pernah ...,” jawab Talisa. “Tapi, dia nggak pernah tahu itu ...”
“Di sekolah?” tanya dia lagi.
Talisa diam sejenak. “Ya, begitulah ...,” lalu kembali memandang ke wajahnya yang sesekali masih tampak menahan sakit.
Bagaimana cara mengatakan bahwa ... yang aku sukai adalah kamu?
Chakka kemudian berusaha menenangkan dirinya. Rasa sakit mungkin membuatnya logis kembali. Sekecil apa pun luka pasti rasanya pedih, apalagi luka separah itu.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments