๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
MASALAH ~
Talisa
mendengar suara langkah kaki berderap di sepanjang anak tangga. Sepertinya
salah satu dari mereka sudah keluar. Sebelum Talisa sempat bertanya siapa, Dara
terlihat berlari melintasi koridor dengan wajah pucat bersimbah air mata dan
noda merah di bagian dada kemeja biru langit yang dia kenakan. Dia terlihat
sangat berantakan. Syukur dia berhasil melepaskan diri dari Chakka –Talisa
merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Barangkali Chakka yang emosi
berusaha untuk ... memperkosanya. Ya itu
bisa saja terjadi –sekarang Talisa tahu bahwChakka adalah laki-laki yang
berbahaya. Dia... memaksa Dara untuk memenuhi
hasratnya.
Talisa
sudah mengabaikan panggilan telepon dari teman-temanya yang menunggu. Ya, ia tidak memikirkan itu karena
kemudian i
memberanikan diri untuk kembali ke lantai tiga. Penasaran
dengan bagaimana akhirnya Dara bisa melepaskan diri, firasat buruk mulai
terbesit karena teringat pada noda merah yang kontras di baju yang Dara
kenakan. Apa dia memukul Chakka dengan
benda keras sampai berdarah?
Firasat
itu semakin meraja lela ketika Talisa menemukan pintu ruangan Chakka dalam
keadaan terbuka lebar. Ia menyingkirkan rasa takutnya saat masuk ke sana dan
melihat Chakka duduk di bawah mejanya dengan tangan terluka.
Ya Tuhan! Talisa berlari menghampiri Chakka.
“Pak
Chakka ....?” Talisa tidak melihat wajahnya karena ia tertunduk lemah.
Saat
mendekat, Talisa baru mendengar ringisan kesakitannya yang sepertinya berasal
dari tangannya yang terluka. Rupanya suara keras di pintu itu adalah karena dia
meninjunya. Talisa semakin tidak mengerti, mengapa dia sampai melakukan itu. Mengapa dia melakukan itu demi orang yang
bahkan tidak bisa mencintainya dan selalu saja mengatakan hal-hal yang
menyakitkan? Melihat tetesan darah di lantai, Talisa menangis. Talisa tidak
tahu berapa kali dia memukul pintu dengan keras.
“Apa
yang kamu lakukan ...?” Ia bertanya.
Chakka
mengangakat kepalanya dengan pelan untuk menatap gadis itu. Ya, dia masih bisa
tersenyum meskipun getir.
Apa
yang dia dapatkan dengan memaksa dan menyakiti seperti ini?
“Kamu
berdarah ...,” Talisa berkata sambil meraih tangannya dan merasakan betapa
dinginnya dia.
“Kamu
belum pulang?” tanya dia –suaranya pelan.
Talisa
menggeleng pelan. Handphone-nya
berbunyi lagi, tapi ia tidak peduli. Talisa segera mengambil tisu di atas meja,
membungkus tangan kanannya yang berlumuran darah dengan sangat hati-hati.
Chakka meringis, namun dia tidak menghentikannya.
“Kamu
mendengarnya?” tanya dia pada Talisa.
“Bersyukurlah
yang dengar bukan orang lain ...,” jawabnya.
Chakka
terkekeh.”Selalu kamu ....”.
“Kamu
benar-benar gila ...,” balas Talisa masih sibuk menempelkan helaian tisu pada
lukanya untuk menghentikan pendarahan sampai bercak darah tak tembus lagi.
“Kamu harus ke dokter ....”
Dia
tidak menjawab Talisa.
“Tunggu!
Aku mau ambil kotak obat!” Talisa berujar dan dengan buru-buru berlari lagi ke
lantai dua. Ia ingat benda itu tersimpan di salah satu lemari di ruang
administrasi. Paling tidak ia harus memberinya pertolongan pertama. Kemudian ia
juga pergi ke pantry untuk mengambil sebotol air mineral dan sebuah mangkuk.
Saat
Talisa kembali untuk mengobati lukanya, Chakka sudah duduk di kursinya.
Tampaknya dia baru saja merasakan sakit setelah emosi tadi membuatnya mati
rasa.
“Lukanya
harus dibersihkan, kalau nggak bisa infeksi ...” ujar Talisa lagi, kembali
meraih tangannya yang terluka. Ia menaruh mangkuk di atas meja untuk menampung
tetesan air saat membasuh lukanya.
Chakka
meringis kesakitan saat air dari botol mineral menyapu lukanya. Air mengalirkan
darah merah ke dalam mangkuk putih. Kemudian Talisa meraih alcohol di dalam
kotak P3K.
“Ini
bakalan sakit, tapi kalau nggak dibersihkan pakai alcohol kamu bisa kena
tetanus ...” jelasku tapi Chakka seolah tidak bereaksi.
Dia
hanya memandang dengan nanar.
Saat
Talisa menyeka lukanya dengan kapas yang dilumuri alcohol dia menjerit. Talisa
menahan tangannya agar dia tidak menariknya.
“Kamu
benar-benar gila ...,” Talisa berkata.
Setelah
memastikan lukanya bersih Talisa membubuhinya dengan obat luka dan
terakhir menutupnya dengan kain kasa.
Untungnya waktu SMA ia pernah ikut Palang Merah Remaja.
Sudah
tak ada ringisan saat Talisa berhasil memasangkan perbannya dengan sempurna.
Chakka sudah lebih tenang.
“Kenapa
harus seperti itu?” Talisa bertanya lagi padanya.
Chakka
hanya menatap gadis ituogah-ogahan seakan tidak ingin menjawabnya. Bagaimana
pun cekatannya dia mengobati luka, dia hanyalah seorang gadis kecil. “Kamu
nggak akan mengerti ...,” jawabnya singkat lalu memandangi tanganya yang telah
dibalut dengan perban.
“Apa
yang nggak aku mengerti?” balas Talisa.
“Apa
kamu ... pernah jatuh cinta?”
Talisa
tertawa satu kali. Tidak langsung menjawabnya, Talisa hanya menggelengkan
kepala. Apa jadinya jika ia mengatakan bahwa Chakka lah orang yang membuatnya
jatuh cinta untuk pertama kali. “Pernah ...,” jawab Talisa. “Tapi, dia nggak
pernah tahu itu ...”
“Di
sekolah?” tanya dia lagi.
Talisa
diam sejenak. “Ya, begitulah ...,” lalu kembali memandang ke wajahnya yang
sesekali masih tampak menahan sakit.
Bagaimana cara mengatakan bahwa ... yang aku sukai adalah
kamu?
Chakka
kemudian berusaha menenangkan dirinya. Rasa sakit mungkin membuatnya logis
kembali. Sekecil apa pun luka pasti rasanya pedih, apalagi luka separah itu.
.jpg)
Komentar
0 comments