[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch.6 (1/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Cold As You~


Chakka sedang menelpon Dara dan lagi-lagi mereka berdebat. Sepintas Talisa medengar soal rencana perluasan usaha dan kesepakatan dengan pihak ketiga. Sepertinya Dara tidak senang dengan apa yang Chakka ajukan kepada ayahnya.
“Kita nggak bisa memutuskannya sendiri! Kalau mereka nggak setuju karena merasa dirugikan, kita akan revisi perjanjian lagi, Ra!” Chakka setengah berteriak. “Sementara kita sudah tiga kali melakukan rekonsiliasi sama mereka. Kalau mereka merasa prosedur kita rumit, mereka bakal mundur dan kita gagal. Mereka investor besar! Ini adalah target Papa!”
Sementara Talisa masih berkutat dengan dan beberapa file milik Dara di balik rak. Betapa sulitnya berusaha untuk tidak mendengarkan suara Chakka yang keras di saat Talisa sangat ingin tahu.
 “Iya aku tahu! Mereka setuju dengan persyaratan yang kita ajukan. Hanya tinggal membicarakan kapan kita akan mulai,”
Apa sih yang mereka perdebatkan? Rasanya Chakka sudah memberikan jawaban yang bagus, pikira Talisa.
“Oke! Aku tahu, aku nggak mengatakannya karena Papa yang minta dan dia pikir kamu pasti setuju,” jelas Chakka lagi padanya. “Karena ini proyek besar dan aku juga yakin kamu nggak ingin kehilangannya. Lagipula wacana ini sudah ada sejak sebelum kamu sibuk mengurus perceraian kamu. Sekarang kita hanya melanjutkan dan merevisi beberapa hal.”
Talisa kembali mengeluh. Telinganya sakit. Sepertinya ia mulai terseret konflik di antara mereka hanya karena melihat dan mendengar terlalu banyak. Talisa berusaha untuk mengendalikan anggota tubuhnya agar terus bergerak megerjakan tugasnya walau dalam keadaan gemetar. Talisa selalu ingin menangis karena ini –ia tidak bisa melupakan apa yang ia ketahui dan itu bukan sesuatu yang pernah diminta walaupun saat Onny bergosip Talisa selalu mau tahu, terutama tentang Chakka.
Terkadang akan lebih baik jika tidak pernah tahu. Talisa bahkan lebih tahu daripada Onny atau biang gossip mana pun di kantor. Dan tahu itu sangat menyakitkan baginya karena sekarang Talisa juga tahu bahwa dirinya tidak akan pernah punya kesempatan.
Kesempatan? Kesempatan apa? Kesempatan untuk patah hati berkali-kali?
Memang salahnya jatuh cinta pada orang yang bahkan tak bisa tersentuh olehnya. Tapi, bagi Talisa ini tetap saja tidak adil.
***
Lima menit kemudian, Chakka sudah duduk di depan Talisa yang sedang menyusun beberapa surat.
“Kali ini apa?” Talisa bertanya.
Dia hanya mengangkat bahunya dan kelihatan lelah. Perdebatan itu menguras habis tenaganya.
Talisa pun diam. Memandangi ekspresinya. Kalau ia diberi kesempatan menjadi kekasih orang ini, ia bersumpah tidak akan membuatnya segelisah ini. Ya, keluh kesah segera sirna saat dia duduk di sana, untuk mengajak bicara. Talisa tidak boleh berharap lebih dari ini karena sebelumnya mereka sangat asing satu sama lain. Harusnya ia bersyukur, paling tidak ia punya kesempatan untuk menjadi pendengarnya walaupun di saat yang sama rasa suka di hatinya semakin hari semakin menyiksa saja. Talisa berkesempatan untuk mendengarkan apa yang dia tidak pernah katakan pada orang lain. Ia pikir ini sangat istimewa –bagi gadis seperti dirinya.
“Seperti yang kamu dengar ...,” kata dia sambil duduk di mejanya dan dia mulai memencet ponsel dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya meraih kaleng minuman. Saat dia menyadari bahwa kaleng merah itu kosong dia agak sebal. Dia menaruhnya lagi dengan kesal.
“Mau Coca Cola?” Talisa bertanya sambil menuju lemari kecil yang berada di belakang mejanya Chakka. Talisa ingin membantu mengambilkannya.
Kosong. Rupanya dia kehabisan stok. Talisa kembali menghampirinya di belakang rak. “Habis,” kata Talisa padanya.
“Ya, ini memang yang terakhir,” katanya, masih terlihat kusut.
“Biar aku ambilkan ya?” ujarnya. “Tunggu di sini.”
Chakka hanya mengangguk-angguk dengan ponsel di telinga sementara kedua matanya masih mengawasi langkah Talisa. Setelah Talisa menutup pintu, samar-samar Talisa mendengar suaranya berbicara –ada panggilan ‘Sayang’ yang entah dia tujukan pada siapa. Mungkin pacarnya.
Talisa segera keluar, pergi ke kafeteria untuk mengambilkan sekaleng Coca Cola. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Talisa seharusnya menjauh. Tapi, Talisa juga tidak tahu sampai kapan akan terus seperti ini. Di sela-sela rasa sesak ini, ia tetap bahagia sekarang mereka ‘berteman’. Begitulah.
Hanya butuh lima menit untuk mendapatkan sekaleng Coca Cola. Tapi, begitu Talisa kembali dari kafetaria, Talisa melihat Dara masuk ke ruangan Chakka. Akhirnya mereka bertemu setelah tadi sempat bertengkar di telepon. Beberapa saat kemudian, Talisa merasa bodoh. Ia tidak punya pilihan selain menarik mundur dirinya sendiri.
Apa yang kulakukan?
Akhirnya Talisa menangis lagi. Chakka mematahkan hatinya lagi. Lelaki itu menelpon dua jam kemudian karena ada satu dokumen yang tidak bisa dia temukan. Begitu Talisa melihatnya, Chakka sudah kelihatan ceria. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang menyenangkan barusan. Talisa dan Coca Cola-nya tidak akan bisa memberikan efek magic se-dahsyat itu.
***

Previous

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments