๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malaikat~
“Jangan main-main sama Dara,” Onny memperingatkan tapi sudah terlambat. Talisa sudah menerima amukan Dara kemarin lewat tatapan mata kesal yang ia dapatkan sepanjang hari dari wanita berambut pendek dan berponi rata itu.
Talisa hanya menghela nafas lelah. Rasanya ia tidak ingin menjadi seorang wanita karir. Takut Talisa akan menjadi seperti Dara. Dia benar-benar mengerikan. “Untung ada Chakka,” katanya.
“Terus kenapa kalau ada Chakka?” balas Onny, dia mulai menatap Talisa curiga.
“Nggak ada ...” jawab Talisa sambil bercermin untuk merapikan setelan kerjanya. Ia harus bersiap untuk kembali bekerja sebelum ada yang menemukan mereka masih di pantry. Sudah lebih dari satu jam mereka mengambil waktu istirahat.
“Kamu suka dia?” tanya Onny, tatapannya semakin lekat dan ingin tahu.
“Memangnya siapa yang nggak suka Chakka?” jawabnya dan Onny terdiam. Talisa benar-benar orang yang jujur. Tapi jujur tidak membuatnya dapat berhenti gelisah. Malah semakin menjad-jadi. “Nggak tahu deh ... diperlakukan dengan baik bahkan di saat semua orang menertawakan kita ... siapa yang nggak akan jatuh hati?”
“Itu nggak boleh. Dia itu terlalu dewasa dan levelnya jauh di atas kamu. Dia punya pacar yang ngantri sepanjang kereta api yang ingin diajak kencan dan kamu nggak akan pernah masuk kriteria,” Onny kembali memperingatkan. Ia seakan sedang berteriak di telinga Talisa supaya tetap ingat bahwa dirinya hanya pungguk merindukan bulan. “Dia nggak akan tertarik dengan gadis biasa seperti kita.”
“Aku tahu,” balasnya. Talisa sudah memastikan bahwa ia tidak akan melakukan apa-apa. Lagipula Talisa bisa apa? Membuatnya jatuh cinta? Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memendam. Suatu hari juga lupa.
Tapi, memendam tidak semudah mengucapkan janji bahwa ia akan tetap diam. Sejak Talisa diminta mengarsip tumpukan surat yang ia dapat dari Dara, sejak itu pula Talisa sering bolak balik ke ruangan Chakka. Ada beberapa map yang harus disimpan di sana. Talisa jadi sering bertemu dengannya setelah sekian lama mereka hanya berpapasan dan saling tidak menyapa selama ini.
Raknya berada di satu sudut yang dibatasi oleh partisi di mana sebuah rak lain yang tingginya hampir mencapai langit-langit bersandar dengan kokoh. Pagi-pagi, ketika Talisa datang, dia sudah duduk di kursinya. Di depan komputer. Saat biasanya orang-orang menikmati pagi dengan secangkir kopi, orang ini punya sekaleng Coca Cola di sampingnya. Dia meneguknya dengan santai seperti menikmati secangkir teh chamomile yang wangi. Orang yang unik.
Talisa menahan tawa kecilnya dari balik rak di mana sesekali Talisa mengintip apa yang dia lakukan. Dia duduk di depan komputer seharian dan kelihatan sibuk meski pun sekali dalam satu jam ponselnya berbunyi. Meski Talisa berusaha untuk tidak mau tahu, tapi mendengar ia memanggil dengan nama yang berbeda –yang mana artinya setiap perempuan yang menelpon itu juga berbeda, Talisa jadi ingin bertanya berapa orang perempuan yang berada di sekitarnya saat ini?
Entah mengapa pikirannya mulai memvisualisasikan sosok Chakka dengan beberapa orang perempuan yang menempelinya. Dia tersenyum seakan menikmati sentuhan perempuan-perempuan cantik itu. Seketika bulu romanya berdiri karena merinding. Apa sih yang dipikirkan perempuan-perempuan itu? mengapa mereka mau saja diperalat Chakka? Lagipula apa yang Chakka inginkan? Apa dia tidak bisa setia dengan satu orang perempuan saja?
Walaupun patah hatinya semakin buruk dari hari ke hari karenanya, di ruangan itu semua berjalan dengan damai; seharian berada di sana seolah menemaninya, tapi orang ini tidak pernah bicara dengan Talisa lagi. Hanya Talisa yang menyapanya untuk sekedar pamit dan kembali begitu masih ada map milik personalia yang harus di simpan. Chakka hanya memberi sebuah anggukan kecil tanpa melepaskan matanya dari layar komputer. Talisa pun segera berlalu. Begitulah setiap hari. Namun, pernah karena suatu hari semuanya mulai berbeda.
***
.jpg)
Komentar
0 comments