๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Peta
SUDAH PULANG?
Arun selalu tidak punya kosa kata yang kreatif. Paling-paling ia hanya menambahkan kata ‘Yang’ di belakangnya untuk menunjukan bahwa dia adalah pacar yang romantis. Memang. Harus diakui. Hanya dia yang selalu memastikan Talisa baik-baik saja.
BELUM, jawab Talisa.
YA SUDAH. AKU MAU JALAN KE SANA, balas dia untuk yang terakhir kali.
Setengah jam kemudian, mobilnya sudah parkir di depan. Karena seharian ini kerjanya hanya online dan membaca artikel gosip selebriti, Talisa tidak butuh waktu lama untuk beres-beres. Begitu dia mengirim pesan lagi –AKU SUDAH DI DEPAN, Talisa langsung menenteng tas nya keluar dan naik mobilnya.
Lalu seperti biasa Talisa duduk di depan –di samping Arun. “Sudah makan?” ia menayanyai kekasih nya itu.
“Belum,” jawab Arun sambil menyalakan mesin mobil.
“Ya sudah, kita makan,” katanya menoleh untuk memperhatikan wajah Talisa sejenak. “Kamu mau makan apa?”
“Terserah” jawabnya acuh sambil membawa mobil mundur dan keluar dari barisan mobil lain yang sedang parkir di depan kantor.
Talisa menghela nafas. Kalau Talisa bilang ‘kok terserah?’ itu akan jadi ke seratus kalinya Talisa mengeluh padanya. Bahkan untuk tempat makan saja, Arun tidak pernah memutuskan. Membuat Talisa selalu kesal karena sebenarnya hampir semua restoran di kota ini sudah pernah mereka datangi. Mulai dari yang kaki lima sampai yang harganya selangit. Jawaban andalannya adalah ‘terserah’.
“Ya sudah, kita pulang ...,” kata Talisa dengan kecewa daripada pusing hingga ujung-ujungnya mereka hanya berputar-putar.
Sebenarnya Talisa tidak terlalu lapar. Ia ingin punya waktu lebih lama dengan Arun karena banyak alasan dan semua itu tidak pernah terlepas dari cara bagaimana dulu Talisa pernah menjalin hubungan dengan orang sebelum dia. Dari pengalaman yang sudah-sudah, punya kekasih dengan orang yang dekat itu pasti menyenangkan; bisa bertemu setiap hari dam duduk di satu tempat. Kehadirannya tentu jauh lebih nyata dan ada. Tapi, buat orang seperti Talisa, hubungan jarak jauh atau tinggal bertetangga pun sepertinya tidak ada bedanya.
Talisa tidak ingin mereka pulang terlalu cepat lalu duduk-duduk di rumah melewatkan waktu sebelum jam sepuluh malam hanya dengan main smartphone masing-masing. Bayangkan kalau seandainya mereka tidak hidup dan berkembang di jaman secanggih ini. Mata mereka akan lebih sering bertatapan daripada terpaku pada layar smartphone masing-masing.
Tapi, itulah realitanya. Jam sepuluh, Arun harus pulang. Setelah dia pamitan pada orang tua Talisa yang sibuk di depan TV; mulai dari sinetron India yang tayang dari Maghrib sampai sinetron Turki terakhir, malam-malam Talisa kembali membosankan.
Talisa ingin tidur tapi mengantuk pun tidak semudah seperti saat menghadiri general meeting yang membosankankan bahkan itu sebenarnya sangat penting. Talisa menghabiskan menit-menit itu dengan berbaring di ranjang, menghadap langit-langit kamar yang gelap dan memutar semua memori itu kembali. Rasanya mengingat bahwa dirinya juga pernah banyak berbahagia daripada menderita sedikit membantunya untuk lebih banyak bersyukur.
Namun, kembali ke masa depan–saat ini, di mana sebagian besar malam ia lewatkan dengan menangis, tetap saja mengembalikan air matanya. Entahlah. Talisa begitu menikmati kegiatan menangisnya karena saat menangislah ia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri bahwa ia sangat lemah. Talisa menikmatinya sampai-sampai ketika mendengar smartphone-nya berbunyi ia malah mengabaikannya sekalipun itu dari Arun. Talisa tahu apa yang ingin Arun katakan.
AKU SUDAH SAMPAI DI RUMAH.
Ya, hanya itu saja. Itu tidak terlalu penting baginya sekarang. Karena toh setelah itu jika Talisa membalas dengan beberapa pertanyaan tidak penting, obrolan mereka akan semakin tidak penting. Lelah, Arun hanya akan membalas dengan emotikon senyum atau kata ‘hahahaha’.
Talisa menerjemahkan dua macam reaksi itu sebagai bentuk rasa bosan Arun. Talisa tidak menyalahkannya.
Setelah air mata berhenti dengan sendirinya. Talisa melihat smartphone; seperti biasa hanya untuk bertanya pada Arun, ‘Sudah tidur?’.
Arun tidak menjawabnya untuk waktu yang sangat lama. Tepatnya besok pagi dia baru menyapa ‘Pagi, Sayang.’ dan Talisa menjawab ‘Pagi.’. Dia membalas ‘Sudah Sarapan?’ dan Talisa menjawab ‘Belum.’. Kemudian untuk yang terakhir Arun membalasnya dengan ‘Jangan lupa sarapan, ya.’ sebelum dia diam dan muncul lagi siang hari dengan pertanyaan yang sama –‘Sudah makan?’. Talisa selalu menjawab ‘Belum’. Kemudian dia hanya mengatakan ‘Makan ya, nanti kamu sakit’. Siklus yang sama terulang lagi ketika sorenya Arun bertanya ‘Sudah pulang?’ dan begitu seterusnya.
Hubungan ini mulai membosankan baginya. Talisa sering bertanya-tanya tentang mengapa mereka tidak bisa bersikap seperti saat pertama kali bertemu –melakukan hal-hal yang menyenangkan, bercanda dan tertawa. Ia masih ingat bahkan di saat paling menyedihkan pun, ia bisa mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Arun adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya setelah semua yang dia alami.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada satu hal yang membuat Arun berubah. Talisa pun tidak bisa memaksa Arun untuk menjadi seperti yang dia mau. Karena ia sendiri sadar, bahwa dirinya bukanlah perempuan yang ‘sempurna’.
.jpg)


Komentar
0 comments