๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Flawless One~
Talisa menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menenangkan dirinya sebelum melangkah masuk ke ruang pertemuan. Sekumpulan anak magang dan karyawan baru sudah menunggunya di dalam untuk sebuah ‘pencerahan’. Biasanya sekali dalam satu bulan, Talisa harus melakukan briefing terhadap karyawan baru untuk meningkatkan etos kerja. Briefing ini selalu ditunggu-tunggu oleh pengagumnya.
Mungkin, hanya inilah bagian terbaik dari masa lalunya –cerita yang mengandung motivasi bagi mereka yang baru bergabung di dunia kerja dan bisa ia bagi kepada orang lain.
“Semua orang memiliki permulaan, itu hal yang manusiawi. Sama ketika ketika lahir nggak mungkin tiba-tiba sudah sebesar ini. Semua itu punya proses yang sangat panjang,” Talisa memulai ceramahnya. “Bagi kalian yang merasa kalau karyawan senior itu sedikit sok, sabar, kalian bukan satu-satunya. Saya juga dulu sering diperlakukan seperti itu.”
Kata-kata Talisa disambut oleh tawa mereka yang sudah serius mendengarkan dari awal. Tawa itu terdengar seolah membenarkan ucapan Talisa atau menyindir karyawan senior yang juga hadir di sana. Mereka seakan tersihir oleh Talisa yang tampil sangat cantik hari ini meskipun mengenakan setelan kemeja putih dan rok hitam –persis seperti seragam anak magang dan karyawan baru. Talisa memakai kostum itu untuk menghargai karyawan barunya.
“Misalnya disuruh fotokopi surat yang banyaknya hampir satu kardus,” sambung Talisa. “Jadi jangan heran kalau saya tahu caranya memperbaiki mesin fotokopi. Karena biasanya mesin fotokopi sering macet kalau terlalu panas. Tapi, syukur saya sudah bisa bongkar mesinnya sendiri.”
Talisa melirik dua orang anak baru tempo hari yang juga tertawa sebelum menemukan Nelly –salah seorang karyawan senior– duduk di sebelah mereka. Tapi, menemukan wanita itu cemberut padanya, ia pun mengalihkan perhatiannya. Agaknya Nelly cukup tersinggung dengan leucon Talisa. Tapi, bagi Talisa apa yang dikatakanya memang sebuah kenyataan.
“Ketika kita masuk ke dunia kerja itu sama seperti menerima kenyataan hidup yang pahit. Bahkan lebih pahit dari saat kita harus mandi pagi di saat masih ingin tidur dan juga lebih pahit daripada kebencian pada hari Senin,” kata Talisa lagi dengan mengabaikan Nelly yang dari dulu –dari anaknya masih di dalam kandungan sampai masuk SD –memang tidak pernah menyukainya. “Saat kita merasa mimpi itu lebih indah daripada bangun. Sama seperti saat kita merasa masa remaja itu adalah masa yang paling indah dan kita nggak ingin tubuh dewasa, tapi pada hakikatnya semua itu akan tetap berlalu. Dan tahapan setelah remaja adalah dewasa. Tahap pendewasaan itu sangat sulit tapi ingat jangan pikirkan rumitnya dulu.”
Mereka semakin serius mendengarkan. Seolah yakin ada sesuatu yang akan membuat mereka tertawa lagi nanti.
“Anggap saja, misalnya kalian sedang mendekati seseorang yang kalian sukai. Kalian pasti berusaha mendapatkannya. Rasanya seperti itu. kadang-kadang senang, kadang-kadang galau, atau kadang-kadang labil. Itu hal yang lumrah,” lanjutnya dan beberapa sudah tertawa di awal kalimat. “Terus setelah kalian dapat gebetannya, semuanya pasti akan lebih mudah. Tapi, jangan terlena. Terlena itu adalah kesalahan. Karena kalau sampai terlena kalian akan mudah ditikung. Entah itu sama sahabat, atau bos mungkin? Kasihan kan?”
Tawa makin keras terdengar karena Talisa juga tertawa di ujung kalimatnya. Sepertinya Talisa memang berhasil membuat mereka fokus pada kata-katanya.
“Jadi pada intinya yang mau saya sampaikan di sini adalah lakukan apapun yang terbaik yang bisa kalian lakukan. Belajarlah sebanyak yang kalian bisa. Karena tidak selamanya kalian menjadi bawahan. Bisa jadi kalian akan memimpin atau memiliki usaha yang besar. Percayalah, bahwa semua orang sukses itu memiliki saat-saat yang paling sulit dalam hidup mereka sebelum kalian ingin menjadi seperti mereka. Percayalah bahwa ... impian kalian saat ini untuk menjadi seseorang yang sangat kalian idolakan dulunya juga dimiliki oleh idola kalian. Dan seperti itulah hidup berjalan.”
Hening.
“Semua orang pasti pernah berada di saat terburuk dalam hidup mereka sebelum kalian melihat diri mereka yang sekarang. Nggak perlu malu. Nggak perlu minder. Kita sama. Sama-sama bekerja. Sama-sama butuh uang. Dan sama-sama harus makan. Tapi, ingat, sebesar apapun keinginan kalian untuk sukses tidak akan ada artinya jika kalian tidak mencintai apa yang kalian lakukan. Perlakukanlah pekerjaan kalian seperti pacar dan pekerjaan akan memberikan semua yang kalian butuhkan, terkecuali pacar sungguhan. Kalau nggak berhasil, mungkin kalian sedang sial.”
Tawa keras kembali terdengar dari anak-anak itu tapi Talisa harus mengakhiri pidato kecilnya yang konyol.
“Terima kasih atas perhatiannya. Mudah-mudahan setelah ini semuanya kembali bersemangat. Sekali lagi terima kasih,” Talisa menyudahi. Lalu semua orang berdiri memberinya tepuk tangan.
***
Talisa menghembuskan nafas lelah. Padahal tidak sampai sepuluh menit di sana. Tapi, rasanya seperti berjam-jam saja. Talisa melenguh kelelahan sambil memijit pangkal hidungnya lalu menarik nafas panjang. Baginya tidak ada rasa lega setelah ia sukses menyampaikan pembukaan briefing yang membuat anak-anak baru itu terbakar semangat.
“Motivasinya bagus,” kata seseorang yang ternyata masih ada di ruang itu setelah semua orang pergi ke pekerjaan masing-masing. Nelly sengaja keluar paling akhir setelah memastikan hanya Talisa yang tersisa. “Tapi, itu nggak terlalu menarik bagi orang-orang yang tahu dulunya kamu seperti apa, Talisa.”
“Memang dulunya aku seperti apa?” balas Talisa, menatap perempuan itu serius seolah menantangnya.
Nelly tertawa sinis. Ia tampak tidak akan menjawab dan sepertinya ingin segera pergi setelah memastikan bahwa ia membalas lelucon yang sedikit menyinggung tadi.
“Seingatku, aku bicara dalam konteks pekerjaan kalau itu maksudnya,” kata Talisa dengan angkuh. “Bukan urusan pribadi. Dan terlepas dari semua itu, harusnya kalian yang dulunya menginjak-injak harga diriku harusnya bertanya, kenapa sekarang aku bisa lebih daripada kalian? Aku mengerjakan pekerjaanku seberantakan apa pun hidupku dan bukan salahku sekarang aku berada di posisi yang jauh di atas kalian.”
Nelly mulai gusar. Ia membalas tatapan angkuh Talisa dengan geram.
“Bukan salahku karena sekarang karir senior benar-benar mentok di sini dan harus bertahan di bawah orang yang dulu selalu dihina karena mengundurkan diri itu nggak mungkin,” tegas Talisa dan Nelly semakin kesal. “Roda itu berputar, ingat!”
Talisa pun segera bergegas meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya ia merasa sedikit syok tiba-tiba dihampiri oleh orang yang berani mengungkit masa lalunya. Di saat ia berusaha melupakan, semua yang dia lakukan tidak bisa menariknya keluar dari sana.
“Kamu benar-benar meniru gaya mereka ya?” Nelly belum berhenti berkomentar sehingga Talisa kembali menoleh dan tak mau kalah. Seringai tipis terukir di bibirnya yang dilumuri lipstik merah.
“Apa maksudnya?” Talisa sangat keberatan dengan komentar itu. ia tahu persis degan siapa saja yang disebut dengan ‘mereka’.
“Apa kamu sadar gaya berpenampilan itu dulunya adalah milik Dara dan gaya bicara itu adalah milik Chakka. Kamu sangat terobsesi dengan mereka sekali pun mereka sudah menghancurkan seluruh kehidupan kamu. Sekarang kamu bicara seolah kamu adalah mereka. Apa kamu nggak punya malu terhadap orang-orang yang tahu siapa kamu sebenarnya, Talisa?”
“Berhenti!” teriak Talisa yang terpancing emosinya tiba-tiba. “Hentikan! Kalau kamu nggak berhenti bicara soal omong kosong itu, kamu akan kupecat!”
Nelly masih tersenyum. Sepertinya dia puas membuat Talisa kesal dan bahkan memaki orang di depan orang lain. Setelah memberi pidato briefing yang memukau sekarang ia terlihat memaki seorang karyawan yang lebih senior dengan angkuhnya. Orang-orang yang tadinya begitu kagum sekarang terlihat bingung.
“Lisa?” Ayi tiba-tiba datang.
Untung saja Ayi melihatnya dan segera menarik Talisa pergi sebelum temannya itu semakin mempersulit dirinya.
***
.jpg)
Komentar
0 comments