๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Detik-detik Terakhir
"Getta! Getta!", sorak sorai itu terdengar ke penjuru ruang luas di mana penonton yang kebanyakan anak-anak sekolah berseru. Suara mereka mengalahkan supporter petarung lain yang duduk di sudut merah –lawannya Getta yang seorang bertubuh tinggi besar dengan tampang yang sadis pula, persis tukang pukul.
Wasit berdiri di tengah-tengah ring, selagi Getta menengok keluar ring, tepatnya ke pintu masuk yang hampir tertutup oleh kerumunan penonton yang kepo. Di antara Jonas, Lara, dan Yuna serta Mama dan ayah tirinya juga Cindy bersama pendukungnya yang bertumpuk di satu sudut, lagi-lagi Molly absen. Agak sesak saat teringat pertandingan perdananya Molly yang sudah janji akan datang bahkan nggak muncul-muncul sampai ia tumbang di atas ring.
Kenapa sekarang Molly jadi tegaan gini?, pikirnya gelisah dan tanda ronde pertama sudah dibunyikan. Molly, kamu di mana sih?!
Lawan Getta kali ini adalah seorang anak dari sekolah swasta yang kabarnya sudah sering menang di kelasnya. Memang, tampangnya nyeremin, dan dengan tatapannya saja orang-orang sudah merinding. Tapi, ini pertandingan. Jika ia bisa fokus, ia bisa mengalahkannya, paling nggak, nggak akan KO dan babak belur habis seperti waktu itu.
"Fokus, Get!", seru Bang Benny dari luar ring, "Fokus!"
"Getta! Getta!", seruan itu masih bergema, mengalahkan seruan yang tak senada. Hingga pendukung lawan Getta hanya bisa mengernyit karena mereka kalah jumlah, ditambah cewek-ceweknya banyak lagi! Saking ramainya mereka nggak kelihatan seperti pendukung pertandingan tinju tapi supporter bola di Senayan.
Tapi, itu nggak menjadikan Getta bisa menangkis serangan dan membalas. Lawannya ini lumayan cepat, pukulannya bertubi-tubi, hingga Getta mundur beberapa langkah sambil terus bertahan. Tapi, saat lawannya mendapatkan celah, ia jatuh oleh pukul di dada.
Dan… terhempas di atas ring!
Supporter lawan berteriak makin keras, saat supporter Getta malah melongo melihat jagoannya jatuh. Agak dramatis saat Getta berusaha bangkit setelah wasit menengahi. Cowok itu, matanya hanya tertuju ke pintu masuk. Lagi-lagi kecewa berat, karena Molly belum datang juga.
Tapi, secercah harapan terbit saat di antara kerumunan yang berdiri di depan pintu masuk, seorang cewek bergaun terusan tampak menyelip di antara mereka. Ia mencari jalan untuk bisa berada di depan sambil mencari-cari di mana kelompok yang menunggunya. Tapi, matanya segera menengok ke ring, di mana Getta sudah menantinya hanya untuk segera menoleh dan memberinya senyum.
Molly terdiam di sana, di depan orang-orang itu, menatap ke arahnya. Lalu lonceng ronde kedua dibunyikan. Wasit sudah berdiri di antara dua petarung yang ingin memulai laga.
Getta sudah kembali tegap, memandang hanya ke depan –tepat ke lawannya yang harus ia kalahkan hanya untuk sampai ke babak penyisihan.
Seruan teman-temannya semakin keras dan penuh semangat. Sekilas Getta bisa melihat, satu tempat kosong di antara mereka sudah diisi oleh Molly yang ikut berseru, memanggil-manggil namanya.
***
Ujian Nasional sudah dekat. Klise sekali ketika Jonas kembali uring-uringan. Sesekali merengek ke Getta supaya membantunya. Tapi, Getta malah cuek-cuek aja.
"Sampai kapan lo mau nyontek terus, Jo?", balas Getta yang belakangan sudah sering buka buku, mulai jarang bolos karena sudah dimarahi guru, "Atau lo mau ada orang seperti Chika yang nawarin bantuannya tapi dengan ngorbanin hal yang lain?"
"Ya enggaklah!", Jonas langsung sewot.
"Mendingan lo belajar. Kalau lo mau gue bisa bantuin", ujar Getta.
Jonas menghela nafas, "Ya udah deh…", katanya agak terpaksa, lalu mulai manyun memperhatikan Getta yang tampak serius dengan buku bacaannya. "Eh, Get, ngomong-ngomong… lo sama Molly udah jadian?"
Getta tampak tertegun sebentar, dari tampangnya yang tiba-tiba murung sudah bisa ditebak kalau dia belum berhasil.
"Lembek banget lo", celetuk Jonas yang tiba-tiba naik darah. Jelas-jelas sudah nggak ada penghalang di antara mereka, kenapa juga Getta masih megulur-ngulur waktu?
"Bentar lagi ujian. Gue belum mau mikirin pacaran", balasnya, lalu mulai cuek lagi.
"Hah?!", Jonas makin nggak terima dengan jawaban Getta ditambah sikapnya yang ogah-ogahan itu. Apa tunggu ada Richard kedua yang bikin dia kehilangan kesempatan lagi sampai galau sendiri?, "Lo begok atau gimana sih, Get? Sampai kapan sih lo mau nganggurin Molly melulu?! Bentar lagi kita lulus!"
Tiba-tiba Getta mendecak, "Berisik lo!", cetusnya sambil berdiri, membawa bukunya lalu ngacir lagi. Tanpa penjelasan apa-apa lagi, ia pasang tampang jutek begitu meninggalkan Jonas yang makin heran aja. Apa sih yang ada di pikiran cowok itu? Tapi, Jonas hanya nggak sadar kalau Getta bukannya niat mengulur-ngulur waktu.
Meninggalkan kelas yang jadi berisik gara-gara Jonas yang mau tahu itu, bikin dia jadi kepikiran lagi. Memang siapa sih yang nggak ingin bersama orang yang dia suka?, tanya dia ke hatinya sendiri, sambil berhenti di depan jendela. Ia jadi mengabaikan buku bacaannya karena nggak bisa megingatnya lantaran Molly sudah mengisi penuh pikirannya. Dari hari-hari sebelumnya bahkan sejak ia mulai mencoba meraih kesempatan terakhir hanya untuk bisa bilang suka. Memang sama sekali nggak ada penghalang lagi. Tapi, masalahnya bukan penghalang.
Getta paham sekali sama keadaan Molly yang pasti juga memikirkan UN-nya. Sebenarnya ia hanya ingin Molly fokus untuk ujian karena tahu ujian ini bukan hal yang mudah buat seorang penderita disleksia. Soalnya terakhir bicara dengannya Molly sudah menyatakan bahwa ia ingin lulus tanpa mengandalkan orang lain. Lagipula kayaknya Molly belum diizinkan pacaran sama orang tuanya karena masih sekolah. Getta sudah merasakan hawa nggak senang dari ayahnya saat ia memandang Getta dengan wajah curiga ketika menjemput Molly dari pertandingannya waktu itu. Lalu nggak lama setelah itu Lara bilang padanya bahwa mereka sudah cukup trauma dengan Richard yang sempat bikin Molly down sampai nangis terus.
Sejak kemah terakhir itu, mereka juga mulai jarang ketemu lagi. Kalaupun ketemu hanya sebentar. Hanya sekedar menyapa, walau ia tahu Molly nggak rela banget diseret kedua temannya yang masih sebal karena Getta masih aja lelet.
Sebenarnya, Getta agak kecewa karena Molly-lah yang sebenarnya belum ingin pacaran. Sebabnya sudah sibuk belajar, menggambar dan main sama teman-temannya –yang mana semua itu dulunya adalah segala hal yang sudah lama nggak Molly miliki dalam hidupnya. Dan sekarang, Getta udah nggak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya, bisa jadi setelah ujian atau saat pengumuman kelulusan aja. Tapi…
***
Ujian dimulai hari Senin. Semua siswa harus datang 15 menit sebelum dimulai dan nggak ada yang boleh terlambat. Tiga hari ini sangat mendebarkan lebih-lebih sebulan lamanya setelah ini mereka harus dilanda deg-degan sampai hasilnya diumumkan. Tapi, Molly hampir biasa menghadapinya. Walaupun nanti misalnya dia nggak lulus,mengulang setahun lagi juga nggak apa-apa. Toh, sekarang yang menjadi penting baginya adalah bakat melukisnya.
Tapi, sedihnya, sampai hasil ujian diumumkan, sudah nggak ada lagi kegiatan belajar di sekolah. Artinya, dia nggak bisa bertemu dengan Getta apalagi orang tuanya mengajak berlibur ke Yogyakarta selama seminggu lebih. Tapi, untungnya teman-temannya yang iseng namun pengertian itu memberinya sedikit 'pencerahan' saat ia gelisah.
Tiba-tiba di jalan menuju bandara mau berangkat ke Yogyakarta, handphone-nya berbunyi. Ada satu nomor yang nggak dikenal. Cukup lama ia berpikir, dan Getta adalah satu-satunya firasat yan muncul karena selain teman-temannya yang biasa dan ortunya nggak ada lagi orang yang menghubunginya.
"Halo?", dengan ragur-ragu Molly mengangkat telponnya.
"Hai…", sapa suara tenang dari seberang sana walau dilatarbelakangi suara riuh. Dan seketika Molly teringat bahwa ini pertandingan semi final Getta. Sayang, ia nggak bisa datang. "Kamu udah di Jogja ya?"
"Belum. Baru sampai di bandara, Get…", jawab Molly. Ada perasaan gembira, tapi ia terlalu malu menunjukannya karena di depan ada Mama dan Papa-nya yang tengah menengok ke arahnya. "Maaf ya, aku nggak bisa datang"
"Nggak apa-apa", balas Getta, masih terdengar tenang.
"Gimana pertandingannya? Udah mulai?", tanya Molly, yang harus turun dari mobil karena sudah berhenti. Lalu keramaian pun juga menyambutnya di bandara.
"Belum. Bentar lagi…", jawab Getta, "Maaf ya, aku minta nomor hp kamu dari Yuna dan bukannya minta langsung… aku tahu kalau aku agak…"
"Udahlah, Get. Jangan dengerin mereka", ujar Molly, sambil menyeret kopernya yang sudah diturunkan dari bagasi mobil dan mengikuti Papa dan Mama-nya yang sudah jalan di depan, "Ini bukan soal mereka kan…"
"Ya…", balas Getta, "Ini soal kita"
***
Detak jantungnya menjadi nggak seirama bahkan pertandingannya aja belum mulai. Padahal di seberang sana juga, Molly sedang nggak menunggu pegakuan apa-apa. Barangkali yang ia harapkan hanya kabar dan permohonan maafnya diterima. Ya, walaupun nggak bisa datang, tapi dengan mendengar suaranya saja sudah bikin lega.
Bang Benny mendongak dari depan pintu, "Lu udah siap, Get?", tanya dia, mengisyaratkan bahwa ia harus segera keluar dari ruang ganti ini, menghadapi lawan barunya, dan mengalahkannya juga seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Getta mengangguk, "Molly, aku tanding dulu ya. Doain supaya aku bisa menang ya?", katanya.
"Kamu pasti menang, Get", ujar Molly dari seberang sana.
"Ya… tapi… kamu jangan lama-lama di Jogja", katanya.
"Kita juga pasti ketemu nanti", balas Molly sambil tertawa.
"Ya udah deh…", kata Getta akhirnya sebelum ia menutup telepon.
Lalu ia bangkit dengan perasaan yakin. Di luar sana sudah menunggu seseorang yang akan membawanya ke satu tempat antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan artinya prestasi gemilang yang bahkan sebelum ini belum pernah diimpikannya dan kekalahan yang artinya jalan yang semakin panjang. Namun, keduanya nggak memiliki arti yang bersebrangan karena sejauh ini Getta udah merasa bahagia dengan kehidupannya.
Lonceng ronde pertama berdenting di telinga. Sorak sorai yang lebih ramai menggema ke setiap sudut membangkitkan semangat walau Molly nggak ada di sini. Tapi, doanya menyertai setiap gerak-geriknya yang terarah. Itu sudah lebih dari cukup, walaupun ia ingin sekali jika nanti pertandingannya berakhir dengan kemenangannya ia ingin Molly ada di sana. Menerima sebuah pelukan bahagia walaupun tubuhnya bau oleh keringat. Namun, sepertinya ia harus lebih bersabar.
Masih banyak yang menunggunya di luar sana, entah itu bahagia atau masalah. Namun, yang pasti tujuan hidupnya telah jelas, mimpinya telah utuh di atas ring ini walau rasa pukulan sangat menyakitkan. Tapi, nggak akan menghancurkan mimpi-mimpi itu.
***
Komentar
0 comments