๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dilema
Antrian panjang membuat Getta nggak sabar ingin segera naik bus. Ia terlalu biasa dengan pagi yang sibuk dan kadang-kadang masih sial bertemu preman-preman itu. Rasanya lelah terus-terusan berlari seperti pengecut. Padahal ia sudah berlatih keras untuk memukul dan jadi kuat, tapi ia masih belum punya satu hal –keberanian. Sekalipun Jonas bilang, postur tubuhnya jauh berubah, lebih berotot dan atletis. Banyak cewek-cewek yang mulai meliriknya dan mengidolakannya. Namun, Getta seorang cowok yang super sibuk. Pulang sekolah, ia harus mengantar jemput Chika lalu latihan tinju. Begitu pulang jam tujuh ia hanya punya waktu istirahat sebentar sebelum bikin PR sampai tengah malam. Alhasil, hobinya yang satu ini masih belum berubah, bolos pelajaran terakhir untuk tidur siang di tangga darurat.
Teman-temannya masih sama. Jonas tetap nyebelin, dan Lara masih suka menggodanya dengan candaan nyeleneh, tapi Yuna sudah nggak mengidolakannya lagi seperti saat mereka baru kenalan. Sedangkan Molly, mereka hanya ketemu di kelas atau saat istirahat siang, kalau Molly nggak menyendiri untuk menggambar atau…Richard membawanya pergi saat mereka lagi makan bareng.
Pagi yang berbeda di bus yang mungkin sama, pemandangan lama itu sudah nggak ada. Setahunya Molly nggak pernah lagi naik bus ini. Karena Getta sering melihatnya turun dari mobil Papa-nya di depan gerbang sekolah setiap pagi dan pulangnya Richard sudah menunggu di tempat yang sama.
Hari-hari mulai bersahabat dengan suasana yang mendukung –tawa teman-temannya dan keluhan mereka soal pelajaran, juga ujian yang makin dekat. Seperti inilah sekolah seharusnya, penuh dengan suka cita.
Suatu siang, ia kembali pergi ke tangga darurat. Untuk duduk di sana menyandarkan tubuhnya yang kelelahan dan mengistirahatkan matanya yang berat selama pelajaran berlangsung. Tidur membuatnya meninggalkan sejenak kesibukan rutin yang melelahkan sekaligus menyenangkan itu. Baginya saat ini nggak ada yang lebih ia butuhkan melebihi tidur di dalam gemerisik daun dari pohon-pohon di halaman samping yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi. Karena itu selalu mengembalikan saat-saat menyenangkan yang dulu ada di sini. Bersama Molly, yang sekarang hanya bisa ia kenang, sekalipun cewek itu sering berada di depan matanya.
Seolah, dia ada di sini, duduk di sampingnya di mana Getta bisa mendengar suaranya menggoreskan krayon pada lembaran di buku sketsa. Lalu bagaimana mereka bisa berada begitu dekat, saling memandang,dan Getta nggak pernah mengalihkan perhatiannya.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang, dihipnotis oleh suara angin yang berirama menghembus daun-daun. Menyamarkan langkah kaki seseorang yang perlahan mendekat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Getta tersadar, tercium bau angin yang disusupi hawa berbeda, bau yang manis dan polos yang menjadikan kenangannya terasa nyata. Tapi, begitu ia membuka matanya, nggak ada seorang pun yang duduk di dekatnya. Kosong. Mungkin hanya perasaannya saja, yang mengira ada seseorang yang datang untuk memandangi tidurnya.
Namun, Getta terkejut menemukan sesuatu tertinggal di sana.Tas miliknya yang seingatnya ia tinggalkan di kelas karena sengaja membolos jam pelajaran terakhir. Seseorang sengaja mengantar tasnya lalu pergi secara misterius.
Getta melihat jam di HP-nya. Sudah jam dua. Rupanya ia sudah tertidur selama lebih dari dua jam dan ia nyaris terlambat menjemput Chika yang pasti menunggunya. Segera ia meninggalkan sekolah, dan naik bus menuju sekolahnya Chika.
---
“Hampir satu jam, Get”, Chika mengingatkan, terdengar mendengus dan wajahnya cemberut.
“Sorry, gue ketiduran…”, aku Getta cengengesan, lalu menggenggam gagang kursi roda Chika untuk mendorongnya dan membawanya pergi.
“Kelasnya pasti udah mulai deh…”, Chika mengeluh sambil menengadah ke belakang di mana Getta terlihat sedikit merasa bersalah.
“Iya…gue minta maaf…”, kata Getta pelan dan tetap tersenyum.
Chika memang selalu mengeluh. Tapi, walaupun mengeluh dia tetap melakukannya. Dan kabar baiknya, dia kelihatan sudah lebih ceria dari beberapa minggu yang lalu. Dia sudah kembali ke sekolah, dan les piano lagi karena serius ingin ikut festival musik yang audisinya akan diadakan sebulan lagi.Walaupun, kadang ia masih kelihatan sedih kalau ingat orang tuanya yang belum baikan.
Setiap Senin sampai Kamis, Getta menyempatkan waktunya untuk mengantar Chika ke Maretha. Meskipun seringkali ia harus bertemu Molly. Ia hanya bisa menyapa sambil tersenyum dan Molly berlalu begitu saja, menyisakan semacam perasaan bersalah, sekaligus kecewa jika Richard kembali terlihat ada di sampingnya. Barangkali itu jugalah yang dirasakan Molly ketika melihat dirinya dan Chika bersamaan.
Setelah itu, ia ke tempat Bang Benny. Latihan dan latihan. Beberapa kali, ia pulang dengan luka-luka di wajah yang bikin Mama-nya jadi khawatir. Namun begitu, otot-ototnya semakin menonjol dan di suatu pagi, ia nggak lagi berlari seperti pengecut demi menghindari preman-preman yang senang mengolok-ngoloknya. Walaupun sampai di sekolah, ia bahkan nggak berani masuk kelas karena seragamnya jadi kotor karena bergumul dengan preman itu. Tapi, Getta puas bisa membalas mereka untuk selanjutnya terbebas dari kejaran mereka –sementara waktu. Sayang, nggak ada lagi yang mau menempeli plester antiseptik di luka-lukanya. Lalu sakit di bibirnya yang dipukul sampai berdarah, malah mengembalikan rasa ciuman pertamanya. Sayang, Molly nggak kembali seperti rasa itu. Sehingga hari itu berlalu dengan sepi di tangga darurat sampai ia akhirnya meninggalkan sekolah untuk memulai rutinitas yang sama seperti kemarin –menjemput Chika dan mengantarnya ke Maretha, lalu latihan tinju dan pulang.
Hari ini Chika terlihat begitu senang. Duduk di kursi roda yang menjadi penopang tubuhnya yang sudah mulai berisi. Dia menceritakan soal terapinya sepulang dari Maretha yang dibimbing langsung oleh seorang dokter pribadi. Dia kelihatan nggak sabar ingin bisa berjalan lagi karena nggak ingin pada audisinya ia masih duduk di sana, dan merepotkan Getta. Karena ia mulai sadar, bahwa Getta terkadang pura-pura senang di depannya.Pura-pura terlihat santai saat bertemu Molly. Tapi, ia nggak pernah berani menanyakannya.
“Memang sih bikin postur jadi keren…”, Chika berkomentar, memandangi Getta yang sedang minum susu kocok yang baru ia di antar seorang pelayan cafe, “Tapi, tampang lo…jadi nggak banget, Get…”
Getta tertawa, “Nggak banget gimana?”, tanya dia santai.
“Hancur…”, jawab Chika berkomentar, “Lo nggak bisa pilih olahraga yang lain apa?”
Getta masih tertawa. Menatap Chika yakin, seolah ia nggak akan terpengaruh oleh ejekannya, “Gue belum minat”, jawabnya.
“Lo ikut olahraga yang keren kek… kayak basket, sepak bola, atau paling nggak Karate…”, sambung Chika, berwajah cemberut, “Yang jelas nggak bikin tampang lo hancur”
Sekali lagi, Getta hanya ingin tertawa. Tertawa sampai dadanya sakit karena berpura-pura.
Setelah hampir satu jam duduk di kedai es krim, Getta mengantar Chika pulang karena hari ini hari Jumat dan dia nggak punya jadwal les. Lalu ia bisa pergi latihan tinju lagi untuk persiapan pertandingan pertamanya minggu depan.
***
“Ups, sorry, nggak sengaja!”, Nandia melewati Chika dan kursi rodanya dengan santai, diikuti Rizna yang melenggang seolah mereka nggak melakukan kesalahan.
Chika terlihat merengut, mengawasi langkah mereka yang berlalu, seolah ingin menghentikannya. Tapi, kursi roda sialan itu, membuatnya nggak bisa apa-apa. Terlalu konyol bila ia memaki dan mencaci mereka sambil berteriak. Jadi ia biarkan mereka pergi dan merasa menang sementara ini. Toh, nggak selamanya begini ia akan terbelenggu.
Tapi, setiap kali barang-barangnya jatuh dari pangkuan, ia nggak bisa mengambilnya kembali. Saat membungkuk, pinggangnya yang kaku terasa sakit. Dan tangannya nggak cukup panjang untuk menjangkaunya. Ia bahkan nggak bisa menyentuh ujungnya sedikitpun sekalipun berusaha menggapai-gapai, sampai rasanya ingin menangis. Seumur hidupnya, baru sekali ini ia diperlakukan jahat oleh orang lain dan beginilah rasanya menjadi orang yang punya kekurangan…
Sebuah tangan kemudian terlihat meraih tasnya yang sengaja dijatuhkan Nandia. Lalu menyerahkannya dengan baik ke tangan Chika. Molly pun sudah berdiri di hadapannya, sesaat sebelum akhirnya ia tersenyum dan pamitan untuk segera berlalu. Rasanya ia sengaja pergi demi menghindari pembicaraan yang mungkin akan mereka buat.
“Mol, tunggu!”, panggil Chika tiba-tiba menoleh ke belakang dan Molly pun menengok, “Makasih”
Molly pun hanya tersenyum lagi, kemudian pergi.
Chika merasa bahwa mantan sahabatnya itu sudah jauh berubah. Ya, banyak hal sudah jauh berubah sekarang. Dan setiap perubahan yang terjadi, adalah buah dari apa yang kita lakukan entah kita sadari atau nggak.
Sore hampir berakhir dan ia masih menunggu jemputannya di depan tempat les–supir keluarga yang biasa menjemput kalau Getta nggak sempat karena harus latihan tinju. Maretha hampir sepi tapi ia masih bisa melihat Molly berdiri di pinggir jalan dari kejauhan. Dia juga pasti menunggu jemputannya –mobil putih yang dikendarai seorang cowok kebule-bulean. Cewek yang beruntung, pikirnya sambil mengira-ngira, pantas dia merelakan Getta karena dia temukan pengganti yang nggak kalah kerennya dari Getta
Tapi, apa benar Molly seberuntung itu?
***
“Aku berangkat dulu ya, Ma!”, Molly berseru sambil menghampiri Mama untuk mengecup pipinya sebelum ia mengejar Papa-nya yang sudah sampai di ruang depan.
“Kamu bawa HP, buku pelajaran, dan… tas gambar kamu kan?”, Mama kembali mengingatkan sambil berseru.
Tapi, Molly keburu hilang di balik pintu dan bikin Mama cuma geleng-geleng kepala. Saking semangatnya, biasanya Molly sering kelupaan sesuatu. Tapi, mau gimana lagi, namanya juga penyakit.
“Kamu siap? Yakin nggak ada yang ketinggalan?”, Papa juga mengingatkan dan Molly mengangguk dengan sangat yakin sambil memasang sabuk pengamannya.
“Nggak, Pa”, jawab dia optimis.
Lalu mobil melaju menuju sekolah.
“Oh ya, audisi kamu tinggal berapa lama lagi? Kamu udah siap belum?”, tanya Papa dalam perjalanan.
“Hm… kurang dari dua minggu lagi Pa…aku deg-degan…”, jawab Molly sumringah.
“Itu biasa. Namanya juga audisi pertama”, ujar Papa, “Yang penting walaupun nanti kamu nggak lolos, kamu masih punya banyak kesempatan asal latihannya yang rajin, ya?”
Molly tersenyum lebar, “Oke, Bos!”, serunya.
Papa ikut tersenyum sambil membelai puncak kepalanya. Dan… sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan gerbang sekolah.
“Nanti kamu pulang lesnya jam berapa?”, tanya Papa sebelum Molly turun dengan semangat.
“Hari ini aku nggak les, Pa”, jawabnya, “Aku udah izin sama Kak Cariss kok…”
“Kenapa?”, tanya Papa, penuh perhatian.
“Hari ini aku mau nonton pertandingan tinju-nya Getta”, jelas Molly.
Papa kelihatan heran, “Getta?”, ia bertanya lagi, “Getta itu teman kamu yang mana?”
“Hm…”, Molly kelihatan bingung, soalnya ia harus buru-buru masuk kelas karena bel akan segera berbunyi, “Pokoknya Getta itu teman sekelas aku…”
Papa mengangguk-angguk berusaha mengerti, kalau sekarang anaknya yang pendiam dan penyendiri itu punya banyak teman. Bahkan mereka pernah main ke rumah, dan bikin suasananya jadi berisik. Lalu ia pun kembali melajukan mobil menuju ke kantor.
Molly berlari sekencang-kencang melewati pekarangan sekolah ke kelasnya sambil sesekali melirik jam tangan. Pagi ini ada kelasnya Pak Sanadi, kalau ia telat pasti nggak diizinin masuk. Jadi ia mengerahkan semua tenaganya untuk segera sampai di sana dan mujur, ia masuk lebih dulu dari Pak Sanadi yang siap dengan ulangan! Tidak!
***
“Hey, kenapa murung sih?”, tegur Richard tahu-tahu sudah duduk di kursi kosong di sebelah Molly yang manyun dan malas-malasan.
Molly mengintip di celah antara sikunya yang menyembunyikan wajah lemasnya. “Nilai ulangan biologi aku pasti jelek…”, gerutunya setengah merengek.
Richard malah tertawa, seolah itu bukan hal yang baru, “Kamu ini…”, dia mulai membelai-belai puncak kepala Molly seperti mengelus seekor kucing yang ingin dimanja, “Kamu ngosongin lembar jawaban berapa soal?”
Molly menggeleng,teringat bahwa hampir semua soal yang nggak pernah ia tahu jawabannya. Kalau pun menjawab asal-asalan, ia nggak tahu harus menuliskan apa, itu pun nggak termasuk kalau huruf-hurufnya kebalik-balik dan pasti nggak bisa dibaca. Rasanya nggak mau sekolah lagi!
“Kamu tuh nggak cocok sama Biologi”, ujar Richard, dengan senyum menawannya yang bikin badmood Molly jadi mencair. Tatapan mata kecoklatannya itu seperti memiliki arti yang lebih. Perhatiannya apa lagi… apa Tuhan mengirimkan Richard agar ia bisa melupakan Getta?
Di saat berdua begini, duduk bersebelahan, seolah nggak ada orang lain selain mereka di kantin yang begini ramai.
Tapi, wajah Richard mendadak berubah tegang, membuat Molly ikut terkejut. Mata Richard yang melotot tertuju pada seorang cewek yang berdiri nggak jauh dari mereka dan tengah menatap dengan marah. Di belakangnya, empat sekawan yang menjengkelkan terlihat menyunggingkan senyum sinis yang puas.
“Tris?”, Richard seketika berdiri dari kursinya. Tanpa ba-bi-bu, Molly seolah hilang dari pandangannya. Yang ada sekarang hanyalah perasaan khawatir kalau Trisha memang nggak bisa lagi menahan cemburu.
Molly masih bertanya-tanya siapa cewek cantik yang sama sekali nggak bisa dibandingkan dengan dirinya itu. Ia terlihat begitu merah dan Richard kehilangan senyum menawannya yang sekarang berganti menjadi gelisah.
“Jadi kapan tugas baby sitter-nya Pak Heru selesai?”, Trisha bertanya dan rasanya dia pernah bertanya seperti itu dulu. Tapi, sekarang Richard nggak bisa lagi menjawabnya dengan senyum tenang.
“Tris, ikut aku”, kata Richard cepat, sambil menarik lengan Trisha yang langsung menolak disentuh. Ia menepiskan tangan Richard, dan cowok itu kebingungan sambil sesekali menoleh ke Molly yang terpana membeku.
“Kamu keterlaluan, tau nggak?”, Trisha berteriak, “Tiap hari kamu selalu nemenin dia, tapi aku, pacar kamu, bahkan nggak punya waktu buat ketemu apalagi jalan bareng!”
Molly syok! Pacar?, ia seakan nggak percaya. Pacarnya Kak Richard?
“Aku capek, tau nggak!”, teriak Trisha lagi, hampir menangis, sebelum ia memutuskan berlalu sambil menangis.
Dan…Richard mengejarnya dengan ketakutan. Kelihatan jelas kalau ia nggak ingin kehilangan pacarnya! Bahkan playboy sekaliber dia bisa ketakutan sama seorang cewek?!
---
Orang-orang itu tampak bersorak tapi suaranya hampir nggak terdengar. Mungkin karena protector yang membungkus rapat kepalanya yang pusing dan mulai kehilangan keseimbangannya. Bang Benny, mendongak dari luar ring. Dengan kedua jarinya yang ia tujukan ke matanya lalu ke mata Getta yang mulai berkunang-kunang.
“Fokus!”, ulangnya, lalu menatap lurus ke depan, di sudut merah yang berseberangan dari sini, lawan Getta tengah memandang kemari –mengirimkan sengatan-sengatan pedih yang hampir bikin Getta benar-benar down.
Getta nggak memperhatikannya sejenak, dan malah menengok ke luar ring. Jonas, Yuna, dan Lara melambai-lambai memberi semangat untuknya. Getta menoleh ke lawannya itu dengan sedikit kecewa, di antara mereka hanya ada ruang kosong –di mana seharusnya Molly berada. Cewek itu nggak datang.
Lonceng ronde kedua mulai berbunyi. Lawan Getta yang badannya sedikit lebih besar darinya itu langsung berdiri dengan ancang-ancang pukulan yang seakan bisa menjatuhkan Getta hanya dengan sekali serang.
Bang Benny menepuk-nepuk wajahnya, agar Getta tetap tersadar. Menghadapi lawannya seperti seorang lelaki.
Tapi, Getta malah terbawa oleh kekecewaannya sama Molly yang katanya janji bakal datang ke pertandingan perdananya. Sampai wasit menghitung sampai sepuluh dan laga pun selesai, Molly nggak pernah kelihatan.
Hanya Chika yang berdiri di sudut lain memberinya semangat dari kursi roda, walaupun Getta sudah nggak bisa berdiri lagi. Matanya masih tertuju ke pintu masuk –berharap sosok Molly yang pemalu itu masuk lewat sana dan memekikan namanya. Tapi, detik-detik matanya nggak bisa bertahan karena sengatan rasa sakit di tubuhnya yang babak belur, terasa menyesakan. Yang terdengar hanya desahan nafasnya sendiri di luar dari teriakan kemenangan pendukung dari lawannya atas pertandingan ini.
Bang Benny memapah tubuhnya yang lemah untuk menyingkir dari tengah-tengah ring.
Getta tertunduk menyadari sekali lagi, bahwa Molly benar-benar nggak datang.
“Maaf, Bang…”, kata Getta pada pelatihnya itu dengan menyesal. Menyesal karena kekalahannya, yang KO tanpa perlawanan pada ronde ketiga.
Bang Benny mengangguk-angguk, kelihatan mengerti, “Petinju professional nggak perlu harus menang di pertandingan pertama”, kata dia, sambil menepuk-nepuk bahu Getta pelan lalu pergi meninggalkannya sendirian di ruang ganti. Supaya Getta kembali memikirkan semuanya lagi, apa kekalahannya ini nggak terlihat menyedihkan karena ia terlalu memikirkan seorang cewek?
Ia punya banyak luka di wajahnya sekarang. Luka yang hanya berakhir menjadi rasa sakit. Dan rasanya, yang lemah saat ini bukan fisiknya, tapi hatinya. Kenapa dia jadi begitu berharap sama Molly? Apa ia terlalu memaksakan diri untuk menjalani semua ini?
Andai ia bisa membuat pilihan yang berpihak sama perasaannya saat ini…
Tapi, melihat Chika dan kursi rodanya, ia mulai merasa bahwa perasaannya nggak begitu penting. Toh, Molly sudah memutuskan dan dia kelihatan sudah membaik sejak terakhir mereka bicara tentang perasaan masing-masing. Dan, ini juga adalah pilihannya.
Getta tersenyum saat menghampiri Chika yang merentangkan kedua tangannya.
“Lo hebat kok”, kata Chika menepuk-nepuk punggung Getta saat memeluknya erat. Lalu mereka dihampiri teman-teman Getta yang sepertinya juga bakal mengatakan hal yang sama.
Getta agak lega. Masih ada mereka di sisinya.
***
“Molly?”, Mama memanggil dari balik pintu kamar yang terkunci sejak tadi. Sejak Molly pulang sekolah, ia masuk kamar dan nggak pernah keluar lagi, bahkan buat makan siang aja,. Karena nggak ada jawaban juga, akhirnya Mama kembali ke dapur.
Molly nggak kelihatan di sudut kamar mana pun. Kamarnya seolah kosong. Molly bukan sengaja sembunyi dari Mamanya, tapi dia cuma berusaha untuk tidur dan mengucapkan mantranya supaya dia bisa tertidur –dibawah selimut.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,…
Tapi sampai hitungan ke seratus pun ia belum juga bisa tidur. Molly kembali mengulangi mantranya dari satu. Semakin ia menghitung, dengan bersuara, semakin ia nggak bisa tidur. Malahan Molly terisak, dan air matanya sampai membasahi bantal. Mantra itu nggak pernah ampuh lagi, untuk menghilangkan kegelisahannya. Mantra itu nggak bisa lagi membuatnya tertidur. Karena udah lama, Molly nggak menjadikan tidur sebagai pelindungnya dari rasa sakit.
Kenapa ia harus merasa sakit? Memang apa sih yang ia harapkan dari Richard? Walaupun dia baik dan hampir selalu ada juga bukan berarti sesuatu. Ya, selama ini Richard hanya nolongin sepupunya, Pak Heru. Nggak lebih!
Molly akhirnya keluar dari selimut. Rambutnya kusut. Wajahnya jelek kalau sedang menangis, pikirnya sambil meraih handphone yang dari tadi ia biarkan berbunyi di atas meja. Pasti teman-temannya yang sedang menunggu. Ya, gara-gara insiden tadi siang, Molly jadi lupa kalau ia harus ke pertandingannya Getta. Ingat, Molly pun kembali menangis sedih. Harusnya ia datang, tapi…sudah jam lima sore, pertandingannya pasti udah selesai.
Kesal, Molly pun kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Beberapa saat ia terpana memandang langit-langit kamar. Tetesan di sudut matanya terus mengalir dan ia mengurasnya sampai habis dengan memejamkan mata. Padahal, ia ingin sekali pergi ke pertandingan itu. Rasanya ingin menelpon Getta dan bilang maaf. Tapi, sial…Molly nggak bisa melakukannya, karena bahkan sampai sekarang pun ia nggak pernah punya nomor hp-nya Getta. Rasanya, jadi ingat waktu kelulusan SMP itu saat Getta menuliskan nomor hp-nya di sebuah kertas kecil agar Molly menghubunginya tapi Molly malah membuangnya.
Rupanya sekarang semua semakin rumit aja, Molly membatin sambil menarik nafas yang sangat panjang. Ia nggak lagi mengucapkan mantranya hanya untuk tertidur. Karena hanya dengan memikirkan semua hal tentang kemah terakhir itu bisa membuatnya sedikit tenang. Lalu ketiduran tanpa dia sadari.
***
“Get, lo kenapa?”, tegur Chika, heran karena dari tadi Getta sama sekali nggak menyentuh minum dan makanan yang sudah ada di depannya. Getta hanya duduk ngelamun, mandangin hp-nya seperti menunggu telpon seseorang.
Getta cuma menggeleng, berusaha tersenyum di depan Chika, “Gue nggak kenapa-napa”, jawabnya, tenang, “Habis ini lo mau langsung diantar pulang?”
Chika tersenyum lebar, sambil mengangguk pelan entah untuk apa. “Pasti karena Molly nggak datang ya lo jadi nggak semangat gitu?” tanya dia.
Nggak ada reaksi dari Getta. Ia masih diam seolah membantah apapun yang ada di pikiran Chika tentang suasana hatinya yang buruk. Seolah ada hal lain lagi, yang Chika benar-benar nggak tahu.
“Audisi gue sebentar lagi lho. Lo pasti datang ‘kan, Get?” tanya Chika mulai mengalihkan perhatian Getta.
Akhirnya raut Getta berubah. Ia tersenyum, “Ya, pasti gue datang” jawabnya.
Begitu selesai makan, mereka langsung meninggalkan cafรฉ. Sebelum pulang, Getta mengantar Chika dulu seperti biasanya.
Hari ini begitu melelahkan, sama seperti hari-hari sebelumya. Untuk sekolah, latihan, mengantar jemput Chika dan belajar. Saat malam tiba, Getta terlelap lebih cepat dari biasanya. Entah sejak kapan dia jadi cowok penidur yang suka tidur setiap ada kesempatan. Mungkin karena tidur melindunginya dari hal-hal yang nggak ingin ia rasakan –rasa bersalah, menyesal dan sedih. Benar kata Molly, setiap bangun setelahnya ia merasa cukup lebih baik untuk mengulang kegiatan yang sama dengan hari-hari sebelumnya.
Kelas penuh dengan canda tawa saat ia berdiri di depan pintu dan mulai mencari-cari temannya yang biasa. Tapi, nggak satu pun dari mereka yang terlihat. Nggak lupa, Getta menengok ke bangku di belakang bangkunya, tas Molly sudah ada di sana. Artinya dia datang hari ini setelah dua hari kemarin nggak muncul-muncul.
Getta sudah lama bertanya-tanya kenapa Molly nggak datang ke pertandingannya. Tapi belum ada kesempatan –bahkan mereka belum ketemu lagi sejak itu. Apa Molly nggak mau datang karena Chika sudah pasti ada di sana juga dan dia nggak mau ketemu?
Sejenak, Getta kembali menggerutu. Terus apa? Memangnya apa alasan Molly harus datang?
Ia hanya duduk diam di kursinya menunggu bel masuk dan pelajaran di mulai. Tapi, baik Jonas ataupun Lara dan Yuna nggak juga datang. Apa ada masalah? Kok perasaan gue nggak enak ya? Saat sibuk sendiri memikirkan semua itu, yang datang malah Richard. Bikin Getta makin badmood.
“Molly mana?” tanya dia menghampiri Getta yang duduk, dan bersikap cuek.
Udah lama juga Getta nggak suka sama cowok ini.
Getta cuma angkat bahu. Dan Richard langsung keluar, langkahnya cepat sekali.
Nah! Pasti ada masalah! Getta langsung berdiri dari kursinya dan mulai mencari teman-temannya di sepanjang lorong. Tapi, nggak ada. Satu-satunya tempat sepi yang mungkin Molly tuju hanya satu –tangga darurat.
“Tuh gue bilang juga apa!”, Lara kedengaran kesal, “Tuh cowok emang bajingan ya…”
Samar-samar Getta mendengar ada yang menangis. Dan sudah pasti itu Molly. Tapi ada apa?
Getta mendekat pelan-pelan. Nggak lucu kalau tiba-tiba nyamperin dan bikin suasana jadi lain. Dia cuma ingin tahu apa sih yang bikin Molly nangis? Richard? Kalau akhirnya itu memang terjadi, rasanya Getta jadi ingin menghajar cowok playboy itu!
Tapi,… apa haknya untuk ikut campur?
“Udah deh, Ra..”, Molly kedengaran memohon di sela isakan tangisannya, “Aku yang salah paham kok…”
Lara terdengar mendengus, tanpa komentar ia hanya memandangi Molly yang coba berhenti menangis, tapi selalu gagal.
“Aku nggak tahu kalau Kak Richard punya pacar…”, akunya, tapi terisak lagi.
Yuna melirik Lara yang masih kelihatan gusar, “Kita juga sih yang nggak bilang sama Molly kalau Richard itu punya pacar…”, katanya pelan.
“Habis gimana mau bilang, Molly kayak kesengsem setengah mati gitu…”, balas Lara, menggerutu, “Kalau dipikir-pikir, emang sih di saat lo susah Richard selalu ada. Bahkan sampai support buat les piano segala. Beda banget sama Getta. Udah lemot, lamban, nggak gentlement, di saat begini dia cuek-cuek aja. Rasanya pengen gue jewer tuh cowok…”
Getta tersentak. Molly terdengar terisak, bikin Getta jadi ikut sedih. Namun, apa dayanya sekarang… dia nggak bisa tiba-tiba muncul di depan Molly seperti seorang penyelamat. Getta juga merasa pernah menyakiti Molly…dan kasihan banget cewek itu.
“Lara udah… ini nggak ada hubungannya sama Getta…”, kata Molly.
Lara memang benar, Getta jadi makin yakin untuk nggak menghampiri mereka. Ia memutar langkahnya dan kembali ke kelas.
***
“Getta?”, tegur Jonas heran, kebetulan papasan di lorong dan Jonas sepertinya mau bergabung dnegan cewek-cewek yang lagi curhat itu, “Lo mau ke mana?”
“Balik ke kelas. Gue udah keseringan bolos…”, jawabnya singkat, datar, tapi murung.
Jonas semakin heran aja. Sikapnya Getta itu aneh memang. Biasanya juga dia mulai pendiam, tapi nggak pernah terlihat sesedih itu. Pasti ini gara-gara Molly lagi, pikirnya sambil menggeleng-geleng dan merogoh saku celananya untuk mengambil hp. Ada satu SMS lagi dari Yuna. KITA DI TANGGA DARURAT. Jonas kaget!
Pasti barusan Getta juga dari sana. Tapi, kenapa tampangnya kayak baru ditolak begitu?
Benar. Cewek-cewek itu lagi membujuk Molly supaya berhenti menangis.
Molly terus-terusan menyeka air matanya, sambil terisak-isak seperti anak kecil. Bikin Jonas jadi prihatin. Dia sudah sering terlihat menangis seperti itu.
“Aku…sama Getta selesai…”, rengeknya, di antara isakan tangisnya itu, sampai-sampai ia mmenarik nafas panjang untuk bisa menyambung kalimatnya, “Nggak akan ada kesempatan lagi…”
Jonas hanya berdiri di sana, diam, memandangi Lara memeluk Molly untuk menenangkannya.
“Dulu aku pikir disleksia itu penyakit hilang ingatan…aku pikir kenapa kenangan sama Getta juga lupa kayak aku lupa jalan pulang atau pelajaran…”, katanya, terdengar menyayat hati, “Tapi…semuanya nggak pernah bisa lupa… aku pikir kalau ketiduran, aku bisa tenang sebentar…tapi malah kebawa mimpi…”
“Udah, Mol…”, ujar Yuna, makin kasihan. Mendekat, ia pun ikut memeluk cewek malang itu, “Jangan sedih…jangan kebawa terus. Lo ‘kan mau audisi piano…”
Molly menggeleng-geleng, “Aku…nggak bisa…”, katanya, “Aku nggak bisa main piano lagi…kalaupun ikut aku nggak akan lulus audisi…”
“Nggak boleh nyerah gitu dong…”, ujar Lara, “Nanti juga pasti lo bisa lupain Getta…”
Molly masih menggeleng-geleng gemetaran, “Aku nggak mau main piano lagi…”, katanya, sedih, tapi kedengaran mantap.
Lara dan Yuna memeluknya makin erat. Molly memejamkan mata, untung ada mereka. Kalau nggak sudah pasti ia akan menangis berhari-hari hanya untuk melupakan semua kejadian buruk itu. Tapi, ia kembali mengingat-ingat perasaannya saat main piano –kebahagiaannya saat itu dan segala hal yang sebelumnya nggak pernah ia lakukan. Ternyata semua itu semu.
Perhatian Molly tertuju ke tas kecil berisi peralatan gambarnya yang tersandar di anak tanga. Apapun yang ia lakukan di Maretha ternyata nggak lebih menyenangkan dari saat ia bisa menyendiri dan menggambar apa yang ada di pikirannya. Karena semua itu dilakukan dari hati, bukan demi orang lain.
***
Richard terlihat di kantin sama teman-temannya. Mengobrol sambil tertawa seru, hingga tiba-tiba dua orang teman yang duduk di depannya, tiba-tiba melongo.
Mereka menemukan seorang cewek berbadan kurus yang tengah berdiri di belakang Richard sambil memegang sebuah boneka beruang. Salah seorang mengedip-ngedipkan matanya, supaya Richard segera menoleh ke belakang.
Richard sempat heran sebentar, sebelum ia melihat Molly menyodorkan boneka beruang yang ia pegang di tangannyas, “Molly?”, dia cukup kaget, melihat cewek itu menatapnya sambil merengut.
Molly nggak pernah terlihat kesal dan marah, seperti hari ini.
“Lho kok?”, Richard masih heran, kenapa pemberiannya dikembalikan.
“Aku nggak bisa terima barang seperti ini”, jelas Molly, datar.
Richard jadi makin bingung, “Aku ngasihnya ke kamu nggak ada maksud apa-apa”, katanya, “Aku tulus kok…”
Molly menggeleng-geleng, menyodorkan boneka itu lagi ke dadanya –tampak memaksa, “Aku nggak mau…”, ia bersikeras dan suaranya mulai gemetaran, “Aku nggak mau dikasih barang dari orang yang bohong sama aku…”
“Aku nggak bohong, aku cuma nggak bilang karena itu nggak ada hubungannya…”, kata Richard membela diri, “Kalau kamu marah sama aku karena bikin kamu salah paham, aku minta maaf ya…”
Benar kata Lara, Richard memang cowok yang nggak punya perasaan. Setelah semua yang terjadi, dia bahkan nggak pernah bicara sama Molly lagi bahkan untuk minta maaf sebelum Molly menghampirinya hari ini. Bodohnya, Molly berpikir kalau Richard itu baik. Mungkin dari segi dukungannya yang berharga itu, tapi sebenarnya karena disuruh Pak Heru. Nggak lebih!
“Kamu nggak harus berhenti les piano”, kata Richard, suaranya melemah. Anehnya, ia baru terlihat merasa bersalah sekarang, “Kak Cariss nanyain kamu dan Pak Heru juga cemas…”
“Aku ini bukan bayi!”, teriak Molly tiba-tiba, “Aku nggak butuh baby sitter! Kenapa semua orang bikin aku jadi makin lemah?! Kak Richard juga!”
“Kamu butuh dukungan… kamu bisa main piano kan? Makanya aku antar kamu ke Kak Cariss…”
“Tapi, aku nggak berbakat! Aku ngelakuin semua itu demi Kak Richard! Karena aku pikir cuma kakak yang bisa ngertiin keadaan aku! ”, teriak Molly tiba-tiba, sampai anak-anak lain menoleh, “Aku memang disleksia, tapi nggak bego! Dan main piano…bukan sesuatu yang aku lakuin dari hati…”
Richard terdiam, dan masih belum ingin menerima bonekanya.
Molly mengangkat kepalanya untuk menatap Richard yang masih terdiam, “Aku nggak akan main piano lagi…aku nggak akan kembali ke Maretha… aku nggak akan ikut audisi itu…”, jelas Molly, “Karena sebenarnya…biar Kak Richard, Kak Cariss, dan Pak Heru…pasti tahu kalau aku nggak akan lulus… kalian cuma ngasihanin aku seolah aku ini orang yang sakit parah dan sebentar lagi mau mati… kalian bikin hidup aku jadi tambah menyedihkan, tau?
“Molly…”
“Udah, Kak Richard!”, potong Molly, ia mulai terdengar marah, lalu memukulkan boneka itu ke dada Richard.
Richard menerimanya dan masih terlihat syok mendengar Molly akhirnya berteriak.
“Aku cuma disleksia! Bukan cacat mental! Atau sakit kanker! Aku nggak lemah…”, kata Molly sebelum pergi. Lalu ia pun melangkah cepat dengan puas hati.
Ya, butuh keberanian yang banyak untuk mengungkapkan semua itu. Walaupun meneteskan air mata sedih lagi, tapi kali ini Molly tertawa. Tertawa puas pada dirinya dan kemudian ia mulai membuat janji bahwa ini terakhir kalinya ia menangisi keadaannya. Ia sudah mengatakan semua yang orang lain harus ketahui tentang dirinya mulai saat ini. Dengan begitu, ia bisa berhenti menjadi gadis dungu dan menyedihkan!
***
Pak Heru terlihat keluar dari ruangannya saat Molly kebetulan kembali dari perpustakaan sendirian sambil menenteng tas gambarnya.
Seperti biasa, Pak Heru akan menegur, “Molly”
Molly pun menghampirinya. Berusaha untuk tenang. Walaupun sempat kecewa soal apa yang dilakukan Pak Heru melalui Richard, tapi orang ini tetap adalah gurunya –sosok yang sangat berjasa padanya selama ini.
“Cariss bilang ke saya kalau kamu nggak datang lagi ke les piano”, katanya, “Audisinya hari Sabtu dalam minggu ini lho”
Molly tersenyum lebar sambil menggeleng polos, “Saya nggak main piano lagi, Pak…”, katanya, “Saya mau masuk fakultas seni rupa aja…”
Pak Heru tampak mengerti dengan mengangguk-angguk, “Baiklah…”, balasnya, lalu tiba-tiba air mukanya berubah, “Hm…Molly?”
“Ya, Pak?”, sahutnya sebelum membalikan badan dan pergi.
“Soal kamu dan Richard saya…minta maaf”, katanya, tampak bingung, “Saya tidak tahu kalau…”
Molly menggeleng dengan semangat, “Kenapa Pak Heru yang minta maaf?”, balas Molly.
“Saya jadi nggak enak. Kamu sama Richard jadi berselisih”
“Nggak juga, Pak…”, Molly tertunduk, “Setelah dipikir lagi, hari itu…saya…cuma sebel… tapi setelah itu…berkat Kak Richard saya jadi tahu apa yang saya mau…”
Pak Heru tersenyum, “Baguslah…”, ucapnya, “Saya senang kamu sudah ceria lagi”
Molly mengangguk-angguk, “Oh ya, Pak…saya mau minta tolong…boleh? Sekaliiii aja…”, kata Molly tiba-tiba.
“Ada apa, Molly?”, tanya Pak Heru penuh perhatian.
“Kalau seandainya nanti…nilai saya nggak cukup untuk naik kelas tiga…Pak Heru jangan naikin saya ke kelas tiga ya…”, katanya dan Pak Heru sempat kaget, “Saya…benar-benar mau berusaha kali ini, untuk naik kelas…tanpa bantuannya Pak Heru…”
“Tentu, Molly…”, kata Pak Heru, masih ada senyum senang di wajahnya.
Molly mengangguk-angguk lagi, dengan semangat.
“Belnya sudah bunyi. Kamu masuk kelas sana”, kata Pak Heru mengingatkan sebelum Molly berlarian di sepanjang koridor menuju kelasnya –menuju masa depannya.
Komentar
0 comments