[Ch. 13] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Helping Hands 

“Gue minta maaf karena udah salah paham sama lo”, kata Jonas yang berdiri di samping tempat duduknya.

Getta menoleh, memandang ekspresi menyesal Jonas sebentar sebelum akhirnya tersenyum, menerima uluran tangan Jonas. Lalu meninju perutnya, “Udah tobat lo?’, celetuknya.

“Sialan!”, teriak Jonas kesakitan, “Sakit, tau?!”

Getta tertawa.

“Hari ini makan siang lo biar gue yang traktir”, kata Jonas, nyengir.

“Beneran? Ntar lo rugi, Jo. Makan gue banyak!”, candanya.

Jonas menatapnya dengan mata melecehkan, “Emangnya lo? Keren-keren tapi kere?”, celetuknya sambil tertawa keras-keras dan Getta pun jadi bete.

“Sialan lo!”, balas Getta.

Jonas masih cengengesan, “Yuk, kita ke kantin! Kalau makanannya habis, berarti gue nggak jadi traktir!”, katanya menarik Getta dari tempat duduknya.

“Ikut dong!”, seru Yuna yang tau-tau sudah ada di belakang Jonas.

“Lo boleh ikut, tapi bayar sendiri-sendiri”, cetus Jonas dengan gaya nyebelin.

Mendadak, Yuna cemberut, “Pelit banget sih!”, dumelnya, dengan pipi yang membulat.

“Wek!”, Jonas mencibir di depan wajah Yuna. Sampai detik ini mereka memang nggak pernah akur!

Jonas merangkul bahu Getta dan menyeretnya keluar kelas. Meninggalkan Yuna yang jadi kesal karena nggak diajak. Tiba-tiba ia menarik Molly yang masih duduk di kursinya dan sedang menggambar.

“Ikut yuk!”, ajaknya.

Molly masih terbengong-bengong. Ia segera berdiri karena Yuna nggak melepaskan tangannya. Terpaksa ia meninggalkan krayon dan buku sketsanya di atas meja dengan ikut Yuna mengejar Jonas dan Getta. Sekali, ia menoleh ke bangku kosong Lara –hari ini dia lagi-lagi nggak masuk.

“Tunggu!”, seru Yuna di sepanjang lorong sambil tetap memegangi lengan Molly.

Jonas dan Getta sama-sama menoleh. Jonas terlihat mendengus dan Getta tersenyum; menghentikan langkahnya menunggu kedua cewek itu sampai. Lalu mereka menuju ke kantin sama-sama.

Tiba-tiba cepol korea Yuna ditarik Jonas, cewek itu menjerit. Jeritannya terdengar melengking sampai ia dipelototin sepanjang lorong. Jonas cekikikan sambil berlari menghindari Yuna yang kelihatan ingin memukulnya. Mereka mulai kejar-kejaran.

Getta dan Molly yang tertinggal di belakang, hanya berjalan dengan santai. Tanpa ngomong sesuatu, sekali saling menoleh, mereka hanya tersenyum bahagia, seolah nggak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan bahwa hari ini mereka begitu senangnya. Seolah perasaan bisa disampaikan hanya lewat tatapan mata.

---

Setiap hari rasanya menyenangkan. Setiap terbangun di pagi yang mendung sekalipun, Molly tetap semangat. Ia keluar dari kamar mengenakan seragam lengkap, berlari menuruni tangga menuju ruang makan di mana Mama dan Papanya sudah menunggu.

“Buku-bukunya udah lengkap semua?’, tanya Papa padanya, “Kamu udah pastiin nggak ada yang ketinggalan?”

Molly mengangguk sambil duduk di samping Papanya dan roti isi dadar dan sayur sudah ada di atas piringnya.

Mama menuangkan jus jeruk ke gelas kosong di dekatnya, sebelum duduk di samping Papa.

“Kamu masih bawa krayon dan buku gambar juga ke sekolah?”, tanya Mama.

“Aku masih sering gambar di jam istirahat kok”, jelasnya lalu menggigit roti isinya dengan buru-buru.

Mama memperhatikannya makan dengan lahap dan cepat, lalu tersenyum. “Handphone kamu udah dibawa?”, tanya dia mengingatkan.

Molly menunjukan tali berwarna pink yang melingkar di lehernya –handphone-nya sudah tergantung di sana, “Udah, Ma”, katanya tersenyum.

“Papa mau berangkat sekarang, kamu mau sekalian diantar, Sayang?”, tanya Papa yang berdiri dari kursinya.

Molly menggeleng-geleng dengan mulut penuh makanan, “Nggak, Pa. Aku naik bus lagi aja…”, katanya, setelah menelan semuanya.

“Kamu yakin?”, tanya Papa.

Molly mengangguk dengan cepat.

Papa sudah pergi dengan mobilnya saat Molly selesai sarapan. Dengan buru-buru, ia meraih ransel dan tas renjengnya, lalu menghampiri Mama yang sedang mencuci piring di wastafel.

“Aku berangkat ya, Ma”, katanya pamitan, sambil berjinjit mengecup pipi Mama.

Mama sempat kaget, karena nggak biasanya Molly pamitan sambil cium pipi segala. Tapi, Molly sudah menghilang di balik pintu saat ia menengok ke belakang.

Molly sudah berlari sejauh-jauhnya menuju halte terdekat, tempat ia biasa menunggu bus ke sekolah. Beruntung, saat baru sampai di halte busnya datang dan nggak terlalu banyak orang yang ngantri. Molly bisa dapat tempat duduk dan ia memilih yang ada dekat jendela supaya bisa melihat keluar –memastikan apa hari ini Getta bakal naik bus yang sama lagi seperti kemarin.

---

Getta berlari lagi sambil tertawa lalu menoleh ke belakang. Preman-preman itu kembali kehilangan dirinya begitu ia naik bus. Ia masih ketawa saat mengatur nafasnya yang tersengal, rasanya melelahkan sekali  menghindar dari mereka seperti ini, tapi juga menyenangkan. Bisa dibilang olahraga pagi gitu, sekaligus shock-teraphy!

Di atas bus, Molly terlihat duduk di dekat jendela di deretan kursi paling belakang. Ada tempat kosong di sebelahnya, karena pagi ini busnya nggak terlalu padat penumpang. Molly menyambutnya dengan senyum manis yang nggak lagi kelihatan malu-malu.

“Kenapa kamu lari-lari sampai ngos-ngosan gitu?”, tanya Molly saat Getta duduk di sampingnya.

Getta tertawa, “Nggak ada kok…”, jawabnya sambil memegangi dadanya yang masih sesak. Rasanya bakal lucu kalau ia bilang sama Molly, setiap pagi ia selalu dikejar anjing-anjing galak –preman-preman sadis itu. Lagian, kenapa ya kayaknya nggak keren kalau Getta selalu dijadikan sasaran empuk mereka? Jadi, ia hanya tertawa.

Molly pun nggak bertanya lagi. Setelah Getta kelihatan agak tenang, cowok itu memandangi tas renjeng yang dipegang Molly –yang  ia tahu pasti adalah alat-alat gambarnya yang selalu ia bawa ke mana-mana.

“Aku boleh lihat nggak?”, kata Getta menatapnya serius, “Buku gambarnya…”

Molly kelihatan ragu-ragu sebelum ia mengeluarkan bukunya dan menyerahkannya ke Getta yang jadi nggak sabar ingin melihat gambar-gambar Molly.

Dengan seksama, Getta mulai mengamati lembar demi lembar yang diwarnai Molly dengan krayonnya. Ternyata, Molly lebih sering menggambar padang rumput dan langit. Ia menggambarkannya dengan angle yang berbeda-beda.

“Kenapa kamu suka padang rumput?”, tanya Getta.

“Karena itu tempat yang paling indah yang pernah aku lihat di dalam mimpi”, jawabnya tersenyum, menerawang ke depan, “…karena cuma mimpi, aku jadi ingin bikin itu jadi nyata di buku…”

Getta heran, menatapnya terpana. Memandangi ekspresi damai Molly di sampingnya, “Oh…”, Getta kembali mengamati lembaran di tangannya.

Warna-warna cerah yang ia goreskan di sana, seolah melukiskan keceriaan. Di langit yang biru dan padang rumput yang hijau. Beberapa orang mungkin hanya akan menilainya seperti gambar biasa –yang terlihat seperti coretan anak TK. Tapi, warna bisa mengungkapkan perasaan seseorang, sama seperti lagu dan musik. Ternyata Molly punya bakat seni yang luar biasa. Ia bisa menunjukan sudut pandangnya melalui gambar-gambar itu dengan gaya dan ciri khasnya sendiri.

“Aku nggak bisa apa-apa selain itu…”, sambung Molly menoleh padanya dengan raut yang mendadak murung. “Kamu tau sendiri…aku nggak pintar, nggak cantik, sama sekali nggak ada hebatnya…”

Getta tertawa pelan, “Kayaknya dulu kamu pernah bilang gitu deh”, katanya, menghibur, “Kamu bilang kamu Sleeping Ugly, bukannya Sleeping Beauty”

“Aku disleksia, Get”, kata Molly serius, seolah mengatakan kalau ia menderita kanker.

Tawa Getta seketika hilang, berganti menjadi ekspresi terkejut. Disleksia, ia pernah mendengarnya sebelum ini. Dari Richard. Tapi, sampai sekarang ia belum tahu disleksia itu apa.

“Aku nggak normal”, kata Molly menjelaskan, “Kamu pasti nggak lupa kalau setiap aku disuruh berdiri di depan kelas bacain karangan aku sering salah. Tulisanku jelek dan susah dibaca karena kebalik-balik…aku sering lupa, sering kesasar…sering nggak jawab kalau ditanya…aku bahkan nggak tahu kalau jawabannya itu gampang…”

“Apa…disleksia itu mematikan?”, tanya Getta cemas.

Molly menghela nafas. Ia nggak menjawab.

“Selama itu nggak mematikan kenapa kamu kayak orang yang divonis kanker stadium empat?”, tanya Getta, perlahan mulai tenang.

Molly terdiam.

“Selama itu juga bukan penyakit yang menular, kenapa kamu takut dideketin orang lain?”, tanya Getta lagi, “Apa itu juga alasan kamu tiba-tiba ngejauhin aku dulu?”

“Aku nggak mau kehilangan Chika, Get”, jawab Molly, tiba-tiba rautnya sedih.

“Tapi, toh kamu juga kehilangan dia kan?”, balas Getta.

Molly lagi-lagi diam.

“Maaf…”, ucap Getta tiba-tiba, “Semuanya gara-gara aku…”

Tiba-tiba Getta meraih tangannya, menggenggamnya erat sambil memandangnya. Tanpa bicara, Molly hanya bisa membalasnya dengan tatapan sedih.

Bus berhenti di halte terdekat dari sekolah. Di sinilah mereka harus turun, meskipun masih ada yang ingin dikatakan.

Dengan sedikit kecewa, Getta beranjak dari tempat duduknya, memberi celah bagi Molly untuk lewat. Getta turun lebih dulu, menyelip di antara penumpang lain berdesakan yang juga ingin turun. Sambil sesekali menengok ke belakang di mana Molly masih tertinggal. Tubuhnya yang kecil tampak luntang lantung di antara mereka, ia juga sempat disenggol dan kehilangan keseimbangan sampai hampir jatuh.

Getta berdiri di depan pintu bus, menunggunya turun. Mengunggu Molly meraih uluran tangannya.

Molly sempat tertegun di pintu bus. Orang di belakangnya tampak mendesak, sehingga ia raih tangan Getta lalu turun dari sana.

---

Ini sudah hampir seminggu. Molly masih menemukan bangkunya Lara kosong. Anak itu nggak pernah datang lagi ke sekolah. Guru-guru juga sering bertanya ke mana dia menghilang, tapi paling nggak itu pertanda kalau Lara sebenarnya nggak dikeluarkan dari sekolah.

“Rasanya gue ingin ke rumahnya deh…”, kata Jonas melantur, sambil menyangga dagunya dengan malas dan menatap Getta bosan.

“Lo tau dia tinggal di mana?”, tanya Getta.

“Kan bisa lihat di buku siswa”, jawabnya, “Tapi, gosip itu bener nggak sih? Gue lihat Pak Heru biasa-biasa aja. Kayak nggak ada masalah”

Getta diam lagi. Yang ia lihat hari itu, kayaknya Pak Heru yang minta memutuskan hubungan dan Lara nggak terima. Cewek itu bahkan kelihatan mengemis sambil menangis supaya nggak ditinggalin. Tapi, Getta memang lihat sendiri, Pak Heru pergi begitu saja. Hubungan mereka memang rumit. Saat seisi sekolah heboh ngomongin mereka, mungkin Lara nggak tahu itu dan malah menghilang. Sedangkan Pak Heru seolah nggak merasa terganggu.

Molly tiba-tiba berdiri dari kursinya, seperti tersentak. Ekspresi wajahnya tampak murung, “A…aku ke toilet dulu…”, katanya membawa serta tas renjengnya.

Yuna memelototinya, karena tingkah Molly itu mendadak aneh. Begitu Molly meninggalkan mereka ia kembali menatap Jonas dan Getta.

---

Molly mengetuk pintu dengan hati-hati, sambil menarik nafas panjang.

“Masuk!”, suara Pak Heru terdengar berseru dari dalam.

Dengan ragu-ragu, ia mendorong pintu pelan sekali sampai ia melihat Pak Heru tengah menunggu di belakang mejanya.

“Oh, Molly”, dia tersenyum seperti biasanya, “Ada apa?”, tanya dia penuh perhatian sambil memandangi raut Molly yang muram.

Molly masih ragu-ragu saat ia duduk di kursi. Saat menatap Pak Heru, ia mulai canggung. “Saya…”, Molly ingin memulai tapi ia terlalu takut. Habisnya ini nggak ada hubungannya dengan sekolah dan pelajaran. Tapi, kemudian, ia menarik nafas lagi, “Udah seminggu Lara nggak masuk, Pak…apa dia sakit?”

Awalnya, Pak Heru kelihatan kaget. Tapi, kemudian ia mencoba untuk tersenyum lagi, walau jelas kelihatan dipaksakan, “Saya juga nggak tahu, Molly”, jawabnya, lalu menghela nafas.

“Kasihan Lara…”, kata Molly, “Semua orang ngomongin dia terus…apa…Pak Heru nggak bisa ngelakuin sesuatu supaya Lara bisa balik ke sekolah?”

“Lara nggak suka sekolah, Molly”, kata Pak Heru, sekarang wajahnya murung, “Dia sudah bilang berkali-kali kalau dia nggak mau ke sekolah lagi”

“Kenapa?”, tanya Molly.

“Kamu tahu dia punya masalah”,  jawab Pak Heru, masih dengan ekspresi yang sama –sedih. “Saya sudah berusaha membantu sebisa saya tapi…”

“Kenapa Pak Heru nggak melakukan sesuatu supaya Lara nggak digosipin yang aneh-aneh?”, tanya Molly, “Kalau itu memang nggak benar… kalau kata-katanya Bu Sandra nggak benar…harusnya Pak Heru bilang kalau yang mereka bilang itu nggak benar…”

“Dengar, Molly, saya sengaja diam supaya gosip itu bisa hilang dengan sendirinya…”, jelas Pak Heru, “Hanya itu yang bisa saya lakukan saat ini untuk melindungi Lara”

Molly masih menatapnya sedih, “Yang saya tahu…kalau dua orang punya hubungan yang dekat itu mereka punya rasa sayang yang kuat…sahabat, teman dekat, atau… pacar…mereka bersama karena punya satu alasan yang sama…”, katanya, “Kalau sayang dengan tulus…siapapun dia…pasti bakal ngelakuin apa aja untuk orang yang disayangi…dan dia nggak akan ngebiarin orang yang disayanginya sakit…atau menderita sendiri…”

Pak Heru terdiam.

“Lara sama Pak Heru…dekat kan?”, air mata Molly menetes, “Lara pasti sedih karena dia merasa sendirian…dia takut ke sekolah, karena nggak ada yang berpihak sama dia…saya bisa ngerti, gimana sedihnya ada di tempat yang ada banyak orang sekalipun…tetap ngerasa kesepian…seolah…ada di dunia yang berbeda… menunggu ada yang lihat dan menyapa…”

“Kamu mungkin belum mengerti, Molly”, Pak Heru tiba-tiba tersenyum, menatapnya serius, “Saya menyayangi Lara tapi ada banyak hal yang mungkin akan menjadi masalah…dan saya nggak ingin menyeret Lara ke dalamnya. Saya mengerti, kamu mencoba membantu dan apa yang kamu katakan memang sangat benar. Tapi, Molly, setiap orang punya cara yang berbeda untuk menunjukan kasih sayangnya. Jika saat ini saya seolah menyakiti Lara, itu hanya imbas dari cara saya untuk menjaga kebaikan Lara dan kebaikan saya juga. Keadaan setiap orang itu berbeda, Molly. Ini harus saya lakukan, agar Lara bisa hidup dengan layak setelah semua masalah yang dia alami”.

Molly mengangguk, berusaha tersenyum. Menyeka air matanya, “Apa Pak Heru pernah bilang begitu sama Lara?”, tanya dia lagi.

Pak Heru hanya menatapnya heran.

“Saya dan Lara sebenarnya sama kan?”, Molly melanjutkan, “Saya…bisa merasa kalau saya nggak berbeda dari yang lain…karena dukungan…dari Pak Heru, Mama, Papa, Kak Richard dan teman-teman yang lain…bikin saya merasa kalau saya ada…Lara juga pasti butuh dukungan dari orang-orang yang dekat sama dia…”

Pak Heru hanya tersenyum. Tersenyum karena anak ini sudah jauh berbeda dari pertama saat ia masuk ke sekolah ini. Dia bukan lagi anak penyendiri yang suka menggambar di sudut sekolah.

“Tapi…di mata Pak Heru, saya dan Lara itu beda kan?”, tambah Molly lagi, “Saya hanya murid…tapi…Lara berarti lebih dari itu… dibandingkan sama dukungan dari orang lain…dia pasti lebih butuh kata-kata dari Pak Heru untuk bisa bangkit lagi…”

Setelah selesai, Molly pun pergi. Meninggalkan Pak Heru di ruangannya sendiri untuk kembali berpikir. Namun, melihat Molly yang jauh lebih bersemangat, sedikit membuatnya senang. Ia tersenyum begitu Molly menutup pintu kantornya. Benar kata orang, terkadang seorang guru bisa belajar dari muridnya. Karena anak-anak itu jujur dan perasaan mereka lebih tulus dari orang dewasa.

---

“Aku yakin kamu pasti nuntut Pak Heru”, tegur Getta yang ternyata berdiri di lorong, nggak jauh dari pintu kantor Pak Heru,”Habisnya…tadi kamu nggak kelihatan kayak mau ke toilet sih…”

Molly tertunduk malu, tapi tersenyum. Lalu mulai melangkahkan kakinya, menyusuri lorong, kembali ke kelas karena jam istirahatnya hampir selesai.

“Aku juga mau mastiin, pembicaraan yang sensitif itu nggak didenger sama orang reseh”, jelas Getta, dalam langkahnya.

Molly terkekeh, “Orang reseh?”, tanya dia, heran.

“Yah…kayak Bu Sandra…”, jawabnya, “Kamu bilang, kamu dengar Bu Sandra ngancam Pak Heru di kantornya. Bisa jadi kan… Bu Sandra itu sengaja nguntit dan jadi tau semuanya…”

Benar juga, kok nggak pernah kepikiran ya?, Molly termenung sebentar.

“Aku jadi curiga deh…”, kata Getta tiba-tiba, “Kenapa semua orang jadi tahu…aku nggak pernah bilang siapa-siapa. Tapi, kamu pernah ngerasa nggak sih di antara mereka itu ada sesuatu yang lebih?”

Molly angkat bahu. Setahunya, Pak Heru itu benar-benar seorang guru. Bukan seseorang yang kelihatannya mau pacaran sama muridnya sendiri. Soal Pak Heru dan Lara, Molly memang nggak menyangka. Mereka mungkin sembunyi dengan aman sehingga nggak ada seorang pun yang tahu. Jika Getta satu-satunya yang tahu itu karena pernah melihatnya sendiri nggak pernah buka mulut, berarti ada orang lain yang juga tahu itu lalu sengaja menyebarkannya. Itu pasti. Orang itu sengaja membuat gossip untuk bikin Lara atau Pak Heru down. Sanksi paling parah yang mungkin bisa mereka terima kalau terbukti adalah dikeluarkan dari sekolah. Nggak ada yang diuntungkan atau dirugikan kalau itu sampai terjadi –selain dari yang bersangkutan sendiri, tapi seseorang yang lain akan puas dan itu pasti orang yang niatnya mau balas dendam karena sakit hati.

Getta menatapnya serius, “Jangan-jangan Bu Sandra…”, kata dia, dan Molly mendadak tegang.

Molly nggak bisa mengingkari, kalau Bu Sandra itu memang kadang-kadang terang-terangan menunjukan perhatiannya pada si Pak Guru. Sebagai siswa yang paling sering dipanggil Pak Heru ke kantornya –entah itu karena nilai-nilainya yang parah atau tulisannya yang kebalik-balik, hampir sering malah, Bu Sandra ke ruangan Pak Heru untuk sekedar nawarin makan siang bersama atau sedikit ikut campur dengan kerjaannya Pak Heru. Dia juga bicara dengan nada yang manis –bertolak belakang sekali dengan saat ia mendadak menatap Molly dengan begitu sinisnya di berbagai kesempatan.

Bagaimana pun, ancamannya yang masih terngiang di telinganya itu, menjelaskan banyak hal. Ia begitu marah dan kesal, karena Pak Heru nggak menanggapinya serius sekalipun Bu Sandra terus-terusan menuduh. Bisa jadi wanita itu kesal dan bikin Lara dipanggil ke ruang konseling terus bikin gosip itu. Mengerikan!, Molly jadi merinding membayangkan Bu Sandra seperti iblis berwujud wanita cantik.

“Get, gimana kalau kita…ke rumah Lara?”, usul Molly tiba-tiba, “Aku mau mastiin kalau Lara nggak kenapa-napa…”

Getta agak terkejut, “Kita?”, dia bertanya lagi.

Molly mengangguk sungguh-sungguh.

---

Jonas mendadak jadi semangat. Segera ia raih ranselnya dan menyandangnya, “Yuk!”, ajaknya, seperti baru diberi multivitamin super, tampang murungnya menjadi sumringah. Ternyata, dia benar-benar suka sama Lara setengah mati.

Getta mendahului yang lain keluar dari kelas dan ia ketemu Richard di luar lebih dulu.

Seperti biasanya, dia datang buat ketemu Molly dan mengantarnya pulang. Dan dia kelihatan seperti pesuruh yang benar-benar mau melakukan apa aja demi Molly –bikin Getta jadi sebel.

Cowok playboy itu pasti berusaha meluluhkan Molly dengan berbagai cara, pikirnya sambil memandangi kedua orang itu bicara agak jauh dari mereka.

“Kalau lo nggak mau Molly disambar sama si Richard, cepetan nembak dia”, bisik Jonas yang berdiri di belakangnya dengan seringai konyol, “Kalau Molly sampai suka sama cowok itu, lo bakal kehilangan dia selama-lamanya”

Getta diam saja, sama sekali nggak marah sama kata-katanya Jonas.

“Atau lo mau kayak dulu, belum sempat bilang apa-apa tiba-tiba nggak ketemu lagi?”, Jonas makin manas-manasin Getta yang kupingnya mulai gerah.

“Diem lo!”, cetusnya.

“Jadi bener Getta dan Molly waktu SMP saling suka?!”, seru Yuna semangat.

Getta dan Jonas sama-sama lupa kalau si cerewet nan ember ini masih ada di sekitar mereka.

Jonas terlihat kesal, “Ssst!!”, desisnya sambil membekap mulut Yuna dan cewek itu langsung meronta melepaskan diri, “Lo tu emang rewel ya…”

Getta mulai mengabaikan mereka karena kayaknya Richard sudah mau pergi –tanpa Molly. Getta pun lega. Ternyata, Molly menolak untuk pergi dengannya. Jadi, ia tersenyum saat Molly kembali menghampiri.

“Lo nggak pergi sama Richard lagi?’, tanya Yuna begitu Jonas melepaskannya karena mereka sudah mau pergi.

Molly tersenyum, sambil menggeleng, “Kan aku yang punya rencana ke rumahnya Lara”, jelas dia.

Yuna mengangguk-angguk pelan, lalu menghampirinya dan menggandeng lengan Molly, “Yuk, berangkat!”, serunya penuh semangat.

Tapi, selama perjalanan Getta terus kepikiran sama ucapan Jonas. Apa kata-kata suka itu segitu pentingnya?, ia jadi melamun di atas bus. Meskipun Molly juga nggak pernah mengatakan kalau dia suka padanya, tapi sikap dan tatapan mata itu kan nggak pernah bohong. Lagian…mereka pernah ciuman.Ingatan itu bikin Getta salah tingkah sendiri, ia mendadak galau. Lalu, ia menoleh ke sampingnya di mana Molly dan Yuna mengobrol tentang sesuatu yang menyenangkan, sedangkan Jonas duduk di kursi di belakang mereka –sengaja mendongak ke depan untuk terlibat sama obrolan seru itu. Sedangkan Getta duduk sendiri di sini, karena ia butuh berpikir. Tapi, ia senang, bisa melihatnya lagi dan memegang tangannya.

Itu sudah cukup kan? Nggak perlu kata-kata suka untuk mengungkapkannya. Jadi, ia menyandar dengan lega ke sandaran jok bus yang sedang melaju. Nggak apa-apa hari ini ia nggak datang latihan tinju, toh ini sangat penting bagi Molly.

---

Rumahnya Lara kecil. Lingkungannya hampir sama dengan lingkungan rumah Getta yang rata-rata warganya kelas menengah ke bawah. Melewati gang-gang kecil dengan banyak anak-anak dan preman mirip centeng pasar. Di rumah itu, dia tinggal sendirian, seperti seorang Putri yang terkurung di menara dan terisolasi dari orang-orang.

Ketika membukakan pintu, wajahnya kelihatan kaget. Lara yang biasanya selalu terlihat mengenakan seragam putih abu-abu yang agak ngepas di badan, sekarang terlihat dewasa dengan tanktop hitam dan celana pendek biru. Rambut hitam lurusnya, terurai panjang melewati bahu. Secara keseluruhan ia nggak kelihatan sakit. Dan tetap jutek kayak biasanya.

“Ngapain kalian rame-rame ke sini?!”, tanya dia ketus.

“Lo udah seminggu nggak masuk, kita cemas tau?!”, jelas Yuna polos.

“Apa hubungannya sama kalian?”, balasnya gusar.

“Di sekolah lagi heboh soal lo sama Pak Heru. Lo nggak tahu?”, kata Getta tenang, dan Lara kelihatan kaget.

Benar, ternyata Lara sama sekali nggak tahu.“Apa?!”, celetuk dia, menatap Getta tajam seolah Getta yang membeberkan rahasianya.

“Lo jangan salah paham”, suara Getta datar, dan ia menatap Lara serius, “Bukan gue yang bilang”

Yuna, Jonas dan Molly terheran-heran, melihat Getta tampak bisa mengendalikan Lara. Mereka bahkan akhirnya disuruh masuk oleh Lara setelah Getta ngomong.

Rumah itu berantakan sekali. Ada plastik bekas minum dan makanan yang tercecer di lantai. TV menyala di depan karpet yang ditumpuki selimut dan bantal. Sepertinya itu menjadi tempat Lara tidur selama berhari-hari dan ia nggak pernah beranjak dari sana seharian. Buktinya pakaian-pakaian kotor tertumpuk di satu sudut dan sepertinya nggak pernah tersentuh.

“Sory…gue lagi males…”, jelas dia soal keadaan rumahnya sambil duduk di dekat tumpukan bantal dan selimut itu.

Yuna dan Jonas memperhatikan sekitarnya selagi Getta dan Molly ikut duduk.

“Molly khawatir soal lo”, kata Getta dan Molly pun tertunduk malu, “Kita semua pikir lo dikeluarin setelah dipanggil ke ruangan Bu Yanti”

Lara menggeleng, kelihatan masih sedih. Ia belum memberi jawaban berupa kata-kata yang sedikit melepaskan rasa penasaran.“Gue nggak dikeluarin kok”, kata dia akhirnya setelah memandangi mereka dan menyadari sesuatu. Ini pertama kalinya ada yang mencarinya ke rumah saat ia terlalu lama bolos –selain dari guru yang berpikir kalau membolos sekolah adalah pelanggaran berat, “Gue cuma dinasehatin sama kepsek”

“Dinasehatin soal apa?”, tanya Yuna cepat.

Lara menarik nafas panjang. Lalu tertunduk, “Jadi…semua pada tahu ya…?”, suaranya gemetaran, begitu juga pundak kurusnya yang kelihatan lemah.

“Lo harus jujur sama kita…”, kata Jonas ikut pasang raut sedih. Pasti hatinya terluka, “Lo sama Pak Heru beneran pacaran?”

Lara belum mau menjawab. Ia masih tertunduk seperti mau menangis.

“Semua juga udah tau, Ra…”, kata Jonas, terdengar seperti memohon, “Nggak ada gunanya juga lo sembunyi lagi”

Semua mata memandangnya lekat-lekat, menunggu kata-kata yang bisa membuatnya menjadi masuk akal.“Gue…”, dia memulai, suaranya semakin gemetaran sebelum ia akhirnya menatap mereka, berusaha untuk nggak menangis. Tapi, matanya sudah lebih dulu berbinar, “Waktu bokap sama nyokap gue ditangkap, nggak ada seorang pun keluarga yang peduli sama gue. Di sekolah juga gue berusaha untu sembunyi dari keadaan keluarga gue karena gue malu banget…tapi…nggak lama, ada rentenir yang mau jual gue buat bayar hutang, saat itu…Pak Heru nolongin gue…dia lapor polisi dan gue bisa lepas dari rentenir itu…sejak saat itu gue ngerasa cuma dia yang bener-bener peduli sama gue…”

Semuanya terdiam, mendengarkan Lara seolah penjelasan itu belum cukup, mereka kelihatan masih menunggu.

“Dia juga…ngasih perhatian yang awalnya nggak bisa gue ngerti, tapi…nggak sadar kita semakin dekat dan…yah…”, dia melanjutkan, sebelum tertunduk lagi, menyembunyikan satu kata di ujung kalimatnya yang kedengaran menggantung –‘pacaran’, “Karena dia gue jadi kelihatan lebih dewasa dari kalian. Gue ngerasain hal-hal yang belum harusnya gue rasain dari dia…tapi…tiba-tiba semuanya berubah. Tiba-tiba…dia mau ninggalin gue…”

Mereka jadi ikut sedih, melihat Lara akhirnya menangis juga.

“Molly dengar Bu Sandra ngancam Pak Heru”, kata Getta, “Artinya dia tau soal lo sama Pak Heru. Kita juga curiga yang nyebarin gosip itu juga dia”

Lara kelihatan bingung, “Bu Sandra?”.

Yuna dan Jonas kelihatan lebih bingung lagi. Mereka memang nggak tahu apa-apa dan sekarang harus mengikuti alur dari omongan Getta dan Lara. Cuma mereka yang nggak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sekarang, jadi masuk akal kenapa Lara dan Getta kelihatan akrab.

“Lo nggak ada merasa curiga atau apa gitu?”, tanya Getta dan Lara langsung menggeleng, meskipun masih kelihatan bingung. Getta juga ikut bingung, masa Lara nggak sadar kalau ada orang lain yang sebegitu dekatnya mengincar ‘pacar’-nya?

“Semua tau Bu Sandra itu suka sama Pak Heru”, celetuk Yuna, “Dia kan sering godain Pak Heru, cari-cari perhatian gitu”

Lara terdiam, selama ini yang dia tau, Pak Heru memang nggak terlalu pedulian. Dia terlalu tenang dan fokus sama kerjaannya. Hanya ketika sedang bersama Lara dia menjadi orang yang berbeda, tapi belakangan dia memang jauh berubah.

“Kamu balik ke sekolah lagi ya?’, kata Molly, suaranya pelan, setelah ia diam sedari tadi, “Kasihan Pak Heru, dia harus ngadapin ini sendirian”

“Itu dia yang minta…”, Lara terisak, sambil terus berusaha menyeka air matanya yang nggak mau berhenti.

“Pokoknya lo harus balik ke sekolah”, putus Jonas, “Itu cuma gosip yang orang lain nggak tau kebenarannya. Kalau lo nggak masuk-masuk, mereka bakalan berpikir itu beneran…”

“Gue nggak peduli lagi mereka mau bilang apa. Setelah semua yang terjadi. Semua orang ngomongin gue, belum lagi masalah yang ini, Heru juga udah ninggalin gue…rasanya nggak mungkin gue pergi sekolah seolah nggak ada kejadian apa-apa…”, rengeknya, tertunduk lagi.

“Masih ada gue…”, kata Jonas, tampak sungguh-sungguh, “Getta, Molly dan Yuna. Karena itu kita datang ke sini buat ngasih semangat lo…karena kita peduli sama lo, Lara…”

Tangis Lara makin keras. Ia jadi nggak bisa bicara apa-apa, “Makasih…”, ucapnya di sela-sela isak tangis pilunya sendiri. Begitu ia menatap mereka, ia mencoba tersenyum, walaupun air matanya terus menetes. Sekarang, ia nggak perlu merasa kesepian lagi.

 

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments