๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
She Knows
Malam hampir berlalu di bawah cahaya kembang api yang dipacu seperti roket menuju angkasa. Dalam hidupku, bunga api raksasa itu adalah hal terindah yang pernah aku lihat. Hingga mataku terpaku di sana hingga letusan terakhir. Aku masih terdiam menatapi langit yang hitam lalu menarik nafas. Aku memang punya kenangan tentang kembang api, banyak sekali sehingga terkadang aku memaksa diriku untuk tidak melihatnya karena bersamaan dengan suaranya yang keras, kenangan itu kembali padaku.
Aku tertawa satu kali. Seingatku aku hanya melihat kembang api paling meriah pada saat pergantian tahun.
Well, sepertinya aku kembali teringat, pikirku tertawa sekali lagi memandangi segelas anggur putih yang hampir membuatku mabuk. Aku kembali memandang halaman depan dari balkoni rumah mewah yang membuatku amat terasing. Di sana –di bawah kakiku yang mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah, orang-orang masih menari. Aku meneguk anggur putih itu lagi. Menunggu giliran Gemma akan memberitahuku kapan akan beraksi.
Wendy si pirang berteriak penuh semangat dengan suaranya yang hampir serak karena sudah satu jam dia berada di sana melawan kerasnya musik yang membuat semua orang menggila. Dia melirik ke arahku sambil melambaikan tangannya untuk mengajakku turun menari bersama orang-orang yang tak pernah kukenal .
Aku hanya punya satu alasan, Errence Lee. Dan seharusnya aku tidak datang ke sini. Karena ini bukan pesta tahun baru, maksudku... pesta ini adalah pesta ulang tahun –pesta ulang tahun Errence.
Gemma akhirnya muncul juga, dengan dress mini hitam dan high heels warna senada ia kelihatan lebih cantik daripada pengisi acara –aku.
"Sedang apa kau di sini?", dia menggamitku lalu membawaku masuk ke pesta, "Ini giliranmu, Faia!"
Aku tidak siap. Ini membuatku sangat malu, pikirku sambil mengangkat gaunku sedikit karena terlalu panjang dan aku tidak betah di dalamnya! Ya ampun! Aku mulai panik karena langkah Gemma yang cepat mulai menarikku melewati orang-orang dan naik ke panggung.
Microphone sudah berdiri tegak di hadapanku saat Gemma memberi isyarat. Giliranku telah tiba.
Aku menelan ludah. Menatapi orang-orang di bawahku yang menungguku menyanyi. Suasana agak hening ketika aku malah bingung di atas sini. Seolah aku seorang penyanyi dadakan yang dipaksa naik dan harus memikirkan sebuah judul lagu yang menghibur. Mereka pasti tidak tahu bahwa aku datang ke sini bukan untuk berpesta, tapi bekerja. Berharap pencari bakat menemukan bahwa aku layak untuk sebuah rekaman. Tapi di atas panggung ini ternyata semua itu masih jauh.
Sudah lama aku tidak merasa begitu canggung di hadapan orang. Aku lupa bagaimana rasanya mengalami demam panggung. Dan malam ini, aku seolah kembali jadi gadis pemalu dan bodoh itu lagi. Ketika aku melihatnya.
Ya aku melihat Errence di satu sudut tengah memandang kemari. Menunggu sama seperti yang lain. Dan hening mengalihkan semua perhatian padaku. Syukurlah itu segera berlalu saat Pan memainkan pianonya dan sebuah lagu tempo lambat mulai terdengar agar semua bisa berdansa dengan santai. Intro musik memberitahuku bahwa aku harus menyanyikan Broken Vow.
Tell me her name I want to know, The way she looks and where you go, I need to see her face, I need to understand, Why you and I comes to an end...?
Saat ini aku berharap, dia tidak akan mengenaliku. Karena gaun merah dengan belahan dada rendah ini menjadikanku berbeda dari saat kupikir dia mencintai aku yang naif. Inilah bagian dari diriku yang tak pernah bisa ia rampas dariku. Dan aku berusaha mempertahankan semua ini untuk bisa melupakan semua yang dulu dia lakukan padaku.
***
Musim panas terakhir di SMA, aku berusia delapan belas tahun. Namaku Kei Ferland. Dan aku hanya gadis biasa. Tidak seperti teman-teman sekelasku yang lain yang berusaha mewujudkan semua itu dengan cara apapun, aku lebih memilih melakukan apa yang bisa kulakukan. Bergabung di kegiatan sosial dan seni, ikut kompetisi debat mewakili sekolah, lalu memenangkan beberapa penghargaan. Itu sebelum aku mengenal Errence Lee –semua terasa begitu biasa dan terkendali.
Saat pemilihan Student Committee yang selalu diadakan tiap tahun, Errence adalah salah satu kandidat yang menurut sebagian besar orang akan menang melawan Correy Hawkins –si aneh berkaca mata yang sama sekali tidak keren. Sejujurnya, aku lebih memilih Correy karena kemampuan dan wawasannya yang luas –tentunya dari Errence yang hanya bermodalkan tubuh tinggi atletis, wajah rupawan, senyum menawan dan ayah yang kaya raya. Tapi, Errence tidak tahu itu, saat tim sukses Errence memintaku untuk membuatkan sebuah naskah pidato untuk kampanye.
Sayangnya, dia tidak melirik naskah yang sudah aku siapkan saat berpidato. Ia melipat kertas itu, dan menaruhnya di meja. Tanpa pernah membukanya.
“Aku tidak akan menghabiskan lima belas menit ke depan hanya untuk menjelaskan apa yang akan aku lakukan jika nanti aku terpilih karena kupikir kalian akan segera meninggalkan hall ini. Tadi kalian sudah mendengarnya dari Hawkins dan sepertinya itu membuat kalian menguap”, katanya dan aku sedang berdiri di samping panggung, “Kalian bisa bayangkan betapa membosankan itu”, sambungnya lalu cekikikan, melirik Correy di barisan kursi paling depan –yang jelas merasa tersinggung.
Tapi, tunggu, beberapa orang guru tampak tidak suka dengan kalimatnya yang terakhir. Mereka mengernyit dan saling tatap!
“Well, tenang saja, kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan nanti”, sambungnya dengan santai melenggang ke depan panggung, dan berseru dengan semangat “Lupakan tentang program-program yang kedengarannya aneh itu. Kalian tahu pasti alasan kalian memilihku untuk menang. Karena aku cerdas, tampan dan punya ayah yang keren!”
Memang kami semua harus mengakui bahwa Mr. Lee –ayah Errence adalah seorang CEO perusahaan e-commerce yang saat ini juga berkampanye menjadi senator. Dia memang keren, karena punya program-program menjanjikan –entah itu benar atau hanya sekedar pencitraan. Dengan percaya diri ia ‘menjual’ dirinya dengan kata-kata yang menurutku arogan.
Tapi, bagiku itu tidak terlalu penting sekarang.
Masalahnya, setelah pidato itu, jangankan menang, Errence malah mendapatkan kecaman. Dia jelas-jelas menghina Correy –padahal program ‘Remove Dividing Line’ miliknya banyak diacungi jempol terutama oleh anak-anak minoritas dan korban bullying kelompok mayoritas –termasuk Errence sendiri. Correy ingin membuat anak-anak itu bicara tanpa rasa takut agar semua mengerti dan dan menyadari, pentingnya sebuah kata maaf dan instrospeksi.
Errence mengembalikan kutipan naskah pidato yang terlipat itu kepadaku setelah pengumuman kemenangan Correy.
“Ini bukan karena pidatonya”, kata dia lesu.
“Jadi…”, aku menerima naskah pidato itu dan membiarkannya tetap terlipat. Aku berani bertaruh bahwa Errence tidak pernah membacanya.
“Omong kosong”, cetusnya, tertawa sinis, “Membuat pengakuan tentang pengalaman buruk dan perlakuan tidak menyenangkan di depan teman sekelas? Apa itu menyenangkan untuk didengarkan?”
“Kenapa tidak?”, balasku santai, “Mungkin kita bisa bersenang-senang dengan itu, seperti dalam pidatomu. Aku pernah melihatnya di Oprah”
Dia menatapku penuh curiga, “Kau membuat pidato untukku tapi kau…memberikan suara untuk Hawkins?”, dia sedikit kesal.
Aku diam.
Terdengar suaranya menarik nafas, “Sudahlah”, katanya tiba-tiba, “Itu sudah tidak penting lagi. Kita akan lihat seberapa konyolnya Remove Dividing Line itu”
Aku membiarkannya pergi. Setelah dua tahun sekolah di gedung yang sama, itu pertama kalinya aku bicara dengan Lee. Aku menyaksikannya pergi dengan langkah pelan dan kelihatan lelah. Mungkin, ini adalah pukulan baginya dan Errence jelas-jelas sangat shock dan aku sedikit merasa bersalah.
“Kei!”, Correy memanggilku dan mengajakku bergabung dengan kelompoknya.
Mereka tampak menunggu pidato kemenangan Correy yang terlihat sumringah. Seminggu yang lalu, Errence berdiri di sana dengan gagah tapi siapa sangka pemenangnya adalah gadis kutu buku itu.
“Terima kasih atas dukungannya”, ucap dia, berusaha untuk menenangkan riuh tepuk tangan, “Tapi…kalian tahu bahwa sebenarnya aku tidak bekerja sendiri untuk menyusun program ini. Dan…aku berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk Kei Ferland yang sudah memberiku ide ini”
Sekarang semua mata melihat ke arahku dan seketika aku berkeringat dingin. Bagiku mungkin sudah biasa mendengar namaku disebut-sebut sebagai orang paling kreatif –toh aku juga tidak akan mendapatkan piala-piala itu jika aku tidak termasuk sebagai siswa berpengaruh. Tapi, andai saja aku tidak menulis pidato untuk Errence tentu ucapan terima kasih Correy tidak akan menjadi beban.
Sekarang, dia di sudut yang lain bersama kelompoknya tengah memandang ke arahku dan sepertinya masih kesal. Aku dalam masalah!
๐ Pages
- ...

Komentar
0 comments