๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Part 2 - Errence
Aku tidak tahu entah berapa lama waktu bergulir sejak kembang api terakhir lalu pestanya usai. Setelah semalam rumah ini begitu ramai oleh orang-orang yang datang untuk bersenang-senang. Tanpa jejak mereka pergi, kembali meninggalkanku sendiri.
“Selamat pagi, Tn. Lee”, sapa Simon, kepala rumah tangga yang sedang mengawasi pelayan membereskan ruang tamu selagi aku menemukan halaman samping rumah sudah kembali seperti semula.
Lalu, tiba-tiba Ingrid datang dengan setelan kantor lengkap. Ia langsung menghampiriku, “Kau kelihatan kacau, Errence”, sapanya, tersenyum, “Apa pestamu tidak berjalan sesuai rencana?”
Aku berbalik dan tidak menjawabnya sambil melangkah menuju ke kantorku. Sepertinya aku juga tidak harus menjelaskan banyak, karena dari rautku dia sudah bisa menebak bahwa pesta semalam hanya satu perayaan pesakitan lainnya selama sembilan tahun berturut-turut. Saat aku duduk di kursiku dengan lelah, Ingrid benar-benar yakin bahwa semalam benar-benar buruk bagiku.
“Semuanya akan baik-baik saja”, ujarnya, tersenyum.
Aku mencoba untuk ikut tersenyum, walau aku juga tidak yakin. Dengan perlahan aku menceritakan akhir yang selama ini aku tunggu dengan semua rencana yang berhasil kuwujudkan namun gagal.
“Menyerahlah, Errence”, kata Ingrid, “Seorang wanita tidak akan menarik kata-katanya jika dia sudah menemukan kebahagiaan lain”
Aku diam. Aku harus mengakui bahwa kebodohanku adalah satu-satunya alasan kenapa semuanya terasa konyol sekarang. Aku selalu memikirkan gadis yang sama selama sembilan tahun ini tanpa melakukan sesuatu untuk kembali mendapatkannya.
Begitu Ingrid meninggalkan rumahku tanpa ide-ide lagi, aku kembali memikirkannya. Aku tidak tahu apa yang membuatku melakukan semua ini demi Kei Ferland. Entah karena aku memang masih sangat mencintainya dan terlalu terlambat menyadarinya atau… karena aku tidak pernah menemukan orang yang benar-benar mencintaiku seperti dia –sembilan tahun yang lalu.
---
Aku tidak pernah mengenalnya –maksudku, aku memang sering melihatnya sebagai seorang gadis dengan rok selutut dan sweater lengan panjang juga rambut ikal panjang kecoklatan dan berponi rata. Di sekolah, aku hanya bisa mengenali anak-anak kutu buku atau yang paling terkenal sedangkan anak-anak yang berada di antara dua jenis itu seperti sesuatu yang transparan –ada tapi menyatu dengan pemandangan yang sama setiap hari. Saat Paige menciumku di depan semua orang dan Kei pernah melihatnya, ia langsung balik kanan.
Aku tahu dia teman sekelasku –paling tidak dia siswi pintar tapi entah mengapa pujian orang-orang padanya tidak menjadikannya lebih berani. Dan…aku selalu berpapasan dengan gadis ini setiap hari di lorong. Aku melihat ke arahnya beberapa saat, ia berlalu bersama dengan temannya dengan senyum yang membuatku menoleh ke belakang sejenak sebelum Paige menyita semua perhatianku untuk mengomentari apa yang dia pakai.
Aku tidak terlalu suka berkomentar tentang apapun yang dikenakan pacarku karena aku lebih suka melihatnya tanpa itu semua –artinya aku lebih menikmati saat-saat aku melepasnya satu persatu. Begitu kenikmatan itu berakhir, aku hanya menarik nafas lelah. Begitulah hari-hari yang kujalani sebagai seorang Lee. Orang menyebutnya istimewa tapi bagiku ini seperti kutukan.
Sekolah dan rumah adalah dua tempat yang bertolak belakang seperti putih dan hitam. Dan di rumah seluas itu, aku tinggal sendirian –walaupun masih ada pengurus rumah tangga. Mereka tidak bisa mengisi kekosongan di sini. Aku pernah mencoba mengisinya dengan pesta pora yang meriah hampir setiap akhir minggu dan Dad hampir tidak pernah marah ketika dia pulang rumah kami terlihat seperti kapal pecah. Selama aku menikmati hariku tanpa perlu memintanya menemaniku saat liburan dengan memancing atau pergi ke pusat kebugaran bersama. Ya, itulah ayahku –dia memberiku semua yang dia pikir kubutuhkan hanya agar tidak perlu berurusan denganku.
Dan kau tidak perlu bertanya tentang ibuku. Aku dan ayahku hanya punya foto dan lukisan yang terpampang di beberapa bagian dinding rumah sebagai kenangan. Aku masih sangat kecil saat dia meninggal dan aku tidak pernah mengenalnya –aku tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai seorang ibu.
Hari ini, di usiaku yang sudah tidak remaja lagi, suasana rumah tidak pernah berubah. Hanya aku saja yang mulai sibuk di luar dan aku mulai paham mengapa ayahku tidak pernah punya waktu hanya untuk makan malam bersama. Aku mengerti sekarang tapi aku masih enggan untuk mengakui pada ayahku bahwa aku merasa bersalah karena berpikir dia tidak ingin berurusan denganku.
Dari musim panas ke musin panas tahun berikutnya tidak ada yang berubah. Masa liburan yang telah berlalu tidak pernah menyimpan kesan yang berarti. Rasanya aku telah menyia-nyiakan masa mudaku hanya untuk hal-hal pada akhirnya yang membuatku menyesal. Penyesalan itu salah satunya adalah Kei.
***
Nice story...
Dan pesan yg aku dpat (Cinta tak harus memiliki) ;( ;-(
Thanks udah baca