๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Tumben jam segini kamu udah di rumah?”, seorang wanita masuk tanpa suara, hingga Getta nggak sadar kalau dia ketahuan melongo sambil memandangi dinding yang dari kemarin-kemarin nggak pernah berubah. “Kamu nggak jalan sama pacar?”
Getta bangkit sambil merengut malu, “Pacar?”, gerutunya, “Aku nggak punya pacar, Ma…”
Wanita itu tertawa kecil, “Masa secakep ini nggak punya pacar?”, godanya sambil duduk di samping Getta –di ranjangnya yang berantakan sama tas dan buku-buku pelajaran.
“Aku memang nggak punya pacar kok. Aku nggak suka pacaran”, dia menegaskan dengan raut jengkel.
“Iya deh, iya…”, kata Mama masih saja tertawa.
“Mama habis dari mana?”, tanya Getta padanya.
“Mama habis jemput Cindy ke sekolah”, jawab Mama.
Getta Cuma ngangguk-ngangguk. Emang sih Mama-nya sayang banget sama Cindy –adik tirinya Getta. Bahkan Getta sempat iri-irian gitu sama anak umur tujuh tahun itu. Tapi, itu waktu dia masih tinggal sama Papa-nya dan Getta jadi nggak dekat sama sang Mama karena omongan Papa-nya.
“Gimana? Kamu senang nggak sekolah di tempat yang sekarang?”
“Yah, sebenarnya sama aja sih. Tapi, kelakuan anak-anak di sini jauh lebih aneh dan norak…”, jawabnya.
“Maaf ya, Mama nggak bisa sekolahin kamu di tempat yang bagus…”, kata Mama tiba-tiba jadi sedih.
“Udah, Ma…”, ujar Getta tiba-tiba jadi ikut sedih, “Aku senang sekolah di sana kok”
“Terus gimana dengan sekolah pilotnya? Kamu udah putusin buat daftar?”, tanya Mama, masih dengan raut sedih.
Pertanyaan itu bikin Getta jadi sedih. Ternyata Mama masih ingat kalau cita-citanya adalah menjadi pilot dan melalangbuana di langit dengan burung besi. Awalnya, dulu Getta nggak pernah memikirkannya. Toh, semua sudah ada dalam rencana Papa-nya yang kaya. Nggak perlu mikirin soal uang dan biaya sekolah –apa yang dia mau selalu ada. Kecuali, sebuah keluarga yang utuh dan kasih sayang –sejak umur delapan tahun semua itu hilang entah ke mana.
Ada banyak hal yang nggak ingin Getta ingat soal kehidupannya sebelum pindah ke sini –rumah Mama-nya yang sederhana dan letaknya di kampung pula; banyak preman dan tukang palaknya juga perempuan-perempuan dari lokalisasi yang nggak jauh dari sini. Pokoknya tempat yang serba terbalik deh dengan rumahnya yang dulu –yang ada di perumahan elit lengkap dengan mobil mewahnya.
“Nanti deh, pasti ada jalannya”, ujar Mama lalu berdiri sambil tersenyum, “Yang penting kamu belajarnya nggak malas dan bisa dapat beasiswa”
Getta mengangguk lagi, meski nggak yakin. Dulu semuanya terasa mudah, tapi sekarang, dia bahkan nggak tahu harus ke mana setelah ini. Seolah masa depan di mana impiannya menunggu –sekarang sudah nggak ada apa-apa lagi di sana. Selain dirinya sendiri tanpa pijakan yang kokoh. Tersesat di suatu tempat yang tinggi sekali –jika nekat turun, pasti mati.
Mama menghilang di balik pintu yang sekarang tertutup. Getta kembali berbaring, menatap langit-langit kosong yang warna putihnya memudar oleh rembesan air hujan yang kadang menetes dan meninggalkan bekas kecoklatan. Tapi, seberapa pun jeleknya rumah ini, di tempat mana pun selain di sini, ia nggak akan pernah menemukan tempat yang benar-benar bisa disebut rumah.
Sekalipun, setiap pagi mau berangkat sekolah dengan jalan kaki, ia harus ketemu sama tukang palak yang merampas uang jajannya. Tapi, begitu ketemu Mama yang selalu tersenyum dan menunggu dengan makan siang yang sederhana, ia merelakan apa yang diambil oleh preman-preman itu.
Tapi, kali ini, pagi ini, preman itu membuatnya habis kesabaran.
“Nggak ada duit lagi, Bang”, Getta berkata pada seorang pria dengan luka gores di bawah mata kanannya.
Orang itu terlihat menakutkan. Kulitnya hitam. Kedua tangannya yang besar berbulu mirip siamang. Wajahnya punya banyak bekas jerawat yang bikin tampangnya jadi lebih menyeramkan lagi. Dengan jaket kulit lusuh yang sobek, ia belagak seperti penguasa kampung.
“Masa sih lo nggak ada duit?”, tatapannya sinis.
Getta berusaha untuk nggak merinding. Ini bukan pertama kalinya dia dihadang di tengah jalan sama preman yang biasa mangkal di ujung jalan, di tambah dengan beberapa centeng pasar yang ikut-ikutan malak. “Beneran nggak ada, Bang”, kata dia, mendengus.
Preman bermuka garang itu masih menatapnya tajam. Dengan senringai nyeremin, ia melirik kedua centengnya yang kurus dan sama joroknya itu. “Kalian habisin tuh bocah”, kata dia, mundur beberapa langkah sementara pengikutnya dengan langkah cepat menyergap Getta yang nggak punya kesempatan untuk melarikan diri.
---
“Kemarin bolos, sekarang beneran nggak masuk…”, Yuna terdengar menghela nafas dari kursinya, saat istirahat siang.
“Nggak tahu nih…”, Jonas juga mengeluh, sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja lalu melirik Lara yang lagi melamun di belakangnya.
Cewek itu selalu berwajah dingin. Dia jarang kelihatan senyum apalagi ketawa –kalaupun senyum pasti kelihatan sinis dan nyebelin. Bicara juga jarang selain dari cacian ditambah dengan jari tengahnya. Setiap hari, saat menunggu guru mereka masuk ke kelas dia cuma memandang keluar jendela dengan tangan di dagu, memeluk dirinya sendiri seolah kedinginan. Dia nggak tertarik sama hal-hal di sekitarnya selain dari pemandangan membosankan di luar. Barangkali cuma badannya saja yang berada di kelas ini, tapi jiwanya entah terbang ke mana. Mungkin ke suatu tempat yang lain yang nggak sesak seperti di sini…
“Lara”, tegur Jonas.
“Apa sih?”, sahut Lara dengan muka jutek itu lagi.
“Lo kenapa sih, judes mulu?’, tanya Jonas.
“Suka-suka gue dong”, cetusnya.
“Lho kok gitu sih?”, Jonas menghela nafas.
“Kalau misalnya gue suruh lo berhenti bikin gue gerah, lo bisa nggak?”, balasnya.
“Iih, Lara, nggak boleh gitu…”, kata Yuna padanya sambil mengibas-ngibaskan ujung jarinya, “Nggak boleh terus-terusan galak… kasian…”
“Udah deh lo, diam!”, celetuk Lara sekarang beneran tambah gusar.
Yuna cemberut. Bibirnya mengecil seperti burung Tweety, “Kalau lo begitu terus nanti nggak bakal ada yang suka”, katanya, pelan, “Yang ada malah nggak bakal ada lagi yang mau ngomong sama lo.”
Lara membalas tatapannya tajam, seakan ia ingin membungkam mulut Yuna sama tangannya. Tapi, cewek ini cuma cerewet nggak ketulungan, sok manis dan perhatian.
“Sok tau!”, celetuk Lara lagi, sebelum semuanya hanya bisa memandangi dia prihatin.
Termasuk Molly.
Tapi, dia masih kepikiran akan sesuatu yang lain di otaknya. Dari tadi memandangi kursi Getta yang kosong, ke mana dia?
---
“Brengsek!!”, Getta menendang dinding yang seolah bisa ia runtuhkan, padahal itu hanya memantulkan rasa sakit dari tubuhnya yang lelah. Ia berusaha menepis bayangan saat preman-preman itu memukulinya, tapi kejadian itu muncul berulang-ulang di kepalanya.
Mengesalkan memang, ia sama sekali nggak bisa melawan. Selain karena preman itu tubuhnya lebih besar darinya, ia jauh kalah kuat. Seandainya ia sedikit bisa berkelahi, tentunya ia nggak akan berakhir seperti pengecut begini. Itu membuatnya marah pada diri sendiri. Kebingungan dan sakit hati cuma bisa melampiaskannya pada dinding tangga darurat.
Tentu saja, dengan keadaan begini ia nggak bisa masuk kelas. Apa yang bakal dikatakan teman-temannya dan yang lebih parah, guru-guru pasti menuduhnya berkelahi.
“Getta, kamu ngapain?”, suara kecil itu pelan, tapi tetap mengagetkan Getta yang sekarang kelihatan begok –mengamuk ke dinding.
Wajahnya yang tadi kesal sekarang berubah kaget.
Seorang cewek, berambut lurus sebahu dan lurus. Rok abu-abunya selutut dan bajunya agak sedikit kebesaran dari tubuhnya yang kurus –dia kelihatan beda anak-anak cewek di sini yang seragamnya mengepas badan. Dari SMP juga sudah begitu, Molly.
Dari mana Molly tahu kalau dia di sini?
“Kamu kenapa?”, tanya Molly yang menghampirinya ragu-ragu, karena melihat seragam putih Getta kotor sekali. Seketika ekspresinya menjadi cemas, matanya membelalak memandangi Getta yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang berantakan.
Getta terluka. Sudut bibirnya berdarah. Pelipisnya membiru dan memar. Seragamnya dikotori oleh tanah basah.
“Kamu berantem sama siapa…”, tanya dia, bibirnnya kelihatan gemetaran.
Getta menjauh beberapa langkah darinya, masih berusaha menyembunyikan bahwa sebagai seorang cowok ia kelihatan lemah. Di depan Molly lagi… tapi, cewek itu sudah terlanjur melihatnya dan entah bagaimana dia bisa tahu kalau Getta ada di sini.
“Aku nggak berantem…”, kata Getta, belum mau memperlihatkan wajahnya –karena akan ketahuan kalau dia lumayan babak belur. Memalukan.
Molly menghela nafas, tertunduk, dan bingung. Melihat Getta sengaja menghindar darinya.
“Dari mana kamu tahu kalau aku di sini?”, tanya Getta akhirnya, sedikit salah tingkah melihat Molly jadi murung tapi cewek itu nggak mengatakan sesuatu lagi.
“Jonas bilang kalau bolos kamu pasti di sini”, jawab Molly mengangkat kepalanya sedikit, ragu-ragu, ia tertunduk lagi, menghindari tatapan mata Getta yang ingin tahu, “Dia nyuruh aku ke sini…”
Getta lumayan terkejut. Nggak habis pikir, kadang-kadang si Jonas itu suka nggak mikir kalau mau melakukan sesuatu. Memang yang dia lakukan nggak salah, tapi nggak keren kalau Molly malah menemukannya dalam keadaan begini.
“Sakit ya…?”, tanya Molly, dengan ekspresi sedihnya seakan dapat merasakan gimana sakitnya Getta dan sekujur tubuhnya yang dipukuli tiga orang tadi.
Getta menggeleng, “Enggak…”, jawabnya, “Biasa… aku kan cowok…”
Molly terdengar menghembuskan nafas, menatap Getta sejenak, sebelum ia mundur tiba-tiba, “Kamu tunggu di sini ya…”, katanya berpesan, lalu mulai berlari, dan sempat menoleh, “Jangan ke mana-mana”
---
“Aduh…duh…duh…”, Getta memekik, menarik tubuhnya menjauh, menghindarkan wajahnya dari tangan Molly yang baru menempelkan plester antiseptik pada luka di pelipisnya, “Sakit…”
Molly menghembuskan nafas lagi, “Udah nggak apa-apa kan?”, tanya dia terlihat lega.
“Udah”, jawab Getta, memperbaiki duduknya, dan setiap ia menggerakannya rasa sakit membuatnya meringis lagi, dan ia memang nggak bisa menyembunyikannya lagi dari Molly yang sekarang diam.
Molly selalu tertunduk di saat harusnya ia mengatakan sesuatu agar nggak kikuk begini. Apalagi juga jarang mereka bisa bertemu berdua saja –karena Richard selalu menyita waktu Molly bahkan sampai ngantar pulang segala. Getta jadi serba salah.
“Kelasnya udah mulai, kamu nggak apa-apa jadi ikutan bolos…?”, tanya Getta padanya.
Itu dia!, Molly tertunduk lemas dan tiba-tiba jadi takut, “Kelasnya Bu Sandra sih…”, katanya, “Telat pasti dimarahin”
“Kalau nggak masuk bisa dihukum”, Getta mengingatkan, “Waktu aku bolos, dikasih banyak PR…”
Molly malah cekikikan, “Kamu kan pintar, walaupun dikasih banyak PR, itu bukan hukuman…”, katanya.
“Itu enaknya di sini…”, Getta menyandarkan seluruh tubuhnya ke dinding, sebelah kakinya di anak tangga dan ia kelihatan sedikit senang, “Nggak perlu mati-matian belajar…”
Molly diam lagi.
Getta mulai menerawang, “Di sekolah lama terlalu banyak persaingan. Teman tapi tetap saingan. Kadang-kadang saling ngejauhin, pernah dicurangin sampai-sampai diperlakukan nggak adil sama guru”, katanya, mengenang masa-masa yang dulu ia anggap sesuatu yang ia impikan sebelum masuk SMA –sekolah favorit dan kebanggaan saat bisa menjadi bagian darinya. Ternyata semua itu nggak terlalu hebat setelah dijalani, “Di sini, semua itu nggak ada…”
“Di sini sama kayak TK, tempat main-main…”, sambung Molly, “Nggak semua yang benar-benar belajar seolah mereka itu nggak punya cita-cita…”
“Cita-cita itu cuma cita-cita”, Getta menoleh padanya dengan senyum hampa.
“Kamu nggak punya cita-cita?”, tanya Molly, jadi ingin tahu, selagi di sini hanya ada mereka.
“Dari kecil aku mau jadi pilot”, jawabnya tiba-tiba sumringah, “Terbang. Keliling dunia naik pesawat…”
Molly jadi heran, “Tapi… kalau kamu mau jadi pilot kenapa kamu malah pindah ke sini?”, tanya dia.
Getta tersenyum lagi, “Yah itu sih cuma cita-cita”, katanya, hampa.
“Terus sekarang?”, Molly makin penasaran.
“Kamu sendiri?”, Getta malah balas bertanya.
Molly jadi gugup. Cita-cita? Cita-cita, sesuatu yang belum pernah ia pikirkan. Terlebih sejak merasa bahwa dirinya mempunyai keterbatasan yang nggak banyak diketahui orang-orang. Cita-cita adalah sesuatu yang hanya bisa dimimpikan dari jauh. Dan bahkan Molly sendiri nggak tahu apa yang ia inginkan di kemudian hari. Soalnya, ia hanya terbiasa untuk berusaha menjalani hari ini dan hari esok agar nggak menyusahkan orang lain.
“Kamu berencana kuliah di jurusan apa?”, tanya Getta lagi, “Seni rupa?”
“Menggambar itu cuma hobi. Habisnya…selain itu aku nggak bisa ngapa-ngapain…”, akunya, sedikit malu, “Aku… aku sering baca kebalik-balik, ngomong nggak jelas, dan tulisanku jelek…nilai ujian aku juga payah…”
Getta mengangguk-angguk mengerti, “Ternyata hidup masing-masing orang itu… rumit ya?”
Molly mengangkat kepalanya, menatap Getta selagi cowok itu nggak memandang ke wajahnya. Karena hanya saat itu ia bisa tersenyum dan memperhatikan kalau Getta makin kelihatan dewasa. Tapi, sayangnya dia nggak seriang yang dulu. Molly jarang bisa melihatnya tersenyum.
Tapi, siang itu, kayaknya Getta jadi banyak tersenyum. Walaupun bukan senyum yang bahagia, tapi Molly hanya nggak menyangka kalau mereka bisa ketemu lagi. Sayangnya, kalau mengingat-ingat masa SMP mereka yang menyenangkan, Chika juga akan kembali dalam pikirannya dan seketika Molly jadi berkecil hati.
“Chika pasti sedih karena kamu pindah ke sini”, kata Molly tiba-tiba padanya.
Getta terhenyak, menatap Molly, ia sedikit syok, kenapa tiba-tiba ngomongin Chika? Suasananya mendadak jadi nggak enak. Awalnya, Getta hanya tersenyum, “Yah…”, akunya. Tapi, jadi ingin menanyakan sesuatu yang tiba-tiba kepikiran, “Kenapa sih kalian tiba-tiba nggak temenan lagi?”
Wow, pertanyaan yang sepertinya agak sulit buat Molly. Karena dia sendiri nggak mengerti kenapa sikap Chika tiba-tiba berubah. Chika cuma pernah mengeluh karena Molly yang menurutnya merepotkan –jauh sebelum Molly tahu kalau dia disleksia. Tapi, karena di depannya ada Getta, memori lain waktu mereka masih SMP juga muncul di kepalanya.
Chika juga suka sama Getta dan ia memutuskan mundur karena nggak ingin kehilangan Chika. Tapi, akhirnya Chika malah meninggalkannya. Dan satu lagi, saat kelulusan bukannya Chika pernah mengakui perasaannya pada Getta dan dia terima.
Artinya…
Molly beringsut mundur, sedikit demi sedikit. Bikin Getta jadi heran. Dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah murung, sekarang Molly juga kelihatan nggak nyaman sama topik percakapan mereka.
“Ada apa sih?’, Getta menanyainya, menyadari gelagat Molly yang aneh.
Cewek itu ingin pergi.
“Aku tau kalau Chika bohong sama aku, karena… satu alasan yang sama sekali aku nggak ngerti…”, kata Getta, sebelum Molly benar-benar ingin mennghindar –seperti yang biasa Molly lakukan jika ia nggak ingin jujur atau takut akan sesuatu.
Sikap Molly memang gampang ditebak. Setiap membicarakan Chika dia memang sering merasa terganggu.
“Aku udah dengar apa alasan dari Chika dan sekarang aku juga mau dengar dari kamu…”, kata Getta meyakinkan Molly yang mulai terang-terangan ingin menghindar.
Molly nggak lagi mau menatap Getta langsung ke wajahnya.
Getta sedikit gelisah, menatap Molly sungguh-sungguh ketika ada kesempatan, daripada itu mengganggunya kadang-kadang, ia harus memastikannya sekarang. Jadi, tiba-tiba saja tangannya meraih tangan Molly sampai cewek itu terkejut setengah mati. “Aku tau itu nggak ada hubungannya sama aku tapi…ada sesuatu yang nggak beres kan?”
Molly menggeleng-geleng, “Aku nggak tahu, Get…”, ia gemetaran, menarik tangannya dari genggaman Getta. Sesaat kemudian ia merasa takut dan panas, sudah pasti detak jantungnya menendang-nendang nggak karuan. Sekilas dalam pandangannya, wajah Getta yang sedikit babak belur itu terlihat serius dan penasaran.
Getta nggak puas dengan sikapnya itu, kepalanya jadi sakit mengingat-ingat semua yang pernah ia lupakan. Tapi, mendadak semua itu kembali seperti arwah gentayangan yang ingin menuntut balas. “Kenapa kamu nggak datang waktu itu?”, tanyanya, tanpa melepaskan tangan Molly dan bahkan genggamannya makin kuat karena Molly mulai keringatan dan tangan kurusnya jadi licin. “Aku nungguin kamu sampai tiga jam di sana tapi kamu nggak pernah datang…”
“Datang… kemana?”, Molly bingung, menatap Getta dengan kosong. Sungguh, sekali pun ia mudah lupa tapi seingatnya ia nggak pernah tahu Getta menunggunya di suatu tempat.
“Cafรฉ es krim serba pink…”, kata Getta. “Aku nungguin kamu di sana…”
“Kamu ngomong apa, Get? Aku sama sekali nggak ngerti…”, Molly meringis, makin bingung dengan pertanyaan Getta.
“Jangan pura-pura, Molly…”, suara Getta mulai kedengaran getir, “Aku titip surat sama Chika supaya dia ngasih ke kamu”
“Surat apa, Get?”, Molly makin pusing, berusaha menarik tangannya, “Surat apa aku nggak ingat…lagipula… kapan?”
Getta kelihatan syok. Memandangi ekspresi Molly –di sana sama sekali nggak ada kebohongan yang dibuat-buat. Mana mungkin Molly nggak ingat, bukannya itu belum sampai setahun? Tapi, yang nggak beres di sini bukan ingatannya Molly. Tersadar sama kata-katanya Chika, yang bilang bahwa Molly sibuk sama teman-temannya jadi nggak bisa datang, ternyata itu nggak benar.
Sibuk sama teman-teman?
Yang benar aja, Molly bahkan masih jadi cewek kuper yang dikucilkan karena dia nggak cantik dan cupu. Lihat aja tampang bloon-nya waktu ditanya Getta, ternyata yang nggak beres itu bukan Molly, tapi Chika.
Cewek jahat…
“Lepasin, Getta…”, Molly terdengar memohon, lewat nada suaranya yang kesakitan.
Getta langsung melepaskannya, karena kepalanya tiba-tiba berdenyut. Nggak menyangka, ternyata Chika sekejam itu sama sahabatnya sendiri.
“Aku kirim surat lewat Chika, karena aku nggak tahu cara lain supaya bisa ngubungin kamu. Aku pikir setelah aku kasih nomor hp waktu itu kamu bakal nelpon aku, seenggaknya untuk bilang kamu baik-baik aja… tapi, kamu nggak pernah…”, Getta mulai kesal sendiri.
“Aku nggak pernah terima apa-apa dari Chika…”, kata Molly, setengah putus asa.
Getta diam.
Molly sudah berdiri. Masih dengan kepala tertunduk ia ingin mengatakan sesuatu, “Lagian…kenapa kamu kirim surat itu…”, katanya, terbata-bata, “Kamu sama Chika kan…pacaran…”
“Pacaran?”, Getta kaget bukan main, “Aku sama Chika nggak pernah pacaran!”
“Tapi, dia bilang waktu lulus SMP kamu nerima dia…”, kata Molly, semakin bingung, “Chika suka sama kamu, Get…”
Getta langsung berdiri, “Nggak pernah!”, katanya menegaskan, menghampiri Molly yang sedih sampai-sampai mau nangis rasanya karena syok, “Chika nggak pernah bilang apa-apa…”
Ternyata satu tetes air mata tiba-tiba langsung menetes, sehingga Molly nggak sanggup mengangkat kepalanya, nggak ingin Getta melihat air mata konyolnya.
“Soal Chika suka sama aku…aku tahu…tapi aku…”, Getta ikut sedih melihat Molly nggak sedikit pun mau mengangkat kepalanya. Meski pun nggak melihatnya, ia tahu kalau Molly pasti menangis. “Aku pikir kamu nggak mau ketemu aku lagi…”
Molly tersentak, menyadari Getta berdiri di depannya. Ia bisa merasakan kalau Getta sangat menyesal atas semua yang terjadi sama mereka gara-gara Chika. Soal surat yang nggak pernah diberikan Chika dan alasan Chika mengakhiri persahabatan mereka
“Aku…”, Getta ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi ia nggak tahu cara memulainya, karena Molly terdengar terisak. Soalnya, ini pertama kalinya mereka membicarakan tentang perasaan mereka sendiri, “Molly…”
Molly nggak bisa menahan rasa terisaknya yang seakan menyumbat paru-parunya, membuat dadanya sesak, seolah ada yang mencengkram jantungnya dengan kuat. Dan ungkapan kesedihan dan rasa sakit itu, hanya bisa dilihat menetes perlahan di wajahnya yang sedih.
“Jangan nangis…”, ujar Getta, semakin mendekat, lalu menyentuhkan jari-jarinya yang canggung pada pipi Molly yang basah. Ketika menatap mata sedihnya yang berkaca-kaca, Getta menyesali semua yang ia lakukan hanya untuk melupakan Molly yang ia pikir nggak bisa membalas perasaannya, “Jangan nangis lagi…”
Mereka hanya salah paham…
“Udah, jangan nangis lagi…”, ujar Getta lagi, dan kedua tangannya meraih tubuh Molly yang gemetaran untuk menarik cewek itu ke sisinya. Memeluknya untuk meredakan rasa sesak dan tercekik yang membuat Molly nggak bisa bernafas.
ooOoo
Komentar
0 comments