[Ch. 11] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Retak yang Menunggu Hancur

Molly melangkah dengan ceria dengan surat dalam genggamannya. Kata Cariss, selain harus dapat izin dari orang tua, ia juga harus mengantongi tanda tangan dari kepala sekolah. Tapi, sebelum itu yang pasti harus ketemu sama wali kelas dulu –Pak Heru. Ia sudah membayangkan hari-harinya yang padat menjelang festival yang akan diadakan tiga bulan lagi.

Pintu kantor Pak Heru terbuka sedikit waktu Molly sampai. Dari luar ia bisa mendengar kalau ada orang lain yang sedang bicara sama Pak Heru. Berniat menunggu, Molly berdiri di sana sebelum ia sadar kalau yang menemui Pak Heru adalah Bu Sandra. Mereka kedengaran ngomongin sesuatu yang serius.

“Ini masalah besar”, kata Bu Sandra, suaranya tinggi, “Sebenarnya masalah ini udah lama, tapi kenapa kamu seolah melindungi?”

“Sekolah nggak berhak memvonis siswa hanya dari latar belakang. Selama di sekolah siswa itu nggak bermasalah, apa salahnya?”, suara Pak Heru terdengar ketus.

Tawa Bu Sandra terdengar, “Nggak bermasalah?”, balasnya, “Dia tinggal kelas. Belum lama ini berkelahi sampai memukul anak lain. Kamu pikir itu bukan masalah?”

“Itu bukan masalah yang bisa dihubung-hubungkan dengan latar belakang keluarga”, kata Pak Heru, “Bagi remaja itu wajar. Berselisih, berkelahi, atau tinggal kelas. Itu mendefinisikan mereka. Kamu pasti lebih tahu itu karena rata-rata anak di sini memang bermasalah”

Entah siapa yang mereka maksud. Tapi, mengapa mereka harus berdebat?

“Ini sudah jadi berita santer belakangan, Heru. Kalau sampai didengar oleh wali murid, kamu bisa menjelaskannya sama mereka?”, kata Bu Sandra, “Kamu harus keluarin Lara dari sini. Dia bisa merusak anak-anak lain”

Molly tersentak. Apa ia nggak salah dengar? Lara?

“Apa buktinya?”, tantang Pak Heru.

“Bukti itu jelas bagi siapapun terkecuali kamu”, tandas Bu Sandra, “Karena ada semacam perasaan pribadi yang kamu libatkan di sini”

“Apa maksud kamu?”, suara Pak Heru terdengar terkejut.

“Ya, sepandai-pandainya mengubur bangkai di dalam tanah, baunya juga pasti akan tercium, Heru…”, kata Bu Sandra, suaranya terdengar seperti berdesis namun menusuk, “Sebelum posisi kamu juga terancam, ada baiknya kamu menyingkirkan anak itu sebelum ketahuan kalau kamu memacari dia…”

Nggak lama, Bu Sandra keluar dan menemukan Molly terpaku di depan pintu. Molly berusaha tersenyum menyapanya walaupun ia deg-degan. Tapi, Bu Sandra berlalu dengan angkuhnya melewati Molly –apa dia benar-benar seorang guru?

Molly berusaha menenangkan diri sebelum ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan masuk.

Pak Heru sedang duduk di kursinya. Terlihat lelah, ia cukup kaget melihat Molly sudah ada di depannya. Dan segera ia menyembunyikan kegelisahannya dengan tersenyum ramah.“Ada apa, Molly?”, tanya dia, lalu berdehem, menormalkan suaranya yang nyaris kedengaran gemetar.

Molly memperlihatkan surat itu. Ia berusaha terlihat tenang sekalipun mustahil karena yang didengarnya barusan terlalu mengejutkan. Ia nggak cukup bodoh untuk mengerti soal hubungan terlarang antara guru favoritnya dengan salah seorang teman sekelasnya. Lebih-lebih wajah Cariss muncul di benaknya sebagai perbandingan.

“Kamu mau ikut audisi musik?”, Pak Heru bertanya, lalu tersenyum. Kegelisahannya tampak sedikit berkurang.

Molly mengangguk, “Sebelum audisi saya harus latihan di tempat les. Tapi, tempat les minta persetujuan dari orang tua dan sekolah…”, jelasnya.

“Jadi orang tua kamu sudah mengizinkan?”, tanya dia melihat selembar surat pernyataan yang sudah ditandatangan oleh orang tua Molly di antara kertas-kertas itu.

Molly mengangguk.

Pak Heru mengamati lembaran-lembaran itu penuh perhatian. Lalu berhenti pada lembaran formulir yang di pojok kiri atasnya mempunyai logo bertuliskan Maretha Music. Ia cukup terkejut dan kembali menatap Molly, “Kamu mau les di sini?”, tanya dia.

“Iya, Pak”, jawab Molly, “Kemarin Kak Richard bawa aku ke sana dan dikenalin ke Kak Cariss”

“Oh”, Pak Heru tampak mengerti, dan tersenyum lagi. Ia mengambil pulpennya dan langsung membubuhkan tanda tangannya.

Molly semakin kelihatan senang. Ia tersenyum saat menerima surat-surat itu dikembalikan, “Makasih, Pak”, ucapnya sumringah.

Pak Heru hanya membalasnya dengan santai dan membiarkan Molly berdiri dari kursinya lalu pergi. Namun, masih ada satu hal yang sedikit mengganggunya, “Molly”, panggilnya tiba-tiba saat Molly baru menarik gagang pintunya.

“Ya, Pak?”, sahut Molly sambil menoleh dan membalikan badan.

Pak Heru terlihat bingung, “Apa kamu…dengar pembicaraan saya dan Bu Sandra barusan?”, tanya dia, harap-harap cemas.

Molly diam. Ia ikut terlihat cemas. Ekspresinya itu meyakinkan Pak Heru kalau Molly cukup lama di sana untuk mendengar semuanya. “Saya nggak akan bilang siapa-siapa kok, Pak…”, ujar Molly padanya.

Guru itu hanya memandangnya terpana. Ini pertama kalinya Molly melihat Pak Heru gelisah. Tapi, ia harus segera pergi karena jam istirahat siang hampir berakhir.

---

Lara terlihat dongkol di kursinya. Lagi-lagi ia memandang keluar jendela dengan kosong sambil bertopang dagu. Seolah nggak punya firasat kalau ‘bahaya’ mengintainya.Anak-anak tengah menunggu bel masuk dibunyikan dan pelajaran membosankan pun dimulai. Begitu Molly kembali dari ruangan Pak Heru dengan kebingungan yang berkelebat di otaknya, guru Biologi –Pak Sanadi langsung datang.

Getta terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi karena Pak Sanadi sudah berdiri di depan kelas ia bahkan nggak punya kesempatan cuma untuk menyapa ‘hai’. Ia membiarkan Molly melewatinya dan duduk di kursi belakang.

Pak Sanadi mulai menjelaskan tentang rumus golongan darah yang terlihat rumit di papan tulis. Suaranya keras dan lantang, matanya stereo ke kiri dan ke kanan sehingga nggak ada yang lolos dari pengamatannya. Jika ada anak yang ketahuan main-main, ia akan  menghukumnya dengan berdiri di luar kelas plus PR yang lebih banyak.

Tapi, di siang yang hujan itu, seseorang mengetuk pintu kelas. Mengganggu pelajaran sebentar, Bu Yanti guru BK memasuki ruangan kelas yang hening. “Maaf mengganggu sebentar, Pak Sanadi”, katanya dengan sopan, lalu memandang ke depan, menghadap murid-murid yang memperhatikannya dengan tanda tanya yang bermunculan di atas kepala mereka, “Mana Lara Sophia?”

Lara tampak tersentak. Semua mata kini memandang ke arahnya dengan bingung. Ragu-ragu, ia mengacungkan tangan dengan ekspresi syok.

“Kamu ikut saya ke ruang konseling”, kata Bu Yanti tegas.

“Ada apa ya, Bu?”, tanya Pak Sanadi, setengah berbisik.

“Ada masalah sedikit, Pak…”, jawab Bu Yanti pelan, sambil tetap memandangi Lara yang belum mau berdiri dari kursinya, “Ayo, Lara”

Lara memandangi sekitarnya, anak-anak itu tampak menunggunya berdiri untuk melepaskan rasa penasaran –kenapa ia sampai dipanggil guru BK? Dengan sangat nggak yakin, ia berdiri juga dan langkahnya pun gontai karena takut.

Bu Yanti keluar lebih dulu diikuti Lara yang kelihatan bingung. Begitu juga anak-anak lain yang ingin tahu. Mungkin begitu Lara keluar dari kelas dan Pak Sanadi melanjutkan pelajaran, banyak yang nggak bisa berkonsentrasi lagi.

Apalagi Molly. Pasti ini semua ada hubungannya sama pembicaraan Pak Heru dan Bu Sandra tadi. Kasihan Lara.

---

Tiang gantungan seolah berada di balik pintu ruangan konseling. Lara nggak menyangka di sana ia sudah ditunggu oleh Pak Kepala Sekolah, Bu Sandra, dan Pak Heru. Saat memasuki ruangan itu, ia seakan ingin meleleh karena ketakutan. Terlebih ekspresi Pak Heru mungkin nggak kelihatan jauh berbeda dari ekspresinya sekarang.

“Silakan duduk”, kata Pak Kepala Sekolah yang duduk dengan angkuhnya di meja yang biasa diduduki Bu Yanti saat menginterogasi anak-anak nakal.

Lara dengan ragu-ragu, menarik kursi di depan meja, memandangi satu-persatu ekspresi guru yang ada di sana. Seperti terdakwa yang akan dihukum mati, tangannya nggak bisa berhenti gemetaran. Hari yang ditakutkan itu datang juga.

“Sudah berapa lama kamu mengenal Pak Heru?”, pertanyaan pertama Pak Kepala Sekolah terdengar dingin dan wajahnya tanpa ekspresi seolah nggak punya perasaan.

Lara nggak langsung menjawab. Masih bingung, ia memandang wajah Pak Heru yang masih terlihat cemas. “Sejak sekolah di sini, Pak”, jawabnya berusaha tenang, menelan ludah.

“Dan selama itu apakah sudah terjadi hal yang seharusnya tidak terjadi, Lara?”, tanya Pak Kepala Sekolah.

“Maksud Bapak?”, Lara masih berusaha tenang. Terlihat diplomatis, ia memperhatikan senyum sinis di wajah Bu Sandra dan mulai berfirasat jelek. Pasti wanita ini, pikirnya dan menajamkan tatapannya ketika ia memandangnya.

“Apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan Pak Heru?”, tanya Bapak Kepala Sekolah memperjelas. Tatapan menyelidiknya terkesan begitu kejam dan mencurigai.

Lara langsung menggeleng, “Nggak, Pak”, jawabnya cepat tapi ia terlihat mulai gelisah.

“Benar?”, Pak Kepala Sekolah tampak nggak mempercayai jawabannya. Ia memutar kursinya ke samping, menghadap Pak Heru yang masih berdiri di tempatnya, “Bagaimana bisa Anda menjelaskan ini, Pak Heru?”

“Saya rasa ini hanya salah paham, Pak”, kata Pak Heru, suaranya terdengar tenang, walau ekspresinya masih kelihatan khawatir, “Saya memang sangat memperhatikan Lara, saya akui. Tapi, bukan seperti yang dimaksud oleh Bu Sandra. Kita semua tahu, bagaimana keadaan dan latar belakang Lara. Sekolah adalah rumah kedua bagi Lara dan saya sebagai guru bertanggungjawab atas murid-murid saya”

“Alasan yang masuk akal, Pak Heru”, kata Pak Kepala Sekolah, “Tapi, jika perhatian Anda sudah berlebihan siapapun akan salah pahan dan mengartikan ini sesuatu yang keliru”

“Sama sekali tidak ada yang salah. Lara sama seperti Molly Andreata”, kata Pak Heru, “Saya juga memberikan perhatian khusus karena dia menderita disleksia. Secara mental, Molly berbeda dengan anak-anak lain, tapi dia sama dengan Lara. Mereka kesulitan untuk membaur dengan anak-anak lain karena mereka memiliki kekurangan yang bisa dilihat dengan jelas. Seperti Molly misalnya, dia sering menulis terbalik dan bicara terbata-bata, dan Lara dengan latar belakang keluarganya yang berantakan. Anak-anak lain menyimpulkan mereka berbeda sehingga mereka memilih mengisolasi diri. Kita sebagai orang dewasa, lebih-lebih seorang pengajar tidak mungkin membiarkan mereka terus tumbuh dalam lingkungan yang terisolasi. Itu sudah tugas saya, Pak. Jika ada yang menyimpulkan bahwa ini sesuatu yang berlebihan, itu hak mereka yang bersangkutan. Tapi, kenyatannya apa yang dipikirkan Bu Sandra tentang saya dan Lara, sama sekali tidak benar”

Pak Kepala Sekolah menatap Bu Sandra, “Apa Anda benar-benar yakin, Bu Sandra?”, tanya dia.

Bu Sandra sedikit kelabakan, “Yang saya tahu, saya tidak salah dengar, Pak Kepala Sekolah. Saya mendengarnya sendiri Pak Heru dan Lara membicarakan sesuatu yang tidak pantas di sekolah”, ia kukuh dengan tuduhannya itu.

“Maaf, Pak Kepala Sekolah”, kata Pak Heru tiba-tiba menyela, “Saya mengerti kenapa Bu Sandra salah paham tentang apa yang saya bicarakan dengan Lara”

“Pak…”, Bu Sandra ikutan menyela, tapi melihat isyarat tangan Pak Kepala Sekolah yang menyuruhnya diam, ia langsung membungkan mulutnya.

Pak Kepala Sekolah tampak menunggu penjelasannya.

“Seperti yang kita tahu, ayah dan ibu Lara berpisah. Dia terkatung-katung antara orang tuanya dan beberapa masalah yang seharusnya belum pantas ia tampung. Dia mungkin menganggap saya adalah tempat untuk bergantung karena selama ini tidak ada yang memperhatikannya. Saya rasa, ini wajar. Apa yang diketahui oleh seorang anak remaja? Tidak ada, Pak. Begitu ini mulai menjadi masalah, saya mengingatkan Lara untuk tetap bertahan. Hanya itu, tidak lebih”, jelas Pak Heru.

Pak Kepala sekolah mengangguk-angguk. Tampak paham dengan kalimat Pak Heru yang berhasil membuat Bu Sandra benar-benar diam. Tapi, pria tua berkepala nyaris botak itu kembali menatap Lara yang hanya bisa tertunduk mendengarkan, “Lara, sekarang jawab dengan jujur”, katanya dan seketika jantung Lara berdetak keras, “Apa kamu menyukai Pak Heru lebih dari sekedar seorang guru?”

Lara membelalak. Ia menatap Pak Kepala Sekolah dengan bingung. Matanya sudah basah, penglihatannya mulai kabur oleh air matanya.

“Jawab dengan jujur, Lara. Dengan begitu kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik”, katanya, “Jika kamu memiliki perasaan kepada orang yang memperhatikan kamu itu wajar. Tapi, ini sekolah. Hubungan antara guru dan murid itu sesuatu yang tidak pantas…”

“Saya…”, Laras mencoba berkata-kata, tapi ia hanya kembali menundukan kepala seolah mengakui semua itu, “Saya hanya merasa sendirian, Pak”

Pak Kepala Sekolah menarik nafas, “Baik, inti permasalahannya sekarang sudah jelas”, katanya, kembali menatap Pak Heru, “Saya rasa sebagai orang dewasa sekaligus seorang guru, Pak Heru tentu tahu mana yang pantas dan tidak pantas. Menurut saya ini bukan masalah besar selama Pak Heru bisa menjaga wibawa sebagai seorang pengajar”

Pak Heru mengangguk.

“Dan Lara, kamu masih sangat muda. Kamu tidak boleh kehilangan semangat. Masa depan kamu masih panjang”, kata Pak Kepala Sekolah, “Jangan mengacaukan kesempatan terbaik kamu untuk meraihnya”

Seisi ruangan diam, termasuk Bu Yanti yang dari tadi nggak punya kesempatan untuk bicara.

“Dan Bu Sandra”, tegur Pak Kepala Sekolah setelah ia berdiri dari kursinya, “Saya harap Bu Sandra tidak lagi mengatakan hal-hal yang bersifat sentimen pribadi sebagai laporan resmi”

Selangkah Pak Kepala Sekolah meninggalkan ruangan konseling diikuti Bu Yanti, Bu Sandra nggak bisa menahan amarahnya.

“Kalian boleh tertawa”, kata dia, bengis, sambil melangkah ke pintu, menatap Lara lalu Pak Heru yang berdiri nggak jauh darinya, “Ingat, Heru, kamu nggak bisa sembunyi selamanya, kecuali… salah satu dari kalian keluar dari sini. Rasanya itu lebih adil”

Pak Heru diam, tampak nggak menghiraukan umpatan Bu Sandra. Sampai wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua saja.

Lara baru menangis di tempat duduknya.

“Kamu boleh kembali ke kelas kamu”, kata Pak Heru yang juga ingin pergi dari sana.

“Terus?”, tanya Lara menoleh padanya dengan pandangan mengiba.

Pak Heru mulai pusing, “ Terus apa lagi, Lara?”, tanya dia mengeluh, “Kamu ngerti kan kepala sekolah tadi bilang apa?”

Lara menggeleng, “Aku gimana?” tanya dia dan suaranya gemetaran.

“Kali ini kita dimaafkan…”, jelas Pak Heru, nggak mau menatap wajah Lara. Ia berdiri di dekat pintu dan tampak begitu lelah.

“Jadi…semuanya selesai?”, tanya Lara.

“Harus, Lara”, jawabnya singkat, “Carilah yang lebih pantas buat kamu…”

Dan Pak Heru pun berlalu, meninggalkannya sendiri di sana. Laras mulai terisak perih, menahan sakit di hatinya yang serasa akan merenggut jiwanya.

---

Hujan turun lagi seakan nggak puas membasahi pagi ini. Beberapa orang masih terjebak di sekolah menunggu hujannya berhenti. Dan selebihnya nekat menerjang derasnya hujan supaya bisa pulang.

Molly menengadahkan telapak tangannya ke langit menanti tetesan hujan yang bercucuran dari atap. Tetesan itu memecah di tangannya, menyebarkan percikan dingin yang menyentuh wajahnya. Sudah cukup lama ia nggak melihat hujan turun di langit sekolah.

Tiba-tiba di sampingnya ada tangan lain yang juga menanti tetesan hujan. Tersentak, Molly menemukan Getta berdiri di sampingnya.

“Kamu nggak dijemput lagi?’, tanya dia.

Molly tersenyum lalu menggeleng, kembali menatapi dari mana turunnya tetesan hujan itu.

“Hujannya masih lama”, kata Getta masih di sampingnya, ikut melihat apa yang Molly lihat, “Aku nggak suka hujan”

“Kenapa?”, Molly meliriknya.

“Dulu waktu sering naik motor, aku paling males sama hujan”, jelasnya, “Kalau lagi di jalan terpaksa harus berhenti dulu buat berteduh”

Molly tertawa pelan, “Kalau aku paling suka hujan”, katanya, “Soalnya kalau lagi hujan bisa tidur enak”

Getta ikut tertawa, “Kamu…masih sakit Sleeping Beauty Syndrome itu ya?”, tanya dia.

Tiba-tiba Molly menoleh. Terkejut, ternyata Getta masih ingat.

Getta masih tertawa, “Aku ketularan, tau”, katanya, “Karena kamu bilang tidur itu ngelindungin kita dari hal yang nggak ingin kita lihat atau rasain…”

Molly masih diam, memandangi Getta saat ini sama seperti saat mereka bicara untuk pertama kali di masa SMP yang kenangannya perlahan pudar di ingatan Molly.

Cowok itu menatap ke depan, dengan senyum manis entah pada siapa. Ia kelihatan senang hari ini.

Molly juga. Nggak percaya hari ini benar-benar nyata. Setelah semua yang dilewati dari saat pertama ia menyukai Getta –bagaimana mereka berpisah lalu ketemu lagi tiba-tiba. Hari ini baginya seperti dongeng. Berdiri di samping menyaksikan hujan turun dan tertawa bersama sambil mengingat kenangan manis di masa lalu. Sama-sama menampung hujan dan merasakan percikannya yang dingin.

Cowok itu ternyata nggak berubah. Caranya tertawa masih sama seperti yang dulu. Hanya saja parasnya sedikit lebih dewasa dan tubuhnya semakin menjulang. Membuat Molly semakin kerdil kalau berdiri di dekatnya dan juga deg-degan setiap memandang ke wajahnya. Dadanya terasa panas dan entah mengapa setiap desahan nafas terdengar seperti permohonan. Bisakah waktu berhenti di saat seperti ini?

Molly sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya, meskipun terkadang pipinya merona merah setiap teringat bagaimana cowok itu menciumnya minggu lalu di tangga darurat. Itu membuatnya gila dan entah bagaimana dengan Getta yang kelihatan tenang-tenang saja setelah itu. Juga hari ini.

Namun, sejak itu ada yang berubah.

“Kamu nggak marah lagi kan?”, tanya Getta padanya.

“Marah?”, Molly mengernyit. Kapan ia pernah marah sama Getta?

“Soal aku sama Lara yang bikin semua orang jadi salah paham…”, jelasnya, garuk kepala dan bingung, “Jonas juga masih belum mau ngomong sama aku”

Molly menghela nafas. Ia jadi ingat soal Lara. Kasihan sekali dia. Kira-kira waktu dipanggil ke ruang konseling, apa yang terjadi?

“Aku sama Lara nggak ada apa-apa”, jelas Getta seakan itu penting buat Molly yang terlihat murung, “Cuma…”

Molly malah termenung. Teringat soal ancaman Bu Sandra yang kedengarannya nyeremin. Dia tahu soal Pak Heru dan Lara, mungkin tadi Lara dipanggil karena masalah itu.

“Molly?”, tegur Getta, melihat Molly diam aja seolah nggak mendengarkannya.

“Eh?”, Molly tersadar dan menatap Getta bingung.

“Kamu kesal ya?”, tanya Getta padanya.

Molly menggeleng dan Getta yang bingung pun sepertinya mulai salah paham.

“Yang disuka Lara itu bukan aku, tapi Pak Heru”, katanya, semakin frustasi, karena nggak tahu bahwa Molly juga memikirkan hal yang sama sejak mendengar pembicaraan Pak Heru dan Bu Sandra.

Tapi, yang bikin heran kenapa Getta juga bisa tahu? Apa karena mereka dekat, Lara cerita padanya? Tapi, kenapa Getta? Lagian sejak kapan juga mereka akrab?Molly menatapnya nggak percaya.

“Aku nggak sengaja lihat Pak Heru sama Lara berantem...tapi…kamu harus janji nggak bakal bilang sama siapa-siapa”, kata Getta sedikit memohon.

“Bu Sandra juga tahu soal itu, Get…”, kata Molly pelan, “Mungkin karena itu Lara dipanggil hari ini…”

“Kok…”, Getta bertambah bingung, Molly juga tahu itu?

“Aku dengar Bu Sandra ngancam Pak Heru”, aku Molly, terlihat sedih, “Kalau ketahuan Pak Heru bisa dipecat dan Lara bisa dikeluarin dari sekolah”

Getta pun terdiam. Sepertinya bakal ada kejadian besar di sekolah besok.

“Molly!!”, suara Richard terdengar tiba-tiba.

Molly sontak menoleh ke belakang dan si kakak kelas itu tengah berlari ke arah mereka. Bisa-bisanya dia muncul di saat yang nggak tepat, Getta sedikit menggerutu melihatnya.

“Maaf, lama ya?”, tanya Richard padanya lalu tersenyum simpul pada Getta.

Molly tampak bingung, “Nggak…”, jawabnya ragu, teringat soal les piano di Maretha dan janjinya pada Cariss untuk datang hari ini. Ia juga lupa bahwa ia sedang menunggu Richard sedari tadi. Semua karena Getta ada di sini, dan ia harus merelakan kesempatan yang jarang didapat ini berakhir.

Tapi, janji nggak bisa dibatalkan. Lagian Richard juga udah datang bersama payung yang ia ambil dari mobilnya.

“Aku pergi dulu ya, Get…”, Molly pamitan karena mereka sudah harus berangkat ke Maretha.

Getta mengangguk sambil tersenyum, “Ya, sampai besok”, ia membalas lambaian tangan Molly.

Richard membukakan payung untuk Molly dan mereka berdua mulai melangkah menerjang hujan menuju mobil Richard yang sudah parkir di depan gerbang. Sekarang ia nggak punya alasan lagi untuk tetap di sini walaupun hujan deras masih menghalangi langkahnya pulang. Jadi Getta memutuskan untuk berlari di bawah hujan menuju rumah.

Mobil Richard sudah meninggalkan sekolah saat Getta baru sampai di depan gerbang.

Tapi, menemukan Chika berdiri nggak jauh dari sana membuatnya kaget. Cewek itu sepertinya sudah lama menunggu di bawah hujan, tanpa payung, tanpa apa-apa di tubuhnya yang basah. Ia juga nggak mengenakan seragam putih abu-abunya.

“Ngapain lo di sini?!”, tegur Getta berteriak, melawan gemuruh suara hujan.

Chika nggak menjawabnya. Ia hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sedih. Sebelum tiba-tiba menyandarkan tubuhnya yang kedinginan dan lelah ke tubuh Getta yang basah. Ia memeluknya dengan sangat erat.*

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments