[Ch. 10] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Godaan Lara 

Kelas masih sepi. Bangku-bangku masih kosong. Kalaupun ada yang sudah datang, mereka cuma menitipkan tas lalu nongkrong di luar sampai jam pertama dimulai.

Getta menarik nafas lega.

Aneh memang,  seorang siswa pembolos, datang pagi-pagi banget ke sekolah yang bahkan lantai dan perabotannya masih dingin oleh sisa-sisa malam yang berlalu di sini. Dan nggak nyangka, si cewek jutek sudah duduk di kursinya, ngelamun memandang keluar jendela.

Tapi, apapun yang dia lihat, Getta nggak peduli. Ia menuju ke kursinya dan melempar tasnya ke atas meja lalu duduk. Ia sempat melirik ke belakang –kursinya Molly yang masih kosong, sebelum kembali menengok ke depan di mana hanya ada papan tulis yang bersih. Dan ia harus bersabar selama setengah jam sampai belnya bunyi. Lumayan lama.

Lara sempat menoleh ke arahnya, dengan sarkastis –seperti dia yang biasanya. Lalu tersenyum sinis, penuh maksud. Tapi, bagi Getta itu terlihat seperti seringai ancaman.

“Tukang bolos datang pagi-pagi?”, tegurnya, tiba-tiba ketawa pelan nggak jelas, “Kayaknya ada sesuatu yang bikin senang deh”

Memang apa sih yang diharapkan sama cewek ini?

Getta datang pagi-pagi, cuma untuk menghindari berandal kemarin. Di mana-mana nggak ada berandal yang biasa bangun sepagi ini. Tapi, apa gunanya menjelaskan itu sama cewek ini? Jadi, Getta hanya tersenyum simpul, nggak suka urusannya dicampuri.

Tapi, tiba-tiba Lara berdiri dari kursinya dan ia pindah ke tempat duduk yang ada di depan Getta. Sikap dan senyumnya memang mencurigakan. Namun, Getta sih lumayan tahu sama cewek yang seperti ini. Di luarnya boleh dingin, tapi dalamnya Lara memang siluman ular putih.

“Gue lihat lho yang kemarin”, kata dia, menjelaskan maksud seringai pagi yang bikin Getta jadi nggak betah.

“Apaan?”, cetus Getta, mulai nggak tenang. Dia mulai gelisah di tempat tidurnya.

Lara malah ketawa, “Lo sama si cupu di belakang”, jawabnya, melirik ke bangkunya Molly.

Perasaan Getta mulai nggak enak, “Apaan?”, dia berpura-pura acuh, tapi jelas mukanya jadi merah padam.

“Bukannya lo udah punya pacar?”, tanya Lara padanya, sambil mendengus, “Cewek dungu gitu masih aja lo mainin…gue nggak nyangka…”

“Pacar apaan?”, tandas Getta, ingin menghindari Lara sebelum bicara cewek itu kemana-mana, “Gue nggak punya pacar”

Alis Lara terangkat sebelah, “Masa?”, dia nggak percaya.

Susah deh dijelasin sama orang yang nggak ada hubungannya, Getta menggerutu di dalam hati. Berusaha untuk tetap tenang, supaya Lara berhenti bertanya yang nggak-nggak. Lagian kemarin dia lihat apa sih?

“Terus?”, tanya Lara, duduk manis, terlihat tenang dan senyum sinis dan wajah sarkastisnya sudah lenyap, tiba-tiba dia mendongak, dengan senyum menggoda, “Itu yang pertama ya?”

“Ah, lo apa-apaan sih?!”, Getta makin gelisah. Sialan nih cewek, ikut campur urusan pribadi orang!

Lara cekikikan, “Udah deh, jujur aja itu pertama kalinya lo nyium cewek kan? Kaku banget!”, makin lama makin keras tawanya.

Sumpah, ini cewek memang nyebelin! Seenaknya aja ngintip!,.Getta cuma bisa diam, menahan malu tapi nggak bisa menghilangkan rona merah di pipinya. Tapi, di kelas untungnya cuma ada mereka.

“Sama-sama ciuman pertama ya?”, Lara masih menggodanya, “Sumpah, kalian berdua kayak orang begok deh…”

Aah, jadi keingat lagi! Sumpah nih cewek nyebelin abis!

“Ya deh…”, Getta berdehem, “Kalau dibandingkan elo yang memang jauh pengalaman, sama cowok dewasa, guru fisika, wali kelas pula”

Lara berhenti ketawa, tiba-tiba rautnya masam.

“Oke deh kita impas”, kata Getta padanya, “Karena gue juga pernah ngintip lo sama Pak Heru”

“Tapi, lo nggak lihat kita lagi ciuman kan?”, godanya lagi dan kembali terbahak-bahak, bikin Getta jadi tambah gusar.

“Emang sih…”, Getta mendengus, “Tapi, dari caranya lo nangis memohon sama dia supaya nggak ditinggalin kayak udah terjadi sesuatu yang nggak diinginkan deh… lo mau ngelak?”

Lara berubah gusar lagi, kali ini mukanya cemberut, “Kalau masalah itu sih…lo nggak bakal ngerti…”, katanya, “Kalau yang begitu sih namanya sesuatu yang diinginkan, bocah kayak lo mana ngerti”

Getta cuma geleng-geleng kepala, “Cewek rusak…”, gumamnya.

Lara hanya mencibir sekalipun dia dengar kata-kata Getta barusan, “Terus kalau gue emang rusak lo mau apa?”, celetuknya.

Getta hanya menghela nafas.

“Terus?”, tanya Lara, kali ini menatapnya serius.

“Terus apanya?”, tandas Getta, berdiri dari kursinya pingin kabur, nggak ingin lagi bicara masalah pribadinya –secara dia juga malu apa yang terjadi kemarin tanpa sengaja dilihat Lara. Dan kenapa bisa sih? Lagian juga ngapain cewek itu di sana? Jangan-jangan berantem lagi sama si Pak Guru itu? Atau…lagi ngelakuin sesuatu yang lain juga.

“Ya elo sama cewek itu…”, katanya kembali melirik bangku kosong di belakang –tempat duduk Molly, “Lo kan udah ciuman sama dia, terus jadian? Atau lo mau backstreet dari temen-temen lo yang berisik?”

“Ja…jadian…?”, Getta malah kebingungan.

Lara menggeleng satu kali, “Getta, Getta… masa lo nyium cewek gitu aja sih? Tanpa ada maksud apa-apa gitu?”, dia mengernyit. “Lo nembak dia? Bilang suka nggak sebelum lo nyium dia?”

Tanpa sadar Getta menggeleng, masa harus begitu dulu?

“Lo payah ah!”, gerutu Lara, “Masa main cium aja kalau lo nggak bilang sesuatu dulu?”

“Gue nggak ngerti maksud lo apa, kemarin itu gue… gue…”, Getta makin bingung. Gimana cara menjelaskan kalau yang kemarin itu terjadi begitu aja? Melihat Molly, menatap mata cewek itu basah oleh air matanya, kelihatan sedih oleh perbuatan temannya sendiri, siapa juga yang nggak luluh? Lebih-lebih dulu Getta pernah suka padanya. Mereka cuma baru tahu bahwa apa yang bikin cinta mereka nggak kesampaian adalah gara-gara orang yang pernah mereka percaya. Kebayang kan mereka sama galaunya?

Tapi, begitu selesai… mereka sama-sama kikuk dan bingung, salah tingkah juga. Sadar-sadar, Molly yang tadinya menangis terisak, mukanya jadi super merah kayak buah stroberi matang. Ujung-ujungnya karena malu, dia langsung kabur, mana sempat Getta bilang sesuatu kalaupun itu harus?

Masih terasa sakit di bibirnya yang luka sehabis dihajar preman kampung yang memalak uang jajannya. Setiap ia merasakan sakit di bibirnya, setiap kali itu juga dia ingat rasa ciuman pertamanya.

“Wooi!”, pekik Lara ke telinganya dan Getta terlonjak.

Getta kembali duduk di kursinya, memandangi Lara yang sekarang terpingkal-pingkal.

“Malah ngelamun”, katanya, “Ketahuan banget kalau lo itu amatiran…”

“Iya, iya!”, cetusnya gusar.

Lara berhenti tertawa, “Jangan kesel ngelihat gue gitu kenapa sih?”, candanya, “Ini nih yang bikin gue nggak suka pacaran sama cowok bocah. Ngambekan…”

“Terserah lo deh…”, Getta mendengus lagi, “Gue emang bocah, terus lo mau apa? Dasar…”

Melihat Getta segitu kesalnya, Lara mencoba untuk tenang, habisnya bakal keterlaluan kalau dia nggak berhenti tertawa. Jadi dia berdehem sekali, “Jadi… lo mau gue ajarin nggak?”, tanya dia, sudah kelihatan bener-bener serius.

“Lo sinting…”, gumam Getta, menggeleng-geleng dengan senyum sinis.

Tapi, Lara marah mendekat, dan Getta tersentak, terlambat menyadari kalau cewek itu sudah mendongak ke arahnya. Getta merinding, nekat banget nih cewek.

Tawa meledak-ledak saat Getta benar-benar nggak bisa menyembunyian gugupnya. Beneran nih cewek jengkelin banget. Dia ketawa lagi saat ia menarik dirinya dari Getta.

Sialan…

Tapi, mendadak suara tawa jenaka Lara terhenti. Ia lihat seseorang berdiri di pintu, mandangin mereka dengan ekspresi begok sekaligus syok.

Jonas.

“Pagi semuaaa!!!”, Yuna berseru di belakang Jonas secara tiba-tiba, seolah mereka barengan. Suaranya memecah keheningan yang bisa dirasakan lewat ketegangan yang barusan.

Tapi, mungkin dia nggak sadar. Jonas, cowok itu kesal banget sampai membanting tasnya ke atas meja.

“Hei, Jo”, sapa Getta memandanginya, berusaha menyingkirkan perasaan nggak enak itu. Tapi, Jonas malah pergi, bahkan nggak membalas sapaan Getta.

Lara hanya celingak seolah nggak melakukan sesuatu. Ia berdiri dan kembali ke kursinya untuk memandang keluar lagi, sampai belnya bunyi.

Yuna termangu. Tadi Jonas segitu riangnya saat mereka ketemuan di gerbang. Tapi, mendadak jadi panas. Ada apa sih?, ia bertanya-tanya, termangu sendiri sebelum ia juga keluar entah menyusul Jonas atau ketemu sama teman-temannya yang lain. Aneh deh…

“Kalau dia beneran teman lo, dia nggak bakal berpikiran kalau lo itu ngelangkahin dia..,”, kata Lara mengingatkan dari tempat duduknya, dengan sangat acuh, saat ia merasa harus mengejar Jonas untuk menjelaskan apa yang ia lihat sekilas tadi.

“Ini semua gara-gara lo, tau?!”, celetuk Getta kembali duduk di kursinya dan menghembuskan nafas lelah.

Anak-anak lain mulai berdatangan. Suara-suara riuh mereka mulai kedengaran hingga bel berbunyi. Seperti semut yang menuju gula, mereka masuk satu per satu dan pintu tertutup begitu gurunya masuk.

Molly terlihat pada menit-menit terakhir Pak Heru mau masuk. Dan ketika ia melihat Getta, langkahnya sempat berantakan dan salah tingkah lagi begitu ia mendudukan pantatnya di kursi belakang.

Lara yang melihatnya cekikikan sendiri, menghancurkan kesenangan Getta yang lega akhirnya melihat Molly datang dan memastikan dia nggak telat. Cewek itu meledeknya!

---

“Jo, dengerin gue dulu! Semuanya nggak seperti yang lo lihat! Lara cuma ngisengin gue doang!”, Getta berusaha menjelaskan sambil mengejar langkah Jonas yang buru-buru.

Jonas nggak mau berhenti. Menoleh pun juga nggak, dia berjalan dengan cepat, melewati anak-anak yang memadati lorong begitu bel istirahat berbunyi. Sejak di kelas, Jonas nggak mau bicara sedikitpun. Dia benar-benar ingin menghindari Getta.

“Jonas!”, panggil Getta, saat ia hampir berhasil mengejar langkahnya.

“Udah, Get!”, pekiknya, “Lo nggak bisa biarin gue sendiri dulu?”

“Iya, tapi lo harus dengerin gue! Gue sama Lara tuh nggak ada apa-apa”

“Iya nggak ada apa-apa, tapi gue kaget! Di depan semua orang termasuk gue, dia bersikap dingin dan cuek, tapi di depan lo, gue seolah nggak yakin kalau itu dia. Dan menurut gue, kalau nggak ada sesuatu nggak mungkin dong kalian segitu akrabnya. Dan sekali lagi, gue nggak pernah tahu itu!”, katanya, emosi. Matanya melotot dan ia merajuk kayak anak kecil yang nggak kebagian mainan.

Getta terdiam. Nggak mungkin dong, Getta harus menceritakan awal gimana mereka mulai bicara. Toh, gimana pun juga ia sudah janji sama Lara akan tutup mulut sekalipun Getta nggak meragukan kalau cewek ini memang menjengkelkan. Lagian Jonas juga nggak tahu apa topik yang menari bagi mereka pagi ini. Duh, benar-benar jadi rumit.

“Lara itu suka sama orang lain!”, kata Getta akhirnya, seenggaknya untuk bikin Jonas berhenti uring-uringan. Tapi, malah bikin Jonas mengerutkan dahi –bukan karena kaget tapi syok!, “Lara itu suka sama orang lain yang bukan gue, lo harus tau itu”

“Gila!”, Jonas berusaha menyembunyikan syok-nya tapi gagal, “Bahkan lo juga tahu sejauh itu?”

Rasanya mau memukul kepala sendiri, goblok!

Tapi, mau bilang apa lagi?

“Gue cuma nggak sengaja tahu…”, jelas Getta, dengan suara pelan dan meyakinkan, “Karena orang itu juga ada di sekolah ini…”

Jonas melongo, berusaha memamahami kata-kata Getta yang lumayan menyakitkan di hatinya.

“Gue pernah lihat…”, Getta mulai bingung. Ini rahasia, harusnya tetap rahasia! Soalnya dia nggak mau ngurusin urusan pribadi orang apalagi terlibat di dalamnya, “Itu nggak sengaja…”

“Siapa, Get?”, tanya Jonas, sekarang jadi penasaran, “Siapa cowok itu?”

Getta menarik nafas, kepikiran untuk menghindar sebelum ia mengatakan apa yang nggak boleh ia katakan gara-gara melihat wajah sedih Jonas yang patah hati.

“Pokoknya bukan seseorang yang nggak kayak gue, atau elo”, jawabnya, mundur beberapa langkah sebelum pergi, “Sebaiknya lo nyerah, Lara nggak mungkin suka sama lo”

Jonas masih belum percaya, ia mengejar Getta yang sekarang malah ingin pergi setelah berusaha mengejarnya untuk memberi penjelasan yang sekarang jadi ia butuhkan.

“Get, lo harus kasih tau gue! Lara pacaran sama siapa?”, dia mendesak, tapi juga memohon.

“Dia suka sama cowok dewasa. Dan lo harus tau, kalau Lara itu nggak seperti yang lo atau kita semua kira…”, Getta mengingatkan.

“Maksud lo apa?”

“Itu urusannya, Jo, gue nggak berhak ikut campur. Itu rahasianya dia…”, kata Getta sebelum akhirnya dia pergi, untuk menenangkan dirinya sendiri.

---

Gara-gara Lara sendiri jadi begini!, Getta masih menggerutu dalam langkahnya yang cepat menuju tangga darurat. Rasanya mau tidur dan bolos lagi juga nggak apa-apa, habisnya hari ini benar-benar nggak terduga.

Membayangkan Lara mendongak padanya dan kelihatan serius mau mencium, siapa juga yang mau percaya di antara mereka nggak ada apa-apa. Cuma Getta yang tahu siapa Lara sebenarnya dan bukan haknya pula memberi tahu Jonas tentang itu semua walaupun Jonas sahabatnya dan dia hampir terjebak sama cinta monyetnya.

Tapi, kembali lagi ke tangga darurat itu, bikin Getta sekarang jadi malu sendiri. Ingat di sana telah terjadi ‘sesuatu’.

Tapi, nggak nyangka juga, di sana ia malah menemukan seseorang yang lain. Seseorang yang lumayan ia kenal tapi nggak terlalu ia suka.

Siapa lagi kalau bukan Richard, si kakak kelas yang telah menyebar virus-virus cemburu ke Getta sebelum ini.

“Terus?’, suara seorang cewek juga bikin Getta geger.

Gimana enggak? Cewek berseragam yang kayaknya kesempitan itu nempel-nempel sama cowok itu. Mereka berdiri dekat-dekatan kayak pasangan yang mesra banget.

“Ya nggak kenapa-napa”, suara Richard terdengar santai seolah dia nggak risih di deketin cewek model begitu, atau memang dia sengaja ‘memanfaatkan’.

Ah! Jadi ingat, Yuna dan Jonas pernah bilang kalau cowok ini playboy! Ternyata benar.

“Kapan tugas jadi baby sitter-nya selesai?”, tanya cewek itu dengan suara manja, “Aku nggak tahan, Karina ribut kamu dekat sama anak kelas dua itu…”

“Itu sih merekanya aja yang lebay”, Richard kelewat santai. Namanya juga cowok playboy, “Aku disuruh sama Pak Heru kok”

Cewek itu mengangguk-angguk, “Hm…berarti Pak Heru dong yang suka sama anak itu?’, cewek itu menyandar ke bahunya Richard manja.

“Itu mah lebih ngaco lagi”, Richard cekikikan, “Molly itu disleksia”

“Itu penyakit ya?”, cewek itu bertanya dengan serius.

“Ya…kata Pak Heru gitu sih”, jawab Richard tenang, “Dari kelas satu Pak Heru memang perhatiin dia, soalnya dulu Pak Heru kan juga disleksia. Yah, kayak prihatin gitu…”

“Terus kenapa harus kamu, Richard? Kenapa nggak teman sekelasnya aja?”, cewek itu kedengaran merajuk.

“Kebetulan aja sih”, Richard menoleh padanya dengan senyum menawan yang sebelum ini juga pernah ia perlihatkan sama Molly, sampai cewek itu girang, “Aku pernah lihat dia main piano di ruang kesenian. Ternyata dia anak di kelasnya Pak Heru, terus waktu kita lagi ada acara keluarga, aku bilang sama Pak Heru. Nah disitu Pak Heru cerita. Kasihan juga sih…berbakat tapi disleksia. Makanya, aku disuruh nemenin dia karena kita sama-sama main piano…”

Oh, ternyata si Richard ini masih punya hubungan keluarga sama Pak Heru?

Cewek itu masih aja cemberut,”Tapi, kamu nggak suka dia kan?”,

“Suka?”, dia tertawa satu kali, “Nggak, Trisha Sayang, aku tuh sayangnya cuma sama kamu aja kok”

“Terus kalau dia yang suka sama kamu?”

“Aku bakal tetap sayang sama kamu kok. Di hati aku cuma ada kamu…”

Dasar cowok playboy gila. Getta mulai kesal sendiri. Rasanya mau muntah. Rayuannya basi! Cewek itu malah kege-eran lagi!Kayaknya… Molly harus dikasih tahu deh. Tapi, disleksia itu apa?

---

Getta sudah duduk di kursinya waktu Molly datang. Jonas juga dan tampangnya masih kelihatan bete. Nggak lama Lara muncul juga dan di belakangnya ada Pak Heru yang membawa buku pelajaran.

Sekali, Getta menoleh ke belakang, Molly hanya memandanginya saat ia berusaha tersenyum. Perasaannya nggak enak begitu Pak Heru memulai pelajaran di jam terakhir. Jangan-jangan Molly ikutan salah paham lagi?, Getta mulai gelisah. Ia melirik Jonas yang malas-malasan menopang dagunya dengan raut mengantuk dan Lara yang sedang menulis di bukunya.

Tuhan, kenapa jadi rumit begini?

Dua jam berlalu dengan tenang dan diakhiri oleh suara bel yang terdengar nyaring di telinga kalau sudah jam pulang.

Pak Heru membereskan semua buku pelajaran di atas meja, sebelum mengucapkan sampai besok dan ia keluar dengan senyum tenangnya. Benar-benar guru yang ajaib, Getta bergumam dalam hati sambil menyandang ranselnya. Dan ia menoleh ke belakang, di mana Molly sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas.

“Molly”, tegurnya, sedikit merasa bersalah.

Molly menoleh, dengan wajah datar dan tatapan mata lemah yang biasa ia perlihatkan, “Ya?’, sahutnya dengan suaranya yang pelan.

“Kamu dijemput lagi?”, tanya Getta.

Molly menggeleng, dan dengan ragu-ragu berdiri dari kursinya. Mulai kelihatan kalau dia enggan bicara apalagi menatap Getta langsung ke wajahnya.

Getta jadi hilang akal. Dan nggak sadar jadi kelihatan bodoh di depan teman-temannya yang lain yang sekarang memandang ke arah mereka.

“Aku antar ya”, ujar Getta padanya, dengan senyum bodoh di wajahnya.

“Aku…”, Molly tertunduk, “Aku ada janji sama Kak Richard”

Getta terdiam. Agak syok, ia memperhatikan Jonas dan Yuna ikut-ikutan diam dan memandangi Molly.

Biasanya cewek itu kelihatan tenang dan hawa ‘gloomy’ selalu terasa ketika ada di dekatnya. Tapi, kali ini ia kelihatan agak jutek. Molly hanya melirik Yuna, “Aku duluan ya, Yun…”, katanya sebelum meluncur ke pintu.

Getta heran, tadi Jonas sekarang Molly ikut-ikutan jutek. Apa itu gara-gara masalah yang sama?, Getta semakin bingung, lebih-lebih saat menyaksikan Jonas juga berlalu tanpa bilang apa-apa.

Hanya Yuna yang memandanginya dengan sedikit takut. Tampak  rasa bersalah di wajahnya karena memberitahu Molly sesuatu yang belum bisa dipastikan dan udah pasti cewek itu salah paham juga. “Gue duluan ya…”, ucapnya sebelum pergi sambil terus deg-degan karena cemas.

---

“Ngelamun ya?”, Richard muncul entah dari mana dengan senyum riang dan menyenangkan itu lagi. Dalam sejenak ia menghalau semua pikiran jelek yang tengah Molly perdebatkan dengan perasaannya di dalam otaknya.

Molly tersenyum malu-malu atas perhatian Richard yang begitu intens sampai ia nggak bisa mengangkat kepalanya. Apalagi Richard selalu punya sesuatu untuknya.

Cowok itu menyodorinya sebuah selebaran. Secarik kertas pengumuman sebuah festival musik yang dimeriahkan dengan lomba, “Ini festival tahunan”, kata dia, “Waktu masih SMP aku pernah ikut kok. Festivalnya bagus, paling nggak untuk mengasah kemampuan”

Molly masih memandangi pamphlet itu di tangannya. ‘Youth Music Fest Bandung’ tertera dengan huruf-huruf yang dicetak besar dan tebal di tengah-tengah. Terpapang wajah musisi-musisi terkenal yang sumringah di sana seolah ingin menyihir anak-anak muda berbakat untuk menjadi seperti mereka dengan memulai debut dari festival itu.

“Itu lomba untuk pemula”, jelas Richard lagi soal pamflet itu, “Kalau menang bisa dapat kesempatan untuk kolaborasi sama musisi terkenal”

Molly tertawa pelan, “Aku mana bisa…”, katanya, “Aku bisa main piano tapi bukan untuk lomba…”

Richard masih punya senyum optimis itu di wajahnya yang kadang-kadang bikin Molly greget ketika berhadapan dengannya, “Karena itu aku ada di sini, Molly”, ujarnya, lalu tiba-tiba menarik tangannya untuk masuk ke mobil, “Ikut aku deh! Dijamin kamu nggak nyesel!”

“Ke mana?!”, Molly masih bertanya dengan khawatir saat Richard membukakan pintu dan menuntunnya masuk. Sampai ia duduk di dalam, Molly masih bertanya-tanya apa lagi kejutan yang bakal dipersembahkan Richard untuknya hari ini.

“Udah deh! Kamu ikut aja…”, dia tersenyum lagi. memastikan bahwa tempat yang mereka tuju selanjutnya lebih menyenangkan dari yang pernah mereka datangi sebelumnya.

Mobil pun melaju meninggalkan sekolah. Getta baru sampai di gerbang setelah mobil putih itu nggak terlihat lagi dan ia mendesah lelah. Tapi, apa yang bisa ia lakukan sekalipun bisa menyusul Molly? Meminta Molly agar nggak pergi sama cowok playboy itu? Getta pasti kelihatan konyol karena Molly sampai segitu senangnya berada di dekat cowok itu. Lagian Getta juga belum punya hak melarang-larang Molly walaupun hatinya ingin sekali.

Tapi, Getta nggak menyangka, kehadirannya itu ditunggu oleh seseorang yang tiba-tiba ada di depannya.

“Chika?”, suaranya nyaris tahan melihat cewek itu tiba-tiba muncul. Begitu saja.

Chika tampak berusaha mengulas senyum manis di bibirnya. Tapi, wajahnya nggak bisa menyembunyikan kesedihan. Sejak bertengkar, ini pertama kalinya lagi mereka bertemu.

---

Richard meninggalkan Molly sejak setengah jam yang lalu di ruangan ini hanya dengan kata-kata ‘tunggu sebentar’. Sedari tadi ia hanya memandangi jam dinding yang seolah berputar merangkak. Di ruangan itu nggak ada apa-apa selain perabotan minimalis dengan nuansa modern yang membuatnya mulai bosan.

“Kelamaan ya?”, Richard akhirnya muncul di balik pintu yang tertutup sejak cowok itu pergi. Ia bersama seorang wanita muda –cantik, dan memiliki senyum seramah Richard, “Molly, kenalin, ini kak Cariss”

Molly berdiri dari kursinya, menyambut Cariss yang kelihatannya ramah sambil bertanya-tanya siapa si cantik berambut panjang dan berombak ini.

“Hai, Molly, aku Cariss”, ia memperkenalkan dirinya saat mengulurkan tangannya yang berjari-jari lentik itu, “Aku instruktur di sini”

Oh, Molly lupa. Richard mengajaknya ke salah satu tempat les musik karena ia butuh dukungan dan bimbingan. Tapi, nggak menyangka orang yang bakal membantunya secantik ini, bikin Molly malah deg-degan. Sejenak ia mulai ragu? Benar ia akan ikut festival itu?

Cariss dan Richard sama-sama duduk karena mereka akan membicarakan sesuatu yang penting.

“Jadi…kamu beneran mau ikut Youth Music Fest itu?”, tanya Cariss memulai, menatap Molly yang masih canggung dengan wamah.

“Aku…nggak yakin, Kak…”, jawabnya ragu-ragu, “Aku cuma bisa mainin beberapa lagu…”

“Itu nggak masalah”, ujar Cariss, tersenyum, “Nggak ada pianis hebat yang nggak berlatih dengan keras. Semua itu butuh usaha. Sekarang, tergantung diri kamu sendiri, Molly”

“Tapi…”, Molly masih tertunduk ragu.

“Richard bilang kamu punya bakat”, kata Cariss lagi, tampak sungguh-sungguh, “Kamu tahu nggak sih kalau dulu Richard juga nggak pedean waktu dia ikut empat tahun yang lalu? Richard masih kelas tiga SMP lagi”

Molly mengangkat kepalanya, menatap Richard yang sekarang malah canggung.

“Saingannya itu berat-berat lho. Tapi, kamu nyangka nggak Richard menang dan sampai diutus ke Jakarta untuk mewakili Bandung dalam festival nasional?”, sambung dia, melirik Richard yang tersenyum.

“Apa?”, Molly kaget. Richard menang?

“Sayangnya aku nggak menang di tingkat nasional kan?”, Richard mengingatkan.

“Iya, tapi kamu sempat ke Austria untuk tampil sama musisi lain dalam festival music Eropa.”, Cariss ikut mengingatkan dan mereka tampaknya saling mengenal satu sama lain. Seperti kakak dan adik, “Udah deh, Richie, kamu harus kasih semangat Molly dong”

Richard menatap Molly yang memandangnya penuh kekaguman, “Itu hanya jalan pembuka”, katanya, “Kalau kita sering ikut festival nama kita bisa dikenal dan diperhitungkan, menang atau nggak menang. Yang penting ada usaha”

“Aku…”, Molly masih ragu-ragu. Ada banyak hal yang berputar-putar dalam pikirannya yang bingung.

Main piano adalah hal yang nggak pernah terpikirkan. Ia hanya mengenal buku sketsa dan krayon sebagai hobi di waktu senggang –mengalihkan perhatiannya dari perlakuan orang-orang dan kesulitannya menghadapi mereka. Main piano berarti mengikuti jejak Mama yang sudah lama meninggalkan impiannya. Apa ia akan mampu dengan keadaannya yang seperti ini? Kata-kata disleksia selalu menghantuinya, membuat dinding tebal di sekitarnya yang menjadikannya berbeda dari anak-anak lain. dan itu harus selalu ia ingat, sekalipun ia dengan begitu mudahnya terlupa akan sesuatu.

---

“Lo masih marah sama gue?”, wajah Chika masih terlihat sedih dan menyesal. Memperhatikan sikap Getta yang jadi dingin padanya.

Walaupun duduk berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter, Getta seolah berada di ujung meja yang panjangnya sepuluh meter. Lebih-lebih ia nggak bicara selain dari pertanyaan klise Chika yang mencoba membuatnya baikan.

“Gue nggak pernah marah sama lo”, katanya, “Bukannya lo yang main pergi ninggalin gue waktu itu?”

Chika tertunduk lesu, sebelum pasang tampang memelas lagi, “Maafin gue, Getta…”, ucapnya, “Gue janji nggak bakal ngelakuin itu lagi”

Getta mengangguk pelan. Memandangi Chika dengan sedikit jengah. Sebenarnya ada hal lain yang tengah ia pikirkan. Bukan cuma soal Chika yang akan ngomongin masalah status mereka yang menurutnya sangat penting. Tapi, saat ini posisinya kejepit dan Chika nggak tahu itu.

“Kenapa sih lo setega itu?”, tanya Getta tiba-tiba.

“Maksud lo?”, Chika tampak heran, “Tega gimana maksud lo?”

Getta mendengus, memalingkan wajahnya sebentar sebelum kembali menatap Chika yang belum sadar apa  maksudnya.

Tapi, hanya beberapa saat raut sedih Chika yang memelas berubah menjadi wajah penuh penyesalan. Pasti ini soal Molly. Chika mulai siap-siap kalau Getta menuntutnya hari ini.

“Lo nggak pernah kasih suratnya ke Molly. Lo bohong kalau dia punya banyak teman”, Getta memperjelas, sekarang terlihat kesal, “Teman apanya? Dia nggak jauh beda dari saat masih SMP…”

Chika diam.

“Yang gue nggak habis pikir… yang gue tahu kalian tuh sahabat…kenapa lo tega ngelakuin ini ke dia?”, Getta beneran menuntutnya dan Chika belum punya balasan satu kata pun.

Chika menatapi ekspresi kesal Getta yang menurutnya nggak adil, “Itu gara-gara lo!”, kata Chika, suaranya lantang, “Kalau lo nggak suka sama Molly ini semua nggak akan terjadi”

Getta membelalak, “Gu…gue…?”, ia tampak nggak mengerti.

Kenapa juga perasaan Getta sama Molly jadi masalah.

“Lo harusnya milih gue, bukan dia…”, Chika memperjelas. Suaranya mulai gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca, “Karena orang bilang kita cocok. Menurut orang bakal bilang apa, Getta cowok keren di sekolah pacaran sama cewek kayak Molly? Sementara gue ada di sekitar kalian…lo mikir dong…”

Getta menggeleng-geleng nggak percaya, kenapa alasan Chika terdengar konyol di telinganya. “Peduli apa sih lo  soal pendapat mereka?”, balasnya, menghela nafas lelah.

“Gue suka sama lo!”, kata Chika setengah teriak, “Kalau lo nggak mau terima alasan gue yang itu, apa bakal kedengaran masuk akal kalau gue bilang gue suka sama lo, Get?”

“Tapi, kenapa lo harus nyakitin Molly?”, tuntutnya lagi.

Chika mulai terisak begitu setetes air mata membasahi pipinya dan Getta mulai bingung. “Gue nggak tahu…cuma itu yang kepikiran saat gue nggak bisa ngebiarin itu terjadi…”

Getta pun terdiam. Ia nggak sanggup menengok ke belakang –hari-hari yang telah berlalu, sebelum mereka tercerai berai. Ternyata masih tertinggal wajah sedih Molly yang diwarnai cat di hari pengumuman kelulusan. Seharusnya itu nggak menjadi hari terakhir Getta bisa melihat wajahnya.

Jika saja saat itu, Getta sedikit lebih peka, semuanya nggak akan sesulit ini.

Tapi, bagaimana dengan Chika yang terlanjur melakukan segala cara untuk tetap bersamanya?

Getta akhirnya berdiri dari kursinya sambil menyandang ransel, bergegas ingin pergi. “Gue kecewa sama lo”, katanya dan benar-benar berlalu meninggalkan Chika yang hanya bisa menangis, menyaksikan sosok Getta menghilang di balik pintu cafรฉ pink.

---

“Dulu aku les di sana sejak kelas satu SMP”, jelas Richard dalam perjalanan pulang, “Waktu itu Kak Cariss baru jadi instruktur setelah lulus dari sekolah musik di Belanda”

Molly diam dan mendengarkan, sambil tetap mikirin gimana caranya untuk bilang sama Papa dan Mamanya di rumah.

“Dia bantuin aku banyak hal”, sambung Richard, lalu menoleh ke samping di mana Molly menjadi murung. Kelihatannya masih ragu dengan pamphlet di tangannya.

Mobil tetap melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Molly, tapi cewek ini sepertinya tengah mengembara entah ke mana. Hanya badannya saja yang ada di sini.

“Eh, eh!”, tegur Richard tiba-tiba, menoleh ke samping lagi sebentar dan tetap hati-hati pada jalanan di depannya, “Kamu tahu nggak, Kak Cariss itu pacarnya Pak Heru?”

Molly tersentak. Pacar?, ia menoleh dengan mata membelalak. Cariss pacar wali kelasnya yang keren itu?

Richard tertawa, “Yah, mereka pernah dekat”, jelasnya.

“Kok kakak bisa tahu?”, Molly masih bingung.

“Aku lupa bilang ya kalau aku sama Pak Heru sepupuan?”, Richard tertawa, “Di sekolah banyak yang nggak tahu kalau aku tinggal sama dia. Kan aku udah bilang orang tuaku dua-duanya di Australia”

Molly hanya melongo. Dua saudara sepupu yang sama kerennya. Pantesan…

“Karena dulu sering di antar Pak Heru pergi les makanya dia ketemu Kak Cariss lalu dekat dan ya…gitu deh”, jelas Richard lagi.

Cariss yang segitu cantiknya dan Pak Heru yang segitu kerennya…, membayangkannya aja seperti melihat Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Mereka cocok.

“Kenapa?”, tegur Richard, “Kamu patah hati?”

Ejekan Richard barusan membuat raut Molly jadi cemberut. Tapi, ia hanya bisa diam sambil membayangkannya sekali lagi, “Mereka sama baiknya”, kata Molly kemudian tersenyum, “Pak Heru itu baik banget sama aku…”

“Ya, dia emang tipe yang perhatian sih…tapi rada kaku gitu”, kata Richard, “Ngebosenin dan nggak gaul!”

Molly tertawa, “Kakak ngatain sepupu sendiri…”, katanya lalu cekikikan.

“Iya! Itu emang bener kok!”, serunya, lalu melirik Molly lagi, “Tuh kan, akhirnya kamu bisa ketawa lagi”

Jadi Richard bilang begitu hanya supaya Molly ketawa lagi? Bener-bener cowok idaman…

“Jadi…kamu bakalan ikut festivalnya kan?”, tanya Richard lagi.

Molly diam dan murung lagi.

“Sebenarnya nggak ada yang salah sama diri kamu kok”, kata Richard tenang, “Apa yang kamu takutin itu cuma perasaan parno kamu aja…”

Apa benar?, Molly melirik Richard yang menyetir dengan serius.

“Kenapa kamu nggak bisa ngerasa main piano itu sama kayak mengambar? Hanya itu yang bisa kamu lakuin karena kamu nggak  bagus dalam pelajaran”, ujarnya, “Gampang kan?”

“Itu beda, Kak…”, Molly terdengar sedikit mengeluh.

“Apa bedanya?”, Richard mengernyit.

Sulit untuk dijelaskan. Menggambar itu lebih seperti pelarian di mana ia nggak perlu melibatkan orang lain untuk membuatnya. Tapi, main piano, ia akan dilihat banyak orang dan mereka akan menilai. Gimana kalau ia nggak bisa melakukannya dengan baik? Terlebih ikut festival, sungguh ia nggak bisa berada di hadapan ratusan orang yang mengharapkan sebuah permainan bagus dan menghibur. Lebih-lebih ada musisi ternama yang akan ikut mendengarkan.

“Kamu pikir-pikir dulu aja…”, ujar Richard, “Kalau kamu bener-bener udah yakin, kamu baru isi  formulirnya”

---

“Kamu pulang sama siapa, Molly?”, tanya Papa yang menunggu di pintu dan menyaksikan sendiri mobil Richard baru pergi.

“Sama teman, Pa”, jawab Molly sedikit cemas, sadar Papanya sengaja menunggu di teras karena matahari sebentar lagi mau tenggelam dan sepertinya mendung. Nggak  biasanya juga ia pulang setelat ini.

“Cowok?”, tanya Papa lagi.

Molly semakin cemas.

“Itu paling Richard, temennya”, kata Mama dari ruang tamu, “Udah yuk, makan”

Papa menoleh ke Molly sebentar sebelum ia masuk lebih dulu dan Molly mengikuti dengan langkah ragu-ragu. Untung Mama membantu menjelaskan dan nggak biasanya ia terlihat tenang-tenang saja walaupun Molly pulangnya telat.

“Cepat mandi dan ganti baju. Habis itu makan”, kata Mama pada Molly yang melangkah dengan lesu ke kamarnya.

Nggak lama ia turun dengan mengenakan piyama hijau mudanya sambil membawa pamflet dan formulir pendaftaran yang diberikan oleh Cariss tadi. Awalnya ia merasa nggak yakin dengan keputusannya, tapi ini juga bukan sesuatu yang bisa ia putuskan sendiri.

Sambil memperhatikan Mama dan Papanya, Molly duduk dengan perlahan di kursi. Terlihat Mama sedang menuangkan minuman dalam gelas untuk Papa yang sedang menyendok makanannya. Mereka nggak bicara sama sekali sampai Mama duduk di sampingnya dan ikut makan.

Molly menaruh lembaran-lembaran itu di atas meja makan, menatapi keduanya, ia membuka mulutnya, “Ma, Pa…”, panggilnya hati-hati dan terlihat makin cemas saat mereka menoleh.

“Kenapa, Molly?”, sahut Papa, dengan mulut masih berisi makanan, dan penuh perhatian. Ia sudah lebih dulu melihat kertas di sisi Molly yang baru saja ia taruh. Papa meneguk air putihnya setelah menelan habis makanannya lalu mengambil selebaran yang tampak enggan Molly berikan langsung.

Mama ikut memperhatikan selebaran itu di tangan Papa.

“Aku mau ikut itu…”, katanya pelan, dan tertunduk, “Ada tempat les yang bisa ngajarin aku sampai festivalnya di mulai. Tapi…harus ada izin dari orang tua sama izin dari sekolah…”

“Les piano?”, Mama tampak mengernyit.

“Iya, Ma…”, jawabnya menatap Mama ketakutan, “Kak Richard kenalin aku ke instrukturnya…”

Papa menatap Mama, heran, “Tunggu”, dia menengahi sebentar, “Richard ini siapa?”

“Teman sekolah, Pa…”, jawab Molly, suaranya masih pelan, “Kak Richard main piano juga…”

Papa kembali menatap Mama yang tertegun. Masih heran, ia beralih ke Molly yang belum berani mengangkat kepalanya.

“Kamu main piano?”, Papa kelihatan nggak percaya, dan lagi-lagi menoleh ke Mama.

“Aku nggak tau apa aku bisa, tapi aku cuma ingin ngelakuin sesuatu yang lain…”, jelasnya, “Aku nggak pintar di sekolah, makanya aku mau main piano, karena aku pikir aku bisa…”

Papa dan Mama sama-sama diam. Saling tatap sebelum Papa akhirnya tersenyum.

“Kamu serius?”, tanya Papa.

Molly mengangguk.

“Kamu yakin sekolah kamu nanti nggak akan terganggu?”, tanya Mama.

“Aku langsung pergi les habis pulang sekolah”, jelas Molly, “Latihannya dari jam tiga sampai jam enam dari Senin sampai Kamis, Ma…”

“Kamu kuat?”, tanya Mama, “Kamu nggak bisa tidur siang kayak biasanya. Dan pasti bakalan capek begitu sampai di rumah. Kamu juga harus belajar dan ngerjain PR kan?”

“Aku janji bisa ngatur waktu buat sekolah dan les, Ma”, kata Molly, menatapnya dengan sedikit kekhawatiran.

Mama tampak menarik nafas, “Selama kamu bisa bertanggungjawab sama diri kamu sendiri soal waktu, nggak apa-apa”, katanya, “Asal kamu nggak lupa sama apa yang lebih penting. Yaitu sekolah”

Molly mengangguk lebih cepat dan bersemangat. Terlihat senyum lega di wajahnya.

Papa ikut tersenyum, “Oke, kalau Mama setuju Papa juga setuju”, katanya, “Tapi, harus ingat, nggak boleh terlalu lama di luar. Kalau udah jamnya pulang kamu harus pulang. Kalau pulang telat, kamu harus kasih kabar ya?”

Molly mengangguk dengan lebih bersemangat lagi, “Iya”, jawabnya, “Makasih Ma, Pa…”

“Ya udah, ayo makan”, kata Mama. raut kaku dan tegangnya sudah agak berubah.

---

Hari terasa melelahkan bagi Chika. Susah-susah ketemu Getta hanya buat berantem ngeributin Molly. Setibanya di depan rumah, ia juga nggak langsung dibukain pintu sama pembantu yang biasa menyambut kedatangannya di ruang depan.

Chika harus mengetuk beberapa kali, sampai Mbok Nah dengan sopannya bukain pintu.

“Kok lama amat sih, Mbok?!”, protesnya dengan tampang super jutek.

“Maaf, Non…”, wanita itu tampak cemas.

Chika mencak-mencak melewati ruang depan menuju kamarnya di lantai dua. Tapi, langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara-suara gaduh dari ruang sebelah –ruang keluarga.

“Kamu mau jelasin apa lagi, hah?!”, teriakan Papa-nya terdengar histeris.

Mbok Nah cemas melihat Chika pergi ke asal suara-suara itu. Ia nggak ingin Chika menyaksikan pertengkaran orang tuanya.

“Semua ini udah jelas!”, Papa berteriak lagi seraya melemparkan beberapa lembar foto ke hadapan Mama yang berdiri termangu di depannya, “Ini yang kamu lakukan di saat aku sibuk kerja, cari uang demi semua kebutuhan kamu itu!”

“Karena kamu sibuk terus makanya jadi begini!”, balas Mama berteriak lebih keras, “Kamu nggak pernah punya waktu buat aku!”

Lembaran foto yang tercecer di lantai itu membuat Chika penasaran, sehingga ia maju beberapa langkah dan sesaat kemudian kedua orang tuanya sadar akan kehadirannya.

“Chika…”, Mama menatapnya dengan mata yang dinodai air mata penyesalan.

Langkah Chika pelan saat menghampiri kedua orang tuanya.

“Chika, masuk ke kamar kamu”, kata Papa padanya sambil menunjuk ke tangga.

Tapi, Chika nggak menghiraukannya. Ia memunguti foto-foto itu untuk memastikannya sendiri. Di sana Mama terlihat berpelukan dengan laki-laki lain yang jelas bukan Papa-nya, bahkan laki-laki itu kelihatan lebih muda.Dalam sekejap, ingatan tentang keluarga harmonis dan sempurna itu lenyap. Ternyata inilah yang tersembunyi di balik kesempurnaan itu.

“Chika Sayang…”, Mama mendekatinya, tampak memohon maaf lewat tatapannya.

Papa terdiam melihat Chika syok dengan foto-foto dalam genggamannya.

Chika mengambil beberapa langkah mundur, memalingkan wajahnya dari sang ibu yang benar-benar kelihatan hancur. Tiada kata-kata yang bisa mengungkapkan bahwa dibandingkan perasaan Mama dan Papa-nya, perasaannya jauh lebih hancur. Yang terbayang di kepalanya adalah mereka akan tercerai berai.Akhirnya Chika berlari ke lantai dua sambil menangis. Merasa bahwa selama ini mereka hidup di atas kebohongan!*

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments