[Ch. 8] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Mejikuhibiniu

 

“Apa kamu sadar akibat perbuatan kamu kemarin?!”, Pak Heru setengah berteriak dari kursinya.

Lara masih diam. Tertunduk.

“Lara!”, hardik Pak Heru.

“Bisa nggak sih kamu berhenti bersikap jadi seorang guru yang takut reputasinya terancam cuma gara-gara murid nakal kayak aku?!”, balas Lara, “Kamu tahu aku memang nggak pernah peduli kalau harus dikeluarin dari sini!”

“Bicara yang sopan, Lara!”, Pak Heru benar-benar marah, “Ini sekolah!”

Lara tertawa sinis, “Aku benar-benar nggak ngerti”, katanya, menatap dengan marah dan kecewa, “Aku nggak pernah minta didatangi dan aku bahkan nggak tahu kita bakal kayak gini… apa karena aku masih kecil kamu seenaknya mendekat lalu menjauh karena takut sama anggapan orang?”

“Terus apa mau kamu sekarang?”, Pak Heru mulai tenang, menarik nafas panjang.

Lara tertawa sinis lagi, “Sungguh, aku sama sekali nggak ngerti…”, katanya, sambil berdiri, “Aku anak kecil yang dipaksa menerima kalau orang dewasa memang bisa seenaknya”

“Maksud kamu apa?”, tanya Pak Heru mengernyit.

“Kamu bilang nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama kayak Mama atau Papa-ku…”, kata dia, dengan setetes air mata di pipinya yang nggak bisa disembunyikan lagi, “Kamu bilang, nggak akan ninggalin aku… tapi kamu bohong…”

“Lara…”, Pak Heru tercekat sama kata-katanya sendiri. Tampak merasa bersalah, tapi ia nggak menghentikan Lara berlari pergi dari ruangannya.

Anak itu memang rumit. Sifatnya yang keras dan nggak mau mendengarkan orang lain seringkali menyulitkannya. Tapi, bukan salahnya, dia jadi seperti itu.

“Bocah tengik…”, gumam Bu Sandra, yang berdiri di pintu dan kesal Lara nggak melihatnya apalagi menyapa. Tiba-tiba tersenyum, jadi…begini kelakuan guru yang selalu diidolakan –termasuk oleh dirinya?

Benar-benar mengecewakan, pikirnya sambil mengintip ke dalam dan melihat Pak Heru amat tertekan.

---

“I’m sorry…”, suara lucu memohon di balik sebuah boneka beruang coklat yang imut. Lalu wajahnya Richard muncul tiba-tiba.

Molly kaget, lalu menghembuskan nafas. Berusaha tersenyum karena boneka itu dihadiahkan untuknya. Sebagai permintaan maaf.

“Makasih…”, Molly merona, saat Richard duduk di sampingnya, dia jadi deg-degan lagi. Memandangi bonekanya, ia tersenyum. Ini pertama kali seseorang memberinya hadiah yang manis.

“Jadi…kalau bonekanya di terima aku dimaafin kan?”, tanya Richard, meliriknya sambil menyikut bahu Molly.

“Bukan kakak yang salah kok…”, kata Molly, “Aku…cuma lagi sial…”

“Mereka udah dihukum sama Bu Sandra kok”, kata Richard, membayangkan waktu di kantin, ia melihat keempat cewek itu disuruh jualan makanan di kantin sekolah. Melayani anak-anak yang mau makan dengan papan gantungan dileher yang bertuliskan ‘Dihukum karena mem-bully’.

Mereka jadi bahan lelucon bagi cowok-cowok reseh yang lain. Biar tahu rasa. Selama sebulan lagi! Sedangkan Lara harus diskors tiga hari karena terbukti menonjok cewek-cewek itu sampai lebam.

“Eh, nanti pulang sekolah, kamu dijemput sama Papa kamu lagi?”, tanya Richard.

Molly tersenyum sambil menggeleng, “Nggak, aku harus berusaha sendiri”, katanya, “Aku nggak boleh lagi nyusahin orang lain… Aku pasti bisa”

Richard mengangguk-angguk, “Gitu dong!”, Richard menepuk punggungnya, sampai Molly kaget lalu dia malah cekikikan, “Disleksia itu bukan penyakit menular yang harus bikin kamu ngejauhin orang lain”

Molly tercenung. Darimana Richard tahu kalau dia mengidap disleksia?

“Jangan ditanya…”, kata dia berlagak misterius, “Aku tahu kok”

Molly hanya menatapnya bingung. Masih bertanya-tanya sendiri.

“Jaman sekarang kan ada ipad, ada Google…”, katanya lalu  tertawa. Ternyata Richard sampai mencari tahu sendiri soal penyakitnya Molly?, “Penderita disleksia itu sering nggak bisa konsentrasi, kesulitan bicara, membaca dan menulis kebalik-balik, atau nggak bisa mengingat hal-hal dasar, seperti bedain kanan atau kiri, urutan hari, atau bulan. Ada juga yang sering nyasar karena lupa jalan pulang.”

Molly tertunduk.

“Tapi, bukan berarti orang disleksia itu bodoh lho”, sambung Richard, melirik buku sketsa Molly di pangkuannya, “Kamu misalnya, kamu bisa gambar sebagus itu, bisa main piano juga. Kamu tahu nggak sih, banyak lho artis Hollywood yang sebenarnya disleksia?”

“Oh ya?”

Richard mengangguk, “Whoopy Goldberg, Kiera Knightley, Orlando Bloom, bahkan Albert Einstein juga disleksia”

Molly berusaha tersenyum, “Tapi, aku sering nyaris tinggal kelas”, katanya murung.

“Yah, mau nggak mau kamu harus nunjukin sama orang lain kamu bisanya apa”, kata Richard, “Aku punya ide”

“Hah?!”, Molly terkesiap.

“Makanya nanti pulang sekolah ikut aku, ya?”

“Kemana?”

“Pokoknya ikut. Aku janji deh bakal bawa kamu ke tempat yang bagus”

---

“Bonekanya bagus…”, Yuna tiba-tiba mengambil boneka yang ia simpan di tasnya, “Hm… pasti dikasih Richard”

“Dasar, reseh…”, celetuk Lara dari tempat duduknya lalu memandang keluar lewat jendela dengan jenuh.

“Eh, Lara, nanti kita jalan yuk”, kata Jonas sambil menengok ke belakang.

“Nggak!”, jawab Lara ketus, tapi paling nggak dia udah berhenti mengacungkan jari tengahnya saat lagi bete.

Kecewa, Jonas ngambek di bangkunya. Sempat melirik Getta di sampingnya, temannya itu malah tidur. “Dasar, tukang tidur…”, gerutunya menghela nafas panjang. Mana waktu kosongnya lama banget lagi, guru Sejarah pake acara sakit.

Bel akhirnya berbunyi. Sorak sorai anak-anak yang isi pikirannya cuma main dan keluyuran terdengar di mana-mana.

“Getta!”, panggil Molly di belakangnya, “Getta, bangun!”

Jonas tertawa, “Nggak tau deh sejak kapan Getta suka tidur. Nggak di mana-mana ketemu tempat duduk langsung tidur”, katanya, sambil menghampiri dan melototin wajah tidurnya Getta. “Woi! Bangun!”

Yuna tertawa sementara Lara kelihatan jengkel, “Kurang kerjaan…”, lalu meluncur lagi kayak hantu wanita yang suka menghilang misterius.

Sayang, Jonas nggak berniat mengejarnya lagi. Habis dari tadi sudah ditolak berkali-kali.

Getta hampir jatuh dari kursinya. Wajahnya yang kusut kelihatan kesal, Jonas nggak bisa bangunin pakai cara yang lain apa?

Di belakangnya, Molly masih cekikikan. Dia kelihatan ceria belakangan ini.

Anak-anak lain sudah pada kabur, bertebaran di setiap sudut sekolah –di halaman, di kantin atau di perpustakaan.

“Molly, mau ke mana sih buru-buru?”, tegur Yuna.

“Ada janji”, jawab Molly riang, lalu melambaikan tangannya pada mereka semua, “Sampai besok ya!”

Ada yang dengar Getta mendengus.

“Makanya gesit dikit dong!”, Jonas menyikut bahunya sambil cengengesan. “Lama-lama Molly bisa suka sama cowok playboy itu…”

“Emang Getta beneran suka sama Molly?”, Yuna menatap Getta, meyakinkan dirinya bahwa tebakannya benar, “Bener ya?”

“Eh, cebol!”, celetuk Jonas, lagi-lagi menarik kucir rambutnya, menjauh dari Getta, “Ikut campur urusan orang aja”

Yuna meronta, “Yeee!”, pekiknya, memukul-mukul tangan Jonas hingga terlepas dari rambutnya, “Siapa yang ikut campur! Gue juga lihat kali Getta mulai cemburu sejak pertama kali Richard masuk sini!”

Getta dan Jonas sama-sama diam.

Yuna mencibir Jonas, “Week!”, lalu berlari pergi, kegirangan nggak jelas.

---

Meskipun Karina bakalan kesal lagi begitu melihatnya, Molly sudah nggak peduli. Ia harus tetap menghadapinya. Soalnya begitu masalah terakhir benar-benar membuatnya terpukul, ia mulai merasa bahwa ia harus bangkit. Untuk bisa berdiri tegap, menghadapi orang-orang di sekitarnya. Saat Getta, Jonas, Yuna dan Lara datang menjenguknya ke rumah, ia merasa bahwa ia nggak ingin lagi kehilangan teman-temannya.

Dan bersama Richard hari ini adalah kejutan. Selain dari boneka beruangnya yang lucu, Richard mengajaknya ke rumah piano. Tempat di mana ada banyak sekali piano dan pengunjung bisa main  sebentar untuk sekedar mencoba.

Molly melihat sebuah piano Pleyel, persis dengan yang pernah ada di rumahnya dulu. Ia memutuskan duduk di sana, setelah Richard memaksa ia harus memainkan sebuah lagu.

Semua pengunjung –yang sebagiannya anak-anak. Berkumpul di sekitarnya, mendengarkan, mengikuti lagu Beauty and the Beast-nya. Molly terlalu menikmatinya sampai nggak sadar dan begitu ia mengakhiri lagunya, ia disambut oleh tepuk tangan dari mereka.

“Pianonya nggak dijual?”, tanya Molly pada Richard saat mereka baru meninggalkan rumah piano dan berjalan menuju tempat yang lain.

“Ya, sebagian ada yang bisa dijual dan sebagian lagi cuma barang titipan”, jelas Richard, “Pemilik rumah piano biasa perbaikin piano yang rusak.”

“Kakak sering perbaiki piano di sana?”,

“Nggak sih. Pernah beli piano di sana”, jelasnya, “Oh ya, kamu mau es krim nggak?”

Molly mengangguk.

“Nah, di ujung jalan ada yang jual es krim. Kita ke sana ya?’, ujarnya.

“Ya!”, jawab Molly dengan ceria.

Molly melihat sebuah kedai es krim yang membuatnya takjub. Gimana enggak, dindingnya yang seba pink dengan gambar hello kitty di mana-mana. Masa sih cowok seperti Richard bisa tahu ada tempat seperti ini? Bukannya tempat ini favoritnya cewek-cewek?

Richard menyodorkan buku menu supaya Molly bisa pilih sendiri es krim kesukaannya. Bentuk dan topping-nya macam-macam, Molly jadi bingung. Ia mulai sibuk sendiri dan nggak tahu bahwa di sudut lain di kedai itu, ada Chika yang duduk sendirian. Menikmati es krimnya dengan wajah murung seakan rasa manisnya berubah menjadi pahit saat ia menemukan Molly.

Tapi, Molly nggak sendiri. Ia bersama seseorang.

---

Seorang cowok bertubuh tinggi menemani Molly pergi ke kedai es krim. Cowok itu keren dan tinggi –wajahnya agak kebulean. Nggak nyangka, cowok yang segitu kerennya bisa kepincut sama Molly.

Selera makannya jadi hilang, sebelum Molly melihatnya, Chika memutuskan pergi dari sana. Meninggalkan es krim yang jadi nggak ingin lagi ia habiskan.

Sejak ribut sama Getta seminggu yang lalu, suasana hatinya selalu buruk. Apalagi Getta nggak pernah menghubunginya lagi. Chika sengaja membiarkannya sambil berharap Getta akan mengirim SMS atau menelponnya. Tapi, sampai sekarang, Getta kayaknya memang nggak peduli.

Atau dia memang marah.

Berjalan sendirian seperti ini, rasanya asing. Biasanya, ia dan Getta selalu lewat sini berdua. Menuju kedai es krim di ujung jalan dengan melewati beberapa toko yang merapat satu sama lain dan ramai. Kadang juga singgah di rumah piano, bermain sebentar.

Tapi, hari ini hanya dia sendiri. Chika menatap ke dalam rumah piano lewat jendela kaca yang memajang sebuah piano baru berwarna putih. Di rumah ia juga punya yang seperti itu. Suaranya bagus –karena harganya memang mahal dan bahkan diimpor dari Eropa. Dulu Papanya sengaja membelikan yang mahal. Karena menurutnya Chika haruslah mendapatkan semua yang terbaik.

Langkah kakinya membawa ia ke dalam. Di mana ada banyak piano berjejer tampak menunggu untuk dimainkan –dengan berbagai bentuk dan dari berbagai merek terkenal. Tapi, kebanyakan yang ada di sana adalah piano bekas. Tempat itu dipenuhi oleh anak-anak kecil yang melihat-lihat dan orang tua mereka yang sedang konsultasi dengan pemilik tempat ini.

Ya, Chika menemukan piano Pleyel, berada di deretan paling ujung. Tiba-tiba merasa tertarik, dan duduk di sana. Setelah membuka penutupnya, ia memainkan sebuah lagu yang menyihir setiap telinga untuk  mendengarnya. Sebuah lagu sedih tentang seorang yang begitu kesepian.

---

Chika menghampiri pria tua yang duduk di belakang meja kerjanya di sudut showroom.

Pria tua itu tampak sibuk dengan kertas-kertas not yang tengah ia susun.

“Pak, piano yang itu harganya berapa?”, tanya Chika padanya, menunjuk Pleyel yang baru ia mainkan.

Pria itu sedikit mendongak, melihat piano mana yang membuat gadis ini tertarik, “Maaf, Nak, piano itu nggak dijual”, kata bapak itu, tersenyum.

“Lho bukannya semua piano di sini dipajang untuk dijual?”, protes Chika.

“Nggak semua yang bisa dijual”, kata Bapak itu sambil berdiri dari kursinya, “Sebagian adalah barang titipan yang nggak boleh dijual”

“Tapi, saya mau bayar berapa aja buat piano itu…”, Chika setengah memohon.

“Kenapa kamu bisa tertarik sama piano jelek itu?”, tanya si Bapak, “Ada banyak piano lain yang bisa kamu beli”

“Saya punya yang lebih bagus di rumah, tapi…saya juga suka piano yang itu…berapapun pasti saya bayar”, ujar Chika yang merasa Papa-nya pasti akan membelikan semahal apapun itu –karena biasanya begitu.

“Ada banyak hal yang nggak bisa diharbai dengan uang, Nak…”, kata Bapak itu, lagi-lagi tersenyum, “Piano itu barang titipan. Dulu datang ke sini dalam keadaan rusak, setelah diperbaiki, pemiliknya belum datang menjemput makanya dipajang di sini”

“Kalau begitu saya boleh tau pemiliknya? Saya mau beli sama pemiliknya langsung…”, pinta Chika dan Bapak itu terdiam.

----

“Kamu sudah punya piano yang bagus, Sayang. Kenapa kamu minta dibelikan lagi?”, tanya Papanya yang nggak langsung menyetujui keinginannya.

“Piano itu memang bagus, Pa. tapi, yang ada di rumah piano itu suaranya jauh lebih bagus…”, Chika setengah merengek, “Memang bukan piano baru, tapi kata Bapak pemilik tempat itu, dulu piano itu dipakai sama pianis wanita terhebat di Indonesia…”

“Terus piano kamu yang sekarang mau dikemanain? Nggak mungkin ada dua piano di rumah…”

“Pa, rumah kita kan besar. Piano barunya bisa ditaruh di kamar aku kan…”, Chika mulai merengek, merajuk manja. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah selebaran, “Aku mau ikut kompetisi…”

“Kamu akhirnya ikut audisi, Sayang?”, tanya Mama yang mendadak senang, mengambil selebarannya dari tangan Papa.

Sebuah festival musik nasional akan digelar dua bulan lagi. Panitia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengasah bakat musik mereka di sini. Chika sudah membayangkan bahwa ini adalah acara yang besar yang akan membawa namanya bahkan hingga keluar negeri. Dan hanya anak-anak terpilih yang akan ada di dalamnya.

Please, Pa…”, pinta Chika semakin memanja, “Aku mau pianonya”

“Udah deh, Pa. Beliin aja”, kata Mama di belakangnya, “Kan buat anak kita juga”

“Oke, Papa mau beliin pianonya asal…”, kata Papa akhirnya, “Kamu bisa menangin lombanya? Gimana?”

“Yah, Papa… aku kan mau berlatih sama piano itu…”, Chika merengut.

“Kamu harus belajar untuk nggak selalu meminta dan manja. Harus ada usaha untuk semua yang kamu mau, Sayang…”, katanya, tersenyum, “Oke? Deal?”

Chika masih cemberut.

“Kemenangan kamu nggak ditentukan sama piano yang bagus, tapi bakat dan usaha kamu sendiri”, ujar Papa, “Piano yang bagus itu cuma bonus dari usaha keras kamu…”*

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments