[Ch. 7] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Plastic Girls 

Kosong!

Ruang keseniannya kosong.

Richard bilang dia selalu ke sini kalau istirahat siang. Tapi, seperti biasanya, ruangan ini kosong. Molly yang tadinya semangat mau bilang terima kasih –secara nggak langsung bikin Mama-nya nggak menyerah akan dirinya, sekarang jadi lemas.

Mau cari Richard ke mana? Molly sama sekali nggak tahu Richard di kelas mana. Lagian kalau masuk ke areanya anak kelas tiga pasti bakal di-bully sama anak-anak jahil yang sok senior. Soalnya kejadian itu sering terjadi sama anak-anak yunior.

Tapi, nggak nyangka juga, Molly menemukan beberapa di antaranya di ruang kesenian. Mereka baru aja masuk. Memandangi keempatnya, Molly merasa nggak mengenal satupun di antara mereka. Terkejut, Molly mencium kemarahan pada cewek-cewek itu. Nggak tahu kenapa, Molly merinding begitu salah seorang dari mereka menghampiri –seorang cewek, rambutnya panjang banget dan lebih tinggi dari Molly. Cantik sih, tapi karena marah jadi kelihatan nyeremin.

“Nyari Richard ya?”, tanya dia, bertolak pinggang –ala cewek-cewek nyebelin yang biasa kita lihat jadi pengganggu di film-film.

Molly mundur beberapa langkah tapi tiba-tiba diseret.

“Sini lo!”, cewek itu menyeretnya, mendorongnya ke arah teman-temannya dan mereka menyambut tubuh Molly yang lemah dengan seringai menakutkan.

Mulut Molly dibekap pake tangan, kedua tangannya di tekuk di belakang. Ia dipaksa berjalan di depan, sementara cewek jahat yang memegangi tangannya berteriak padanya supaya nggak melawan. Dua di antara celingak-celinguk di sepanjang lorong, memastikan nggak ada orang yang bakal melihat kelakuan mereka.

Molly terus-terusan menjerit minta tolong, tapi suaranya tertahan. Ia ketakutan. Apa sih salahnya? Apa sih yang dia lakukan sampai cewek-cewek ini menjahatinya? Molly cuma nggak tahu mereka adalah Karina, Jessica, Adel dan Vina –geng cewek penindas cewek-cewek lain.

---

“Gue nggak percaya cewek begok kayak lo, berani deketin cowok gue!”, cerca si rambut panjang, setelah Molly di lempar ke dinding toilet. Ia tampak nggak puas meski melihat Molly ketakutan setengah mati. Ia menarik lengan Molly lagi, mendorongnya ke kaca, “Lo ngaca nggak sih?!”

Kedua temannya tengah berjaga-jaga di depan pintu memastikan nggak ada yang bakal masuk ke toilet cewek –dimana Molly bakal disiksa atas kesalahan yang nggak dia sadari.

Molly hanya meringis kesakitan –tubuhnya dibanting sana-sini. Tapi, ia tetap nggak mengerti kenapa mereka segitu marahnya. Molly nggak merasa mendekati cowok manapun.

“Cewek jelek kayak lo bener-bener bikin gue jengkel!”, teriaknya lagi di telinga Molly, “Pede banget lo godain Richard kayak dia bakal mau sama lo!”

Molly menggeleng-geleng –berharap cewek ini mengerti kalau kemarin Richard cuma mengantar pulang dan nggak ada yang lebih dari itu. Lagian mereka baru tiga kali ketemu. Kenapa Molly dipaksa terima kalau dia itu mengganggu?

“Lihat nggak sih kayak gimana tampang lo? Lo tuh cupu banget!”, teriaknya lagi dan salah seorang temannya memegang selang air.

---

“Eit!”, seorang cewek terlihat menghalangi jalan, bersama seorang temannya yang berdiri di depan pintu –membuat pertahanan ala anak kelas tiga yang sok berkuasa. “Lo nggak boleh masuk”

“Minggir!”, Lara bertolak pinggang di depan keduanya dengan berani. “Emang lo berdua tukang jaga toilet apa?”

“Lo dilarang masuk, denger nggak sih?!”, seorang lagi menantang Lara dengan maju selangkah.

“Lo berdua emang bego ya? Mau aja ngekorin Karina kemana-mana kayak pembokat”, celetuk Lara sinis.

“Diem lo! Udah tinggal kelas masih aja belagu!”, cetus salah satunya mendorong Lara menjauh.

Lara mundur beberapa langkah sebelum dia bergerak secepat yang dia bisa, menembus dua cewek itu, melewatinya dengan balas mendorong mereka lebih kuat. Meskipun agak melelahkan, tapi ia berhasil masuk dan terkejut melihat Karina –mantan teman sekelasnya dulu tengah mem-bully seseorang.

“Lara!”, jerit Adel menyeruak ke dalam dengan kesal, ingin kembali menyeret Lara keluar.

Lara terlanjur menemukan Molly baru saja disemprot air sama Karina. Dia basah dan menangis, meringkuk di sudut toilet. Bikin Lara jadi gusar. Begitu Adel mendekat ingin menariknya keluar, ia mendorongnya lebih dulu, mengenai Vina. Mereka jatuh, menghempas pintu yang nggak tertutup. Berakhir memalukan di lantai dengan teriakan sakit.

“Lihat siapa yang datang…”, Karina menyeringai, lepas dari rasa terkejutnya sendiri, ia kelihatan nggak takut sama amarahnya Lara. “Lara Sophia, si cantik yang nakal…”

“Makasih”, ucap Lara sinis, “Tapi, lo bisa lepasin dia nggak?”

“Oh?”, Karina bertolak pinggang, “Apa urusannya sama lo?”

“Gue bilang lepasin”, kata Lara dengan suara tenang, tapi tatapan matanya menyampaikan ancaman yang sungguh-sungguh. Mendekat selangkah, Karina mundur, merasakan hawa yang mengerikan Lara yang sudah dia kenal sebagai cewek brutal –bahkan lebih brutal darinya.

Gimana pun Lara pernah hampir dikeluarkan dari sekolah karena berantem. Dia selamat karena mendapatkan pembelaan dari Pak Heru. Dan itu pun masih gara-gara orang yang sama –Karina yang dikenal sebagai cewek sombong yang senang menindas cewek-cewek yang dianggap nggak gaul.

“Enggak!”, teriak Karina menantangnya. “Kalau gue nggak mau lepasin, lo mau apa?”

Lara benar-benar nggak bisa menahan amarahnya lagi. Dia merampas selang air dari tangan Jessica dalam hitungan detik  dengan memukul mundur cewek itu sampai ia menghempas wastafel dan jatuh kesakitan di lantai. kedua temannya yang lain –Adel dan Vina, berlari ke arahnya karena mendengarnya menjerit. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Lara menyemprot Karina tanpa ampun.

Mereka boleh menguasai seisi sekolah dengan menindas cewek-cewek lemah –termasuk Molly. Tapi, sampai sekarang nggak satupun yang bisa mengalahkan Lara.

---

“Apa salahnya lo teriak sama mereka kalau lo nggak suka?!”, Lara masih marah. Berjalan terburu-buru di depan ia kelihatan belum bisa meredakan amarahnya sejak mereka meninggalkan toilet begitu Karina dan teman-temannya ngabur. “Gue nggak ngerti kenapa lo biarin orang-orang itu semena-mena sama lo!”

Molly cuma meringis, melangkah terseok mengikuti Lara kembali ke kelas. Dengan seragam yang basah sekali, ia dipelototin sepanjang lorong sama anak-anak lain. Gimana jadinya kalau ia masuk kelas dengan keadaan begini? Pelajaran sebentar lagi juga mulai. Molly sangat ketakutan dan bingung. Sementara Lara nggak bisa berhenti memaki-maki saking kesalnya melihat Molly yang pasrah diperlakukan nggak adil.

Jaman sekarang masih ada ya orang sebegok ini?, Lara masih mendecak kesal saat ia tiba di kelas.

Semua orang memandangi ekspresinya yang kesal itu. Lalu mereka kaget begitu Molly masuk.

Cewek itu terdiam di depan pintu dan menggigil kedinginan.

Hampir semua siswa udah duduk di kursi masing-masing dan melihat ke arahnya.

“Molly?!”, Getta berdiri dari kursinya tiba-tiba, diikuti Jonas yang nggak kalah syok.

Molly masih terdiam, menangis. Nggak bisa berhenti meneteskan air matanya.

“Dia dikerjain sama anak kelas tiga di toilet”, kata Lara merengut sambil menghela nafas.

Yuna menghampiri, “Lo nggak apa-apa?”, tanya dia memandangi Molly kasihan.

“Nggak apa-apa gimana?”, cetus Lara. “Lo lihat nggak sih dia nyaris mati berdiri!”

Yuna mengernyit, cewek ini luar biasa garang!

“Ini nggak bisa dibiarin, kita harus lapor guru”, kata Getta pada yang lain. Mereka keluar dari kelas bersama, membawa Molly serta.

---

Richard masuk, dia tampak merasa bersalah juga bingung. Kenapa masalahnya bisa jadi begini? Di ruangan guru ia melihat ke empat cewek yang biasa mengganggunya –Karina, Jessica, Adel dan Vina. Mereka semua terlihat berantakan. Ditambah Molly yang juga acak-acakan dan Lara yang tampak menahan amarah. Mereka sedang berhadapan sama Pak Heru, Bu Yanti–guru konseling dan Bu Sandra –wali kelas Karina cs.

“Richard, apa kamu tahu apa yang terjadi saat istirahat siang?”, tanya Bu Riana, di balik kaca mata besarnya, tatapannya terlihat jengkel. Entah ke berapa kalinya ia harus menangani masalah yang selalu berhubungan sama Karina dan Richard.

“Saya sama sekali nggak tahu, Bu”, jawab Richard. “Saya juga kaget kenapa bisa jadi begini”

“Karina!”, panggil Bu Yanti, menatap cewek itu lekat-lekat hingga merinding. Di sekolah yang isinya anak-anak bandel semua harus ada guru yang menakutkan supaya mereka nggak berbuat nakal –apalagi mem-bully teman sendiri. “Kali ini, kamu mau bilang apa untuk membela diri?”

Karina tertunduk, terbayang sudah setelah ini orang tuanya bakal dipanggil, dimarahi dan dihukum. Semua gara-gara cewek dungu itu!, katanya dengki sambil melirik ke arah Molly yang masih memeluk dirinya yang kedinginan. “Sa…saya…dipukul Lara, sakit banget…”, katanya.

“Kalau kamu tahu sakitnya dipukul kenapa kamu menyeret Molly ke toilet?”, balas Bu Yanti.

“Tapi, saya nggak mukul dia, Bu…”, ringisnya, tampak amat kesakitan.

“Iya, kita nggak mukul dia!”, seru Adel dan Vina. “Kami juga dipukulin Lara!”

“Diam!”, hardik Bu Yanti, sambil memukul meja, “Kalian pikir itu bisa menyelamatkan kalian dari hukuman?!”

Semua terdiam. Nggak ada yang berani menatap Bu Riana langsung ke matanya.

“Kamu juga, Lara!”, suara Bu Yanti seperti petir di siang bolong, mengagetkan Lara dan membuat Molly bertambah ketakutan. “Kamu pikir kamu boleh memukul orang walaupun membela teman?”

Lara seketika berdiri, menatap Bu Yanti tegas, ia menemukan Pak Heru syok melihatnya tampak ingin melawan. “Saya nggak membela siapapun!”, katanya dengan berani, “Saya cuma ngelakuin apa yang menurut saya benar!”.

“Lara!”, hardik Pak Heru.

Lara menunjuk Karina dan teman-temannya, “Mereka harus dikasih pelajaran karena selama ini ditakuti sama orang lain bikin mereka jadi besar kepala!”, kata Lara, “Mereka pikir selama ini mereka punya hak buat menindas orang lain!”

“Lara, duduk!”, hardik Pak Heru lagi.

“Terserah, saya mau dihukum atau dikeluarin dari sekolah ini…”, balas Lara, dengan suara yang gemetar, ia meninggalkan ruangan itu.

---

Lara menghilang di ujung lorong setelah ia keluar dari ruangan konseling dengan raut kesal; membanting pintu pula. Tapi, cuma Jonas yang sadar kalau Lara tengah menangis sehingga ia mengejarnya.

“Lara?!”, panggil Jonas.

Lara berbalik, “Jangan ikutin gue!”, teriaknya marah.

Jonas menghentikan langkahnya, mungkin membiarkannya sendiri lebih baik saat ini.

“Dia beneran nggak peduli apa-apa ya…”, komentar Yuna setelah Jonas kembali lagi. Ia dan Getta masih menunggu Molly keluar dari balik pintu itu.

Getta bersandar ke dinding, tampak sedikit gelisah, meskipun ia sudah berusaha tenang. Tangannya mengepal kuat seolah ingin memukul seseorang. Tapi, siapa? Richard?

“Molly nggak pernah berubah”, kata Jonas padanya, “Dari SMP dia selalu nggak bisa menyesuaikan diri. Nggak punya teman, nggak ada yang mau temenan sama dia”

“Masa?”, Yuna mengernyit.

“Dulu sih ada”, kata Jonas, tertegun, teringat pada sosok keji Chika yang seolah merampas semua yang dia milikki. Teringat pada kesalahannya sendiri. “Tapi, sekarang…”

Getta mengangkat kepalanya, menatap Jonas, yang jadi nggak bisa bicara lagi.

Terlalu sulit untuk dijelaskan. Kalau Getta tahu kejadian sebenarnya, dia pasti marah.

 Pintu terbuka, cewek-cewek jahat itu keluar lebih dulu dengan wajah cemberut. Diikuti Richard lalu Molly yang masih terisak.

Getta segera menghampirinya, “Molly?”

Molly berusaha tersenyum ketika melihatnya –ternyata Getta menunggu di luar.

“Kamu nggak apa-apa?”, tanya Getta.

Molly menggeleng-geleng, tapi lega dan senang.

“Molly?”, tegur Richard, yang hendak mendekat, ingin minta maaf, tapi Getta menghalanginya dengan menarik Molly menjauh darinya.

Molly bingung, menatap Richard lalu Getta. Ekspresi Getta tampak menyalahkan Richard atas apa yang terjadi padanya. Meski bukan salah Richard juga, tapi kejadian hari ini memang ada hubungan dengan dirinya. Melihat Karina masih di sekitar mereka masih membuat Molly ketakutan sendiri.

Cewek itu masih menatapnya penuh kebencian. Entah apa lagi yang akan dilakukannya besok. Meskipun mereka dihukum sepertinya mereka belum akan berhenti. Awalnya sih memang karena Richard, tapi setelah ini mungkin nggak ada hubungannya lagi sama cowok itu. Sekarang Karina pasti sudah memiliki dendam pribadi terhadapnya. Mengerikan.

Molly menarik dirinya, menjauh dari Richard. Dan mengabaikan tatapan benci Karina padanya.

Richard cukup syok. Ia membeku menyaksikan Molly akhirnya dibawa pergi sama teman-temannya. Tapi, ia jadi heran sama cowok yang bersamanya –yang bersikap seperti pacarnya Molly. Apa-apaan…, gerutunya.

“Richard…”, panggil Karina, dengan wajah menyesal tampak ingin membujuknya.

“Apa lagi sih?’, balas Richard gusar. “Lain kali kalau mau nindas orang nggak usah bawa-bawa nama gue”, katanya, sebelum pergi.  “Tingkah lo norak, tau nggak?!”

---

“Get?”, tegur Chika.

Getta tersadar. Ia pikir dirinya masih di sekolah, menemani Molly menunggu Papanya sampai datang. Tapi, ternyata sekarang ia sudah duduk bersama Chika di kedai es krim yang biasa.

“Lo kenapa?”, tanya Chika heran, sikap Getta sejak mereka masuk ke sini aneh banget.

Dia nggak ngomong sesuatu selain jawaban pertanyaan Chika –‘iya’ atau ‘nggak’.  Kayaknya bosan atau memang lagi mikirin sesuatu.

“Ada masalah?”, tanya Chika lagi, memperhatikan dengan baik raut wajah Getta yang datar.

Getta menarik nafas, menatap Chika. Tiba-tiba terpikir untuk menyuarakan isi pikirannya. “Di sekolah ada kejadian tadi”, katanya.

“Kejadian apa?”, Chika bertanya dengan santai sambil menyendok es krim vanilla-nya. “Kayaknya serius deh”

“Molly dikerjain sama senior”, jawab Getta, tenang. Merasa bahwa membahas Molly masih adalah sesuatu yang wajar.

Tapi, jantung Chika malah deg-degan nggak karuan. Tiba-tiba ngomongin Molly, lebih-lebih sadar kalau sedari tadi Getta ngelamun cuma karena mikirin Molly.

“Dikerjain?”, Chika berusaha tenang, “Kok bisa?”

“Dari dulu dia memang sering dikerjain kan…”, sambung Getta. “Karena pendiam, lemah dan marah pun nggak bisa, orang-orang jadi berpikiran kalau dia tuh bisa dimainin buat senang-senang”

Chika terdiam.

“Jonas bilang di SMA juga dia nggak punya teman”, katanya, menatap Chika serius, “Tepatnya… dia nggak pernah punya teman…”

“Ma…masa sih…”, Chika mulai nggak tenang.

“Rasanya nggak masuk akal saat lo bilang Molly udah lupa sama lo gara-gara dia punya teman-teman baru”, sambung Getta, “Gue lihat sendiri semua orang di sekolah itu lebih suka menganggapnya nggak ada. Gimana bisa orang yang punya banyak teman masih di-bully sama yang lain?”

“Jadi lo pikir gue bohong?!”, Chika mulai marah.

Getta jadi pusing, reaksinya berlebihan. Bukan menuduh, Getta cuma bilang yang sebenarnya –masih berpikir Chika salah paham soal Molly. Tapi, sikap Chika itu memang rada aneh.

Chika berdiri dari kursinya, “Lo tuh nggak tahu kan gue tuh lebih mirip sama baby sitter-nya Molly daripada sahabat!”, kata dia, nada suaranya meninggi dan emosi, “Gue sering ngerjain PR-nya supaya dia bisa dapat nilai bagus dan nggak tinggal kelas! Nulis yang bener aja dia nggak bisa, baca aja nggak becus! Belum lagi tiba-tiba dia nyasar dan gue harus nyari sampai ketemu terus ngantar dia pulang! Gue tuh capek, Get! Gue butuh teman buat sharing bukan jadiin gue baby sitter!”

“Tapi, lo nggak harus mengada-ada kan…”, ujar Getta, “Semuanya bikin gue jadi bingung…”

Chika hampir menangis, saat tiba-tiba ia berlari keluar. Meninggalkan es krim yang belum ia habiskan.*

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments