[Ch. 5] SLEEPING UGLY - Baca Novel Romantis Remaja Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Richard

“Woi!!”, suara Jonas membuat Getta terlonjak dan hampir aja jatuh berguling di anak tangga. Cowok kurus itu terpingkal-pingkal sampai ia nggak bisa ngomong, setelah ia melempar Getta dengan sesuatu –tasnya yang sengaja dibawakan Jonas  karena kelasnya sudah bubar.

“Sialan…”, Getta mendecak, kesal karena ulahnya itu. Sambil memperbaiki duduknya, ia memandangi Jonas merengut. 

“Ternyata alasan lo pindah sekolah supaya bisa bolos terus tidur di tangga darurat, gitu?”, ejeknya, “Soalnya di sini nggak akan ada yang peduli lo mau bolos seharian, nggak kayak sekolah lo yang lama, iya kan?”

“Ah, apaan sih?! Gue cuma ngantuk…”, keluhnya, “Semalam gue begadang nonton DVD”

“DVD apaan nontonnya sampai tengah malam?”, candanya menyikut bahu Getta dengan senyum cengengesan, “Pinjem gue dong!”

“Otak lu rusak!”, cetus Getta sambil berdiri dan meraih tasnya, “Udah ah, gue pulang dulu”

“Jie, anak baik, mau langsung pulang”, ejek Jonas lagi.

“Diem lo!”, teriaknya masih jengkel dengan raut kusut. 

Beneran, kelakuan Jonas dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah. Getta aja cowok, bisa dibikin gerah, apa lagi cewek? Buktinya tiap deketin cewek aja, Jonas langsung dilabrak karena tingkahnya yang norak.

Sekarang, dia kepedean banget mau ngejar-ngejar Lara? Yang bener aja… cewek sekasar Lara?

Jonas menemukannya, satu di antara cewek-cewek yang menjerit nggak jelas sambil jalan. Ia kelihatan berjalan sendirian ke gerbang sekolah sambil menyandang ranselnya. Seperti biasa cewek itu sendirian dan Jonas jadi ingin menghampirinya untuk mengajaknya pulang bareng.

Dengan berani, Jonas berlari, nggak peduli Getta yang  bingung –mau ke mana sih?

Getta cuma menghela nafas, sadar Jonas memang lagi kesengsem sama cewek kasar dan nyebelin itu. Palingan Jonas bakal ditonjok, habisnya ketika cewek itu memberi jari tengah sama orang yang nggak disukainya, kelihatan banget tangan itu mau memukul seseorang itu.

Cewek model begitu, nggak ada cantik-cantiknya sama sekali. Tapi, apa boleh buat, sudah klepek-klepek…

Usaha Jonas kelihatannya nggak berhasil. Jangankan diajakin mau pulang bareng. Lara mengabaikan Jonas, seolah nggak melihat ataupun mendengar candaan modusnya yang basi. Selalu, Lara meloyor pergi sambil bilang, ‘Minggir!’ dengan jari tengahnya.

Beneran, cewek nyebelin…

“Kayak nggak ada cewek yang lain aja…”, Getta menepuk punggung Jonas, menyadarkannya, bahwa cewek biasa aja susah dimengerti apa lagi yang sedingin Lara.

“Dia itu beda dari cewek lain”, kata Jonas, melanjutkan langkahnya dengan lesu, dan mengedarkan pandangannya ke sekitar, “Lo lihat deh, cewek-cewek di sini tingkahnya pada norak…”

Getta mendengus lagi, “Cewek di mana-mana juga gitu”, katanya.

“Di sekolah lo yang lama gimana? Apa nggak ada yang cakep yang bisa lo pacarin?”, tanya Jonas.

“Cakep menurut lo apa?”, tanya Getta terkekeh, “Cakep mukanya atau body-nya”

“Ya dua-duanya lah!”, celetuk Jonas gusar, kenapa becandanya Getta kayak orang bego?

Cantik itu… cantik yang bagaimana sih?

Getta cuma menggeleng, “Yah, banyak…”, jawabnya, jadi ingat Chika. “Eh, lo pernah tahu nggak kalau gue sama Chika satu sekolah?”

Jonas tersentak, terdiam sebentar, sebelum dia mengangguk sedikit, “Yah, sekolah lo yang lama cuma buat orang-orang kayak kalian…”, komentarnya, “Semua juga tahu kalian juga bakal masuk ke sana, jadi pasangan sempurna kayak yang dibayangin cewek-cewek lebay itu”

Getta tertawa, mendorong lengan Jonas, “Ah, lo apaan sih?”, celetuknya.

Jonas menghela nafas, tiba-tiba murung.

“Lo kenapa sih?”, tegur Getta, “Kenapa setiap gue ngomongin Chika lo jadi nggak semangat gitu?”

Jonas diam.

“Jangan-jangan lo pernah naksir Chika…”, Getta malah godain dengan senyum misterius yang bikin Jonas langsung keki.

“Naksir apaan?! Cewek nenek sihir begitu, ogah gue!!”, teriaknya tiba-tiba, dan Getta kaget.

“Eh…”, Getta nggak nyangka ekspresi Jonas sampai tegang begitu. Nenek sihir? Ucapan yang kasar untuk seseorang yang dulu bahkan teman akrab sendiri kan?

Jonas jadi bingung, “Ah, udah!”, gerutunya kesal sendiri, “Gue pulang deh!”, anak itu langsung meloyor pergi, meninggalkan Getta yang masih bingung.

Aneh…

Belum puas memikirkan tingkah aneh Jonas yang datang mendadak, Getta malah merasa ada sesuatu yang nggak beres. Kenapa ya sejak SMP semuanya jadi tercerai berai? Chika dan Molly udah nggak sahabatan lagi, dia dan Jonas juga sempat nggak main bareng untuk waktu yang lama. Yang ada, malah pertanyaan di kepala Getta jadi tambah banyak.

Di saat lagi pusing sendiri, ia juga melihat Molly berjalan sendirian. Ada sebuah mobil di gerbang depan yang datang menjemputnya. Ia nggak terlihat lagi begitu naik ke mobil itu. Tiba-tiba jadi kepikiran sama omongannya Chika –Molly punya banyak teman baru sekarang. Tapi, kenyataannya di sini, cewek berambut lurus pendek dan pemalu itu selalu menghilang entah ke mana di jam istirahat. Kalaupun kelihatan, ia selalu sibuk dengan alat gambarnya –bukan dengan cewek-cewek lain yang kelihatannya lebih suka ngeledekin.

---

“Pa, Molly boleh nanya nggak?”, Molly melirik ke sampingnya dengan hati-hati.

“Kamu mau nanya apa, Sayang? Kayaknya serius banget”, jawab Papa, menoleh ke arahnya sebentar, sebelum fokus ke jalanan di depan.

“Kenapa sih Mama nggak main piano lagi?”, tanya Molly, menatap ayahnya serius.

Papa terdiam sebentar, kayaknya pertanyaan itu salah deh. Tapi, ketika Papa menoleh sambil tersenyum, sepertinya sadar, Molly sudah harus tahu kenapa sifat Mamanya menjadi begitu keras padanya.

Yang Molly tahu, Papa dan Mamanya menikah tanpa restu orang tua. Dulu Molly sering ditinggal sama Papa karena Mama sering ikut kompetisi ke sana-sini, bahkan sampai ke luar negeri. 

“Mama kamu main pianonya jago banget”, kata Papa, “Akibatnya, banyak yang nggak suka, terlebih Mama kamu juga orangnya sombong. Yah… Papa harus bilang begitu; dulu kita menikah karena kamu sudah lebih dulu hadir. Dan Mama kamu belum siap melepaskan semua yang dia miliki saat itu. Papa mengalah dan ngurusin kamu sendirian sementara Mama kamu ngelanjutin kuliah dan ikut kompetisi di luar negeri…”

“Apa saat itu Mama sama sekali nggak mau ngurusin aku?”

“Mama kamu sayang banget sama kamu. Waktu kamu lima tahun, Mama jadi sadar karena kamu nggak bisa mengenalinya lagi. Begitu kuliahnya selesai, kita mulai hidup bersama, jadi keluarga walaupun ada  banyak masalah”, ujar Papa, “Tapi, dia punya harapan kalau kamu juga bisa main piano, melanjutkan semua yang belum bisa dia raih karena ingin membesarkan kamu”

Memori ketika Molly dan Mama main piano itu berputar di kepalanya. Ada cahaya yang mengelilingi mereka saat itu. Cahaya yang membawa kedamaian, tapi itu sudah lama berlalu.

“Tapi, semuanya nggak semudah itu, Molly”, sambung Papa, “Jalan Mama kamu untuk meraih mimpinya belum benar-benar tertutup. Saat itu, dia diutus untuk mewakili Indonesia di festival musik di Austria. Dan entah, nasibnya yang nggak beruntung, seorang teman yang iri, mencelakai Mama kamu”

Molly terkesiap, “Apa yang terjadi sama Mama?”, tanyanya.

“Orang itu menjepit tangan Mama kamu dengan penutup tuts piano sampai patah”, jelas Papa, “Butuh waktu lama untuk sembuh. Tapi, setelah sembuh, Mama kamu nggak mau lagi main piano, dia juga nggak mau pegang piano. Bahkan piano di rumah, harus disingkirkan karena Mama selalu kepikiran untuk menghancurkannya”

“Sampai sekarang?”, 

Papa mengangguk, “Kamu sudah besar, dan Papa harap kamu bisa mengerti, kalau sebenarnya Mama kamu itu… sayang banget sama kamu. Walaupun sifatnya keras, tapi… dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk kamu”, ujarnya sambil membelai puncak kepala Molly.

Akhirnya mereka sampai. Molly segera turun begitu mobil berhenti di depan pagar. Papa melambaikan tangannya karena harus kembali ke kantor.

---

“Motornya mana?”, Chika tampak heran, menemukan Getta yang berdiri nggak jauh dari gerbang, sendirian.

“Udah nggak ada”, jawab Getta, “Emang lo keberatan kalau jalan nggak pake motor”

“Enggak sih…tapi kok bisa?”

“Gue udah tinggal sama nyokap sekarang”, jawab Getta, tiba-tiba murung.

“Jadi…kita bakal ke mana?”, tanya Chika, dengan senyum dan wajahnya yang riang.

“Terserah lo aja deh…”, jawab Getta agak malas-malasan, sambil menutupi wajahnya dari serang cahaya matahari yang nggak bersahabat, “Panas nih…”.

“Mumpung panas, kita makan es krim aja yuk…”, ujar Chika, “Gue yang traktir…”

“Nggak mau ah”, cetus Getta, “Ogah ditraktir cewek!”,

“Yeee…biasa aja kali, Get. Atau… lo aja yang bayar… hihihi…”, Chika mulai cengengesan, kegirangan nggak jelas. 

“Udahan, ah! Nanti dilihatin sama yang lain, gue yang repot”, celetuk Getta melangkah lebih dulu dan Chika menyusul dengan bahagia.

Seolah nggak ada sesuatu yang mengganggunya. Seolah sudah memastikan bahwa sekalipun sekarang Getta udah pindah sekolah –ke sekolah Molly pula, nggak akan ada yang berubah. Tapi, sebenarnya Chika cuma berusaha untuk bersikap wajar. Menyembunyikan ketakutan kalau si reseh Jonas bakal buka mulut. Dan sekarang Chika masih mencari jalan supaya Getta tetap ada di sampingnya –terus seperti ini.

Tapi, tetap aja ada sesuatu yang bikin Chika gelisah sedari tadi.

“Jonas bilang apa aja sama lo?”, tanya Chika tiba-tiba saat mereka lagi diam-diaman karena Getta udah bรชte duluan saat mereka masuk kedai es krim. Habisnya dia memang nggak suka tempat mencolok serba pink dan Hello Kitty begini.

Kayaknya kalau lihat ada cowok yang masuk sini, kesannya nggak kece banget. Tapi, untungnya cuma nemenin Chika, yang menurut Getta aneh. Nggak biasanya dia ngomong yang nggak penting, sepanjang jalan nggak putus-putus. Bikin Getta jadi nggak bisa mikir untuk dirinya sendiri dan malah nanggapin obrolannya Chika yang nggak ada isinya. Ngomongin soal Papanya yang tergelincir masuk kolam renang lah, Mama-nya yang menjerit nggak karuan karena lihat tikus lah, ngomongin teman sekelasnya yang ketahuan nyonteklah, yang lagi kasmaran atau putus,  macam-macam deh pokoknya. Dan dari semua itu, nggak  satu pun yang ada hubungannya sama Getta.

Jonas cuma bilang kalau Chika cewek nenek sihir, tapi nggak mungkin juga Getta harus jawab begitu. Dan rasa heran tadi balik lagi, kayak flashback. Muka Jonas waktu bilang begitu juga kelihatan kesal. Bikin Getta jadi bertanya-tanya.

“Nggak ada sih”, jawab Getta menyesap milkshake coklatnya lewat sedotan.

“Lo ketemu Molly kan?”, tanya Chika tiba-tiba. Jadi cewek yang kayaknya mulai cemburuan.

“Ya, kita sekelas”, jawab Getta acuh dan tenang.

“Gimana perasaan lo waktu lihat dia lagi?”, Chika makin menjadi dan Getta menatapnya dingin.

Ini nih, yang bikin Getta malas. Udah lama berlalu masih juga diungkit-ungkit. Tapi, toh apa gunanya terus terang kalau sebenarnya, waktu melihat Molly lagi sudah nggak ada rasanya. Lagian, Chika belum punya hak untuk tahu sejauh itu. Karena di antara mereka masih nggak jelas, dan Getta kayaknya memang nggak tertarik pacaran. Sekalipun tahu, di sekolah Chika memang jadi rebutan –sampai Getta pernah di-bully kakak kelas supaya menjauhi Chika.

“Biasa aja”, jawabnya datar.

“Yakin?”, tatapan mata Chika tampak memaksanya.

“Justru gue yang harusnya nanya, sebenarnya ada apa sih antara lo sama Jonas?”, Getta menimpali dan Chika terhenyak.

“Ada apa maksudnya?”, Chika mengernyit, “Emang gue sama Jonas ngapain?”

“Maksud gue bukan seperti yang lo bayangin…”, Getta jadi tambah mumet, kayaknya sudah salah mengajukan pertanyaan, “Tapi, kalian pernah berantem kan?”

“Berantem?”, Chika tetap tenang. Tapi, dia mulai cemas, Jonas ngomong apa nih?Itu anak memang biang masalah!

Getta memandanginya, berusaha menemukan sesuatu di wajah Chika, tapi cewek itu nggak menunjukan apa-apa. Selain dari wajah yang mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Lo kan tahu Jonas emang reseh, kali aja dia ngerasa karena sering bikin gue sebel”, jawabnya.

Makin dipikirkan, makin bikin kesal. Getta nggak lagi bertanya. Memang apa gunanya diungkit? Toh semuanya sudah jauh berubah, termasuk perasaannya sama Molly. Ada masalah yang lebih penting sekarang, yang nggak bisa nggak dipikirkan. Tapi, memberitahu Chika dan memintanya mengerti hampir nggak mungkin, karena Chika selalu mengandalkannya dan Getta hampir nggak pernah bisa mengelak. Rasanya kayak dijebak tanpa perlawanan!


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments