๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pelangi setelah Hujan
Tahun kedua…
Tahun kedua dimulai. Ada yang senang ketemu teman-teman lagi dan ngumpat karena liburannya terlalu singkat. Bagi Molly nggak ada yang istimewa. Seperti hari pertama ia masuk ke sekolah ini dengan perasaan super-plain di mana ia nyaris nggak merasakan apapun, selain cuma bilang "aku bukan anak SMP lagi", dalam hatinya.
Sekolah nggak punya arti khusus selain 'gaul'.
Papa menepikan mobil nggak jauh dari gerbang. Supaya Molly bisa turun untuk salaman cium tangan dan turun tanpa semangat seperti menyeret barang yang beratnya ratusan kilo.
"Nanti Papa jemput ya...", katanya berpesan sebelum pergi
Selamat datang kembali di sekolah tercinta, meski kalimat itu nggak tertulis di gerbang, tapi wajah guru yang tersenyum suka cita menyiratkan lebih. Terutama Pak Heru, guru Fisika yang baik dan ramah.
"Gimana, Molly? Kamu udah semangat lagi?", tegur dia, saat Molly kebetulan lewat di depan ruangannya dan tiba-tiba pria dewasa itu muncul dari balik pintu.
Molly sedikit malu, di sekolah ini cuma Pak Heru yang menganggapnya ada. "Ya, Pak", Molly mencoba menunjukan semangat itu, dan kalau nggak ada guru yang baik begini entah.
Kalau terus-terusan begini, Molly bisa naksir. Tapi, mesti saingan dulu sama Bu Sandra.
Bu Sandra, guru bahasa Inggris, yang super cantik dan bikin cowok-cowok pada ngeces bahkan sampai ada yang mimpi basah. Kalau mandangin wanita 26 tahun ini, kita jadi ingat Nikita Mirzani yang bohai itu lho. Walaupun pakai baju yang sopan, tapi parasnya aja udah menunjukan kalau dia itu seksi. Bu Sandra itu agak pemarah tapi kalau di depan Pak Heru langsung lumer. Nggak banget saat dia pura-pura jatuhin buku saat papasan sama Pak Heru.
Dengan gaya menggoda, ia jongkok di depan Pak Heru yang bantuin mungutin buku sambil memamerkan 'sesuatu'. Kaki dan paha yang mulus kayak model di TV, serta suara lembut yang dibuat-buat.
"Saya permisi dulu, Bu Sandra", Pak Heru langsung ngacir kayak nggak peduli sama keindahan sesaat yang hadir di depan matanya.
Apa tuh orang nggak normal?, Bu Sandra udah pasti ngedumel dalam hati sambil mencak-mencak. Eh, buku yang baru dipungutin bercecer lagi di lantai. Sambil ngeluh, terpaksa jongkok lagi dan tiba-tiba...
"Biar saya bantuin, Buk!", seorang siswa laki-laki muncul entah dari mana untuk mungutin buku.
"Saya juga, Buk!", seru seorang murid lagi yang tiba-tiba ikut bantuin.
Bu Sandra langsung bingung, dari mana sih bocah-bocah tengik ini?
Satu orang pahlawan lagi, bikin Bu Sandra sadar kalau kali ini salah sasaran. Bukunya nggak jadi dipungutin, malah mandangin yang lain.
"Mulus banget...", seorang remaja ngeces bikin Bu Sandra langsung ill-feel.
Seketika ia berdiri, merapikan rok span-nya dan bocah-bocah itu masih jongkok di lantai nungguin Bu Sandra menjatuhkan buku lagi.
"Kalian mau dihukum?!", Bu Sandra marah, mengacaukan khayalan mereka.
Anak-anak itu langsung kabur sambil cekikikan, "Hoki gue!", mereka mulai berbincang, "Kayaknya gue harus ke toilet deh!"
"Sialan lu! Emang lu lihat?!"
"Emang apaan di dalemnya?!"
"Ah, dasar lu semua, begok!"
Anak remaja jaman sekarang, emang beneran rusak..., Bu Sandra menggerutu. Yah..., gimana nggak rusak? Punya guru kayak Bu Sandra menggoda iman dan mengganggu konsentrasi.
Tapi, kenapa ya nggak ngaruh sama Pak Guru yang cool itu?
---
Molly berdiri paling belakang dari kerumunan anak-anak yang mau lihat pengumuman pembagian kelas. Jauh sekali dan huruf-huruf di kertas pengumuman jadi lebih kecil dari semut. Jadi, Molly nggak bisa baca.
Dengan perlahan, Molly mulai menyusup di antara mereka yang harus ngantri untuk bisa sampai ke depan. Desak-desakan lagi! Harusnya cara ini diganti supaya adil.
Molly udah nggak sabar, tentunya. Setelah sampai ia juga harus mencari-cari namanya dari sekian ratus nama yang tertera di sana. Begitu ketemu, Molly sedikit lega. Artinya dia harus segera keluar dari kerumunan ini dan pergi ke kelas baru. Tapi, yang baru datang sama sekali nggak mau sabar.
Mereka maksa masuk kerumunan orang yang lagi ngantri dan jadi deh acara dorong-dorong. Tubuh Molly tersenggol dan kejepit di antara orang yang berusaha berdiri supaya nggak jatuh. Tapi, susah. Mereka bertumpuk di satu titik seperti sarden dalam kaleng. Molly kewalahan karena celahnya sempit dan ia memaksa menerobos karena hampir nggak bisa nafas.
Tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya. Molly mengikuti kemana tangan itu menuntunnya. Kayaknya sih tangan seorang cowok tapi ia belum memastikan karena disekitarnya banyak sekali orang yang menggerutu.
"Jonas?", Molly baru sadar bahwa yang membantunya adalah teman lama, ups...teman sekolah lama. Setelah keluar dari kerumunan dan lumayan capek.
"Bentar lagi lo pasti pingsan kejebak sama mereka", kata Jonas.
Molly hampir nggak percaya, setelah setahun ini baru pertama kalinya lagi dia sempat ngomong sama Jonas. Molly sudah lama tahu kalau mereka satu sekolah lagi. Setahun lalu mereka cuma saling menyapa biasa saat ketemu di MOS. Habis itu, nggak pernah saling bicara karena juga nggak sekelas.
"Lo di kelas berapa?", tanya Jonas.
"Kelas D", jawab Molly, kikuk.
Jonas memandangi sikap Molly yang nggak pernah berubah sejak SMP. Masih pendiam dan nggak bisa menyesuaikan diri sama orang lain. Jonas tahu kalau Molly masih mengalami kesulitan seperti saat di SMP dan nggak mau ambil pusing.
"Gimana kabar Chika?", tanya dia tiba-tiba.
Molly agak kaget, lalu menggeleng, "Aku nggak tahu...", jawabnya pelan.
Jonas tertawa lirih, lalu merasa sedikit bersalah pada cewek ini. Ia sudah bisa menebak, pasti si Chika itu sudah mendapatkan apa yang dia mau. Dan dia membuang Molly jauh-jauh dari persahabatan yang dulu pernah mereka banggain.
"Kita ke kelas barengan ya", ajak Jonas, "Kebetulan gue juga mau lihat kelas barunya."
Tanpa menjawab Molly mengikuti langkahnya yang santai, saat hp-nya Jonas bunyi, cowok itu mulai sibuk bicara di telpon. Tapi dengan gelagat aneh.
Menoleh ke belakang, si Jonas memang sudah nggak kelihatan. Aneh memang, begitu terima telpon yang entah dari siapa Molly disuruh pergi. Perasaannya tiba-tiba jadi nggak enak.
Jonas belum menunjukan tanda-tanda bakal muncul lagi.
"Lo bisa minggir nggak sih?!", seorang cewek marah-marah di depan Molly yang kaget setengah mati.
Karena ngelamun, Molly jadi nggak sadar jadi menghalangi jalan karena berdiri di pintu sambil ngelamun.
Cewek jutek itu langsung meloyor ke dalam. Molly sih nggak terlalu kenal tapi tahu kalau itu Lara Sophia, cewek galak yang nyebelin. Sayang, sifatnya itu bertolak belakang sama fisiknya yang cantik –rambut hitam panjang tergerai dan sepasang mata indah yang selalu kelihatan marah.
Molly menarik nafas, pada langkah pertama di kelas baru. Dan beberapa anak udah duduk di bangku yang mereka mau.
Kebanyakan bangku udah ada penghuninya. Molly jadi bingung mau duduk di mana jadi ia berkeliling dulu mencari bangku yang kosong. Masih ada sih, tapi dekat si Lara yang tadi.
Lara lagi duduk di mejanya yang kebetulan dekat jendela.
Molly menaruh tasnya, di kursi sebelah kiri Lara dan duduk di sana.
Lara menoleh ke arahnya sekali sebelum ia kembali melamun memandang ke luar jendela.
Jonas akhirnya kelihatan juga. Ia masuk ke kelas. Sedikit celingak-celinguk lalu dengan mantap menuju ke arah tempat duduknya Molly.
---
Waktu sampai di kelas, pikiran rasanya sudah meradang kayak sariawan. Jadi, Jonas menghampiri Molly yang sudah ketemu sama tempat duduknya untuk mengatakan hal yang mengembalikan semua memori lama mereka.
"Hari ini Getta bakal pindah ke sekolah kita", kata Jonas dengan senyum sumringah.
Molly menatapnya, terpana, tanpa berkedip. Sudah jelas apa yang ada di pikirannya. Nostalgia itu kembali berputar seperti lagu kenangan yang sedih tentang patah hati dan cinta terpendam.
Meski nggak dapat melihatnya secara kasat mata, Jonas bisa merasakan bahwa mungkin masih ada sesuatu yang tertinggal untuk dijemput kembali.Lidahnya kelu mendadak, lalu kelihatan bingung. Apakah Molly sedang bertanya pada dirinya sendiri soal perasaannya? Haruskah ia senang bisa melihatnya lagi atau sedih karena ternyata belum bisa lupa?
Kalau seandainya Chika nggak mengacau, mungkin nggak akan ada yang terluka. Jonas masih saja menyesal kenapa bisa ikut-ikutan masalah orang lain. Kalau Getta tahu yang sebenarnya, dia pasti sadar kalau Jonas nggak bisa lagi ia sebut sebagai sahabat.
"Minggir!", Jonas mengusir seorang cewek yang duduk di depan Molly.
"Apa-apaan sih?", gerutu cewek itu sambil berdiri, "Tuh kan masih ada yang kosong!"
"Enggak, gue maunya di sini!", kata Jonas bersikeras. Ia mengambil majalah yang lagi dibaca sama cewek itu untuk memaksanya, "Mendingan lo pindah atau majalahnya gue kasih ke guru!"
"Iiih, Jonas apaan sih!", cewek itu mencak-mencak sambil berdiri, "Majalah itu ada Kim Bum-nya!"
"Gue nggak peduli!", cetus Jonas sambil mengangkat majalah itu tinggi-tinggi sampai cewek itu nggak bisa meraihnya, "Mau Kim Bum kek, mau kimchi kek, atau mau Bum Bum sekalian, terserah! Gue mau kursi yang ini!"
Cewek imut penggemar Korea itu, berdiri dari kursinya sambil mencak-mencak. Membereskan barang-barangnya dari atas meja dan pindah ke barisan sebelah satu bangku di depan Lara.
Tapi, Jonas malah duduk di kursi kosong yang ada di depan Lara setelah melempar tas orang lain yang sudah ada di sana dari tadi.
"Hai, Lara...", sapa dia celingak ke belakang di mana Lara membalasnya dengan satu jari tengah. Jonas masih bisa ketawa, "Wow! Jangan gitu dong, Ra!"
"Lo apa-apaan sih, Jonas?!", cewek yang tadi protes. Tempat duduknya tepat di depan Jonas yang langsung bete dengar suaranya yang melengking, "Gue nggak boleh duduk di situ tapi lo sendiri malah duduk di sini..."
"Suka-suka gue! Itu tempat buat teman gue!", kata Jonas acuh, "Ntar lagi dia masuk!"
"Konyol...", celetuk Lara di belakang Jonas dengan wajah cemberut.
Jonas menoleh ke belakang, mengedipkan sebelah mata pada Molly yang daritadi mematung memperhatikan mereka.
Sekarang ada satu kursi kosong di depan Molly yang juga sebaris dengan tempat duduk Jonas. Molly tahu, siapa yang akan duduk di sana nanti, tapi sosok itu belum muncul juga sampai wali kelas mereka datang.
Pak Heru lagi.
Molly tersenyum lega. Meski ini bukan karena kolusi seperti saat ia naik kelas dua, tapi ini lebih dari itu.
"Pagi semua", sapa Pak Heru tegas dan mantap.
Semua bersuara dengan semangat, "Pagi, Pak!",
"Gimana kabar kalian semua? Liburannya cukup?"
Jawabannya beragam tapi nggak masalah karena Pak Heru kayaknya nggak akan menanyai masing-masing orang tentang liburan mereka.
"Tenang semua", Pak Heru menengahi suara-suara kacau di kelas yang riuh. "Ada hal yang mau Bapak sampaikan sebelum kita mulai pemilihan perangkat kelasnya"
Murid yang lain menunggu, tapi Molly lebih nggak sabar daripada mereka. Kata-kata Pak Heru yang menjelaskan bahwa kita punya teman baru, terasa seperti pidato kepala sekolah saat upacara pembukaan tahun ajaran baru. Panjaaaang banget!
Tapi, malah rasanya terlalu cepat, saat yang ditunggu masuk juga. Seorang cowok bertubuh tinggi yang membuat semua cewek -termasuk Molly nggak berkedip. Rambutnya hitam lurus dan sedikit berponi, hidungnya mancung dengan mata agak sipit. Bibir tipis dan senyum dengan lesung pipi yang dalam. Mengingatkan beberapa kita pada seseorang.
"Kim Bum...", Yuna terdengar bergumam dari tempat duduknya.
Cowok itu memandangi puluhan kepala di depannya dengan sedikit canggung "Nama saya Adhia Getta. Kalian boleh panggil Getta aja, saya baru pindah hari ini", kata cowok itu singkat, padat dan cepat. Lalu ia melirik Pak Heru supaya membolehkannya duduk secepatnya.
"Nggak ada lagi yang mau kamu sampaikan, Getta?", tanya Pak Heru.
Getta menggeleng.
"Baik, sekarang kamu boleh duduk.", kata Pak Heru akhirnya dan menunjuk satu-satunya bangku kosong yang ada di depan Molly.
Tepat sasaran.
Jonas tertawa dari bangkunya dan memberi sambutan dengan ujung tinjunya yang dibalas oleh Getta sesaat sebelum duduk di kursi.
Pandangan Molly yang luas, sekarang terhalang oleh sosok tinggi Getta yang sekarang sudah duduk di depannya.
Tiba-tiba Getta menoleh ke belakang."Hei", sapanya dengan ramah. Persis seperti dia yang dulu.
Molly tersenyum dengan satu anggukan pelan. Dan Pak Heru memulai acara pemilihan perangkat kelasnya.
---
Bel istirahat siang dibunyikan. Dalam beberapa menit kelas menjadi sepi, menyisakan beberapa orang yang masih ingin mengobrol.
Molly melirik Lara yang berdiri dari kursinya dengan mengabaikan sedikit gangguan dari Jonas yang konyol. Lara duduk di tempatnya dan asyik memandang ke luar jendela.
Seorang cewek menghampiri Getta yang juga duduk di bangkunya sambil mengobrol dan tertawa dengan Jonas. "Hai, Getta, aku Yuna", dia mengulurkan tangannya.
Getta membalas uluran tangannya dan tersenyum, "Iya...", jawab dia sedikit ragu.
"Kamu pindahan dari SMA mana sih?", tanya Yuna yang mulai sok akrab dengan memelintir rambut.
Tiba-tiba Jonas menyela, "Sebelum pertanyaan lo ke mana-mana, ngelapor ke gue dulu", candanya, "Bayar tiketnya"
"Iiih, emang Ragunan?", celetuk Yuna, mendecak dan seketika mengabaikan Jonas. Ia tersenyum lagi pada Getta, "Kamu pindahan dari luar kota ya?"
Getta cekikikan ketika Jonas menarik cepol ala Korea Yuna dengan tangannya supaya menjauh dari mejanya.
"Nih anak bandel banget...", gerutu Jonas sementara Yuna memekik sambil memukul-mukul lengan Jonas.
Mereka mulai bertengkar seperti anak kecil, saat Getta kembali menengok ke belakang. Mengabaikan kegaduhan kecil dan membuat percakapan yang wajar.
"Kamu nggak berubah ya?", tanya dia dan Molly menoleh dari buku gambarnya di meja ke depan.
Getta tengah memperhatikan gambar yang ia buat dengan krayon.
"Ah?", Molly tersadar bahwa ia nggak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya dan bahkan nggak memperhatikan sekitarnya sama sekali.
"Aku nggak tahu kamu suka gambar pakai krayon", komentar Getta, memutar badannya ke belakang.
"Oh, dari kecil...", jelas Molly, memperbaiki posisi duduknya, meninggalkan gambar itu sebentar selagi matanyamenatap Getta. Melihatnya lagi seperti keajaiban yang hanya bisa didapatkan setelah menunggu sangat lama dan benar-benar harus jadi orang yang sabar, "Aku nggak bagus dalam hal selain ini..."
Getta nggak berkomentar lagi. Ia memperhatikan ujung jari Molly membuat bayangan pada kertas yang digores krayon biru langit untuk menimbulkan gradasi warna pada langit yang ia gambar. Sangat hati-hati dan cekatan. Getta memang nggak pernah tahu si tukang tidur ini jagonya gambar dan peralatannya selalu ia simpan pada sebuah tas jinjing yang selalu ia bawa ke sekolah.
Seperti anak TK.
Getta kembali ke depan, Jonas kembali setelah mengusir Yuna pergi.
"Ke kantin yuk!", ajak Jonas.
Getta langsung berdiri, setuju dan mereka meninggalkan kelas segera.
---
Molly berjinjit, mengintip dari jendela yang tertutup untuk memastikan nggak ada siapapun di ruang kesenian. Habisnya, seisi sekolah penuh oleh anak-anak jahil yang bisa ada di mana saja. Kelihatannya sepi, jadi Molly mengendap-endap ke dalam sebelum ada yang melihat.
Sekolah menyenangkan untuk satu kata –fasilitas, yang bisa dipakai siswa (biar sekolah bobrok sekalipun). Soalnya sekolah punya ruang kesenian tapi anak-anak di sini nggak banyak yang punya bakat seni –ada yang bilang banyak anak buangan dari sekolah lain yang masuk ke sini. Dan mereka lebih punya bakat menghancurkan daripada melakukan hal yang positif –olahraga misalnya. Anak-anak sini lebih suka main geng dan itupun bukan untuk hal yang positif juga.
Molly duduk di salah satu kursi setelah menaruh barang-barangnya di meja lalu memperhatikan sekelilingnya. Ruangan yang nggak terlalu luas dan biasanya dipakai untuk kelas music yang jatahnya cuma sekali seminggu untuk satu kelas. Ada berbagai alat music di lemari –gitar, biola dan drum (keadaannya sudah mulai usang dan sepertinya sudah lama nggak ada penambahan baru). Tapi, di tengah-tengah ruangan sekolah punya piano yang kelihatannya masih baru atau memang dirawat dengan baik.
Tuts-nya tertutup rapat saat Molly membukanya. Jadi ingat dulu di rumah juga ada piano dengan merek Pleyel yang kalau nggak salah harganya mahal sekali. Soalnya dulu Mama-nya Molly seorang pianis juga. Ia berhenti main piano karena kecelakaan yang membuat jari-jarinya patah dan ia benar-benar kehilangan semangat untuk mengejar mimpinya. Meskipun ada banyak hal-hal dasar yang nggak bisa Molly ingat, tapi ia tahu di masa kecilnya Mama pernah mencoba mengajarinya –itu sebelum jari-jarinya patah.
Terbayang, bagaimana ia duduk di samping Mama yang mengeja do-re-mi-fa-sol-la-si-do agar Molly dapat mengingatnya. Tapi, suatu hari tiba-tiba ada yang berbeda. Entah sejak kapan, setiap melihat piano Mama jadi benci. Pernah satu kali ia melempar piano itu dengan kursi –di depan Molly yang masih kecil. Lalu Papa menyingkirkannya dari ruang tengah dan hingga detik ini Molly nggak pernah melihat benda itu lagi atau mendengar Mama memainkannya. Molly juga bahkan nggak pernah mendengar Mama mengaku pada kenalannya bahwa dulu ia seorang pianis.
Bunyi yang terdengar ketika Molly memberanikan diri untuk memencet tut ‘do’-nya, mengembalikan semua itu dalam sesaat. Ia jadi merindukannya karena sekarang Mama nggak lagi seperti saat ia masih kecil. Banyaknya masalah serta keadaan Molly yang sekarang membuatnya berubah.
Waktu Molly duduk di kursinya, perasaan itu seakan kembali. Rasanya jadi ingin memainkan piano lagi. Dan ada satu lagu yang bermain di kepalanya –lagu yang biasa dimainkan Mama saat mengajarinya.
Tale as old as time,
True as it can be,
Barely even friends then somebody bends
Unexpectedly…
Lagu itu masih bisa membawa kenangan dari masa kecil yang udah ditinggalkan, dan andai bisa kembali lagi ke sana; saat Mama nggak pernah tahu bahwa Molly terlahir disleksia. Semua pasti terasa lebih baik dari sekarang, andai saja…
“Kamu main piano?”, tegur seseorang yang berdiri cukup lama di depan pintu, mendengarkan beberapa nada yang dimainkan Molly dengan jari-jarinya yang kaku.
Molly terkejut, segera menengok ke belakang. Sosok seorang cowok asing yang nggak pernah ia kenal ada di depan pintu yang terbuka. Sekarang, ia jadi bingung dan takut. Separah itukah?
Cowok itu mendekat. Melangkah pelan ke arah Molly dengan kedua kakinya yang panjang –cowok itu beneran tinggi banget (lebih tinggi dari Getta malah). Dilihat dari penampilan dan raut wajahnya sih mungkin anak kelas tiga tapi Molly nggak bisa memastikan karena ia keburu ketakutan dan menjauh dari piano.
Cowok itu tersenyum. “Kamu anak kelas satu ya?”, tanya dia.
Molly menggeleng ragu-ragu, “A… aku anak kelas dua”, jawabnya, lalu tertunduk.
Cowok itu mengangguk-angguk, sambil tertawa pelan memperhatikan sikap Molly yang menurutnya lucu –cewek itu kelihatan ketakutan padahal juga nggak diapa-apain. Baru sekali ini ketemu cewek yang pemalu banget –jaman sekarang lagi, cewek-cewek umur belasan biasanya berapi-api dan agresif. Tapi, yang satu ini kayak berasal dari jaman antah berantah dan nggak pernah lihat cowok mungkin.
“Aku permisi dulu”, kata Molly segera mengemasi barang-barangnya di atas meja. Lalu pergi dengan terburu-buru seolah cowok ini punya niat jahat terhadapnya.
Tapi, cowok itu cuma tersenyum, lalu ngakak setelah Molly nggak terlihat lagi. “Dasar aneh…”, gumamnya sambil memperhatikan piano yang baru saja dimainkan cewek yang sebelumnya nggak pernah ia lihat itu.
Cewek itu nggak menutup tuts-nya karena keburu ketakutan melihatnya datang. Lalu matanya tertuju ke tempat di mana cewek itu tadi menaruh barang-barangnya. Tas kecil mirip tas notebook –kira-kira apa ya isinya?
Tapi, melihat ada sesuatu di bawah meja, cowok itu yakin isinya pasti alat gambar. Karena ia menemukan sebuah krayon warna biru tercecer di lantai.
Cewek itu ceroboh juga rupanya.
---
Duuh! Malu-maluin!, Molly mencak-mencak di dalam hati sambil memeluk tas kecilnya. Ia berjalan dengan cepat sepanjang lorong dengan muka merah. Kenapa juga harus memerah?
Cowok itu… cowok itu… dengan senyumnya itu, melihat Molly sebagai sesuatu yang lucu!
Ya Tuhan, Molly pasti bertingkah memalukan di depan cowok itu! Cowok itu keren lagi…
Molly terkejut saat tiba-tiba tasnya terlepas dari pelukannya! Ia menabrak seseorang sampai rasanya ingin memukul kepalanya dan menyumpahi dirinya sendiri.
“Kamu nggak apa-apa, Molly?”
Yang ditabrak malah Pak Heru lagi!
Molly menggeleng-geleng, sambil memunguti tasnya dan isinya yang jadi berceceran. “Nggak… nggak apa-apa, Pak”,
“Kamu kenapa?”, Pak Heru ikut jongkok sambil membantu memunguti barang-barangnya. “Kamu sakit?”
Molly menggeleng dengan putus asa. Kenapa begoknya bisa berurutan begini sih?
“Maaf, Pak, saya… nggak sengaja…”, ucapnya gemetaran, dan berusaha berdiri tegap setelah ia kembali memeluk tasnya.
“Nggak apa-apa”, jawab Pak Heru tersenyum, “Kamu ke kelas sana, sebentar lagi jam istirahatnya habis”
Molly mengangguk dan berjalan lagi. Berusaha untuk tenang supaya nggak menabrak orang lewat lagi. Tapi, lorong itu beneran sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang menuju ke kelas mereka yang melangkah menjauh darinya. Di kejauhan Molly menemukan Bu Sandra yang tengah menatap ke arahnya dan sosok belakang Pak Heru yang menghilang di ujung lorong.
Molly berusaha tersenyum menyapa, “Selamat siang, Bu Sandra…”
Bu Sandra nggak membalasnya. Ia hanya menatap Molly sampai gadis kecil itu berlalu dari hadapannya. Entah Molly sadar atau nggak, Bu Sandra kayaknya lagi bรชte sama apa yang barusan dia lihat. Gimana nggak, Pak Heru bantuin Molly memunguti barang-barangnya?
Sedangkan Molly mempercepat langkahnya menuju gedung sebelah karena kelasnya ada di sana; juga melewati ruang guru di mana ia melihat Lara si jutek baru keluar. Molly sempat berhenti untuk menatap dan bertanya kenapa Lara memandangnya seperti itu? Lagian ngapain di ruang guru sendirian?
Rasanya aneh, begitu Molly sudah duduk di kursinya, Lara masih aja melototin sampai Molly jadi merinding.
Siapa sih yang nggak kenal sama cewek judes dan pemarah itu? Nggak ada seorang pun yang mau berteman dengannya. Makanya dia selalu sendirian –seperti Molly. Tapi, Lara terkenal karena sifatnya yang kasar dan ketus, nggak ada yang mau berurusan dengannya.
Apalagi Molly.
Hiks hiks hiks.. :'( Aku sedih liat Molly yg di hianati ama shbatx sndiri dan slalu di jauihi ama org2 hanya krn dia aneh.
Thanks mba rita for post ;)
Aku akan slalu nunggu kelanjutannya..
Makasih uda baca...