๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rencana Chika
Tahun pertama…
Cowok itu,Getta, memang kadang kelihatan biasa. Dibilang bandel, nggak bandel banget, dibilang alim, mungkin udah nggak lagi. Yang pasti dia datang ke sekolah bawa motor besar yang kalau boncengan di belakangnya itu harus merapat ke punggungnya kalau nggak mau diterbangin angin jalanan. Terus suka pakai jaket yang ada penutup kepalanya. Gayanya sih standar dan santai. Tapi, itu pesonanya. Dia tuh lumayan baik juga, walaupun kadang-kadang suka nyolot kalau lagi kesal. Habisnya, dia susah ditebak.
Kalau jalan di koridor, cewek-cewek pasti pada 'hang' mendadak. Kayak hp rusak, tiba-tiba layar-nya blank atau keypad-nya nggak mau dipencet. Ibaratnya, ketika Adhia Getta lewat kayak Profesor X di film X-Men, waktu berhenti. Tapi, ada angin semriwing-nya gitu, kayak di film-film atau iklan super lebay.Tapi, stop dulu pada adegan ini. Karena tiba-tiba Chika datang dari satu sudut dan dia memandangi Getta sampai cowok itu sampai.
"Aura-nya beda banget kalau lo datang", Chika kelihatan girang banget. Sebagian orang bilang sih centil.
"Apaan?!", celetuk Getta sambil tetap jalan karena kelasnya lumayan jauh.
Chika menyusul, "Kenapa sih jutek banget pagi-pagi?", tanya dia, dengan senyum manis yang diidam-idamkan sebagian cowok yang naksir Chika.
"Nggak...", jawab Getta terus melangkah.
"Pasti nih ada sesuatu...", Chika mendahului Getta untuk mencegat langkahnya. "Bilang dulu ke gue baru gue minggir"
"Norak banget sih lo, Chik", cetusnya lalu terukir senyum di bibirnya, sambil melewati Chika, "Kayak lo nggak pernah lihat gue begini aja"
"Hm...gue tahu!", seru Chika masih terus ngikutin kayak fans cewek yang fanatik banget sama idolanya.
Tapi, sudah biasa bagi orang-orang yang sering lihat mereka bersama. Paling parah, cuma dibilang udah jadian atau semacamnyalah. Nggak jelek-jelek amat, toh mereka itu cocok. Sama-sama cakep, sama-sama pintar. Jadi nggak bakal ada yang protes. Tapi masalahnya, Getta nggak pernah suka sama Chika lebih dari teman. Karena di hatinya masih ada Molly yang seolah sengaja menghilang.
"Chik, gue bisa minta tolong sama lo nggak?", Getta datang dengan perasaan bingung dan ragu.
"Apa, Get?", tanya Chika penuh perhatian sebelum ia syok.
Getta mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja putihnya. Sebuah surat dengan amplop putih polos, "Lo bisa kasih ini ke Molly nggak?", dia bertanya dengan hati-hati, dan malu. "Lo masih ketemu sama Molly kan?"
Chika tersenyum, "Hm...gue tahu...jadi...jadi lo suka sama Molly ya?", godanya, berpura-pura lagi.
Getta kikuk, "Gue nggak tahu caranya gimana buat ketemu Molly. Dia tuh selalu menghindari gue", akunya.
"Tenang aja, pasti gue kasih deh!", kata Chika tersenyum lebar menyembunyikan rasa sakit dan kecewa ketika tangannya gemetar menerima surat itu dan mengantonginya.
Getta terlihat lega.
Chika tertawa lirih. Dikiranya di dalam amplop ada ungkapan perasaan Getta terhadap Molly. Ternyata Getta hanya menuliskan alamat sebuah tempat. Sebuah kedai es krim di mana ia akan menunggu Molly datang jam empat sore.Tapi, Chika udah memastikan Molly nggak akan datang, ia nggak bakal datang dan itu pasti. Ia merobek surat itu menjadi potongan kecil dan melemparnya ke tong sampah."Maaf, Mol, tapi nasib harus berpihak sama gue", katanya setelah menendang tempat sampah jauh ke bawah meja.
Suara ketukan pintu mengagetkannya. Molly dan peralatan gambarnya datang untuk bermain menghabiskan sepanjang sore bersama. Ketika Getta menunggu, Chika menahannya dengan persahabatan yang Molly pikir masih ada di antara mereka. Tapi sebenarnya udah lama putus.
Keesokan pagi di sekolah, Getta kelihatan santai.
"Gimana?", Chika terlihat sumringah, pura-pura nggak menyadari gurat kekecewaan di wajah cowok itu.
"Gimana apanya?", tanya Getta.
"Ketemuannya!", desak Chika.
Getta nggak jawab, dia segera berlalu dengan kekecewaan itu. Tanpa pernah lagi ngomongin soal Molly dan untuk beberapa saat Chika juga nggak mau membahasnya. Ia hanya menunggu sampai Getta butuh untuk melupana Molly.
"Lo masih sedih gara-gara Molly nggak datang?", tanya Chika padanya seminggu setelah itu.
"Nggak, biasa aja", jawab Getta acuh.
"Gue minta maaf", ucap Chika tiba-tiba, "Gue merasa nggak enak sama lo, Get"
"Nggak enak kenapa?", Getta heran.
"Gue...nggak bilang yang sebenarnya kalau Molly... Molly sebenarnya pergi sama teman-temannya. Gue udah bilang sama dia supaya datang nemuin lo tapi dia nggak bisa batalin janjinya", kata Chika menjelaskan, sebisanya terlihat cemas dan merasa bersalah.
"Udahlah, gue tau kok. Lo nggak usah mikirin masalah itu lagi. Gue nggak apa-apa", Getta tersenyum, meski jelas masih dipaksain. Rautnya jadi konyol, saat ia sedih masih berusaha kelihatan sabar, "Dia memang nggak suka sama gue, mau gimana lagi"
---
Panas terik membuat jalanan mengering dan berdebu. Pada saat yang sama kendaraan lewat membuat suara bising yang klise. Bajaj, dan bus kota yang renta. Serta pekikan penjual koran di tengah jalan, dan anak-anak dekil dengan kerincingan tutup botol bernyanyi di depan jendela mobil mengkilat yang kacanya tertutup. Berlatar gedung tinggi menjulang di tempat orang-orang berpakaian rapi bermunculan. Ini adalah kota, hal sepele yang selalu kita lewatkan setiap lewat, setiap hari di tempat yang sama.
Tapi, bagi Molly, masih terasa asing. Ia membaca alamat yang tertera pada setiap papan reklame entah itu minimarket, toko atau bengkel. Memastikan ia tengah berada di mana. Jauh atau dekatkah dari rumah. Dengan memandang sekelilingnya ia berusaha mengingat, jalan mana yang tadi pagi ia lewati saat pergi ke sekolah. Pada akhirnya ia menyerah, ia bahkan nggak bisa berpikir dengan tenang.Mungkin karena panas yang terik. Meski kulit ini terbakar kehadirannya hari ini masih patut disyukuri. Sebelum hujan menyedihkan membuatnya ingin menangis dan kesendiriannya akan terasa.
Akhirnya Molly menyerah dengan duduk di halte lalu mengeluarkan handphone-nya.
---
"Chika, lo di mana sekarang?", suara Molly terdengar gemetaran.
Chika memandangi teman-temannya yang asyik bercanda sambil makan "Apa sih, Mol?", tanya dia sambil tetap tertawa pada temannya.
"Gue... gue… kesasar, Chik.", jawab Molly, "Gue nggak tahu jalan pulang"
Chika menghela nafas, "Lagi?", keluhnya kebingungan, "Lo gimana sih?! Lo ada di daerah mana sekarang?"
Chika mendengarkan dengan hati-hati nama jalan yang disebutkan Molly.
"Kenapa, Chik?", tegur seorang teman perempuannya yang memperhatikan Chika kasak kusuk menelpon.
Chika nggak menjawabnya, ia tersenyum, sambil menyandang tasnya di pundak, "Gue ada urusan sebentar", katanya, "Gue duluan ya..."
Ke empat teman Chika sempat heran. Mereka memperhatikan Chika berlari sampai ia menghilang dari pandangan.
"Lo nggak ikut, Get?", tanya salah seorang dari mereka sambil menyikut seorang cowok tinggi yang sibuk dengan dunianya sendiri lewat sepasang earphone di telinganya.
"Apaan?", cetus Getta, cowok itu balas menyikut temannya.
"Lo sama Chika lagi marahan ya?", tanya Doni, yang reseh sambil cekikikan.
"Enggak, biasa aja", jawab Getta kembali memasang earphone-nya.
"Udah deh, Don! Jangan ikut urusan orang lain napa sih?!", celetuk Lani. "Gaya mereka emang gitu tuh!"
Getta nggak menanggapi mereka sedikitpun karena telinganya sudah tertutup oleh lagu-lagu Alter Bridge kesukaannya. Sekalipun sedang digosipin, Getta tampaknya nggak peduli. Tiba-tiba handphone-nya bunyi. Ada SMS dari Chika, katanya ‘Lo pulang duluan aja. Gue disuruh pulang cepat sama Mama’
Anak-anak reseh sudah bubar saat mereka mulai bosan. Getta masih duduk di kursinya dan cuma melambaikan tangan sama mereka yang akhirnya pergi. Walaupun sendirian, rasanya lebih baik daripada ada mereka tapi nggak bisa memahami omongan mereka. Getta melepas earphone-nya lalu menghela nafas, memandangi sekelilingnya. Di restoran cepat saji ini, hanya ada dia sendiri duduk di satu meja. Sepi.
---
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang jam segini?", Mamanya Molly sudah berdiri di depan pintu dan ternyata sengaja menunggunya pulang.
" Molly kesasar lagi, Tante", jawab Chika, "Kesasarnya sampai jauh banget"
Mamanya Molly menarik nafas panjang, sambil menghampirinya, "Kenapa bisa kesasar lagi?", tanya dia agak gusar.
Molly diam dan merasa sangat takut.
"Makasih ya, Chika, kamu pasti repot ya...", kata wanita itu dengan nada suara melunak.
Chika mencoba tersenyum, "Nggak apa-apa, Tante...saya pamit dulu", katanya.
"Kamu nggak masuk dulu?",
"Makasih, Tante, saya masih ada urusan...",
Chika langsung pergi tanpa bilang sesuatu ke Molly yang hanya menatapnya dengan menyesal. Merasa bersalah telah merepotkannya berkali-kali bahkan setelah mereka nggak lagi satu sekolah.
"Masuk!", suara Mama memerintahnya untuk bergerak dari tempatnya.
Molly melangkah ke dalam rumah dengan gontai dan lemas. Lalu menemukan Papa-nya sedang duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi dan korang di tangan.
"Kenapa bisa kesasar lagi, Molly?", tanya dia datar dan tenang.
Kalau Molly tahu alasan kenapa ia begitu, ia akan menemukan jalan keluar supaya nggak menjadi beban orang lain. Tanpa menjawab ia berlari masuk kamar sambil menangis dan sikap itu malah membuat ibunya jadi tambah marah.
"Kenapa sih anak itu?!", keluhnya emosi, "Sudah besar, tapi masih aja sering lupa! Itu pasti karena kebiasaan! Yang ada di pikiran dia tidur melulu! Jadinya di kelas nggak konsen sama pelajaran, sering ketinggalan barang-barang. Bulan kemarin aja udah dua kali dibelikan handphone! Kalau yang kali ini hilang lagi, Mama nggak mau beliin lagi!"
"Udah, Ma, gimana pun juga Molly anak kita satu-satunya. Jangan terlalu keras. Biasanya anak remaja kalau dikerasin malah jadi tambah susah", ujar Papa santai.
"Benar-benar mengecewakan! Mama pikir temanan sama Chika dia bisa mencontoh Chika. Anaknya cantik, baik, sopan, juara kelas lagi. Tapi, kenapa nggak bisa nular sama Molly yang makin hari makin nyusahin", keluh Mama lagi.
"Jangan gitu, Ma. Molly anak kita. Gimana pun juga dia tetap anak kita…"
"Itu karena Papa nggak tegas makanya Molly jadi begitu"
Suara mereka terdengar bagai kaset rusak. Molly masih terdiam di pintu kamar dengan air mata yang menetes tanpa henti. Perlahan ia rubuh, dengan tangis dan sakit nggak tertahankan lagi di dadanya yang seakan ingin pecah.
Kalau seandainya bisa memilih, ia lebih memilih nggak usah dilahirkan ke dunia. Daripada menjadi beban orang lain.
Setelah selesai menangis, Molly bangkit dan langkahnya terasa amat berat ke atas tempat tidur. Tanpa mengganti seragamnya, ia berbaring dengan lemah lalu mulai membaca mantra ajaibnya.
Satu...dua...tiga...empat...lima..., dan seterusnya, hingga matanya yang terpejam rapat menunggu peri tidur membawanya pergi.
---
Bangun pagi rasanya seperti bangun tengah malam. Mata rasanya berat seperti nggak rela harus bangun hanya gara-gara sekolah. Molly mengeluh habis-habisan pada kaca kamar mandi yang memantulkan bayangan cewek menyedihkan itu. Air rasanya seperti es yang dingiin banget sampai ke tulang. Tapi, rasa ngantuk jadi hilang dan berganti menjadi rasa yang bikin Molly menggigil. Ia raih seragamnya yang tergantung di dinding dan mengenakannya di depan kaca lemari. Kelihatan sudah lumayan.
Mama memanggil-manggil dari balik pintu yang terkunci kayak penagih utang.
"Iya!", sahut Molly yang keluar bersama tasnya sambil mengeluh, ini kan cuma hari terima rapor, kenapa mesti buru-buru sih?
Sarapan pagi sudah di atas meja lengkap dengan Papa, koran dan secangkir kopi. "Kamu udah siap?", tanya dia.
"Ya, Pa", jawab Molly. Lalu menghabiskan sarapan nasi goreng dan telur dadarnya sampai nggak bersisa.
Mama yang sudah siap-siap, keluar bersama Papa lebih dulu sementara Molly memakai sepatu. Setelah benar-benar selesai mereka naik mobil menuju sekolahnya Molly. Sambil berharap bahwa Molly nggak tinggal kelas karena seringnya ia membuat masalah gara-gara penyakit lupanya yang parah. Nggak ngerjain tugas atau PR atau ketinggalan buku pelajaran.
Molly juga deg-degan menjelang sampai di sekolah. Mobil diparkir Papa, rasanya tiang gantungan sudah makin dekat. Begitu turun dari mobil, ia disambut keramaian yang nggak biasanya dari sekolah yang biasanya hanya dipadati anak-anak. Sekarang ditambah sama orang tua mereka. Ada yang gayanya necis turun dari mobil harga M-M an, ada yang kelihatan katrok turun dari bajaj, ada juga yang sederhana jalan kaki. Dan ada yang galau karena ortu mereka nggak bisa datang.
Pengumuman juaranya sudah mulai dan pidato kepala sekolah tersiar ke segala penjuru lewat pengeras suara dan speaker-nya ada di mana-mana. Molly nggak terlalu antusias, karena dalam sejarah hidupnya mana pernah namanya dipanggil untuk berdiri di depan sana. Jadi dia nggak pernah berharap sedikit pun.
Setelah upacara penyerahan tropinya selesai, orang tua masuk kelas sementara anak-anak menunggu di luar dengan nggak sabar.
Molly masih duduk di luar. Seperti biasa, sendirian. Sambil memperhatikan anak-anak lain bercanda di lorong, ia sedikit terhibur memperhatikan mereka bertingkah norak. Lalu kembali ke halaman buku gambar yang sedang ia gambari dengan krayon warna warni. Ia sedang menggoreskan warna hijau pada bagian yang ia anggap rerumputan dengan bunga-bungaan.Menunggu Papa dan Mamanya keluar dari kelas, sementara anak-anak lain sudah dibawa pulang sama ortu mereka sambil membahas nilai-nilai yang tertera di raport.
Hampir setengah jam. Waktu Molly lebih lama dari anak-anak yang lain sampai ia nggak sadar di sekolah sekarang, hanya dia yang tersisa dan masih menunggu. Molly mulai sedih, pasti hasil mengecewakan. Begitu mereka keluar barengan dengan Pak Heru yang sengaja mengantar keluar, Molly bisa merasakan bahwa mereka sedih. Sampai tiba-tiba ia harus dibawa ke dokter hari itu juga.
---
DISLEXIA, Molly mengetik kata itu di keyboard komputernya. Mbah Google langsung loading dengan cepat buat memberitahu Molly yang penasaran soal penjelasan dokter yang ia datangi hari ini. Meski nggak membaca semua paragraph yang ditulis di Wikipedia itu, Molly jadi yakin, bahwa ia berbeda dari teman-temannya. Pantas selama ini dia merasa aneh dengan dirinya.Pantas Mama menangis. Ia bahkan nggak bicara sepatah kata pun sejak pulang dari dokter, pada Papa apalagi Molly. Begitu sampai di rumah, Mama langsung masuk kamar dengan membanting pintu. Papa meminta Molly masuk ke kamarnya untuk istirahat. Mereka sedang berbicara, tapi Molly nggak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, Molly tahu Mama sedang marah.
Mama pasti kecewa karena tahu Molly nggak normal. Anak satu-satunya yang paling diharapkan ternyata benar-benar yang nggak mampu memenuhi sebuah angan-angan sederhana sepasang orang tua.Papa mungkin masih dapat menerimanya dengan tetap tersenyum pada Molly setiap pagi dan bahkan menjanjikan liburan ke observatorium Boscha. Tapi, karena tiba-tiba Mama jatuh sakit, Papa membatalkan rencana. Banyak hal yang berubah sejak itu.
Maka sepanjang liburan Molly hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk mengisi waktu. Seperti jalan-jalan sendiri di taman untuk menggambar sambil mendengarkan musik. Rasanya lebih menyenangkan berada di luar dan bebas seperti burung.
Terkadang Molly ketiduran sepanjang siang. Begitu bangun, ia kembali menggambar, atau kadang menangis. Seperti itulah hari yang ia jalani sejak ia tidak memiliki teman lagi. Sejak Chika dapat teman-teman baru di sekolah favoritnya. Molly jadi ingat terakhir kali mereka masih bertemu. Molly bertandang ke rumah Chika dan di sana ada banyak teman-teman sekolah Chika yang kelihatan kaya.
Chika mempersilahkannya masuk seperti biasa.
"Lo datang ya? Sory lagi rame", katanya, dari balik pintu, "Masuk, Mol"
Ada tiga orang cewek yang langsung memandanginya.
"Teman lo, Chik?", tanya salah seorang dari mereka yang memandangi Molly dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Ya, temen SMP gue", jawab Chika santai, "Namanya Molly"
"Ha...hai...", Molly mencoba bersikap wajar dengan menyapa tapi mereka cuek-cuek saja.
Chika membuka halaman sebuah majalah fashion yang tadi mereka bahas, "Yang ini kayaknya bagus deh, sayang gue lagi cekak...", katanya dan nggak mempedulikan Molly yang masih berdiri di dekat pintu.
Mereka mulai sibuk membahas isi majalah sementara Molly bahkan nggak tahu harus duduk di mana. Ia melangkah ragu-ragu ke tempat tidur, tempat cewek-cewek itu mengobrol sambil tertawa cekikikan. Molly mengintip majalah yang ada di pangkuan Chika. Apa yang membuat mereka begitu senang? Tapi, tetap saja Molly nggak mengerti dan Chika nggak peduli.
"Itu temen yang pernah lo ceritain itu kan?", tanya salah seorang cewek pada Chika, bisik-bisik.
Molly sedang di kamar mandi, menangis karena perlakuan mereka terutama Chika.
"Iya", jawab Chika acuh.
"Kok lo masih mau temenan sama anak kayak gitu sih?", tanya cewek yang lain, masih bisik-bisik. "Bukannya sering ngerepotin?"
"Ah, biarin aja.", kata Chika, "Lo nggak usah ngurusin dia. Bentar lagi juga pergi"
Begitu Molly membuka pintu kamar mandi mereka langsung diam, pura-pura sibuk ngomongin hal yang lain. Ia merasa harus segera pergi.
"Gue... pulang dulu ya, Chik", katanya buru-buru pergi tanpa dapat menyembunyikan air matanya.
Molly berlari keluar, sambil menangis.
"Molly, tunggu!", panggil Chika, yang ternyata menyusulnya.
Mereka sudah ada di teras.
Molly menoleh dengan sedih, membuat Chika sedikit merasa bersalah.
"Harusnya lo nggak datang. Teman-teman gue emang begitu... tapi...", Chika menjelaskan dengan ragu-ragu. Ada kepahitan di wajahnya saat mengatakan hal-hal yang menyakitkan itu, "Tapi mereka teman-teman gue sekarang. Teman yang sangat gue butuhin untuk sharing dan cerita. Bukan teman yang bisanya cuma bikin gue jadi kayak baby sitter..."
Molly berusaha mempercayai bahwa ucapan itu keluar dari seorang sahabat yang sangat ia sayangi.
"Gue nggak bisa temenan sama lo lagi, Mol", kata Chika menegaskan, "Jangan datang ke sini lagi"
Jadi sejak itu hari-hari berlalu dengan sepi.
---
"Kamu mau ke mana?", tanya Mama saat melihat Molly bersiap-siap keluar.
"Mau beli krayon baru", jawab Molly sambil tersenyum.
Mama sedang sibuk memasak, "Hati-hati", ia berpesan tanpa menoleh sedikit pun. “Alamat rumah ada di tas kamu kan? Jangan sampai kesasar lagi”
"Iya", sahut Molly sambil menarik gagang pintu dan keluar dengan girang.
Hari ini cerah dan terasa membaik. Mungkin liburan yang membosankan akan segera berakhir. Kemarin Papa membelikan seragam dan perlengkapan sekolah yang baru. Tapi, nggak tahu kalau Molly lebih membutuhkan krayon daripada semua itu. Jadi Papa memberinya uang untuk bisa membelinya sendiri. Barang-barang seperti itu adalah teman yang berharga baginya sekarang.
Molly mempunyai banyak pilihan pada rak-rak yang memajang semua jenis crayon dan mulai bingung memilihnya. Senyum bahagia terukir di wajahnya dalam kehampaan. Meski hampa, ia tetap menghargai apa yang ia lakukan sebagai dirinya.
Di tempat lain, ketika Molly berusaha menghadapi kenyataan seorang diri, Chika terlihat memandang ke arahnya. Kebetulan ia juga ada di sana untuk membeli perlengkapan sekolah. Tapi, tidak sendirian.
"Chik, berapa lama lagi sih?", Getta yang bosan menggerutu padanya.
"Iya, ini juga kelar", jawab Chika buru-buru meninggalkan titik di mana ia melihat Molly yang asyik melihat-lihat krayon. Jika ia berdiri lebih lama lagi di sana, mungkin Molly akan melihatnya.
Jadi ia menarik lengan Getta untuk segera pergi dan meninggalkan toko buku.
---
"Tadi gue lihat Molly", kata Getta, membuat Chika yang sedang makan tersedak. Getta memandanginya heran sambil mengernyit, "Kenapa kaget sampai begitu sih?"
Chika meminum soda dinginnya untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya, "Di mana?", tanya Chika sambil menepuk dada dan ia mendapati Getta yang duduk di depannya tampak murung.
Getta menatapnya sebentar, "Di toko buku", jawabnya, tenang.
Chika diam lagi.
"Jadi lo udah lama nggak temenan sama dia lagi?", tanya Getta, tiba-tiba.
Chika tersenyum getir, "Sejak akhir semester satu dia udah nggak main ke rumah lagi", jelasnya, "Dia punya banyak teman baru sekarang. Lupa sama gue"
"Tapi, tadi dia sendirian", Getta berkata dengan rasa ingin tahu.
"Yah, mungkin gilirannya sendiri", Chika berkilah. Sambil memikirkan cara untuk menghindari topik tentang Molly yang kelihatannya masih mengganggu Getta sampai sekarang, "Get, nggak terasa ya kita udah kelas dua sekarang. Kira-kira kita bakal sekelas lagi nggak ya?"
Getta hanya menatapnya dengan raut nggak terbaca, tenang namun ingin mengatakan sesuatu, "Mungkin enggak, Chik", jawabnya, menatap Chika dalam-dalam dan menemukan cewek itu membelalak.
Terkejut, Chika sedikit histeris, "Kenapa?", tanya dia, "Nilai kita cuma beda sedikit kan?"
"Gue… mau pindah sekolah", jawab Getta tegas, "Sudah dipastikan tahun ajaran baru, gue nggak sekolah di sana lagi"
"Kenapa lo nggak pernah bilang? Lagian lo mau pindah ke mana?", Chika semakin nggak tenang.
"Ke sekolahnya Jonas", jawab Getta, yang sekarang berubah muram.
"Tapi, sekolahnya Jonas reputasinya jelek banget!", kata Chika, "Masa sih lo dari sekolah favorit mau pindah ke sekolah bobrok kayak gitu?! Padahal lo udah berusaha sekuat tenaga supaya bisa masuk ke sekolah yang sekarang tapi..."
"Lo nggak bakalan ngerti, Chik", kata Getta menegaskan, "Gue selalu ngerasa nggak tenang sejak pertama kali masuk sekolah itu. Nggak tahu kenapa...mungkin gue nggak suka sama anak-anaknya, belagu, sok pintar dan sok kaya. Bikin gue muak bergaul sama mereka”
"Masa sih cuma gara-gara itu, Get...", Chika masih nggak percaya bahwa Getta serius."Lo bakal ninggalin gue?", tanya Chika hampir menangis.
"Lo punya banyak teman yang nggak akan biarin lo sendirian", jawab Getta."Lo nggak perlu berlebihan gitu kenapa sih?", celetuknya tiba-tiba, "Gue cuma pindah sekolah, bukan pindah rumah ke luar kota"
Masalahnya bukan itu. Masa-masa itu seakan menghantuinya kembali. Karena sekolahnya Jonas adalah sekolah yang sama dengan sekolahnya Molly!
"Lagian telpon sama SMS kan ada, lo kenapa jadi lebay gitu sih?", celetuknya lagi.
"Lo mau pindah karena di sana juga ada Molly kan?", Chika merajuk.
Getta tampak gusar, "Lo pikir gue cowok begok apa?!", tandasnya, sambil membuang pandang, "Udah deh, lo jangan ngomong yang enggak-enggak."
"Ya jelas, gue mikirnya sampai ke sana. Lo pernah suka sama Molly...", ungkit Chika tertunduk.
"Iya, terus apa masalahnya?", cetus Getta, "Lagian itu dulu, sekarang... gue udah nggak kayak gitu lagi"
Chika mengangkat kepalanya untuk mengatakan sesuatu, "Lo tau kan alasan gue sebel sama Molly, gara-gara dia nggak datang nemuin lo waktu janjian. Gue lihat Molly malah pergi sama teman-temannya ke mall", Chika mengingatkan Getta dengan kebohongan yang sama. "Gue nggak suka..."
"Udah deh nggak usah diungkit lagi", Getta kembali terlihat gusar, "Gue udah lupa"
"Getta", Chika menegur Getta yang terdiam dan memandang keluar dengan hampa.
Getta menoleh, "Apa?", sahutnya datar.
"Kenapa kita nggak pacaran aja?", tanga Chika padanya. "Padahal kita segini dekatnya kan?"
Getta terkesiap saat membalas tatapan Chika yang penuh harap. "Gue nggak tau harus jawab apa, Chik.", katanya, "Menurut gue pacaran itu cuma ngerepotin. Tapi, yang pasti, kalau lo butuh gue, gue pasti bantuin lo"
Sayang, teman-teman banyak yang heran, kenapa Getta pindah sekolah mendadak.Sebagai sahabat yang baik dan selalu ada buat sahabatnya, Chika nggak bisa jelasin. Soalnya nggak ada yang tahu kalau Getta itu broken home. Yang mereka tahu, Getta anak orang kaya yang ayahnya bekerja sebagai pengusaha -meski nggak jelas usahanya apa. Mereka nggak tahu kalau ortunya cerai dan Mama-nya Getta udah menikah lagi sama orang yang hidupnya sederhana.
Chika berusaha terlihat mendukung keputusannya itu. Tapi, tetap penuh rencana. Seperti selama ini.
---
Suara piano mengalir lembut ke penjuru ruangan. Melodi dengan suara lagu yang merdu, membuat senyuman pada pendengarnya. Duduk di kursi dengan manis, menghayati perasaan yang ia mainkan dalam lagu lama tentang cinta, Papa memandangi putri cantiknya dengan kagum. Suara piano yang seindah nyanyian, Chika memilikinya lengkap dengan keluarga yang bahagia. Nggak ada yang salah, ketika ia tersenyum pada akhir lagu dan nada yang mengalun lewat jari-jarinya yang terampil juga senyum manis yang biasa ia perlihatkan.
"Harusnya kamu ikut audisi, Sayang", kata Papanya dengan wajah gembira. "Kalau kamu mau papa kenal orangnya"
Chika hanya tersenyum.
"Nanti kalau Chika jadi artis, sekolahnya gimana?", tanya Mamanya yang sedang menyusun bunga mawar segar di dalam vas yang berada di tengah-tengah ruang.
"Aku nggak mau jadi artis, Ma", kata Chika sambil menghampirinya, ikut merapikan bunga-bunganya yang indah. "Aku mau fokus sekolah kok"
"Nah itu baru bagus", Mama yang selalu kelihatan cantik, tersenyum.
Seorang pembantu rumah tangga membantu membereskan semua perelngkapan dari atas meja seperti gunting dan sarung tangan untuk membawanya ke belakang.
"Makanannya udah siap, Bi?", tanya Mama pada Bibi yang hendak pergi.
"Udah, Buk", jawab wanita paruh baya itu, sedikit membungkuk.
"Yuk", Mama mengajak Papa sekaligus Chika, yang sedang membelai kelopak mawar merah di tangannya.
Papa segera berdiri dari sofa, menuju ruang makan yang ada di sebelah ruangan. Seperti pasangan sempurna, Mama mendampinginya dengan setia.
Chika masih berdiri di dekat vas bunga. Tersenyum sambil meremas sekuntum mawar yang tadi tampak begitu indah, sekarang telah menjadi sampah di tangannya.
Makan malam keluarga berlangsung dengan cerita dan tawa Papa dan Mama tentang pekerjaan dan kantor. Chika menikmati makanannya seperti biasa dengan menu membosankan bikinan pembantu yang nggak terlalu pandai masak. Mungkin karena rasa makanannya itu-itu aja, Chika mulai bosan. Andai Mamanya bisa masak, mungkin rasanya lebih enak dari bikinan Bibi
Maklums aja, Mama yang super sibuk selalu nggak punya waktu buat masak. Pagi-pagi bangun lebih cepat hanya untuk bisa dandan sempurna dan kelihatan cantik. Kalau hari libur biasanya ke salon untuk menicure dan pedicure, menata rambut juga perawatan kulit. Kadang Chika juga diajak, tapi sering nggak ikut karena lebih enak di rumah atau pergi sama Getta dengan motornya.
Sedangkan Papa lain lagi, sering keluar kota bahkan ke luar negeri. Nggak pulang-pulang cukup lama karena punya banyak klien di mana-mana. Wajar sih, eksportir gitu lho. Tapi, setahu Chika orang tuanya damai-damai saja. Nggak pernah berantem –sepengetahuan dia, dan kalau ada waktu ketemuan, mereka mesra seperti ABG baru jadian. Contohnya malam ini, seolah dunia milik berdua. Seolah-olah Chika nggak ada di depan mereka, sekali pun Chika cemberut karena dicuekin.
Tapi, mereka memang seperti itu. Daripada berantem? Ya kan?
"Aku udahan", kata Chika pamitan untuk kembali ke kamarnya.
"Oh ya udah sayang, tidurnya jangan larut ya?", pesan Mama.
Chika tersenyum. Ya, melihat ortu yang damai terus pantas disyukuri. Toh, banyak anak-anak yang mesti jadi korban perceraian bahkan kekerasan. Getta misalnya. Dia harus tinggal sama ayahnya yang suka marah-marah dan main tangan. Getta adalah pelampiasan amarah terhadap kesalahan ibunya. Kasihan…
Komentar
0 comments