๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kemah Terakhir
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam..., Molly mulai menghitung saat matanya makin lama makin berat. Suara gitar dan nyanyian teman-teman yang terdengar gembira perlahan memudar. Tiba-tiba berganti menjadi pemandangan gelap. Beberapa saat ia nggak bisa melihat apapun sebelum sebuah pintu terbuka, menuntun Molly ke dunia yang selalu ia rindukan setiap malam.Membuka satu-satunya pintu dalam ruang gelap itu, Molly disambut oleh padang rumput hijau di mana ia bisa berlarian dengan bebas sambil tertawa. Langit cerah sampai awanpun nggak kelihatan.
Molly duduk di atas rumputnya yang hijau seperti permadani, memandangi langit. Nggak ada yang lebih menyenangkan dari saat ia bisa duduk sendirian dengan tenang, menatap langit yang nggak pernah ia temukan di mana pun selain di sini. Sambil menarik nafas lega, dengan rebahan pelan, tubuhnya yang lelah merasakan semangat baru merasuk ke paru-parunya. Namun di tempat itu ia sendirian. Begitu tersadar ia harus pulang, ia menoleh ke sekitarnya. Kosong. Rasanya ia udah terlalu lama di sini
Tempat seindah apapun, jika kita sendirian di dalamnya, tetap terasa menyedihkan. Molly mulai cemas saat mengelilingi padang rumput tapi nggak melihat pintu yang akan membawanya pulang. Nggak ada apa-apa selain rumput hijau, langit biru dan awan putih. Hanya angin yang tetap bertiup menghembuskan hawa dingin.Pada akhirnya ia menangis.
Perasaan sedih Molly menyentuh tubuhnya yang tiba-tiba bergerak oleh goncangan hebat yang membuat kepalanya terantuk ke kaca.
Jok abu-abu lusuh di depannya masih ada. Meski nyanyian dan gitar nggak terdengar lagi, namun ini masih tempat yang sama pernah ia tinggalkan sejak dua jam lalu.
"Molly? Lo nggak turun?", tegur Chika , teman satu tempat duduknya yang sudah bersiap untuk turun bersama tasnya. “Gue duluan ya”
"Awas!", seseorang memekik sementara Molly malah memejamkan mata; menantikan benda itu mendarat di kepalanya.
Perlahan ia membuka mata dengan ragu-ragu. Seseorang sudah menggenggam tas itu dengan ekspresi kaget dan cemas.
"Hampir aja...", kata cowok itu mulai tertawa. Ia melirik Molly yang jadi terpana padanya."Apa?", tegurnya risih dipelototi.
Molly diam. Membalas pandangan teman sekelasnya itu tanpa berkedip.
"Hoi!", tegur anak lelaki itu sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Molly yang kosong. "Kamu syok ya?"
Cowok itu mulai bingung dan risih dipandangi sampai segitunya.
Molly sadar, di depannya sekarang hanyalah Getta, teman sekelas yang duduk nomor dua di belakang dari bangkunya, bukan Ben Joshua –walaupun sekilas rada mirip. Tapi tetap saja bikin Molly agak deg-degan berdiri di depannya. Kenapa baru sadar sekarang ya?
"Nyaris...", suara Molly gemetaran, ia menarik nafas panjang dengan sedikit malu memandangi Getta yang udah bisa kertawa lega.
"Kamu nggak apa-apa?", tanya cowok itu lagi dengan penuh perhatian dan Molly tersenyum sambil menggeleng, "Bagus kalau gitu..."
Tersanjung, Molly meraih tas miliknya dari genggaman Getta yang ikut grogi. "Makasih ya, Get...", ucapnya masih canggung dan malu-malu.
Sambil garuk-garuk belakang kepala dan tersenyum bodoh, Getta berusaha bersikap biasa, "Ah, biasa, aku kan duduknya di belakang...", Getta ikut canggung dan melirik ke jok di belakang jok tempat Molly tadi ketiduran.
Molly menyeret tasnya dan melangkah ke pintu bus lebih dulu sementara Getta di belakangnya.
"Berat ya?" tegur Getta saat Molly agak kerepotan turun dari bus.
"Nggak kok", tawa Molly masih terdengar canggung.
Namun di depan mereka, teman-teman yang lain sudah berbaris untuk mendengarkan arahan guru soal peraturan kemah. Molly masuk ke barisan anak perempuan sedangkan Getta tampak menyusup di antara teman-temannya yang berada di tengah.
Molly tersenyum untuk dirinya sendiri dan matanya menemukan Getta sedang memandangi senyum itu. Dengan sedikit malu ia memalingkan wajahnya untuk menoleh lagi ke belakang, di mana Molly pura-pura nunduk tapi bibirnya masih senyum-senyum nggak jelas kayak kesurupan.
"Eh, Jo? Ada apaan?!", sahut Chika, yang langsung berdiri.
"Dekat sini ada sungai lho! Airnya bagus banget! Kita semua mau main di sana, lo mau ikut nggak?!", ajak Jonas, cowok itu.
"Mau! Molly boleh ikut kan?!", tanya Chika sambil melompat dan tiba-tiba sudah berdiri di depan Jonas. Ia mngulurkan tangannya pada sahabatnya yang pemalu. "Yuk!"
Jonas mengangkat bahu saat Molly meraih tangan Chika dan berdiri dari tempatnya, "Ya asal dia jangan ketiduran aja...nanti kita semua bisa dapat masalah kalau dia tiba-tiba hanyut...", komentarnya lalu pergi.
Chika mulai berlari tanpa melepaskan tangan Molly dari genggamannya. Berlari melintasi halaman rumput yang hijau itu, mengikuti Jonas di depan mereka dengan penuh semangat.
"Chika!", suara Jonas kembali terdengar. Separuh badan cekingnya udah nyebur ke air duluan saat Chika dan Molly baru sampai di pinggiran. Lalu Chika dengan semangat masuk ke air yang membuat ekspresi gembiranya menjadi kedinginan. Tapi, ia terlalu girang waktu menciptran Jonas dan mulai main perang air.
Molly masih berdiri di pinggir memperhatikan mereka sambil ikut tertawa dari kejauhan. Udara pegunungan yang dingin ini membuatnya harus menahan keinginan untuk bergabung di dalam sungai. Ia hanya menyimpan kedua tangannya yang gemetaran dalam saku jaketnya, karena nggak siap untuk basah. Airnya pasti lebih dingin dari udaranya. Ia nggak ingin sakit di saat-saat berharga seperti ini. Lagipula, ia harus menjaga kesehatan karena mudah sakit dan sebelumnya ia sempat dilarang pergi. Tapi, memandangi Chika saja sudah membuatnya senang. Dia selalu membawa keceriaan ke mana pun ia pergi.
Siska Olivia adalah sahabat Molly. DIa yang biasa dipanggil Chika. Cantik, pintar dan kaya. Dibilang feminin, dia hampir nggak pernah kelihatan memakai rok selain ke sekolah, di bilang tomboy, rambutnya panjang dan terurus. Sifatnya periang dan mudah bergaul. Dia disukai banyak orang termasuk anak cewek. Hebatnya, Chika mau bersahabat dengan Molly, yang semua tentang dirinya adalah kebalikan dari Chika. Molly yang sibuk dengan harapan-harapannya lagi-lagi menatap dengan hampa, sambil menyusun beberapa kalimat dalam kepalanya yang diawali dengan kata 'seandainya...'
"Gettaaaaa!!", suara Jonas kembali terdengar.
Pandangan Molly mendapatkan fokusnya kembali. Masih di tempat ia berdiri sambil ngelamun, ia menemukan Getta sebenarnya nggak jauh dari Chika dan Jonas yang udah basah sama sekali. Ia terlihat bersama beberapa anak cowok yang telanjang dada berenang di tempat yang agak dalam.
Getta menoleh kepada temannya dengan sedikit lambaian tangan. Rambut hitamnya yang agak gondrong tampak basah oleh air yang membuat sosoknya bersinar di bawah cahaya matahari. Separuh tubuhnya tenggelam di dasar air, dan ia tertawa hingga matanya nggak kelihatan.Molly nggak pernah menyadari bahwa Getta ternyata keren juga selain karena bertubuh tinggi. Ia jadi ingat ketika berdiri di dekatnya, ujung kepala Molly berada di bahu Getta.
Seperti punya perasaan yang sama tiba-tiba Getta menoleh ke belakang, menemukan Molly tengah memandangnya. Lalu sama-sama menyimpan rahasia yang hanya mereka tahu berdua. Di saat yang sama, mendapati pipi Molly memerah, Getta sedikit bingung. Namun, sekali lagi ia menoleh ke belakang ekspresi gadis lucu itu belum berubah.
"Chika?!", suara Jonas yang ketakutan mengalihkan perhatian mereka yang terpaut dalam.
"Udah, gue nggak apa-apa kok", suara Chika terdengar tenang tapi menggigil, sekujur tubuhnya basah dan wajahnya memutih pucat. Sambil berusaha tertawa, ia menenangkan Mollydan menemukan Getta masih bersama mereka, lalu tersenyum, "Makasih ya..."
Getta yang basah hanya tersenyum simpul.
"Lain kali hati-hati ya", kata Bu Seno, wali kelas mereka, "Nggak biasanya kamu ceroboh, Siska"
Chika cuma geleng-geleng kepala, sambil nyengir, "Iya, Bu...", katanya, "Saya nggak nyangka, tergelincir sampai hanyut"
"Kamu ganti baju sana, bentar lagi acara kita mulai ya...", Bu Seno mulai melangkah, meninggalkan mereka.
Chika nyengir lagi, "Udah, lo nggak senang gue masih hidup apa?!", cetusnya.
"Jo, udahan yuk! Gue kedinginan nih!", seru Getta yang menggigil.
Jonas berdiri sambil mencak-mencak, "Iya iya!", celetuknya, menghampiri Getta, "Kita balik dulu ya, ntar jurit malam kita ketemuan lagi"
Chika mengangguk, menyaksikan dua cowok itu berlalu. Sebelum ia mengatakan sesuatu pada Getta, ia malah mendapati sahabatnya yang manja itu tengah terpana pada salah seorang yang baru saja pergi dari mereka.
"Woi!", serunya sambil menepuk punggung Molly sampai gadis itu terkejut setengah mati. Melihat ekspresi kaget Molly memang lucu dan ia cekikikan.
"Sejak kapan lo flirting sama Getta?!", tanya dia sambil tertawa-tawa karena Getta sempat menoleh ke belakang untuk tersenyum pada mereka.
"Enggak!", Molly memekik seperti bayi dan Chika tertawa makin keras.
"Pada lebay deh semua...", gerutu Chika melihat tingkah teman-teman sejenisnya. Sebelum namanya dipanggil dan ia maju ke depan.
Molly terlihat santai, apa sih yang ditakutin saat jurit malam? Bukannya mereka ada di sini untuk bersenang-senang?, ia tersenyum sendiri saat melihat Putri, salah seorang teman mereka menolak untuk ikut jurit malam dengan berbagai alasan. Sakit asma-lah, phobia gelap-lah, dan yang paling bikin semua orang tertawa adalah hantu. Molly menggeleng-geleng.
Jawaban yang mudah nggak bisa keluar begitu saja sejak sadar, bahu Getta bersentuhan dengan bahunya.
"Nggak...", jawabnya malu-malu tertunduk lagi dengan pipi merona, "Kalau tempat ini ada hantunya nggak mungkin dijadiin tempat kemah kan?"
"Kelompok 8, Getta Adhia , Molly Andreata!" panggil Bu Seno dengan lantang.
Keduanya sama-sama terkesiap. Lalu segera berdiri dengan canggung, keluar sebagai pasangan untuk jurit malam yang awalnya nggak terlalu menjadi perhatian. Meski beberapa orang cewek sempat deg-degan apakah Bu Seno memasangkan Getta dengan salah seorang dari mereka. Tapi, pilihan Bu Seno memang tepat, memasangkan Getta dengan siswi pendiam seperti Molly yang nggak terlalu pandai bergaul.
Berdiri di depan orang-orang di barisan yang sama membuat, Molly sedikit malu. Ia memilih berada di belakang Getta sampai pembagian kelompoknya selesai.
Jonas dari kejauhan tampak mengeluh dengan pasangannya, Amy gendut yang sepertinya nggak masalah di pasangkan dengan siapapun termasuk orang seberisik Jonas yang sering bikin cewek-cewek gerah di dekatnya.
Sedangkan Chika, memperhatikan Molly yang menoleh sambil tersenyum padanya. Terlambat, Chika membalasnya dengan tersenyum simpul. Seperti ada yang mengganggu, ia tertunduk sejenak sebelum kembali pada Molly yang masih melihat ke arahnya. Chika agak sebal –entah kenapa, lalu nggak pernah menoleh lagi sampai kegiatan mulai.
"Nggak peduli siang atau malam aku selalu ngantuk", jawabnya.
"Kenapa bisa kayak gitu sih? Heran...kamu emang suka tidur atau itu penyakit ?", tanya Getta lagi.
"Penyakit? Memangnya ada penyakit suka tidur?", balas Molly, suaranya pelan dan dalam, menahan suara detak jantungnya yang keras.
"Ada!", kata Getta, "Ada lo, sakit langka yang bikin seseorang itu bisa tidur sampai berhari-hari. Nggak bangun-bangun!",
Molly tertawa lagi, "Oh ya?"
Getta mengangguk, "Kalau nggak salah namanya Sleeping Beauty Syndrome", jelasnya lagi.
"Memang ada ya penyakit kayak nama putri dongeng?"
Getta mengangkat bahu, "Mereka bilang sih gitu...", ia melirik Molly sebentar, "Jangan-jangan kamu sakit itu ya?"
Molly menggeleng, "Itu cuma karena kebiasaan kok...", katanya.
"Kamu suka tidur ya?"
Sambil mengambil nafas panjang, ia menatap Getta sebentar, "Dibilang suka tidur sih nggak juga...", ia menjelaskan dengan pelan, sarat renungan akan sesuatu yang membuatnya sedih, "Tidur itu... kayak ngelindungin aku dari hal-hal yang nggak ingin aku lihat atau rasain di kehidupan nyata..."
"Terus kalau kamu mimpi buruk gimana? Misalnya mimpi dikejar setan... kan serem..."
Molly menghentikan langkahnya, lalu tersenyum lagi, "Mimpi nggak pernah bisa melukai atau membunuh. Seburuk apapun yang aku lihat atau rasain di sana, begitu aku bangun semuanya pasti hilang. Tapi, kalau hal yang nggak diinginkan terjadi dalam kenyataan...", Molly nggak bisa melanjutkan kata-katanya.
Getta tampak menghembuskan nafas. "Ya udah, aku ngerti kok...", ujarnya, "Semua orang punya caranya masing-masing untuk menghadapi sesuatu... tapi mungkin aja kamu memang kena gejala itu deh..."
"Kamu ngawur ah!", Molly bertambah malu.
"Penyakit itu bahaya juga lho. Kalau kebiasaan, bisa-bisa kamu nggak sekolah lagi dan ketinggalan pelajaran..."
Molly terdiam, "Separah itu ya?"
"Makanya jangan suka tidur terus. Kamu suka yang lain kek, yang bikin kamu senang supaya nggak lihat hal-hal yang nggak diinginkan", ujarnya.
Mengatakannya memang mudah. Kata-kata seperti itu sudah sering diucapkan Chika namun nggak dapat menyentuhnya. Namun, entah mengapa ketika Getta yang mengatakannya, seperti memberi harapan baru.
---
"Suka yang lain?", Molly menatapnya heran dan Getta segera membuang muka dengan gugup.
Getta nggak pernah segugup ini berhadapan dengan seorang cewek.
"Aku...", Molly mencoba mengatakan sesuatu, kata-katanya tersangkut entah di mana. Akhirnya menyerah dengan tertunduk.
Getta merasa bodoh karena ia begitu mengharapkan kata-kata selanjutnya. Tapi, Molly nggak seperti Chika atau cewek-cewek lain yang agresif dan kadang-kadang cenderung nggak tahu malu. Ia harus bersabar, namun kemudian ia tersenyum.
"Kamu beneran sakit Sleeping Beauty syndrome deh kayaknya", kata Getta memecah keheningan.
"Hah?", Molly tampak terkejut. Lalu tertunduk malu sambil melangkah dan melewati Getta yang masih berdiri, "Bukan Sleeping Beauty tapi Sleeping Ugly..."
"Apa?", tawa Getta melompat dari bibirnya dan ia segera menyusul Molly, "Ugly?"
Molly menoleh sekali padanya, "Aku kan nggak cantik", katanya merengut.
"Apa sih pentingnya cantik?", tanya Getta mulai cekikikan.
Molly tidak menjawab dengan bersungut-sungut ia melangkahkan kakinya dengan cepat. "Bagi cewek itu penting...", keluhnya.
"Iya deh iya...", Getta mengalah.
Lalu keheningan kembali bicara dalam langkah yang tampak nggak punya tujuan. Tiba-tiba Getta bergidik, ia merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di semak-semak yang baru mereka lewati. Tanpa sadar ia mempercepat langkahnya dan menabrak Molly yang nggak tahu apa-apa.
"Kenapa, Get?", tanya Molly yang sudah menemukan wajah Getta pucat.
"Ada... ada yang gerak-gerak di situ tuh...", jawab dia ngeri.
Molly mengernyit, jadi... Getta juga takut hantu?
"Paling cuma binatang...ini kan hutan", jawab Molly tampak acuh sambil bergerak lagi.
"Tuh!", Getta menunjuk-nunjuk dengan ketakutan ke semak-semak bergoyang-goyang.
Karena Getta takut, Molly mulai waspada. Semak-semak itu diam beberapa saat sebelum...
"Whoaaaaaaa!", suara menyeramkan menerkam mereka dari belakang.
Molly dan Getta menjerit sampai jatuh!
Tawa renyah Chika terdengar, Jonas muncul tiba-tiba dengan mata membelalak bercahaya menyeramkan –sebuah ekspresi konyol mereka baru membuat lelucon.
"Siaaaaal!", pekik Getta sambil bangkit dan dalam sekejap meraih kedua bahu Jonas untuk memberinya hantaman lutut di perut, "Sialan lo, Jo!"
Jonas tertawa sambil melepaskan dirinya sebelum Getta membalas candaannya.
Tawa Chika terhenti, melihat Molly belum dapat berdiri.
Wajahnya pucat. Rona merah yang selalu timbul saat bersama Getta tadi, telah lenyap nggak berbekas.
"Molly?", Chika menghampirinya.
"Molly?", Panggil Getta sambil mendekat dan tiba-tiba tubuh kurus itu terkulai.
Molly pingsan karena terkejut!
"Aah! Kalian sih!", gerutu Getta sambil mengangkat Molly yang tumbang di hadapan sahabatnya yang bisanya cuma melongo.
Jonas tampak kawatir, "Sory... gue kan nggak tahu dia jantungan...", sesalnya sambil mengikuti Getta yang sudah menggendong Molly di punggungnya.
Chika nggak bergerak, saat Jonas berlari menyusul Getta dan Molly terburu-buru. Ia hanya memandangi langkah mereka yang perlahan meninggalkannya.
"Apa-apaan sih...", gumamnya tiba-tiba merasa kesal.
Molly merasa sangat malu. "Aku beneran kaget kok...", kata dia ragu-ragu sambil mengingat lagi. Ia memang nggak sadarkan diri sewaktu Chika dan Jonas menakut-nakuti mereka. Hanya saja dalam perjalanan kembali ke tenda, ia tersadar namun...
Tiba-tiba pipinya merona, membayangkan Getta menggendongnya dan mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
"Ada tapi-nya kan?", celetuk Getta yang kebingungan melihat perubahan raut Molly, lalu ia menghela nafas. "Udara di sini dingin ya, sampai kamu yang biasanya putih pucat kulitnya jadi merah..."
Molly tertunduk membeku, ingin tersenyum tapi terlalu malu. Getta tahu bahwa ia ketiduran saat mereka sampai di tenda. Tapi, Getta tampak nggak mempermasalahkannya.
"Oh ya, kemarin... aku sama Jonas sempat keliling di sekitar tempat kemah terus kami nemu tempat yang bagus banget.", Getta memulai, "Kamu mau ikut ke sana?"
Molly mengangkat kepalanya dengan semangat, "Mau! Aku kasih tahu Chika dulu ya!", serunya.
"Nggak usah", kata Getta, "Aku juga nggak ngajakin Jonas, jadi..."
Molly menatapnya bingung, jadi... hanya pergi berdua?
"Kamu mau kan?", tanya Getta, lagi tampak penuh harap.
Molly mengangguk dengan sangat pelan, ragu-ragu tapi senang!
"I..iya...", jawabnya, tertunduk canggung.
Getta tersenyum sambil berdiri dan Molly menengadah karena terkejut, Getta mau langsung pergi?
"Bentar lagi games-nya dimulai, kita perginya pas istirahat siang aja. Aku tunggu di dekat sungai ya?", kata dia sebelum berlari dengan gembira dan selanjutnya ia sudah berada di antara anak-anak cowok yang sedang tertawa.
Molly terkejut setengah mati sampai detak jantungnya mau berhenti dan Chika malah tertawa.
"Gue nggak ke mana-mana kok", kilah Molly yang bingung.
Getta pasti sudah menunggunya di pinggir sungai.
"Ngapain lo sendiri-sendiri aja, mendingan lo ikut gue ngumpul sama yang lain", ujar dia sambil menarik lengan Molly dan mereka meninggalkan tenda di saat yang lain sedang istirahat setelah games ketangkasan yang bikin capek.
"Ta...tapi...", Molly ingin menolak, tapi ia harus mengatakan alasannya. Dan kalau Molly bilang Getta sedang menunggunya pasti bakal terdengar aneh bagi Chika. Lagipula, Getta bilang hanya berdua. Nggak boleh ada orang lain yang tahu.
"Udah, nggak apa-apa. Gue jamin nggak bakal ada yang ngeledek lo di sana!", kata dia.
Masalahnya bukan sekelompok orang yang sering meledek Molly waktu di sekolah, tapi Getta! Molly sudah berjanji padanya akan datang. Tapi, saat ini ia nggak bisa menolak, bahkan nggak ada kata-kata yang dapat ia lontarkan untuk mengelak.
Padahal sudah terbayang pergi ke tempat rahasia dengan Getta tapi sekarang Molly malah duduk di antara anak-anak songong yang membuatnya sama sekali nggak nyaman. Karena mereka mengobrol tentang sesuatu yang nggak dimengerti Molly. Sedangkan Chika... tampak nggak mempedulikan Molly. Seperti sengaja duduk berjauhan dari Molly untuk membiarkannya sendirian.
Sekilas, saat Molly membayangkan Getta masih menunggu, Chika menoleh padanya dengan seringai di wajah cantiknya. Sebelum ia menertawai sesuatu dengan kelompok mayoritasnya.
"Lo ngapain ajak si goblok itu sih?", Jonas menyikut Chika sambil melirik Molly yang gelisah.
Chika cuma nyengir, "Gue kasihan lihat dia sendirian di tenda", jawab dia. "Oh ya, si Getta kok nggak kelihatan?"
"Nggak tahu gue, tuh anak belakangan aneh banget!", keluh Jo, "Suka ngelamun, suka ngilang, kayak lagi jatuh cinta aja..."
Chika tertawa, menyembunyikan kekesalannya, tanpa komentar seolah telah memenangkan sesuatu saat memperhatikan Molly tampak khawatir. Getta pasti kecewa karena yang ditunggu nggak pernah datang.
Bu Seno masih berpidato dengan suara keras di depan murid. Sedangkan Molly menunggu Getta menoleh padanya tapi pada akhirnya ia naik bus dengan kecewa. Getta sudah seperti itu sejak malam api unggun di mana ia nggak lagi mengajak Molly bicara. Namun juga nggak menunjukan ia sedang marah atau kesal.
Ia tetap tertawa dengan teman-temannya dan Molly menarik nafas panjang, menyadari bahwa ia menyukai Getta dan menyesali hari saat ia nggak menepati janjinya –nggak sadar kalau Chika tampak senyum-senyum dari kejauhan setelah ia pindah tempat duduk di bus dan bergabung bersama kelompok cewek lain. Chika meninggalkan Molly sendiri.
Molly tampak nggak peduli, meski pun hatinya sedih sampai rasanya ingin menangis. Ia berusaha memejamkan mata, mencoba untuk tertidur meskipun ia belum mengantuk. Dan mengucapkan mantra tidurnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,....
Komentar
0 comments