๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jakarta, Agustus 2011…
“Alan…,” suara lembutnya memanggilku dalam keheningan waktu yang seolah terhenti.
Aku mengangkat kepalaku, menatap apa yang ada di depanku baik-baik. Dia yang datang menghampiriku dengan senyuman seperti saat pertama kali aku menemukannya.
Suaraku tertahan saat aku menyebutkan namanya, dan dia mendesis dengan telunjuk di bibir, memintaku diam. Aku hanya menatapnya dengan tidak rela, sebelum melihat tetesan darah mengalir dari pergelangan tangannya yang terluka.
Aku memandangnya baik-baik, “Kenapa kamu…,” aku bertanya padanya dan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Ayu memelukku untuk selanjutnya menghilang, menjadi hampa, membuatku tidak dapat bernafas. Aku bahkan tidak ingat wajahnya dengan persis. Bayangannya memudar dan semakin menyatu dengan udara.
Semua karena aku tak benar-benar ingat lagi kapan terakhir aku melihat wajahnya. Ya, sudah sangat lama sejak aku menyadari bahwa ia lebih bahagia jika aku tidak ada di sekitarnya. Menyaksikannya tertawa dan menari-nari bersama orang yang dapat memberikan semua yang tidak dapat kuberikan padanya. Karena itulah dia menghilang dariku.
Hari ini, 12 Agustus 2011. Hari ini, hari ulang tahunku yang ke -30. Aku baru saja menerima kado dari Ayu –kabar kematiannya. Dan sekarang, aku berdoa pada Tuhan yang tidak kupercayai, untuk satu keajaiban lagi –keajaiban yang ketiga kali. Kuharap ini menjadi perpisahan yang terakhir bagi kami.
Tapi, tatapannya padaku seakan tidak ingin memberiku kesempatan satu kali pun.
---
“Hentikan, Ayu…,” kataku memohon, menggenggam tangannya terluka dan dibalut kain kasa dengan noda darah yang meresap dari luka sayatan di tangannya.
Ia duduk di tempat tidur serba putih dengan wajah pucat dan raut berantakan. Rambutnya yang di potong pendek sekali, kelihatan acak-acakan.
Ruangan sunyi itu terasa mencekam bagiku saat ia dan tatapannya yang kosong tidak menggubrisku sama sekali.
“Aku mohon, hentikan…,” kataku lagi, menatapnya agar ia menatapku.
Namun tak pernah kulihat dia sedingin itu. Aku menyesal membuatnya menghabiskan hampir sepanjang tahun ini di rumah sakit hanya untuk sembuh dari skizofrenia yang ia alami sejak kembali dari Mentawai.
“Aku tidak gila, Lan,” katanya, sekarang sudah menatapku. Tapi, masih sedingin sejak aku datang ke sini sejam yang lalu.
Kupandangi dirinya dan luka bekas perjuangannya melawan maut yang nyaris merenggut dia selamanya dariku.
“Aku tidak benar-benar ingin mati,” katanya menjelaskan alasan mengapa ia menyayat nadinya sendiri dan membuat semua orang seperti diteror. “Kalau aku tidak melakukannya, mereka tidak akan menyuruh kamu ke sini…”
“Kamu bisa kasih memberi tahuku bukan dengan cara seperti ini…,” aku hampir menangis saat mengatakannya.
“Semuanya sudah aku lakukan, Lan,” katanya dengan suara yang amat pelan. Tapi, tatap matanya masih belum berubah. “Aku ke Jakarta, mencari kamu karena kupikir kita belum berakhir. Aku bukan sengaja menghindari kamu karena aku benci. Kamu meninggalkan aku di saat aku tidak berdaya… kamu masih punya Tyas dan meributkan masalah yang tidak pernah selesai tiap sebentar. Di Jangan pikir aku tidak tahu itu…”
“Itu tidak benar…,” kataku. “Kalau gempa itu tidak menghancurkan semuanya, Ayu, aku sudah pasti membawa kamu pergi… tapi kamu menghilang. Keluarga kamu saja tidak tahu kamu ada di mana. Begitu aku bertemu Tyas dan dia bilang kebetulan bertemu kamu, aku langsung ke Padang. Kupikir kita masih bisa bersama lagi… tapi…”
“Kamu pikir aku baik-baik saja tanpa kamu?” balasnya. “Apa aku terlihat begitu senangnya?”
“Maafkan aku, Ayu…,” pintaku menggenggam tangannya lebih erat saat ia ingin menariknya lagi dariku. “Aku sadar aku hanya membawa kamu ke dalam masalah sejak pertama kali kita bertemu…”
“Semua kesalahan yang aku lakukan berkat kamu berbuntut panjang,” katanya.
Aku menarik nafas, menenangkan diriku. Aku tahu sekali dia mengamuk, dia akan kehilangan dirinya. Masih belum pudar di kepalaku, saat ia berkata begitu membenciku karena apa yang kulakukan padanya, ia lebih cenderung menyakiti diri sendiri daripada membalasku.
“Sekarang bilang, apapun yang kamu inginkan, aku lakukan…,” ujarku meraih belakang kepalanya untuk sekedar merapikan rambutnya yang berantakan dan kusut.
Tapi, Ayu menepiskannya.
Ia terdengar menghela nafas. “Lepaskan aku, Lan,” katanya menatapku lekat-lekat. “Lepaskan aku dari penjara kamu”
“Apa maksud kamu?” tanyaku, bingung.
Ayu hanya menatapku dan menghela nafas lagi.
“Apa kita tidak bisa kembali bersama?”
Ayu menggeleng, lalu tertunduk. Genggamanku pada tangannya terlepas. Kupikir, dia melakukan hal yang gila ini hanya agar aku kembali. Dayaku hilang seketika, persis ketika seseorang memberitahuku di telpon bahwa ia sekarat karena percobaan bunuh diri. Sungguh, aku pikir aku telah melewati neraka yang tercipta karena ketiadaannya di sisiku dengan datang ke sini.
“Untuk saat ini… aku tidak merasa yakin,” katanya dan seketika kutarik tubuhku menjauh darinya.
Aku memalingkan wajahku tidak percaya. “Kenapa?” aku tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Tapi, bukannya kamu bilang, kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti? Kita tidak perlu tahu akhir saat sebelum memulai?” balasnya, dan kata-kataku sendiri tersangkut di ujung lidahku.
Aku membeku.
“Untuk saat ini kita sudah berakhir, Alan,” ia menegaskan, tiada nada gentar pada suaranya yang dingin. “Tapi, jika memang… kita ditakdirkan untuk bersama, berapa lama pun atau berapa jauh pun kita berpisah, kita akan kembali lagi…”
Aku tidak bisa menerima kata-kata itu.
“Aku sangat lelah, Alan,” sambungnya. “Aku hanya ingin istirahat panjang dari memikirkan kamu…”
“Terus apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku akhirnya.
“Kemungkinan setelah ini aku akan ikut Peter ke Nairobi atau Pakistan,” sambung dia. “Aku ingin melakukan hal yang lain selain memikirkan kamu. Aku akan mengurus anak-anak di pengungsian, kamu tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak suka anak-anak. Tapi, aku jadi ingin mencobanya. Ingin sekali…”
Aku terdiam sangat lama. Aku tidak mengatakan sesuatu lagi –memintanya mengurungkan niatnya itu. Karena jika aku menghentikan angan-angannya, wajah bahagia itu akan kembali merana.
“Kamu pernah bilang seharusnya aku melakukan sesuatu yang besar ‘kan?” dia menegurku dan aku berusaha menahan sesuatu yang mengganjal di mataku. “Aku dibutuhkan di tempat lain yang jauh dari sini…”
Aku meninggalkan rumah sakit itu. Tangis sudah pecah di mataku selangkah aku pergi darinya. Aku tahu dia gadis yang cerdas. Aku tahu dia sangat berpendirian dan sesungguhnya pada masa-masa sulit dalam hidupnya dulu dia tidak pernah bergantung padaku. Melainkan kelemahanku yang tak terlihat bergantung kepada semua keceriaan yang ia bawa ke dalam hidupku sejak pertama bertemu.
Sekarang, ia sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan aku tidak mungkin menyeretnya kembali untuk bersamaku.
Tapi, tiba-tiba saja terngiang di kepalaku. Kata-kata sinis Tyas sebelum aku meninggalkan Jakarta setelah dia memberitahu bahwa Ayu masih hidup.
‘Kalian itu seperti bayangan bulan di atas air… sebegitu cintanya sampai tidak peduli orang lain akan menderita’
Betapa pun dihancurkan akan menyatu kembali.
Benarkah?
---
Jakarta, April 2014…
Aku membunyikan klakson beberapa kali. Makin tidak sabar pada keramaian yang membuatku semakin lama terjebak di jalanan. Antara dinginnya AC dan parfum mobil yang terlalu wangi. Namun aku tidak bisa membuka kaca karena polusi akan menyeruak ke dalam.
Aku menghela nafas panjang, ketika akhirnya aku dapat bergerak maju dan mobil-mobil lain memberi ruang untuk lewat. Pagi telah datang menungguku dengan rutinitas yang sama. Meski setahun belakangan ada sesuatu yang sedikit berbeda pada hidupku.
“Pak Dennis!” resepsionis menegurku saat aku sedang menyeret langkahku yang malas menuju lift. “Hm…,” perempuan itu tampak ragu. “Ada yang mau bertemu Bapak”
“Saya tidak ada janji bertemu hari ini,” kataku ingin segera berlalu dan pintu lift terbuka. Aku segera naik bersama beberapa orang lainnya.
“Tapi, Pak, orang ini ngotot sekali…,” kata resepsionis itu dan aku mengabaikannya. Pintu lift hampir menutup dan resepsionis itu berkata lagi. “Dia bilang namanya Ayu Raima”
Seisi lift terkejut begitu aku menjulurkan tangan –tanpa sengaja mendorong barisan dua orang di depanku, untuk memencet tombol buka. Resepsionis itu juga terkejut dengan reaksiku begitu juga dengan orang-orang di dalam lift.
Aku tidak percaya. Sungguh, aku tidak percaya. Dia duduk di sana –terlihat sangat santai. Memainkan handphone yang dipasangkan earphone dan ia mengangguk-angguk mendengarkan musik yang kedengaran asyik sambil mengunyah permen karet. Aku tidak melihat wajahnya yang tertutup topi yang ia kenakan di kepalanya.
Rambutnya sudah panjang lagi dan ia kelihatan agak gemuk. Tapi, aku belum lupa bahwa dia adalah satu-satunya gadis kecil yang pernah membuatku melakukan hal bodoh seumur hidupku. Tidak, dia bukan gadis kecil lagi sekarang, karena aku sendiri juga sudah cukup tua.
Begitu aku tiba di hadapannya, ia langsung mengangkat kepalanya. Memperlihatkan wajahnya yang tersenyum lalu tertawa.
“Jadi….benar-benar susah ya bertemu Dennis Harianto itu?” candanya dan aku diam.
Dia masih tertawa saat berdiri di hadapanku.
Dia masih tertawa saat berdiri di hadapanku.
“Aku sedang transit…,” ia menjelaskan kemunculan yang tampak seperti kejutan –seolah Tuhan baru saja menjatuhkannya dari langit untukku. Sambil melihat jam tangannya, ia melanjutkan, “Nunggu di bandara sampai enam jam pasti membosankan, jadi… aku ke sini…”
Rasanya seperti bertemu untuk pertama kali. Ah iya, April tahun ke enam sejak saat itu. Ia datang ke sini seolah ingin merayakannya. Ketika dia memperlihatkan dua kaleng Coca Cola di tangannya, ia mengajakku duduk di suatu tempat untuk minum.
“Aku sudah tidak minum itu lagi,” kataku sambil mengikuti langkahnya yang selalu mendahuluiku.
Dia menoleh ke belakang dengan tawa lebar, “Kenapa sih?” tanyanya santai.
“Kamu bilang membuat tulang cepat keropos,” jawabku. “Aku sudah kepala tiga, Ayu…”
Ayu cekikikan sambil berlari-lari kecil meninggalkan lobi. Dia selalu berjalan lebih dulu, seolah sedang menuntunku. Dan biasanya sepanjang jalan, dia akan tertawa sambil berbalik, memanggilku untuk berjalan lebih cepat.
Kami tidak berjabat tangan seperti seharusnya. Setelah tiga tahun tidak melihatnya, aku pikir aku dapat melepaskannya. Sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda. Kami mempunyai kehidupan masing-masing. Kami sama-sama tahu itu.
Ayu akan melanjutkan petualangannya sedangkan aku sudah menikah lagi sejak setahun yang lalu. Meski kami adalah dua garis lurus yang tidak akan pernah bertemu, masih ada harapan yang tersembunyi yang menunggu untuk dikabulkan. Suatu hari nanti.
Karena aku dan Ayu adalah bayangan bulan di atas air.
***
Komentar
0 comments