🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳
Tahun Baru
Saat aku membuka mata, aku seakan melihat semuanya lagi. Rasa sakit di dada, air mata, dan dia yang terus melangkah ke depan. Apa yang tertangkap oleh pandangan mataku, hanya punggung yang berlari menjauh.
Tanganku terasa menggenggam sesuatu dengan hampa. Air mataku menetes di telapak tanganku yang kosong. Rasanya aku baru saja menggenggam sesuatu yang menghilang dalam sekejap.
Semua yang kembali seketika aku terdampar di antara sampah-sampah sisa terjangan ombak, hilang secara tiba-tiba. Aku pikir aku benar-benar sudah mati karena rasanya langit begitu dekat. Hingga aku dapat menjangkaunya hanya dengan menjulurkan tanganku.
Tapi, seluruh tubuhku tidak bisa kugerakan. Aku bahkan tidak dapat bicara. Aku hanya mendengar suara-suara orang menangis tapi tak tahu asalnya. Lalu semuanya menjadi gelap lagi. Aku tidak tahu seperti itulah rasanya sekarat dan terlunta berhari-hari di pulau terpencil yang baru saja tertimpa musibah.
Aku menyesal tidak mendengarkan orang tuaku. Aku menyesal karena saat itu aku meroKenapa dan mabuk. Aku menyesal berada di sana ketika tsunami setinggi 3 meter menerjang Mentawai pada 26 Oktober 2010 kurang dari satu jam setelah gempa 7.2 SR jam 21.42 WIB. Ratusan nyawa melayang dan sebagian tidak pernah ditemukan.
Aku menyesal berteriak pada Ibu sebelum pergi. Aku menyesal karena akhirnya mereka melihatku begini.
Kaki kananku patah. Pesendian tangan kiriku bergeser. Aku punya luka-luka mengerikan di betis yang sobek dan wajahku pun harus mengalami operasi ringan. Luka-luka kecil meninggalkan bekas di paha dan punggung serta lenganku. Bekas jahitan itu terlihat sangat menakutkan.
Ada banyak orang yang datang menjenguk, hingga aku tidak bisa mengingatnya. Kecuali untuk beberapa orang yang sering datang
---
Padang, Desember 2010…
Andai semua umpatanku tentang keluargaku bisa ditarik kembali.
Aku menemukan diriku seperti Frankenstein. Menyadari itu aku menangis sejadi-jadinya; kaki kananku tidak bisa kugerakan..
Orang tuaku berpikir bahwa aku sangat shock mengetahui keadaanku, tapi lebih dari itu, rasa sakit yang sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari luka yang bisa mereka lihat, tapi hatiku yang hancur. Mengetahui, selamanya mungkin dia tidak pernah tahu bahwa aku nyaris mati.
Kaca lemari saat ini memantulkan sosok seorang gadis menyedihkan yang terluka. Inilah kenyataannya sekarang.
---
Tengah malam handphone-ku berbunyi. Aku berada dalam rasa kantuk yang benar-benar membuatku tidak ingin bangun. Namun suara nada deringnya yang terdengar mengerikan memaksaku untuk mengangkatnya.
“Halo?” suaraku hampir tidak bisa keluar.
“Kamu ketiduran ya?” suara seorang lelaki terdengar jelas dan aku berusaha untuk sadar sepenuhnya.
Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya. Yang aku tahu, begitu tsunami menerjang Mentawai dia ditugaskan untuk pergi ke sana dan setelah itu ia seperti menghilang dalam duka yang masih akan terasa hingga beberapa bulan kemudian.
Aku mendengus. Kubalikan badan, dan wajahku jatuh di atas bantal. “Kamu bercanda?!” aku menggerutu. “Aku tidak ketiduran, aku lagi tidur!”
Ia tertawa. “ Maaf… kalau begitu lanjutkan tidurnya,” katanya.
“Cepat katakan ada apa supaya aku bisa tidur lagi. Kenapa kamu menelpon tengah malam?” keluhku.
Radhi masih saja tertawa. “Tidak, mungkin seharusnya tidak usah…”
Aku mengangkat kepalaku, daguku bertumpu di atas bantal dan aku sudah bisa berpikir. Menelpon selarut ini, kalau tidak ada yang penting, ia pasti tidak akan mau melakukannya.
“Apa aku menyedihkan?” tanyaku. “Itu sebabnya kamu tidak mau bertanya apa yang terjadi padaku?”
Radhi tidak menjawabku. “Rasanya aneh, kamu tahu?”
“Aku baik-baik saja…,” ucapku, berusaha tertawa.
Radhi tidak menjawabku.
Aku tidak tahu mengapa bicara dengannya membuatku sedih. Aku sudah lama tidak bicara dengan seseorang tentang apa yang kurasakan sejak malam naas itu. Karena aku sudah tidak punya teman lagi. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku telah dicampakan dan teman-temanku tewas. Aku mempunyai bekas luka mengerikan di sekujur tubuh dan aku tidak punya seorangpun di sampingku. Hal yang dulunya sangat aku sukai menjadi hal yang paling aku takuti sekarang.
Aku tidak pernah mengatakan pada orang tuaku betapa aku menyesal atas apa yang aku lakukan –meroKenapa dan mabuk. Aku tidak pernah menunjukan rasa bersalah terlalu keras kepala selama ini karena aku tidak ingin mereka bersedih dan aku… tidak bisa menunjukan pada mereka bahwa aku tidak bisa hidup lagi.
Kepalaku sakit. Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku tidak tahu cara mengatakan bahwa tidak ingin bicara panjang lebar karena dia kedengaran ingin menanyakan kenapa aku menangis. Aku mengangkat kepalaku. Selama ini aku selalu berpikir bahwa aku tengah dikutuk. Aku kehilangan semua yang aku punya dalam sekejap.
Tapi, menatap Radhi seperti menerima sebuah uluran tangan tak terlihat yang membuatku terus berpikir. Untuk inikah bencana itu terjadi? Kisah lama sudah tersimpan pada buku yang tertutup.
Aku jadi ingin menuliskan banyak hal. Aku tidak ingin menjadi beban orang lain. Aku ingin berlari lagi. Aku ingin mengulang semuanya dari awal lagi. Aku ingin berhenti mengeluh. Aku ingin hidup sebaik-baiknya. Dan aku ingin dicintai lagi.
Tapi, yang keluar dari bibirku hanya tangisan. Dan dia, terdiam di sana, menungguku. Sampai aku berhenti menangis.
“Kamu hanya perlu bicara, Yu…” kata dia. “Kamu tidak bisa memperbaiki diri kamu sendiri…”
---
Bunyi jarum jam yang berdetak terdengar jelas dalam kegelapan. Mungkin karena ini sudah malam dan sunyi. Seolah hanya ada aku sendiri di rumah ini.
Aku keluar dari selimutku dan meresapi dinginnya angin. Padahal belum larut. Setidaknya jam 9 di Padang pada malam tahun baru belum selarut hari-hari biasa. Orang-orang pasti keluar rumah membawa terompet, petasan dan kembang api, atau apa saja yang membuat heboh.
Radhi datang menjemput ke rumah dengan taxi yang menunggu di depan gang. Ia bicara dengan baik pada orang tuaku lewat bahasa yang sopan dan teratur.
Aku terlihat normal karena akhirnya ada seorang lelaki yang menjemput ke rumah dan memohon izin pada orang tuaku secara baik-baik. Bukan bertemu di luar lalu menghilang berhari-hari. Rasanya kelakuanku yang dulu jadi benar-benar sangat buruk.
Radhi menjaga setiap langkah kaki dan tongkatku di jalanan berkerikil saat kami akan naik. Dia membukakan pintu dan mengambil tongkatku sehingga aku bisa masuk lalu duduk dengan nyaman.
“Erin mana?” aku bertanya padanya saat mobil melaju dan hanya ada kami selain supir yang mengemudi dengan tenang.
Radhi tersenyum padaku. “Dia sudah menunggu kita bersama teman-teman yang lain…,” jawabnya
“Apa tidak apa-apa, Rad? Erin masih pacar kamu…,” tanyaku sekali lagi.
Dia menatapku sejenak. “Tidak apa-apa,” ujarnya, masih tersenyum lebar.
Setelah kita itu saling diam. Radhi menatap keluar jendela yang ada di sampingnya dan aku melempar pandangan keluar pada jendela di dekatku. Untuk beberapa saat kita menjadi asing satu sama lain. Memandangi keramaian malam yang tidak biasa, memperhatikan lampu kota berwarna keemasan yang membias pada kaca.
Jika rasa kantukku begitu kuat, aku tidak akan mengangkat telpon Radhi. Kenyataannya aku lagi-lagi terjangkit insomnia. Aku lebih memilih di bawah selimut jika mataku bisa kompromi dengan rasa lelah daripada mengenakan jaketku dan berada di keramaian yang sangat nostalgik oleh kesendirian dan perasaan kesepian. Lalu tersenyum, perasaan ini hanya membuatku terkungkung.
Apa yang istimewa dari perayaan tahun baru? Selain dari bunyi trompet yang berisik, kembang api seperti perang dunia di mana-mana dan jalanan yang padat seperti ikan sarden dalam kaleng. Bahkan tak ada tempat untuk pejalan kaki di trotoar yang diserbu oleh motor tidak tahu aturan.
---
“Tunggu sebentar ya,” dia berkata padaku sebelum menutup pintu taxi dan aku harus menunggunya membukakan pintu untukku lalu membantuku keluar.
Dengan berpegangan pada tangannya yang kuat, aku turun pelan-pelan. Aku menerima tongkatku dan Radhi masih di sampingku, mengikuti langkahku yang pelan di atas tanah berpasir.
Aku melihat lampu-lampu café pinggir pantai berwarna-warni dan berkedip-kedip setiap saat. Aku sudah dapat mendengar suara kembang api yang melesat ke udara dengan kecepatan tinggi. Seperti roket mini, lalu meledak dengan suara keras. Bersahutan seperti tengah bercengkrama tentang malam pergantian tahun.
Ya, aku melihat Erin sudah lebih dulu datang dan ia menghampiri Radhi begitu ia melihat kami. Selain itu juga ada beberapa orang teman sebaya yang menyapa kami. Mereka sudah menunggu dengan sekardus petasan dan kembang api yang siap diluncurkan ke udara.
“Hai, Ayu,” Erin menyapaku lalu bersikap acuh seperti sangat terpaksa melakukannya. Dia mulai tidak menyukaiku saat Radhi mengantarku duduk di kursi.
Aku membayangkan dia seperti pemeran antagonis wanita di film-film drama romantis remaja keluaran Hollywood. Aku juga berkenalan dengan semua kepala yang ada di sana –anak kuliahan teman-teman Radhi. Aku melihat satu krat bir kalengan di dekat kursi. Juga ada makanan ringan di atas meja serta sampah-sampah plastik bekas minum.
Radhi terlihat di pinggir pantai bersama pacarnya, sementara teman-teman mereka yang lain sedang menyulut kembang api besar. Ada tawa di sela-sela bunyi keras yang meledak-ledak di atas kepala.
Aku lebih banyak diam karena tidak mengenal seorang pun selain Radhi. Aku mengerti bahwa Radhi hanya mengasihaniku, mengasihani keadaanku yang tidak berdaya. Sejenak, dalam perjalanan menuju ke sini, aku berpikir bahwa Radhi barangkali lebih memilih bersamakau daripada berlibur bersama pacarnya dengan pergi ke Bukittinggi. Tapi, mungkin saja aku keliru. Radhi dan Erin tampak baik-baik saja. Mereka gembira saat menyulut kembang api dan tertawa ketika sebentuk cahaya oranye melesat ke udara lalu menyebarkan warna-warni di langit hitam..
Orang-orang meninggalkan kursi mereka untuk pergi bermain kembang api di tempat yang lebih lapang. Aku tidak bisa menyusul karena pasir akan membuatku kesulitan berjalan. Tapi, sebenarnya bukan itu. Aku hanya merasa takut pada pantai. Takut pada ombak yang menghampiri pinggiran setiap saat. Seakan menerjang habis sepanjang pantai.
Rasanya begitu aneh. Padahal belum sebulan aku tidak bersentuhan dengan dunia luar, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun aku tidak berkumpul dengan satu kelompok lalu tertawa.
---
Suara-suara di atasku semakin meriah setelah lewat jam sebelas malam. Letusan kembang api membuatku terpana. Ini pertama kalinya aku berada di luar pada malam tahun baru. Aku tidak pernah meninggalkan langit hitam dengan mataku hingga aku mendengar seseorang menjerit. “Awas!!”
Aku terlambat menyadari bahwa ada sesuatu yang melesat cepat ke arahku. Cahaya oranye berpendar, seperti komet. Aku tidak bisa mengelak karena tak mungkin lagi.
Kupejamkan mataku rapat-rapat, komet itu meledak dengan suara mirip bom. Percikan warna-warni yang indah itu terlihat menakutkan dari dekat. Aku melindungi diri dengan kedua lengan yang kupasang menutupi bagian atas tubuh dan wajahku.
“Radhi!!” pekikan Erin terdengar setelah ledakan.
Suara-suara yang cemas, bergemuruh saat aku membuka mataku perlahan. Aku pikir aku terluka. Tapi, aku bahkan tidak merasakan sakit.
“Kamu tidak apa-apa?” Radhi sudah ada di depanku ketika aku sepenuhnya dapat melihat mata keramaian tertuju ke arahku karena kembang api nyasar meledak tepat di depanku.
Ia berlutut di depanku. Suaranya berat, dan… meringis.
Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa dia mendapat percikan api pada lengannya yang pasti terasa panas.
“Radhi?” suaraku tertahan melihat ekspresi kesakitannya.
Radhi tengah melepas t-shirtnya dengan cepat saat semua teman-temannya berlari ke arahnya. Percikan itu mengenai punggungnya!
“Kamu sedang apa ?!” Erin terdengar berteriak padanya. Setengah menangis, ia berubah menjadi sangat kacau memandangi punggung Radhi. “Ya Tuhan!”
“Aku tidak apa-apa,” kata Radhi berusaha tenang tapi sebenarnya hanya menahan sakit.
Beberapa orang terdengar menggerutu di keramaian, siapa yang tidak hati-hati?
Aku meraih tongkatku, agar dapat berdiri dan menghampiri Radhi. Untuk melihat separah apa luka bakar yang dia dapatkan hanya karena melindungiku. Aku tidak dapat bicara. Punggung Radhi yang melepuh berupa bintik-bintik merah yang tampak perih. Lengannya juga mendapat luka yang sama.
“Kamu!” Erin menegurku dan aku belum sempat menoleh padanya karena tiba-tiba tubuhku didorong sampai jatuh.
Tongkatku terlempar ke atas pasir.
“Erin?!” pekik Radhi, terlambat untuk menghalangi tubuhku jatuh menghempas pasir.
Walaupun rasanya sakit tapi aku berhasil melindungi kakiku yang masih dibalut kain elastis. Namun rasa syok terlihat jelas di wajahku yang memucat. Kenapa aku selalu menerima perlakuan tidak adil dengan cara seperti ini? Aku ingin menertawai diriku sendiri.
“Ini semua salah kamu?! Kenapa kamu tidak mati saja?!” teriak Erin padaku di saat aku bahkan belum sempat berdiri.
Salah seorang teman mereka membantuku mengambil tongkat. Aku masih diam saat aku berusaha untuk berdiri kembali dan Erin sudah ditarik pergi oleh Radhi ke depan café.
Mereka bertengkar di sana.
Aku ini pembawa sial. Semua orang yang berhubungan denganku pasti mendapat kesialan. Mungkin seharusnya aku mati. Melihat Erin meninggalkan pantai dengan perasaan marah tak terbendung, membuatku semakin merasa pantas mati.
Radhi kembali dengan wajah cemberut dan gusar.
Seorang temannya menepuk pundaknya dan Radhi masih terlihat meringis pedih. Mereka tampak memberikan dukungan moril. Aku tidak dapat berpikir untuk mengartikan kata-kata mereka.
Tubuhku terasa kehilangan semua daya untuk berdiri. Apakah aku telah salah mengharapkan kehadiran seseorang yang lain hanya untuk mengatasi kesepianku?
---
Jam satu dini hari masih seperti jam delapan malam. Aku belum ingin pulang. Tapi, aku tidak ingin orang tuaku cemas. Taxi yang menjemputku, datang dan mengantarku pulang. Selama perjalanan, aku dan Radhi tidak bicara. Baik tentang luka yang dia alami dan Erin yang pergi meninggalkannya dengan kemarahan meledak-ledak.
Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku. Aku tetap saja pengacau jelek yang menyedihkan. Berharap ada yang memperhatikanku dengan mengiba-iba pada keadaanku yang tak berdaya.
“Maafkan aku, Rad…,” kataku. “Gara-gara aku, kamu dan Erin bertengkar.”
“Sudah tidak apa-apa. Belakangan aku dan Erin memang sering bertengkar, jangankan gara-gara masalah ini…,” dia berujar lagi.
“Tapi, kalian tidak putus kan?”
“Aku juga tidak tahu…kita lihat saja nanti…”
Aku bingung. Tak ada lagi orang lain yang ingin bersamaku saat ini. Selain dia.
Tapi, aku tidak boleh egois. Kita tidak bisa bahagia, jika ada orang lain yang menderita.
---
Hari-hariku akan sangat berat. Mimpi buruk yang baru kadang masih mendatangiku.
Ombak yang liar mengejarku. Perasaan di laut itu masih membawa tubuhku terombang ambing. Dinding air setinggi tiga meter itu masih terlihat di pelupuk mataku. Aku mendengar jeritan minta tolong dan kepala-kepala manusia yang hilang timbul di permukaan air bergelombang.
Aku melihat Isan memanggil-manggil namaku. Kami berada dalam jarak sepuluh meter dan dia tengah berusaha berenang ke arahku. Aliran air begitu kuat, membawa sampah-sampah dari kapal-kapal kayu yang terbalik. Aku tenggelam karena tak dapat bertahan lagi.
“Ayu!!” suara Isan terdengar dalam gemuruh. Tangannya menarik tanganku hingga kepalaku kembali ke atas permukaan air. “Ayu!!”
Aku menangis ketakutan menatap wajahnya yang juga ketakutan. Dia tidak lagi terlihat seperti Isan yang aku kenal –seorang lelaki kemayu dengan gaya bicara seperti perempuan dan ia begitu senang di manja. Isan terlihat seperti seorang lelaki dari suaranya yang berat dan kuatnya cengkraman tangannya pada bahuku.
Kami sama-sama melihat Papan kayu besar yang tengah hanyut ke arah kami dengan kecepatan tinggi. Benda besar itu menghantam tubuh kami yang tak dapat melawan derasnya arus. Aku terbawa oleh rasa sakit dan samar-samar melihat Isan tak lagi dapat melawan kematian.
Aku melihat tubuh-tubuh lain tak bernyawa terombang ambing dalam dunia tanpa suara yang bergemuruh itu.
Terkadang juga, aku masih memimpikannya. Di satu tempat di sudut hatiku, masih ada perasaan ingin kembali. Mungkin karena sumpahku. Sumpah yang ibarat bumerang kembali menyerangku ketika kukatakan padanya bahwa aku tidak bisa berhenti mencintainya.
Hari-hari yang sudah berlalu bersamanya saat itu seperti potret pada selembar kertas yang tersimpan dalam album kenangan di kepalaku. Aku membaliknya selembar demi selembar. Ternyata tak bisa hilang, perasaan menyiksa yang muncul entah dari mana saat aku menemukan diriku yang menangis terluka di sana.
Rasa itu tetap tidak bisa dibohongi. Aku terbangun dalam kegelapan. Dan dia berdiri di depanku, memandangku.
Kenapa dia tak juga meninggalkanku sendiri? Kenapa aku masih melihatnya?
“Ayu?!!” jeritan Ibu terdengar dari luar. Sesaat kemudian ia membuka pintu, rautnya terlihat tegang. Berlari ke arahku, ia menangis dan menatap ngeri apa yang ada di depanku.
Aku duduk di depan pecahan kaca lemari. Tak dapat mengatur nafas, tak dapat berpikir.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus aku lakukan?
---
Aku melihat seorang remaja perempuan. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya pucat dengan cekungan mata yang dalam dan menghitam. Rambut panjangnya kusam dan kusut. Ia terlihat melangkah keluar bersama seorang wanita yang pasti adalah ibunya. Keseluruhan dia terlihat seperti orang gila.
Seorang wanita paruh baya yang tidak kukenal mengatakan padaku bahwa aku tidak gila. Dia bilang aku hanya perlu bicara. Hanya perlu bicara tapi aku menolak. Lalu ia meninggalkanku lagi, di sebuah ruangan kosong. Hanya ada satu tempat tidur, satu meja dan dua kursi.
Ruangan itu luas sekali. Tapi, itu bukan kamarku. Aku tidak melihat cermin. Bukannya anak perempuan memerlukan cermin?
Oh, aku hanya lupa apa yang dikatakan ibuku. Anak perempuan secantik apapun jika punya bekas luka seperti ini tetap saja tidak kelihatan cantik. Mereka menjauhkan kaca dariku karena takut aku akan memecahkannya lagi. Sebenarnya aku tidak peduli dengan bekas-bekas luka ini.
Aku tidak pernah mengeluh harus berjalan terseok. Setiap hari yang kulakukan hanya mondar mandir di depan jendela menyeret kaki kananku yang lemah. Tak ada yang menarik di luar sana, hanya dinding tinggi yang menyembunyikanku dari dunia bersama waktu yang seakan terhenti di sini.
Aku sudah menceritakannya bukan? Tentang mengapa aku bisa berada di sini. Tentang luka-luka tak terlihat ini. Kamu boleh berpikir bahwa mereka mengurungku karena aku gila.
Aku tahu aku tidak gila. Tidak, aku sama sekali tidak gila. Aku masih mengingat semuanya dengan baik. Dan aku tahu, orang-orang terdekatku di balik dinding putih membosankan ini, pasti merencanakan sesuatu terhadapku.
Aku dengar mereka memeriksa kamarku, melanggar privasiku. Untuk mencari petunjuk seakan aku adalah korban pembunuhan yang tidak diketahui siapa pelakunya. Tapi, orang tuaku pasti tahu siapa yang melakukan ini padaku.
---
Aku mendengar suara musik, mengalun lembut dalam udara yang kuhirup teratur. Tubuhku tidak bergerak dalam rasa sakit yang manis, menjalar dari lengan kiri hingga kepala. Ujung mataku berada pada permukaan karpet abu-abu hingga bisa melihat serabut sekecil apapun terbang oleh hembusan nafasku. Seperti berada di rumah yang kurindukan.
Pada saat aku tersenyum, rasanya seseorang datang menghampiri. Melangkah dengan pelan, lalu berlutut di sampingku.
Tubuhku yang tadi kaku sekarang dapat bergerak lagi. Untuk bangkit, untuk melihat siapa yang datang. Dan rasanya begitu ajaib.
“Kenapa kamu tidur di lantai lagi?” dia bertanya dan aku membalasnya dengan senyuman, sambil merapikan rambutku yang acak-acakan.
Semua yang kuinginkan telah kembali dalam sekejap. Dia dan semua tentangnya yang masih tinggal di benakku; senyumnya dan kaca matanya yang membosankan.
Aku menarik nafas. “Panas…,” kataku sambil menyeka dahiku yang berkeringat.
Kipas angin berputar kencang, meniup rambutku yang jadi berantakan lagi. Aku duduk dengan melipat lututku, menghadapnya dan dia tengah merapikan rambutku.
“Kamu ke mana saja, Lan? Kenapa baru pulang sekarang?” tanyaku, memperhatikan rautnya yang tenang.
“Aku sibuk…,” jawabnya. “Kamu juga menghilang terlalu lama… aku sudah mencari kamu ke mana-mana tapi aku tidak menemukan kamu…”
Aku merengut. “Apa Dennis tidak marah kamu ke sini?” tanyaku lagi dan dia tertawa.
“Dennis tidak tau aku ke sini,” jelasnya. “Cuacanya cerah, apa kamu tidak mau pergi keluar?”
Aku menggeleng. “Aku tidak bisa ke mana-mana, Lan…,” jawabku lemas. “Kakiku sakit, aku tidak bisa berjalan…”
“Aku akan membantu kamu. Jangan cemas,” ajak dia, mengulurkan tangan dan aku meraihnya. “Kita ke pantai. Berenang, ya?”
Aku menggeleng lagi. “Jangan pantai…,” kataku menolak, melepaskan genggaman tangannya. “Kamu tahu aku tidak mau berenang lagi… aku takut…”
“Ada aku. Tidak apa-apa, Ayu. Ada aku,” ujarnya menatapku, menyihirku untuk dapat berdiri tegap dengan berpegangan padanya.
Alan membawaku melewati pintu yang tertutup. Ketika pantai menyapa kami, aku merasa tidak ajaib lagi. Melangkahkan kaki di atas pasir bersama, seperti sebuah pemandangan lama yang nyaris hilang. Saat kita menghampiri ombak yang mampir ke tepi, aku masih meragukan semuanya. Aku menoleh ke arahnya berkali-kali untuk memastikan, bahwa ini benar, - meski tidak nyata.
“Alan…?” aku menegurnya karena ia terus membawaku ke dekat ombak. Harusnya dia tahu, aku takut. Harusnya dia ingat, ombak itu pernah nyaris membunuhku.
Tapi, dia terus melangkah, menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh, dan bahkan tidak berkata sesuatu padaku. Apa lagi menyadari bahwa sedikit pun aku tidak ingin bersentuhan dengan air.
“Alan?” aku mulai meronta ketika kakiku perlahan tenggelam, tapi genggamannya terlalu kuat hingga terasa menyakitkan. Aku semakin gelisah dan seketika kutoleh ke belakang di mana jejak kaki telah menghilang oleh deburan ombak.
Aku terkejut, hanya ada sepasang jejak kaki, -milikku, di atas pasir basah. Ternyata selalu seperti itu.
Sekali, aku menoleh ke samping, padanya; aku melihatnya tersenyum. Menyeringai, padaku.
“Dennis?” aku terlambat menyadari, semuanya telah berubah. Dia telah menyeretku ke kembali ‘kuburan’ itu. Aku memandang ke depan dan gulungan ombak menerjang dan aku terdiam, menantinya.
Genggaman tangannya terlepas sudah.
Lalu aku sudah berada di dalam air. Aku mengambang seperti terbang di ruang hampa udara. Lalu melihat dia.
Aku menggapai-gapai ke arahnya, berharap dia akan membawaku menembus permukaan air. Tapi saat aku berhasil meraihnya, dia menghilang.
---
Ketika aku membuka mataku yang perih, langit begitu dekat. Ya, aku menjulurkan tanganku pada awan yang tampak seperti ombak. Aku dapat menyentuhnya dengan ujung jari dan terasa dingin sekali hingga merasuk ke tulangku yang kemudian berdiri. Aku melihat matahari terik yang seakan mampu melelehkan kulitku, tapi aku tidak merasakan apapun selain angin yang bertiup pelan, menghembus rambutku yang sudah memanjang lagi.
Laut di hadapanku mengirimkan ombak putih bersama nyanyian lawas dari suara Emmy yang merdu dan alunan gitar yang dimainkan Isan. Di tempat yang selama ini ingin kami tuju. Pantai dengan pasir putih dan pemandangan seperti surga. Sebuah tempat di mana Alan tidak akan pernah ada.
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak 'kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Aku tersenyum pada tawa ceria mereka, lalu melempar pandangan ke depan, dan aku mendengarkan dengan seksama lagu yang kurindukan.
“Kita sudah sampai,” kataku pada mereka dengan lega.
Tapi, Peter tampak melambai-lambai dari kejauhan. Dia mengajakku pergi bersamanya.
Aku berdiri, kukejar langkahnya yang mulai meninggalkanku. Kutoleh ke belakang, tempat Emmy dan Isan masih menyanyi sambil main gitar. Aku tersenyum dan mereka membalas lambaian tanganku.
Selamat tinggal, teman-teman…
ooOoo
Komentar
0 comments