๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Mentawai
Peringatan satu tahun gempa ditandai dengan renungan. Kota mulai tersenyum. Memasuki Oktober, pekerjaanku selesai. Rasanya aku ingin melempar semua kertas-kertas yang kuhadapi beberapa bulan belakangan ke udara! Dan ruangan ini menjadi penuh oleh sorak gembira. Yang terbayang di kepala adalah liburan. Liburan yang panjang. Kami sudah punya banyak rencana.
Aku kembali Bukittinggi bersama Emmy, Isan dan.. Radhi –yang dipaksa ikut untuk menemaniku. Bermaksud menghabiskan beberapa hari di sana sekedar meninggalkan kejenuhan selama berbulan-bulan yang kami rasakan pada lembaran-lembaran kuesioner itu. Dan Peter akan segera meninggalkan negara ini. Dia bilang dia akan ke Nairobi atau Pakistan.
Tempat pertama yang kami datangi adalah Jam Gadang yang dikenal sebagai ikon kota wisata dan disebut juga sebagai titik nol Kota Bukittinggi. Monument yang berbentuk menara dengan tinggi 26 meter di bagian dalamnya.Mempunyai 4 jam dengan diameter masing-masingnya 80 cm. Kata sejarah yang diceritakan turun temurun, Jam Gadang didatangkan langsung dari Rotterdam Belanda melalui Pelabuhan Teluk Bayur sebagai hadiah dari Ratu Belanda untuk Rook Maker, sekretaris Fort de Kock – Kota Bukittinggi.
Uniknya angka empat pada jamnya yang dibuat dalam angka romawi IIII, di mana seharusnya dibuat dengan angka IV. Banyak orang mengatakan kesalahan penulisan seperti itu juga terjadi di belahan dunia lainnya.
Setiap kali aku ke sana, aku sama sekali merasa tidak takjub padanya. Karena bukan sesuatu yang baru bagiku. Tapi, ketika aku mengetahui sejarahnya, aku mulai merasa bahwa memiliki Jam Gadang di kota ini adalah sebuah kebanggaan. Selain menjadi ikon pariwisata, sejarahnya yang panjang membuat aku sangat tertarik.
Jam Gadang digerakan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia. Satunya adalah Jam Gadang dan satunya lagi adalah Big Ben di London Inggris. Ada banyak perubahan pada bagian atasnya semenjak dibangun tahun sembilan belas26. Saat pemerintahan Hindia-Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke timur di atasnya. Saat pendudukan Jepang atapnya diganti menjadi bentuk klenteng dan setelah Indonesia merdeka, atapnya dibuat seperti atap Rumah Gadang –Rumah adat orang Minang, hingga sekarang.
Hanya inilah tempat yang paling dikenali oleh pengunjung dari luar kota dan aku dapat melihat teman-temanku yang bergaya narsis di depan kamera Radhi di keramaian.
Mereka dapat melakukan banyak hal sekaligus dengan semua anggota tubuh dan setiap bagian dari diri mereka. Mereka tertawa sebanyak yang mereka bisa dan tidak pernah memaksa diri untuk memikirkan hal yang rumit.
Aku ingin memiliki kebebasan seperti milik mereka.
Ya, setelah aku terkejut. Begitu kembali dari Jakarta, aku merasa lega. Lega karena akhirnya aku telah dapat memutuskan harus bagaimana. Lega mengetahui bahwa aku tidak perlu lagi harus menunggu kepastian Alan akan mencariku atau tidak. Lega karena semua firasatku telah terbukti. Alan bisa dengan mudah melupakan.
---
Semalaman di penginapan backpacer, aku sama sekali tidak bisa tidur. Ditambah teman-temanku memang sangat pemaksa, mengunjungi Lubang Jepang di waktu pergantian jam kerja antara nyamuk dan lalat. Jam tujuh pagi. Aku bangun jam lima subuh karena mereka sudah sibuk bersiap-siap dan membangunkanku dengan menarik-narik selimutku. Udara Bukittinggi yang dingin tentu membuatku tidak bisa tidur lagi.
Mataku mengantuk dan mulutku tidak bisa berhenti menguap. Aku berjalan paling belakang rombongan pelancong lokal dan seorang pemandu yang sedang menjelaskan sejarah panjang salah satu tempat angker di kota ini. Lobang Jepang.
Aku merinding sebanyak kami melewati celah gelap membentuk ruangan yang tidak diberi lampu. Padahal aku sudah pernah ke sini.
Meski lorong panjang diterangi banyak lampu, tetap saja mengerikan. Seolah kembali ke masa lalu, masa pendudukan Jepang.
“Aku pernah tersesat di sini…,” kenangku.
“Kenapa bisa?” tanya Radhi acuh sambil melihat-lihat sekitarnya dan ia menjauh sedikit untuk mengorek satu sudut terowongan yang dipalang jeruji besi tua.
Emmy dan Isan berada di barisan depan. Mereka menjepret apapun yang menurut mereka menarik.Biasan cahaya kamera menerangi sudut gelap itu dan aku memalingkan wajahku dengan ngeri.
Pemandu masih terus bicara dan anggota rombongan yang lain serius mendengarkan sambil sesekali bertanya. Suara mereka tidak jelas di telingaku, entah karena pikiranku sangat kacau dan aku takut sekali pada kegelapan.
Aku ingat, pernah mendengarkan cerita horror mengerikan sepanjang masa itu entah untuk yang ke berapa kali. Terakhir bersama Alan yang mengira semua itu hanya lelucon.
---
“Di sini ada beberapa ruang khusus, tempat penyimpanan senjata dan perbekalan, penjara dan ruang pengintaian,” pemandu menjelaskan begitu udara lembab mulai menusuk hidung. “Panjang terowongan ini sekitar 1400 meter dan lebarnya 2 meter. Dibangun tahun sembilan belas42 pada masa pendudukan Jepang sebagai bunker.”
“Apa di sini banyak orang mati?” tanya Alan.
“Yah, banyak romusha yang terbunuh dan pejuang pribumi yang disiksa,” jawab pemandu itu.
Alan tertawa.
Pemandu laki-laki itu pun ikut tertawa.
Aku melihat sekitarku. Dan lagi-lagi merinding. Meski ada banyak orang di sekitarku, aku tetap merasa takut. Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke sini. Bersama keluargaku bertahun-tahun lalu, kami disuguhkan cerita horror dari Sarah, yang merasa ada melihat orang yang menyatu dengan dinding. Dan suara-suara langkah kaki yang mengikuti kami.
Aku menoleh sesering mungkin ke belakang lalu terowongan-terowongan pendek yang menghubungkan lorong-lorong itu. Meski lampu-lampu menerangi setiap sudut, tetap tidak mengurangi kengerian pada dindingnya yang berupa tanah yang katanya makin kokoh bercampur dengan air.
Aku merasa melihat sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Hawanya memang berbeda dari saat sebelum kita menuruni anak tangga sedalam 62 meter. Lembab dan pengap. Aku nyaris tidak bisa bernafas.
“Alan?” aku berpikir masih mengikutinya di belakang.
Dia bersama pemandu itu seolah raib dalam gelap bersamaan.
“Alan?” aku memanggilnya lagi. Tapi, yang terdengar hanya suara-suara orang berbicara tapi tidak jelas apa yang mereka katakan.
Mereka meninggalkanku. Terpikir olehku untuk tidak ke mana-mana karena mereka pasti akan melewati terowongan ini lagi begitu sadar aku tidak ada bersama mereka. Tapi, suara-suara itu terus terdengar seperti keramaian. Aku menutup telingaku yang pekak. Suara apa itu?
“Alan?!” aku memanggill dengan suara yang lebih keras, tapi tidak lebih keras dari suara-suara langkah kaki seperti serbuan sekelompok orang. “Alan?!”
Aku tidak bisa bernafas. Sebelum aku merasakan seseorang menarikku berdiri kembali.
“Kamu kenapa?!” tanya Alan, dia terlihat cemas.
Aku menatapnya tegang lalu sekitarku yang masih dipenuhi oleh suara-suara asing itu.
Rombongan itu hanya beberapa meter jauh dariku. Tapi, kenapa… rasanya ada suatu aktivitas yang terjadi di sekitarku dan mereka sama sekali tidak menyadarinya?
---
“Kamu kenapa ?!” suara Radhi menghalau suara-suara mengerikan itu dari kepalaku.
Aku jongkok di tengah-tengah terowongan dan semua orang memandang dengan bingung ke arahku. Aku begitu ketakutan sampai rasanya ingin menangis. Aku tidak dapat berdiri kembali. Aku memeluk diriku seolah baru tersentuh sesuatu yang dingin.
Yang ada, rombongan –termasuk Emmy dan Isan malah meninggalkanku dengan terburu-buru karena berpikir aku melihat hantu. Mereka mendesak pemandu untuk menunjukan jalan keluar segera.
“Hei!” Radhi memanggil mereka. “Hei, tunggu!”
Radhi panik, ikut jongKenapa di depanku, ia terdengar menghela nafas.
Aku masih diam. Tubuhku gemetaran dan keringat dingin mengalir deras dari setiap pori-pori yang terbuka.
“Aku mau keluar…,” aku meringis.
Mereka sudah meninggalkan kami dengan berjalan ke arah sebaliknya.
Aku sudah lama tidak takut pada kegelapan. Meskipun tempat ini mengukir hal-hal absurd pada setiap jengkal dindingnya, aku tahu itu adalah bagian darinya. Sama seperti manusia dengan masa lalunya. Tidak pernah bisa dipisahkan.
Dan kengerian itu masih sama, sekali aku menoleh ke balakang. Aku melihat Alan masih tertinggal di lorong panjang yang dulu pernah kami termpuh bersama. Dia berdiri sendiri, dengan wajah tanpa ekspresi namun matanya memandang langkahku yang pergi.
---
“Kamu merasa sudah lebih baik?” Radhi menepuk bahuku dan aku masih memandang ke seberang jalan.
“Bisa-bisanya kamu menakut-nakuti kami, Ayu…,” Isan menjadi penggerutu yang manja.
Aku hanya menoleh ke arahnya. Bisu. Lalu menetidak habis air yang tersisa pada botol mineral.
Aku merasa sangat lelah. Sayangnya, tidak semua hal yang bisa aku katakan pada mereka. Aku lebih sering tidak punya kata-kata sehingga kadang aku jadi malas bicara.
“Kamu tidak sakit kan? Perjalanan kita masih panjang!” kata Emmy.
“Kalian ini…,” Radhi terdengar gusar.
Aku tidak punya rencana untuk tidak pulang. Tapi, aku tidak bisa menolaknya karena mereka sudah merencanakan jalan-jalan ini dari jauh hari dan memastikan setiap saat bahwa aku akan pergi. Mereka ingin menghiburku untuk melupakan semua hal menyakitkan yang kulihat di Jakarta.
Aku setengah mengantuk karena bosan, dan sedikit mual oleh guncangan mobil yang menghantam lubang jalanan. Aku melepas earphone-ku untuk mendengarnya bicara setelah satu jam aku diam karena tidak ingin penumpang lain merasa terganggu. Mobil carteran ini terasa sesak dan membuat aku tidak tahan dengan bau yang bercampur antara keringat dan nafas orang yang tertidur dijok belakang –Emmy dan Isan yang tampak seperti anak kembar fraternal.
Radhi duduk di dekat jendela di sampingku dengan kakinya yang terjepit karena terlalu panjang. Dia mencoba menikmatinya tanpa mengeluh.
Supir mengantarkan kami langsung ke homestay yang ada di Lembah Arau Payakumbuh yang terkenal itu. Sebuah daerah yang dikelilingi oleh tebing-tebing granit setinggi 150 meter yang mengapit sebuah hamparan sawah. Dan ada banyak air terjun yang mengalir dari atasnya.
Kami menginap di sana karena besok kami berencana berenang di bawah air terjun. Sebelum itu kami bersenang-senang semalam suntuk dalam suasana menyenangkan malam itu di antara alunan gitar Emmy dan jeritan menggelikan Isan yang tanpa sengaja melihat ular.
Kita tidak melakukan apapun yang penting –hanya omong kosong tentang dunia yang seolah tertinggal di balik tebing tinggi. Emmy dan Isan menunjukan jalan lain selain menangis untuk melepaskan perasaan sakit dan tertekanku. Sebelum ini kami menyanyikan Waka Waka Shakira lagi di tempat karaoke dan sekarang mereka memberikan sebuah tawaran.
Emmy menyodoriku roKenapa yang menyala di tangannya. “Tidak apa-apa,” ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Mereka itu sialan!
Aku mengumpat karena rasanya tidak seenak yang kukira sebelumnya saat melihat Emmy, Isan dan Radhi begitu menikmatinya.
“Kamu sinting ya, My?” celetuk Radhi yang merampas roKenapa itu dari tanganku. “Sudah jelas dia tidak pernah merokok.”
“Cie cie cie…,” Isan cengengesan, meledek kami. “Ehm… ada yang jatuh cinta…”
Aku hanya tertawa, merampas kembali yang diambil Radhi dariku. “Sudahlah, tidak apa-apa,” kataku tersenyum lebar. Aku menghisapnya lagi dan tenggorokanku rasanya seperti terbakar. Tapi, aku terus mengulanginya sampai terbiasan hingga Radhi tidak lagi melarangku.
Saat melihat sekaleng bir yang tersisa aku pun tidak melewatkannya. Teman-temaku tertawa melihatku ‘bebas’ dengan tawa yang lepas. Hanya mereka yang ada di sekitarku yang dapat melihat bagaimana kacaunya aku saat itu dan tidak satu pun dari mereka yang bisa menarikku keluar. Mereka terus membawaku semakin dalam ke hutan belantara lalu meninggalkanku di sana. Sendirian.
Malam semakin larut, kita saling melempar kaleng bir yang sudah kosong dan bersumpah serapah lalu tertidur tanpa disadari, di lantai, di sofa, di mana pun ada ruang. Lalu aku yang tidak bisa tidur duduk sendiri dalam gelap teras belakang menghadap semak-semak di mana kunang-kunang muncul.
Aku memutuskan menelpon karena tak tahan lagi. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya. Tapi, aku bahkan terlalu takut untuk berkata, aku rindu. Dua kata sederhana yang mungkin saja dapat mengubah segalanya dengan ajaib. Tapi, aku tidak mendengar apapun. Dia tidak mengangkat teleponnya. Selalu seperti itu.
“Laki-laki itu brengsek! Dia tidak pantas untuk kamu!” Radhi sudah berada di sampingku secara tiba-tiba.
Terlambat menghapus air mata, dia sudah terlanjur melihatnya.
“Berhenti menangis seperti orang yang tidak punya harapan, Ayu!” suaranya meninggi ketika menatapku. “Dia sudah tidak ada…”
Aku tertunduk ketika dia berusaha merangkulku dan aku jadi tidak bisa berhenti menangis.
“Lihat aku…,” katanya lagi. “Apa kamu tidak bisa lihat kalau kita ada di sini?”
Aku tidak bisa. Di depanku, dia –Alan, berdiri, memandangku tanpa ekspresi. Mengajakku pergi ke suatu tempat. Tempat yang sudah lama kami tinggalkan.
Emmy dan Isan terbangun, mereka mendengarku meringis, menangis dan berteriak pada kegelapan. Aku tidak tahu apa yang Radhi pikirkan saat ia merampas handphone-ku dan dia membuka tutup casing-nya, mencabut batrainya lalu mengeluarkan SIM Card. Ia melempar benda kecil dan tipis itu ke semak-semak yang ada di depan kami.
Aku menyesal telah mengacaukan liburan ini dengan tangisanku.
---
“Mentawai!!” seru Isan dan Emmy di belakang telingaku.
Aku menggeleng melirik mereka gusar. “Aku hanya mau istirahat total.”
“Please, Ayu!” Emmy terdengar menggerutu “Aku sudah ambil paket liburan ke Macaronis Resort untuk empat orang!”
“Kamu harus ikut!” ujar Isan. “Ini libur panjang! Kalau tidak pernah keluar dari Padang juga itu bukan liburan”
“Tidak ,” kataku bersikeras. “Belakangan ini di sana tidak aman. Lagipula kemarin sudah ke Bukittinggi dan Payakumbuh kan?”
“Takut tsunami?” ejek Isan.
“Bukan!” cetusku. “Aku hanya....”
Punya firasat yang buruk soal ini.
“Haha, Ayu, Ayu, kita butuh liburan! Lupakan Alan dan semua tentangnya!” ejek Emmy ikut-ikutan. “Tidak penting!”
“Mau tsunami, mau tidak, kita tetap akan mati,” sambung Isan.
Kematian. Aku sudah lama tidak mendengar kata itu dari mulutku sendiri. Aku tidak tahu entah sejak kapan aku berhenti berpikir bahwa jika tidak bisa hidup tanpa Alan, lebih baik mati juga tanpanya.
“Rad!” Isan menghampiri Radhi yang duduk tidak jauh dari meja kami dan ia tengah mengetik sesuatu di depan komputernya. “Kamu ikut?!”
“Tidak bisa, aku sibuk,” jawabnya melambaikan sebelah tangannya dengan tetap membelakangi kami.
“Pasti Erin melarang kamu,” celetuk Emmy.
Radhi tidak menjawab. Ia tidak lagi mempedulikan kami yang gaduh di belakang.
Emmy kembali mengumpatnya dengan berbisik pada Isan. “Erin sangat pencemburu apalagi Radhi memang dekat dengan Ayu,” katanya. “Wajar dia melarang.”
“Iya, tapi satu tiket hangus,” gerutu Isan.
“Aku tidak ikut,” kataku menegaskan. Aku tahu orangtuaku akan melarang dan aku sama sekali tidak ingin berdebat dengan mereka.
Tapi, kedua orang itu selalu punya cara untuk memaksaku.
---
Oktober 2010…
“Ada apa di luar?” aku menegur Isan dari mejaku begitu melihat beberapa orang di dalam ruangan keluar bersamaan sambil membicarakan sesuatu yang kedengaran serius.
“Oh, itu…,” jawab dia acuh sambil tetap melihat ke layar computer-nya. “Matahari ada cincinnya”
Matahari cincin?
Tanggal 21 Oktober 2010 tengah hari, fenomena Halo Circle muncul lagi. Orang-orang bilang, itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi. Mungkin bencana atau sesuatu yang lebih besar.
Aku menengadah, tapi mataku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena silau. Matahari berada di tengah-tengah lingkaran yang mempunyai warna seperti pelangi.
Entah mengapa, aku menelpon ke rumah.
“Pasti akan ada bencana lagi,” kata Ibu di seberang sana.
“Ya, mungkin saja, Bu…,” balasku.
“Kamu harus hati-hati,” ia berpesan padaku sebelum kita menysudahi pembicaraan singkat itu.
“Iya. Kalau nanti terjadi apa-apa, mungkin aku tidak bisa pulang, Bu…,” kataku. “Ada banyak hal yang harus aku lakukan kalau bencana terjadi lagi. Sama seperti dulu.”
Aku memandang foto matahari yang ada di handphone-ku. Matahari bulat utuh, menghitam karena kamera tidak cukup memberi kedetilan yang tinggi. Cincinnya memerah dan latar langit menjadi keabuan.
Keindahan yang menyimpan petaka menakutkan.
---
Ayahku mengernyit, itu pasti dan yang jelas dia akan menggeleng. “Mentawai itu jauh,” katanya. “Daerah kepulauan. Kamu tidak tahu di sana masih primitif? Salah salah kamu bisa-bisa tidak pulang, Ayu?”
“Paketnya tidak mungkin dibatalkan, Pak,” kataku. “Dan itu sama sekali tidak murah. Kita juga pakai jasa pemandu.”
“Tidak!” Ibu menegaskan dan aku memperlihatkan raut tidak senang. “Biar rugi uang daripada nanti kamu pulang dengan tidak selamat.”
“Aku butuh liburan, Bu…,” aku mencoba lebih diplomatis.
“Bukannya kamu sudah pergi ke Bukittinggi dengan teman-teman kamu? Terus-terusan pergi jauh kamu tidak capek?” kata Ibu.
“Bu, aku belum pernah ke Mentawai…,” pintaku setengah memohon. “Kata orang di sana pantainya bagus sekali…”
“Tidak, Ayu. Ibu dan Bapak tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi ke sana,” Ibu membuat keputusan akhir yang tidak bisa dibantah lagi. “Pernah kepikiran tidak waktu kamu menghilang berbulan-bulan dan kita bahkan sempat membuat acara pengajian karena kamu tidak pernah ditemukan?”
Aku berdiri dari tempatku. “Aku butuh penyegaran!” suaraku tanpa kusadari meninggi. “Ibu dan Bapak tidak tahu apa yang terjadi sama aku belakangan ini bukan?!”
“Ayu!” suara Bapak lebih keras memaksaku untuk duduk dan patuh.
“Kalau ini selalu soal orang itu, Ayu, kamu harus terima kenyataan kalau dia memang bukan yang terbaik untuk kamu,” kata Ibu mendebatku.
“Tidak seperti itu, Bu!” balasku. “Semua ini… semua ini gara-gara Ibu yang tidak pernah bilang kalau sebenarnya Alan datang ke sini mencariku!”
Ibu terdiam, tidak… ia tersentak. Memandangku dengan membelalak.
Dan aku semakin meyakini bahwa tebakanku tidak salah. Tidak mungkin Alan tidak pernah mencariku. Aku tidak percaya…
“Semuanya jadi berantakan, Bu…,” kataku membayangkan beberapa saat di Jakarta yang membuka tabir di balik penantianku. Alan mencari orang lain untuk berada di sisinya karena aku tidak bisa ditemukan. Aku menyesal menghilang selama itu dan aku tidak bisa tenang karena memikirkannya.
---
Sepanjang tahun ini, aku mengalami hal-hal yang luar biasa. Ternyata batas antara kebahagiaan dan kesedihan sangat tipis. Aku sudah memasukan semua baju-bajuku ke dalam tas yang kutemukan di sudut lemari dengan buru-buru. Aku ingin mencari tempat lain di mana aku bisa menghapus jejaknya.
Gambar kita yang bahagia di lembar kertas mengkilat yang rusak itu terkadang menyindirku. Dengan kesal, aku membuangnya ke tempat sampah. Tidak puas juga, aku menyulutnya dengan api.
Tapi, apa gunanya dibakar?
Malah hanya menimbulkan penyesalan yang lebih besar. Aku tidak berdaya. Akhirnya aku hanya menangis di depan foto yang rusak itu. Setiap kali aku memikirkannya, hatiku selalu sakit. Aku bertahan dengan merasa bahwa dia adalah Alan yang aku kenal. Bukan orang lain.
Aku berbaring sebentar di lantai, memandang langit-langit dengan mata yang meneteskan kesedihan, berbau kesepian. Aku tahu, aku tampak sangat jelek bila dibandingkan dengan perempuan yang berjalan bersamanya. Namun, aku tidak menyesal. Di saat yang sama juga, kebebasanku mungkin akan menjadi obat yang sangat mujarab, menyembuhkanku dari segala luka yang dia tinggalkan.
Aku memejamkan mataku, dan berlalu. Aku mengendap-endap keluar dari rumah saat keluargaku berpikir bahwa aku tidak akan kemana-mana.
Aku telah mengobral kesedihanku dengan menceritakan bahwa aku sudah dikhianati kepada siapapun yang aku temui, hanya agar diperhatikan dan siapapun itu yang akan bersamaku nanti, tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang Alan lakukan padaku. Meski pun aku terus mempercayai bahwa omong kosong itu bisa menyembuhkan jiwaku. Tapi, sebenarnya tidak. Tidak sama sekali.
Aku hanya mempermainkan diriku sendiri karena berpikir apa yang aku alami dapat membunuhku. Kenyataannya aku masih hidup. Masih akan terus hidup untuk memikirkannya.
Alan tidak kembali, sekalipun aku sebut namanya setiap saat. Dan aku harap –ajaibnya dapat ia dengar dan merasakan hal yang sama. Tapi,…itu pun kalau dia mengingatku.
Setiap operator selular berkata dengan kalimat yang sama, aku yakin dia tidak punya waktu lagi untukku.
Aku menoleh ke belakang sekali. Saat kapal akan meninggalkan muara. Kapal-kapal yang merapat di sungai dan Gunung Padang mulai mengecil perlahan dan menghilang.
Setiap kota telah terlukis hari-hari yang kujalani dengan mengenang tentangnya. Satu-satunya hal yang kuyakini akan membebaskanku dari eforianya adalah pergi meninggalkan kota ini. Aku sudah kembali ke dunia nyata. Aku terlalu lama bermimpi bahwa dia masih di sekitarku. Tapi, sebenarnya dia sudah lama menghilang.
Aku tertawa sekali, sambil menyeka wajahku yang diterpa angin laut.
Betapa bodohnya aku.
---
Aku masih ingat bau angin pantai. Bercampur antara kesegaran laut dan asin. Aku ingat sebelum itu, aku melihat lumba-lumba bermain kejar-kejaran di bawah langit biru seperti mengejar awan di atas mereka. Aku ingat berjam-jam yang kuhabiskan mengarungi samudera –hal yang tak pernah terbayang akan kulakukan.
Aku masih ingat, ketua adat, Sikerei, yang menyambut rombongan. Aku masih ingat suasana Uma –rumah adat Mentawai, tempat aku melewatkan malam yang terasing dari keramaian Padang. Peralatan dapur yang dibuat secara tradisional, kepala binatang yang menghiasi dinding kayu, dan matras pabrikan yang sangat kontras dengan sekitarnya.
Aku masih ingat, jernihnya sungai Butui. Aku masih ingat primata endemik aneh yang kutemui. Aku masih ingat pohon kelapanya, pantainya dan ombaknya yang besar. Aku melihat Papan selancar, orang asing bertato hilir mudik, dari pesisir lalu berpacu dengan ombak.
Aku merasa takjub dengan sekitarku –hutan dengan suara-suara aneh. Aku berputar, memandang sekitarku. Tempat seperti yang digambarkan dalam dongeng Hansel dan Gretel saat mereka tersesat lalu menemukan Ginger House.
Ketakjubanku itu membuatku lupa. Aku tidak sadar, kematian mengikutiku seperti bayanganku sendiri. Kulihat ke atas, cahaya matahari menelusup di antara celah daun dan dahan yang bergoyang tertiup angin. Perlahan mulai redup. Aku tidak merasa berada di satu tempat yang dihuni oleh manusia.
“Takut apa ?” Emmy menyikutku saat ia mendahului langkahku. “Kita sedang liburan, Ayu!”
Tapi, aku tidak merasa bahwa ini liburan. Aku hanya kembali mencari tempat lari. Lari dari kenyataan.
Ketika kita berlayar ke Macaronis Resort dengan kapal sewaan, perasaan tidak nyaman masih menghantuiku. Mungkin karena aku tidak menggubris larangan orang tuaku untuk tidak pergi ke Mentawai di saat-saat seperti ini. Aku ingat saat aku menyelinap keluar rumah bersama ranselku dengan terpaksa karena tidak ada seorang pun yang mengizinkan.
Mereka bilang pantainya jauh lebih indah daripada yang ada di pinggiran Padang. Karena berpasir putih dan warna biru laut tampak seperti laguna. Garis pantai tampak seperti lukisan nuansa biru yang biasa kulihat di kalender.
---
Aku masih memikirkannya seolah baru kemarin kita bersama. Seolah ia akan datang lagi sewaktu-waktu. Memanggil namaku dan menyebutku bodoh.
Aku tahu itu tak akan terjadi, dan hari itu adalah terakhir kalinya aku begitu menyukai laut. Aku berusaha untuk menerima ucapan teman-temanku yang kadang keterlaluan soal Alan.
Saat Isan menyanyi, kesunyian terpecah menjadi untaian nada yang harmonis antara suara mesin kapal dan petikan gitar. Udara dingin khas perairan menusuk kulitku yang memucat. Aku hanya mengenakan t-shirt longgar dan celana pendek.
Aku menyendiri di dek. Untuk memandang laut menghitam di bawah langit gelap. Kapal berlayar mengarungi kegelapan. Cahaya putih berpendar di tengah lautan tampak seperti bintang yang akan tenggelam di permukaan air. Itu adalah kapal-kapal nelayan menunggu buruan mereka semalaman ketika kami terus tertawa di malam yang panjang.
Nyanyian Isan membuat Emmy yang terbawa tidak mendengar pembicaraan kami dan mereka seperti sedang membuat video klip musik sendiri dengan latar yang sangat mendukung. Malam di kapal gelap diterangi lampu berwarna oranye yang kecil. Mereka suka menyanyi karena suara mereka memang bagus. Mereka menyanyikannya lagi.
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,
Semua tak 'kan mampu mengubahku,
Hanyalah kau yang ada di relungku,
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta,
Kau bukan hanya sekedar indah,
Kau tak akan terganti…
Rasa bir di mulutku sudah tidak seenak saat pertama kali mencobanya. Aku merasa jenuh pada bau-bauan yang biasa dibuat Isan dan Emmy yang suka merokok. Duniaku tidaklah sekacau itu ketika aku masih tertekan karena perlakuan orang tuaku. Malah setelah aku mendapatkan kebebasanku, hidupku terasa lebih buruk dari saat ingin mati berulang kali.
Tiba-tiba saja aku merasa ingin pulang. Aku ingin mengatakannya pada teman-temanku. Tapi, kita baru akan menjauh dari hingar bingar kota. Aku tidak bisa lebih sabar karena masih berpikir jika aku menemui Alan sekali lagi, mungkin saja dia akan berubah pikiran.
Karena aku tidak sanggup.
Aku sangat yakin dia masih mau mendengarkanku. Tapi, mereka menghentikanku.
“Berhenti, Ayu!” teriak Isan yang merampas handphone-ku.
Aku tahu aku sedikit mabuk. Aku tetap memaksa merampasnya lagi dan Emmy menghalangiku dengan menahan pundakku. Aku jatuh terbaring di jejeran kayu basah dan dingin lantai dek.
Mereka menghentikanku berbuat bodoh. Karena aku pernah menghubungi nomor telpon yang selama ini ada di kepalaku dengan harapan kita masih bisa bertemu dan bicara. Tapi, aku tidak mendengar apa pun. Mereka tidak ingin aku melakukannya lagi.
“Di telpon pun percuma! Di sini juga tidak ada sinyal!” kata Isan gusar padaku.
Aku pasrah. Kujatuhkan seluruh kekuatan tubuhku. Menatap langit dan tertawa sendiri.
Aku sudah gila. Aku tahu aku sudah gila.
Kepalaku terasa pusing dan dunia seolah menari di depanku.
“Apa itu…,” Isan terdengar bergumam.
Emmy dan Isan menoleh kea rah yang sama sebelum menuju ke asal suara-suara gaduh di belakang kapal.
Aku bangkit . Telingaku menangkap adanya bunyi keras yang berasal dari sana. Seperti ledakan.
“S*it!!”[1], seorang pria asing –penumpang lain, mendecak sambil berlari lagi ke arahku.
Bagian belakang kapal terbakar! Cahaya oranye membias ke mana-mana. Menerangi setiap sudut kapal yang terombang-ambing.
Sebuah kapal lain baru saja menabrak kami.
Kepalaku terasa berat. Aku ditarik naik ke dek teratas entah oleh siapa dan melihat orang-orang yang ketakutan saling berdesakan. Samar-samar aku mendengar suara tangis ketakutan dan panik.
Aku terjatuh beberapa kali karena penumpang lain menabrakku aku bahkan tidak mengerti kenapa orang-orang melempar Papan selancar ke laut. Emmy dan Isan sudah tidak terlihat lagi.
“All of you!! Jump!!”[2], seorang pria asing lain berseru kepada semua penumpang kapal.
Aku melihat gulungan air raksasa mendekat dalam hitungan detik dan ia merongrong kapal kami. Dan ‘Blast!’.
---
Tubuh lemahku terjaga separuhnya. Air laut dingin mengepung dan mengembalikan kesadaranku. Tubuhku terbawa, terseret, aku meraih permukaan sekuat tenaga menuju permukaan air yang jaraknya sangat jauh.
Mataku baru terbuka lagi saat sesuatu yang keras menghantamku. Kakiku perih tapi aku tak dapat melihat betapa buruknya itu. Aku tidak bisa melihat apapun. Rasa sakit itu telah melumpuhkanku. Kematianku terasa kian dekat. Aku melihat dunia yang biasanya tanpa suara sekarang bergemuruh seperti badai. Inilah dunia di mana tidak pernah ada Alan dan dunia ini akan menjadi kuburanku.
Tiba-tiba tangan seseorang menarikku membawaku keluar dari kurungan air yang ingin membawaku semakin dalam, terseret ke pusaran air.
Aku tidak tahu di mana akal sehat dan kesadaranku sebelum rasanya kepalaku menerobos permukaan air.
“Alan?”
Aku melihatnya dengan senyuman yang sama seperti waktu itu. Kuraih punggungnya karena aku tidak bisa bertahan lebih lama. Alan berenang ke tepian, membawaku serta. Persis seperti waktu itu.
Hari itu bukanlah sebuah halusinasi. Dia datang untukku
Aku melihat dengan jelas walau sekujur tubuhku sakit, aku masih hidup. Hidup dengan menanggung kerinduan yang besar padanya.
Dan hal-hal yang pernah ia katakan terngiang di kepalaku.
Mataku terbuka. Ternyata aku tidak mati.
ooOoo
Komentar
0 comments